#30 tag 24jam
Pria Ini Bangun Komunitas Petani Muda hingga Berhasil Ekspor Buah ke China
Bekerja dengan memberikan manfaat kepada banyak orang menjadi motivasi utama AA Gede Agung Wedhatama membentuk komunitas Petani Muda Keren. [471] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #buah
(detikFinance - SolusiUKM) 02/10/24 14:00
v/15847241/
Jakarta - Bekerja dengan memberikan manfaat kepada banyak orang menjadi motivasi utama AA Gede Agung Wedhatama membentuk komunitas Petani Muda Keren. Komunitas itu dibentuk karena dirinya melihat permasalahan pertanian di Bali.
Agung bercerita sebelum menggeluti bidang pertanian, dia merupakan lulusan bidang IT. Dia mengaku sejak duduk di bangku kuliah sudah menekuni bidang wirausaha.
"Semua di bidang IT memang, dari warnet, dari software developer, dan lain sebagainya berkembang," kata dia saat ditemui di kawasan Jatiluwih, Bali beberapa waktu lalu, ditulis Rabu (2/10/2024).
Namun, bisnisnya di bidang IT tidak berjalan mulus. Agung mengatakan di tengah jalan mendapatkan musibah yang membuat bisnisnya itu harus ditutup. Dia mendapatkan titik terang untuk banting setir ke bidang pertanian.
"Ini agak gimana ya, filosofi ya, tapi pengalaman spiritual saya, jadi saya cuma hidup, dapat uang, jalan-jalan ke luar negeri, ke mana-mana, tapi tidak ada impact untuk kehidupan. Tuhan kasih saya ujian, akhirnya datang ke pertanian, menemukan kedamaian disini, ternyata ini bermanfaat," ucapnya.
Meski banting setir ke bidang pertanian, Agung tetap menyalurkan keandalannya di bidang IT dengan membangun startup pertanian. Dia mengembangkan pembuatan pupuk PT Bos (Bali Organik Subak) serta penanaman, dan budi daya pada para petani melalui PT Wedhatama Sukses Makmur.
"Akhirnya hidup itu jadi bermakna. Ketemu petani, kita bisa carikan solusi, kita banyak teman, banyak saudara, terus bener-bener hidup itu berguna. Jadi uang yang didapat dari hasil kita bertani, menanam, bikin pupuk, jual pupuk, berbudidaya, jual sayur, asik, gitu," tuturnya.
Melalui komunitas Petani Muda Keren itu, Agung membantu petani dari sisi pembiayaan, bibit, hingga kebutuhan pupuk. Selain itu, dalam segi penanaman, Agung juga berupaya untuk menggunakan teknologi modern.
Saat ini Agung mengatakan petani muda yang telah digaetnya telah mencapai ratusan orang. Usia petani yang bergabung berkisar antara 15-40 tahunan.
Bahkan dirinya menggunakan Starlink untuk melancarkan koneksi internet untuk mengembangkan tanaman petani. Salah satu yang dilakukan menggunakan internet adalah teknologi penyiraman otomatis.
"Cuman memang kadang-kadang, petani kita, kalau yang di-searched begini kan, kendala IOT itu sebelumnya adalah kan koneksi. Banyak blank spot, tapi sekarang sudah masuk Starlink, saya rasa nggak ada isu lagi dengan itu," tuturnya.
Selain itu, Agung juga mendirikan BOSFresh untuk penyerapan hasil-hasil pertaniannya. Pendapatan petani dalam komunitas itu disebut sukses membuahkan hasil dari pendapatan Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.
"Per petani (Rp 5 juta sampai Rp 10 juta). Tapi jadi petani ya, bukan jadi buruh tani. Dan itu harus menggunakan smart irrigation, smart farming," tuturnya.
Agung mengatakan berkat gotong royong dalam komunitas tersebut, para petani juga telah mengekspor hasil petaniannya yakni buah manggis pada 2017.
"Kalau kami, kami di Petani Muda Keren lewat BOS, Balai Organik Subak, kami cuma ekspor 4 buah. Ada buah manggis, buah mangga, salak, sama buah naga. Tapi yang terbesar kami ekspor buah manggis. Pada 2017 itu ekspor manggis langsung ke China, sebelumnya lagi ekspor ke Vietnam, Thailand," pungkasnya.
(ada/ara)
Gegara Sulit Cari Makanan Sehat, Dokter Ini Raup Puluhan Juta dari Jual Selai
Kesulitan mencari makanan sehat menjadi cikal bakal bagi Rika Christina membangun bisnis. [419] url asal
#peluang-usaha #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm #selai
(detikFinance - SolusiUKM) 01/10/24 14:00
v/15798895/
Jakarta - Kesulitan mencari makanan sehat menjadi cikal bakal bagi Rika Christina membangun bisnis. Wanita yang berprofesi sebagai dokter gizi itu kini juga menjalani bisnis selai bernama Sincere Foods di Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten dengan omzet Rp 90 juta per bulan.
Dia bercerita, pada 2013-2014 mengalami kesulitan mencari makanan sehat. Untuk selai kacang saja misalnya, terdapat tambahan gula dan minyak. Atas kondisi itu, Rika pun mencoba membuat selai sendiri.
"Sincere Foods itu kita mulai di tahun 2014 sebetulnya.Jadi tahun ini 10 tahun, kemarin Agustus. Nah, awalnya itu karena saya itu kan dokter gizi, suami itu chef. Jadi waktu tahun 2013-2014 itu susah banget nyari makanan sehat sebenarnya di Indonesia," katanya kepada detikcom, Senin (30/9/2024) kemarin.
"Karena kaya selai kacang aja, semuanya ada gulanya, ada tambahan minyaknya, ada macam-macamnya di dalam. Jadi kita nggak suka. Kita bikin sendiri," sambungnya.
Awalnya, selai yang Rika buat dibagikan ke keluarga. Ia juga mengikuti komunitas dan kebetulan banyak orang di komunitas yang mencari selai buatannya. Dari situ, ia mulai serius menjalani bisnis selai.
Berawal dari Sulit Cari Makanan Sehat, Dokter Raup Cuan Puluhan Juta Jual Selai Foto: Dok. Pribadi |
Produk yang pertama kali dibuat Rika untuk bisnis adalah selai kacang. Kacang yang digunakan untuk membuat selai merupakan kacang tanah lokal dengan hanya sedikit tambahan garam.
"Sudah gitu doang. Nggak ada bahan-bahan macam-macamnya," ujarnya.
Modal untuk membangun bisnis ini bisa dibilang seadanya. Dia mengatakan, modal untuk membangun bisnis ini hanya kacang dan food processor.
"Karena ini awalnya dari kesulitan kami sendiri. Jadi, kami bikin sendiri produk-produknya di rumah. Jadi, dengan alat-alat yang kami punya di rumah waktu itu. Jadi, untuk modal sebenarnya cuma modal blender waktu itu, food processor waktu itu sama kacang tanahnya saja sudah. Jadi dibilang mahal, ya enggak sih, di bawah Rp 10 juta lah ya," terangnya.
Dalam memasarkan produknya, Rika mulanya hanya menitipkan produk-produk tersebut ke toko. Selain itu, ia juga menerapkan sistem pre order (PO) ke rekan-rekannya. Seiring berjalannya waktu, Rika juga memasarkan produknya secara online seiring berkembangnya e-commerce.
Lambat laun, bisnis Rika berkembang hingga kini memiliki 10 varian produk. Dia mengatakan, berkembangnya bisnis selai ini sejalan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, terutama pasca COVID-19.
Dengan harga produk antara Rp 38.000 hingga Rp 135.000, Rika mampu mengantongi omzet hingga Rp 90 juta per bulan. "Per bulannya itu berarti kurang lebih Rp 90 jutaan sih," ujarnya.
Meski bisnisnya berkembang, Rika tak lantas melepas profesinya sebagai dokter. Ia masih membuka praktik setiap Rabu.
(acd/ara)
Eks Tukang Sapu Ragunan Kantongi Ratusan Juta dari Bisnis Perawatan Kendaraan
Seperti Dede Iskandar yang memiliki ketertarikan di bidang otomotif, kini menjadi pemilik produk perawatan kendaraan bernama Oxide. [716] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #perawatan-kendaraan
(detikFinance - SolusiUKM) 30/08/24 14:00
v/14832316/
Jakarta - Sebuah ketertarikan pada suatu hal kadang menjadi ladang penghasilan bagi sebagian orang. Seperti Dede Iskandar yang memiliki ketertarikan di bidang otomotif, kini menjadi pemilik produk perawatan kendaraan bernama Oxide.
Sebelum berhasil membangun bisnis sendiri, Iskandar telah menjajal berbagai pekerjaan. Dia mengaku sejak lama telah berjualan, tak hanya itu dia juga sempat bekerja di ritel dan petugas kebersihan di salah satu kebun binatang di Jakarta.
"Kalau jualan sudah lama offline itu kebetulan sembari belajar digital marketing di 2010 waktu zamannya Kaskus. Sempat kerja juga di ritel, jadi petugas kebersihan, di salah satu instansi pemerintah Ragunan. Jadi tukang nyapu jalan. Itu pekerjaan terakhir, sambil memulai lagi pelan-pelan jualan lagi online," kata dia kepada detikcom, ditulis Jumat (30/8/2024).
Iskandar tidak pantang menyerah untuk bisa membangun bisnis sendiri. Dirinya mengaku telah jatuh bangun untuk memiliki usaha sendiri.
Kemudian, berangkat dari hobi di bidang otomotif, Iskandar dengan satu rekannya bernama Exfran Fery tercetus ide untuk menjual produk yang berkaitan dengan kendaraan. Mulanya dia memulai dengan menjual produk orang lain atau menjadi reseller pada 2019.
"Sebenarnya saya terinspirasi waktu ada saya melihat produk basisnya perawatan kendaraan, kemudian saya bilang sama rekan saya 'bisa nggak sih kita dapat produk ini'. Kebetulan kami berdua bagi tugas, kalau dia keuangan dan chain supply, kalau saya lebih ke strategic dan marketing," ucapnya.
Tak sampai di situ, Iskandar ingin menjual produk yang sama namun dengan merek sendiri. Namun, mengingat pada waktu itu belum tahu cara membuat produk tersebut, Iskandar mencari pemasok yang belum bermerek.
Saat bisa mendapatkan supplier produk yang belum bermerek, Iskandar mencoba membuat produk sendiri dan tercetuslah nama Oxide, tepatnya pada Januari 2020.
"Nah baru kita mulai ke arah buat brand, kebetulan yang diinisiasi brand itu saya sendiri. Brand-nya jadi, kemudian kita pesan barangnya, sesuai kebutuhan, nggak banyak, karena modal terbatas. Kemudian kita packaging sendiri, stikerin sendiri, waktu itu masih berdua saja," ungkapnya.
Eks Petugas Kebersihan Banting Setir Bisnis, Produknya Laris Manis di RI Foto: Dok. Oxide |
Sambil menjual produk white label itu, Iskandar juga sembari mempelajari formula dari produk perawatan kendaraan. Setelah mendapatkan modal cukup, Iskandar dan rekannya mulai mencoba membuat sendiri produk dengan formula yang mereka pelajari secara otodidak.
"Itu lumayan lama karena memang trial dan error-nya lumayan lama untuk dapat formulasi yang bagus, itu hampir setahun, kita punya formulasi kita uji, kita jual, kalau ulasan jelek atau bagus kita rombak lagi. Tetapi penjualan tetap jalan, cuma memang saat terjadi ada yang kurang bagus langsung kita tarik untuk kita kaji ulang," tuturnya.
Meski telah memiliki produk dan merek sendiri, penjualan Oxide diakui cukup sulit. Iskandar pernah mengalami sama sekali tidak ada pesanan.
"Awal-awal ya nggak laku, namanya produk baru. Selang dua minggu nggak ada yang beli, kemudian satu ada pembelian," ucapnya.
Seiring berjalannya waktu, berkat pemasaran dan perkembangan yang terus dilakukan Iskandar dan timnya, Oxide kini laku keras hampir ke seluruh wilayah di Indonesia. Produksi Oxide pun meningkat dari sebelumnya puluhan pcs, kini bisa mencapai 1.000 pcs per hari.
"(Produksi) itu fluktuatif, satu hari bisa 1.000 produk, satu hari di bawahnya karena barang itu kita usahakan fresh. Kurang lebih ratusan sampai 1.000 lah produksi paling banyak. Penjualan ke penjuru Indonesia sudah, sampai ke Kalimantan, Papua, Sumatera, Bali, di luar Jawa banyak. (Luar negeri) ada waktu itu Malaysia, Singapura, cuma nggak banyak," terangnya.
Iskandar sejak awal memasarkan produknya melalui e-commerce, salah satunya Shopee. Menurutnya, e-commerce menjadi pasar digital yang mewadahi agar UMKM pun mendapatkan potential buyer.
Salah satu manfaat yang didapat Iskandar melalui Shopee saat penjualan di tanggal kembar. Penjualan Oxide pernah sempat mencapai 2.300 pcs per harinya.
Berkat ketekunan dan kerja sama tim, omzet dari Oxide kini telah mencapai ratusan juta per bulan. Iskandar juga telah mempekerjakan banyak orang di rumah produksinya sebanyak 12 orang.
"Kalau range itu ratusan juga dan sekarang (pekerja) sudah ada 12 dan itu banyak di produksi. Sekarang juga sudah tempat produksi sendiri dari sebelumnya di rumah," pungkasnya.
Oxide bisa dibeli di sejumlah e-commerce. Produk ini basisnya untuk perawatan kendaraan khususnya untuk non-mesin. Harga produk tersebut cukup terjangkau dari Rp 20.000-50.000-an.
Iskandar mengatakan ke depan dengan Oxide memiliki misi agar tidak hanya menjual produk tetapi bisa memberikan dampak. Mengingat Oxide adalah produk otomotif, dengan produk ini juga bisa memberikan edukasi kepada masyarakat terkait keselamatan berkendara dan berlalu lintas.
(ada/ara)
Pria Ini Bikin Singkong Naik Kelas hingga Jadi Unggulan Ekspor
Riza memberdayakan petani singkong di Banjarnegara dengan tepung mocaf. Produk ini diekspor ke berbagai negara dan meningkatkan kesejahteraan petani. [490] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #tepung-mocaf #singkong
(detikFinance - SolusiUKM) 27/08/24 14:00
v/14764303/
Jakarta - Indonesia diberi kelimpahan Sumber Daya Alam (SDA), termasuk hasil umbi-umbian. Sayangnya, permasalahan masih terus bergulir di kalangan petani, seperti penetapan harga jual yang tidak layak.
Berangkat dari keresahan ini, Riza Azyumarridha Azra tergerak untuk memberdayakan petani singkong di Banjarnegara. Mulanya, sekitar 2014, dia melihat petani-petani singkong di Banjarnegara yang mempunyai lahan sekitar 1 hektare (ha) rugi lantaran harga jual yang rendah, yakni Rp 200 per kilogram (kg).
Dia meneliti olahan singkong yang bisa mengerek nilai jual. Setelah berkonsultasi dengan praktisi dan para ahli, muncullah produk olahan singkong bernama tepung mocaf.
"Tiba-tiba ada petani ya, yang intinya dia sambil mengeluh gitu dan sedih karena waktu itu harga singkong Rp 200 per kilogram gitu. Waktu itu, dia punya lahan sekitar satu hektar atau setengah hektar. Singkongnya dibiarkan membusuk di lahan, kalau dipanen malah justru nombok, rugi ya gitu. Jadi, akhirnya dibiarkan membusuk di lahan," kata Riza kepada detikcom, ditulis Senin (26/8/2024).
Pria Ini bikin Singkong Naik Kelas hingga Jadi Unggulan Ekspor Foto: Dok. Pribadi |
Usai berhasil membuat tepung mocaf, Riza mengajarkan kepada petani singkong. Namun, permasalahan kembali muncul. Para petani belum mengetahui cara menjual hingga memasarkan. Kemudian muncullah program Rumah Mocaf dengan konsep social planner. Selain memberdayakan petani, program ini juga diharapkan dapat menjangkau lebih luas lagi produk tepung mocaf.
Menurutnya, tepung mocaf berpeluang menjadi bahan pengganti tepung gandum dalam berbagai olahan. Apalagi dia melihat impor tepung gandum atau terigu terus naik tiap tahunnya. Selain itu, tepung mocaf lebih sehat karena bebas kandungan protein gluten.
"Itu kan pasar ya. Suatu saat kan kami memimpikan ya ketika ada Menteri Perdagangan atau Menteri Pertanian, atau bahkan Presiden yang berani menyetop 100% impor terigu, akan ada jutaan petani singkong yang diangkat harkat martabatnya atau kesejahteraannya. Seperti itu itu kan yang sangat meyakini kami bahwa ini merupakan prospek cerah pasar dunia," jelasnya.
Dia menyebut bisnis yang dilakoninya selama 10 tahun ini mengalami jatuh bangun. Bahkan dia bilang pihaknya tidak mendapatkan modal bank sehingga menggunakan dana sendiri. Kemudian keuntungannya diputar untuk membeli alat-alat yang mendukung pembuatan produk.
Saat ini, sudah ada 40 pekerja di Rumah Mocaf. Setiap bulannya, pihaknya mengirimkan 30 ton tepung mocaf ke distributor langganan.
Kini siapa sangka, salah satu produk olahan singkong ini berhasil mendarat di berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Turki, hingga Oman. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa produk olahan dari kalangan kelas bawah dapat diterima di negara-negara lain.
"Kami bangun dari nol, alhamdulillah sekarang udah secara pasar sudah mulai merata gitu, dalam artian distributor kami, agen-agen kami sudah ada di hampir setiap provinsi. Bahkan kami sudah mulai rutin untuk ekspor ke beberapa negara, ekspor mocaf ke Turki, ke Oman, ke Singapura, ke Malaysia," tambahnya.
Tepung mocaf dijual dengan Rp 15.000 per kg. Setiap bulannya, dia mengirim sebanyak 30 ton ke distributor langganan. Dengan begitu, setidaknya dia menerima omzet minimal Rp 450 juta dari olahan tepung mocaf. Saat ini ada 10 produk olahan singkong, mulai dari mie, gula, hingga kue.
(ara/ara)
Bumbu Rempah RI Laku hingga Australia, Wanita Ini Raup Omzet Ratusan Juta
Libri Annisa menginisiasi pembuatan bumbu rempah-rempah kemasan saset dengan harga terjangkau [509] url asal
#saatnya-jadi-bos #peluang-usaha #solusi-ukm #bumbu #rempah
(detikFinance - SolusiUKM) 02/08/24 14:00
v/12977221/
Jakarta - Indonesia dianugerahi dengan kekayaan rempah-rempahnya hingga diminati pasar global. Hal tersebut menjadi peluang usaha salah satu perempuan asal Mojokerto, Jawa Timur bernama Libri Annisa.
Berawal dari keresahannya, siapa sangka bisnis rempah-rempah yang dijalaninya bisa terbang lintas benua. Mulanya, Annis, sapaan akrabnya, merasa resah lantaran bumbu rempah, seperti lada masih tersisa banyak usai digunakan untuk memasak. Selain itu, kemasan saset tidak bisa mempertahankan aroma bumbu rempah-rempah.
Untuk itu, dia menginisiasi pembuatan bumbu rempah-rempah kemasan saset dengan harga terjangkau. Dia menyebut bumbu-bumbu rempah miliknya dijual dengan harga Rp 500 per sachet.
"Kalau abis penggunaan masih ada sisa, aromanya bisa hilang, kalau penyimpanannya kurang bagus. Nah melihat peluang market juga. Waktu itu belum ada main di harga Rp 500-an. Rata-rata harganya Rp 1000-an. Kita coba main di harga Rp 500 karena bisa jadi market-nya lebih banyak, kebutuhannya juga pas sesuai dengan sekali masak," katanya kepada detikcom, Rabu (31/7/2024) kemarin.
Bumbu Rempah RI Laku hingga Australia, Wanita Ini Raup Omzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Bisnis yang dibangun sejak 2017 ternyata tidak terdampak Covid-19, justru bumbu rempah-rempah laku keras di pasaran. Produk yang paling laku, seperti jahe, kunyit, hingga lada. Namun, usai semua kembali normal, penjualannya juga ikut seperti sebelum pandemi. Dia bilang, konsumen memang masih membeli, tapi frekuensinya tidak sesering saat pandemi covid-19.
Lebih lanjut, Annis berujar belakangan ini bisnis yang dijalaninya tengah menghadapi tantangan. Menurutnya, saat ini harga komoditas bahan baku yang disuplai dari petani mengalami kenaikan. Hal tersebut membuat dirinya mau tidak mau juga menaikkan harga jual.
Meski begitu, untuk kemasan saset, dia masih mempertahankan dengan harga Rp 500. Adapun menyiasatinya dengan mengurangi berat bersih.
"Jadi, kami terutama yang main di kemasan kecil, seperti botol pasti harus menyesuaikan harga lagi dan harus menerima konsumen yang mungkin agak protes harganya naik. Kalau yang sachet itu harga-nya tetap di Rp 500 tapi gramasinya yang berubah," jelasnya.
Namun, kenaikan harga bahan baku tidak menghentikan langkah Annisa. Siapa sangka produk dengan merek 'Labuna Nusantara' dapat terbang ke negara-negara lain, seperti Malaysia, Makau, Hongkong, hingga Australia.
Bahkan Annisa rutin ekspor bumbu rempah-rempah ke Makau dan Hong Kong tiap bulannya. Dalam sebulan, Annisa bisa mengeluarkan 1 kuintal per varian produk.
"Sudah pernah ekspor, sudah sampai Makau, Hong Kong, Malaysia dan Australia, permintaannya dalam bentuk kemasan boks atau kiloan. Australia pernah dua kali, Makau dan Hong Kong rutin satu bulan. Kalau, Makau Hong Kong paling banyak kunyit. Kalau Malaysia rata semuanya, lada, kunyit, dan lain-lain. Australia mintanya lada dan pala," imbuhnya.
Dari bisnisnya ini, dia berhasil meraup omzet sekitar Rp 500 juta per bulan. Ke depan ada beberapa produk yang bertambah. Saat ini, dia masih dalam tahap riset dan pengembangan. Dia pun masih membidik negara lain untuk tujuan ekspor, seperti Jerman dan Belanda. Pasalnya, dia melihat potensi bahwa pasar rempah-rempah diminati global.
Saat ini, Labuna Nusantara mempunyai tiga varian produk dengan berbagai kemasan. Adapun varian produknya, seperti kunyit bubuk, lada bubuk, dan ketumbar bubuk. Produk bumbu rempahnya mulai dijual dari harga Rp 500-28.000.
(ara/ara)
Kisah Puguh Bikin Karpet Handmade hingga Laku Dibeli Artis Luar Negeri
Siapa yang sangka, baru seminggu menjalankan usaha, Locarpet menerima pesanan dari artis luar negeri. [872] url asal
#peluang-usaha #karpet #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos
(detikFinance - SolusiUKM) 30/07/24 14:00
v/12610836/
Jakarta - Bisnis karpet buatan tangan ternyata bisa mendulang banyak cuan bahkan laku hingga mancanegara. Namun, semua ini tidak datang cuma-cuma, konsistensi terhadap detail dan pengembangan produk menjadi kunci suksesnya.
Adi Puguh Pangeksi adalah pelopor Locarpet Craft. Diproduksi di Magelang, Jawa Tengah, Locarpet sukses menyulap produk yang terkesan sepele menjadi bernilai tinggi. Mayoritas pembelinya berasal dari luar negeri bahkan merek fesyen dan musisi internasional. Di antaranya seperti Post Malone, Pleasures, Jonah Hill, Travis Barker, Blink 182, sampai David Beckham.
Kepada detikcom, Puguh, sapaan karibnya, mengaku merintis bisnis karpet buatan tangan setelah curhat dengan salah seorang temannya pada akhir Mei 2020. Kala itu, ia sedang gundah gulana karena bisnis pakaiannya runtuh imbas gempuran pandemi COVID-19.
"Sewaktu pandemi bisnisku kolaps dan tidak bisa dilanjutkan lagi, sampai merumahkan pegawai. Akhirnya aku curhat sama temenku yang punya pabrik karpet. Selang tiga hari aku kepikiran, kayaknya bisa deh ya berbisnis karpet buatan tangan biar bisa survive," ungkapnya, Sabtu (27/7/2024) lalu.
Artis Luar Negeri Kepincut Karpet Made in RI Foto: Dok. Pribadi |
Berangkat dari keluh kesah tersebut, Puguh menggandeng kawannya untuk membantu Locarpet Craft. Konsepnya sederhana, Puguh membuat desain karpet, portfolio, dan mengelola akun medsosnya, sementara kawannya mengurus produksi.
Siapa yang sangka, baru seminggu menjalankan usaha, Locarpet menerima pesanan dari artis luar negeri. Artis tersebut adalah rapper Post Malone. Salah seorang tim kreatif Post Malone menjelaskan rapper asal New York, Amerika Serikat itu tertarik memesan ratusan karpet. Jumlah totalnya sekitar 900 pcs dalam kurun enam bulan.
"Mereka mengirim pesan lewat direct message Instagram. Setelah dari Post Malone ini, alhamdulillah, orderan semakin bertambah banyak," jelasnya.
Belasan musisi dan merek internasional beramai-ramai menghubungi Locarpet. Jumlahnya bisa mencapai 500 pesanan dalam sehari. Puguh sukses bangkit dari keterpurukan bahkan merekrut kembali pegawai bisnis lamanya.
Artis Luar Negeri Kepincut Karpet Made in RI Foto: Dok. Pribadi |
Tidak sampai setahun, Locarpet mendapat eksposur dari berbagai media internasional. Dua di antaranya adalah akun media streetwear rakasasa seperti Hypbeast dan Complex. Karena kualitas dan keunikan karpet buatan tangan, Locarpet sempat dikira berasal di California, AS. Padahal, bisnis itu berada di Indonesia.
"Mereka sepertinya mengira kita brand dari California karena 85% follower-nya adalah orang luar negeri, padahal aslinya di Magelang. Sampai kita di posting di Complex, Hypebeast, media Rusia ada juga, media Asia, media Eropa, eksposurnya sangat besar," jelasnya.
Dalam kurun 2021 sampai 2022, Puguh mengaku beruntung karena omzet usahanya cukup besar. Ia mengaku bisa memperoleh omzet miliaran rupiah dalam sebulan.
"Kita bisa mendapatkan sekitar ratusan juta sebulan, dan miliaran setahun omzetnya. Pernah pula sebulan kita mendapatkan miliaran. Itu paling besar," bebernya.
Resep Sukses Tembus Pasar Internasional
Puguh mengatakan salah satu kunci keberhasilan pada bisnisnya adalah positioning di pasar, upskilling, adaptasi, dan inovasi produk. Locarpet bisa berkembang pesat karena kala itu belum ada usaha khusus yang bergerak di bidang pembuatan karpet custom dengan tangan di pasar Indonesia bahkan AS secara masif.
Namun, dia menjelaskan pemaknaan karpet di AS dan Indonesia berbeda. Jika karpet sering diasosiasikan dengan alas kaki di Tanah Air, karpet justru identik dengan karya seni di 'Negeri Paman Sam'. Inilah yang membuat produk Locarpet memiliki tempat tersendiri di mata kliennya.
Karena faktor ini pula, Puguh menjelaskan mayoritas pembeli produk Locarpet berasal dari luar negeri. "Kalau di Indonesia mungkin karpet ya karpet saja, permadani, karpet turki, tapi bagi warga AS sesuai yang spesial, apalagi jika dibuat custom dengan tangan. Tidak masalah bagi mereka untuk membeli karpet yang juga punya estetika alias nilai seni tinggi. Karpet menjadi barang koleksi," bebernya.
Meskipun demikian, Puguh mengatakan Locarpet berjalan bukan tanpa tantangan. Mereka sempat terkendala masalah persaingan harga dengan China yang produk-produknya dijual dengan harga murah, ongkos logistik, sampai persoalan regulasi pemerintah.
Puguh menjelaskan bisnisnya bisa melesat cepat karena menempuh tiga strategi. Pertama adalah branding serta pengemasan, kedua adalah komunikasi untuk bisa melayani klien dari berbagai negara dengan bahasa yang baik agar mau melakukan repeat order, dan strategi ketiga adalah inovasi.
Dalam aspek inovasi, Puguh menuturkan bahwa inovasi menjadi aspek kunci. Diferensiasi produk atau dalam bahasa sederhananya menciptakan produk berbeda diperlukan agar karpet tidak sekedar menjadi alas kaki. Karena itu, ia mengatakan Locarpet juga membuat produk karpet untuk di dinding, plafon, lantai, bahkan ring basket.
Locarpet bahkan membuat karpet dari berbagai bahan premium seperti acrylic, wool, dan viscous. Berbagai fitur khusus seperti karpet yang menyala di kegelapan (glow in the dark), ilusi tiga dimensi, bahkan Augmented Reality (AR) turut dihadirkan untuk menarik pembeli.
"Termasuk juga karpet untuk fashion, kemudian coffee table. Berbagai produk ini membuat brand value yang menunjukan karpet bukan cuma bisa digunakan sebagai fungsional, tapi juga media seni yang memiliki nilai jual lebih selain kanvas. Itu added valuenya," jelasnya.
Di sisi lain, Puguh juga membeberkan bahwa usahanya tidak akan berjalan sejauh ini jika tidak dikerjakan dari hati. Menurutnya, bisnis apapun pasti memiliki tujuan akhir menghasilkan keuntungan. Tapi, hal ini dinilainya tidak akan bisa tercapai tanpa kesabaran dan kemauan untuk berinovasi.
Dengan inovasi, Puguh mengatakan bahwa usaha yang dirintis pada akhirnya kelak bisa menciptakan pasar dan tidak melulu mengikuti apa yang diinginkan oleh orang lain.
"Bisnis itu tidak bisa diburu-buru, mending didalami, sukai, pahami, nikmati perjalanannya. Kalau produknya bagus, aku yakin pasar akan mengikuti sendirinya. Kuncinya di produk," pungkasnya.
Sebagai informasi, produk Locarpet Craft sendiri bisa diakses di media sosial lewat Instagram @locarpet_indonesia. Usaha tersebut juga bisa diakses di situs locarpet.com.
(ara/ara)
Wanita Ini Bangkit dari Kemiskinan Berkat Eceng Gondok, Begini Kisahnya
Di tangan Wiwit Manfaati, eceng gondok berhasil disulap menjadi aneka kerajinan seperti tas dan hampers bernilai tinggi. [678] url asal
#peluang-usaha #eceng-gondok #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm
(detikFinance - SolusiUKM) 23/07/24 14:00
v/11762592/
Jakarta - Eceng gondok kerap dianggap sebagai tanaman gulma yang dapat mengancam keberlanjutan ekosistem perairan. Namun, di tangan Wiwit Manfaati, eceng gondok berhasil disulap menjadi aneka kerajinan seperti tas dan hampers bernilai tinggi.
Wiwit bercerita bagaimana tanaman berwarna hijau ini mampu menghidupi dirinya dan keluarganya. Padahal sebelum memutuskan berbisnis, keluarganya dilanda kemiskinan dan ia hanyalah ibu rumah tangga.
"Saya itu memulai usaha tahun 2008, berangkat dari pelatihan di kelurahan kami. Jadi di Kelurahan Kebraon ada pelatihan untuk warga, ada 30 orang, saya satu di antaranya itu. Selama 10 hari bikin kerajinan eceng gondok," ujar Wiwit kepada detikcom, ditulis, Selasa (23/7/2024).
Lulusan sarjana Teknik Informatika ini menyebut bisnis kerajinannya tidak langsung berjalan mulus. Kerap kali ia merasa tak puas dengan hasil karyanya namun terus melakukan perbaikan.
Meski sudah mengikuti beberapa pameran di pusat perbelanjaan, produk buatannya tak kunjung laku. Kritik pedas sempat dilontarkan Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya kala itu.
"Tahun 2010 itu saya kan sering dikasih pameran gratis di mal sama Dinas di sini, tapi nggak laku. Mungkin karena kurang menarik ya, makanya nggak banyak yang beli. Dari situ saya perbaiki produk saya. Sampai ketemu lah sama Bu Risma, terus dikasih tantangan. 'Lah masa kok kayak gini'. Dia kan bilang 'kok jelek sih'. Saya tertantang, saya perbaiki, saya pakai handle kulit, pakai yang berkelas gitu lah, akhirnya mulai bisa diterima pasar," sambung Wiwit.
Ia juga mengaku sempat dibantu Risma untuk rebranding hingga diberi desainer gratis untuk usahanya. Lalu sejak 2012, nama Witrove mulai digunakan, desain terus diperbaiki hingga akhirnya produknya dapat diterima di pasar. Witrove kini lebih fokus melayani pasar kelas menengah atas.
"Awalnya tidak mudah begitu saja. Jungkir baliknya juga banyak. Awalnya saya berangkat dari keluarga miskin, modal pelatihan itu saja. Akhirnya juga bisa usaha ini, bisa menghidupi kami sekeluarga, dan kami bisa branding nama, toko, dan tawaran makin banyak," terang dia.
Foto: Dok. Pribadi |
Wanita yang berdomisili di Kota Surabaya ini bercerita, modal awal merintis bisnis eceng gondok hanya Rp 20 ribu untuk pembuatan kerajinan tas. Modal tersebut dipakai membeli eceng gondok hingga perlengkapan dasar produksi tas.
"Rp 20.000 doang. Kan waktu itu eceng gondok masih Rp 1.500, nah Rp 20 ribu itu saya pakai beli eceng gondok 1 kilo. Terus kemudian saya pakai untuk beli handle tas, kain dalemannya. Terus abis itu, begitu dapat uang saya belanjakan lagi, ya diputar di situ uangnya," imbuhnya.
"Dan itu berhasil menghidupi keluarga sampai sekarang. Penghasilan saya di situ semua. Suami saya pernah ketipu bisnis sama temannya, kita terjerat utang banyak, sekarang kita hidup dari eceng gondok. Ya walaupun awalnya susah payah, apalagi anak tiga, sekolah semua," katanya lagi.
Ia mengaku bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan dengan mengolah eceng gondok. Bahkan ia pernah menerima Rp 1,5 miliar pada 2018 untuk pengerjaan proyek selama delapan bulan dari Risma dalam pengerjaan 7.000 buah produk. Namun Wiwit mengaku penjualannya saat ini tidak sebagus seperti sebelum pandemi Covid-19.
Wiwit sempat menjelaskan proses pengolahan eceng gondok menjadi produk kerajinan. Awalnya eceng gondok diambil dari waduk yang berlokasi tak jauh dari rumahnya untuk kemudian dijemur selama satu minggu. Eeceng gondok juga harus melalui proses pengasapan selama satu hari satu malam.
"Kemudian kita asap pakai belerang sama arang. Kita ambil asapnya doang, itu sehari semalam. Abis itu kita jemur lagi supaya nggak lembab. Abis dijemur baru dibawa pulang untuk dianyam," sebutnya.
Ia menjelaskan, banyak tidaknya eceng gondok yang diolah tergantung dari pesanan yang masuk. Wanita yang dulunya aktivis ini memanfaatkan tenaga kerja lokal lewat sistem pemberdayaan. Adapun produk yang dihasilkan mencakup tas, tempat tisu, meja, kursi, sandal, hingga pembatas ruangan.
"Kisaran harga dari Rp 25 ribu sampai Rp 2 juta. Yang paling mahal itu pembatas ruangan, karena besar. Yang paling murah itu kayak piring yang gitu-gitu lah," sebut dia.
Saat ini produk Wiwit dengan brand-nya Witrove berhasil mejeng di gerai Gramedia, MR. DIY, hingga Sarinah. Produk Witrove juga dijual online di media sosial dan e-commerce, hingga berhasil tembus ke pasar luar negeri. Witrove beberapa kali mengikuti pameran di luar negeri, seperti Guangzhou, China, Seoul, Korea Selatan, Belanda, Inggris, hingga Dubai.
(ily/ara)
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta
"Kalau bersihnya itu sampai puluhan juta, kalau omzet kotornya itu sampai ratusan juta per bulan," ujar Putri. [601] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #mochi
(detikFinance - SolusiUKM) 17/07/24 14:00
v/11044879/
Jakarta - Putri, perempuan asal Jambi mencari pundi-pundi uang sendiri untuk membiayai dirinya berkuliah dan keperluan keluarga. Perjuangannya kini berbuah manis, dari kerja serabutan, jualan produk apapun, saat ini dirinya sukses menjalani bisnisnya sendiri yakni menjual mochi yang dinamakan Mochilicious.
Putri mengatakan lebih dari setahun bisnisnya itu dijalankan sudah bisa membiayainya kuliah dan keperluan untuk orang tuanya. Omzet yang dia dapatkan sebulannya bisa mencapai ratusan juta.
"Kalau bersihnya itu sampai puluhan juta, kalau omzet kotornya itu sampai ratusan juta per bulan," ujar Putri kepada detikcom, ditulis Rabu (17//7/2024).
Namun, hasilnya itu tidak semudah membalikkantelapak tangan. Putri mengatakan, selain dia harus mencari sendiri biaya sekolahnya, sebagai tulang punggung keluarga, dia juga harus membantu orang tuanya.
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Semasa dia kuliah, dirinya memang sudah sering berjualan. Produk apapun dia jual demi memenuhi biaya pendidikannya. "Dari dulu aku tuh suka coba coba jualan, cuma belum jalannya dulu. Dulu banyak jualan sate taichan, jual pokoknya semua yang bisa dijual aku jual," ujarnya.
Selain berjualan, dia juga bekerja sampingan di salah satu perusahaan. Dari gaji yang ia dapatkan Rp 1 juta, dia harus memenuhi kebutuhan biaya kuliah dan orang tuanya.
Putri putar otak agar penghasilannya bisa bertambah. Akhirnya dengan modal Rp 300.000 saja, dia mencoba membuat mochi secara otodidak.
"Tahun lalu 2023 mulai bulan 9 aku mulai coba bikin mochi. Dan itu aku melihat mochi ini nggak ada matinya gitu loh, selalu eksis. Kaya salah satu brand ice cream yang ada mochinya, itu laku terus. Aku mikir kalau aku basic-nya dari kue nantikan ke depan buka bakery aku memutuskan jualan mochi," ujar dia.
Dia mencoba berjualan mochi di pinggir jalan. Namun, saat itu bisnis itu jadi sampingannya karena masih harus kuliah di pagi hari dan bekerja di siang harinya.
"Aku jualan dulu, itu mulai jam 7 malam. Kenapa? Karena pagi sampai siang aku kuliah. Siang ke sore aku kerja di perusahaan tadi. Nah sorenya itu aku bisa bikin mochi itu cuma 2 jam 3 jam, habis magrib aku langsung on the way jualan. Itu aku sendiri, mochinya aku taruh di motor, berangkat sendiri," ungkapnya.
Penjualan mochinya melesat gara-gara kontenya di TikTok viral. Sebanyak 40 pcs mochi laku hanya dalam waktu satu jam.
Namun, Putri mengaku sempat vakum berjualan karena orang tuanya sakit dan berdampak ke penjualan mochi. Namun, ia tidak menyerah dan tetap mempromosikan produknya itu di TikTok.
Putri tidak menyerah, dia tetap melanjutkan bisnisnya dan terus membuat konten di TikTok. Hingga akhirnya salah satu videonya tembus 5 juta penonton. Hasil dari video tersebut, membuat penjualannya terus meningkat hingga 1.000 pcs mochi bisa habis terjual kurang dari 2 jam.
"Dulu produksinya dari 40 an pcs, sekarang sudah lebih dari 1.000 pcs. Dulu aku sendiri buat mochinya, sekarang sudah ada yang bantuin 10 orang. Aku utamain (karyawan) dari tetangga sekitar," jelas dia.
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Selain di pinggir-pinggir jalan, Putri telah membuka Mochilicious di mini toko seperti kontainer booth. Hal itu menjadi kemajuan baginya setelah lama berjualan hanya menggunakan meja biasa.
Saat ini pembelinya juga dari berbagai macam daerah. Menurutnya ada beberapa juga yang dari luar kota seperti, Bengkulu hingga Jakarta sedang berada di Jambi untuk membeli mochi miliknya.
"Sekarang mochi aku, dari yang sebelumnya hanya empat varian rasa, sekarang ada 15 varian rasa. Jadi mochinya lumayan besar, harganya mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 8.000 saja," pungkasnya.
Dia berharap bisnis akan terus berkembang hingga dia bisa membuka toko sendiri. Jadi produk yang dia jual juga tidak hanya mochi, tetapi bisa membantu UMKM lain menjualkan produknya.
(ada/ara)
Resign dari Bank BUMN, Pasutri Ini Rintis Bisnis Kue Beromzet Puluhan Juta
Rian dan Delli memilih berbisnis makanan Dapur CK & Cool Kedai yang berbasis di Ciamis. Usaha itu pertama kali berjalan pada 2017 usai keduanya menikah. [405] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #kue
(detikFinance - SolusiUKM) 16/07/24 14:00
v/10951322/
Jakarta - Menjadi pegawai di salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mungkin menjadi impian banyak orang. Keputusan berbeda diambil Rian (34) dan Delli (38), pasangan suami istri yang memilih resign untuk membuka usaha sendiri.
Rian dan Delli memilih berbisnis makanan Dapur CK & Cool Kedai yang berbasis di Ciamis. Usaha itu pertama kali berjalan pada 2017 usai keduanya menikah.
"Mulai kenal dari bekerja di sana, sama-sama pegawai bank. Karena menikah saya resign, terus kita mulai mikir kayaknya mending usaha aja, akhirnya kita memutuskan untuk fokus di usaha ini," kata Rian saat berbincang dengan detikcom, Selasa (16/7/2024).
Rintis Usaha Kue Beromzet Puluhan Juta, Pasutri Ini Resign dari BUMN Foto: Dok. Dapur CK & Cool Kedai |
Cool Kedai merupakan sebuah usaha yang awalnya menyajikan minuman seperti thai tea dan green tea gerobakan. Sementara Dapur CK membuat kue ulang tahun, donat, hingga roti kukus yang telah memiliki outlet dan tempat produksi sendiri.
"Jadi Dapur CK sama Cool Kedai tidak bisa dipisahkan. Meskipun core bisnisnya sama di dunia kuliner, tapi kita memberikan spesifik yang berbeda. Ketika bicara Cool Kedai adalah sebuah kedai lebih ke fast food, sementara Dapur CK kita coba membuat kuliner tradisional, modern, di dalamnya itu cake and bakery," tuturnya.
Rian mengaku awalnya hanya membuat kue ulang tahun untuk anak yang kemudian diunggah di sosial media. Tanpa disangka ternyata ada peminat yang diminta untuk dibuatkan juga.
"Sampai sekarang akhirnya kita buka untuk agen dan reseller buat kue-kue kering, selain di marketplace karena untuk menjangkau kayak kemarin dari Sulawesi, Kalimantan. Kita sudah ada pengiriman dan permintaan dari luar pulau," bebernya.
Rintis Usaha Kue Beromzet Puluhan Juta, Pasutri Ini Resign dari BUMN Foto: Dok. Dapur CK & Cool Kedai |
Dengan modal awal Rp 500 ribu, kini Rian dan Delli bisa mengantongi Rp 50-70 juta/bulan. Omzet itu sudah meningkat pesat dibandingkan saat awal-awal usaha dirintis.
"Pertama buka di 2017 dalam satu hari pernah hanya dapat Rp 30 ribu, Rp 100 ribu per hari saja sudah sangat bersyukur. Seiring berkembangnya usaha kita mulai memaksimalkan digitalisasi sebagai salah satu channel pemasaran. Melalui marketplace, pemasaran Dapur CK sudah menjangkau hampir seluruh Indonesia," ucapnya.
Rian berpesan agar jangan takut untuk memulai bisnis. Khusus di bidang kuliner, menurutnya hal terpenting yang harus ada yakni rasanya enak, harga sebanding dan memberikan pelayanan baik.
"Kita upgrade diri, upgrade ilmu, bangun hubungan sama siapapun kita welcome. Kita banyak bertemu orang untuk membangun, itu adalah satu kunci yang mungkin bisa sampai saat ini," ucapnya.
(aid/ara)
Sampah Bisa Diolah Jadi Perhiasan hingga Hasilkan Jutaan Rupiah, Kok Bisa?
Di Rubysh, sampah plastik diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, dan lain-lain. [441] url asal
#peluang-usaha #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm #perhiasan
(detikFinance - SolusiUKM) 02/07/24 14:00
v/11402348/
Jakarta - Sampah, terutama sampah plastik selama ini menjadi barang yang tidak ada nilainya. Di Rubysh, sampah plastik diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, dan lain-lain.
Encep Amir adalah orang di balik Rubysh. Dia bercerita, cikal bakal bisnis ini dimulai pada 2013. Saat itu, pria yang menempuh kuliah di bidang Ilmu Lingkungan ini tengah mengerjakan tugas akhir yang fokus pada pengelolaan sampah.
"Saya pernah ada program penelitian di Bandung mengolah sampah jadi berbagai produk mulai dari biogas, pupuk cair dan juga kerajinan. Karena dulu memang gol awalnya mengolah sampahnya. Jadi bukan bikin brand, kaya bikin community recycling center di tengah Kota Bandung," katanya kepada detikcom, ditulis Selasa (2/7/2024)
Seiring berjalannya waktu, tugas akhirnya tiba-tiba dipresentasikan di Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti). Saat itu, ia sudah lulus kuliah. Dari situ, kemudian, pihaknya mendapat dana hibah dari Pemerintah Australia.
"Pemerintah Australia punya dana hibah diberikan kepada ide-ide sosial startup. Jadi inisiatif-inisiatif yang sekiranya itu bisa berdampak sosial tapi juga jadikan bisnis," ujarnya.
Lewat dana itu, kemudian ide tadi dibuat serius melalui pengembangan produk. Amir sendiri baru benar-benar meluncurkan produknya pada tahun 2019.
"Prototyping ini lumayan lama, karena memang saya nggak full time. Jadi kadang vakum berapa bulan, lanjut lagi," ungkapnya.
Amir menerangkan, pihaknya saat ini mengolah berbagai limbah. Sebutnya, sampah plastik PET seperti botol minuman kemasan. Lalu, plastik HDPE seperti botol oli, sampo, kosmetik dan lain-lain. Hingga, limbah gelas kaca.
Di Rubysh, sampah plastik diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, dan lain-lain. Foto: Dok. Rubysh |
Dalam hal pemasaran, ia menjual produknya secara online dan offline. Untuk online terdapat 3 saluran yakni di website dan dua e-commerce. Sementara, untuk offline ia menjalin kerja sama dengan beberapa toko yang berlokasi Pantai Indah Kapuk (PIK), Tangerang dan Bali.
Produk paling murah yang ia jual yakni ialah cincin di harga Rp 40.000 yang merupakan hasil daur ulang gelas. Sementara, produk yang paling mahal ialah kacamata yang menggunakan daur ulang plastik HDPE yakni mulai Rp 1,2 juta.
"Tapi sebenarnya kalau dibilang penjualan terbesar itu lebih ke produk custom, karena custom jadi kan sifatnya special design, dari segi harganya memang lebih mahal," katanya.
Di Rubysh, sampah plastik diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, dan lain-lain. Foto: Dok. Rubysh |
Amir mengaku, pada tahun lalu ia mencatatkan omzet Rp 170 juta setahun. Jika dihitung secara kasar, maka sebulan omzetnya sekitar Rp 14,16 juta.
"Kalau saya berani terang-terangan profitnya juga nggak begitu besar. Tapi memang secara social value-nya aja sih, karena saya selalu mem-branding perusahaan saya social startup," katanya.
(acd/ara)
Kulit Ceker Ayam 'Disulap' Jadi Sepatu, Omzetnya Tembus Ratusan Juta!
Nurman Farieka Rhamdani (29) adalah motor utama dari sepatu kulit ceker ayam pertama di dunia. [786] url asal
#peluang-usaha #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm #sepatu-kulit-ceker-ayam
(detikFinance - SolusiUKM) 25/06/24 14:00
v/11402349/
Jakarta - Sepatu kulit merupakan salah satu model alas kaki yang kekal terhadap zaman dan bisa digunakan berbagai kalangan. Namun, siapa sangka ternyata ada sepatu kulit yang berasal dari bahan tak terduga. Bukan kulit sapi, ular, maupun buaya, material sepatu tersebut adalah kulit ceker ayam.
Nurman Farieka Rhamdani (29) adalah motor utama dari sepatu kulit ceker ayam pertama di dunia. Diproduksi di Bandung, Jawa Barat, sepatu tersebut berada di bawah bendera merek Hirka. Kepada detikcom, Nurman mengatakan bahwa ide untuk merintis usaha tersebut bermula dari riset ayahnya yang meneliti soal penyemakan kulit pada 1990an.
"Ayah dulu meneliti karena Indonesia adalah salah satu eksportir kulit ular terbesar di dunia termasuk buaya juga. Ini tentu miris ya, karena ada faktor lingkungan dan kasihan juga kepada berbagai hewan itu. Makanya muncul ide untuk mencari bahan kulit alternatif, ditemukanlah kulit ceker ayam ini," ucap Nurman, Senin (24/6/2024) lalu.
Farieka Rhamdani (29) menjadi motor utama dari sepatu kulit ceker ayam pertama di dunia. Diproduksi di Bandung, Jawa Barat, sepatu tersebut berada di bawah bendera merek Hirka. Foto: Dok. Pribadi |
Berangkat dari temuan ayahnya tersebut, Nurman mulai merintis bisnis tersebut pada 2015 dan mendalami kegunaan jenis kulit tersebut selama dua tahun lamanya. Nurman mengaku habis sekitar ratusan juta sebagai modal riset, hal ini mengingat belum ada sepatu yang menggunakan kulit ceker ayam di dunia.
"Habisnya buat riset ratusan juta mas. Saya sendiri baru menemukan pasar yang pas itu 2019. Jadi bisa dibilang prosesnya selama empat tahun mengeluarkan cukup banyak sekali dana," jelasnya.
Resep Sukses Hirka
Selama empat tahun mulai dari 2015 sampai 2019, Nurman mengungkap bahwa bisnisnya bergerak di mode riset dan belum fokus mencari keuntungan. Sebab, pasar sepatu kulit berbeda dengan sepatu berbahan kanvas yang mengutamakan kegunaan semata alias praktis. Segmentasi sepatu kulit juga tergolong niche market karena hanya digunakan segelintir kalangan. Oleh sebab itu, pendalaman pasar wajib dilakukan.
"Tidak semua orang suka sepatu kulit, apalagi tahu bahwa ada sepatu berbahan kulit ceker ayam. Makanya waktu itu kita betul-betul research mode, kita cari pangsa pasar kita bagaimana," jelasnya.
Nurman pun bergerilya mengikuti pameran, expo, bahkan kegiatan untuk mengedukasi publik terhadap produknya. Untungnya, hasil dari berbagai agenda persepatuan itu bisa mengembalikan sedikit modal.
Dalam setiap agenda, Hirka bisa mengantongi setidaknya 15 sampai 20 pesanan sepatu lewat skema prapesan (pre-order). Satu sepatu kala itu dijual dengan rata-rata harga Rp 600 ribu. Jumlah pesanan pun meningkat seiring berjalannya waktu. Jumlahnya kini mencapai sekitar 1.000 pasang per bulan.
Pada 2020, Nurman mulai mantap memproduksi dan menjual sepatu kulit ceker ayam secara online. Pembeli Hirka tembus ke pasar berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris. Untuk tahun itu saja, pendapatan usahanya sudah tembus miliaran rupiah. Jika dirata-ratakan, Nurman mengaku omzet Hirka tembus ratusan juta rupiah per bulan.
"Tapi memang modal yang dikeluarkan cukup besar. Saat ini Hirka ada belasan pekerja di dua workshop. Belum lagi kita membeli sekitar 40-50 kilogram kulit ayam di rumah potong hewan setiap minggu," bebernya.
Farieka Rhamdani (29) menjadi motor utama dari sepatu kulit ceker ayam pertama di dunia. Diproduksi di Bandung, Jawa Barat, sepatu tersebut berada di bawah bendera merek Hirka. Foto: Dok. Pribadi |
Nurman kemudian menjelaskan Hirkan menggunakan model bisnis yang menggabungkan seluruh proses mulai dari manufaktur, perencanaan, desain, sampai distribusi. Fleksibilitas adalah kunci mengingat 90% produksi sepatu Hirka digunakan menggunakan tangan.
Resep lain dari kesuksesan usaha Nurman adalah eksposur. Ia mengaku beruntung produknya bisa menerima endorse dari berbagai artis bahkan sampai pejabat negara seperti Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno.
Menurutnya, testimoni adalah faktor yang sangat berpengaruh bagi penjualan produk. Respon positif maupun negatif dari satu pelanggan saja bisa mempengaruhi penjualan produk secara jangka panjang.
Oleh sebab itu, bagi siapapun yang hendak memulai usaha, Nurman berpesan bahwa konsistensi dalam mengembangkan produk dan riset pasar adalah dua kunci utama
"Kita harus paham betul apa yang kita tawarkan dan apa value alias nilai tambah yang kita bisa diberikan sehingga mereka senang menggunakan produk kita," terangnya.
Berbagai produk Hirka sendiri bisa diakses di media sosial lewat Instagram @hirka.official dan sejumlah aplikasi e-commerce.
(ara/ara)
Eks Pegawai BUMN Banting Setir Jual Tahu Baso, Raup Rp 60 Juta/Bulan
Keputusan berbeda diambil Robingah (47), yang memilih resign dan berbisnis sendiri usai berkeluarga. [434] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #tahu-bakso
(detikFinance - SolusiUKM) 06/06/24 14:00
v/11049202/
Jakarta - Menjadi pegawai di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mungkin menjadi impian bagi banyak orang. Keputusan berbeda diambil Robingah (47), yang memilih resign dan berbisnis sendiri usai berkeluarga.
"Saya berkeluarga sudah lama, kebetulan saya ditempatkan di medan yang memang agak pedalaman, kondisi jalan juga nggak bagus. Kata dokter kalau pengin punya momongan, kondisi kesehatan saya kayaknya kalau untuk medan seperti itu nggak terlalu bagus katanya. Ya udah memutuskan resign," kata Robingah saat berbincang dengan detikcom, Jumat (31/5/2024) lalu.
Robingah memilih berbisnis makanan yang kini menjadi salah satu oleh-oleh Bogor yakni Tahu Baso Miwiti. Usaha itu pertama kali berjalan pada 2011 dengan dimulai dari menitipkan ke warung-warung kecil hingga sekolah sekitar tempat tinggal.
"Awalnya dari titip di warung-warung kecil, ke sekolah-sekolah, ke koperasi-koperasi rumah sakit, alhamdulillah diterima. Sekian tahun mungkin orang jenuh, akhirnya kita evaluasi lagi, kita harus punya strategi baru untuk mengubah usaha kita. Jadi kita fokuskan untuk oleh-oleh," tuturnya.
Dengan modal awal Rp 500 ribu, kini Robingah bisa mengantongi hingga Rp 60 juta/bulan. 'Dapurnya' bisa memproduksi rata-rata 1.000-2.000 pcs dalam sehari dengan dibantu 8 orang pegawainya.
"Modal awal kita Rp 500 ribu. Awalnya bikin sekilo dulu, bikin tahu sekitar 100-300 pcs beli di pasar, jadi semuanya serba sendiri yang kemudian setelah hampir setahun akhirnya dibantu sama bibi. Karena mulai kerepotan, jadi mulai hire orang-orang sekitar kita sampai sekarang sudah ada 8 orang. Omzet kotor kisaran Rp 50-60 juta/bulan sebelum kita kurangi tenaga kerja, listrik," bebernya.
Robingah pun membeberkan bagaimana bisnisnya bisa berkembang dan berkelanjutan sampai saat ini. Menurutnya, kekuatan untuk beriklan di media online sangat penting dan mempertahankan kualitas produk agar bisa diterima pasar.
Kesuksesan Robingah itu tentu tidak didapatkan secara instan. Sejak resign 2004, ia sempat membuka jasa menjahit di rumah sambil mengajar, namun penghasilannya dirasa kurang sesuai.
"Akhirnya mutusin mending usaha kuliner aja deh, dia perputarannya lebih cepat dibanding usaha konveksi," beber Robingah.
Bagi yang tidak punya modal usaha dan ingin mendapatkan penghasilan, bisa membantu menjualkan Tahu Baso Miwiti milik Robingah. Ada harga khusus untuk reseller dengan keuntungan sekitar 15-20%.
Untuk reseller, produk akan dikirimkan dalam bentuk frozen mulai dari tahu baso, dimsum, siomay, hingga batagor dengan ketahanan sampai 6 bulan di suhu dingin. Info selengkapnya kunjungi Instagram resmi @tahubasomiwiti.bogor.
"Kalau untuk yang mau punya usaha, tapi nggak mau ribet harus urus perizinan dan lain-lain bisa jadi reseller kita. Kita buka reseller marginnya sekitar 15-20% tergantung pengambilannya," pungkasnya.
Simak juga Video 'Kemenkop UKM Minta Sertifikasi Halal Ditunda, Zulhas: Kapan Siapnya?':















