"Ekonomi Ekstraktif Selalu Buat Kejang-kejang"
Indonesia masih mengandalkan kegiatan ekstraktif atau kegiatan yang memanfaatkan sumber daya alam (SDA) untuk mendongkrak laju perekonomian. Halaman all
(Kompas.com) 10/10/24 16:04 16254013
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia masih mengandalkan kegiatan ekstraktif atau kegiatan yang memanfaatkan sumber daya alam (SDA) untuk mendongkrak laju perekonomian nasional.
Namun, kegiatan tersebut justru dinilai lebih banyak membawa dampak buruk bagi perekonomian Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, kegiatan ekstraktif erat kaitannya dengan volatilitas yang sangat tinggi. Pasalnya, harga komoditas dari kegiatan ekstraktif ditentukan oleh sistem pasar internasional, sehingga pergerakannya tidak bisa diketahui atau ditentukan.
KOMPAS.com/Haryanti Puspa Sari Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira dalam paparan penelitian bertajuk Membantah Mitos Nilai Tambah, Menilik Ulang Industri Nike di Jakarta, Selasa (20/2/2024)."Ekstraktif ini selalu buat kita kejang-kejang. Sensitivitasnya itu di luar kendali pemerintah," ujar dia, dalam acara peluncuran buku "Ekonomi Era Krisis Iklim", di Jakarta, Kamis (10/10/2024).
Bhima bilang, selama ini pemerintah mengklaim, Indonesia dapat mengendalikan sejumlah harga komoditas unggulan, seperti yang teranyar adalah nikel.
Pernyataan itu dilontarkan pemerintah dengan pertimbangan Indonesia memiliki cadangan dan produksi salah satu terbesar dunia, sehingga pergerakan harganya bakal ditentukan Indonesia.
Akan tetapi, klaim itu dinilai belum terealisasi hingga saat ini. Bhima menyebutkan, harga nikel masih bergerak fluktuatif hingga saat ini, di mana pada 2022 harga komoditas tersebut sempat melewati level 40.000 dollar AS per ton, namun kini bergerak di kisaran 17.000 dollar AS per ton.
"Cadangan terbesar belum tentu bisa kendalikan harga nikel. Hari ini terjadi, itu kaget gitu," kata Bhima.
"Jadi yang tahun 2022 penerimaan pajak dari nikelnya Rp 18 triliun, pajak bumi dan bangunan dari hilirisasi Rp 7 triliun, 2023 harga hancur, (setoran pajak) turun, 2024 harga makin hancur, turun," sambungnya.
SHUTTERSTOCK/EVGHENY_V Ilustrasi nikel, penambangan nikel.Kerusakan alam itu memberikan efek negatif rambatan.
Bhima mengatakan, berdasarkan hasil riset yang dilakukan, kegiatan ekstraktif juga berimplikasi terhadap kesehatan masyarakat, utamanya yang berada di sekitar wilayah kegiatan.
"Kita menemukan, desa di Indonesia ini, itu yang memilki basis pendapatan dari ekstraktif, cenderung susah dapat fasilitas kesehatan," katanya.
Oleh karenanya, Bhima menilai, pemerintah perlu mengalihkan fokusnya dari ekonomi ekstraktif ke pendekatan ekonomi restoratif.
Pendekatan restoratif yang dimaksud ialah model ekonomi yang mempertimbangkan keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan lingkungan.
"Kita melihat (ekonomi) ekstraktif kemudian belum bisa dijadikan jawaban. Bahkan bisa memicu krisis," ucap dia.
#perekonomian-indonesia #nikel #sumber-daya-alam #perekonomian-nasional #harga-nikel
http://money.kompas.com/read/2024/10/10/160423726/ekonomi-ekstraktif-selalu-buat-kejang-kejang