Sandang Gelar Doktor, Bahlil Lahadalia Turun ke Lapangan untuk Riset
Selama proses penelitian, Bahlil untuk turun lapangan melihat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di Morowali dan Weda Bay. - Halaman all
(InvestorID) 26/10/24 12:28 17019266
JAKARTA, investor.id – Gelar Doktor yang disandang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI) menimbulkan polemik. Meski begitu, di mata akademisi, promosi tersebut masih sesuai jalur.
Menurut Dr. Teguh Dartanto, S.E., M.E., masuknya Bahlil ke SKSG UI dengan mengambil jalur riset sudah sesuai aturan. Ia mengungkapkan bahwa Bahlil menyampaikan dua pertanyaan penelitian yang memotivasinya untuk mengambil program doktoral di SKSG UI, yakni pertama apakah kebijakan hilirisasi nikel yang dikerjakan saat ini secara akademik benar/tepat (evidence-based policy)? dan kedua jika kurang tepat apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kebijakan hilirisasi membawa manfaat yang lebih besar?
Selama proses penelitian, lanjut Teguh, komposisi tim promotor yakni Prof. Chandra Wijaya (FIA), Teguh Dartanto (FEB), dan Athor Subroto (SKSG/FEB) sering melakukan diskusi dan perdebatan terkait arah penelitian, metodologi dan cakupan penelitian.
Selain itu, Teguh juga meminta Bahlil untuk turun lapangan melihat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di Morowali dan Weda Bay (Halmahera Tengah), serta melakukan diskusi dengan para pemangku kepentingan. Saat itu, dirinya pun turun ke lapangan untuk memastikan Bahlil menjalankan prosedur dan panduan wawancara.
“Bahlil juga memiliki privilege akses informasi, data dan sumber daya untuk melakukan penelitian ini, jauh sebelum mendaftar kuliah. Dalam konteks saat ini seperti akreditasi AACSB (akreditasi internasional terkemuka sekolah bisnis yang dimiliki FEB UI), memiliki mahasiswa dan disertasi seperti ini akan sangat bermanfaat untuk societal impacts,” kata Teguh.
Sebagai informasi, program SKSG UI untuk jalur riset memiliki prosedur perkuliahan ketat dalam meluluskan mahasiswa dengan tidak melihat siapa latar belakang calon mahasiswa yang bersangkutan. Bahkan karena setiap penelitian harus memiliki tingkat kemiripan yang sangat kecil, yakni di bawah 10% guna mempertahankan kualitas dengan ketat.
"Terkait isu kualitas bisa diperdebatkan tetapi penguji luar Prof. Didik Rachbini (Universitas Paramadina), Prof. Arif Satria (IPB University), Prof. Kozuke Mizuno (Kyoto University) dan penguji internal UI bukanlah orang-orang yang bisa dibeli untuk meluluskan disertasi Bahlil. Mengenai kewajaran masa studi, kasus yang sama, FEB UI tahun 2004 pernah meluluskan Doktor Sugeng Purwanto dengan masa studi 13 bulan 26 hari (Rekor MURI Doktor tercepat),” demikian penjelasan Teguh.
Di sisi lain, Dosen Antropologi Fisipol Universitas Hasanuddin (Unhas) yang juga lulusan Universitas Indonesia, Dr. Tasrifin Tahara, M.Si menilai Bahlil Lahadalia berhak menyandang gelar Doktor dengan predikat cum laude, mengingat Bahlil tergolong mahasiswa yang mengikuti rangkaian proses akademik yang baik dan disiplin.
“Bahlil termasuk mahasiswa yang aktif dan sangat dekat dengan tema disertasi yang dia tulis, termasuk kedekatan dengan informan dan akses terhadap data penelitian hingga penyusunan laporan penelitian untuk menghasilkan disertasi,” ujarnya.
Editor: Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #bahlil-lahadalia #menteri-esdm-bahlil-lahadalia #gelar-doktor #sekolah-kajian-stratejik-dan-global #universitas-indonesia #turun-ke-lapangan #jalur-riset #berita-ekono