#30 tag 24jam
Respons Kemenkominfo soal Frekuensi Hips FTS Airbus-MTEL, Ganggu Sinyal Satria-1?
Kemenkominfo buka suara mengenai frekuensi FTS Airbus-MTEL dan potensi untuk bersinggungan dengan teknologi lainnya seperti Satelit Satria-1 milik Bakti. [610] url asal
#kemenkominfo #frekuensi #frekuensi-hips #frekuensi-fts #teknologi-fts #digital #telekomunikasi #kemenkominfo-frekuensi-fts-airbus-mtel #bakal-interferensi-dengan-satria-1
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/08/24 16:32
v/13526124/
Bisnis.com, MANGGARAI BARAT - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) buka suara mengenai keamanan frekuensi teknologi Flying Tower System (FTS) atau yang mereka sebut Hips, yang disebut berpotensi mengganggu frekuensi pemain eksisting.
Direktur Penataan Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Ditjen SDPPI) Kemenkominfo Denny Setiawan menjelaskan bahwa Haps (High Altitude Platform Station) dan HIBS (HAPS as IMT Base Station) adalah dua hal serupa tetapi tak sama.
HAPS digunakan untuk komunikasi titik ke titik untuk 2 lokasi stasiun radio yang sifatnya tetap. Sedangkan HIBS digunakan untuk menyediakan layanan langsung ke perangkat di sisi user, sehingga HIBS inilah yang lebih tepat jika diberikan istilah sebagai "BTS Terbang" atau FTS.
Kedua teknologi menggunakan frekuensi dan sejauh ini belum ditemukan kendala atas frekuensi yang digunakan Hips atau FTS terhadap layanan eksisting seperti Satelit Multifungsi Satria-1.
“Pita frekuensi radio yang digunakan oleh HIBS sama dengan pita frekuensi radio yang digunakan oleh BTS darat, sehingga tidak bertabrakan dengan pita frekuensi radio yang digunakan oleh SATRIA-1,” kata Denny kepada Bisnis, Selasa (6/8/2024).
Untuk diketahui, dalam terminologi FTS Airbus, pesawat nirawak tidak mengangkut BTS ke langit karena beban angkut payload yang terbatas hanya 100 kilogram. Alhasil, antena BTS di darat nantinya akan diarahkan ke langit, tempat HIPS berputar.
Denny menambahkan karena sifat dari HIBS adalah komplemen dari jaringan terrestrial milik operator seluler, maka pita frekuensi radionya telah diatur dalam sejumlah regulasi eksisting untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler.
Adapun terkait dengan model bisnis dan kerja sama di antara operator seluler dengan penyedia solusi teknologi HIBS, belum tersedia regulasi yang secara spesifik mengatur hal tersebut. Namun dari sisi regulasi untuk infrastructure sharing dan spectrum sharing, kata Denny, sejumlah ruang regulasi telah terbuka sejak berlakunya Peraturan Pemerintah no.46/2021 tentang Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran.
“Adapun untuk HAPS, memang ada irisannya dengan pita frekuensi radio SATRIA-1, tetapi hal tersebut telah diatur ketentuan penggunaan bersamanya (sharing) di dalam Radio Regulation,” kata Denny.

Diketahui, World Radiocommunication Conference (WRC) 2023 memutuskan wahana dirgantara super atau High Altitude Platform Station (HAPS) dapat beroperasi di Indonesia dengan menggunakan empat frekuensi di pita 900 MHz, 1800 MHz, 2,1 GHz dan 2,6 GHz. Keempat regulasi tersebut telah memiliki ‘tuannya’ untuk saat ini.
Denny menjelaskan hasil sidang WRC-23 berupa Final Acts WRC-23 yang merupakan perubahan atas Radio Regulation, suatu perjanjian internasional yang mengatur penggunaan spektrum radio frekuensi dan orbit satelit geostasioner dan non-geostasioner secara global.
Dalam sidang WRC-23, telah diputuskan identifikasi 5 (lima) pita frekuensi radio yang dapat digunakan untuk implementasi teknologi HIBS. Lima pita frekuensi radio yang dapat digunakan oleh HIBS yaitu 700 MHz, 900 MHz, 1800 MHz, 2.1 GHz, dan 2.6 GHz.
Khusus untuk pita 700 MHz dan 900 MHz, Indonesia mencatatkan namanya di dalam footnote (catatan kaki) sebagai negara yang mengidentifikasi kedua pita tersebut untuk mendukung implementasi HIBS. Tidak semua negara yang mengidentifikasi kedua pita frekuensi radio ini (700 MHz dan 900 MHz) untuk implementasi HIBS.
“Adapun 3 pita frekuensi lainnya (1800 MHz, 2.1 GHz, dan 2.6 GHz) terharmonisasi secara regional di kawasan Asia Pasifik. Identifikasi kelima pita ini akan diadopsi dan dituangkan dalam Peraturan Menteri Kominfo tentang Alokasi Spektrum Frekuensi Indonesia yang saat ini tengah disusun,” kata Denny.
Dosen Teknik Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung Ian Josef Matheus Edward mengatakan bahwa BTS terbang dapat menjadi alternatif dalam memberikan konektivitas di daerah yang sulit dijangkau atau daerah rural.
Namun, untuk mengimplementasikan teknologi ini pemerintah dan Mitratel perlu melakukan uji coba terlebih dahulu dan memastikan bahwa frekuensi Haps tidak mengganggu pemain eksisting.
“Frekuensi yang digunakan sudah diperoleh dan diujicobakan tanpa mengganggu yang ada,” kata Ian kepada Bisnis, Kamis (1/8/2024).
Sistem Menara Terbang Airbus Gantikan BTS? Bos Mitratel (MTEL) Beri Penjelasan
Mitratel menyampaikan bahwa FTS tidak akan menggantikan BTS, terlebih di perkotaan. Bos Mitratel memberi penjelasan mengapa hal tersebut terjadi [670] url asal
#mitratel #fts #bts-terbang #airbus #jaringan-teresterial #bts #haps-pengganti-bts #teknologi #telekomunikasi #sistem-menara-terbang-fts-airbus-gantikan-bts-bos-mitratel-beri-penjelasan
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/08/24 10:20
v/13490472/
Bisnis.com, MANGGARAI BARAT - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menilai teknologi Flying Tower System (FTS) atau pesawat nirawak bertenaga surya milik Aalto (Airbus) akan menjadi pelengkap bagi infrastruktur terestrial.
Teknologi ini akan berperan krusial dalam menghadirkan internet di daerah rural dan menjaga kedaulatan wilayah kelautan Indonesia.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan bahwa FTS milik Aalto, anak usaha Airbus, tidak akan menggantikan infrastruktur base transceiver station (BTS) .
“Apakah ini nanti akan menggantikan jaringan terestrial yang ada di bawah? tidak juga 100 persen menggantikan. Tetap infrastruktur teresterial itu ada terutama di kota-kota besar,” kata lelaki yang akrab disapa Teddy, Selasa (6/8/2024).
Teddy mengatakan daerah perkotaan membutuhkan layanan telekomunikasi yang kuat dan stabil, yang dapat diberikan melalui serat optik.
Mitratel sendiri menaruh perhatian dalam penggelaran serat optik dengan terus memperbanyak serat optik yang terhubung ke menara (fiber to the tower/FTTT) yang panjangnya mencapai 37.602 kilometer. Perusahaan berencana menambah 14.000 kilometer serat optik sepanjang 2024.
“Infrastruktur serat optik yang telah tersebar luas secara keandalan memang masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan non-terrestrial network (satelit dan Haps)” kata Teddy.
Dia mengatakan bahwa Indonesia memiliki geografis yang beragam, dengan 60%-70% wilayah Indonesia merupakan lautan.
Lautan tersebut membutuhkan dukungan akses internet untuk menjalankan aktivitas dan juga butuh infrastruktur internet untuk menjaga dan mengawasi wilayah lautan yang luas.
Infrastruktur yang dapat mendukung hal itu di lautan, kata Teddy, adalah infrastruktur yang berada di luar jaringan teresterial seperti serat optik, microwave hingga BTS.
Mitratel menjajaki peluang untuk melayani daerah tersebut dengan memanfaatkan FTS Aalto.
FTS ini nantinya tidak hanya dapat memberikan akses internet ke smartphone pelanggan, juga untuk sensor mesin atau perangkat yang digerakan oleh internet (IoT).
FTS juga dapat membantu menjaga kedaulatan Indonesia yang wilayahnya dikelilingi lautan.
FTS dapat menangkap objek lebih detail dibandingkan dengan satelit karena titik terbang FTS jauh lebih rendah dibandingkan dengan satelit LEO apalagi GEO.
Sementara itu untuk investasi perangkat ini, Teddy belum dapat memberitahu karena teknologi FTS masih dalam tahap pengembangan.
“Investasi masih terlalu dini. Kami juga masih memberikan respons kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi oleh calon mitra teknologi kami, yang jelas kami melihat ada peluang pasar yang besar melengkapi infrastruktur terestrial,” kata Teddy.

Mitratel dan AALTO HAPS Ltd. (AALTO), produsen dan operator High Altitude Platform Station (HAPS) bertenaga surya Zephyr, telah menjalin nota kesepahaman untuk menjajaki penyediaan solusi HAPS komersial di Indonesia.
Zephyr yang merupakan Flying Tower System (FTS) atau biasa disebut BTS Terbang, menyediakan layanan konektivitas seluler, termasuk 5G, langsung ke perangkat. Pesawat nirawak ini mampu terbang di ketinggian 18-20 kilometer, yang kemudian memberikan layanan internet dengan latensi lebih rendah.
Dalam laman resminya, Aalto mengklaim latensi Zephyr 5-10 milidetik jauh lebih rendah dibandingkan dengan Starlink yang berkisar 50 milidetik ke atas.
Aalto juga menyebut Haps dapat menjadi solusi konektivitas 4G dan 5G di lokasi- lokasi yang sulit dijangkau, khususnya di daerah terpencil.
Sementara itu, sejumlah operator menyatakan tertarik untuk memanfaatkan FTS.
Sambut Positif
PT Indosat Tbk. (ISAT) terbuka untuk memanfaatkan teknologi Flying Tower System (FTS) atau BTS Terbang yang disediakan oleh Mitratel (MTEL) bekerja sama dengan Airbus. Perusahaan akan terus memantau perkembangan dari teknologi tersebut.
“Perusahaan senantiasa terbuka terhadap penerapan teknologi baru untuk mempercepat pemerataan akses internet dan digitalisasi di Tanah Air,” kata SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Steve Saerang kepada Bisnis, Jumat (2/8/2024).
Steve mengatakan strategi ini sejalan dengan misi Indosat dalam menghadirkan pengalaman digital kelas dunia, menghubungkan dan memberdayakan masyarakat Indonesia.
Indosat, lanjut Steve, secara berkala mengkaji strategi untuk memperluas dan meningkatkan kualitas jaringan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Termasuk mengimplementasikan berbagai inovasi teknologi terkini pada infrastruktur jaringan kami,” kata Steve.
Sementara itu, Group Head Network Planning & Design XL Axiata Fadly Hamka mengatakan sebagai salah satu operator seluler FTS atau Haps dapat menjadi solusi inovatif untuk memperluas jangkauan jaringan dan mengatasi kesenjangan digital, namun demikian ada beberapa tantangan teknis yang harus diperhatikan sebelum melakukan adopsi teknologi ini.
“Misalnya daya tahan dan sumber energi, biaya pengembangan dan operasional serta regulasi penerbangan dan spektrum,” kata Fadly.
Mitratel (MTEL) Beberkan Cara Kerja FTS Haps Aalto, untuk IoT hingga Keamanan
Mitratel menyampaikan bahwa Haps Aalto merupakan sebuah pesawat nirawak yang dapat mengangkut berbagai inovasi teknologi [736] url asal
#mitratel #mtel #bts-terbang #fts #teknologi-bts-terbang-mitratel #mitratel-mtel-beberkan-cara-kerja-fts-haps-aalto #bukan-bts-terbang
(Bisnis.Com - Teknologi) 06/08/24 06:40
v/13471669/
Bisnis.com, MANGGARAI BARAT - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menjelaskan bahwa pesawat nirawak bertenaga surya milik Aalto tidak sama dengan base transceiver station (BTS) Terbang. Teknologi Zephyr High Altitude Platform Station (Zephyr HAPS) lebih cocok disebut Flying Tower System (FTS), yang dapat membantu sensor Internet of Things (IoT) hingga Keamanan.
Direktur Bisnis Mitratel Agus Winarno mengatakan bahwa teknologi ini kemungkinan bukan tentang menempatkan BTS di atas pesawat.
BTS milik operator seluler tetap dapat diletakan di bawah sementara Haps hanya mengangkut antena serta perangkat-perangkat untuk memantulkan sinyal internet yang ditembakan dari bawah.
“Sehingga kami mengambil terminologi FTS,” kata Agus, Senin (5/7/2024).
Agus mengatakan bahwa saat ini teknologi jaringan non-terrestrial terbagi atas beberapa teknologi mulai dari satelit GEO yang berada di ketinggian 36.000 kilometer di atas permukaan bumi, Medium Earth Orbit (MEO) di ketinggian 2.000-36.000 Km, LEO pada ketinggian 500-2.000 Km, dan Haps di ketinggian 20-50 kilometer.
Agus menjelaskan makin rendah ketinggian terbang suatu teknologi maka kemampuan dalam mengantarkan bandwidth atau internet ke suatu titik akan makin bagus dan latensi makin kecil.
“Jadi kalau Haps bisa masuk maka akan banyak kasus pemanfaatan (use case) yang bisa dilahirkan,” kata Agus.
Mitratel mencoba melakukan sejumlah eksplorasi mengenai manfaat teknologi ini ke depan. Alhasil, perusahaan menemukan bahwa FTS Aalto dapat dipakai tidak hanya untuk konektivitas internet bergerak (seluler) saja, juga untuk kebutuhan lain.
Sebagai contoh, teknologi ini dapat membantu pemerintah dalam melakukan pengawasan dan keamanan, jaringan untuk sensor-sensor IoT yang berada di daerah rural, melahirkan kota cerdas, dan lain sebagainya.
Dengan berada pada ketinggian tertentu dan terbang dalam waktu lama, Haps dapa memantau pergerakan obyek yang berada di bawahnya dengan daya tangkap gambar (foto) yang lebih tajam dibandingkan dengan satelit. Alhasil, pemerintah dapat mengetahui obyek masuk dan keluar dari teknologi ini.
“Penggunanya dari segmen ritel, enterprise, pemerintahan hingga operator telekomunikasi,” kata Agus.
Agus menuturkan solusi ini cocok untuk daerah rural dan pedalaman yang selama ini membutuhkan ongkos besar untuk menghadirkan jaringan internet di wilayah tersebut.

Haps Aalto akan memangkas ongkos operator dalam menggelar serat optik ke daerah rural.
Selain menawarkan beragam solusi baru, Haps Aalto juga berpeluang membuka lebih banyak lapangan kerja karena teknologi ini membutuhkan beberapa dukungan seperti pusat kontrol, landasan pacu hingga bengkel.
“Kebutuhan komunikasi data di tengah laut dan lain sebagainya juga saat ini LEO, GEO dan lain sebagainya, dengan Haps seharusnya menjadi lebih baik karena lebih rendah,” kata Agus.
Haps Aalto vs LEO
Tidak jauh berbeda dengan satelit orbit rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk, kedua wahana ini sama-sama terbang di stratosfer atau lapisan bumi di bawah atmosfer.
Dilansir dari berbagai sumber, terdapat lima perbedaan antara Haps Zephyr dengan Starlink, mulai dari ketinggian, cakupan layanan, metode konektivitas, latensi hingga ongkos operasional per titik daerah rural.
Ketinggian
HAPS Zephyr terbang pada ketinggian 18 - 20 kilometer di atas permukaan bumi. jika dibandingkan dengan satelit LEO, yang rata-rata terbang di ketinggian 500 - 2.000 kilometer, maka HAPS Zephyr jauh lebih rendah.
Adapun Starlink terbang di ketinggian 550 kilometer di atas permukaan bumi. Elon Musk sempat berencana menurunkan ketinggian Starlink menjadi 300 kilometer.
Cakupan
Dengan jumlah satelit yang telah mencapai lebih dari 5.000 satelit, Starlink memiliki cakupan yang lebih luas per satelitnya, karena mereka terbang lebih tinggi, Namun Haps Aalto tidak kalah luas. Agus menyebutkan bahwa 1 Haps memiliki cakupan hingga 200 kilometer.
Konektivitas
Kemudian untuk menerima akses internet yang disuntikan masing-masing perangkat, Haps memiliki keunggulan yaitu dapat langsung terhubung ke smartphone pengguna. Sementara itu untuk terhubung ke internet Starlink, pengguna membutuhkan perangkat penangkap sinyal berupa dish, yang harus terhubung ke listrik, setelah itu penangkap sinyal (terminal) akan menyebarkan internet ke beberapa perangkat smartphone tergantung paket yang digunakan.
Latensi
Dari sisi latensi, Haps Zephyr dikabarkan memiliki latensi yang lebih rendah yaitu 5-10 milidetik, sementara itu Starlink sekitar 50 milidetik. Hal ini disebabkan ketinggian masing-masing wahana berbeda.
Ongkos
Kemudian untuk ongkos ke daerah rural, Haps Zephyr mengeklaim bahwa mereka lebih murah dibandingkan dengan Starlink. Jika Starlink membutuhkan ongkos sekitar ribuan dollar Amerika Serikat (AS) untuk melayani per titik daerah rural, Haps hanya menghabiskan tidak lebih dari 10 dollar (AS) karena pesawat ini tidak butuh roket untuk meluncur ke langit..
Haps Zephyr Aalto sendiri bukanlah teknologi baru dalam hal konektivitas internet. Pada Mei 2024, konsorsium Jepang menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk pengembangan Haps Zephyr milik Airbus.
Kerja sama Haps Japan Corporation dengan Airbus menargetkan komersialisasi Haps pada 2026 secara global.