Bisnis.com, MANGGARAI BARAT - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menjelaskan bahwa pesawat nirawak bertenaga surya milik Aalto tidak sama dengan base transceiver station (BTS) Terbang. Teknologi Zephyr High Altitude Platform Station (Zephyr HAPS) lebih cocok disebut Flying Tower System (FTS), yang dapat membantu sensor Internet of Things (IoT) hingga Keamanan.
Direktur Bisnis Mitratel Agus Winarno mengatakan bahwa teknologi ini kemungkinan bukan tentang menempatkan BTS di atas pesawat.
BTS milik operator seluler tetap dapat diletakan di bawah sementara Haps hanya mengangkut antena serta perangkat-perangkat untuk memantulkan sinyal internet yang ditembakan dari bawah.
“Sehingga kami mengambil terminologi FTS,” kata Agus, Senin (5/7/2024).
Agus mengatakan bahwa saat ini teknologi jaringan non-terrestrial terbagi atas beberapa teknologi mulai dari satelit GEO yang berada di ketinggian 36.000 kilometer di atas permukaan bumi, Medium Earth Orbit (MEO) di ketinggian 2.000-36.000 Km, LEO pada ketinggian 500-2.000 Km, dan Haps di ketinggian 20-50 kilometer.
Agus menjelaskan makin rendah ketinggian terbang suatu teknologi maka kemampuan dalam mengantarkan bandwidth atau internet ke suatu titik akan makin bagus dan latensi makin kecil.
“Jadi kalau Haps bisa masuk maka akan banyak kasus pemanfaatan (use case) yang bisa dilahirkan,” kata Agus.
Mitratel mencoba melakukan sejumlah eksplorasi mengenai manfaat teknologi ini ke depan. Alhasil, perusahaan menemukan bahwa FTS Aalto dapat dipakai tidak hanya untuk konektivitas internet bergerak (seluler) saja, juga untuk kebutuhan lain.
Sebagai contoh, teknologi ini dapat membantu pemerintah dalam melakukan pengawasan dan keamanan, jaringan untuk sensor-sensor IoT yang berada di daerah rural, melahirkan kota cerdas, dan lain sebagainya.
Dengan berada pada ketinggian tertentu dan terbang dalam waktu lama, Haps dapa memantau pergerakan obyek yang berada di bawahnya dengan daya tangkap gambar (foto) yang lebih tajam dibandingkan dengan satelit. Alhasil, pemerintah dapat mengetahui obyek masuk dan keluar dari teknologi ini.
“Penggunanya dari segmen ritel, enterprise, pemerintahan hingga operator telekomunikasi,” kata Agus.
Agus menuturkan solusi ini cocok untuk daerah rural dan pedalaman yang selama ini membutuhkan ongkos besar untuk menghadirkan jaringan internet di wilayah tersebut.
Haps Aalto terbang dalam salah satu uji coba
Haps Aalto akan memangkas ongkos operator dalam menggelar serat optik ke daerah rural.
Selain menawarkan beragam solusi baru, Haps Aalto juga berpeluang membuka lebih banyak lapangan kerja karena teknologi ini membutuhkan beberapa dukungan seperti pusat kontrol, landasan pacu hingga bengkel.
“Kebutuhan komunikasi data di tengah laut dan lain sebagainya juga saat ini LEO, GEO dan lain sebagainya, dengan Haps seharusnya menjadi lebih baik karena lebih rendah,” kata Agus.
Haps Aalto vs LEO
Tidak jauh berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk, kedua wahana ini sama-sama terbang di stratosfer atau lapisan bumi di bawah atmosfer.
Dilansir dari berbagai sumber, terdapat lima perbedaan antara Haps Zephyr dengan Starlink, mulai dari ketinggian, cakupan layanan, metode konektivitas, latensi hingga ongkos operasional per titik daerah rural.
Ketinggian
HAPS Zephyr terbang pada ketinggian 18 - 20 kilometer di atas permukaan bumi. jika dibandingkan dengan satelit LEO, yang rata-rata terbang di ketinggian 500 - 2.000 kilometer, maka HAPS Zephyr jauh lebih rendah.
Adapun Starlink terbang di ketinggian 550 kilometer di atas permukaan bumi. Elon Musk sempat berencana menurunkan ketinggian Starlink menjadi 300 kilometer.
Cakupan
Dengan jumlah satelit yang telah mencapai lebih dari 5.000 satelit, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas per satelitnya, karena mereka terbang lebih tinggi, Namun Haps Aalto tidak kalah luas. Agus menyebutkan bahwa 1 Haps memiliki cakupan hingga 200 kilometer.
Konektivitas
Kemudian untuk menerima akses internet yang disuntikan masing-masing perangkat, Haps memiliki keunggulan yaitu dapat langsung terhubung ke smartphone pengguna. Sementara itu untuk terhubung ke internet Starlink, pengguna membutuhkan perangkat penangkap sinyal berupa dish, yang harus terhubung ke listrik, setelah itu penangkap sinyal (terminal) akan menyebarkan internet ke beberapa perangkat smartphone tergantung paket yang digunakan.
Latensi
Dari sisi latensi, Haps Zephyr dikabarkan memiliki latensi yang lebih rendah yaitu 5-10 milidetik, sementara itu Starlink sekitar 50 milidetik. Hal ini disebabkan ketinggian masing-masing wahana berbeda.
Ongkos
Kemudian untuk ongkos ke daerah rural, Haps Zephyr mengeklaim bahwa mereka lebih murah dibandingkan dengan Starlink. Jika Starlink membutuhkan ongkos sekitar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) untuk melayani per titik daerah rural, Haps hanya menghabiskan tidak lebih dari 10 dollar (AS) karena pesawat ini tidak butuh roket untuk meluncur ke langit..
Haps Zephyr Aalto sendiri bukanlah teknologi baru dalam hal konektivitas internet. Pada Mei 2024, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk pengembangan Haps Zephyr milik Airbus.
Kerja sama Haps Japan Corporation dengan Airbus menargetkan komersialisasi Haps pada 2026 secara global.
Haps Zephyr milik Aalto dan Starlink sama-sama berada di lapisan stratosfer dalam memberikan layanan internet ke bumi. Lantas apa berbedaan masing-masing. [392] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Wahana dirgantara bertenaga surya atau High Altitude Platform Station (HAPS) Zephyr Aalto resmi menjalin kerja sama dengan Mitratel. anak usaha Telkom yang bergerak di bidang menara telekomunikasi.
Tidak jauh berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk, kedua wahana ini sama-sama terbang di stratosfer atau lapisan bumi di bawah atmosfer. Lantas apa bedanya?
Dilansir dari berbagai sumber, terdapat lima perbedaan antara Haps Zephyr dengan Starlink, mulai dari ketinggian, cakupan layanan, metode konektivitas, latensi hingga ongkos operasional per titik daerah rural.
Ketinggian
HAPS Zephyr terbang pada ketinggian 18 - 20 kilometer di atas permukaan bumi. jika dibandingkan dengan satelit LEO, yang rata-rata terbang di ketinggian 500 - 2.000 kilometer, maka HAPS Zephyr jauh lebih rendah.
Adapun Starlink terbang di ketinggian 550 kilometer di atas permukaan bumi. Elon Musk sempat berencana menurunkan ketinggian Starlink menjadi 300 kilometer.
Cakupan
Dengan jumlah satelit yang telah mencapai lebih dari 5.000 satelit, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas. Tidak hanya itu, dengan daya terbang yang lebih tinggi dari Haps, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas per satelitnya, Belum diketahui dengan pasti jangkauan layanan masing-masing teknologi.
Konektivitas
Kemudian untuk menerima akses internet yang disuntikan masing-masing perangkat, Haps memiliki keunggulan yaitu dapat langsung terhubung ke smartphone pengguna. Sementara itu untuk terhubung ke internet Starlink, pengguna membutuhkan perangkat penangkap sinyal berupa dish, yang harus terhubung ke listrik, setelah itu penangkap sinyal (terminal) akan menyebarkan internet ke beberapa perangkat smartphone tergantung paket yang digunakan.
Latensi
Dari sisi latensi, Haps Zephyr dikabarkan memiliki latensi yang lebih rendah yaitu 5-10 milidetik, sementara itu Starlink sekitar 50 milidetik. Hal ini disebabkan ketinggian masing-masing wahana berbeda.
Ongkos
Kemudian untuk ongkos ke daerah rural, Haps Zephyr mengeklaim bahwa mereka lebih murah dibandingkan dengan Starlink. Jika Starlink membutuhkan ongkos sekitar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) untuk melayani per titik daerah rural, Haps hanya menghabiskan tidak lebih dari 10 dollar (AS).
Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward memiliki pendapat lain. Dia menilai ongkos Haps bisa lebih mahal karena waktu terbang Haps singkat tidak sampai 1 tahun. Sementara Starlink bisa 6-7 tahun.
Haps Zephyr Aalto sendiri bukanlah teknologi baru dalam hal konektivitas internet. Pada Mei 2024, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk pengembangan Haps Zephyr milik Airbus.
Kerja sama Haps Japan Corporation dengan Airbus menargetkan komersialisasi Haps pada 2026 secara global.
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel bersama AALTO HAPS Ltd (AALTO) menandatangani nota kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi High ... [352] url asal
Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah
Jakarta (ANTARA) - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel bersama AALTO HAPS Ltd (AALTO) menandatangani nota kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi High Altitude Platform Station (HAPS) komersial di Indonesia.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, menjelaskan bahwa perseroan yang memiliki lebih dari 38.000 menara dan lebih dari 37.000 kilo meter (km) fiber optic, bekerja sama dengan AALTO untuk menawarkan layanan yang dapat mengubah dunia dari stratosfer, yang akan mendukung transformasi konektivitas seluler dan observasi bumi.
Ia menyebut, kerja sama ini merupakan upaya perseroan dalam mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas tinggi bagi seluruh masyarakat.
“Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Oleh karena itu, kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif,” ujar Theodorus.
Pihaknya meyakini bahwa kolaborasi dengan AALTO akan memperluas infrastruktur yang ada untuk meningkatkan akses terhadap konektivitas yang terjangkau dan efektif di seluruh wilayah 3T, dengan mengembangkan jalur industri dan komersial untuk HAPS dan Flying Tower System (FTS) di Indonesia.
AALTO merupakan perusahaan yang mendesain, memproduksi dan mengoperasikan HAPS) bertenaga surya Zephyr, yang mana Zephyr adalah platform muatan agnostik yang dapat berubah menjadi menara multi-fungsi di angkasa untuk menyediakan layanan konektivitas seluler 5G langsung ke perangkat dengan latensi rendah di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Dalam kesempatan sama, Chief Executive Officer AALTO Samer Halawi menyatakan bahwa Zephyr berada di ujung tombak teknologi berkelanjutan, dengan kemampuan konektivitas dan pengamatan yang dapat membantu menjembatani kesenjangan digital di Indonesia.
Menurutnya, terdapat peluang unik bagi jaringan non-terestrial seperti HAPS untuk memainkan peran penting dalam ekosistem telekomunikasi di negara-negara seperti Indonesia, dengan meningkatkan infrastruktur yang sudah ada dari operator seluler dan perusahaan menara.
“Mitratel terus menjadi pemimpin pasar yang inovatif, dengan menyadari potensi layanan yang dapat mengubah permainan dari stratosfer. Fokus kami saat ini adalah memperdalam kerja sama dengan Mitratel untuk membangun ekosistem HAPS yang kohesif di Indonesia,” ujar Samer.
Bisnis.com, JAKARTA – Wahana Dirgantara Super atau High Altitude Platform Station (HAPS) digadang-gadang menjadi terobosan baru dalam menghadirkan infrastruktur internet di daerah terpencil dan rural.
Berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk, Haps terbang jauh lebih rendah sekitar 20 kilometer di atas permukaan bumi.
Salah satu produsen Haps ternama adalah Airbus. Dengan merek Aalto, Airbus memproduksi Haps bernama Zephyr. Pesawat nirawak ini memiliki bobot sekitar 75 kilogram dengan rentang sayap (wing span) selebar 25 kilometer.
Haps Zephyr terbang di stratosfer atau lapisan kedua dari atmosfer bumi. Jika rentang ketinggian Stratosfer bumi pada rentang 15 kilometer – 50 kilometer, Haps terbang di ketinggian 60.000 kaki di atas permukaan bumi atau sekitar 18- 20 kilometer.
Bagaimana Cara Zephyr Haps Aalto bekerja?
Dilansir dari laman resmi, Zephyr bekerja 100% dengan menggunakan tenaga ramah lingkungan yaitu matahari. Berdasarkan uji coba yang dilakukan Airbus, Zephyr mampu bertahan di Stratosfer selama 64 hari.
Sebelum memperkenalkan produk ini, Airbus telah melakukan riset mendalam, desain hingga uji coba penerbangan selama kurang lebih 20 tahun. Tidak hanya itu, Zephyr juga telah terbang mengudara selama lebih dari 4.000 jam, yang diklaim Airbus sebagai durasi terbang terlama yang pernah dilakukan oleh teknologi Haps.
Airbus menyebut Zephyr sebagai teknologi inovatif yang menawarkan solusi baru untuk mengatasi tantangan lama konektivitas dengan lebih efektif dan efisien, khususnya di daerah rural.
Wilayah terpencil dengan medan pembangunan yang terjal kerap menjadi masalah perusahaan telekomunikasi dalam menghadirkan jaringan. Perusahaan telekomunikasi harus menggunakan satelit, yang secara harga cukup mahal, untuk menghadirkan internet di wilayah pedalaman.
Dengan area cakupan sekitar 7.500 kilometer persegi, setara 250 menara, Zephyr berfungsi sebagai menara di langit yang dapat terintegrasi ke dalam jaringan operator seluler.
Haps Zephyr terbang di udara
Hal ini menjadikannya solusi ideal untuk memperluas cakupan di daerah yang jarang penduduknya atau medan yang menantang.
Untuk pertama kalinya, operator jaringan seluler dan entitas lain yang membutuhkan konektivitas dapat memperluas jangkauan jaringan mereka ke wilayah pedesaan dan terpencil, meningkatkan kualitas layanan, memperluas basis pelanggan.
Mitratel (MTEL) atau Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), anak usaha Airbus, menandatangani MOU untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia. [433] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, menandatangani Nota Kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr merupakan platform muatan agnostik yang dapat berubah menjadi menara multi-fungsi di udara untuk menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Zephyr disebutkan juga sebagai Flyng Tower System (FTS) atau HAPS.
Seperti menara pengangkut base transceiver station (BTS) yang terbang di ketinggian 18-20 kilometer, Haps Zephyr dapat memberikan latensi rendah di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Platform muatan agnostik merupakan platform yg dikonfigurasi untuk membawa berbagai peralatan atau teknologi sesuai kebutuhan, tanpa harus melakukan perubahan besar pada platform. Zephyr dirancang untuk mampu terbang selama berbulan-bulan dalam satu waktu.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama ini merupakan upaya perusahaan dalam mendukung rencana pemerintah Indonesia untuk memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas bagi seluruh masyarakat.
Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif, dengan mengembangkan jalur industri dan komersial untuk HAPS dan Flying Tower System (FTS) di Indonesia.,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, dikutip Kamis (1/8/2024).
Teddy meyakini bahwa kolaborasi dengan AALTO akan memperluas infrastruktur yang ada untuk meningkatkan akses terhadap konektivitas yang terjangkau dan efektif di seluruh wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Tidak hanya itu, kerja sama antara Mitratel dan AALTO membuka potensi perluasan konektivitas makin lebar, yang juga membuat cakupan operator jaringan seluler (MNO) makin merata. Haps juga dapat mengurangi titik-titik blank spot jaringan yang selama ini menjadi isu utama konektivitas di Indonesia sebagai negara kepulauan.
Chief Executive Officer AALTO Samer Halawi mengatakan Zephyr berada di ujung tombak teknologi berkelanjutan, dengan kemampuan konektivitas dan pengamatan yang dapat membantu menjembatani kesenjangan digital di Indonesia.
Anak usaha Airbus itu menilai terdapat peluang bagi jaringan non-terestrial seperti HAPS untuk terlibat dalam ekosistem telekomunikasi di Indonesia, dengan meningkatkan infrastruktur yang sudah ada dari operator seluler dan perusahaan menara.
“Mitratel terus menjadi pemimpin pasar yang inovatif, dengan menyadari potensi layanan yang dapat mengubah permainan dari stratosfer. Fokus kami saat ini adalah memperdalam kerja sama dengan Mitratel untuk membangun ekosistem HAPS yang kohesif di Indonesia,” kata Halawi.
Diketahui, Mitratel sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi digital, saat ini memiliki lebih dari 38.000 menara dan lebih dari 37.000 KM fiber optic. Kerja sama dengan AALTO akan menghasilkan layanan baru yang dapat mengubah dunia dari stratosfer, yang akan mendukung transformasi konektivitas seluler dan observasi bumi.