#30 tag 24jam
Mau Buka Usaha Warteg, Butuh Duit Berapa?
Warung Tegal atau biasa disebut warteg telah menjadi tempat makan yang dekat dengan masyarakat. [425] url asal
(detikFinance - SolusiUKM) 12/05/24 14:00
v/11049210/
Jakarta - Warung Tegal atau biasa disebut warteg telah menjadi tempat makan yang dekat dengan masyarakat. Keberadaannya yang mudah ditemui serta harga yang relatif murah membuat masyarakat menjadikan warteg sebagai salah satu tempat makan favorit.
Berapa modalnya jika mau buka bisnis warteg?
Warteg Kharisma Bahari
Saat ini ada warteg yang bisa dibilang terkenal dengan brand Warteg Kharisma Bahari (WKB). Warteg tersebut menawarkan konsep yang lebih bersih dan modern.
Masyarakat pun kini berpeluang untuk membuka usaha warteg WKB dengan skema waralaba atau franchise. Marketing Support WKB Group Deddy Henggar mengatakan, biaya yang ditawarkan untuk franchise ini mulai dari Rp 160-200 juta untuk wilayah Jabodetabek.
"Dan dari harga kemitraan belum termasuk harga sewa kios," katanya kepada detikcom, pada 2023 lalu.
Biaya yang dikeluarkan tersebut sudah termasuk renovasi penuh dengan standar Warteg Kharisma Bahari. Kemudian, seluruh peralatan dan perabotan yang dibutuhkan. Sementara, untuk lokasi warteg bisa mencari sendiri atau dibantu dengan pihak WKB.
Lanjutnya, dengan modal segitu diperkirakan modal bisa kembali kurang lebih dua tahun. Bahkan, kata dia, modal bisa balik lebih cepat sampai satu tahun. "Balik lagi, lokasi atau tempat sangat menentukan," katanya.
Warteg New Bahari
Warteg New Bahari menawarkan kemitraan waralaba (franchise) dengan modal Rp 3 juta. Dengan Rp 3 juta, masyarakat yang bergabung akan mendapat free marketing tools, free sosmed management, free administration, dan fee monitoring business.
"Cuma memasarkan lah ibaratnya," kata Arsenal, salah satu penjaga stand Warteg New Bahari di The 21st International Franchise, License and Business Concept Expo and Conference (IFRA) 2023, ICE BSD Tangerang pada tahun lalu.
Bagi mereka yang membuka usaha ini, akan mendapatkan keuntungan sebesar 10% dari penjualan makanan. Makanan yang dipesan konsumen akan dipasok dari Warteg New Bahari. Keuntungan dari bisnis ini tergantung dari usaha memasarkan produk. Yang pasti, kata dia, keuntungan 10% ini sudah tidak dipotong lagi.
Selain itu, Warteg New Bahari menawarkan kemitraan seperti Warteg Express. Dalam event ini, biaya investasi yang ditawarkan sebesar Rp 75 juta di luar tempat. Sementara, biaya investasi normal Rp 125 juta.
Adapun Warteg Express untuk luas outlet 10-25 m2 dengan segmentasi kantin kantor, apartemen, lokasi wisata, taman, sekolah dan kampus. Dengan biaya tersebut akan mendapat 15 menu standar.
Kemudian, ada juga kemitraan Warteg Konvensional yang ditawarkan sebesar Rp 140 juta pada event ini. Sementara, biaya investasi normalnya sebesar Rp 190 juta. Untuk Warteg Konvensional luas outletnya 25-50m2 untuk segmentasi rumah sakit, pemukiman, pasar, kampus dan area komersial. Mereka yang berminat akan mendapat 30 menu standar.
Lalu, ada juga Warteg Modern yang ditawarkan dengan biaya investasi Rp 180 juta di event ini. Untuk biaya investasi normalnya sebesar Rp 230 juta.
(fdl/fdl)
Eropa Ketagihan Keripik Buah dan Sayur Made in Malang, Ini Produsennya
Dengan merek Apelicious, keripik buah hingga sayurannya laku keras hingga ke mancanegara. [787] url asal
#peluang-usaha #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm #keripik-buah
(detikFinance - SolusiUKM) 01/05/24 14:00
v/11049211/
Jakarta - Pada umumnya buah dan sayuran diolah dan dijadikan jus atau dimasak. Namun, ternyata buah hingga sayuran juga bisa dinikmati jika diolah menjadi keripik.
Tanpa campuran tepung, Lisa Amalia langsung mengolah buah-buahan dan sayuran menjadi camilan keripik. Sekitar 20 jenis buah hingga sayuran yang telah diolah menjadi keripik.
Keuletannya berbisnis produk tersebut membuahkan hasil yang sangat baik. Dengan merek Apelicious, keripik buah hingga sayurannya laku keras hingga ke mancanegara.
"Seluruh Indonesia pasti (pengiriman) bahkan sering juga kirim keluar negeri Malaysia, Thailand, China, Dubai, bahkan ke Eropa juga kita juga sudah kirim. Kalau keluar negeri paling sering ada orderan itu Malaysia, seminggu ada beberapa kali kirim ke sana," ujar Lisa kepada detikcom, ditulis Rabu (1/5/2024).
Lisa bercerita untuk mencapai titik saat ini tidak mudah. Perempuan asli Banjarmasin yang kini menetap di Malang awalnya tidak memiliki dasar untuk berbisnis. Namun berkat minat dan komitmennya, Lisa terus berusaha untuk belajar.
"Saya ini di Malang kan kuliah, kuliahnya bahasa Jepang, harusnya jadi guru, nggak nyambung sama sekali kan cuma memang saya memang tertariknya ke dunia bisnis. Jadi kegiatannya di luar kuliah itu sudah ambil kegiatan ikut kepanitiaan, event bisnis, jadi dapat ilmu dari situ. Kuliah tetap diselesaikan. Setelah selesai, belajar lagi berjualan," terang dia.
Sebelum membangun bisnis sendiri, Lisa juga sempat bekerja di salah satu perusahaan selama tiga tahun sebagai marketing online. Dari situ juga Lisa banyak belajar sembari mencari modal untuk berbisnis.
Foto: Dok. Pribadi |
Namun prosesnya juga tidak mudah. Saat masih bekerja, Lisa sempat menjadikan jualan keripik buah sebagai sampingan. Setelah bekerja tiga tahun belum juga membuahkan hasil yang maksimal.
"Mulai dari tahun 2016 sudah mulai jualan-jualan cuma sampingan doang karena sambil kerja. Nah awalnya konsinyasi titip di toko semampunya karena sampingan kerja, cuma ternyata nggak jalan nggak begitu bagus," jelasnya
Karena belum maksimal ketika dijadikan sampingan, Lisa memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya pada 2018 dan fokus membangun bisnis. Ia pun tidak lagi menjual produk ke warung-warung tetapi fokus berjualan online.
Seiring berjalannya waktu, Lisa semakin menggencarkan pemasaran dan brandingnya. Lisa mengakui dalam proses membangun bisnis tidak lepas untuk terus belajar, sehingga penjualannya pun terus meningkat. Sebelumnya hanya satu sampai tiga orderan saja, kemudian sempat rata-rata 100 orderan per hari.
Lalu pada 2021, Apelicious masuk ke TikTok Shop. Lisa mengatakan berkat branding, promosi dan gencarnya konten yang dibuat, akun bisnisnya mendapatkan momentum viral hingga membuahkan orderan hingga 1.000.
"Kalau kita sebut ramai sehari hari itu orderan sudah 100an per hari. Setelah join TikTok dan lebih gencar itu pertama kalinya sampai 1.000 orderan sehari," ungkapnya.
Kini pemasaran Apelicious juga diakui semakin agresif hingga membuahkan hasil orderan hingga seluruh Indonesia. Bahkan sampai ke mancanegara, mulai dari Malaysia, Thailand, China, Dubai hingga Eropa.
Lisa kini telah memiliki lebih dari 40 karyawan dan bermitra juga dengan sejumlah pabrikan kecil. Ia mengatakan bisnis yang dibangun ini tidak hanya semata-mata untuk berbisnis saja, tetapi diharapkan bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar.
Tidak hanya itu, Lisa juga melibatkan petani sekitar baik buah-buahan hingga sayuran untuk diserap hasilnya dan dijadikan keripik. Hal ini juga membantu petani terutama saat panen raya, ketika berlebih pasokan.
"Karena kalau kita sendiri nggak sanggup melayani permintaan pasar jadi kita bermitra lagi dengan pabrik-pabrik lain untuk menyuplai. Makanya bisa dibilang kan karena keinginan saya dan suami agar bisa membuka lapangan kerja yang lebih banyak. Jadi keinginan untuk bertumbuh bersama, makanya kita bekerja sama dengan pabrik-pabrik kecil-kecil gitu untuk kami serap hasilnya," terangnya.
Foto: Dok. Pribadi |
Lisa memberikan tips bagi siapapun yang tengah merintis bisnis. Menurutnya yang paling penting dalam berbisnis adalah ilmu dasar. Karena menurutnya berbisnis tanpa ilmu akan beda hasilnya dengan berdasarkan dasar ilmu yang mumpuni.
"Kalau mainnya jualan online, itu sangat cepat pergerakannya jadi kita harus cepat juga ngikutin. Jadi belajar strateginya, marketingnya gimana, cara branding gimana, basic penghitungan HPP biar nggak rugi karena online banyak biaya adminnya. Jadi hal-hal kecil kaya gitu harus diperhatikan, siapa target marketnya. Jadi jangan langsung babat sing penting aku jualan," jelasnya.
Apelicious menawarkan 20 varian buah-buahan yang dijadikan menjadi keripik. Beberapa juga terdapat sayuran yang diolah menjadi keripik.
Buah-buahan yang dijual menjadi keripik di antaranya apel, nangka, salak, kelapa, mangga, nanas, pisang, rambutan, buah naga, stoberi hingga durian. Kemudian sayuran ada cabai merah, paprika, wortel, cabai rawit, bawang bombay, brokoli, kentang, jamur tiram, ubi madu, ubi ungu hingga jamur kuping.
Harga yang ditawarkan berbeda-beda sesuai ukuran dan paket yang diambil. Harga temurah ada Rp 9.900, Rp 10.700, hingga paket keripik buah dan sayuran ukuran 350 gram Rp 125.000an. Selain itu ada juga paket 7 pcs 50 gram seharga Rp 93.000an. Apelicious ini dijual di berbagai platform, mulai dari TikTok Shop, Shopee, Instagram, Tokopedia, atau via WhasApp yang tercantum di bio Instagram Apelicious.
(ada/ara)
Kisah Lasmi, Usaha Jamu Gendong hingga Raup Omzet Puluhan Juta
Lasmi memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, tepatnya pada tahun 2015 dan 2022 Lasmi mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta dan Rp 100 juta. [625] url asal
#bri #kur-bri #bank-bri #jamu #bri-fellowship #bri-fellowship
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049215/
Jakarta - Bersama empat orang jamu gendong lainnya, Lasmi berlenggak lenggok menghibur tamu undangan di panggung Graha Insan Pendidikan Berprestasi Kompleks Kemendikbud dalam acara Penyerahan Sertifikat Inskripsi Warisan Budaya Dunia, Kamis (25/4/2024). Ketua Laskar Jamu Gendong itu juga turut menyuguhkan jamu kepada tamu undangan.
Lasmi kecil merupakan anak dari penjual jamu di pasar daerah Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada usia 12 tahun ia digembleng ibunda untuk meneruskan selempang dan bakul jamu yang telah turun temurun, Lasmi merupakan generasi ketiga yang meneruskan resep jamu tradisional.
"Dulu awal mula saya umur 12 tahun ikutin ibu saya yang juga penjual jamu gendong, saya sudah generasi ke 3 dan yang ke 4 saat ini anak saya. Dulu hanya ikut ibu jualan di pasar dari situ saya jualan, belajar naikin turunin (bakul jamu gendong) kalo orang nggak biasa gendong kan susah ya nurunin naikin gitu," cerita Lasmi saat berbincang dengan detikcom usai mengikuti acara di Kemendikbud, Kamis (25/4/2024).
Usai mendapatkan bekal ilmu yang cukup, Lasmi merantau ke Surabaya bersama sang suami pada tahun 1982. Namun usai mencoba peruntungan di sana Lasmi kurang beruntung, ia lantas diajak sang kakak untuk mencoba mengadu nasib di Jakarta pada tahun 1988.
Berada di ibu kota Lasmi membawa semangat juang yang tinggi, bahkan meski banjir sekalipun Lasmi tetap berjualan jamu gendongnya dan dibawa keliling ke Kawasan Tegal Parang, Mampang hingga Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Namun lambat laun langganan Lasmi mulai banyak, dengan stok yang kian banyak ia berkeliling dengan cara bersepeda.
Kini Lasmi patut berbangga atas jerih payah yang ia lakukan sebab selain menjadi ketua Laskar Jamu Gendong Lasmi kini dapat bekerja di lingkungan Kementerian Kesehatan, sehari-harinya Lasmi dipercaya meracik jamu untuk para karyawan. Selain itu orderan dari luar kantor juga sangat banyak salah satunya menyiapkan 7.000 botol jamu untuk pemecahan rekor MURI di Bogor dan berbagai orderan jamu lainnya. Omzet Lasmi yang dulu Rp 100 ribu sehari kini mencapai Rp 20 juta dalam satu bulan.
"Dulu waktu merintis paling Rp 100 ribu sudah paling banyak itu awal mulanya, sekarang omzet per bulannya bisa sampai Rp 10 - 15 jutaan. Karena kita bukan hanya 1 tempat aja memang semua itu bulanan jadi di tempat yang lain bisa Rp 10 juta di sini Rp 5 juta jadi ya keseluruhannya bisa sampai Rp 20 juta," tegas Lasmi.
Lasmi memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, tepatnya pada tahun 2015 dan 2022. Lasmi mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta dan Rp 100 juta yang diambilnya di BRI Unit Pasar Minggu. Dana segar tersebut dimanfaatkan ketika ada orderan jamu dalam jumlah besar dan dibelikan bahan - bahan jamu. Kini keberhasilan dalam usaha jamu membuatnya memiliki rumah pribadi.
Tak mau sukses sendirian, Lasmi berupaya merangkul pegiat jamu gendong lainnya, ia mengajak para mbok-mbok jamu gendong untuk mengikuti seminar usaha dengan target untuk meningkatkan penjualan rekan seperjuangannya, namun hal itu tak mudah sebab para penjual jamu gendong lebih memilih berjualan ketimbang belajar.
"Saya door to door ngajak mereka itu susah, dari pada diajak nambah ilmu atau latihan kadang-kadang gini 'ah saya mending jualan saya dapat duit, kalo ikut pelatihan kan nggak dapat duit' padahal, kalo ikut pelatihan menambah ilmu dan justru bisa menambah pendapatan," lanjut Lasmi.
Namun upayanya tersebut lama-lama membuahkan hasil, kini Laskar Jamu Gendong yang diketuai oleh Lasmi beranggotakan 700 anggota aktif yang menjajakan jamu gendong se Indonesia. Terbaru Lasmi mewakili para pegiat jamu gendong Indonesia untuk menerima sertifikat salinan penetapan Budaya Sehat Jamu sebagai warisan budaya tak benda dunia UNESCO.
Dalam sambutan acara tersebut Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan penghargaan tersebut menjadi upaya melestarikan dan memajukan kebudayaan sekaligus membagikannya kepada dunia.
"Setelah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO, selain bangga kita juga punya tugas untuk terus melestarikan warisan ini sebagai kontribusi Indonesia untuk peradaban dunia," Jelas Hilmar Farid.
(hns/hns)
Cerita Penerus Generasi ke-4 Bisnis Jamu Gendong di Jakarta
Meski sudah jarang terlihat namun ternyata di Jakarta ada satu keluarga yang masih melestarikan resep jamu hingga generasi keempat. [750] url asal
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049214/
Jakarta - Jamu gendong sudah menjadi tradisi sehat warga Indonesia, meski sudah jarang terlihat namun ternyata di Jakarta ada satu keluarga yang masih melestarikan resep jamu hingga generasi keempat.
Suryati (38) ikut meramaikan acara Penyerahan Sertifikat Inskripsi Warisan Budaya Dunia Kamis (25/4/2024). Bersama ibunda yang merupakan ketua Laskar Jamu Gendong Suryati ikut membagikan jamu kepada tamu undangan. Usai mengikuti acara tersebut dengan ramah Suryati bercerita kepada detikcom saat dirinya menerima tongkat estafet sebagai peracik jamu generasi keempat.
"Saya belajar jamu dari tahun 2005 setelah lulus sekolah itu saya sudah mulai, akhirnya benar-benar jualan sendiri itu di tahun 2008. Saya jualan di depan kantor kebetulan pas di dalam ada lowongan saya masuk, meskipun sudah di kantor saya tetap jualan jamu. Justru saya setiap hari jualan dari lantai ke lantai," cerita Suryati.
Suryati juga mengaku bahwa dalam membuat jamu memerlukan ketelitian sebab tingkat kesulitan dalam meracik jamu yang paten memerlukan waktu yang lama, meski telah akrab dengan jejamuan sedari kecil ia masih membutuhkan waktu hingga 4 tahun untuk benar - benar khatam.
Kini Suryati telah menguasai 10 jenis jamu yang bisa dibuatnya secara langsung, namun dari 10 jenis jamu ada jamu yang membuatnya terkesan karena tingkat kesulitan yang tinggi yaitu jamu beras kencur.
"Paling susah jamu beras kencur, karena beras kencur itu kaya cewek lagi dapet jadi sensi banget nggak boleh salah sedikit, entah kita kemasannya kurang bersih sedikit itu nanti cepat basi cepat banget basi, jadi beras kencur itu amat sangat sensitif dibanding kunyit asem, itu paling awet dibanding jamu yang lain," lanjut Suryati.
Wanita yang sempat berdinas di Dinas Pariwisata DKI Jakarta mbak Sur sapaan akrabnya memutuskan untuk resign karena telah dikaruniai dua anak, usai fokus membesarkan anak tawaran itu datang langsung dari ibundanya untuk kembali meracik jamu.
Bersama Lasmi, mbak Sur kerap menerima orderan jamu dari berbagai acara. Bahkan mbak Sur kini memiliki 4 karyawan yang siap membantu dalam meladeni orderan. Selain itu ia kini sehari-hari beraktivitas di lingkungan Kementerian Kesehatan yang menyiapkan ratusan botol jamu untuk disajikan kepada para karyawan hingga menteri.
"Setiap harinya karyawan datang, turun dari mobil jemputan mereka minum jamu dulu baru masuk ke ruangan masing-masing, nah kalo pejabat Eselon 1, Eselon 2, pak Sekjen, pak Wamen dan pak Menteri itu ada botol jamu kecil-kecil itu saya yang bertugas mengantar," terang Suryati.
Mbak Sur juga kerap sibuk dengan permintaan jamu di luar Kemenkes, seperti pesanan di Puskesmas, BPOM dan lembaga lainnya. Hal itu membuat Mbak Sur mengambil KUR BRI untuk melengkapi stok permodalan jamunya, melalui BRI Unit Pasar Santa Suryati mendapatkan KUR BRI senilai Rp 100 juta.
"Saya baru ambil KUR 2 bulan ini di BRI Unit Pasar Santa Rp 100 juta untuk pengembangan modal, karena Puskesmas sudah mulai mengadakan jamu terus pesanan di BPOM terus ada juga Kementerian Kesehatan tapi cabangnya di rutan Salemba itu ada suplai ke sana jadi untuk modal itu aja," jelas Suryati.
Dengan kesibukannya sehari-hari mengolah jamu, Mbak Sur kini mampu mengumpulkan pundi-pundi uang hingga Rp 20 juta dalam satu bulannya. Ia juga bersyukur kini telah memiliki rumah pribadi dan tidak lagi mengontrak.
"Penghasilan perbulan ada sekitar Rp 20 juta, dari usaha jamu ini pencapaian yang sudah saya dapatkan terutama tempat tinggal tadinya saya ngontrak setelah dibantu KUR akhirnya saya sudah nggak ngontrak meskipun rumah itu kecil cuma sekarang saya sudah nggak ngontrak lagi, saya udah tinggal mikirin makan aja," kata Suryati.
Kini Suryati mengikuti jejak langkah keberhasilan sang ibunda yaitu Lasmi, bukan hanya berhasil dari segi finansial keduanya juga bahkan berhasil lolos dari pandemi COVID-19 meski Indonesia mengalaminya hingga merenggut banyak nyawa. Baik Mbak Sur maupun Lasmi bersyukur berkat jamu keduanya 'tak tersentuh COVID-19'
"Waktu COVID-19 itu karyawan setiap hari di Kemenkes yang masuk cuma 25 % karena sisanya WFH, beberapa ada juga yang kena COVID-19 tapi saya beruntung selama pandemi belum sekalipun saya kena. Bahkan saat pilek, batuk dan bersin saya diswab hasilnya negatif dokter pada bingung kenapa bisa negatif. Pada saat itu kuncinya ya saya minum jamu," jelas Suryati.
Jamu temu lawak, kunyit asam dan mpon-mpon menjadi primadona kala itu untuk menangkal virus COVID-19, selain pandemi jamu juga bisa menjadi kunci sehat ala Lasmi yang kini berusia 51 tahun. Bukan hanya sekedar meracik, Lasmi juga turut minum jamu untuk kesehatan badannya.
"Kalau saya memang jamu itu sebelum kita edarkan ke konsumen, kita sudah nyobain dulu jadi selama ada COVID-19 itu dari pertama sampai terakhir saya beryukur nggak kena. Bagi saya jangan sakit baru minum jamu, sebelum sakit harus minum jamu," tutup Lasmi.
(hns/hns)
Kisah Arny Kantongi Rp 40 Juta/Bulan Gegara Tak Sengaja Jual Bakso, Kok Bisa?
Arny Nuraeni mungkin tak menyangka jika bisnis yang ia bangun bisa sebesar sekarang. Sebab, bisnis dengan nama Bakso Diet Bandung dibangun tanpa sengaja. [409] url asal
#peluang-usaha #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049213/
Jakarta - Arny Nuraeni mungkin tak menyangka jika bisnis yang ia bangun bisa sebesar sekarang. Sebab, bisnis dengan nama Bakso Diet Bandung dibangun tanpa sengaja.
Wanita berdomisili Bandung itu bercerita, dulu ia menderita autoimun. Oleh dokter, ia dianjurkan menghindari makanan 'tepung-tepungan'. Padahal, bakso merupakan makanan favoritnya di mana di luaran bakso banyak mengandung tepung.
Ia berinisiatif membuat bakso untuk dikonsumsi sendiri. Bakso itu ia buat dengan full daging. Pada 2016, bakso itu masih ia konsumsi sendiri, namun lama-kelamaan ia mendapat pesanan dari teman-temannya sesama komunitas diet. Hal ini juga yang menjadi latar belakang penamaan bisnisnya yakni Bakso Diet Bandung.
"Terus kenapa diet? Soalnya kebanyakan customer saya itu yang lagi menjalankan pola makan sehat, kaya diet, menghindari tepung-tepungan yang gluten, kaya punya penyakit autoimun, diabetes, terus sama alergi gluten," katanya kepada detikcom, Minggu (28/4/2024).
Sejak itu, ia mulai serius terhadap bisnis ini. Pada 2019, ia ikut program UMKM Juara Jabar dan dari situ usahanya terus berkembang karena adanya pendampingan, mulai dari perizinan, penjualan secara online, hingga mengikuti bazar.
Ia menuturkan, modal awal yang dikeluarkan untuk membuat usaha ini tidak besar. Ia menyebut, modal itu datang ketika pesanan masuk. Sementara, untuk alat-alat menggunakan peralatan memasak yang sudah ada.
Kisah Arny Kantongi Rp 40 Juta/Bulan Gegara Tak Sengaja Jual Bakso, Kok Bisa? Foto: Dok. Pribadi |
Kala itu, ia menyebut modal untuk mengolah 1 kg daging sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. "Cuma berapa ya, misalkan beli 1 kg paling saya ngeluarin Rp 200 ribu-300 ribu," katanya.
"Misalkan orang mau buka usaha kalau kita punya keinginan, punya kemauan untuk memulai usaha ternyata tidak dengan perlu modal besar, yang penting kita punya keahlian dan ada kepercayaan dari customer. Mereka juga kan kalau beli pasti langsung 'Ini uangnya buat bayar'. Kita bisa pakai dulu jadiin modal," ungkapnya.
Saat ini, Arny mengaku, dalam sepekan melakukan produksi 3-4 kali. Setiap produksi, ia mengolah 10-15 kg daging.
Produk Arny dijual secara online maupun offline yang terdiri dari tiga kemasan. Kemasan 1 porsi ia banderol dengan harga Rp 35.000, kemasan 200 gram Rp 50.000 dan kemasan 500 gram Rp 110.000.
Ia juga melayani makan di tempat (dine in) di mana untuk per porsinya Rp 35.000-45.000. Gerai Bakso Diet Bandung berlokasi di Bandung Indah Plaza.
Arny mengaku, dalam sebulan ia mengantongi omzet hingga Rp 40 juta. "Saya satu bulan itu bisa sampai dapat omzet Rp 30-40 juta," katanya.
(acd/ara)
Kisah Eks Karyawan BUMN Banting Setir Jualan Mi Ayam, Kini Punya 2 Cabang
Kisah mantan karyawan BUMN banting setir jualan mi ayam, transaksi pakai QRIS [775] url asal
#bri #qris-bri #bank-bri #bri-fellowship #mi-ayam
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049212/
Jakarta - Tingginya permintaan di bidang IT membuat program studi jurusan sistem informasi ramai diminati mahasiswa, lulusannya bisa bekerja di berbagai bidang seperti insinyur perangkat lunak, pengembangan web, administrator jaringan, analisis sistem, analisis data dan sebagainya. Perusahaan besar pun membutuhkan para lulusan terbaik di bidang ini.
Namun jalan berbeda justru dipilih oleh Ricky Alfiansyah (31) yang sempat bekerja di bidang IT di salah satu Bank BUMN, ia justru lebih memilih untuk membuka usaha Mie Ayam Wonogokil.
Sebelum membuka usaha mi ayam, Ricky sempat bekerja selama 4 sampai 5 tahun di bagian IT. Menyambut kelahiran buah hati pertamanya Ricky berfikir untuk membuka usaha yang pertama yaitu angkringan di Gang Jangkrik, Jagakarsa namun saat pandemi melanda usahanya sempat vakum dan adanya usaha cafe di sekitar membuat usaha angkringannya kurang bersaing.
"Pas banget baru lahir juga anak, mumpung belum ada beban yang terlalu besar mending dimulai dari sekarang soalnya kalo kerja kantoran menurut saya ngga tau sampe mana, sampe kapan dan segitu-segitu aja ibaratnya banyak pengeluarannya. Akhirnya beraniin aja yang penting konsepnya jelas semuanya sudah matang perencanaannya beraniiin aja," cerita Ricky di Warung Mi Ayam Wonogokil, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (28/4/2024).
Tidak kapok di bidang usaha, mulanya Ricky ikut membantu usaha rekannya yang lebih dulu membuka mi ayam di Cipedak, Jagakarsa, sempat ikut bantu-bantu akhirnya Ricky dapat mengambil alih usaha tersebut saat rekannya pindah ke Kawasan Kampung Melayu. Mendapat peluang itu Ricky langsung membuat branding mi ayam sendiri yaitu Mie Ayam Wonogokil.
Mi ayam dengan tekstur kenyal dengan mudah diterima oleh lidah masyarakat sekitar, kios yang mulanya kecil kini dikembangkan dan lebih luas membuat para penikmat mi ayam bisa makan di tempat dengan leluasa. Tak hanya disitu, Ricky juga telah membuka cabang baru Mie Ayam Wonogokil di depan gedung Sucofindo, Pancoran, Jaksel disana ia berjualan pada hari senin sampai jumat mengikuti jam kerja karyawan kantoran.
Kini Mie Ayam Wonogokil yang pertama di Cipedak dipegang oleh ibundanya yaitu Sumini (53), berangkat dari dapur rumah tangga Sumini dengan cepat beradaptasi untuk melayani pelanggan setia Mie Ayam Wonogokil bahkan dalam satu hari Sumini menyiapkan 40 hingga 100 porsi.
Sebelum sibuk dengan mi ayam Sumini juga ikut membantu menyiapkan jajanan angkringan di usaha Ricky sebelumnya, menurutnya usaha angkringan jauh lebih capek dan berisiko karena bahan makanan yang tidak tahan lama. Sumini menyebut pada usaha angkringan dirinya harus seharian di dapur untuk menyiapkan sate dan makanan lainnya sementara mi ayam sudah disuplai oleh pabrik langganannya.
"Angkringan repotnya bikin sate jadi seharian siang di dapur malam masih dagang, kalo yang bahan awet masih bisa dipake tapi kalau yang bacem, tahu, tempe kalo sudah ngga bagus ya ngga berani jual takut dikomplain. Mi ayam lebih enak risikonya ga berat karena ada suplier," tutur Sumini saat jeda melayani pesanan mi ayam.
Tak sendiri Sumini kerap dibantu anak bungsunya untuk melayani pesanan mi ayam sehari-hari, omzet penjualan yang mencapai Rp 1 juta setengah sehari ia kumpulkan untuk kebutuhan harian dan tabungan umroh yang menjadi cita-citanya.
"Hasil jualan ditabung, biar sedikit ibu rumah tangga kan ada aja acaranya jadi kehandle sendiri, pengin banyak cita-citanya pasti ada keinginan umroh dulu sebelum bapak meninggal pengin banget umroh mudah-mudahan ada rejekinya," lanjut Sumini.
Mi Ayam Wonogokil juga telah dilengkapi dengan pembayaran digital atau QRIS, hal itu turut memudahkan Sumini dalam urusan kembalian hingga menyisihkan uang untuk ditabung. Selain itu pembayaran QRIS juga menghindarinya dari uang palsu yang pernah didapatnya.
Bukan hanya di Cipedak, Mi Ayam Wonogokil cabang Sucofindo juga menyediakan pembayaran QRIS, diketahui cabang Sucofindo lebih banyak pelanggan yang merupakan karyawan yang banyak memilih pembayaran QRIS.
"Jelas ngebantu banget mereka (karyawan) udah jarang yang bawa uang cash jadi QRIS ngebantu banget, karena menghindari uang palsu, uang sobek kan kalo bayar uang ditumpuk ditengahnya uang sobek atau palsu ngga ketahuan. Mempercepat juga sih ngga perlu ngitung-ngitung uang dulu," terang Ricky.
Tak perlu waktu lama salah satu pembeli yang merupakan ojek online yaitu Lucky (22) membayar dengan menggunakan QRIS menurutnya pembayaran dengan QRIS lebih praktis.
"Lebih praktis, lebih aman dan lebih simpel. Lumayan sering pakai QRIS buat beli makanan beli barang-barang di supermarket, megang cash buat jaga-jaga cuma kalo bisa QRIS pake QRIS aja," tegas Lucky.
Uang yang masuk melalui QRIS dikelola masing-masing baik oleh Ricky ataupun Sumini, Ricky yang juga menggunakan BRIMO mengaku kini tak perlu repot dalam urusan pembayaran guna mencukupi stok dagangan, biasanya Ricky selalu mengandalkan BRImo untuk membayar pesanan stok mi ayam.
"Saya juga belanja kebanyakan online jadi ngga sempet belanja sendiri, jadi bayarnya bisa transfer pake BRImo gampang banget jadi mau isi ulang atau apa aja bisa disitu tuh, semenjak saya pake BRI langsung saya download juga BRImo udah lumayan lama juga," tutup Ricky.
(hns/hns)
Tips Dagang Ala Ayam Bakar Madu Hijrah, Ada 'Sedekah Langit'
Masyarakat kini semakin modern hal itu membuat Ayam Bakar Madu Hijrah turut mengikuti trend dengan menyiapkan scan QRIS BRI, [550] url asal
#bri #bri-fellowship #qris-bri #ayam-bakar-madu
(detikFinance - SolusiUKM) 28/04/24 14:00
v/11049217/
Jakarta - Ayam bakar menjadi menu yang dapat dengan mudah diterima oleh kebanyakan lidah masyarakat Indonesia, bermula dari dapur rumahan kecil Ayam Bakar Madu Hijrah kini sukses membuat Anty menjadi Mitra Mentor Bimbel GrabMerchant Jabodetabek simak tips and triknya.
Ditemui detikcom di kios Ayam Bakar Madu Hijrah di jalan Sirsak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (24/4/2024) Owner Ayam Hijrah, Anty blak blakan tentang kiat-kiat usaha ayam bakar.
1. Berani Mencoba
Keberanian Erfianty dalam membuka usaha dimulai dengan 3 ekor ayam yang dipotong 12 bagian, sebelumnya resep masakannya dites food kepada anak dan para tetangga. Tanpa malu Anty menanyakan kekurangan apa dari resep buatannya lalu apakah laik jual atau tidak.
2. Membuka Penjualan Online.
Hari pertama Anty membuka penjualan melalui aplikasi menu ayam bakarnya langsung diorder hingga tiga kali oleh satu pelanggan yang sama, hal itu memberikan sinyal untuk Anty meningkatkan stok ayam. Berjalannya waktu orderan terus meningkat hingga 150 order dalam satu aplikasi, saat itu Anty membuka toko online hingga 4 aplikasi.
3. Membuka Kios dan Branding
Sadar akan orderan yang terus meningkat, Anty memberanikan diri membuka kios serta mengukuhkan nama brand Ayam Hijrah miliknya sebagai hak atas kekayaan intelektual (HaKI) selain itu brandnya tersebut juga bersertifikat Halal.
4. Memanfaatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat)
Membuka kios tentu memerlukan modal yang tak sedikit, saat itu Anty ditawari pinjaman KUR oleh BRI Unit Jagakarsa. Beruntung pada saat pandemi program KUR tanpa adanya bunga alias 0 persen. KUR senilai Rp 35 juta digunakannya untuk membuka kios dan menambah peralatan.
5. Menambah Karyawan
Seiring kesibukan dapur yang terus ngebul membuat Anty kewalahan, ia lantas membuka lapangan kerja untuk membantunya dalam urusan membakar ayam hingga meladeni orderan online. Saat itu Anty dibantu 5 karyawan.
6. Ikut Pelatihan dan Grup UMKM
Dunia enterpreneur yang baru digelutinya tak membuat Anty cepat puas, ia turut ikut dalam pelatihan - pelatihan yang dilakukan oleh Kementerian, dinas - dinas terkait dan juga BUMN ilmu tersebut yang membuatnya berkenalan dengan para pelaku UMKM lainnya yang dijadikannya teman berdiskusi dalam menghadapi penjualan yang naik ataupun turun.
7. Mengembangkan Menu Bisnis
Omzet penjualan yang sudah bagus tak cukup baginya, Anty juga tidak menghabiskan omzet untuk hura-hura, sebaliknya ia justru melihat peluang lain seperti mengembangkan menu yang tengah hits seperti ayam geprek, sambal kemasan hingga nasi box.
8. Rutin Ikut Bazar
Bazar jadi salah satu ladang omzet tambahan, Anty juga tak bosan-bosannya mengikuti berbagai bazar. Selain mendulang omzet tambahan bazar juga diikuti untuk branding nama Ayam Bakar Madu Hijrahnya.
9. Sedekah Langit
Niat berbagi namun sekaligus meningkatkan penjualan ayam dilakukan Anty dengan nama Sedekah Langit, ia rutin menggalang sumbangan dari rekan-rekannya untuk saling berbagi ke panti asuhan setiap jumatnya. Anty membuat paket senilai Rp 50 ribu untuk dua porsi, dari situ ia mampu mengumpulkan muzakki atau donatur hingga 100 porsi lebih. Selain mendapatkan pendapatan kegiatan itu juga mendulang pahala.
10. Pembayaran Digital
Masyarakat kini semakin modern hal itu membuat Ayam Bakar Madu Hijrah turut mengikuti trend dengan menyiapkan scan QRIS BRI, Anty mengungkapkan bahwa saat ini mayoritas pembayaran sudah digital salah satunya dengan QRIS.
Diketahui QRIS dapat dicetak oleh Bank BRI caranya cukup mudah seperti memiliki rekening, menyiapkan identitas diri, menyiapkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau akta pendirian usaha, mengisi formulir, pilih antara opsi EDC+QRIS dinamis atau statis, mengisi kolom yang sudah disediakan, menunggu verifikasi nantinya jika BRI akan datang ke lokasi usaha untuk memasang QRIS.
(hns/hns)
Kisah Pemilik Ayam Bakar Madu Hijrah, dari Posisi Top Manajemen Jadi Pengusaha
Pandemi COVID-19 mengubah kehidupan Erfianty (43) yang sebelumnya bekerja dan berposisi di top manajemen sebuah perusahaan finance kini menjadi entrepreneur [641] url asal
#bri #kur-bri #qris-bri #bri-fellowship #ayam-bakar-madu
(detikFinance - SolusiUKM) 28/04/24 14:00
v/11049216/
Jakarta - Pandemi COVID-19 mengubah kehidupan Erfianty (43) yang sebelumnya bekerja dan berposisi di top manajemen sebuah perusahaan finance kini menjadi entrepreneur sukses di bidang kuliner yaitu ayam bakar madu hijrah.
Bermula dari tidur yang tidak nyaman setiap malamnya karena bayang-bayang pekerjaan, membuat Erfianty memutuskan untuk hijrah menjadi pengusaha ayam bakar. Usahanya sempat membuatnya kaget karena seolah langsung mendapatkan "durian runtuh" terutama orderan dari penjualan online yang meningkat pesat, dalam satu hari Anty sapaan akrabnya pernah mendapatkan omzet hingga Rp 18 juta.
"Mulanya itu dari teras kecil hanya tiga ekor ayam, 1 ekor dipotong 4 jadi 12 potong, start up nya karena di rumah penjualannya online gofood dan grabfood. Pada saat itu pertama saya on aplikasi langsung masuk orderan jadi saya diluar ekspektasi dan sangat bersemangat," Cerita Anty saat ditemui di kios Ayam Bakar Madu Hijrah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (24/4/2024).
Pandemi COVID-19 seakan mengunci warga dalam beraktivitas membuat usaha Anty kian melesat, orderan demi orderan dari aplikasi onlinenya memaksa Anty untuk terus berada di dapur kecilnya, dalam satu hari Anty harus melayani 150 orderan dari masing-masing aplikasi. Hal itu tak membuat Anty berpuas diri, ia justru mencari lapak kecil untuk memudahkan warga mengenal produknya.
"Penjualan online saya cukup direspon jadi saya punya jalan untuk menyewa lapak bulanan, pada saat itu saya ditawarkan BRI ada fasilitas KUR kebetulan saya dapatnya yang tanpa bunga jadi 0 persen, alhamdulillah lancar akhirnya saya bisa sewa kios kecil tahunan modalnya dari KUR BRI," lanjut Anty
Dana segar senilai Rp 35 juta dari KUR BRI dimanfaatkan Anty untuk menyewa kios kecil, dari kios itulah usaha Anty kian dikenal oleh masyarakat Jagakarsa bahkan lahan parkir untuk ojek online yang mengambil pesanan ayam bakar harus luber kemana-mana, namun seiring berjalannya waktu pada tahun 2022-2023 usaha ayam bakar madu hijrah mulai lesu.
Bagaikan permainan roller coaster yang tengah dalam posisi turunan curam tentu membuat Anty sedikit kaget, pasca pandemi masyarakat mulai beraktivitas secara normal penjualan ayam bakar madu hijrah merosot hingga 70 persen. Sempat recovery dan mencari solusi Anty turut bergabung dengan berbagai komunitas UMKM hingga binaan dari Kementerian, berbagai dinas, hingga BUMN.
Akhirnya Anty memutuskan untuk membuka lapak yang lebih besar untuk pengunjung yang mau dine in, lagi-lagi Anty terbantu dengan KUR BRI. Pada tahun 2023 Anty mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta, uang tersebut langsung digunakan untuk sewa kios dua lantai tahunan dan sejumlah meja serta peralatan lainnya.
"Tahun 2023 kemarin saya dapat KUR BRI Rp 50 juta untuk pindah kios, bukan hanya untuk sewa tapi juga untuk peremajaan alat, dari lapak kecil saya butuh bangku juga, alhamdulillah dari situ penjualan mulai normal saya pun terus mengembangkan menu hingga nasi box," tutur Anty.
Kini rata-rata omzet harian ayam bakar madu hijrah mulai dari Rp 1,8 juta hingga Rp 6 juta, penjualan ayam dine in turut membantu, omzet tersebut tak langsung dibuat hura-hura. Anty terus mengembangkan menu hingga kini terdapat 14 menu selain ayam bakar, ada juga sambal kemasan dan nasi box yang dapat dipesan secara langsung maupun online.
Atas perjuangannya dalam bidang enterpreneur Anty mendapatkan sejumlah penghargaan, salah satunya piagam kategori Merchant Idaman dari Grabfood, Anty juga didapuk menjadi Mitra Mentor Bimbel GrabMerchant Jabodetabek yang akan berlangsung pada Mei 2024 selama enam bulan.
Tak lupa atas usaha ayam bakar madu hijrahnya ini turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar Jagakarsa, salah satunya Hawa Cahyani (19) siswi SMK yang tengah menunggu ijazah kini turut membantu Anty, ilmu dari jurusan akuntansi dari SMK memudahkannya beradaptasi untuk urusan pembukuan dan aplikasi.
"Saya kelas 12 sekarang sudah tinggal nunggu ijazah, sambil mengisi waktu luang jadi saya bekerja sambil menabung untuk kuliah nanti" Jelas Hawa.
Bekerja mulai pukul 10 pagi hingga 9 malam membuatnya cepat beradaptasi dalam urusan memanggang ayam maupun ikan, ia juga nampak cekatan dalam menerima orderan. Kini Hawa tengah menabung untuk bersiap kuliah pada tahun depan.
(hns/hns)

