#30 tag 24jam
Sejumlah Bank Menggenjot Kredit ESG di Kuartal III-2024, Siapa Jawaranya?
Penyaluran kredit perbankan ke sektor keberlanjutan lewat penerapan prinsip ESG terus tumbuh sampai akhir Kuartal III-2024. [694] url asal
#bank-mandiri #energi-baru-terbarukan #esg #kredit-keberlanjutan #portofolio-hijau #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Keuangan) 30/10/24 20:24
v/17217444/
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Penyaluran kredit perbankan ke sektor keberlanjutan lewat penerapan prinsip Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata Kelola) atau ESG terus menunjukkan pertumbuhannya sampai akhir Kuartal III-2024.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi jawara pertumbuhan kredit ke sektor keberlanjutan di antara bank besar lainnya. Terlihat dari konsistensi Bank Mandiri mencatat peningkatan portofolio dengan menyalurkan kredit ESG mencapai Rp 285 triliun sampai September 2024, tumbuh 12,8% secara tahunan (year on year/yoy). Dari jumlah tersebut, komposisi portofolio hijau tumbuh signifikan 16,4% yoy menembus Rp 142 triliun.
Sementara itu kontribusi dari sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) terhadap portofolio tersebut telah mencapai sebesar Rp 10 triliun dengan tren peningkatan setiap tahunnya.
Termasuk antara lain fokus pada pengembangan bisnis berkelanjutan di sektor potensial seperti pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan, transportasi ramah lingkungan, energi terbarukan hingga pengelolaan limbah.
“Ke depannya, kami akan terus meningkatkan layanan ESG kami, khususnya pada instrumen keuangan berkelanjutan seperti Sustainability-Linked Loan, Green Loan, Corporate-in-Transition Financing, dan Social Loan di berbagai sektor,” ungkap Darmawan Junaidi, Direktur Utama Bank Mandiri, Rabu (30/10).
Sementara itu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyalurkan kredit ESG yang tumbuh 10,7% yoy menyentuh Rp214 triliun per September 2024, berkontribusi hingga 24,3% dari total portofolio pembiayaan.
Komitmen BCA untuk senantiasa mengimplementasikan nilai-nilai ESG. Hal ini juga dikonfirmasi oleh gedung Wisma BCA Foresta yang memperoleh sertifikat Green Mark Super Low Energy Building dari Building and Construction Authority Singapura, menjadi yang pertama di Indonesia. Sertifikat itu diraih karena Wisma BCA Foresta dinilai berhasil menerapkan efisiensi sangat tinggi pada operasional gedung.
Selanjutnya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga mencatatkan pertumbuhan portofolio kredit ESG pada Kuartal III-2024, mencapai 5% yoy menjadi Rp 187,6 triliun.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada menegaskan, sebagai bank milik negara yang menjadi penggerak utama dalam pelaksanaan Keuangan Berkelanjutan (Sustainable Finance) di Indonesia, BNI berkomitmen untuk terus menginternalisasi prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap langkahnya.
David menjelaskan, keberlanjutan telah menjadi inti dari bisnis BNI. Sebagai bagian dari komitmen tersebut, BNI telah menetapkan target Net Zero Emission (NZE) untuk aktivitas operasional pada 2028 dan untuk pembiayaan pada 2060. Untuk mencapai tujuan ini, BNI akan menggalakkan berbagai inisiatif, baik di bidang operasional maupun pembiayaan.
"Komitmen ini tercermin dalam pembiayaan yang bertanggung jawab untuk aktivitas bisnis berkelanjutan, termasuk portofolio hijau yang mencapai Rp 188 triliun, atau sekitar 26% dari total portofolio kredit BNI," jelas David.
Hingga September 2024, penyaluran kredit hijau BNI telah mencakup berbagai sektor, termasuk Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti pembangkit listrik tenaga air, tenaga surya, dan biogas, dengan total pembiayaan mencapai Rp10,2 triliun. Selain itu, pembiayaan untuk sektor penanggulangan polusi udara sebesar Rp3,4 triliun, serta pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan lahan yang berkelanjutan sebesar Rp31,9 triliun.
Untuk memperkuat pengelolaan manajemen risiko perubahan iklim, BNI juga telah melaporkan Climate Risk Stress Test (CRST) kepada OJK yang mencakup enam sektor utama, yakni sumber daya alam, listrik, transportasi dan pergudangan, konstruksi, pertanian dan manufaktur, serta mortgage. Sektor-sektor ini mencakup 50% dari total portofolio pinjaman BNI.
Sebagai bagian dalam upaya mendorong transisi energi, BNI senantiasa memberikan dukungan kepada debitur untuk melaksanakan upaya transisi, melalui pemberian Sustainability Linked Loan yang pada bulan September 2024 mencapai Rp5,5 triliun.
Selain itu, BNI mendukung penerapan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) dalam upaya mencapai komitmen Net Zero Indonesia.
Bank lainnya di luar KBMI 4 ada PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang juga meningkatkan portofolionya ke sektor keberlanjutan. Hingga sembilan bulan pertama tahun 2024, CIMB Niaga mencatat hampir 25% dari total pembiayaan Bank atau Rp 54,4 triliun untuk mendukung transisi yang berkelanjutan menuju ekonomi rendah karbon, Perjanjian Paris, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan, keberlanjutan adalah salah satu prioritas CIMB Niaga dalam menjalankan bisnis dengan mengintegrasikan pertimbangan ekonomi, lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam proses perbankan.
"Ke depan, kami akan terus mendorong implementasi dan adaptasi model bisnis berkelanjutan serta investasi hijau oleh para pelaku usaha di Indonesia. Keberlanjutan tidak hanya membutuhkan upaya inovasi dari bank, tetapi juga kolaborasi semua pemangku kepentingan untuk menuju masa depan yang lebih baik,” kata Lani.
Perbankan Makin Serius Menjalankan Bisnis Berkelanjutan
Perbankan semakin serius menjalankan bisnisnya ke arah segmen keberlanjutan atau sustainability. [635] url asal
#net-zero-emission #bank-cimb-niaga #the-cooler-earth-sustainability-series-2024 #kredit-keberlanjutan #sektor-batubara-termal #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Keuangan) 02/10/24 17:50
v/15867178/
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Perbankan semakin serius dalam mendukung program net zero emission dengan menjalankan bisnisnya ke arah segmen keberlanjutan atau sustainability.
Bank CIMB Niaga misalnya, bank swasta terbesar kedua ini terus menunjukkan komitmennya dengan menggelar The Cooler Earth (TCE) Sustainability Series 2024 yang berlangsung mulai 2 Oktober sampai 4 Oktober 2024.
Selain menggelar kegiatan-kegiatan bertema sustainability, CIMB Niaga juga makin fokus menyalurkan kredit ke segmen keberlanjutan dan akan mengurangi kredit ke sektor Batubara termal secara perlahan pada tahun 2040, hingga menurunkan emisi melalui operasionalnya.
Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga Fransiska Oei mengatakan, setidaknya sekitar 26% dari total penyaluran kredit bank telah disalurkan ke sektor sustainability. Ke depan, pihaknya akan menjaga porsi kredit tersebut dan akan berkembang seiring dengan meningkatnya portofolio kredit CIMB Niaga.
“Target di periode tahun 2030-2050 mendatang, target CIMB Niaga adalah untuk menurunkan emisi hingga menjadi net zero emission. Salah satunya menurunkan portofolio batubara thermal pada tahun 2040, dan itu perlu komunikasi dengan nasabah, mereka bisa menggunakan produk batubara, tapi kalau bisa bukan yang termal” ungkap Fransiska saat ditemui di Jakarta, Selasa (2/10).
Soal keikutsertaan dalam melakukan perdagangan bursa karbon, Fransiska bilang, tahun ini pihaknya tidak melakukan pembelian bursa karbon. Pasalnya pembelian pada tahun 2023 lalu yang sebesar Rp 458 juta lebih akan digunakan untuk diimplementasikan pada masa yang akan datang.
“Di tahun ini kami tidak membeli karbon baru, karena karbon dari IDX itu tadi, itu kita kaya nabung. Kalau kita beli itu bisa dieksekusinya atau digunakannya sekarang atau in the future. Nah yang itu kita beli untuk future,” ungkap dia.
Fransiska mengatakan, saat ini CIMB Niaga akan membeli REC atau renewable energy certificate yang didapatkan dari perusahaan yang membuat sertifikat hijau seperti PLN. Ketika PLN memiliki proyek yang menghasilkan listrik tetapi menggunakan renewable energy, maka CIMB Niaga akan membelinya untuk mengurangi emisi.
Ia menambahkan, masih banyak peluang untuk memberikan layanan produk perbankan dengan mendukung sustainibility, dan mengalihkan portfolio kredit menjadi portfolio yang green, seperti yang saat ini ditawarkan dengan KPR hijau hingga KKB segmen kendaraan listrik.
Bank Negara Indonesia (BNI) juga berkomitmen untuk terus mengimplementasikan konsep environmental, social, and governance (ESG) dalam setiap aspek bisnisnya. Bank pelat merah ini telah menetapkan target net zero emission aktivitas operasionalnya pada 2028 dan pembiayaan pada tahun 2060.
Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada mengatakan, pihaknya memiliki perhatian khusus untuk mendorong debitur menuju penerapan sustainibility, khususnya proses transisi menuju aktivitas usaha yang lebih hijau.
BNI menyalurkan sustainability linked loan (SLL) kepada debitur yang memiliki target sustainability sesuai dengan tujuan SDGs termasuk di dalamnya transisi energi debitur. Kredit tersebut merupakan bagian dari kredit ESG BNI.
“Tahun ini, BNI menargetkan portofolio ESG bisa mencapai Rp 71,27 triliun dan akan terus berusaha memperbesar portfolio SLL yang merupakan bagian dari kredit ESG BNI,” ungkap David kepada Kontan.
Lebih jauh, David menjelaskan, strategi yang dilakukan BNI di antaranya dengan membentuk unit khusus pembiayaan hijau terutama sektor energi terbarukan. Lalu, menyusun risk acceptance criteria dengan mempertimbangkan kriteria dari aspek ESG, pengembangan framework pembiayaan hijau, adopsi taksonomi hijau Indonesia yang saat ini beralih menjadi taksonomi keuangan berkelanjutan Indonesia.
Serta terus melakukan pengembangan kapabilitas SDM untuk mendukung ekspansi pembiayaan hijau dan berkelanjutan.
Per Juni 2024, BNI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 69,4 triliun untuk mendukung proyek-proyek hijau, tumbuh 2,27% secara year to date (Ytd).
Rinciannya, sebesar Rp 10,8 triliun disalurkan ke sektor energi terbarukan sebesar Rp 10,8 triliun. Lalu ke pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan sebesar Rp 29,4 triliun, dan transportasi ramah lingkungan Rp 3,9 triliun.
Di sisi operasional perusahaan, BNI melakukan usaha-usaha perbaikan dalam pengelolaan limbah menuju penerapan pengelolaan limbah dengan prinsip zero waste to landfill, termasuk program untuk menumbuhkan green lifestyle dalam budaya perusahaan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi BNI dalam menekan emisi yang berasal dari limbah.