#30 tag 24jam
Simak Prospek ADRO di Tengah Rencana Aksi Korporasi dan Rekomendasi Analis
Prospek PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dipandang tetap positif di tengah rencana aksi korporsinya, simak rekomendasi analis. [817] url asal
#energi-terbarukan #adro #rekomendasi-saham #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #arinda-izzaty #adaro-minerals-indonesia #berita-nasional #indones
(Kontan-Investasi) 26/10/24 16:27
v/17020870/
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dipandang tetap positif di tengah rencana aksi korporsinya. Adapun perseroan bakal melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI).
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, pelepasan AAI akan berdampak signifikan pada fundamental ADRO. Wajar saja, AAI memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi.
Berdasarkan profoma laporan keuangan per 30 Juni 2024, ADRO juga memperkirakan pendapatan dan laba bersih, masing-masing turun 65% dan 64%. "Namun, divestasi ini juga bisa memberikan keuntungan strategis," kata Arinda kepada Kontan.co.id, Kamis (24/10).
Menurutnya, dengan mengurangi keterlibatan di sektor batubara termal, ADRO dapat fokus pada diversifikasi energi yang lebih ramah lingkungan, seperti energi terbarukan (EBT). Selain itu, pengurangan eksposur terhadap batubara bisa membantu ADRO mengelola risiko yang muncul dari ketidakpastian di pasar batubara global, seperti fluktuasi harga dan perubahan regulasi.
"Meskipun ada tekanan, namun secara prospek jangka panjang kami melihat ini sesuatu yang sangat baik, apalagi energi terbarukan juga mulai bersemi dan menjadi salah satu perhatian untuk menuju Net Zero Emission di masa yang akan datang," paparnya.
Di sisi lain, Arinda juga tak menepis adanya ketidakpastian dari perubahan arah bisnis ADRO. Karena memang, prospeknya juga akan tergantung dari keberhasilan perseroan dalam membangun bisnis baru yang bisa menggantikan peran AAI.
Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas turut menyoroti prospek ADRO yang akan turun terlebih dahulu setelah menjual AAI dalam jangka menengah. Namun, ia juga menilai hal tersebut sudah dipertimbangkan manajemen ADRO.
Sementara itu, alih fokus ke bisnis EBT dinilai menjadi langkah yang tepat seiring target bauran EBT terus meningkat. "Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis energi terbarukan terus mengalami pertumbuhan," sebutnya.
Arinda melanjutkan, untuk jangka pendek segmen batubara ADRO masih akan menjadi kontributor utama pendapatan. Perlu diingat, ADRO memiliki investasi dalam pertambangan batubara metalurgi melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Terlebih dia melihat batubara metalurgi, yang digunakan dalam industri baja, masih memiliki permintaan tinggi, khususnya di Asia. "Dengan pertumbuhan industri infrastruktur dan manufaktur di wilayah tersebut, segmen ini dapat menjadi salah satu pendorong utama pendapatan ADRO, menggantikan peran batubara termal," terangnya.
Dus, Arinda berpendapat hal ini bisa membantu ADRO mempertahankan posisinya di pasar batubara yang tersisa. "Terutama di tahun mendatang yang mana permintaan batubara diharapkan akan mengalami kenaikan," lanjutnya.
Lalu untuk jangka menegah akan bergeser menjadi segmen pengolahan mineral, yang dikelola ADMR. Pilarmas Investindo berpandangan segmen ini memiliki potensi besar, terutama karena Indonesia tengah mendorong hilirisasi mineral untuk meningkatkan nilai tambah.
"ADRO dapat memanfaatkan peluang ini dengan memperluas bisnis pengolahan mineral seperti smelter atau produk bernilai tambah lainnya dari bahan tambang," katanya.
Selain itu, ADRO juga memiliki infrastruktur dan utilitas pendukung, seperti infrastruktur transportasi dan pelabuhan yang mendukung distribusi batubara dan mineral. Meski kontribusi pendapatannya cenderung mini, sektor ini dinilai dapat menyediakan pendapatan tambahan yang stabil, terutama jika ADRO memperluas layanan logistik dan infrastruktur yang ada.
Baru kemudian di jangka panjang kontributor utama dari EBT. Arinda mengatakan, ADRO sudah mulai mendiversifikasi ke sektor EBT, seperti proyek-proyek energi surya dan angin.
Seiring dengan transisi global menuju energi bersih, segmen tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber pendapatan baru yang berkembang pesat dalam jangka panjang.
Bicara batubara, analis NH Korindo Sekuritas Axell Ebenhaezer mencermati, kinerja ADRO masih cukup tangguh di tengah fluktuasi harga. Hal ini seiring dengan peningkatan volume produksi perseroan yang meningkat.
Pada semester I-2024, ADRO mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 7% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi 35,74 juta ton. "Hal ini tercermin juga dari volume penjualan perusahaan yang meningkat 7% YoY dari 32,62 juta ton menjadi 34,94 juta ton," sebutnya.
Apalagi ADMR turut menggenjot produksinya. Analis Sinarmas Sekuritas, Axel Leonardo menuturkan produksi batubara ADMR tumbuh 17% YoY menjadi 3 juta ton.
Menurutnya, jika laju saat ini terus berlanjut, perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mencapai total produksi 6 juta ton pada akhir tahun ini, lebih cepat dari target awal yang ditetapkan untuk tahun 2025.
"Kami yakin bahwa perusahaan akan mempertahankan produksi ini di kuartal-kuartal mendatang, terutama dengan pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung seperti jalan angkut dan konveyor pemuatan tongkang kedua. Hal ini akan meningkatkan kapasitas pemuatan menjadi 3.000 ton per jam," papar Axel.
Sementara itu, rasio pengupasan sedikit meningkat menjadi 3,5 kali, sehingga rata-rata untuk semester I 2024 menjadi 3,5 kali. Tingkat rasio pengupasan ini masih sejalan dengan target tahunan sebesar 3,6 kali.
Dari berbagai hal itu, seluruh analis memberikan rating hold ADRO. Adapun Arinda memasang target harga di Rp 4.000 dan Sukarno di Rp 4.050. Sementara analis BNI Sekuritas, Aurelie Amanda memasang target harga di Rp 3.900.
"Namun tetap batasi risiko jika kembali cenderung bergerak melemah," tutup Sukarno.
Prospek Jangka Panjang Adaro Energy (ADRO) Tetap Menarik, Cek Rekomendasi Analis
Prospek PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dipandang tetap positif di tengah rencana aksi korporsinya, simak rekomendasi analis. [817] url asal
#energi-terbarukan #adro #rekomendasi-saham #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #arinda-izzaty #adaro-minerals-indonesia #berita-nasional #indones
(Kontan-Investasi) 24/10/24 21:23
v/16941115/
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dipandang tetap positif di tengah rencana aksi korporsinya. Adapun perseroan bakal melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI).
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, pelepasan AAI akan berdampak signifikan pada fundamental ADRO. Wajar saja, AAI memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi.
Berdasarkan profoma laporan keuangan per 30 Juni 2024, ADRO juga memperkirakan pendapatan dan laba bersih, masing-masing turun 65% dan 64%. "Namun, divestasi ini juga bisa memberikan keuntungan strategis," kata Arinda kepada Kontan.co.id, Kamis (24/10).
Menurutnya, dengan mengurangi keterlibatan di sektor batubara termal, ADRO dapat fokus pada diversifikasi energi yang lebih ramah lingkungan, seperti energi terbarukan (EBT). Selain itu, pengurangan eksposur terhadap batubara bisa membantu ADRO mengelola risiko yang muncul dari ketidakpastian di pasar batubara global, seperti fluktuasi harga dan perubahan regulasi.
"Meskipun ada tekanan, namun secara prospek jangka panjang kami melihat ini sesuatu yang sangat baik, apalagi energi terbarukan juga mulai bersemi dan menjadi salah satu perhatian untuk menuju Net Zero Emission di masa yang akan datang," paparnya.
Di sisi lain, Arinda juga tak menepis adanya ketidakpastian dari perubahan arah bisnis ADRO. Karena memang, prospeknya juga akan tergantung dari keberhasilan perseroan dalam membangun bisnis baru yang bisa menggantikan peran AAI.
Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas turut menyoroti prospek ADRO yang akan turun terlebih dahulu setelah menjual AAI dalam jangka menengah. Namun, ia juga menilai hal tersebut sudah dipertimbangkan manajemen ADRO.
Sementara itu, alih fokus ke bisnis EBT dinilai menjadi langkah yang tepat seiring target bauran EBT terus meningkat. "Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis energi terbarukan terus mengalami pertumbuhan," sebutnya.
Arinda melanjutkan, untuk jangka pendek segmen batubara ADRO masih akan menjadi kontributor utama pendapatan. Perlu diingat, ADRO memiliki investasi dalam pertambangan batubara metalurgi melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Terlebih dia melihat batubara metalurgi, yang digunakan dalam industri baja, masih memiliki permintaan tinggi, khususnya di Asia. "Dengan pertumbuhan industri infrastruktur dan manufaktur di wilayah tersebut, segmen ini dapat menjadi salah satu pendorong utama pendapatan ADRO, menggantikan peran batubara termal," terangnya.
Dus, Arinda berpendapat hal ini bisa membantu ADRO mempertahankan posisinya di pasar batubara yang tersisa. "Terutama di tahun mendatang yang mana permintaan batubara diharapkan akan mengalami kenaikan," lanjutnya.
Lalu untuk jangka menegah akan bergeser menjadi segmen pengolahan mineral, yang dikelola ADMR. Pilarmas Investindo berpandangan segmen ini memiliki potensi besar, terutama karena Indonesia tengah mendorong hilirisasi mineral untuk meningkatkan nilai tambah.
"ADRO dapat memanfaatkan peluang ini dengan memperluas bisnis pengolahan mineral seperti smelter atau produk bernilai tambah lainnya dari bahan tambang," katanya.
Selain itu, ADRO juga memiliki infrastruktur dan utilitas pendukung, seperti infrastruktur transportasi dan pelabuhan yang mendukung distribusi batubara dan mineral. Meski kontribusi pendapatannya cenderung mini, sektor ini dinilai dapat menyediakan pendapatan tambahan yang stabil, terutama jika ADRO memperluas layanan logistik dan infrastruktur yang ada.
Baru kemudian di jangka panjang kontributor utama dari EBT. Arinda mengatakan, ADRO sudah mulai mendiversifikasi ke sektor EBT, seperti proyek-proyek energi surya dan angin.
Seiring dengan transisi global menuju energi bersih, segmen tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber pendapatan baru yang berkembang pesat dalam jangka panjang.
Bicara batubara, analis NH Korindo Sekuritas Axell Ebenhaezer mencermati, kinerja ADRO masih cukup tangguh di tengah fluktuasi harga. Hal ini seiring dengan peningkatan volume produksi perseroan yang meningkat.
Pada semester I-2024, ADRO mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 7% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi 35,74 juta ton. "Hal ini tercermin juga dari volume penjualan perusahaan yang meningkat 7% YoY dari 32,62 juta ton menjadi 34,94 juta ton," sebutnya.
Apalagi ADMR turut menggenjot produksinya. Analis Sinarmas Sekuritas, Axel Leonardo menuturkan produksi batubara ADMR tumbuh 17% YoY menjadi 3 juta ton. Menurutnya, jika laju saat ini terus berlanjut, perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mencapai total produksi 6 juta ton pada akhir tahun ini, lebih cepat dari target awal yang ditetapkan untuk tahun 2025.
"Kami yakin bahwa perusahaan akan mempertahankan produksi ini di kuartal-kuartal mendatang, terutama dengan pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung seperti jalan angkut dan konveyor pemuatan tongkang kedua. Hal ini akan meningkatkan kapasitas pemuatan menjadi 3.000 ton per jam," papar Axel.
Sementara itu, rasio pengupasan sedikit meningkat menjadi 3,5 kali, sehingga rata-rata untuk semester I 2024 menjadi 3,5 kali. Tingkat rasio pengupasan ini masih sejalan dengan target tahunan sebesar 3,6 kali.
Dari berbagai hal itu, seluruh analis memberikan rating hold ADRO. Adapun Arinda memasang target harga di Rp 4.000 dan Sukarno di Rp 4.050. Sementara analis BNI Sekuritas, Aurelie Amanda memasang target harga di Rp 3.900.
"Namun tetap batasi risiko jika kembali cenderung bergerak melemah," tutup Sukarno.
Adaro Energy (ADRO) Segera Lepas Bisnis Batubara Termal, Simak Rekomendasi Sahamnya
Adaro Energy Indonesia (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal. [1,326] url asal
#adro #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #adaro-andalan-indonesia #rapat-umum-pemegang-saham-luar-biasa #berita-nasional #indonesia #pemerintah
(Kontan - Terbaru) 19/10/24 11:06
v/16689515/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Restu itu didapat dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) ADRO yang digelar pada Jumat (18/10).
Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi "Boy" Thohir mengatakan aksi ini bagian dari upaya ekspansi strategis dan diversifikasi ADRO di segmen non pertambangan batubara. ADRO mengejar portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari non batubara termal paling lambat tahun 2030.
“Kami berpandangan langkah ini efektif untuk memaksimalkan kinerja PT Adaro Andalan Indonesia dan pilar bisnis non batubara termal karena dapat memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti serta terus memanfaatkan sumber daya dan potensinya,” kata Boy melalui siaran resmi, Jumat (18/10).
ADRO bermaksud memisahkan bisnis-bisnis segmen pertambangan beserta sejumlah bisnis pendukung di bawah AAI dari pilar Adaro Minerals dan Adaro Green, agar dapat memaksimalkan kinerja AAI dan pilar-pilar non batubara termal. Langkah ini dinilai memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti masing-masing.
Transaksi ini diperkirakan akan mendukung AAI serta segmen bisnis non batubara termal untuk memperkuat fokus pada pengembangan dan kinerja. Pemisahan ini juga memungkinkan bisnis-bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih besar, biaya pendanaan lebih kompetitif, dan akses lebih luas terhadap proyek-proyek hijau dengan para mitra bisnis potensial papan atas.
RUPSLB telah menyetujui untuk menjual sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki ADRO atas AAI. Aksi ini merupakan transaksi material menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020, serta perubahan kegiatan usaha utama melalui penawaran umum kepada seluruh pemegang saham ADRO, berdasarkan POJK Nomor 76/POJK.04/2017.
Dengan tunduk pada diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, ADRO akan memberikan kesempatan kepada para pemegang sahamnya untuk berpartisipasi pada transaksi ini sebagai pembeli.
Skema IPO AAI
AAI yang sebelumnya bernama PT Alam Tri Abadi merupakan perusahaan yang 99,9999% dimiliki oleh ADRO. Dalam transaksi ini, ADRO menawarkan sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki pada AAI, yakni 7.008.202.240 saham. Transaksi ini akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
Dalam keterbukaan informasi yang rilis pada Rabu (16/10) dijelaskan, PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) AAI. Segera setelah IPO, kepemilikan saham ADRO pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di bursa, dengan ketentuan bahwa harga penawaran final:
(1) serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari Penilai Independen; dan
(2) setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Sehingga, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya sebesar US$ 2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO. Sedangkan setinggi-tingginya adalah sebesar US$ 2,62 miliar, yang setara dengan 34,1% dari total ekuitas ADRO.
Dengan memperhitungkan jumlah lembar saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7.008.202.240 saham, maka harga per saham adalah sebesar US$ 0,35. Hal ini terungkap dalam kesimpulan nilai pada ringkasan laporan objek rencana transaksi.
ADRO akan melepas saham yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS.
"Pembeli adalah para pemegang saham Adaro Energy yang terdaftar pada Tanggal Pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI dari Adaro Energy," ungkap Manajemen ADRO.
Dampak Terhadap Kinerja
Dalam keterbukaan informasi yang sama, Manajemen ADRO juga mengungkapkan dampak pelepasan AAI kepada kinerja ADRO. Manajemen ADRO membeberkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024 untuk memberikan gambaran terkait dampak dari pelepasan AAI.
Persentase pendapatan dan laba bersih AAI masing-masing mencapai 89,4% dan 104,8% terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi. Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO, masing-masing sebesar 65% dan 64%.
Gambaran dalam proforma ini, pendapatan usaha konsolidasi ADRO per 30 Juni 2024 menurun 65% dari US$ 2,97 miliar menjadi US$ 1,05 miliar. Sedangkan laba periode berjalan konsolidasian menurun 64% dari US$ 880,18 juta menjadi US$ 321,01 juta. Dengan proforma tersebut, ADRO secara terkonsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
"Adaro Energy secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, pengolahan mineral, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya," ungkap Manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi Rabu (16/10).
Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ketika AAI dilepas, ADRO secara konsolidasi masih memiliki total aset, pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar US$ 8,47 miliar, US$ 1,05 miliar dan US$ 321,01 juta, yang berasal dari bisnis ADRO di luar AAI.
"Ke depannya, Adaro Energy akan lebih mengembangkan proyek-proyek yang ada saat ini dalam bidang energi yang mendukung program ekonomi hijau pemerintah Indonesia. Dengan demikian, bilamana Rencana Transaksi dilaksanakan, kelangsungan usaha Adaro Energy tidak akan terganggu," sebut Manajemen ADRO.
Sebagai informasi, total cadangan batubara termal yang dimiliki oleh ADRO melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi dalam grup AAI mencapai 917,4 juta ton. Dengan divestasi AAI, ADRO tidak lagi memiliki cadangan batubara termal.
ADRO pun tetap masih memiliki cadangan batubara metalurgi sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi yaitu grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 173 juta ton.
Rekomendasi Saham
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyoroti potensi penurunan kinerja ADRO dalam jangka menengah, setelah divestasi AAI yang menjadi kontributor pendapatan terbesar. Namun, alih fokus ke bisnis non-batubatara termal terutama energi baru & terbarukan (EBT) bisa menjadi langkah yang tepat seiring target bauran energi hijau yang terus meningkat.
"Setelah itu para investor perlu memantau, seperti apa dampak ke kinerja setelah lebih fokus ke energi hijau. Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis EBT terus mengalami pertumbuhan," ungkap Sukarno kepada Kontan.co.id, Jumat (18/10).
Sukarno menilai, pelepasan AAI melalui skema IPO tampak akan menarik minat pasar, karena secara valuasi yang ditawarkan relatif murah. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengamini, AAI bisa menjadi pilihan yang menarik di mata investor.
AAI telah menjadi sumber pendapatan utama ADRO yang juga memiliki konsistensi laba bersih. Selain itu, biaya produksi batubara AAI relatif lebih rendah dibandingkan produsen batubara lainnya. Faktor berikutnya adalah cadangan batubara yang cukup besar, permintaan batubara yang masih tinggi, serta potensi pembagian dividen.
Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani menghitung rasio pemesanan IPO AAI. Dalam perhitungannya, setiap kepemilikan 100 saham ADRO akan memiliki hak untuk memesan sekitar 23 saham AAI pada PUPS. Ini dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Sementara itu, Bima melihat investor masih menanti dan mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari investor AAI dengan mengikuti PUPS. Dus, hal ini bisa menjadi katalis pendongkrak bagi harga saham ADRO, setidaknya dalam jangka pendek dengan potensi kenaikan ke resistance di area Rp 4.200.
Namun di sisi yang lain, Bima memperkirakan dalam jangka menengah investor asing cenderung melepas ADRO setelah melepas AAI. Sedangkan Sukarno menyarankan hold saham ADRO dengan target harga di level Rp 4.050. "Tapi tetap batasi risiko jika kembali bergerak melemah," kata Sukarno.
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat saat ini pergerakan harga saham ADRO cenderung sideways sejak akhir September 2024. Secara MACD dan stochastic, ada indikasi ADRO akan memulai bearish dalam jangka pendek.
Dus, Herditya menyarankan strategi buy on weakness mencermati support Rp 3.530, resistance Rp 3.930 untuk target harga Rp 4.100-Rp 4.250. Adapun, ADRO menutup perdagangan Jumat (18/10) dengan pelemahan 3,08% ke level harga Rp 3.780 per saham.
Dapat Restu Jual Adaro Andalan, Simak Prospek Kinerja & Rekomendasi Saham ADRO
Adaro Energy Indonesia (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal. [1,326] url asal
#adro #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #adaro-andalan-indonesia #rapat-umum-pemegang-saham-luar-biasa #berita-nasional #indonesia #pemerintah
(Kontan-Investasi) 18/10/24 19:57
v/16662229/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Restu itu didapat dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) ADRO yang digelar pada Jumat (18/10).
Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi "Boy" Thohir mengatakan aksi ini bagian dari upaya ekspansi strategis dan diversifikasi ADRO di segmen non pertambangan batubara. ADRO mengejar portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari non batubara termal paling lambat tahun 2030.
“Kami berpandangan langkah ini efektif untuk memaksimalkan kinerja PT Adaro Andalan Indonesia dan pilar bisnis non batubara termal karena dapat memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti serta terus memanfaatkan sumber daya dan potensinya,” kata Boy melalui siaran resmi, Jumat (18/10).
ADRO bermaksud memisahkan bisnis-bisnis segmen pertambangan beserta sejumlah bisnis pendukung di bawah AAI dari pilar Adaro Minerals dan Adaro Green, agar dapat memaksimalkan kinerja AAI dan pilar-pilar non batubara termal. Langkah ini dinilai memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti masing-masing.
Transaksi ini diperkirakan akan mendukung AAI serta segmen bisnis non batubara termal untuk memperkuat fokus pada pengembangan dan kinerja. Pemisahan ini juga memungkinkan bisnis-bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih besar, biaya pendanaan lebih kompetitif, dan akses lebih luas terhadap proyek-proyek hijau dengan para mitra bisnis potensial papan atas.
RUPSLB telah menyetujui untuk menjual sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki ADRO atas AAI. Aksi ini merupakan transaksi material menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020, serta perubahan kegiatan usaha utama melalui penawaran umum kepada seluruh pemegang saham ADRO, berdasarkan POJK Nomor 76/POJK.04/2017.
Dengan tunduk pada diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, ADRO akan memberikan kesempatan kepada para pemegang sahamnya untuk berpartisipasi pada transaksi ini sebagai pembeli.
Skema IPO AAI
AAI yang sebelumnya bernama PT Alam Tri Abadi merupakan perusahaan yang 99,9999% dimiliki oleh ADRO. Dalam transaksi ini, ADRO menawarkan sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki pada AAI, yakni 7.008.202.240 saham. Transaksi ini akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
Dalam keterbukaan informasi yang rilis pada Rabu (16/10) dijelaskan, PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) AAI. Segera setelah IPO, kepemilikan saham ADRO pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di bursa, dengan ketentuan bahwa harga penawaran final:
(1) serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari Penilai Independen; dan
(2) setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Sehingga, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya sebesar US$ 2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO. Sedangkan setinggi-tingginya adalah sebesar US$ 2,62 miliar, yang setara dengan 34,1% dari total ekuitas ADRO.
Dengan memperhitungkan jumlah lembar saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7.008.202.240 saham, maka harga per saham adalah sebesar US$ 0,35. Hal ini terungkap dalam kesimpulan nilai pada ringkasan laporan objek rencana transaksi.
ADRO akan melepas saham yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS.
"Pembeli adalah para pemegang saham Adaro Energy yang terdaftar pada Tanggal Pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI dari Adaro Energy," ungkap Manajemen ADRO.
Dampak Terhadap Kinerja
Dalam keterbukaan informasi yang sama, Manajemen ADRO juga mengungkapkan dampak pelepasan AAI kepada kinerja ADRO. Manajemen ADRO membeberkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024 untuk memberikan gambaran terkait dampak dari pelepasan AAI.
Persentase pendapatan dan laba bersih AAI masing-masing mencapai 89,4% dan 104,8% terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi. Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO, masing-masing sebesar 65% dan 64%.
Gambaran dalam proforma ini, pendapatan usaha konsolidasi ADRO per 30 Juni 2024 menurun 65% dari US$ 2,97 miliar menjadi US$ 1,05 miliar. Sedangkan laba periode berjalan konsolidasian menurun 64% dari US$ 880,18 juta menjadi US$ 321,01 juta. Dengan proforma tersebut, ADRO secara terkonsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
"Adaro Energy secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, pengolahan mineral, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya," ungkap Manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi Rabu (16/10).
Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ketika AAI dilepas, ADRO secara konsolidasi masih memiliki total aset, pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar US$ 8,47 miliar, US$ 1,05 miliar dan US$ 321,01 juta, yang berasal dari bisnis ADRO di luar AAI.
"Ke depannya, Adaro Energy akan lebih mengembangkan proyek-proyek yang ada saat ini dalam bidang energi yang mendukung program ekonomi hijau pemerintah Indonesia. Dengan demikian, bilamana Rencana Transaksi dilaksanakan, kelangsungan usaha Adaro Energy tidak akan terganggu," sebut Manajemen ADRO.
Sebagai informasi, total cadangan batubara termal yang dimiliki oleh ADRO melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi dalam grup AAI mencapai 917,4 juta ton. Dengan divestasi AAI, ADRO tidak lagi memiliki cadangan batubara termal.
ADRO pun tetap masih memiliki cadangan batubara metalurgi sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi yaitu grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 173 juta ton.
Rekomendasi Saham
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyoroti potensi penurunan kinerja ADRO dalam jangka menengah, setelah divestasi AAI yang menjadi kontributor pendapatan terbesar. Namun, alih fokus ke bisnis non-batubatara termal terutama energi baru & terbarukan (EBT) bisa menjadi langkah yang tepat seiring target bauran energi hijau yang terus meningkat.
"Setelah itu para investor perlu memantau, seperti apa dampak ke kinerja setelah lebih fokus ke energi hijau. Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis EBT terus mengalami pertumbuhan," ungkap Sukarno kepada Kontan.co.id, Jumat (18/10).
Sukarno menilai, pelepasan AAI melalui skema IPO tampak akan menarik minat pasar, karena secara valuasi yang ditawarkan relatif murah. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengamini, AAI bisa menjadi pilihan yang menarik di mata investor.
AAI telah menjadi sumber pendapatan utama ADRO yang juga memiliki konsistensi laba bersih. Selain itu, biaya produksi batubara AAI relatif lebih rendah dibandingkan produsen batubara lainnya. Faktor berikutnya adalah cadangan batubara yang cukup besar, permintaan batubara yang masih tinggi, serta potensi pembagian dividen.
Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani menghitung rasio pemesanan IPO AAI. Dalam perhitungannya, setiap kepemilikan 100 saham ADRO akan memiliki hak untuk memesan sekitar 23 saham AAI pada PUPS. Ini dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Sementara itu, Bima melihat investor masih menanti dan mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari investor AAI dengan mengikuti PUPS. Dus, hal ini bisa menjadi katalis pendongkrak bagi harga saham ADRO, setidaknya dalam jangka pendek dengan potensi kenaikan ke resistance di area Rp 4.200.
Namun di sisi yang lain, Bima memperkirakan dalam jangka menengah investor asing cenderung melepas ADRO setelah melepas AAI. Sedangkan Sukarno menyarankan hold saham ADRO dengan target harga di level Rp 4.050. "Tapi tetap batasi risiko jika kembali bergerak melemah," kata Sukarno.
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat saat ini pergerakan harga saham ADRO cenderung sideways sejak akhir September 2024. Secara MACD dan stochastic, ada indikasi ADRO akan memulai bearish dalam jangka pendek.
Dus, Herditya menyarankan strategi buy on weakness mencermati support Rp 3.530, resistance Rp 3.930 untuk target harga Rp 4.100-Rp 4.250. Adapun, ADRO menutup perdagangan Jumat (18/10) dengan pelemahan 3,08% ke level harga Rp 3.780 per saham.
Perbankan Makin Serius Menjalankan Bisnis Berkelanjutan
Perbankan semakin serius menjalankan bisnisnya ke arah segmen keberlanjutan atau sustainability. [635] url asal
#net-zero-emission #bank-cimb-niaga #the-cooler-earth-sustainability-series-2024 #kredit-keberlanjutan #sektor-batubara-termal #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Keuangan) 02/10/24 17:50
v/15867178/
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Perbankan semakin serius dalam mendukung program net zero emission dengan menjalankan bisnisnya ke arah segmen keberlanjutan atau sustainability.
Bank CIMB Niaga misalnya, bank swasta terbesar kedua ini terus menunjukkan komitmennya dengan menggelar The Cooler Earth (TCE) Sustainability Series 2024 yang berlangsung mulai 2 Oktober sampai 4 Oktober 2024.
Selain menggelar kegiatan-kegiatan bertema sustainability, CIMB Niaga juga makin fokus menyalurkan kredit ke segmen keberlanjutan dan akan mengurangi kredit ke sektor Batubara termal secara perlahan pada tahun 2040, hingga menurunkan emisi melalui operasionalnya.
Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga Fransiska Oei mengatakan, setidaknya sekitar 26% dari total penyaluran kredit bank telah disalurkan ke sektor sustainability. Ke depan, pihaknya akan menjaga porsi kredit tersebut dan akan berkembang seiring dengan meningkatnya portofolio kredit CIMB Niaga.
“Target di periode tahun 2030-2050 mendatang, target CIMB Niaga adalah untuk menurunkan emisi hingga menjadi net zero emission. Salah satunya menurunkan portofolio batubara thermal pada tahun 2040, dan itu perlu komunikasi dengan nasabah, mereka bisa menggunakan produk batubara, tapi kalau bisa bukan yang termal” ungkap Fransiska saat ditemui di Jakarta, Selasa (2/10).
Soal keikutsertaan dalam melakukan perdagangan bursa karbon, Fransiska bilang, tahun ini pihaknya tidak melakukan pembelian bursa karbon. Pasalnya pembelian pada tahun 2023 lalu yang sebesar Rp 458 juta lebih akan digunakan untuk diimplementasikan pada masa yang akan datang.
“Di tahun ini kami tidak membeli karbon baru, karena karbon dari IDX itu tadi, itu kita kaya nabung. Kalau kita beli itu bisa dieksekusinya atau digunakannya sekarang atau in the future. Nah yang itu kita beli untuk future,” ungkap dia.
Fransiska mengatakan, saat ini CIMB Niaga akan membeli REC atau renewable energy certificate yang didapatkan dari perusahaan yang membuat sertifikat hijau seperti PLN. Ketika PLN memiliki proyek yang menghasilkan listrik tetapi menggunakan renewable energy, maka CIMB Niaga akan membelinya untuk mengurangi emisi.
Ia menambahkan, masih banyak peluang untuk memberikan layanan produk perbankan dengan mendukung sustainibility, dan mengalihkan portfolio kredit menjadi portfolio yang green, seperti yang saat ini ditawarkan dengan KPR hijau hingga KKB segmen kendaraan listrik.
Bank Negara Indonesia (BNI) juga berkomitmen untuk terus mengimplementasikan konsep environmental, social, and governance (ESG) dalam setiap aspek bisnisnya. Bank pelat merah ini telah menetapkan target net zero emission aktivitas operasionalnya pada 2028 dan pembiayaan pada tahun 2060.
Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada mengatakan, pihaknya memiliki perhatian khusus untuk mendorong debitur menuju penerapan sustainibility, khususnya proses transisi menuju aktivitas usaha yang lebih hijau.
BNI menyalurkan sustainability linked loan (SLL) kepada debitur yang memiliki target sustainability sesuai dengan tujuan SDGs termasuk di dalamnya transisi energi debitur. Kredit tersebut merupakan bagian dari kredit ESG BNI.
“Tahun ini, BNI menargetkan portofolio ESG bisa mencapai Rp 71,27 triliun dan akan terus berusaha memperbesar portfolio SLL yang merupakan bagian dari kredit ESG BNI,” ungkap David kepada Kontan.
Lebih jauh, David menjelaskan, strategi yang dilakukan BNI di antaranya dengan membentuk unit khusus pembiayaan hijau terutama sektor energi terbarukan. Lalu, menyusun risk acceptance criteria dengan mempertimbangkan kriteria dari aspek ESG, pengembangan framework pembiayaan hijau, adopsi taksonomi hijau Indonesia yang saat ini beralih menjadi taksonomi keuangan berkelanjutan Indonesia.
Serta terus melakukan pengembangan kapabilitas SDM untuk mendukung ekspansi pembiayaan hijau dan berkelanjutan.
Per Juni 2024, BNI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 69,4 triliun untuk mendukung proyek-proyek hijau, tumbuh 2,27% secara year to date (Ytd).
Rinciannya, sebesar Rp 10,8 triliun disalurkan ke sektor energi terbarukan sebesar Rp 10,8 triliun. Lalu ke pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan sebesar Rp 29,4 triliun, dan transportasi ramah lingkungan Rp 3,9 triliun.
Di sisi operasional perusahaan, BNI melakukan usaha-usaha perbaikan dalam pengelolaan limbah menuju penerapan pengelolaan limbah dengan prinsip zero waste to landfill, termasuk program untuk menumbuhkan green lifestyle dalam budaya perusahaan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi BNI dalam menekan emisi yang berasal dari limbah.
Momen Penentu Adaro (ADRO), Investor Baru Bakal Terpincut?
Ini adalah momen penentu bagi Adaro (ADRO) terkait bisnisnya ke depan. Lantas, apakah para investor baru bakal terpincut dengan ADRO? - Halaman all [806] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #adro #adaro #saham-adro #adaro-andalan-indonesia #batubara-termal #rekomendasi-saham #dbs #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 22/09/24 01:02
v/15384548/
JAKARTA, investor.id – Rencana PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melepas (spin off) 99,99% saham PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) – unit usaha tambang batu bara termal – dengan nilai US$ 2,45-2,63 miliar dapat mengubah citra perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia tersebut.
“Namun, apakah langkah tersebut sebuah lompatan besar menuju model bisnis yang lebih hijau atau sekadar permainan strategi untuk memperbaiki citra perusahaan?” kata Managing Director Energy Shift Institute, Christina Ng dalam keterangannya, yang dikutip pada Minggu (22/9/2024).
Menurut dia, keputusan Adaro yang akhirnya melepas (spin off) bisnis batu bara termal menjadi titik penting dalam lanskap energi Indonesia, mengirim sinyal kuat ke pasar domestik maupun internasional. Untuk perusahaan yang meraup laba dari batu bara, langkah ini menunjukkan bahwa pemain batu bara paling mapan Indonesia pun juga merasakan tekanan transisi energi global.
“Meskipun penjualan saham tersebut dikemas sebagai upaya menyelaraskan dengan tren global, langkah Adaro ini akan menghadapi pengawasan ketat, terutama karena pelepasan kepemilikan dilakukan melalui penawaran publik,” jelas Christina.
Langkah tersebut menjadi peluang bagi Adaro untuk membuktikan komitmennya menuju bisnis yang lebih berkelanjutan dan menunjukkan kepemimpinan dalam divestasi yang bertanggung jawab. “Bagaimana Adaro menjalankan penjualan saham ini akan menentukan narasi keberlanjutan perusahaan ke depannya,” tutur dia.
Selama ini, perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil berada dalam pengawasan ketat atas klaim 'hijau' mereka. Sebagai pengekspor batu bara termal terbesar di dunia, Indonesia – termasuk Adaro – berada di bawah sorotan dunia.
Aksi spin off bisnis batu bara termal emiten berkode saham ADRO itu disinyalir untuk menarik basis investor baru, yakni investor yang fokus pada aspek keberlanjutan dan nilai jangka panjang masa depan rendah karbon.
Investor-investor tersebut tidak sekadar menginginkan aksi pelepasan operasi batu bara, yang cenderung dilihat sebagai gerakan simbolis dan pengabaian tanggung jawab. Para investor menginginkan komitmen terhadap keberlanjutan yang sesungguhnya. “Ini akan menjadi tantangan bagi Adaro,” ucap Christina.
Penawaran publik bakal membuka peluang bagi berbagai jenis pemegang saham, yang menambah kompleksitas pelepasan saham Adaro. Jika pembeli tidak berkomitmen mengurangi emisi, hal itu akan berdampak pada Adaro atau ADRO.
Sebagai contoh, dampak negatif pernah dirasakan raksasa tambang Australia, Rio Tinto dan BHP, lantaran pelepasan bisnis batu bara tidak menghasilkan pengurangan produksi batu bara, melainkan hanya mengalihkan beban emisi karbon ke perusahaan lain.
Meski tidak dapat secara langsung mengendalikan siapa pembeli saham dalam penawaran publik, ADRO dapat memengaruhi prosesnya. ADRO dapat membidik dan menarik minat investor dan institusi pendanaan yang memiliki komitmen ESG dan transisi energi sebagai pembeli potensial.
Adapun risiko terbesar yang dihadapi ADRO adalah greenwashing, yakni menjual aset batu bara tapi menutup mata bagaimana aset tersebut akan dikelola. Jika pemilik baru lebih memprioritaskan laba daripada tanggung jawab iklim, profil keberlanjutan ADRO akan terdampak.
“Penjualan aset batu bara hanyalah langkah awal. Hal yang paling penting adalah langkah Adaro selanjutnya,” ujar Christina.
Sebagai raksasa batu bara yang telah mendiversifikasi bisnisnya, langkah ADRO terhadap bisnis-bisnis lain terkait batu bara, termasuk PLTU, dan bagaimana modal yang diperoleh akan diinvestasikan kembali, akan diawasi secara ketat oleh investor.
Jika modal tersebut dikucurkan untuk proyek energi terbarukan, penyimpanan energi, atau mineral kritis seperti nikel dan aluminium yang sesuai standar keberlanjutan internasional, hal itu akan memperkuat pergeseran bisnis ADRO dari batu bara.
“Penjualan saham ini bukan hanya transaksi finansial, tapi juga ujian penentu bagi komitmen keberlanjutan Adaro,” pungkasnya.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Adaro Energy (ADRO) diperkirakan bakal kehilangan laba yang besar setelah melepas Adaro Andalan Indonesia (AAI). Namun, aksi tersebut sejalan dengan rencana strategis ADRO untuk berekspansi ke bisnis non batu bara.
Berdasarkan perhitungan DBS, AAI bakal menyumbang laba bersih US$ 800 juta ke ADRO pada tahun ini atau setara 80% dari total estimasi US$ 1,1 miliar. Itu berarti, ADRO akan kehilangan laba sebesar itu setelah melepas AAI.
DBS menilai, valuasi AAI senilai US$ 2,5 miliar sudah sesuai, yakni setara PER 3 kali. Apalagi, AAI merupakan perusahaan batu bara termal yang menguntungkan dan berada di posisi kedua nasional setelah PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Dalam pandangan DBS, penjualan seluruh saham AAI adalah langkah maju dalam transformasi ADRO menjadi perusahaan induk energi terintegrasi, bukan sebatas tambang batu bara. Itu akan mengurangi eksposur ADRO ke bisnis batu bara termal.
“Imbasnya, akses pendanaan ADRO akan lebih terbuka. Investor juga bakal mendukung ADRO menggarap proyek energi baru terbarukan,” tulis DBS dalam catatannya.
Sejauh ini, detail transaksi AAI belum jelas. Namun, pemegang saham ADRO tampaknya memang berniat melepas nilai dari bisnis batu bara.
Dengan berbagai pertimbangan, DBS mempertahankan rekomendasi buy saham ADRO dengan target harga Rp 4.000. Broker asing tersebut menilai, transaksi ini menjadi strategi pivot ADRO dari industri batu bara.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Dua Hal Ini Jadi Penentu Pergerakan Harga Batubara di Semester II-2024
Harga batubara di semester II-2024 ditentukan 2 hal pertama permintaan China dan kedua pemangkasan suku bunga global. [417] url asal
#batubara #harga-batubara #harga-batubara #harga-batubara-acuan-hba #batubara-kokas #batubara-termal #harga-batubara-termal #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #komoditas
(Kontan) 16/07/24 19:53
v/10985520/
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga batubara di semester II-2024 ditentukan dua hal pertama permintaan dari China dan kedua pemangkasan suku bunga acuan global. Kedua hal ini dinilai dapat meningkatkan permintaan komoditas energi tersebut.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan, harga batubara ke depannya akan tergantung permintaan, dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Hal itu seiring kemajuan China dalam mencapai tujuan iklimnya dan mematuhi standar karbon internasional yang lebih ketat.
Pada bulan Mei, pangsa pembangkit listrik tenaga batubara di Tiongkok mencapai rekor terendah sebesar 53%, turun dari 60% pada tahun sebelumnya, karena sumber energi terbarukan mencapai titik tertinggi baru.
Selain itu, China tidak menyetujui proyek pembuatan baja berbasis batubara pada semester pertama tahun ini, yang merupakan pertama kalinya China mengumumkan tujuan utama netralitas iklim pada tahun 2020.
Sebaliknya, pembangkit listrik tenaga batubara di AS diproyeksikan meningkat pada tahun ini dan pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2023 karena tingginya harga gas alam. Harga gas alam tinggi berarti negara-negara akan membakar lebih banyak batu bara untuk pembangkit listrik selama musim dingin mendatang.
Di samping itu, lanjut Sutopo, dampak pemotongan suku bunga mungkin akan membawa harga batubara lebih baik, karena penurunan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). Dalam kondisi dolar AS menguat akan membuat ongkos untuk beli lebih malah, imbasnya permintaan batu bara bisa melemah.
“Dinamika pertumbuhan dan permintaan dan juga faktor cuaca sebagai siklus tahunan mungkin akan membawa harga batubara yang lebih baik,” ujar Sutopo kepada Kontan.co.id, Selasa (16/7).
Sutopo memperkirakan, harga batubara kemungkinan diperdagangkan pada kisaran harga ratat-rata US$ 135 per metrik ton, dengan US$ 140 sebagai harga puncak dan US$ 130 per ton sebagai harga terendah.
Adapun pada semester I-2024, harga batubara dipandang tertekan akibat pertumbuhan global yang lemah, disertai kelebihan pasokan atau oversupply yang membuat harga batubara kurang menarik.
Dihubungi terpisah, Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mengatakan, harga batubara di semester pertama tahun ini tertekan oleh prospek suku bunga the Fed, perlambatan ekonomi global terutama China dan kelebihan pasokan (oversupply).
Kendati demikian, semester kedua walau kondisi masih oversupply, namun harapan meningkatnya prospek pemangkasan suku bunga oleh the Fed bisa mendukung harga. Tetapi perlu mewaspadai harga batu bara bakal terdampak data PDB China yang mengecewakan.
“Harga batu bara diperkirakan akan berkisar US$ 125 per ton – US$ 140 per ton,” imbuh Lukman kepada Kontan.co.id, Selasa (16/7).
Mengutip Barchart, harga batu bara Newcastle berjangka (futures) kontrak bulan Juli terpantau menguat 0,82% menjadi US$ 134,95 per ton pada Senin (15/7).
Suplai ke Konsorsium Vinacomin, Sumber Global Energy Datangkan Batubara dari Laos
T Sumber Global Energy Tbk (SGER) kembali mengirim batubara ke Vietnam yang didatangkan dari Laos. [306] url asal
#batubara #pt-sumber-global-energy-tbk #sger #saham-sger #batubara-termal #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #komoditas
(Kontan-Investasi) 11/07/24 18:49
v/10442146/
Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) kembali mengirim batubara ke Vietnam. Kali ini, SGER mengirim 70.000 ton batubara kepada Vinacomin Northern Coal.
Untuk diketahui, ini merupakan bagian dari kontrak pengiriman kepada Vinacomin senilai US$ 22,51 juta. Batubara ini dibeli SGER dari produsen yang berbasis di Laos, yakni dari Xekong Power Plant Company. Perusahaan ini beroperasi di Provinsi Saravan, sekitar 800 km di selatan Vientiane, Ibu Kota Laos.
Batubara yang dibeli memiliki spesifikasi nilai kalori alias net calorific value sebesar 4.833 (kcal)/kg, memiliki kandungan abu 28,65%, dan memiliki kandungan sulfur sebesar 0,43%.
Direktur Utama Sumber Global Energy Welly Thomas mengatakan, sebagai perusahaan trading batubara, SGER senantiasa selektif dalam memilih penjual.
Welly menilai, batubara yang dibeli dari Laos ini memiliki daya saing yang cukup kompetitif. Selain memiliki nilai jual yang cukup bersaing, permintaan terhadap batubara kalori rendah ini masih cukup baik, terutama dari negara berkembang.
Di negara Asia Tenggara, Vietnam menjadi negara dengan laju pertumbuhan permintaan tertinggi.
Di sisi lain, Laos memiliki cadangan batubara yang cukup banyak. Laos memiliki sekitar 554 juta ton cadangan batubara terbukti, dimana negara ini menduduki peringkat ke-37 di dunia. Sisa batubara Laos bisa bertahan untuk sekitar 106 tahun.
"Laos menjadi salah satu negara yang kami bidik sebagai sumber pembelian batubara. Ke depan kami akan terus menjajaki peluang pengiriman ke Vietnam dan juga negara lain, khususnya di Asia Tenggara, mengingat potensi kebutuhan batubara di wilayah ini masih cukup tinggi,” terang Welly dalam siaran pers, Kamis (10/7).
Dengan melihat prospek batubara yang masih baik, Welly menargetkan pendapatan SGER bisa tumbuh 10% tahun ini.