#30 tag 24jam
Menillik Sejarah Nominal Dividen Adaro Energy (ADRO), Kali Ini Paling Besar
ADRO akan menggelar RUPSLB pada 18 November 2024 dengan agenda meminta persetujuan pembagian dividen dan pergantian nama perusahaan. [390] url asal
#adro #rupslb #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #dividen-interim-jumbo #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan) 06/11/24 08:48
v/17559968/
Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) tengah bersiap untuk membagikan dividen tunai final dengan jumlah sebesar-besarnya US$ 2,65 miliar atas saldo laba perseroan per tanggal 31 Desember 2023.
Rencananya perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 November 2024 mendatang. Salah satu mata acaranya adalah perihal pembagian dividen.
Dalam sejarah ADRO, nominal dividen yang akan dibagikan sekarang jauh berbeda dari sebelumnya. Bisa dibilang ini menjadi rekor baru baru perusahaan tambang milik Garibaldi Tohir tersebut.
Dalam dua tahun terakhir jumlah dividen terbesar yang dibagikan ADRO adalah sebesar US$ 500 juta. Bahkan pada pembagian dividen dua yang terakhir, besarannya hanya sebesar US$ 400 juta.
Berikut sejarah pembagian dividen ADRO dalam 2 tahun terakhir :
Dividen Final pada Mei 2024
Pertengahan Mei lalu, ADRO membagikan dividen US$400 juta. ADRO menetapkan pembagian dividen tunai final untuk tahun buku 2023 mengacu kepada kurs tengah Bank Indonesia tanggal 29 Mei 2024 senilai Rp16.095 per dolar AS. Alhasil, jumlah keseluruhan dividen tunai final yang akan dibagikan perseroan dalam mata uang rupiah adalah Rp6,43 triliun untuk 30,75 miliar saham atau sebesar Rp209,31 per saham.
Dividen Interim pada Desember 2023
Penghujung 2023, ADRO membagikan dividen interim untuk tahun buku 2023 sebesar US$ 400 juta yang berasal dari laba bersih. Mengacu perhitungan kurs saat itu, jumlah dividen yang dibagian sebesar Rp 6,2 triliun dan masing-masing pemegang saham akan mendapatkan sekitar Rp200,98 per saham.
Dividen Final pada Mei 2023
Pada Mei 2023, ADRO membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2022 sebesar US$ 500 juta atau setara Rp7,36 triliun. Dengan kurs tengah Rp14.878 per dolar, maka jumlah dividen yang diberikan sebesar Rp 7,36 triliun. Setiap pemegang saham berhak mendapat Rp 240,78 per saham.
Dividen Interim pada Desember 2022
Masih sama seperti sebelumnya, ADRO membagikan dividen interm untuk tahun buku 2022 sebesar USD 500 juta. Jumlah tersebut setara dengan Rp 7,78 triliun (dengan asumsi kurs Rp 15.577 per dolar AS).
Pada perdagangan Selasa (5/10) saham ADRO ditutup menguat 2,80% ke level Rp 4.040.
Bakal Tebar Dividen Jumbo, Begini Sejarah Nominal Dividen Adaro Energy (ADRO)
ADRO akan menggelar RUPSLB pada 18 November 2024 dengan agenda meminta persetujuan pembagian dividen dan pergantian nama perusahaan. [391] url asal
#adro #rupslb #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #dividen-interim-jumbo #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan) 05/11/24 13:37
v/17506183/
Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) tengah bersiap untuk membagikan dividen tunai final dengan jumlah sebesar-besarnya US$ 2,65 miliar atas saldo laba perseroan per tanggal 31 Desember 2023.
Rencananya perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 November 2024 mendatang. Salah satu mata acaranya adalah perihal pembagian dividen.
Dalam sejarah ADRO, nominal dividen yang akan dibagikan sekarang jauh berbeda dari sebelumnya. Bisa dibilang ini menjadi rekor baru baru perusahaan tambang milik Garibaldi Tohir tersebut.
Dalam dua tahun terakhir jumlah dividen terbesar yang dibagikan ADRO adalah sebesar US$ 500 juta. Bahkan pada pembagian dividen dua yang terakhir, besarannya hanya sebesar US$ 400 juta.
Berikut sejarah pembagian dividen ADRO dalam 2 tahun terakhir :
Dividen Final pada Mei 2024
Pertengahan Mei lalu, ADRO membagikan dividen US$400 juta. ADRO menetapkan pembagian dividen tunai final untuk tahun buku 2023 mengacu kepada kurs tengah Bank Indonesia tanggal 29 Mei 2024 senilai Rp16.095 per dolar AS. Alhasil, jumlah keseluruhan dividen tunai final yang akan dibagikan perseroan dalam mata uang rupiah adalah Rp6,43 triliun untuk 30,75 miliar saham atau sebesar Rp209,31 per saham.
Dividen Interim pada Desember 2023
Penghujung 2023, ADRO membagikan dividen interim untuk tahun buku 2023 sebesar US$ 400 juta yang berasal dari laba bersih. Mengacu perhitungan kurs saat itu, jumlah dividen yang dibagian sebesar Rp 6,2 triliun dan masing-masing pemegang saham akan mendapatkan sekitar Rp200,98 per saham.
Dividen Final pada Mei 2023
Pada Mei 2023, ADRO membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2022 sebesar US$ 500 juta atau setara Rp7,36 triliun. Dengan kurs tengah Rp14.878 per dolar, maka jumlah dividen yang diberikan sebesar Rp 7,36 triliun. Setiap pemegang saham berhak mendapat Rp 240,78 per saham.
Dividen Interim pada Desember 2022
Masih sama seperti sebelumnya, ADRO membagikan dividen interm untuk tahun buku 2022 sebesar USD 500 juta. Jumlah tersebut setara dengan Rp 7,78 triliun (dengan asumsi kurs Rp 15.577 per dolar AS).
Hingga perdagangan pukul 13.30 wib, saham ADRO telah menguat 4,58% ke level Rp 4.110.
Adaro Energy (ADRO) Akan Bagikan Dividen Tunai Jumbo, Yield Bisa Lebih dari 32%
Total tambahan dividen tunai final ADRO mencapai Rp 41,42 triliun atau setara dengan Rp 1.346 per saham. [417] url asal
#bursa-efek-indonesia #adro #yield-dividen #saham-adro #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #rapat-umum-pemegang-saham-luar-biasa #dividen-interim-jumbo #adaro-green #berita-na
(Kontan-Investasi) 05/11/24 13:29
v/17504492/
Reporter: Rashif Usman, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melonjak tinggi pada perdagangan sesi I hari ini, Selasa (5/11). Harga saham ADRO ditutup menguat 4,58% ke Rp 4.110 per saham setelah sempat melambung hingga ke Rp 4.300 per saham atau naik 9,41%.
Lonjakan harga saham ADRO disebabkan oleh rencana pembagian tambahan dividen tunai final jumbo yang diumumkan kemarin, Senin (4/11). Dalam keterbukaan informasi gelaran Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 November 2024 mendatang, ADRO menyebutkan dua mata acara. Salah satunya adalah pembagian dividen dari saldo laba.
"Adaro bermaksud untuk mengusulkan kepada para pemegang saham untuk menyetujui penggunaan sebagian dari saldo laba per tanggal 31 Desember 2023 yang akan dibagikan sebagai tambahan dividen tunai final dalam jumlah sebesar-besarnya sampai dengan US$ 2,63 miliar," ungkap direksi Adaro Energy dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/11).
Dengan kurs Jisdor Rp 15.751 per dolar AS pada Senin (4/11), total dividen ADRO mencapai Rp 41,42 triliun. Dengan total modal disetor Adaro yang mencapai 30,76 miliar saham, maka tambahan dividen tunai final Adaro sebesar Rp 1.346 per saham.
Dengan harga saham ADRO di penutupan sesi I hari ini, Rp 4.110 per saham, yield tambahan dividen tunai final Adaro menyentuh 32,75%.
Adaro menyebutkan bahwa masih memiliki saldo kas internal secara konsolidasian yang cukup untuk melaksanakan pembagian dividen tunai. Namun, dalam rangka pengelolaan dana kas internal dan arus kas perseroan yang efisien, tidak menutup kemungkinan Adaro juga dapat menggunakan pendanaan pihak ketiga jangka pendek untuk pembayaran sebagian dari dividen tunai.
Informasi saja, per Desember 2023, saldo laba Adaro yang belum dicadangkan mencapai US$ 5,15 miliar. Sementara kas dan setara kas Adaro pada akhir September 2024 mencapai US$ 3,2 miliar.
Adaro merencanakan pembagian tambahan dividen tunai final agar para pemegang saham ADRO, atas pilihannya sendiri, dapat berpartisipasi dalam pembelian saham PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) melalui pelaksanaan Penawaran Umum Oleh Pemegang Saham. Adaro telah mengantongi restu pemegang saham untuk melepas AAI pada RUPSLB tanggal 18 Oktober 2024 lalu.
Pada RUPSLB 18 November 2024 mendatang, Adaro juga akan meminta restu perubahan nama perseroan merupakan salah satu langkah perusahaan memperkenalkan identitas baru sebagai entitas induk yang akan lebih berfokus pada bisnis hijau dan pengembangan proyek-proyek ramah lingkungan dengan pilar bisnis Adaro Minerals dan Adaro Green, setelah terjadinya pemisahan pilar bisnis pertambangan batu bara termal dan beberapa bisnis pendukungnya.
Adaro (ADRO) Bakal Bagikan Dividen Tunai, Intip Bocorannya
Perseroan akan menggelar RUPSLB pada 18 November untuk meminta restu pemegang saham terkait pembagian dividen dan perubahan nama. [328] url asal
#adro #jadwal-pembagian-dividen #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 05/11/24 10:17
v/17495578/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengumumkan kabar baik bagi para pemegang sahamnya. Perusahaan yang bergerak di bisnis tambang itu akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 November 2024 mendatang.
Melansir pada keterbukaan informasi BEI (4/11), ADRO akan menyelenggarakan RUPS secara online maupun offline pada Senin 18 November 2024 pukul 09.00 WIB di Cyber 2 Tower lantai 26. Ada dua mata acara dalam rapat tersebut.
Mata acara pertama, persetujuan penggunaan sebagian saldo laba perusahaan untuk dibagikan sebagai tambahan dividen tunai final.
Dalam penjelasannya, ADRO bermaksud untuk mengusulkan kepada para pemegang saham untuk menyetujui penggunaan sebagian dari saldo laba perseroan per tanggal 31 Desember 2023 yang akan dibagikan sebagai tambahan dividen tunai final dalam jumlah sebesar-besarnya sampai dengan US$ 2,62 miliar.
"Perseroan memiliki saldo kas internal secara konsolidasian yang cukup untuk melaksanakan pembagian dividen tunai. Namun demikian, dalam rangka pengelolaan dana kas internal dan arus kas perseroan yang efisien, tidak menutup kemungkinan perseroan juga dapat menggunakan pendanaan pihak ketiga jangka pendek untuk pembayaran sebagian dari dividen tunai," tulis Direksi ADRO di keterbukaan informasi, Senin (4/11).
Mata acara kedua, rapat tersebut juga akan meminta perubahan nama perseroan.
Rencana perubahan nama perseroan merupakan salah satu langkah perusahaan memperkenalkan identitas baru sebagai entitas induk yang akan lebih berfokus pada bisnis hijau dan pengembangan proyek-proyek ramah lingkungan dengan pilar bisnis Adaro Minerals dan Adaro Green, setelah terjadinya pemisahan pilar bisnis pertambangan batu bara termal dan beberapa bisnis pendukungnya.
Pada perdagangan Selasa (5/11) pukul 09.48 WIB, saham ADRO melesat 8,4% atau berada di posisi Rp 4.260 per saham.
Tonton:Harga Emas Antam Hari Ini Masih Bergeming (5 November 2024)
Intip Top Gainers LQ45 saat IHSG Melemah pada Senin (4/11), Cek BBNI, ADRO, dan INDF
Berikut top gainers LQ45 saat IHSG Melemah pada Senin (4/11). Periksa kinerja ketiga emiten di awal bulan ini [580] url asal
#ihsg #pt-bank-negara-indonesia-tbk #pt-indofood-sukses-makmur-tbk-indf #indf #unlisted #saham-adro #saham-lq45 #jangan-lewatkan #saham-bbni #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #top-gainers-lq45
(Kontan-Investasi) 04/11/24 16:39
v/17464254/
Penulis: Bimo Kresnomurti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Simak daftar Top Gainers LQ45 saat IHSG Melemah pada Senin (4/11). Cek informasi terkait posisi ketiga emiten yang alami kenaikan tertinggi pada indeks LQ45.
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ditutup menguat di bursa, berakhir pada harga Rp 7.450 per saham. Dibandingkan penutupan hari Jumat (1/11), saham INDF naik 2,05% dari harga sebelumnya di Rp 7.300 per saham.
Pembukaan hari ini, INDF berada di level yang sama dengan penutupan sebelumnya, yakni Rp 7.300 per saham.
Selama perdagangan, saham INDF mencapai harga tertinggi Rp 7.525 dan terendah Rp 7.300, dengan kenaikan harian sebesar Rp 150 per saham.
Dalam sepekan terakhir, harga saham INDF mengalami penurunan 1,00% dibanding harga pada 28 Oktober 2024 yang berada di Rp 7.525. Namun, dibandingkan dengan harga setahun lalu pada 3 November 2023 yang sebesar Rp 6.375, saham ini telah naik 16,86%.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), total nilai transaksi saham INDF mencapai Rp 115 miliar dengan volume transaksi sebesar 154.943 lot.
Lewat laba bersih per saham (EPS) Rp 1.330, saham ini memiliki rasio harga terhadap laba (PER) sebesar 5,49 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) sebesar 0,99 kali.

ADRO Naik Lebih dari 3%
Berikutnya ada saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang turut menguat pada penutupan bursa, ditutup di harga Rp 3.930 per saham. Dibandingkan dengan penutupan hari Jumat (1/11), harga saham ADRO meningkat sebesar 3,69% dari posisi sebelumnya di Rp 3.790.
Saham ini dibuka lebih tinggi dari harga penutupan sebelumnya, yaitu di Rp 3.840 per saham. Selama perdagangan, saham ADRO mencapai harga tertinggi Rp 3.940 dan terendah Rp 3.840, dengan kenaikan harian Rp 140 per saham.
Selama sepekan terakhir, harga saham ADRO mengalami kenaikan sebesar 6,79% dibanding harga pada 28 Oktober 2024 yang berada di Rp 3.680. Secara tahunan, harga saham ini telah meningkat 57,83% dari Rp 2.490 pada 3 November 2023.
Catatan BEI menunjukkan total nilai transaksi saham ADRO mencapai Rp 548,80 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 1.410.505 lot.
Dengan laba bersih per saham (EPS) Rp 776, saham ini memiliki rasio harga terhadap laba (PER) sebesar 4,88 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) sebesar 1,02 kali.
Tonton:IHSG Turun, CEK 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi 1 November 2024
BBNI Turut Menguat
Terakhir, ada saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengalami penguatan pada penutupan bursa, dengan harga akhir di Rp 5.300 per saham.
Dari penutupan hari Jumat (1/11), harga saham BBNI meningkat sebesar 1,92% dari Rp 5.200. Saham ini dibuka lebih tinggi dari harga penutupan sebelumnya, yaitu Rp 5.225 per saham.
Selama sesi perdagangan, saham BBNI mencatatkan harga tertinggi di Rp 5.325 dan terendah di Rp 5.150, dengan kenaikan harian sebesar Rp 100 per saham.
Dari data sepekan terakhir (28 Oktober 2024), harga saham BBNI turun 3,64% dibandingkan harga saat itu, yang berada di Rp 5.500. Namun, dibandingkan dengan harga setahun lalu pada 3 November 2023, saham ini telah meningkat sebesar 8,38% dari Rp 4.890.
Data BEI ungkap total nilai transaksi saham BBNI mencapai Rp 166 miliar, dengan volume perdagangan sebanyak 316.695 lot.
Lewat laba bersih per saham (EPS) sebesar Rp 583, saham ini memiliki rasio harga terhadap laba (PER) sebesar 8,92 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) sebesar 1,23 kali.
Kinerja Adaro (ADRO) Turun Hingga Kuartal III-2024, Simak Rekomendasi Sahamnya
Kinerja Adaro Energy Indonesia (ADRO) melandai dalam periode sembilan bulan yang berakhir September 2024. [463] url asal
#rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #garibaldi-boy-thohir #adaro-energy #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomen
(Kontan-Investasi) 31/10/24 19:54
v/17270709/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melandai dalam periode sembilan bulan 2024. ADRO mengalami penurunan pendapatan usaha sedalam 10,64% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari US$ 4,98 miliar menjadi US$ 4,45 miliar.
Secara bottom line, ADRO meraih laba bersih sebesar US$ 1,18 miliar hingga September 2024. Laba bersih Adaro Energy menurun 2,47% ketimbang laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ADRO per September 2023, yang kala itu sebesar US$ 1,21 miliar.
Meski terjadi penurunan, tapi Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani menilai kinerja ADRO berada di atas ekspektasi. Hendriko menyoroti penurunan pendapatan 3,3% secara kuartalan QoQ pada kuartal III-2024, dan penurunan 10,64% secara tahunan atau year on year (YoY) dalam periode sembilan bulan 2024.
Menurut dia, hasil itu masih lebih baik dibandingkan ekspektasi penurunan 12,8% YoY dari Stockbit dan 19,3% YoY dari konsensus untuk proyeksi di tahun 2024. "Kami memperkirakan pendapatan ADRO yang resilient ditopang oleh peningkatan volume penjualan, mengingat harga batubara Indonesia (ICI) cenderung stagnan pada kuartal III-2024," terang Hendriko dalam risetnya, Kamis (31/10).
Hendriko melanjutkan, ADRO meraih laba bersih sebesar US$ 404 juta pada kuartal III-2024 atau turun tipis 0,1% QoQ. Sedangkan secara tahunan, laba bersih ADRO turun 2,47%. Hendriko menilai hasil ini di atas ekspektasi karena setara dengan 82% dari estimasi Stockbit dan 96% dari estimasi konsensus untuk proyeksi di tahun ini.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Axell Ebenhaezer juga menilai kinerja ADRO hingga kuartal III-2024 relatif sesuai ekspektasi. Hal ini sejalan dengan rata-rata indeks harga batubara yang masih melandai.
Axell menaksir outlook kinerja ADRO akan stabil di sisa tahun ini. "Harga batubara di kuartal IV-2024 kemungkinan akan naik tipis dengan potensi mengetatnya supply batubara di Indonesia memasuki musim hujan," ujar Axell.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas melihat peluang bagi ADRO untuk memperbaiki kinerja di sisa tahun 2024. Seiring potensi kenaikan harga batubara dan permintaan yang meningkat menjelang musim dingin.
Sukarno menyarankan hold saham ADRO jika bisa break up level Rp 3.710 untuk target harga di Rp 4.050. Sedangkan Axell melihat saham ADRO masih layak dikoleksi dengan target harga di level Rp 4.000.
Axell menyoroti pelepasan segmen batubara termal melalui penjualan PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) yang akan berdampak pada kinerja ADRO. Namun, fokus ADRO pada pengembangan pilar Adaro Green bisa memoles prospek jangka panjang bagi emiten milik taipan Garibaldi "Boy" Thohir ini.
Apalagi, pemerintahan baru juga menyampaikan komitmen untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan. Hal ini nantinya bisa membuat saham ADRO lebih atraktif, terutama bagi investor asing. Adapun, pada perdagangan Kamis (31/10) harga ADRO menurun 0,55% ke posisi Rp 3.620 per saham.
Pantau Harga Saham DKFT, BRMS, dan ADRO yang Menghijau di Bursa Senin (28/10)
Cek kinerja saham DKFT, BRMS, dan ADRO yang Menghijau di Bursa Senin (28/10). Simak informasi ketiga emiten berikut [559] url asal
#ihsg #pt-bumi-resource-minerals-tbk-brms #pt-central-omega-resources-tbk #unlisted #harga-saham #saham-adro #jangan-lewatkan #saham-dkft #saham-brms #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #berita-nas
(Kontan-Investasi) 28/10/24 21:59
v/17118411/
Penulis: Bimo Kresnomurti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Intip harga saham DKFT, ADRO, dan BRMS di penutupan bursa hari Senin (28/10). Ketiga emiten mengalami kenaikan jelang berakhirnya bulan Oktober 2024.
Saham DKFT (PT Central Omega Resources Tbk) ditutup dengan penguatan. Pada akhir perdagangan, harga saham DKFT tercatat di Rp 157 per lembar.
Dibandingkan dengan penutupan Jumat (25/10), harga saham DKFT naik 3,97% dari Rp 151. Saham ini dibuka lebih rendah dari harga penutupan sebelumnya, yakni di Rp 150 per saham.
Selama perdagangan, saham DKFT mencapai harga tertinggi Rp 159 dan terendah Rp 150, dengan kenaikan harian sebesar Rp 6 per saham.
Jika dibandingkan dengan harga tujuh hari sebelumnya (21 Oktober 2024), harga saham DKFT naik 1,29% dari Rp 155. Dalam setahun terakhir (27 Oktober 2023), harga saham DKFT telah meningkat 55,45% dari Rp 101.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), total nilai transaksi saham DKFT mencapai Rp 5,70 miliar, dengan volume perdagangan sebesar 366.292 lot.
Dengan laba per saham (EPS) Rp 54, saham ini memiliki rasio price to earning (PER) sebesar 2,80 kali dan price to book value (PBV) sebesar 1,12 kali.

Saham BRMS Naik Lebih dari 6%
Kemudian, ada saham BRMS (Bumi Resources Minerals Tbk) mengalami penguatan. Pada akhir perdagangan, harga saham BRMS berada di Rp 374 per lembar.
Dibandingkan dengan penutupan Jumat (25/10), harga saham BRMS naik 6,86% dari Rp 350. Saham ini dibuka pada level yang sama dengan harga penutupan sebelumnya, yaitu Rp 350 per saham.
Sepanjang hari, harga tertinggi yang dicapai saham BRMS adalah Rp 380, dengan harga terendah Rp 348, dan mencatat kenaikan Rp 24 per saham dalam satu hari perdagangan.
Jika dihitung sejak tujuh hari yang lalu (21 Oktober 2024), harga saham BRMS sudah naik 8,72% dari Rp 344. Dalam satu tahun terakhir (27 Oktober 2023), harga saham BRMS telah meningkat 96,84% dari posisi sebelumnya di Rp 190.
BEI melaporkan total nilai transaksi saham BRMS mencapai Rp 360,00 miliar, dengan volume transaksi sebesar 9.819.873 lot.
Dengan laba per saham (EPS) sebesar Rp 2, saham ini memiliki rasio price to earning (PER) sebesar 175,00 kali, dan price to book value (PBV) sebesar 2,55 kali.
Tonton:IHSG Masih Turun, CEK 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi 25 Oktober 2024
ADRO Naik Tipis
Terakhir, ada saham ADRO (PT Adaro Energy Tbk) yang mengalami penguatan tipis. Pada akhir perdagangan, saham ADRO berada di harga penutupan Rp 3.680 per lembar.
Jika dibandingkan dengan penutupan hari Jumat (25/10), harga saham ADRO naik 0,55% dari Rp 3.660. Saham ADRO dibuka lebih tinggi dari harga penutupan sebelumnya, tepatnya di Rp 3.690 per saham.
Sepanjang hari, saham ini mencatat harga tertinggi di Rp 3.730 dan terendah di Rp 3.650, dengan kenaikan Rp 20 per saham dalam satu hari perdagangan.
Dalam tujuh hari terakhir (21 Oktober 2024), harga saham ADRO turun -1,60% dari harga sebelumnya di Rp 3.740. Jika melihat pergerakan dalam satu tahun terakhir (27 Oktober 2023), harga saham ADRO telah meningkat 39,39% dari harga saat itu yang tercatat Rp 2.640.
Menurut data BEI, total nilai transaksi saham ADRO mencapai Rp 146,00 miliar dengan volume transaksi sebesar 395.959 lot.
Lewat EPS atau laba per saham sebesar Rp 829, rasio PER saham ini berada di 4,41 kali, sedangkan rasio PBV adalah 0,97 kali.
Simak Prospek ADRO di Tengah Rencana Aksi Korporasi dan Rekomendasi Analis
Prospek PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dipandang tetap positif di tengah rencana aksi korporsinya, simak rekomendasi analis. [817] url asal
#energi-terbarukan #adro #rekomendasi-saham #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #arinda-izzaty #adaro-minerals-indonesia #berita-nasional #indones
(Kontan-Investasi) 26/10/24 16:27
v/17020870/
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dipandang tetap positif di tengah rencana aksi korporsinya. Adapun perseroan bakal melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI).
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, pelepasan AAI akan berdampak signifikan pada fundamental ADRO. Wajar saja, AAI memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi.
Berdasarkan profoma laporan keuangan per 30 Juni 2024, ADRO juga memperkirakan pendapatan dan laba bersih, masing-masing turun 65% dan 64%. "Namun, divestasi ini juga bisa memberikan keuntungan strategis," kata Arinda kepada Kontan.co.id, Kamis (24/10).
Menurutnya, dengan mengurangi keterlibatan di sektor batubara termal, ADRO dapat fokus pada diversifikasi energi yang lebih ramah lingkungan, seperti energi terbarukan (EBT). Selain itu, pengurangan eksposur terhadap batubara bisa membantu ADRO mengelola risiko yang muncul dari ketidakpastian di pasar batubara global, seperti fluktuasi harga dan perubahan regulasi.
"Meskipun ada tekanan, namun secara prospek jangka panjang kami melihat ini sesuatu yang sangat baik, apalagi energi terbarukan juga mulai bersemi dan menjadi salah satu perhatian untuk menuju Net Zero Emission di masa yang akan datang," paparnya.
Di sisi lain, Arinda juga tak menepis adanya ketidakpastian dari perubahan arah bisnis ADRO. Karena memang, prospeknya juga akan tergantung dari keberhasilan perseroan dalam membangun bisnis baru yang bisa menggantikan peran AAI.
Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas turut menyoroti prospek ADRO yang akan turun terlebih dahulu setelah menjual AAI dalam jangka menengah. Namun, ia juga menilai hal tersebut sudah dipertimbangkan manajemen ADRO.
Sementara itu, alih fokus ke bisnis EBT dinilai menjadi langkah yang tepat seiring target bauran EBT terus meningkat. "Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis energi terbarukan terus mengalami pertumbuhan," sebutnya.
Arinda melanjutkan, untuk jangka pendek segmen batubara ADRO masih akan menjadi kontributor utama pendapatan. Perlu diingat, ADRO memiliki investasi dalam pertambangan batubara metalurgi melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Terlebih dia melihat batubara metalurgi, yang digunakan dalam industri baja, masih memiliki permintaan tinggi, khususnya di Asia. "Dengan pertumbuhan industri infrastruktur dan manufaktur di wilayah tersebut, segmen ini dapat menjadi salah satu pendorong utama pendapatan ADRO, menggantikan peran batubara termal," terangnya.
Dus, Arinda berpendapat hal ini bisa membantu ADRO mempertahankan posisinya di pasar batubara yang tersisa. "Terutama di tahun mendatang yang mana permintaan batubara diharapkan akan mengalami kenaikan," lanjutnya.
Lalu untuk jangka menegah akan bergeser menjadi segmen pengolahan mineral, yang dikelola ADMR. Pilarmas Investindo berpandangan segmen ini memiliki potensi besar, terutama karena Indonesia tengah mendorong hilirisasi mineral untuk meningkatkan nilai tambah.
"ADRO dapat memanfaatkan peluang ini dengan memperluas bisnis pengolahan mineral seperti smelter atau produk bernilai tambah lainnya dari bahan tambang," katanya.
Selain itu, ADRO juga memiliki infrastruktur dan utilitas pendukung, seperti infrastruktur transportasi dan pelabuhan yang mendukung distribusi batubara dan mineral. Meski kontribusi pendapatannya cenderung mini, sektor ini dinilai dapat menyediakan pendapatan tambahan yang stabil, terutama jika ADRO memperluas layanan logistik dan infrastruktur yang ada.
Baru kemudian di jangka panjang kontributor utama dari EBT. Arinda mengatakan, ADRO sudah mulai mendiversifikasi ke sektor EBT, seperti proyek-proyek energi surya dan angin.
Seiring dengan transisi global menuju energi bersih, segmen tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber pendapatan baru yang berkembang pesat dalam jangka panjang.
Bicara batubara, analis NH Korindo Sekuritas Axell Ebenhaezer mencermati, kinerja ADRO masih cukup tangguh di tengah fluktuasi harga. Hal ini seiring dengan peningkatan volume produksi perseroan yang meningkat.
Pada semester I-2024, ADRO mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 7% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi 35,74 juta ton. "Hal ini tercermin juga dari volume penjualan perusahaan yang meningkat 7% YoY dari 32,62 juta ton menjadi 34,94 juta ton," sebutnya.
Apalagi ADMR turut menggenjot produksinya. Analis Sinarmas Sekuritas, Axel Leonardo menuturkan produksi batubara ADMR tumbuh 17% YoY menjadi 3 juta ton.
Menurutnya, jika laju saat ini terus berlanjut, perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mencapai total produksi 6 juta ton pada akhir tahun ini, lebih cepat dari target awal yang ditetapkan untuk tahun 2025.
"Kami yakin bahwa perusahaan akan mempertahankan produksi ini di kuartal-kuartal mendatang, terutama dengan pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung seperti jalan angkut dan konveyor pemuatan tongkang kedua. Hal ini akan meningkatkan kapasitas pemuatan menjadi 3.000 ton per jam," papar Axel.
Sementara itu, rasio pengupasan sedikit meningkat menjadi 3,5 kali, sehingga rata-rata untuk semester I 2024 menjadi 3,5 kali. Tingkat rasio pengupasan ini masih sejalan dengan target tahunan sebesar 3,6 kali.
Dari berbagai hal itu, seluruh analis memberikan rating hold ADRO. Adapun Arinda memasang target harga di Rp 4.000 dan Sukarno di Rp 4.050. Sementara analis BNI Sekuritas, Aurelie Amanda memasang target harga di Rp 3.900.
"Namun tetap batasi risiko jika kembali cenderung bergerak melemah," tutup Sukarno.
Prospek Jangka Panjang Adaro Energy (ADRO) Tetap Menarik, Cek Rekomendasi Analis
Prospek PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dipandang tetap positif di tengah rencana aksi korporsinya, simak rekomendasi analis. [817] url asal
#energi-terbarukan #adro #rekomendasi-saham #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #arinda-izzaty #adaro-minerals-indonesia #berita-nasional #indones
(Kontan-Investasi) 24/10/24 21:23
v/16941115/
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dipandang tetap positif di tengah rencana aksi korporsinya. Adapun perseroan bakal melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI).
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, pelepasan AAI akan berdampak signifikan pada fundamental ADRO. Wajar saja, AAI memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi.
Berdasarkan profoma laporan keuangan per 30 Juni 2024, ADRO juga memperkirakan pendapatan dan laba bersih, masing-masing turun 65% dan 64%. "Namun, divestasi ini juga bisa memberikan keuntungan strategis," kata Arinda kepada Kontan.co.id, Kamis (24/10).
Menurutnya, dengan mengurangi keterlibatan di sektor batubara termal, ADRO dapat fokus pada diversifikasi energi yang lebih ramah lingkungan, seperti energi terbarukan (EBT). Selain itu, pengurangan eksposur terhadap batubara bisa membantu ADRO mengelola risiko yang muncul dari ketidakpastian di pasar batubara global, seperti fluktuasi harga dan perubahan regulasi.
"Meskipun ada tekanan, namun secara prospek jangka panjang kami melihat ini sesuatu yang sangat baik, apalagi energi terbarukan juga mulai bersemi dan menjadi salah satu perhatian untuk menuju Net Zero Emission di masa yang akan datang," paparnya.
Di sisi lain, Arinda juga tak menepis adanya ketidakpastian dari perubahan arah bisnis ADRO. Karena memang, prospeknya juga akan tergantung dari keberhasilan perseroan dalam membangun bisnis baru yang bisa menggantikan peran AAI.
Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas turut menyoroti prospek ADRO yang akan turun terlebih dahulu setelah menjual AAI dalam jangka menengah. Namun, ia juga menilai hal tersebut sudah dipertimbangkan manajemen ADRO.
Sementara itu, alih fokus ke bisnis EBT dinilai menjadi langkah yang tepat seiring target bauran EBT terus meningkat. "Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis energi terbarukan terus mengalami pertumbuhan," sebutnya.
Arinda melanjutkan, untuk jangka pendek segmen batubara ADRO masih akan menjadi kontributor utama pendapatan. Perlu diingat, ADRO memiliki investasi dalam pertambangan batubara metalurgi melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Terlebih dia melihat batubara metalurgi, yang digunakan dalam industri baja, masih memiliki permintaan tinggi, khususnya di Asia. "Dengan pertumbuhan industri infrastruktur dan manufaktur di wilayah tersebut, segmen ini dapat menjadi salah satu pendorong utama pendapatan ADRO, menggantikan peran batubara termal," terangnya.
Dus, Arinda berpendapat hal ini bisa membantu ADRO mempertahankan posisinya di pasar batubara yang tersisa. "Terutama di tahun mendatang yang mana permintaan batubara diharapkan akan mengalami kenaikan," lanjutnya.
Lalu untuk jangka menegah akan bergeser menjadi segmen pengolahan mineral, yang dikelola ADMR. Pilarmas Investindo berpandangan segmen ini memiliki potensi besar, terutama karena Indonesia tengah mendorong hilirisasi mineral untuk meningkatkan nilai tambah.
"ADRO dapat memanfaatkan peluang ini dengan memperluas bisnis pengolahan mineral seperti smelter atau produk bernilai tambah lainnya dari bahan tambang," katanya.
Selain itu, ADRO juga memiliki infrastruktur dan utilitas pendukung, seperti infrastruktur transportasi dan pelabuhan yang mendukung distribusi batubara dan mineral. Meski kontribusi pendapatannya cenderung mini, sektor ini dinilai dapat menyediakan pendapatan tambahan yang stabil, terutama jika ADRO memperluas layanan logistik dan infrastruktur yang ada.
Baru kemudian di jangka panjang kontributor utama dari EBT. Arinda mengatakan, ADRO sudah mulai mendiversifikasi ke sektor EBT, seperti proyek-proyek energi surya dan angin.
Seiring dengan transisi global menuju energi bersih, segmen tersebut dinilai berpotensi menjadi sumber pendapatan baru yang berkembang pesat dalam jangka panjang.
Bicara batubara, analis NH Korindo Sekuritas Axell Ebenhaezer mencermati, kinerja ADRO masih cukup tangguh di tengah fluktuasi harga. Hal ini seiring dengan peningkatan volume produksi perseroan yang meningkat.
Pada semester I-2024, ADRO mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 7% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi 35,74 juta ton. "Hal ini tercermin juga dari volume penjualan perusahaan yang meningkat 7% YoY dari 32,62 juta ton menjadi 34,94 juta ton," sebutnya.
Apalagi ADMR turut menggenjot produksinya. Analis Sinarmas Sekuritas, Axel Leonardo menuturkan produksi batubara ADMR tumbuh 17% YoY menjadi 3 juta ton. Menurutnya, jika laju saat ini terus berlanjut, perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mencapai total produksi 6 juta ton pada akhir tahun ini, lebih cepat dari target awal yang ditetapkan untuk tahun 2025.
"Kami yakin bahwa perusahaan akan mempertahankan produksi ini di kuartal-kuartal mendatang, terutama dengan pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung seperti jalan angkut dan konveyor pemuatan tongkang kedua. Hal ini akan meningkatkan kapasitas pemuatan menjadi 3.000 ton per jam," papar Axel.
Sementara itu, rasio pengupasan sedikit meningkat menjadi 3,5 kali, sehingga rata-rata untuk semester I 2024 menjadi 3,5 kali. Tingkat rasio pengupasan ini masih sejalan dengan target tahunan sebesar 3,6 kali.
Dari berbagai hal itu, seluruh analis memberikan rating hold ADRO. Adapun Arinda memasang target harga di Rp 4.000 dan Sukarno di Rp 4.050. Sementara analis BNI Sekuritas, Aurelie Amanda memasang target harga di Rp 3.900.
"Namun tetap batasi risiko jika kembali cenderung bergerak melemah," tutup Sukarno.
Adaro Energy (ADRO) Segera Lepas Bisnis Batubara Termal, Simak Rekomendasi Sahamnya
Adaro Energy Indonesia (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal. [1,326] url asal
#adro #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #adaro-andalan-indonesia #rapat-umum-pemegang-saham-luar-biasa #berita-nasional #indonesia #pemerintah
(Kontan - Terbaru) 19/10/24 11:06
v/16689515/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Restu itu didapat dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) ADRO yang digelar pada Jumat (18/10).
Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi "Boy" Thohir mengatakan aksi ini bagian dari upaya ekspansi strategis dan diversifikasi ADRO di segmen non pertambangan batubara. ADRO mengejar portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari non batubara termal paling lambat tahun 2030.
“Kami berpandangan langkah ini efektif untuk memaksimalkan kinerja PT Adaro Andalan Indonesia dan pilar bisnis non batubara termal karena dapat memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti serta terus memanfaatkan sumber daya dan potensinya,” kata Boy melalui siaran resmi, Jumat (18/10).
ADRO bermaksud memisahkan bisnis-bisnis segmen pertambangan beserta sejumlah bisnis pendukung di bawah AAI dari pilar Adaro Minerals dan Adaro Green, agar dapat memaksimalkan kinerja AAI dan pilar-pilar non batubara termal. Langkah ini dinilai memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti masing-masing.
Transaksi ini diperkirakan akan mendukung AAI serta segmen bisnis non batubara termal untuk memperkuat fokus pada pengembangan dan kinerja. Pemisahan ini juga memungkinkan bisnis-bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih besar, biaya pendanaan lebih kompetitif, dan akses lebih luas terhadap proyek-proyek hijau dengan para mitra bisnis potensial papan atas.
RUPSLB telah menyetujui untuk menjual sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki ADRO atas AAI. Aksi ini merupakan transaksi material menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020, serta perubahan kegiatan usaha utama melalui penawaran umum kepada seluruh pemegang saham ADRO, berdasarkan POJK Nomor 76/POJK.04/2017.
Dengan tunduk pada diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, ADRO akan memberikan kesempatan kepada para pemegang sahamnya untuk berpartisipasi pada transaksi ini sebagai pembeli.
Skema IPO AAI
AAI yang sebelumnya bernama PT Alam Tri Abadi merupakan perusahaan yang 99,9999% dimiliki oleh ADRO. Dalam transaksi ini, ADRO menawarkan sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki pada AAI, yakni 7.008.202.240 saham. Transaksi ini akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
Dalam keterbukaan informasi yang rilis pada Rabu (16/10) dijelaskan, PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) AAI. Segera setelah IPO, kepemilikan saham ADRO pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di bursa, dengan ketentuan bahwa harga penawaran final:
(1) serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari Penilai Independen; dan
(2) setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Sehingga, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya sebesar US$ 2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO. Sedangkan setinggi-tingginya adalah sebesar US$ 2,62 miliar, yang setara dengan 34,1% dari total ekuitas ADRO.
Dengan memperhitungkan jumlah lembar saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7.008.202.240 saham, maka harga per saham adalah sebesar US$ 0,35. Hal ini terungkap dalam kesimpulan nilai pada ringkasan laporan objek rencana transaksi.
ADRO akan melepas saham yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS.
"Pembeli adalah para pemegang saham Adaro Energy yang terdaftar pada Tanggal Pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI dari Adaro Energy," ungkap Manajemen ADRO.
Dampak Terhadap Kinerja
Dalam keterbukaan informasi yang sama, Manajemen ADRO juga mengungkapkan dampak pelepasan AAI kepada kinerja ADRO. Manajemen ADRO membeberkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024 untuk memberikan gambaran terkait dampak dari pelepasan AAI.
Persentase pendapatan dan laba bersih AAI masing-masing mencapai 89,4% dan 104,8% terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi. Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO, masing-masing sebesar 65% dan 64%.
Gambaran dalam proforma ini, pendapatan usaha konsolidasi ADRO per 30 Juni 2024 menurun 65% dari US$ 2,97 miliar menjadi US$ 1,05 miliar. Sedangkan laba periode berjalan konsolidasian menurun 64% dari US$ 880,18 juta menjadi US$ 321,01 juta. Dengan proforma tersebut, ADRO secara terkonsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
"Adaro Energy secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, pengolahan mineral, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya," ungkap Manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi Rabu (16/10).
Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ketika AAI dilepas, ADRO secara konsolidasi masih memiliki total aset, pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar US$ 8,47 miliar, US$ 1,05 miliar dan US$ 321,01 juta, yang berasal dari bisnis ADRO di luar AAI.
"Ke depannya, Adaro Energy akan lebih mengembangkan proyek-proyek yang ada saat ini dalam bidang energi yang mendukung program ekonomi hijau pemerintah Indonesia. Dengan demikian, bilamana Rencana Transaksi dilaksanakan, kelangsungan usaha Adaro Energy tidak akan terganggu," sebut Manajemen ADRO.
Sebagai informasi, total cadangan batubara termal yang dimiliki oleh ADRO melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi dalam grup AAI mencapai 917,4 juta ton. Dengan divestasi AAI, ADRO tidak lagi memiliki cadangan batubara termal.
ADRO pun tetap masih memiliki cadangan batubara metalurgi sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi yaitu grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 173 juta ton.
Rekomendasi Saham
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyoroti potensi penurunan kinerja ADRO dalam jangka menengah, setelah divestasi AAI yang menjadi kontributor pendapatan terbesar. Namun, alih fokus ke bisnis non-batubatara termal terutama energi baru & terbarukan (EBT) bisa menjadi langkah yang tepat seiring target bauran energi hijau yang terus meningkat.
"Setelah itu para investor perlu memantau, seperti apa dampak ke kinerja setelah lebih fokus ke energi hijau. Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis EBT terus mengalami pertumbuhan," ungkap Sukarno kepada Kontan.co.id, Jumat (18/10).
Sukarno menilai, pelepasan AAI melalui skema IPO tampak akan menarik minat pasar, karena secara valuasi yang ditawarkan relatif murah. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengamini, AAI bisa menjadi pilihan yang menarik di mata investor.
AAI telah menjadi sumber pendapatan utama ADRO yang juga memiliki konsistensi laba bersih. Selain itu, biaya produksi batubara AAI relatif lebih rendah dibandingkan produsen batubara lainnya. Faktor berikutnya adalah cadangan batubara yang cukup besar, permintaan batubara yang masih tinggi, serta potensi pembagian dividen.
Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani menghitung rasio pemesanan IPO AAI. Dalam perhitungannya, setiap kepemilikan 100 saham ADRO akan memiliki hak untuk memesan sekitar 23 saham AAI pada PUPS. Ini dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Sementara itu, Bima melihat investor masih menanti dan mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari investor AAI dengan mengikuti PUPS. Dus, hal ini bisa menjadi katalis pendongkrak bagi harga saham ADRO, setidaknya dalam jangka pendek dengan potensi kenaikan ke resistance di area Rp 4.200.
Namun di sisi yang lain, Bima memperkirakan dalam jangka menengah investor asing cenderung melepas ADRO setelah melepas AAI. Sedangkan Sukarno menyarankan hold saham ADRO dengan target harga di level Rp 4.050. "Tapi tetap batasi risiko jika kembali bergerak melemah," kata Sukarno.
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat saat ini pergerakan harga saham ADRO cenderung sideways sejak akhir September 2024. Secara MACD dan stochastic, ada indikasi ADRO akan memulai bearish dalam jangka pendek.
Dus, Herditya menyarankan strategi buy on weakness mencermati support Rp 3.530, resistance Rp 3.930 untuk target harga Rp 4.100-Rp 4.250. Adapun, ADRO menutup perdagangan Jumat (18/10) dengan pelemahan 3,08% ke level harga Rp 3.780 per saham.
Dapat Restu Jual Adaro Andalan, Simak Prospek Kinerja & Rekomendasi Saham ADRO
Adaro Energy Indonesia (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal. [1,326] url asal
#adro #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #adaro-andalan-indonesia #rapat-umum-pemegang-saham-luar-biasa #berita-nasional #indonesia #pemerintah
(Kontan-Investasi) 18/10/24 19:57
v/16662229/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Restu itu didapat dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) ADRO yang digelar pada Jumat (18/10).
Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi "Boy" Thohir mengatakan aksi ini bagian dari upaya ekspansi strategis dan diversifikasi ADRO di segmen non pertambangan batubara. ADRO mengejar portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari non batubara termal paling lambat tahun 2030.
“Kami berpandangan langkah ini efektif untuk memaksimalkan kinerja PT Adaro Andalan Indonesia dan pilar bisnis non batubara termal karena dapat memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti serta terus memanfaatkan sumber daya dan potensinya,” kata Boy melalui siaran resmi, Jumat (18/10).
ADRO bermaksud memisahkan bisnis-bisnis segmen pertambangan beserta sejumlah bisnis pendukung di bawah AAI dari pilar Adaro Minerals dan Adaro Green, agar dapat memaksimalkan kinerja AAI dan pilar-pilar non batubara termal. Langkah ini dinilai memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti masing-masing.
Transaksi ini diperkirakan akan mendukung AAI serta segmen bisnis non batubara termal untuk memperkuat fokus pada pengembangan dan kinerja. Pemisahan ini juga memungkinkan bisnis-bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih besar, biaya pendanaan lebih kompetitif, dan akses lebih luas terhadap proyek-proyek hijau dengan para mitra bisnis potensial papan atas.
RUPSLB telah menyetujui untuk menjual sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki ADRO atas AAI. Aksi ini merupakan transaksi material menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020, serta perubahan kegiatan usaha utama melalui penawaran umum kepada seluruh pemegang saham ADRO, berdasarkan POJK Nomor 76/POJK.04/2017.
Dengan tunduk pada diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, ADRO akan memberikan kesempatan kepada para pemegang sahamnya untuk berpartisipasi pada transaksi ini sebagai pembeli.
Skema IPO AAI
AAI yang sebelumnya bernama PT Alam Tri Abadi merupakan perusahaan yang 99,9999% dimiliki oleh ADRO. Dalam transaksi ini, ADRO menawarkan sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki pada AAI, yakni 7.008.202.240 saham. Transaksi ini akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
Dalam keterbukaan informasi yang rilis pada Rabu (16/10) dijelaskan, PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) AAI. Segera setelah IPO, kepemilikan saham ADRO pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di bursa, dengan ketentuan bahwa harga penawaran final:
(1) serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari Penilai Independen; dan
(2) setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Sehingga, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya sebesar US$ 2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO. Sedangkan setinggi-tingginya adalah sebesar US$ 2,62 miliar, yang setara dengan 34,1% dari total ekuitas ADRO.
Dengan memperhitungkan jumlah lembar saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7.008.202.240 saham, maka harga per saham adalah sebesar US$ 0,35. Hal ini terungkap dalam kesimpulan nilai pada ringkasan laporan objek rencana transaksi.
ADRO akan melepas saham yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS.
"Pembeli adalah para pemegang saham Adaro Energy yang terdaftar pada Tanggal Pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI dari Adaro Energy," ungkap Manajemen ADRO.
Dampak Terhadap Kinerja
Dalam keterbukaan informasi yang sama, Manajemen ADRO juga mengungkapkan dampak pelepasan AAI kepada kinerja ADRO. Manajemen ADRO membeberkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024 untuk memberikan gambaran terkait dampak dari pelepasan AAI.
Persentase pendapatan dan laba bersih AAI masing-masing mencapai 89,4% dan 104,8% terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi. Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO, masing-masing sebesar 65% dan 64%.
Gambaran dalam proforma ini, pendapatan usaha konsolidasi ADRO per 30 Juni 2024 menurun 65% dari US$ 2,97 miliar menjadi US$ 1,05 miliar. Sedangkan laba periode berjalan konsolidasian menurun 64% dari US$ 880,18 juta menjadi US$ 321,01 juta. Dengan proforma tersebut, ADRO secara terkonsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
"Adaro Energy secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, pengolahan mineral, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya," ungkap Manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi Rabu (16/10).
Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ketika AAI dilepas, ADRO secara konsolidasi masih memiliki total aset, pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar US$ 8,47 miliar, US$ 1,05 miliar dan US$ 321,01 juta, yang berasal dari bisnis ADRO di luar AAI.
"Ke depannya, Adaro Energy akan lebih mengembangkan proyek-proyek yang ada saat ini dalam bidang energi yang mendukung program ekonomi hijau pemerintah Indonesia. Dengan demikian, bilamana Rencana Transaksi dilaksanakan, kelangsungan usaha Adaro Energy tidak akan terganggu," sebut Manajemen ADRO.
Sebagai informasi, total cadangan batubara termal yang dimiliki oleh ADRO melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi dalam grup AAI mencapai 917,4 juta ton. Dengan divestasi AAI, ADRO tidak lagi memiliki cadangan batubara termal.
ADRO pun tetap masih memiliki cadangan batubara metalurgi sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi yaitu grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 173 juta ton.
Rekomendasi Saham
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyoroti potensi penurunan kinerja ADRO dalam jangka menengah, setelah divestasi AAI yang menjadi kontributor pendapatan terbesar. Namun, alih fokus ke bisnis non-batubatara termal terutama energi baru & terbarukan (EBT) bisa menjadi langkah yang tepat seiring target bauran energi hijau yang terus meningkat.
"Setelah itu para investor perlu memantau, seperti apa dampak ke kinerja setelah lebih fokus ke energi hijau. Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis EBT terus mengalami pertumbuhan," ungkap Sukarno kepada Kontan.co.id, Jumat (18/10).
Sukarno menilai, pelepasan AAI melalui skema IPO tampak akan menarik minat pasar, karena secara valuasi yang ditawarkan relatif murah. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengamini, AAI bisa menjadi pilihan yang menarik di mata investor.
AAI telah menjadi sumber pendapatan utama ADRO yang juga memiliki konsistensi laba bersih. Selain itu, biaya produksi batubara AAI relatif lebih rendah dibandingkan produsen batubara lainnya. Faktor berikutnya adalah cadangan batubara yang cukup besar, permintaan batubara yang masih tinggi, serta potensi pembagian dividen.
Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani menghitung rasio pemesanan IPO AAI. Dalam perhitungannya, setiap kepemilikan 100 saham ADRO akan memiliki hak untuk memesan sekitar 23 saham AAI pada PUPS. Ini dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Sementara itu, Bima melihat investor masih menanti dan mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari investor AAI dengan mengikuti PUPS. Dus, hal ini bisa menjadi katalis pendongkrak bagi harga saham ADRO, setidaknya dalam jangka pendek dengan potensi kenaikan ke resistance di area Rp 4.200.
Namun di sisi yang lain, Bima memperkirakan dalam jangka menengah investor asing cenderung melepas ADRO setelah melepas AAI. Sedangkan Sukarno menyarankan hold saham ADRO dengan target harga di level Rp 4.050. "Tapi tetap batasi risiko jika kembali bergerak melemah," kata Sukarno.
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat saat ini pergerakan harga saham ADRO cenderung sideways sejak akhir September 2024. Secara MACD dan stochastic, ada indikasi ADRO akan memulai bearish dalam jangka pendek.
Dus, Herditya menyarankan strategi buy on weakness mencermati support Rp 3.530, resistance Rp 3.930 untuk target harga Rp 4.100-Rp 4.250. Adapun, ADRO menutup perdagangan Jumat (18/10) dengan pelemahan 3,08% ke level harga Rp 3.780 per saham.
Cek Top Losers Saham LQ45 saat IHSG Naik pada Jumat (18/10), Ada ADRO, PGEO, dan AKRA
Simak top losers Saham LQ45 saat IHSG Naik pada Jumat (18/10). Cek kinerja tiga emiten berikut ini [600] url asal
#ihsg #lq45 #pt-akr-corporindo-tbk-akra #unlisted #saham-adro #jangan-lewatkan #saham-akra #pt-pertamina-geothermal-energy-tbk-pgeo #saham-pgeo #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #top-losers-lq4
(Kontan) 18/10/24 16:48
v/16656842/
Penulis: Bimo Kresnomurti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Intip pergerakan Top Losers LQ45 pada penutupan perdagangan Jumat (18/10). Ada 3 emiten yang alami penurunan tertinggi pada akhir pekan ketiga bulan Oktober yakni saham PGEO, ADRO, dan AKRA.
Pertama, ada saham PGEO (PT Pertamina Geothermal Energy Tbk) berakhir di zona merah. Pada penutupan bursa, saham PGEO tercatat di harga Rp 1.145 per saham. Dibandingkan dengan penutupan sebelumnya pada Kamis (17/10), saham ini turun 2,14% dari Rp 1.170.
Saham PGEO dibuka di harga yang sama seperti penutupan sehari sebelumnya, yaitu Rp 1.170 per saham.
Selama sesi perdagangan, harga tertinggi yang tercatat adalah Rp 1.175, sedangkan harga terendah mencapai Rp 1.145. Dalam satu hari, saham PGEO mengalami penurunan sebesar Rp 25 per saham.
Apabila dihitung dalam 7 hari terakhir (sejak 11 Oktober 2024), saham PGEO turun sebesar 3,38% dari Rp 1.185. Sementara itu, dalam kurun waktu setahun (sejak 18 Oktober 2023), saham PGEO sudah turun 21,31% dari Rp 1.455.
Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total nilai transaksi saham PGEO sebesar Rp 140,70 miliar, dengan volume perdagangan mencapai 1.225.231 lot.
Saham ini memiliki earning per share (EPS) sebesar Rp 76, yang berarti price to earning ratio (PER) saham PGEO berada di angka 15,39 kali, sedangkan price to book value (PBV)-nya sebesar 1,52 kali.

AKRA Turun Lebih dari 3%
Kemudian, ada saham AKRA (PT AKR Corporindo Tbk) ditutup melemah. Saat penutupan bursa, harga saham AKRA berada di Rp 1.445 per saham. Dibandingkan dengan penutupan pada Kamis (17/10), saham AKRA mengalami penurunan 3,02% dari harga Rp 1.490.
Pada awal perdagangan, saham ini dibuka di level yang sama dengan penutupan sebelumnya, yaitu Rp 1.490 per saham.
Selama perdagangan, harga tertinggi yang tercatat adalah Rp 1.495, sedangkan terendah mencapai Rp 1.445. Saham AKRA turun Rp 45 dalam satu hari perdagangan.
Pantuan untuk sepekan terakhir (sejak 11 Oktober 2024), harga saham AKRA turun 6,17% dari Rp 1.540. Namun, dalam setahun terakhir (sejak 18 Oktober 2023), harga saham ini masih naik 0,35% dari Rp 1.440.
Nah, pihak BEI mencatat total transaksi saham AKRA mencapai Rp 47,60 miliar, dengan volume perdagangan mencapai 327.037 lot.
Lewat laba per saham sebesar Rp 100, price to earning ratio saham AKRA tercatat 14,90 kali, sedangkan price to book value berada di angka 2,64 kali.
Tonton:IHSG Kembali Naik, CEK 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi 17 Oktober 2024
ADRO Alami Penurunan Tertinggi
Terarkhir, ada saham ADRO (PT Adaro Energy Tbk) yang berakhir dengan penurunan tertinggi pada indeks LQ45. Saat penutupan perdagangan, harga saham ADRO tercatat di Rp 3.780 per saham.
Dari penutupan sebelumnya pada Kamis (17/10), saham ADRO mengalami penurunan sebesar 3,08% dari Rp 3.900. Saham ini dibuka di harga yang sama seperti penutupan sehari sebelumnya, yaitu Rp 3.900 per saham.
Selama sesi perdagangan, saham ADRO mencapai harga tertinggi Rp 3.910 dan terendah Rp 3.730, sehingga turun Rp 120 per saham dalam sehari.
Untuk hitungan 7 hari yang lalu (11 Oktober 2024), saham ADRO mengalami penurunan sebesar 2,33% dari harga Rp 3.870. Namun, dibandingkan dengan setahun yang lalu (18 Oktober 2023), saham ADRO telah meningkat 33,10% dari harga Rp 2.840.
Catatan dari BEI ungkap bahwa total nilai transaksi saham ADRO mencapai Rp 342,00 miliar, dengan volume perdagangan sebesar 896.839 lot.
Saham ini memiliki earning per share (EPS) sebesar Rp 829, sehingga price to earning ratio (PER) berada di 4,70 kali, sedangkan price to book value (PBV) sebesar 1,03 kali.