#30 tag 24jam
Cerita Aulia Pilih Lanjutkan Bisnis Toko Grosir Keluarga Sampai Punya 3 Cabang
Aulia Hardiyanti, generasi kedua Toko Harapan Baru, berbagi kisah suksesnya setelah bergabung dengan Mitra SRC, mengembangkan usaha hingga memiliki tiga cabang. [568] url asal
#solusi-ukm #peluang-usaha #bisnis
(detikFinance - SolusiUKM) 04/10/24 14:00
v/15978536/
Jakarta - Aulia Hardiyanti terlihat sibuk memberi arahan kepada karyawannya di Toko Harapan Baru yang ada di Depok, Jawa Barat. Dia adalah generasi kedua pemilik toko grosir itu, meneruskan dari ayahnya sejak tiga tahun lalu.
Siang itu dia menceritakan perjalanan bisnis keluarganya, yakni Toko Harapan Baru, dari sebuah toko kecil di pinggir sungai sampai berkembang hingga menjadi toko grosir dengan tiga cabang seperti sekarang.
Aulia bercerita 2018 jadi tahun yang penting bagi perkembangan Toko Harapan Baru. Pada tahun itu, ayahnya memutuskan untuk bergabung sebagai Mitra Sampoerna Retail Community (SRC). "Kita mengharapkan toko semakin berkembang, ingin lebih maju," kata Aulia menjelaskan alasan ayahnya mengambil keputusan itu.
Mitra SRC sendiri adalah pedagang grosir yang berperan untuk memasok produk ke Toko SRC atau toko-toko kelontong lainnya. Mitra SRC mendapatkan pendampingan pengembangan usaha dan dukungan digitalisasi dari PT HM Sampoerna Tbk. sebagai bagian dari program pemberdayaan SRC yang bagi toko kelontong maupun toko grosir.
Ia mengingat, sejak awal bergabung dengan Mitra SRC, Toko Harapan Baru telah banyak menerima program pelatihan.
"Ada pelatihan digitalisasi yang bermanfaat sekali untuk toko saya yang dulu masih toko jadul. Lalu, dibina juga agar menjadi lebih modern, seperti bagaimana menata toko yang menarik, rapi, dan bersih. Masih banyak lagi pelatihan-pelatihan yang kami terima," kata Aulia.
Berbagai perubahan dirasakan setelah 6 tahun bergabung dengan Mitra SRC. Toko Harapan Baru yang sebelumnya dikelola dengan cara konvensional, kini menjadi lebih modern dan merambah dunia digital. Jauh lebih baik, dan minim kesalahan dibandingkan dulu saat semua dikerjakan secara manual. Aulia mengatakan, semua proses jual-beli di tokonya sudah dilakukan secara digital. Misalnya, pendataan stok barang dan proses pembayaran.
"Kami juga ada toko online di aplikasi AYO Mitra. AYO Mitra itu kan seperti toko kekinian ya. Jadi, orang bisa belanja ke toko kita dari rumah. Jadi kita menaruh semua barang dan produk kita di AYO Mitra, dan nanti ada orang-orang belanja lewat aplikasi itu," kata Aulia. Dengan aplikasi ini, toko kelontong dapat berbelanja langsung ke toko grosir terdekat sehingga proses pembelian stok menjadi lebih mudah.
Kemudahan berbelanja secara daring ini membuat Aulia tidak ragu untuk merekomendasikan pelanggannya berbelanja melalui aplikasi. Bahkan kepada para pelanggan yang datang secara langsung ke Toko Harapan Baru.
Dengan adanya aplikasi AYO Mitra dengan fitur belanja online, Aulia pun mampu menambah karyawan tokonya, terutama untuk memenuhi kebutuhan pengiriman lewat motor dan mobil.
"Kita juga ada penambahan karyawan onsite. Karena harus ada yang menyiapkan barang, print nota, dan pengecekan. Jadi selain menambah pelanggan, (bergabung dengan Mitra SRC) juga menambah karyawan dan membuka lapangan pekerjaan," ujar Aulia.
Ia bersyukur, usaha keluarganya mampu berkembang sekaligus berdampak bagi orang lain. Kini Toko Harapan Baru punya tiga cabang. Para karyawan juga merasakan hasilnya melalui bonus dan insentif. "Sebagai motivasi buat karyawan, sehingga mereka lebih giat mencari pelanggan," katanya.
Bagi Aulia sendiri, Toko Harapan Baru punya arti lebih dari sekadar usaha yang ia teruskan dari sang ayah. Lebih dari itu, toko inilah yang membuat Aulia dan adiknya mampu menuntaskan pendidikan tinggi. "Kayaknya, jika tidak ikut bergabung dengan Mitra SRC, belum tentu saya bisa mencapai itu," ucap Aulia.
Oleh karena itu, ia berharap, jaringan Mitra SRC semakin berkembang bersama para toko kelontong anggota SRC sehingga bisa memberikan dampak yang lebih besar lagi.
Satu pesan Aulia kepada sesama pelaku UMKM, agar mereka yang berwirausaha terus berupaya untuk menjadi lebih baik. "Terus belajar dari hal yang benar-benar kita tidak tahu. Dan setelah belajar, jangan lupa untuk berubah menjadi lebih baik lagi," tutup Aulia.
(fdl/fdl)
Pria Ini Bangun Komunitas Petani Muda hingga Berhasil Ekspor Buah ke China
Bekerja dengan memberikan manfaat kepada banyak orang menjadi motivasi utama AA Gede Agung Wedhatama membentuk komunitas Petani Muda Keren. [471] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #buah
(detikFinance - SolusiUKM) 02/10/24 14:00
v/15847241/
Jakarta - Bekerja dengan memberikan manfaat kepada banyak orang menjadi motivasi utama AA Gede Agung Wedhatama membentuk komunitas Petani Muda Keren. Komunitas itu dibentuk karena dirinya melihat permasalahan pertanian di Bali.
Agung bercerita sebelum menggeluti bidang pertanian, dia merupakan lulusan bidang IT. Dia mengaku sejak duduk di bangku kuliah sudah menekuni bidang wirausaha.
"Semua di bidang IT memang, dari warnet, dari software developer, dan lain sebagainya berkembang," kata dia saat ditemui di kawasan Jatiluwih, Bali beberapa waktu lalu, ditulis Rabu (2/10/2024).
Namun, bisnisnya di bidang IT tidak berjalan mulus. Agung mengatakan di tengah jalan mendapatkan musibah yang membuat bisnisnya itu harus ditutup. Dia mendapatkan titik terang untuk banting setir ke bidang pertanian.
"Ini agak gimana ya, filosofi ya, tapi pengalaman spiritual saya, jadi saya cuma hidup, dapat uang, jalan-jalan ke luar negeri, ke mana-mana, tapi tidak ada impact untuk kehidupan. Tuhan kasih saya ujian, akhirnya datang ke pertanian, menemukan kedamaian disini, ternyata ini bermanfaat," ucapnya.
Meski banting setir ke bidang pertanian, Agung tetap menyalurkan keandalannya di bidang IT dengan membangun startup pertanian. Dia mengembangkan pembuatan pupuk PT Bos (Bali Organik Subak) serta penanaman, dan budi daya pada para petani melalui PT Wedhatama Sukses Makmur.
"Akhirnya hidup itu jadi bermakna. Ketemu petani, kita bisa carikan solusi, kita banyak teman, banyak saudara, terus bener-bener hidup itu berguna. Jadi uang yang didapat dari hasil kita bertani, menanam, bikin pupuk, jual pupuk, berbudidaya, jual sayur, asik, gitu," tuturnya.
Melalui komunitas Petani Muda Keren itu, Agung membantu petani dari sisi pembiayaan, bibit, hingga kebutuhan pupuk. Selain itu, dalam segi penanaman, Agung juga berupaya untuk menggunakan teknologi modern.
Saat ini Agung mengatakan petani muda yang telah digaetnya telah mencapai ratusan orang. Usia petani yang bergabung berkisar antara 15-40 tahunan.
Bahkan dirinya menggunakan Starlink untuk melancarkan koneksi internet untuk mengembangkan tanaman petani. Salah satu yang dilakukan menggunakan internet adalah teknologi penyiraman otomatis.
"Cuman memang kadang-kadang, petani kita, kalau yang di-searched begini kan, kendala IOT itu sebelumnya adalah kan koneksi. Banyak blank spot, tapi sekarang sudah masuk Starlink, saya rasa nggak ada isu lagi dengan itu," tuturnya.
Selain itu, Agung juga mendirikan BOSFresh untuk penyerapan hasil-hasil pertaniannya. Pendapatan petani dalam komunitas itu disebut sukses membuahkan hasil dari pendapatan Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.
"Per petani (Rp 5 juta sampai Rp 10 juta). Tapi jadi petani ya, bukan jadi buruh tani. Dan itu harus menggunakan smart irrigation, smart farming," tuturnya.
Agung mengatakan berkat gotong royong dalam komunitas tersebut, para petani juga telah mengekspor hasil petaniannya yakni buah manggis pada 2017.
"Kalau kami, kami di Petani Muda Keren lewat BOS, Balai Organik Subak, kami cuma ekspor 4 buah. Ada buah manggis, buah mangga, salak, sama buah naga. Tapi yang terbesar kami ekspor buah manggis. Pada 2017 itu ekspor manggis langsung ke China, sebelumnya lagi ekspor ke Vietnam, Thailand," pungkasnya.
(ada/ara)
Gegara Sulit Cari Makanan Sehat, Dokter Ini Raup Puluhan Juta dari Jual Selai
Kesulitan mencari makanan sehat menjadi cikal bakal bagi Rika Christina membangun bisnis. [419] url asal
#peluang-usaha #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm #selai
(detikFinance - SolusiUKM) 01/10/24 14:00
v/15798895/
Jakarta - Kesulitan mencari makanan sehat menjadi cikal bakal bagi Rika Christina membangun bisnis. Wanita yang berprofesi sebagai dokter gizi itu kini juga menjalani bisnis selai bernama Sincere Foods di Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten dengan omzet Rp 90 juta per bulan.
Dia bercerita, pada 2013-2014 mengalami kesulitan mencari makanan sehat. Untuk selai kacang saja misalnya, terdapat tambahan gula dan minyak. Atas kondisi itu, Rika pun mencoba membuat selai sendiri.
"Sincere Foods itu kita mulai di tahun 2014 sebetulnya.Jadi tahun ini 10 tahun, kemarin Agustus. Nah, awalnya itu karena saya itu kan dokter gizi, suami itu chef. Jadi waktu tahun 2013-2014 itu susah banget nyari makanan sehat sebenarnya di Indonesia," katanya kepada detikcom, Senin (30/9/2024) kemarin.
"Karena kaya selai kacang aja, semuanya ada gulanya, ada tambahan minyaknya, ada macam-macamnya di dalam. Jadi kita nggak suka. Kita bikin sendiri," sambungnya.
Awalnya, selai yang Rika buat dibagikan ke keluarga. Ia juga mengikuti komunitas dan kebetulan banyak orang di komunitas yang mencari selai buatannya. Dari situ, ia mulai serius menjalani bisnis selai.
Berawal dari Sulit Cari Makanan Sehat, Dokter Raup Cuan Puluhan Juta Jual Selai Foto: Dok. Pribadi |
Produk yang pertama kali dibuat Rika untuk bisnis adalah selai kacang. Kacang yang digunakan untuk membuat selai merupakan kacang tanah lokal dengan hanya sedikit tambahan garam.
"Sudah gitu doang. Nggak ada bahan-bahan macam-macamnya," ujarnya.
Modal untuk membangun bisnis ini bisa dibilang seadanya. Dia mengatakan, modal untuk membangun bisnis ini hanya kacang dan food processor.
"Karena ini awalnya dari kesulitan kami sendiri. Jadi, kami bikin sendiri produk-produknya di rumah. Jadi, dengan alat-alat yang kami punya di rumah waktu itu. Jadi, untuk modal sebenarnya cuma modal blender waktu itu, food processor waktu itu sama kacang tanahnya saja sudah. Jadi dibilang mahal, ya enggak sih, di bawah Rp 10 juta lah ya," terangnya.
Dalam memasarkan produknya, Rika mulanya hanya menitipkan produk-produk tersebut ke toko. Selain itu, ia juga menerapkan sistem pre order (PO) ke rekan-rekannya. Seiring berjalannya waktu, Rika juga memasarkan produknya secara online seiring berkembangnya e-commerce.
Lambat laun, bisnis Rika berkembang hingga kini memiliki 10 varian produk. Dia mengatakan, berkembangnya bisnis selai ini sejalan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, terutama pasca COVID-19.
Dengan harga produk antara Rp 38.000 hingga Rp 135.000, Rika mampu mengantongi omzet hingga Rp 90 juta per bulan. "Per bulannya itu berarti kurang lebih Rp 90 jutaan sih," ujarnya.
Meski bisnisnya berkembang, Rika tak lantas melepas profesinya sebagai dokter. Ia masih membuka praktik setiap Rabu.
(acd/ara)
Eks Tukang Sapu Ragunan Kantongi Ratusan Juta dari Bisnis Perawatan Kendaraan
Seperti Dede Iskandar yang memiliki ketertarikan di bidang otomotif, kini menjadi pemilik produk perawatan kendaraan bernama Oxide. [716] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #perawatan-kendaraan
(detikFinance - SolusiUKM) 30/08/24 14:00
v/14832316/
Jakarta - Sebuah ketertarikan pada suatu hal kadang menjadi ladang penghasilan bagi sebagian orang. Seperti Dede Iskandar yang memiliki ketertarikan di bidang otomotif, kini menjadi pemilik produk perawatan kendaraan bernama Oxide.
Sebelum berhasil membangun bisnis sendiri, Iskandar telah menjajal berbagai pekerjaan. Dia mengaku sejak lama telah berjualan, tak hanya itu dia juga sempat bekerja di ritel dan petugas kebersihan di salah satu kebun binatang di Jakarta.
"Kalau jualan sudah lama offline itu kebetulan sembari belajar digital marketing di 2010 waktu zamannya Kaskus. Sempat kerja juga di ritel, jadi petugas kebersihan, di salah satu instansi pemerintah Ragunan. Jadi tukang nyapu jalan. Itu pekerjaan terakhir, sambil memulai lagi pelan-pelan jualan lagi online," kata dia kepada detikcom, ditulis Jumat (30/8/2024).
Iskandar tidak pantang menyerah untuk bisa membangun bisnis sendiri. Dirinya mengaku telah jatuh bangun untuk memiliki usaha sendiri.
Kemudian, berangkat dari hobi di bidang otomotif, Iskandar dengan satu rekannya bernama Exfran Fery tercetus ide untuk menjual produk yang berkaitan dengan kendaraan. Mulanya dia memulai dengan menjual produk orang lain atau menjadi reseller pada 2019.
"Sebenarnya saya terinspirasi waktu ada saya melihat produk basisnya perawatan kendaraan, kemudian saya bilang sama rekan saya 'bisa nggak sih kita dapat produk ini'. Kebetulan kami berdua bagi tugas, kalau dia keuangan dan chain supply, kalau saya lebih ke strategic dan marketing," ucapnya.
Tak sampai di situ, Iskandar ingin menjual produk yang sama namun dengan merek sendiri. Namun, mengingat pada waktu itu belum tahu cara membuat produk tersebut, Iskandar mencari pemasok yang belum bermerek.
Saat bisa mendapatkan supplier produk yang belum bermerek, Iskandar mencoba membuat produk sendiri dan tercetuslah nama Oxide, tepatnya pada Januari 2020.
"Nah baru kita mulai ke arah buat brand, kebetulan yang diinisiasi brand itu saya sendiri. Brand-nya jadi, kemudian kita pesan barangnya, sesuai kebutuhan, nggak banyak, karena modal terbatas. Kemudian kita packaging sendiri, stikerin sendiri, waktu itu masih berdua saja," ungkapnya.
Eks Petugas Kebersihan Banting Setir Bisnis, Produknya Laris Manis di RI Foto: Dok. Oxide |
Sambil menjual produk white label itu, Iskandar juga sembari mempelajari formula dari produk perawatan kendaraan. Setelah mendapatkan modal cukup, Iskandar dan rekannya mulai mencoba membuat sendiri produk dengan formula yang mereka pelajari secara otodidak.
"Itu lumayan lama karena memang trial dan error-nya lumayan lama untuk dapat formulasi yang bagus, itu hampir setahun, kita punya formulasi kita uji, kita jual, kalau ulasan jelek atau bagus kita rombak lagi. Tetapi penjualan tetap jalan, cuma memang saat terjadi ada yang kurang bagus langsung kita tarik untuk kita kaji ulang," tuturnya.
Meski telah memiliki produk dan merek sendiri, penjualan Oxide diakui cukup sulit. Iskandar pernah mengalami sama sekali tidak ada pesanan.
"Awal-awal ya nggak laku, namanya produk baru. Selang dua minggu nggak ada yang beli, kemudian satu ada pembelian," ucapnya.
Seiring berjalannya waktu, berkat pemasaran dan perkembangan yang terus dilakukan Iskandar dan timnya, Oxide kini laku keras hampir ke seluruh wilayah di Indonesia. Produksi Oxide pun meningkat dari sebelumnya puluhan pcs, kini bisa mencapai 1.000 pcs per hari.
"(Produksi) itu fluktuatif, satu hari bisa 1.000 produk, satu hari di bawahnya karena barang itu kita usahakan fresh. Kurang lebih ratusan sampai 1.000 lah produksi paling banyak. Penjualan ke penjuru Indonesia sudah, sampai ke Kalimantan, Papua, Sumatera, Bali, di luar Jawa banyak. (Luar negeri) ada waktu itu Malaysia, Singapura, cuma nggak banyak," terangnya.
Iskandar sejak awal memasarkan produknya melalui e-commerce, salah satunya Shopee. Menurutnya, e-commerce menjadi pasar digital yang mewadahi agar UMKM pun mendapatkan potential buyer.
Salah satu manfaat yang didapat Iskandar melalui Shopee saat penjualan di tanggal kembar. Penjualan Oxide pernah sempat mencapai 2.300 pcs per harinya.
Berkat ketekunan dan kerja sama tim, omzet dari Oxide kini telah mencapai ratusan juta per bulan. Iskandar juga telah mempekerjakan banyak orang di rumah produksinya sebanyak 12 orang.
"Kalau range itu ratusan juga dan sekarang (pekerja) sudah ada 12 dan itu banyak di produksi. Sekarang juga sudah tempat produksi sendiri dari sebelumnya di rumah," pungkasnya.
Oxide bisa dibeli di sejumlah e-commerce. Produk ini basisnya untuk perawatan kendaraan khususnya untuk non-mesin. Harga produk tersebut cukup terjangkau dari Rp 20.000-50.000-an.
Iskandar mengatakan ke depan dengan Oxide memiliki misi agar tidak hanya menjual produk tetapi bisa memberikan dampak. Mengingat Oxide adalah produk otomotif, dengan produk ini juga bisa memberikan edukasi kepada masyarakat terkait keselamatan berkendara dan berlalu lintas.
(ada/ara)
Pria Ini Bikin Singkong Naik Kelas hingga Jadi Unggulan Ekspor
Riza memberdayakan petani singkong di Banjarnegara dengan tepung mocaf. Produk ini diekspor ke berbagai negara dan meningkatkan kesejahteraan petani. [490] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #tepung-mocaf #singkong
(detikFinance - SolusiUKM) 27/08/24 14:00
v/14764303/
Jakarta - Indonesia diberi kelimpahan Sumber Daya Alam (SDA), termasuk hasil umbi-umbian. Sayangnya, permasalahan masih terus bergulir di kalangan petani, seperti penetapan harga jual yang tidak layak.
Berangkat dari keresahan ini, Riza Azyumarridha Azra tergerak untuk memberdayakan petani singkong di Banjarnegara. Mulanya, sekitar 2014, dia melihat petani-petani singkong di Banjarnegara yang mempunyai lahan sekitar 1 hektare (ha) rugi lantaran harga jual yang rendah, yakni Rp 200 per kilogram (kg).
Dia meneliti olahan singkong yang bisa mengerek nilai jual. Setelah berkonsultasi dengan praktisi dan para ahli, muncullah produk olahan singkong bernama tepung mocaf.
"Tiba-tiba ada petani ya, yang intinya dia sambil mengeluh gitu dan sedih karena waktu itu harga singkong Rp 200 per kilogram gitu. Waktu itu, dia punya lahan sekitar satu hektar atau setengah hektar. Singkongnya dibiarkan membusuk di lahan, kalau dipanen malah justru nombok, rugi ya gitu. Jadi, akhirnya dibiarkan membusuk di lahan," kata Riza kepada detikcom, ditulis Senin (26/8/2024).
Pria Ini bikin Singkong Naik Kelas hingga Jadi Unggulan Ekspor Foto: Dok. Pribadi |
Usai berhasil membuat tepung mocaf, Riza mengajarkan kepada petani singkong. Namun, permasalahan kembali muncul. Para petani belum mengetahui cara menjual hingga memasarkan. Kemudian muncullah program Rumah Mocaf dengan konsep social planner. Selain memberdayakan petani, program ini juga diharapkan dapat menjangkau lebih luas lagi produk tepung mocaf.
Menurutnya, tepung mocaf berpeluang menjadi bahan pengganti tepung gandum dalam berbagai olahan. Apalagi dia melihat impor tepung gandum atau terigu terus naik tiap tahunnya. Selain itu, tepung mocaf lebih sehat karena bebas kandungan protein gluten.
"Itu kan pasar ya. Suatu saat kan kami memimpikan ya ketika ada Menteri Perdagangan atau Menteri Pertanian, atau bahkan Presiden yang berani menyetop 100% impor terigu, akan ada jutaan petani singkong yang diangkat harkat martabatnya atau kesejahteraannya. Seperti itu itu kan yang sangat meyakini kami bahwa ini merupakan prospek cerah pasar dunia," jelasnya.
Dia menyebut bisnis yang dilakoninya selama 10 tahun ini mengalami jatuh bangun. Bahkan dia bilang pihaknya tidak mendapatkan modal bank sehingga menggunakan dana sendiri. Kemudian keuntungannya diputar untuk membeli alat-alat yang mendukung pembuatan produk.
Saat ini, sudah ada 40 pekerja di Rumah Mocaf. Setiap bulannya, pihaknya mengirimkan 30 ton tepung mocaf ke distributor langganan.
Kini siapa sangka, salah satu produk olahan singkong ini berhasil mendarat di berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Turki, hingga Oman. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa produk olahan dari kalangan kelas bawah dapat diterima di negara-negara lain.
"Kami bangun dari nol, alhamdulillah sekarang udah secara pasar sudah mulai merata gitu, dalam artian distributor kami, agen-agen kami sudah ada di hampir setiap provinsi. Bahkan kami sudah mulai rutin untuk ekspor ke beberapa negara, ekspor mocaf ke Turki, ke Oman, ke Singapura, ke Malaysia," tambahnya.
Tepung mocaf dijual dengan Rp 15.000 per kg. Setiap bulannya, dia mengirim sebanyak 30 ton ke distributor langganan. Dengan begitu, setidaknya dia menerima omzet minimal Rp 450 juta dari olahan tepung mocaf. Saat ini ada 10 produk olahan singkong, mulai dari mie, gula, hingga kue.
(ara/ara)
Cerita Petani Tembakau, Ekonomi Meningkat-Bisa Beli Tanah Berkat Kemitraan
Dari cerita Erni, perekonomian keluarganya mengalami peningkatan setelah Suprapto ikut program kemitraan. [530] url asal
#petani #solusi-ukm #peluang-usaha
(detikFinance - SolusiUKM) 14/08/24 14:00
v/14412985/
Jakarta - PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) menjalankan program kemitraan dengan petani melalui perusahaan pemasok yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani hingga kualitas tembakau. Kemitraan ini dijalankan di berbagai sentra pertanian tembakau, salah satunya di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Perekonomian warga yang mengikuti program kemitraan meningkat. Di antaranya ada yang menggunakan penghasilan dari pertanian tembakau untuk membeli alat produksi, membeli kendaraan untuk mendukung produktivitas, memperluas ladangnya agar semakin banyak tembakau yang ditanam, dan bahkan membangun rumah bagi keluarganya.
Salah satunya dirasakan Erni Atmiarsih (49), istri Suprapto (53) yang merupakan salah satu petani mitra pemasok Sampoerna. Erni menceritakan, suaminya bergabung dalam program kemitraan petani tembakau sejak 2016.
Saat itu, istri para petani juga mendapatkan sosialisasi terkait program kemitraan dan pertanian tembakau. Sehingga, Erni tidak kaget saat suaminya memutuskan ikut bergabung sebagai petani mitra.
"Jadi istri mendapat penjelasan soal program kemitraan. Hingga kini, saya ikut mendampingi bapak menanam tembakau," kata Erni ditemui di Wonogiri, Jawa Tengah.
Erni mengaku, program kemitraan telah memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian keluarganya.
Dari cerita Erni, perekonomian keluarganya mengalami peningkatan setelah Suprapto ikut program kemitraan. Ia bisa merenovasi rumah, membeli kendaraan, dan membuat sumur sendiri sehingga tidak bergantung orang lain.
"Perbedaannya banyak. Dulu rumah masih lantai tanah. Alhamdulillah sekarang sudah tidak. Dulu kendaraan cuma satu, sekarang sudah punya dua. Terus sumur dulunya masih ikut umum, sekarang mandiri," ungkap dia.
Di samping itu, Erni mengatakan bahwa ia dapat membiayai pendidikan anaknya juga karena hasil pertanian tembakau.
"Alhamdulillah, berkat hasil tanam tembakau, saya bisa menyekolahkan anak sampai lulus kuliah," ceritanya.
Erni juga mengamati perbedaan dari cara suaminya bertani. Jika sebelumnya sang suami mengolah tanah secara manual, sejak ikut program kemitraan, kini pengolahan tanah menjadi efisien dan efektif dengan menggunakan mesin modern.
Hal senada disampaikan Lidia Rohma Doningsih (34), istri petani tembakau Mustopa (41). Ia mengaku, suaminya ikut program kemitraan di Wonogiri dari tahun 2017.
Seperti cerita Erni, dampak program kemitraan bagi ekonomi keluarga Lidia cukup signifikan. Lidia mengatakan perekonomian keluarganya meningkat sejak suaminya ikut bergabung program kemitraan.
"Contohnya tahun 2017, dari hasil panen saat itu saya dapat membeli hewan ternak seperti sapi dan kambing," kisahnya.
Setahun berikutnya, Lidia dapat membeli mesin penggilingan beras untuk usaha kue yang ia miliki.
"Alhamdulillah, sekarang saya bisa menggiling sendiri tanpa pergi ke tempat lain," kata dia.
Tidak hanya itu, sebuah sepeda motor juga dapat ia beli dari hasil panen tahun 2019.
"Malah kemarin tahun 2023, bisa untuk membeli tanah. Jadi suami saya bisa menambah jumlah tanaman tembakau untuk tahun ini," ujarnya.
Pengolahan tanah lebih modern
Selain perekonomian yang meningkat, ungkap Lidia, perbedaan yang dirasakan sejak suaminya ikut program kemitraan pemasok Sampoerna adalah cara mengolah ladang menjadi lebih efisien dan efektif.
"Dulu, kami mengolah tanah secara manual, misalkan pakai cangkul sehingga memakan waktu berhari-hari. Sekarang pengolahan tanah menggunakan mesin cultivator yang hanya memakan waktu dua hari. Jadi bisa menghemat biaya," ujarnya.
Lidia juga mengungkapkan, selama ikut program kemitraan, suaminya mendapat alat pelindung diri (APD) untuk menjaga keselamatan saat bekerja.
"APD-nya berupa topi, masker, baju lengan panjang ber-apron, sarung tangan karet, sepatu karet. Jadi dengan ini, suami saya terjaga keselamatan kerjanya," kata Lidia.
Kompak, Erni dan Lidia berharap program kemitraan petani tembakau di Wonogiri dapat terus berlanjut dan bahkan berkembang lagi.
(fdl/fdl)
Cerita Toko Grosir Bertahan Tiga Generasi di Tengah Serbuan Digital
Di bilangan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terletak Toko Kiem Tek, sebuah toko grosir yang sudah berdiri selama puluhan tahun. [643] url asal
#solusi-ukm #bisnis #toko-ritel
(detikFinance - SolusiUKM) 13/08/24 14:00
v/14361877/
Jakarta - Di bilangan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terletak Toko Kiem Tek, sebuah toko grosir yang sudah berdiri selama puluhan tahun. Sekarang, roda bisnis toko ini diteruskan oleh cucu dari sang pendiri. Indra ialah generasi ketiga Toko Kiem Tek, yang kini menjalankan operasional toko itu sehari-hari.
Ia berkisah, sang kakek membuka Toko Kiem Tek di Pasar Cibinong. Kemudian, diteruskan ayahnya, dan kini estafet berlanjut ke Indra.
"Toko ini dimulai oleh kakek saya di Pasar Cibinong. Sudah bertahun-tahun lalu diturunkan ke ayah saya. Dan saya merupakan generasi ketiga yang berusaha melanjutkan usaha ini," kata Indra, mengenang perjalanan panjang Toko Kiem Tek.
Upaya untuk menjaga kelangsungan usaha ini salah satunya Indra lakukan dengan membawa Toko Kiem Tek menyambut digitalisasi. Toko ini merupakan salah satu Mitra Sampoerna Retail Community (SRC), pedagang grosir yang berperan untuk memasok produk ke Toko SRC dan toko-toko kelontong lainnya.
Mitra SRC mendapatkan pendampingan pengembangan usaha dan dukungan digitalisasi dari PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) sebagai bagian dari program pemberdayaan SRC yang ditujukan bagi toko kelontong maupun grosir. Kini, terdapat 6.300 Mitra SRC yang aktif berkolaborasi dengan lebih dari 250.000 toko kelontong anggota SRC di seluruh Indonesia.
Indra mengatakan, saat tim Sampoerna memperkenalkan Mitra SRC pada tahun 2015, Toko Kiem Tek tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Toko kami dibina untuk menjadi lebih maju. Selain itu, kami juga diberikan peluang untuk membina toko-toko kelontong," ujar Indra.
Ketertarikan Indra untuk bergabung dengan Mitra SRC salah satunya didasari oleh fokus Sampoerna mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke arah pemanfaatan digitalisasi. Hal ini rupanya juga sejalan dengan visi dari Indra dan sang ayah sejak sembilan tahun yang lalu.
"Pada saat itu, dunia online masih minim. Tapi menurut kami, dunia online itu harus dikembangkan dan merupakan peluang yang bagus," kata Indra.
"dulu hanya Sampoerna yang menawarkan untuk mengembangkan UMKM lewat digitalisasi. Oleh karena itu, saya tertarik untuk bergabung menjadi Mitra SRC dan memutuskan untuk coba menjalankannya," sambungnya.
Menurutnya, para pelaku bisnis memang harus dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Toko Kiem Tek terbukti mampu melakukannya. Indra menyebut ini tidak terlepas dari keputusan untuk mengambil kesempatan menjadi Mitra SRC.
"Kita mendapatkan berbagai pelatihan dan pembinaan, termasuk bagaimana mengoptimalkan penggunaan aplikasi AYO by SRC dalam menjalankan usaha. Kami juga dibina agar bisa mempromosikan produk-produk di toko kami untuk selanjutnya dijual ke toko-toko kelontong," aku Indra.
Berbagai perubahan pun dirasakan Indra. Salah satunya karena jaringan Mitra SRC dan toko kelontong anggota SRC yang begitu luas.
"Dulu, kami jualan secara konvensional, menunggu pelanggan datang. Dengan menjadi Mitra SRC, kami bisa meng-cover wilayah yang lebih luas. Sebab, kami tidak hanya, menjual kepada orang yang datang, tetapi juga (ke orang-orang) dari banyak daerah yang ada dalam jaringan SRC. Kami bisa menjual produk di aplikasi AYO Mitra dan mereka bisa memesan secara online," kata Indra.
Tak hanya pasar yang semakin luas, sistem operasional pencatatan dan pembayaran Toko Kiem Tek pun sudah dilakukan secara digital. "Yang dulunya kita jualan menggunakan kalkulator, sekarang sudah menggunakan komputer dan mesin kasir," lanjut Indra.
Kini Indra pun merasakan kemajuan berkat adaptasi digital yang ia lakukan. Pendapatan dan keuntungan Toko Kiem Tek ia sebut semakin meningkat. Bahkan, Indra kini mempekerjakan karyawan dengan jumlah yang lebih banyak. Sebelum bergabung sebagai Mitra SRC, ia memiliki 7 karyawan. Kini, jumlah karyawan Toko Kiem Tek berjumlah 15 orang, yang kebanyakan merupakan warga sekitar.
Indra pun mengaku senang, bisnisnya tak hanya membawa dampak bagi keluarga, tetapi juga bagi orang lain. "Berkat adanya Mitra SRC ini, kami bisa mengembangkan ekonomi di sekitar kami dengan menyerap tenaga kerja yang ada di dekat toko," ujarnya.
Indra pun bertekad akan menjaga roda bisnis Toko Kiem Tek terus berputar. Bahkan hingga generasi-generasi selanjutnya. Sedangkan untuk saat ini, ia berkomitmen untuk terus mengikuti berbagai inisiatif pengembangan usaha yang diberikan oleh Sampoerna lewat program Mitra SRC. Proses yang sudah Indra jalani selama sembilan tahun dengan hasil yang sebanding.
(fdl/fdl)
Bumbu Rempah RI Laku hingga Australia, Wanita Ini Raup Omzet Ratusan Juta
Libri Annisa menginisiasi pembuatan bumbu rempah-rempah kemasan saset dengan harga terjangkau [509] url asal
#saatnya-jadi-bos #peluang-usaha #solusi-ukm #bumbu #rempah
(detikFinance - SolusiUKM) 02/08/24 14:00
v/12977221/
Jakarta - Indonesia dianugerahi dengan kekayaan rempah-rempahnya hingga diminati pasar global. Hal tersebut menjadi peluang usaha salah satu perempuan asal Mojokerto, Jawa Timur bernama Libri Annisa.
Berawal dari keresahannya, siapa sangka bisnis rempah-rempah yang dijalaninya bisa terbang lintas benua. Mulanya, Annis, sapaan akrabnya, merasa resah lantaran bumbu rempah, seperti lada masih tersisa banyak usai digunakan untuk memasak. Selain itu, kemasan saset tidak bisa mempertahankan aroma bumbu rempah-rempah.
Untuk itu, dia menginisiasi pembuatan bumbu rempah-rempah kemasan saset dengan harga terjangkau. Dia menyebut bumbu-bumbu rempah miliknya dijual dengan harga Rp 500 per sachet.
"Kalau abis penggunaan masih ada sisa, aromanya bisa hilang, kalau penyimpanannya kurang bagus. Nah melihat peluang market juga. Waktu itu belum ada main di harga Rp 500-an. Rata-rata harganya Rp 1000-an. Kita coba main di harga Rp 500 karena bisa jadi market-nya lebih banyak, kebutuhannya juga pas sesuai dengan sekali masak," katanya kepada detikcom, Rabu (31/7/2024) kemarin.
Bumbu Rempah RI Laku hingga Australia, Wanita Ini Raup Omzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Bisnis yang dibangun sejak 2017 ternyata tidak terdampak Covid-19, justru bumbu rempah-rempah laku keras di pasaran. Produk yang paling laku, seperti jahe, kunyit, hingga lada. Namun, usai semua kembali normal, penjualannya juga ikut seperti sebelum pandemi. Dia bilang, konsumen memang masih membeli, tapi frekuensinya tidak sesering saat pandemi covid-19.
Lebih lanjut, Annis berujar belakangan ini bisnis yang dijalaninya tengah menghadapi tantangan. Menurutnya, saat ini harga komoditas bahan baku yang disuplai dari petani mengalami kenaikan. Hal tersebut membuat dirinya mau tidak mau juga menaikkan harga jual.
Meski begitu, untuk kemasan saset, dia masih mempertahankan dengan harga Rp 500. Adapun menyiasatinya dengan mengurangi berat bersih.
"Jadi, kami terutama yang main di kemasan kecil, seperti botol pasti harus menyesuaikan harga lagi dan harus menerima konsumen yang mungkin agak protes harganya naik. Kalau yang sachet itu harga-nya tetap di Rp 500 tapi gramasinya yang berubah," jelasnya.
Namun, kenaikan harga bahan baku tidak menghentikan langkah Annisa. Siapa sangka produk dengan merek 'Labuna Nusantara' dapat terbang ke negara-negara lain, seperti Malaysia, Makau, Hongkong, hingga Australia.
Bahkan Annisa rutin ekspor bumbu rempah-rempah ke Makau dan Hong Kong tiap bulannya. Dalam sebulan, Annisa bisa mengeluarkan 1 kuintal per varian produk.
"Sudah pernah ekspor, sudah sampai Makau, Hong Kong, Malaysia dan Australia, permintaannya dalam bentuk kemasan boks atau kiloan. Australia pernah dua kali, Makau dan Hong Kong rutin satu bulan. Kalau, Makau Hong Kong paling banyak kunyit. Kalau Malaysia rata semuanya, lada, kunyit, dan lain-lain. Australia mintanya lada dan pala," imbuhnya.
Dari bisnisnya ini, dia berhasil meraup omzet sekitar Rp 500 juta per bulan. Ke depan ada beberapa produk yang bertambah. Saat ini, dia masih dalam tahap riset dan pengembangan. Dia pun masih membidik negara lain untuk tujuan ekspor, seperti Jerman dan Belanda. Pasalnya, dia melihat potensi bahwa pasar rempah-rempah diminati global.
Saat ini, Labuna Nusantara mempunyai tiga varian produk dengan berbagai kemasan. Adapun varian produknya, seperti kunyit bubuk, lada bubuk, dan ketumbar bubuk. Produk bumbu rempahnya mulai dijual dari harga Rp 500-28.000.
(ara/ara)
Kisah Puguh Bikin Karpet Handmade hingga Laku Dibeli Artis Luar Negeri
Siapa yang sangka, baru seminggu menjalankan usaha, Locarpet menerima pesanan dari artis luar negeri. [872] url asal
#peluang-usaha #karpet #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos
(detikFinance - SolusiUKM) 30/07/24 14:00
v/12610836/
Jakarta - Bisnis karpet buatan tangan ternyata bisa mendulang banyak cuan bahkan laku hingga mancanegara. Namun, semua ini tidak datang cuma-cuma, konsistensi terhadap detail dan pengembangan produk menjadi kunci suksesnya.
Adi Puguh Pangeksi adalah pelopor Locarpet Craft. Diproduksi di Magelang, Jawa Tengah, Locarpet sukses menyulap produk yang terkesan sepele menjadi bernilai tinggi. Mayoritas pembelinya berasal dari luar negeri bahkan merek fesyen dan musisi internasional. Di antaranya seperti Post Malone, Pleasures, Jonah Hill, Travis Barker, Blink 182, sampai David Beckham.
Kepada detikcom, Puguh, sapaan karibnya, mengaku merintis bisnis karpet buatan tangan setelah curhat dengan salah seorang temannya pada akhir Mei 2020. Kala itu, ia sedang gundah gulana karena bisnis pakaiannya runtuh imbas gempuran pandemi COVID-19.
"Sewaktu pandemi bisnisku kolaps dan tidak bisa dilanjutkan lagi, sampai merumahkan pegawai. Akhirnya aku curhat sama temenku yang punya pabrik karpet. Selang tiga hari aku kepikiran, kayaknya bisa deh ya berbisnis karpet buatan tangan biar bisa survive," ungkapnya, Sabtu (27/7/2024) lalu.
Artis Luar Negeri Kepincut Karpet Made in RI Foto: Dok. Pribadi |
Berangkat dari keluh kesah tersebut, Puguh menggandeng kawannya untuk membantu Locarpet Craft. Konsepnya sederhana, Puguh membuat desain karpet, portfolio, dan mengelola akun medsosnya, sementara kawannya mengurus produksi.
Siapa yang sangka, baru seminggu menjalankan usaha, Locarpet menerima pesanan dari artis luar negeri. Artis tersebut adalah rapper Post Malone. Salah seorang tim kreatif Post Malone menjelaskan rapper asal New York, Amerika Serikat itu tertarik memesan ratusan karpet. Jumlah totalnya sekitar 900 pcs dalam kurun enam bulan.
"Mereka mengirim pesan lewat direct message Instagram. Setelah dari Post Malone ini, alhamdulillah, orderan semakin bertambah banyak," jelasnya.
Belasan musisi dan merek internasional beramai-ramai menghubungi Locarpet. Jumlahnya bisa mencapai 500 pesanan dalam sehari. Puguh sukses bangkit dari keterpurukan bahkan merekrut kembali pegawai bisnis lamanya.
Artis Luar Negeri Kepincut Karpet Made in RI Foto: Dok. Pribadi |
Tidak sampai setahun, Locarpet mendapat eksposur dari berbagai media internasional. Dua di antaranya adalah akun media streetwear rakasasa seperti Hypbeast dan Complex. Karena kualitas dan keunikan karpet buatan tangan, Locarpet sempat dikira berasal di California, AS. Padahal, bisnis itu berada di Indonesia.
"Mereka sepertinya mengira kita brand dari California karena 85% follower-nya adalah orang luar negeri, padahal aslinya di Magelang. Sampai kita di posting di Complex, Hypebeast, media Rusia ada juga, media Asia, media Eropa, eksposurnya sangat besar," jelasnya.
Dalam kurun 2021 sampai 2022, Puguh mengaku beruntung karena omzet usahanya cukup besar. Ia mengaku bisa memperoleh omzet miliaran rupiah dalam sebulan.
"Kita bisa mendapatkan sekitar ratusan juta sebulan, dan miliaran setahun omzetnya. Pernah pula sebulan kita mendapatkan miliaran. Itu paling besar," bebernya.
Resep Sukses Tembus Pasar Internasional
Puguh mengatakan salah satu kunci keberhasilan pada bisnisnya adalah positioning di pasar, upskilling, adaptasi, dan inovasi produk. Locarpet bisa berkembang pesat karena kala itu belum ada usaha khusus yang bergerak di bidang pembuatan karpet custom dengan tangan di pasar Indonesia bahkan AS secara masif.
Namun, dia menjelaskan pemaknaan karpet di AS dan Indonesia berbeda. Jika karpet sering diasosiasikan dengan alas kaki di Tanah Air, karpet justru identik dengan karya seni di 'Negeri Paman Sam'. Inilah yang membuat produk Locarpet memiliki tempat tersendiri di mata kliennya.
Karena faktor ini pula, Puguh menjelaskan mayoritas pembeli produk Locarpet berasal dari luar negeri. "Kalau di Indonesia mungkin karpet ya karpet saja, permadani, karpet turki, tapi bagi warga AS sesuai yang spesial, apalagi jika dibuat custom dengan tangan. Tidak masalah bagi mereka untuk membeli karpet yang juga punya estetika alias nilai seni tinggi. Karpet menjadi barang koleksi," bebernya.
Meskipun demikian, Puguh mengatakan Locarpet berjalan bukan tanpa tantangan. Mereka sempat terkendala masalah persaingan harga dengan China yang produk-produknya dijual dengan harga murah, ongkos logistik, sampai persoalan regulasi pemerintah.
Puguh menjelaskan bisnisnya bisa melesat cepat karena menempuh tiga strategi. Pertama adalah branding serta pengemasan, kedua adalah komunikasi untuk bisa melayani klien dari berbagai negara dengan bahasa yang baik agar mau melakukan repeat order, dan strategi ketiga adalah inovasi.
Dalam aspek inovasi, Puguh menuturkan bahwa inovasi menjadi aspek kunci. Diferensiasi produk atau dalam bahasa sederhananya menciptakan produk berbeda diperlukan agar karpet tidak sekedar menjadi alas kaki. Karena itu, ia mengatakan Locarpet juga membuat produk karpet untuk di dinding, plafon, lantai, bahkan ring basket.
Locarpet bahkan membuat karpet dari berbagai bahan premium seperti acrylic, wool, dan viscous. Berbagai fitur khusus seperti karpet yang menyala di kegelapan (glow in the dark), ilusi tiga dimensi, bahkan Augmented Reality (AR) turut dihadirkan untuk menarik pembeli.
"Termasuk juga karpet untuk fashion, kemudian coffee table. Berbagai produk ini membuat brand value yang menunjukan karpet bukan cuma bisa digunakan sebagai fungsional, tapi juga media seni yang memiliki nilai jual lebih selain kanvas. Itu added valuenya," jelasnya.
Di sisi lain, Puguh juga membeberkan bahwa usahanya tidak akan berjalan sejauh ini jika tidak dikerjakan dari hati. Menurutnya, bisnis apapun pasti memiliki tujuan akhir menghasilkan keuntungan. Tapi, hal ini dinilainya tidak akan bisa tercapai tanpa kesabaran dan kemauan untuk berinovasi.
Dengan inovasi, Puguh mengatakan bahwa usaha yang dirintis pada akhirnya kelak bisa menciptakan pasar dan tidak melulu mengikuti apa yang diinginkan oleh orang lain.
"Bisnis itu tidak bisa diburu-buru, mending didalami, sukai, pahami, nikmati perjalanannya. Kalau produknya bagus, aku yakin pasar akan mengikuti sendirinya. Kuncinya di produk," pungkasnya.
Sebagai informasi, produk Locarpet Craft sendiri bisa diakses di media sosial lewat Instagram @locarpet_indonesia. Usaha tersebut juga bisa diakses di situs locarpet.com.
(ara/ara)
Wanita Ini Bangkit dari Kemiskinan Berkat Eceng Gondok, Begini Kisahnya
Di tangan Wiwit Manfaati, eceng gondok berhasil disulap menjadi aneka kerajinan seperti tas dan hampers bernilai tinggi. [678] url asal
#peluang-usaha #eceng-gondok #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm
(detikFinance - SolusiUKM) 23/07/24 14:00
v/11762592/
Jakarta - Eceng gondok kerap dianggap sebagai tanaman gulma yang dapat mengancam keberlanjutan ekosistem perairan. Namun, di tangan Wiwit Manfaati, eceng gondok berhasil disulap menjadi aneka kerajinan seperti tas dan hampers bernilai tinggi.
Wiwit bercerita bagaimana tanaman berwarna hijau ini mampu menghidupi dirinya dan keluarganya. Padahal sebelum memutuskan berbisnis, keluarganya dilanda kemiskinan dan ia hanyalah ibu rumah tangga.
"Saya itu memulai usaha tahun 2008, berangkat dari pelatihan di kelurahan kami. Jadi di Kelurahan Kebraon ada pelatihan untuk warga, ada 30 orang, saya satu di antaranya itu. Selama 10 hari bikin kerajinan eceng gondok," ujar Wiwit kepada detikcom, ditulis, Selasa (23/7/2024).
Lulusan sarjana Teknik Informatika ini menyebut bisnis kerajinannya tidak langsung berjalan mulus. Kerap kali ia merasa tak puas dengan hasil karyanya namun terus melakukan perbaikan.
Meski sudah mengikuti beberapa pameran di pusat perbelanjaan, produk buatannya tak kunjung laku. Kritik pedas sempat dilontarkan Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya kala itu.
"Tahun 2010 itu saya kan sering dikasih pameran gratis di mal sama Dinas di sini, tapi nggak laku. Mungkin karena kurang menarik ya, makanya nggak banyak yang beli. Dari situ saya perbaiki produk saya. Sampai ketemu lah sama Bu Risma, terus dikasih tantangan. 'Lah masa kok kayak gini'. Dia kan bilang 'kok jelek sih'. Saya tertantang, saya perbaiki, saya pakai handle kulit, pakai yang berkelas gitu lah, akhirnya mulai bisa diterima pasar," sambung Wiwit.
Ia juga mengaku sempat dibantu Risma untuk rebranding hingga diberi desainer gratis untuk usahanya. Lalu sejak 2012, nama Witrove mulai digunakan, desain terus diperbaiki hingga akhirnya produknya dapat diterima di pasar. Witrove kini lebih fokus melayani pasar kelas menengah atas.
"Awalnya tidak mudah begitu saja. Jungkir baliknya juga banyak. Awalnya saya berangkat dari keluarga miskin, modal pelatihan itu saja. Akhirnya juga bisa usaha ini, bisa menghidupi kami sekeluarga, dan kami bisa branding nama, toko, dan tawaran makin banyak," terang dia.
Foto: Dok. Pribadi |
Wanita yang berdomisili di Kota Surabaya ini bercerita, modal awal merintis bisnis eceng gondok hanya Rp 20 ribu untuk pembuatan kerajinan tas. Modal tersebut dipakai membeli eceng gondok hingga perlengkapan dasar produksi tas.
"Rp 20.000 doang. Kan waktu itu eceng gondok masih Rp 1.500, nah Rp 20 ribu itu saya pakai beli eceng gondok 1 kilo. Terus kemudian saya pakai untuk beli handle tas, kain dalemannya. Terus abis itu, begitu dapat uang saya belanjakan lagi, ya diputar di situ uangnya," imbuhnya.
"Dan itu berhasil menghidupi keluarga sampai sekarang. Penghasilan saya di situ semua. Suami saya pernah ketipu bisnis sama temannya, kita terjerat utang banyak, sekarang kita hidup dari eceng gondok. Ya walaupun awalnya susah payah, apalagi anak tiga, sekolah semua," katanya lagi.
Ia mengaku bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan dengan mengolah eceng gondok. Bahkan ia pernah menerima Rp 1,5 miliar pada 2018 untuk pengerjaan proyek selama delapan bulan dari Risma dalam pengerjaan 7.000 buah produk. Namun Wiwit mengaku penjualannya saat ini tidak sebagus seperti sebelum pandemi Covid-19.
Wiwit sempat menjelaskan proses pengolahan eceng gondok menjadi produk kerajinan. Awalnya eceng gondok diambil dari waduk yang berlokasi tak jauh dari rumahnya untuk kemudian dijemur selama satu minggu. Eeceng gondok juga harus melalui proses pengasapan selama satu hari satu malam.
"Kemudian kita asap pakai belerang sama arang. Kita ambil asapnya doang, itu sehari semalam. Abis itu kita jemur lagi supaya nggak lembab. Abis dijemur baru dibawa pulang untuk dianyam," sebutnya.
Ia menjelaskan, banyak tidaknya eceng gondok yang diolah tergantung dari pesanan yang masuk. Wanita yang dulunya aktivis ini memanfaatkan tenaga kerja lokal lewat sistem pemberdayaan. Adapun produk yang dihasilkan mencakup tas, tempat tisu, meja, kursi, sandal, hingga pembatas ruangan.
"Kisaran harga dari Rp 25 ribu sampai Rp 2 juta. Yang paling mahal itu pembatas ruangan, karena besar. Yang paling murah itu kayak piring yang gitu-gitu lah," sebut dia.
Saat ini produk Wiwit dengan brand-nya Witrove berhasil mejeng di gerai Gramedia, MR. DIY, hingga Sarinah. Produk Witrove juga dijual online di media sosial dan e-commerce, hingga berhasil tembus ke pasar luar negeri. Witrove beberapa kali mengikuti pameran di luar negeri, seperti Guangzhou, China, Seoul, Korea Selatan, Belanda, Inggris, hingga Dubai.
(ily/ara)
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta
"Kalau bersihnya itu sampai puluhan juta, kalau omzet kotornya itu sampai ratusan juta per bulan," ujar Putri. [601] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #mochi
(detikFinance - SolusiUKM) 17/07/24 14:00
v/11044879/
Jakarta - Putri, perempuan asal Jambi mencari pundi-pundi uang sendiri untuk membiayai dirinya berkuliah dan keperluan keluarga. Perjuangannya kini berbuah manis, dari kerja serabutan, jualan produk apapun, saat ini dirinya sukses menjalani bisnisnya sendiri yakni menjual mochi yang dinamakan Mochilicious.
Putri mengatakan lebih dari setahun bisnisnya itu dijalankan sudah bisa membiayainya kuliah dan keperluan untuk orang tuanya. Omzet yang dia dapatkan sebulannya bisa mencapai ratusan juta.
"Kalau bersihnya itu sampai puluhan juta, kalau omzet kotornya itu sampai ratusan juta per bulan," ujar Putri kepada detikcom, ditulis Rabu (17//7/2024).
Namun, hasilnya itu tidak semudah membalikkantelapak tangan. Putri mengatakan, selain dia harus mencari sendiri biaya sekolahnya, sebagai tulang punggung keluarga, dia juga harus membantu orang tuanya.
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Semasa dia kuliah, dirinya memang sudah sering berjualan. Produk apapun dia jual demi memenuhi biaya pendidikannya. "Dari dulu aku tuh suka coba coba jualan, cuma belum jalannya dulu. Dulu banyak jualan sate taichan, jual pokoknya semua yang bisa dijual aku jual," ujarnya.
Selain berjualan, dia juga bekerja sampingan di salah satu perusahaan. Dari gaji yang ia dapatkan Rp 1 juta, dia harus memenuhi kebutuhan biaya kuliah dan orang tuanya.
Putri putar otak agar penghasilannya bisa bertambah. Akhirnya dengan modal Rp 300.000 saja, dia mencoba membuat mochi secara otodidak.
"Tahun lalu 2023 mulai bulan 9 aku mulai coba bikin mochi. Dan itu aku melihat mochi ini nggak ada matinya gitu loh, selalu eksis. Kaya salah satu brand ice cream yang ada mochinya, itu laku terus. Aku mikir kalau aku basic-nya dari kue nantikan ke depan buka bakery aku memutuskan jualan mochi," ujar dia.
Dia mencoba berjualan mochi di pinggir jalan. Namun, saat itu bisnis itu jadi sampingannya karena masih harus kuliah di pagi hari dan bekerja di siang harinya.
"Aku jualan dulu, itu mulai jam 7 malam. Kenapa? Karena pagi sampai siang aku kuliah. Siang ke sore aku kerja di perusahaan tadi. Nah sorenya itu aku bisa bikin mochi itu cuma 2 jam 3 jam, habis magrib aku langsung on the way jualan. Itu aku sendiri, mochinya aku taruh di motor, berangkat sendiri," ungkapnya.
Penjualan mochinya melesat gara-gara kontenya di TikTok viral. Sebanyak 40 pcs mochi laku hanya dalam waktu satu jam.
Namun, Putri mengaku sempat vakum berjualan karena orang tuanya sakit dan berdampak ke penjualan mochi. Namun, ia tidak menyerah dan tetap mempromosikan produknya itu di TikTok.
Putri tidak menyerah, dia tetap melanjutkan bisnisnya dan terus membuat konten di TikTok. Hingga akhirnya salah satu videonya tembus 5 juta penonton. Hasil dari video tersebut, membuat penjualannya terus meningkat hingga 1.000 pcs mochi bisa habis terjual kurang dari 2 jam.
"Dulu produksinya dari 40 an pcs, sekarang sudah lebih dari 1.000 pcs. Dulu aku sendiri buat mochinya, sekarang sudah ada yang bantuin 10 orang. Aku utamain (karyawan) dari tetangga sekitar," jelas dia.
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Selain di pinggir-pinggir jalan, Putri telah membuka Mochilicious di mini toko seperti kontainer booth. Hal itu menjadi kemajuan baginya setelah lama berjualan hanya menggunakan meja biasa.
Saat ini pembelinya juga dari berbagai macam daerah. Menurutnya ada beberapa juga yang dari luar kota seperti, Bengkulu hingga Jakarta sedang berada di Jambi untuk membeli mochi miliknya.
"Sekarang mochi aku, dari yang sebelumnya hanya empat varian rasa, sekarang ada 15 varian rasa. Jadi mochinya lumayan besar, harganya mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 8.000 saja," pungkasnya.
Dia berharap bisnis akan terus berkembang hingga dia bisa membuka toko sendiri. Jadi produk yang dia jual juga tidak hanya mochi, tetapi bisa membantu UMKM lain menjualkan produknya.
(ada/ara)
Resign dari Bank BUMN, Pasutri Ini Rintis Bisnis Kue Beromzet Puluhan Juta
Rian dan Delli memilih berbisnis makanan Dapur CK & Cool Kedai yang berbasis di Ciamis. Usaha itu pertama kali berjalan pada 2017 usai keduanya menikah. [405] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #kue
(detikFinance - SolusiUKM) 16/07/24 14:00
v/10951322/
Jakarta - Menjadi pegawai di salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mungkin menjadi impian banyak orang. Keputusan berbeda diambil Rian (34) dan Delli (38), pasangan suami istri yang memilih resign untuk membuka usaha sendiri.
Rian dan Delli memilih berbisnis makanan Dapur CK & Cool Kedai yang berbasis di Ciamis. Usaha itu pertama kali berjalan pada 2017 usai keduanya menikah.
"Mulai kenal dari bekerja di sana, sama-sama pegawai bank. Karena menikah saya resign, terus kita mulai mikir kayaknya mending usaha aja, akhirnya kita memutuskan untuk fokus di usaha ini," kata Rian saat berbincang dengan detikcom, Selasa (16/7/2024).
Rintis Usaha Kue Beromzet Puluhan Juta, Pasutri Ini Resign dari BUMN Foto: Dok. Dapur CK & Cool Kedai |
Cool Kedai merupakan sebuah usaha yang awalnya menyajikan minuman seperti thai tea dan green tea gerobakan. Sementara Dapur CK membuat kue ulang tahun, donat, hingga roti kukus yang telah memiliki outlet dan tempat produksi sendiri.
"Jadi Dapur CK sama Cool Kedai tidak bisa dipisahkan. Meskipun core bisnisnya sama di dunia kuliner, tapi kita memberikan spesifik yang berbeda. Ketika bicara Cool Kedai adalah sebuah kedai lebih ke fast food, sementara Dapur CK kita coba membuat kuliner tradisional, modern, di dalamnya itu cake and bakery," tuturnya.
Rian mengaku awalnya hanya membuat kue ulang tahun untuk anak yang kemudian diunggah di sosial media. Tanpa disangka ternyata ada peminat yang diminta untuk dibuatkan juga.
"Sampai sekarang akhirnya kita buka untuk agen dan reseller buat kue-kue kering, selain di marketplace karena untuk menjangkau kayak kemarin dari Sulawesi, Kalimantan. Kita sudah ada pengiriman dan permintaan dari luar pulau," bebernya.
Rintis Usaha Kue Beromzet Puluhan Juta, Pasutri Ini Resign dari BUMN Foto: Dok. Dapur CK & Cool Kedai |
Dengan modal awal Rp 500 ribu, kini Rian dan Delli bisa mengantongi Rp 50-70 juta/bulan. Omzet itu sudah meningkat pesat dibandingkan saat awal-awal usaha dirintis.
"Pertama buka di 2017 dalam satu hari pernah hanya dapat Rp 30 ribu, Rp 100 ribu per hari saja sudah sangat bersyukur. Seiring berkembangnya usaha kita mulai memaksimalkan digitalisasi sebagai salah satu channel pemasaran. Melalui marketplace, pemasaran Dapur CK sudah menjangkau hampir seluruh Indonesia," ucapnya.
Rian berpesan agar jangan takut untuk memulai bisnis. Khusus di bidang kuliner, menurutnya hal terpenting yang harus ada yakni rasanya enak, harga sebanding dan memberikan pelayanan baik.
"Kita upgrade diri, upgrade ilmu, bangun hubungan sama siapapun kita welcome. Kita banyak bertemu orang untuk membangun, itu adalah satu kunci yang mungkin bisa sampai saat ini," ucapnya.
(aid/ara)









