#30 tag 24jam
Laba Bersih Adaro (ADRO) Terkikis, Kantongi US$1,18 Miliar per Kuartal III/2024
Emiten Garibaldi ‘Boy’ Thohir, PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) membukukan penurunan pendapatan dan laba bersih sepanjang Januari-September 2024. [422] url asal
#adro #adaro-energy #garibaldi-thohir #boy-thohir #kinerja-emiten #laba-bersih-adro #pendapatan-adro #saham-adro #batu-bara-adaro #penjualan-adaro #adaro-andalan-indonesia #spin-off-aai #aksi-korporasi
(Bisnis.Com - Market) 31/10/24 07:26
v/17239965/
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten Garibaldi ‘Boy’ Thohir, PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) membukukan penurunan pendapatan dan laba bersih sepanjang Januari-September 2024.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Rabu (30/10/2024), pendapatan usaha ADRO menyusut 10,6% year-on-year (YoY) dari US$4,98 miliar menjadi US$4,45 miliar per kuartal III/2024.
Pendapatan usaha Adaro terdiri atas penjualan batu bara ekspor kepada pihak ketiga US$3,48 miliar, penjualan batu bara domestik kepada pihak ketiga US$751,73 juta, penjualan batu bara domestik kepada pihak berelasi US$162,24 juta, dan pendapatan lain-lain US$52,47 juta.
Pada periode 9 bulan 2024, beban pokok pendapatan emiten Garibaldi Thohir ini turun dari US$2,99 miliar menjadi US$2,69 miliar. Sejalan dengan itu beban usaha juga turun 23,2% YoY menjadi US$255,06 juta dan beban keuangan melandai 12,38% YoY menjadi US$71,34 juta.
Dengan demikian, laba periode berjalan ADRO tercatat sebesar US$1,32 miliar per September 2024. Adapun, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih ADRO terkikis 2,95% YoY dari US$1,21 miliar pada 9 bulan 2023 menjadi US$1,18 miliar pada Januari-September 2024.
Hingga 30 September 2024, ADRO menggenggam total aset US$10,9 miliar. Pada saat yang sama, total liabilitas ADRO sebesar US$2,75 miliar dan total ekuitasnya US$8,15 miliar.
Pada perkembangan lain, Adaro memperoleh persetujuan pemegang saham atas rencana aksi korporasi spin off anak usaha mereka, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) dalam RUPSLB baru-baru ini.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Garibaldi Thohir mengatakan ADRO bermaksud untuk terus mengupayakan ekspansi strategis dan diversifikasi di segmen non-pertambangan batu bara demi menciptakan portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target untuk menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari non-batu bara termal paling lambat pada 2030.
“Kami berterima kasih kepada para pemegang saham atas partisipasi dan dukungan mereka bagi terselenggaranya RUPSLB ini sehingga kita dapat mencapai tujuan serta melaksanakan rencana transaksi material," kata Boy Thohir dalam siaran persnya, Jumat (18/10/2024).
Dia melanjutkan, ADRO berpandangan langkah ini efektif untuk memaksimalkan kinerja PT Adaro Andalan Indonesia dan pilar bisnis nonbatu bara termal. Pasalnya, hal tersebut memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti serta terus memanfaatkan sumber daya dan potensinya.
Adaro (ADRO) Rilis Pengumuman Terbaru
Adaro (ADRO) menyampaikan keterbukaan informasi terbarunya. Isinya terkait perubahan jadwal RUPSLB ADRO. - Halaman all [538] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #adaro #adro #saham-adro #adaro-energy-indonesia #adaro-andalan-indonesia #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 23/10/24 10:55
v/16879873/
JAKARTA, investor.id - PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengungkap keterbukaan informasi terbarunya pada Rabu, 23 Oktober 2024 ini.
Isinya adalah soal perubahan jadwal rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Adaro Energy (ADRO).
Direksi Adaro (ADRO) mengungkap bahwa pelaksanaan RUPSLB yang semula akan diselenggarakan oleh perseroan pada hari Jumat, 15 November 2024, diubah menjadi hari Senin, 18 November 2024, pukul 09.00 WIB – selesai.
Mata acaranya sendiri belum diungkap. Direksi ADRO menyebutkan informasi lebih lanjut sehubungan dengan rapat, antara lain, mengenai tempat penyelenggaraan, waktu, mata acara rapat dan persyaratan pemegang saham yang hadir dan memberikan suara dalam rapat secara fisik akan disampaikan melalui pemanggilan rapat pada 25 Oktober 2024.
“Pemegang saham yang berhak hadir atau diwakili dalam rapat adalah pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada tanggal 24 Oktober 2024 sampai dengan pukul 16:00 WIB,” jelas direksi Adaro.
Meski demikian, Adaro sempat mengungkap bahwa perseroan mempertimbangkan membagikan dividen untuk membantu mendanai partisipasi para pemegang saham ADRO untuk menebus saham Adaro Andalan Indonesia (AAI) dalam penawaran umum oleh pemegang saham (PUPS). Adapun dividen tersebut akan diputuskan dalam rapat umum pemegang saham.
Jual Adaro Andalan
Sebagaimana diketahui, Adaro Energy Indonesia (ADRO) berencana melakukan transaksi penjualan atas sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki perseroan pada AAI (dahulu bernama PT Alam Tri Abadi), sejumlah 7.008.202.240 saham melalui pelaksanaan penawaran umum oleh pemegang saham (PUPS).
Sementara itu, Stockbit Sekuritas dalam ulasannya menyebut harga penawaran PUPS Adaro Andalan Indonesia (AAI) adalah harga rata–rata tertimbang (volume weighted average price/VWAP) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan pada hari perdana listing. Namun, harga penawaran PUPS terendah ditetapkan sebesar US$ 2,45 miliar (Rp 5.425 rupiah per saham), sementara harga tertinggi adalah US$ 2,63 miliar (Rp 5.825 per saham).
Berdasarkan perhitungan Stockbit Sekuritas, harga penawaran PUPS ini mencerminkan valuasi sebesar 2,95–3,17x P/E. Sebelumnya, Adaro Energy (ADRO) hanya menginformasikan nilai transaksi US$ 2,45–2,63 miliar sebagai nilai kewajaran transaksi. Di sisi lain, indikasi harga IPO AAI belum diketahui.
Berdasarkan perhitungan Stockbit Sekuritas, setiap kepemilikan 100 saham Adaro Energy (ADRO) akan memiliki hak untuk memesan 23 saham AAI pada PUPS, dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Dengan melepas AAI, sebut Stockbit Sekuritas, Adaro Energy Indonesia (ADRO) akan mengalami penurunan laba bersih. Berdasarkan angka proforma dengan estimasi annualized EPS 2024 sebesar Rp 282,4 per saham pasca spin-off, maka ADRO akan diperdagangkan pada 13,4x P/E berdasarkan harga saham di Rp 3.780 per Jumat (18/10/2024). Sebelumnya, ADRO tidak menyertakan laporan keuangan proforma pasca spin-off AAI.
Meski belum diketahui, Stockbit Sekuritas memperkirakan bahwa harga saham IPO Adaro Andalan Indonesia (AAI) tidak akan jauh berbeda dengan kisaran harga PUPS.
“Kami menilai investor memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan saham AAI lebih banyak dengan berpartisipasi dalam PUPS melalui kepemilikan saham ADRO dibandingkan berpartisipasi pada IPO,” sebut Stockbit.
Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Adaro Andalan IPO di Harga Segini?
Adaro (ADRO) bakal melepas Adaro Andalan melalui skema PUPS yang berkesinambungan dengan IPO. Di harga berapa IPO Adaro Andalan? - Halaman all [516] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #adaro #adro #saham-adro #adaro-andalan-indonesia #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 19/10/24 20:00
v/16735930/
JAKARTA, investor.id - PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) telah memperoleh restu untuk menjual sebanyak-banyaknya seluruh sahamnya pada PT Adaro Andalan Indonesia (AAI), perusahaan batu bara termal.
Restu tersebut didapat dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Adaro Energy pada 18 Oktober 2024 kemarin.
Saat ini Adaro (ADRO) menguasai 7.008.202.240 (99,99%) saham AAI. Direksi Adaro Energy sempat menjelaskan, perseroan berencana melakukan transaksi penjualan atas sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki perseroan pada AAI (dahulu bernama PT Alam Tri Abadi), sejumlah 7.008.202.240 saham melalui pelaksanaan penawaran umum oleh pemegang saham (PUPS).
Direksi Adaro Energy Indonesia (ADRO) menyatakan, PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham AAI.
Di mana segera setelah IPO saham AAI tersebut, kepemilikan saham Adaro Energy (ADRO) pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga PUPS & IPO
Sementara itu, Stockbit Sekuritas dalam ulasannya menyebut harga penawaran PUPS Adaro Andalan Indonesia (AAI) adalah harga rata–rata tertimbang (volume weighted average price/VWAP) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan pada hari perdana listing.
Namun, harga penawaran PUPS terendah ditetapkan sebesar US$ 2,45 miliar (Rp 5.425 rupiah per saham), sementara harga tertinggi adalah US$ 2,63 miliar (Rp 5.825 per saham).
Berdasarkan perhitungan Stockbit Sekuritas, harga penawaran PUPS ini mencerminkan valuasi sebesar 2,95–3,17x P/E. Sebelumnya, Adaro Energy (ADRO) hanya menginformasikan nilai transaksi US$ 2,45–2,63 miliar sebagai nilai kewajaran transaksi. Di sisi lain, indikasi harga IPO AAI belum diketahui.
Berdasarkan perhitungan Stockbit Sekuritas, setiap kepemilikan 100 saham Adaro Energy (ADRO) akan memiliki hak untuk memesan 23 saham AAI pada PUPS, dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Dengan melepas AAI, sebut Stockbit Sekuritas, Adaro Energy Indonesia (ADRO) akan mengalami penurunan laba bersih. Berdasarkan angka proforma dengan estimasi annualized EPS 2024 sebesar Rp 282,4 per saham pasca spin-off, maka ADRO akan diperdagangkan pada 13,4x P/E berdasarkan harga saham di Rp 3.780 per Jumat (18/10/2024). Sebelumnya, ADRO tidak menyertakan laporan keuangan proforma pasca spin-off AAI.
IPO
Meski belum diketahui, Stockbit Sekuritas memperkirakan bahwa harga saham IPO Adaro Andalan Indonesia (AAI) tidak akan jauh berbeda dengan kisaran harga PUPS.
“Kami menilai investor memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan saham AAI lebih banyak dengan berpartisipasi dalam PUPS melalui kepemilikan saham ADRO dibandingkan berpartisipasi pada IPO,” sebut Stockbit.
Namun, bagi investor yang menempuh langkah tersebut, perlu mencermati beberapa faktor yang dapat mempengaruhi potensi keuntungan/kerugian secara keseluruhan yakni:
- Rasio saham ADRO dan AAI yang dimiliki (rasio pemesanan)
- Potensi dividen yang diterima dari ADRO, yang dapat digunakan untuk berpartisipasi pada PUPS AAI
- Potensi kenaikan/penurunan harga saham ADRO dan AAI setelah listing AAI
Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Adaro Energy (ADRO) Segera Lepas Bisnis Batubara Termal, Simak Rekomendasi Sahamnya
Adaro Energy Indonesia (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal. [1,326] url asal
#adro #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #adaro-andalan-indonesia #rapat-umum-pemegang-saham-luar-biasa #berita-nasional #indonesia #pemerintah
(Kontan - Terbaru) 19/10/24 11:06
v/16689515/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Restu itu didapat dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) ADRO yang digelar pada Jumat (18/10).
Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi "Boy" Thohir mengatakan aksi ini bagian dari upaya ekspansi strategis dan diversifikasi ADRO di segmen non pertambangan batubara. ADRO mengejar portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari non batubara termal paling lambat tahun 2030.
“Kami berpandangan langkah ini efektif untuk memaksimalkan kinerja PT Adaro Andalan Indonesia dan pilar bisnis non batubara termal karena dapat memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti serta terus memanfaatkan sumber daya dan potensinya,” kata Boy melalui siaran resmi, Jumat (18/10).
ADRO bermaksud memisahkan bisnis-bisnis segmen pertambangan beserta sejumlah bisnis pendukung di bawah AAI dari pilar Adaro Minerals dan Adaro Green, agar dapat memaksimalkan kinerja AAI dan pilar-pilar non batubara termal. Langkah ini dinilai memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti masing-masing.
Transaksi ini diperkirakan akan mendukung AAI serta segmen bisnis non batubara termal untuk memperkuat fokus pada pengembangan dan kinerja. Pemisahan ini juga memungkinkan bisnis-bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih besar, biaya pendanaan lebih kompetitif, dan akses lebih luas terhadap proyek-proyek hijau dengan para mitra bisnis potensial papan atas.
RUPSLB telah menyetujui untuk menjual sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki ADRO atas AAI. Aksi ini merupakan transaksi material menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020, serta perubahan kegiatan usaha utama melalui penawaran umum kepada seluruh pemegang saham ADRO, berdasarkan POJK Nomor 76/POJK.04/2017.
Dengan tunduk pada diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, ADRO akan memberikan kesempatan kepada para pemegang sahamnya untuk berpartisipasi pada transaksi ini sebagai pembeli.
Skema IPO AAI
AAI yang sebelumnya bernama PT Alam Tri Abadi merupakan perusahaan yang 99,9999% dimiliki oleh ADRO. Dalam transaksi ini, ADRO menawarkan sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki pada AAI, yakni 7.008.202.240 saham. Transaksi ini akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
Dalam keterbukaan informasi yang rilis pada Rabu (16/10) dijelaskan, PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) AAI. Segera setelah IPO, kepemilikan saham ADRO pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di bursa, dengan ketentuan bahwa harga penawaran final:
(1) serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari Penilai Independen; dan
(2) setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Sehingga, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya sebesar US$ 2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO. Sedangkan setinggi-tingginya adalah sebesar US$ 2,62 miliar, yang setara dengan 34,1% dari total ekuitas ADRO.
Dengan memperhitungkan jumlah lembar saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7.008.202.240 saham, maka harga per saham adalah sebesar US$ 0,35. Hal ini terungkap dalam kesimpulan nilai pada ringkasan laporan objek rencana transaksi.
ADRO akan melepas saham yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS.
"Pembeli adalah para pemegang saham Adaro Energy yang terdaftar pada Tanggal Pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI dari Adaro Energy," ungkap Manajemen ADRO.
Dampak Terhadap Kinerja
Dalam keterbukaan informasi yang sama, Manajemen ADRO juga mengungkapkan dampak pelepasan AAI kepada kinerja ADRO. Manajemen ADRO membeberkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024 untuk memberikan gambaran terkait dampak dari pelepasan AAI.
Persentase pendapatan dan laba bersih AAI masing-masing mencapai 89,4% dan 104,8% terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi. Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO, masing-masing sebesar 65% dan 64%.
Gambaran dalam proforma ini, pendapatan usaha konsolidasi ADRO per 30 Juni 2024 menurun 65% dari US$ 2,97 miliar menjadi US$ 1,05 miliar. Sedangkan laba periode berjalan konsolidasian menurun 64% dari US$ 880,18 juta menjadi US$ 321,01 juta. Dengan proforma tersebut, ADRO secara terkonsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
"Adaro Energy secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, pengolahan mineral, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya," ungkap Manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi Rabu (16/10).
Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ketika AAI dilepas, ADRO secara konsolidasi masih memiliki total aset, pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar US$ 8,47 miliar, US$ 1,05 miliar dan US$ 321,01 juta, yang berasal dari bisnis ADRO di luar AAI.
"Ke depannya, Adaro Energy akan lebih mengembangkan proyek-proyek yang ada saat ini dalam bidang energi yang mendukung program ekonomi hijau pemerintah Indonesia. Dengan demikian, bilamana Rencana Transaksi dilaksanakan, kelangsungan usaha Adaro Energy tidak akan terganggu," sebut Manajemen ADRO.
Sebagai informasi, total cadangan batubara termal yang dimiliki oleh ADRO melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi dalam grup AAI mencapai 917,4 juta ton. Dengan divestasi AAI, ADRO tidak lagi memiliki cadangan batubara termal.
ADRO pun tetap masih memiliki cadangan batubara metalurgi sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi yaitu grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 173 juta ton.
Rekomendasi Saham
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyoroti potensi penurunan kinerja ADRO dalam jangka menengah, setelah divestasi AAI yang menjadi kontributor pendapatan terbesar. Namun, alih fokus ke bisnis non-batubatara termal terutama energi baru & terbarukan (EBT) bisa menjadi langkah yang tepat seiring target bauran energi hijau yang terus meningkat.
"Setelah itu para investor perlu memantau, seperti apa dampak ke kinerja setelah lebih fokus ke energi hijau. Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis EBT terus mengalami pertumbuhan," ungkap Sukarno kepada Kontan.co.id, Jumat (18/10).
Sukarno menilai, pelepasan AAI melalui skema IPO tampak akan menarik minat pasar, karena secara valuasi yang ditawarkan relatif murah. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengamini, AAI bisa menjadi pilihan yang menarik di mata investor.
AAI telah menjadi sumber pendapatan utama ADRO yang juga memiliki konsistensi laba bersih. Selain itu, biaya produksi batubara AAI relatif lebih rendah dibandingkan produsen batubara lainnya. Faktor berikutnya adalah cadangan batubara yang cukup besar, permintaan batubara yang masih tinggi, serta potensi pembagian dividen.
Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani menghitung rasio pemesanan IPO AAI. Dalam perhitungannya, setiap kepemilikan 100 saham ADRO akan memiliki hak untuk memesan sekitar 23 saham AAI pada PUPS. Ini dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Sementara itu, Bima melihat investor masih menanti dan mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari investor AAI dengan mengikuti PUPS. Dus, hal ini bisa menjadi katalis pendongkrak bagi harga saham ADRO, setidaknya dalam jangka pendek dengan potensi kenaikan ke resistance di area Rp 4.200.
Namun di sisi yang lain, Bima memperkirakan dalam jangka menengah investor asing cenderung melepas ADRO setelah melepas AAI. Sedangkan Sukarno menyarankan hold saham ADRO dengan target harga di level Rp 4.050. "Tapi tetap batasi risiko jika kembali bergerak melemah," kata Sukarno.
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat saat ini pergerakan harga saham ADRO cenderung sideways sejak akhir September 2024. Secara MACD dan stochastic, ada indikasi ADRO akan memulai bearish dalam jangka pendek.
Dus, Herditya menyarankan strategi buy on weakness mencermati support Rp 3.530, resistance Rp 3.930 untuk target harga Rp 4.100-Rp 4.250. Adapun, ADRO menutup perdagangan Jumat (18/10) dengan pelemahan 3,08% ke level harga Rp 3.780 per saham.
Dapat Restu Jual Adaro Andalan, Simak Prospek Kinerja & Rekomendasi Saham ADRO
Adaro Energy Indonesia (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal. [1,326] url asal
#adro #saham-adro #batubara-termal #adaro-energy-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk-adro #adaro-andalan-indonesia #rapat-umum-pemegang-saham-luar-biasa #berita-nasional #indonesia #pemerintah
(Kontan-Investasi) 18/10/24 19:57
v/16662229/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengantongi restu untuk melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Restu itu didapat dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) ADRO yang digelar pada Jumat (18/10).
Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi "Boy" Thohir mengatakan aksi ini bagian dari upaya ekspansi strategis dan diversifikasi ADRO di segmen non pertambangan batubara. ADRO mengejar portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari non batubara termal paling lambat tahun 2030.
“Kami berpandangan langkah ini efektif untuk memaksimalkan kinerja PT Adaro Andalan Indonesia dan pilar bisnis non batubara termal karena dapat memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti serta terus memanfaatkan sumber daya dan potensinya,” kata Boy melalui siaran resmi, Jumat (18/10).
ADRO bermaksud memisahkan bisnis-bisnis segmen pertambangan beserta sejumlah bisnis pendukung di bawah AAI dari pilar Adaro Minerals dan Adaro Green, agar dapat memaksimalkan kinerja AAI dan pilar-pilar non batubara termal. Langkah ini dinilai memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti masing-masing.
Transaksi ini diperkirakan akan mendukung AAI serta segmen bisnis non batubara termal untuk memperkuat fokus pada pengembangan dan kinerja. Pemisahan ini juga memungkinkan bisnis-bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih besar, biaya pendanaan lebih kompetitif, dan akses lebih luas terhadap proyek-proyek hijau dengan para mitra bisnis potensial papan atas.
RUPSLB telah menyetujui untuk menjual sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki ADRO atas AAI. Aksi ini merupakan transaksi material menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020, serta perubahan kegiatan usaha utama melalui penawaran umum kepada seluruh pemegang saham ADRO, berdasarkan POJK Nomor 76/POJK.04/2017.
Dengan tunduk pada diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, ADRO akan memberikan kesempatan kepada para pemegang sahamnya untuk berpartisipasi pada transaksi ini sebagai pembeli.
Skema IPO AAI
AAI yang sebelumnya bernama PT Alam Tri Abadi merupakan perusahaan yang 99,9999% dimiliki oleh ADRO. Dalam transaksi ini, ADRO menawarkan sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki pada AAI, yakni 7.008.202.240 saham. Transaksi ini akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
Dalam keterbukaan informasi yang rilis pada Rabu (16/10) dijelaskan, PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) AAI. Segera setelah IPO, kepemilikan saham ADRO pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di bursa, dengan ketentuan bahwa harga penawaran final:
(1) serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari Penilai Independen; dan
(2) setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Sehingga, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya sebesar US$ 2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO. Sedangkan setinggi-tingginya adalah sebesar US$ 2,62 miliar, yang setara dengan 34,1% dari total ekuitas ADRO.
Dengan memperhitungkan jumlah lembar saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7.008.202.240 saham, maka harga per saham adalah sebesar US$ 0,35. Hal ini terungkap dalam kesimpulan nilai pada ringkasan laporan objek rencana transaksi.
ADRO akan melepas saham yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS.
"Pembeli adalah para pemegang saham Adaro Energy yang terdaftar pada Tanggal Pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI dari Adaro Energy," ungkap Manajemen ADRO.
Dampak Terhadap Kinerja
Dalam keterbukaan informasi yang sama, Manajemen ADRO juga mengungkapkan dampak pelepasan AAI kepada kinerja ADRO. Manajemen ADRO membeberkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024 untuk memberikan gambaran terkait dampak dari pelepasan AAI.
Persentase pendapatan dan laba bersih AAI masing-masing mencapai 89,4% dan 104,8% terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi. Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO, masing-masing sebesar 65% dan 64%.
Gambaran dalam proforma ini, pendapatan usaha konsolidasi ADRO per 30 Juni 2024 menurun 65% dari US$ 2,97 miliar menjadi US$ 1,05 miliar. Sedangkan laba periode berjalan konsolidasian menurun 64% dari US$ 880,18 juta menjadi US$ 321,01 juta. Dengan proforma tersebut, ADRO secara terkonsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
"Adaro Energy secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, pengolahan mineral, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya," ungkap Manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi Rabu (16/10).
Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ketika AAI dilepas, ADRO secara konsolidasi masih memiliki total aset, pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar US$ 8,47 miliar, US$ 1,05 miliar dan US$ 321,01 juta, yang berasal dari bisnis ADRO di luar AAI.
"Ke depannya, Adaro Energy akan lebih mengembangkan proyek-proyek yang ada saat ini dalam bidang energi yang mendukung program ekonomi hijau pemerintah Indonesia. Dengan demikian, bilamana Rencana Transaksi dilaksanakan, kelangsungan usaha Adaro Energy tidak akan terganggu," sebut Manajemen ADRO.
Sebagai informasi, total cadangan batubara termal yang dimiliki oleh ADRO melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi dalam grup AAI mencapai 917,4 juta ton. Dengan divestasi AAI, ADRO tidak lagi memiliki cadangan batubara termal.
ADRO pun tetap masih memiliki cadangan batubara metalurgi sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi yaitu grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 173 juta ton.
Rekomendasi Saham
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyoroti potensi penurunan kinerja ADRO dalam jangka menengah, setelah divestasi AAI yang menjadi kontributor pendapatan terbesar. Namun, alih fokus ke bisnis non-batubatara termal terutama energi baru & terbarukan (EBT) bisa menjadi langkah yang tepat seiring target bauran energi hijau yang terus meningkat.
"Setelah itu para investor perlu memantau, seperti apa dampak ke kinerja setelah lebih fokus ke energi hijau. Secara prospek jangka panjang menarik karena secara prospek bisnis EBT terus mengalami pertumbuhan," ungkap Sukarno kepada Kontan.co.id, Jumat (18/10).
Sukarno menilai, pelepasan AAI melalui skema IPO tampak akan menarik minat pasar, karena secara valuasi yang ditawarkan relatif murah. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengamini, AAI bisa menjadi pilihan yang menarik di mata investor.
AAI telah menjadi sumber pendapatan utama ADRO yang juga memiliki konsistensi laba bersih. Selain itu, biaya produksi batubara AAI relatif lebih rendah dibandingkan produsen batubara lainnya. Faktor berikutnya adalah cadangan batubara yang cukup besar, permintaan batubara yang masih tinggi, serta potensi pembagian dividen.
Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani menghitung rasio pemesanan IPO AAI. Dalam perhitungannya, setiap kepemilikan 100 saham ADRO akan memiliki hak untuk memesan sekitar 23 saham AAI pada PUPS. Ini dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Sementara itu, Bima melihat investor masih menanti dan mempertimbangkan untuk menjadi bagian dari investor AAI dengan mengikuti PUPS. Dus, hal ini bisa menjadi katalis pendongkrak bagi harga saham ADRO, setidaknya dalam jangka pendek dengan potensi kenaikan ke resistance di area Rp 4.200.
Namun di sisi yang lain, Bima memperkirakan dalam jangka menengah investor asing cenderung melepas ADRO setelah melepas AAI. Sedangkan Sukarno menyarankan hold saham ADRO dengan target harga di level Rp 4.050. "Tapi tetap batasi risiko jika kembali bergerak melemah," kata Sukarno.
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat saat ini pergerakan harga saham ADRO cenderung sideways sejak akhir September 2024. Secara MACD dan stochastic, ada indikasi ADRO akan memulai bearish dalam jangka pendek.
Dus, Herditya menyarankan strategi buy on weakness mencermati support Rp 3.530, resistance Rp 3.930 untuk target harga Rp 4.100-Rp 4.250. Adapun, ADRO menutup perdagangan Jumat (18/10) dengan pelemahan 3,08% ke level harga Rp 3.780 per saham.
Adaro Energy (ADRO) Jelaskan Hasil RUPSLB soal Spin-off AAI
RUPSLB Adaro Energy Indonesia (ADRO) menyetujui rencana spin off anak usaha mereka, PT Adaro Andalan Indonesia hari ini, Jumat (18/10/2024). [475] url asal
#adaro-energy-indonesia #adaro #adro #adaro-andalan-indonesia #spi-off #aai #rupslb-adaro #ipo-adaro-andalan-indonesia #ipo-aai #kinerja-adro #laba-bersih-adaro #batu-bara #boy-thohir #emiten-boy-thohi
(Bisnis.Com - Market) 18/10/24 18:54
v/16660134/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) hari ini menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), untuk meminta persetujuan pemegang saham atas rencana spin off anak usaha mereka, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI).
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Garibaldi Thohir mengatakan pihaknya bermaksud untuk terus mengupayakan ekspansi strategis dan diversifikasi di segmen non-pertambangan batu bara demi menciptakan portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mencapai target untuk menghasilkan sekitar 50% pendapatan dari non batu bara termal paling lambat tahun 2030.
“Kami berterima kasih kepada para pemegang saham atas partisipasi dan dukungan mereka bagi terselenggaranya RUPSLB ini sehingga kita dapat mencapai tujuan serta melaksanakan rencana transaksi material," kata Boy Thohir dalam siaran persnya, Jumat (18/10/2024).
Dia melanjutkan, ADRO berpandangan langkah ini efektif untuk memaksimalkan kinerja PT Adaro Andalan Indonesia dan pilar bisnis nonbatu bara termal. Pasalnya, hal tersebut memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti serta terus memanfaatkan sumber daya dan potensinya.
Adapun RUPSLB telah menyetujui mata acara rapat untuk menjual sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki Perusahaan atas PT Adaro Andalan Indonesia.
ADRO berkomitmen untuk sepenuhnya mendukung komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, termasuk upaya mencapai net-zero emissions pada tahun 2060 atau lebih awal dengan melalui berbagai langkah.
ADRO berkomitmen untuk memiliki sekitar 50% dari total pendapatan berasal dari bisnis non batu bara termal paling lambat tahun 2030, yang akan dicapai dengan meningkatkan bisnis di bidang-bidang yang mendukung ekosistem hijau Indonesia.
Untuk memenuhi komitmen tersebut, ADRO bermaksud memisahkan bisnis-bisnis di bawah segmen pertambangan beserta sejumlah bisnis pendukung di bawah PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) dari pilar Adaro Minerals dan Adaro Green agar dapat memaksimalkan kinerja AAI dan pilar-pilar non batu bara termal tersebut karena langkah ini akan memungkinkan masing-masing perusahaan untuk berfokus pada pengembangan kekuatan inti mereka.
Transaksi ini diperkirakan akan mendukung AAI serta segmen-segmen bisnis non batu bara termal untuk memperkuat fokus pada pengembangan dan kinerja.
Pemisahan ini juga akan memungkinkan bisnis-bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih besar, biaya pendanaan yang lebih kompetitif, dan akses yang lebih luas terhadap proyek-proyek hijau dengan para mitra bisnis potensial papan atas, selain dari menawarkan kepada investor publik lebih banyak opsi investasi yang lebih sesuai dengan minat dan pandangan mereka.
Transaksi ini dilaksanakan melalui penawaran umum saham AAI sesuai peraturan pasar modal yang berlaku, termasuk Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 76/POJK.04/2017.
Dengan tunduk pada diperolehnya pernyataan efektif dari OJK atas pernyataan pendaftaran ADRO sehubungan dengan penawaran umum oleh pemegang saham berdasarkan POJK 76/2017, ADRO akan memberikan kesempatan kepada para pemegang sahamnya untuk berpartisipasi pada transaksi ini sebagai pembeli.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Segini Harga Saham Adaro Andalan yang Mau Dilepas ADRO?
Adaro Energy (ADRO) berencana melepas seluruh kepemilikannya di Adaro Andalan. Segini kisaran harga per sahamnya. - Halaman all [400] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #adaro #adro #adaro-energy-indonesia #saham-adro #adaro-andalan-indonesia #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 18/10/24 08:46
v/16644712/
JAKARTA, investor.id - PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) berencana melakukan transaksi penjualan atas sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki perseroan pada PT Adaro Andalan Indonesia (dahulu bernama PT Alam Tri Abadi), sejumlah 7.008.202.240 saham melalui pelaksanaan penawaran umum oleh pemegang saham (PUPS).
Adaro Andalan Indonesia atau disingkat AAI merupakan perusahaan batu bara termal dari Grup Adaro Energy. Tanggal 18 Oktober ini, Adaro menggelar RUPSLB untuk meminta persetujuan divestasi Adaro Andalan.
“Pada tanggal keterbukaan informasi ini, AAI merupakan suatu perseroan terbatas yang 99,9999% sahamnya dimiliki secara langsung oleh perseroan,” papar direksi Adaro (ADRO) dalam keterbukaan informasi baru-baru ini.
Direksi Adaro menyatakan, PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham AAI. Di mana segera setelah IPO saham AAI tersebut, kepemilikan saham Adaro Energy (ADRO) pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Dalam ulasannya, investment analyst Stockbit Hendriko Gani mengungkap, sebagaimana keterbukaan informasi ADRO, harga penawaran PUPS adalah sebesar volume weighted average price (harga rata-rata tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari IPO AAI.
Namun, sebut Hendriko, harga penawaran PUPS terendah telah ditetapkan sebesar US$ 2,45 miliar (Rp 5.425/lembar) sementara harga tertinggi adalah sebesar US$ 2,63 miliar (Rp 5.825/lembar).
“Berdasarkan perhitungan kami, harga penawaran PUPS ini mencerminkan valuasi sebesar 2,95-3,17x P/E. Di sisi lain, indikasi harga IPO AAI belum diketahui,” jelas Hendriko dalam ulasannya kemarin.
Valuasi ADRO Pasca Spin-off
Hendriko juga menyatakan, berdasarkan perhitungan pihaknya, setiap kepemilikan 100 saham Adaro Energy Indonesia (ADRO) akan memiliki hak untuk memesan 23 saham AAI pada PUPS, dengan asumsi seluruh saham AAI yang dimiliki ADRO ditawarkan pada PUPS.
Ia melanjutkan, dengan melepas AAI, ADRO akan mengalami penurunan laba bersih. Dengan estimasi annualized EPS 2024 sebesar Rp 282,4 pasca spin-off, ADRO akan diperdagangkan pada 13,6x P/E berdasarkan harga saham Rp 3.850/lembar.
Sementara itu, book value per 1H24 adalah sebesar Rp 3.820/saham, sehingga PBV berada di 1,01x.
Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Update IPO Adaro Andalan: Dampak ke Kinerja Hingga Harga Saham ADRO
Divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO. [732] url asal
#pt-adaro-energy-tbk #pt-adaro-minerals-indonesia-tbk-admr #pt-adaro-energi-indonesia-tbk #adaro-andalan-indonesia #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 17/10/24 15:46
v/16605453/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) memperbarui informasi mengenai rencana penjualan anak usahanya, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Keterbukaan informasi kali ini memuat lebih rinci mengenai dampak pelepasan AAI kepada kinerja ADRO, serta harga per saham AAI dalam proses penjualan.
Keterbukaan informasi ini ditandatangani oleh Wakil Presiden Direktur ADRO Christian Ariano Rachmat dan Direktur ADRO Michael William P. Soeryadjaya. Dalam keterbukaan ini ini, Manajemen ADRO membeberkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024 untuk memberikan gambaran terkait dampak dari pelepasan AAI.
Persentase pendapatan dan laba bersih AAI masing-masing mencapai 89,4% dan 104,8% terhadap pendapatan dan laba bersih ADRO secara konsolidasi. Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, divestasi AAI menyebabkan penurunan pendapatan dan laba bersih usaha konsolidasian ADRO, masing-masing sebesar 65% dan 64%.
Gambaran dalam proforma ini, pendapatan usaha konsolidasi ADRO per 30 Juni 2024 menurun 65% dari US$ 2,97 miliar menjadi US$ 1,05 miliar. Sedangkan laba periode berjalan konsolidasian menurun 64% dari US$ 880,18 juta menjadi US$ 321,01 juta. Dengan kata lain, ADRO secara terkonsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
"Perseroan secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, pengolahan mineral, energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya," ungkap Manajemen ADRO dalam keterbukaan informasi Rabu (16/10).
Berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ketika AAI dilepas, ADRO secara konsolidasi masih memiliki total aset, pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar US$ 8,47 miliar, US$ 1,05 miliar dan US$ 321,01 juta, yang berasal dari bisnis ADRO di luar AAI.
"Ke depannya, ADRO akan lebih mengembangkan proyek-proyek yang ada saat ini dalam bidang energi yang mendukung program ekonomi hijau pemerintah Indonesia. Dengan demikian, bilamana Rencana Transaksi dilaksanakan, kelangsungan usaha Adaro Energy tidak akan terganggu," sebut Manajemen ADRO.
Sebagai informasi, total cadangan batubara termal yang dimiliki oleh ADRO melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi dalam grup AAI mencapai 917,4 juta ton. Dengan divestasi AAI, ADRO tidak lagi memiliki cadangan batubara termal.
Emiten milik taipan Garibaldi "Boy" Thohir ini tetap masih memiliki cadangan batubara metalurgi sebagai bahan baku utama pembuatan baja, yang dimiliki melalui anak perusahaan yang dikonsolidasi yaitu grup PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar 173 juta ton.
Rencana Transaksi
AAI merupakan perusahaan yang 99,9999% dimiliki oleh ADRO. Dalam transaksi ini, ADRO menawarkan sebanyak-banyaknya seluruh saham yang dimiliki pada AAI, yakni sejumlah 7.008.202.240 saham. Transaksi ini akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) AAI. Segera setelah IPO tersebut, kepemilikan saham ADRO pada AAI diperkirakan akan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di bursa, dengan ketentuan bahwa harga penawaran final:
(1) serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari Penilai Independen; dan
(2) setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Sehingga, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya sebesar US$ 2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO. Sedangkan setinggi-tingginya adalah sebesar US$ 2,62 miliar, yang setara dengan 34,1% dari total ekuitas ADRO.
Dengan memperhitungkan jumlah saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7.008.202.240 saham, maka harga per saham adalah sebesar US$ 0,35. Hal ini terungkap dalam kesimpulan nilai pada ringkasan laporan objek rencana transaksi.
ADRO akan menawarkan saham AAI kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada Prospektus PUPS.
"Pembeli adalah para pemegang saham Perseroan yang terdaftar pada Tanggal Pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI dari Perseroan," ungkap Manajemen ADRO.
Dalam melaksanakan aksi korporasi ini, ADRO akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Oktober 2024. Dari sisi pergerakan saham, hingga pukul 15:29 WIB perdagangan Kamis (17/10), harga ADRO menguat 1,04% ke level Rp 3.890 per saham. Secara year to date, harga saham ADRO telah melonjak 63,45%.
Adaro Energy (ADRO) Ungkap Harga Saham AAI Jelang IPO
Adaro Energy (ADRO) mengungkapkan harga saham AAI berdasarkan laporan penilaian jelang penawaran umum. [426] url asal
#adaro-energy #adro #saham-adro #harga-saham-aai #adaro-andalan-indonesia #bursa-efek-indonesia #bei #ipo-adaro-andalan-indonesia
(Bisnis.Com - Market) 17/10/24 11:42
v/16598473/
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten afiliasi konglomerat Garibaldi 'Boy' Thohir PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) menjelaskan lebih jauh mengenai penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) anak usahanya, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Salah satu yang dijelaskan adalah harga per saham dari AAI.
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Wakil Presiden Direktur Adaro Energy Indonesia Christian Ariano Rachmat dan Direktur Adaro Energy Indonesia Michael William P. Soeryadjaya menyampaikan perseroan berencana melakukan transaksi penjualan sebanyak-banyaknya 7.008.202.240 saham atau 7 miliar saham AAI melalui skema Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS).
"Dengan memperhitungkan jumlah lembar saham setelah pemecahan nilai nominal saham AAI sebanyak 7 miliar saham, maka harga per saham adalah sebesar US$0,35," tulis manajemen ADRO, Kamis (17/10/2024).
Apabila melihat kurs Jisdor sebesar Rp15.536 per 16 Oktober 2024, maka harga per saham dari AAI adalah sebesar Rp5.437,6.
Lebih lanjut, ADRO menjelaskan harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price atau harga rata-rata tertimbang yang terbentuk setelah penutupan perdagangan di hari pencatatan saham AAI di Bursa, dengan tetap memperhatikan kewajaran transaksi sebagaimana diatur POJK 35/2020.
Harga penawaran final akan merujuk pada dua ketentuan. Ketentuan pertama, yaitu serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari penilai independen, dan kedua, setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari penilai independen.
Dengan demikian, nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya adalah sebesar US$2,44 miliar atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas perseroan, dan setinggi-tingginya sebesar US$2,62 miliar yang setara 34,1% dari total ekuitas perseroan.
Adapun ADRO akan menawarkan saham yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham ADRO yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham ADRO pada tanggal yang saat ini direncanakan jatuh pada 27 November 2024, atau tanggal lainnya yang akan diumumkan pada prospektus PUPS.
Rencana transaksi ini diharapkan akan membantu AAI dan pilar bisnis nonbatu bara termal untuk meningkatkan fokus pengembangan dan kinerja.
Lebih lanjut, pemisahan ini juga akan membantu bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses terhadap sumber pembiayaan yang lebih banyak dan biaya pendanaan yang lebih kompetitif.
Selain itu, ADRO mengharapkan aksi korporasi ini memberikan akses yang lebih baik pada proyek-proyek ramah lingkungan dengan partner bisnis potensial peringkat atas, serta memberikan opsi investasi yang lebih banyak pada investor publik untuk berinvestasi sesuai dengan minat dan pandangannya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Emiten Boy Thohir ADRO Ungkap Skema Spin-Off dan IPO Adaro Andalan Indonesia
Adaro Energy Indonesia (ADRO) menyampaikan kabar terbaru terkait dengan rencana spin off saham anak usahanya PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Lanjut IPO? [434] url asal
#adaro #adaro-energy-indonesia #adaro-andalan-indonesia #spin-off #ipo #pups-adaro #dividen-adaro #batu-bara #aksi-korporasi #ipo-aai #ipo-adaro-andalan-indonesia #divestasi-adaro #batu-bara-termal #ga
(Bisnis.Com - Market) 17/10/24 08:47
v/16590615/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) menyampaikan kabar terbaru terkait dengan rencana spin off saham anak usahanya PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Aksi korporasi itu termasuk skema penawaran umum perdana saham AAI.
Wakil Presiden Direktur Adaro Energy Indonesia Christian Ariano Rachmat dan Direktur Adaro Energy Indonesia Michael William P. Soeryadjaya menyampaikan perseroan berencana melakukan transaksi penjualan sebanyak-banyaknya 7.008.202.240 saham atau 7 miliar saham AAI melalui skema Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS). Skema tersebut merujuk pada Peraturan OJK No.76/2017.
“PUPS akan dilaksanakan secara bersamaan atau berkesinambungan dengan proses penawaran umum perdana saham AAI,” papar Christian dan Michael dalam keterbukaan informasi, Kamis (17/10/2024).
Segera setelah penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham AAI tersebut, kepemilikan saham ADRO dalam AAI diperkirakan terdilusi menjadi sebesar 90% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor AAI.
ADRO mencatat total aset AAI senilai US$5,43 miliar setara dengan 52,9% total aset perseroan US$10,26 miliar. Adapun, pendapatan AAI US$2,65 miliar setara dengan 89,4% pendapatan perseroan US$2,97 miliar dan laba bersih AAI US$922,76 juta (termasuk nonrecurring gain US$322,93 juta) setara dengan 104,8% laba bersih ADRO US$880,18 juta.
“Nilai rencana transaksi secara keseluruhan serendah-rendahnya US$2,44 miliar dan setinggi-tingginya US$2,62 miliar,” ungkap manajemen Adaro.
Harga penawaran PUPS adalah sebesar Volume Weighted Average Price (Harga Rata-Rata Tertimbang) yang terbentuk setelah penutupan perdagangan pada hari pencatatan saham AAI di bursa.
ADRO mengungkap harga penawaran final merujuk pada dua ketentuan. Pertama, serendah-rendahnya akan menggunakan harga pasar wajar saham AAI berdasarkan hasil penilaian dari penilai independen. Kedua, setinggi-tingginya sebesar 107,5% dari hasil penilaian dari Penilai Independen, sesuai dengan batasan kewajaran yang diatur POJK 35/2020.
Manajemen emiten yang dikendalikan oleh Garibaldi ‘Boy' Thohir itu menambahkan rencana transaksi itu diharapkan akan membantu AAI dan pilar bisnis nonbatu bara termal untuk meningkatkan fokus pengembangan dan kinerja.
Lebih lanjut, pemisahan ini juga akan membantu bisnis hijau ADRO untuk mendapatkan akses terhadap sumber pembiayaan yang lebih banyak dan biaya pendanaan yang lebih kompetitif.
Selain itu, ADRO mengharapkan aksi korporasi emiten Boy Thohir tersebut memberikan akses yang lebih baik pada proyek-proyek ramah lingkungan dengan partner bisnis potensial peringkat atas, serta memberikan opsi investasi yang lebih banyak pada investor publik untuk berinvestasi sesuai dengan minat dan pandangannya.
Lepas Adaro Andalan, ADRO Terus Terang Labanya Hanya Sisa Segini
Adaro (ADRO) bakal melepas Adaro Andalan, perusahaan batu bara termal. ADRO mengungkap labanya bakal sisa segini usai divestasi. - Halaman all [308] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #adaro #adro #adaro-andalan-indonesia #saham-adro #adaro-andalan #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 17/10/24 07:46
v/16600585/
JAKARTA, investor.id - PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) berencana melakukan penjualan sebanyak-banyaknya seluruh saham pada PT Adaro Andalan Indonesia (AAI).
AAI adalah perusahaan batu bara termal Grup Adaro. Saat ini Adaro (ADRO) menguasai 7.008.202.240 (99,99%) saham AAI.
Direksi Adaro Energy (ADRO) mengungkap bahwa rencana transaksi tidak berpotensi mengakibatkan terganggunya kelangsungan usaha Adaro Energy. Di mana setelah divestasi, berdasarkan proforma laporan keuangan 30 Juni 2024, ADRO masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI.
“Perseroan secara konsolidasi masih memiliki laba bersih dan pendapatan sekitar 35% dari pendapatan sebelum divestasi AAI, yang dikontribusikan oleh lini bisnis perseroan di luar AAI,” sebut direksi Adaro Energy dalam keterbukaan informasi dikutip Kamis (17/10/2024).
Proforma Pendapatan dan Laba
Sementara itu, pendapatan Adaro Energy Indonesia (ADRO) pada semester I-2024 sebesar US$ 2,97 miliar. Jika dengan memperhitungkan divestasi AAI, maka proforma pendapatan ADRO jadi US$ 1,05 miliar.
Sedangkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Adaro sebanyak US$ 778,77 juta pada semester I-2024. Jika memasukkan asumsi pelepasan AAI, maka proforma laba bersih ADRO tinggal US$ 321,01 juta.
Direksi Adaro Energy menekenkan bahwa ke depannya perseroan memiliki keyakinan bahwa bisnis-bisnisnya yang sedang dikembangkan terkait ekonomi hijau akan memberikan potensi pendapatan dan keuntungan yang jauh lebih besar di kemudian hari, yang didukung oleh pendanaan yang lebih kompetitif.
“Selain itu, dengan partisipasi dalam bisnis-bisnis terkait ekonomi hijau, maka perseroan turut mendukung upaya pengendalian perubahan iklim,” sebut direksi Adaro.
Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Sejumlah Emiten Divestasi Anak Usaha, Simak Rekomendasi Sahamnya
Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah melakukan divestasi saham anak usaha mereka. [1,343] url asal
#divestasi-saham #adaro-energy-indonesia #adaro-andalan-indonesia #mahardika-putranto #penawaran-umum-pemegang-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 03/10/24 20:44
v/15925589/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah melakukan divestasi saham anak usaha mereka.
Misalnya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) terkait berencana menjual anak usahanya, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). ADRO akan meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang akan diselenggarakan pada 18 Oktober 2024 mendatang.
Dalam keterbukaan informasi 11 September 2024, ADRO berencana menjual sebanyak-banyak seluruh kepemilikan atau 99,9999% saham di AAI. Nilai transaksi akan mempertimbangkan hasil penilaian saham dari penilai independen, yaitu sebesar US$ 2,45 miliar, atau setara dengan 31,8% dari total ekuitas ADRO.
Mekanisme transaksi akan dilakukan melalui Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) berdasarkan POJK 76/2017. Pembeli adalah para pemegang saham ADRO yang terdaftar pada tanggal pencatatan dan memilih untuk membeli saham AAI.
Sekretaris Perusahaan Adaro Energy Indonesia, Mahardika Putranto menegaskan, meskipun berencana melepas pilar bisnis batubara termal, ADRO tidak mengalami perubahan kegiatan usaha.
“ADRO tetap akan menjalankan kegiatan aktivitas kantor pusat dan konsultasi manajemen terhadap anak-anak perusahaan eksisting, di luar grup usaha AAI,” ujarnya dalam keterbukaan informasi terpisah pada Selasa (1/10).
ADRO secara terkonsolidasi masih tetap memiliki investasi di bidang pertambangan batubara metalurgi dan batuan, serta pengolahan mineral melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), energi, utilitas dan infrastruktur pendukung yang ditopang oleh sumber daya dan potensi yang dimilikinya.
Dus, Mahardika mengklaim divestasi AAI tidak akan mengganggu kelangsungan usaha ADRO. Emiten milik konglomerat Garibaldi "Boy" Thohir ini akan memfokuskan kegiatan usahanya pada bisnis non-batubara termal dan bisnis hijau.
“Bisnis non-batubara termal dan bisnis hijau perseroan merupakan bisnis yang tidak tergantung kepada bisnis batubara termal dan berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan bagi Perseroan ke depannya yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif pada pendapatan dan laba bersih," tuturnya.
Lalu, ada PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) yang sudah secara resmi menandatangani dokumen Sales Purchase Agreement (SPA) untuk PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT), anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk. yang mengelola Jalan Tol Trans Jawa, pada Jumat (27/9).
Penandatanganan itu dilakukan JSMR bersama dengan PT Metro Pacific Tollways Indonesia Services (MPTIS), Warrington Investment Pte. Ltd. (Warrington) dan PT Margautama Nusantara (MUN).
Strategi pendanaan ini dilakukan untuk mendapatkan sumber pendanaan alternatif bersifat ekuitas yang akan digunakan untuk mengoptimalkan struktur modal dan rasio utang JSMR. Sehingga, dalam jangka panjang, kapasitas dan kondisi keuangan perseroan akan tetap stabil seiring beroperasinya ruas-ruas jalan tol baru.
Meskipun menggandeng strategic partner, Jasa Marga tetap mempertahankan posisinya sebagai pemegang saham pengendali utama di PT JTT dengan kepemilikan saham mayoritas sebesar 65%.
Jasa Marga memastikan bahwa PT JTT masih menjadi bagian dalam kelompok usaha Jasa Marga dan akan terus memegang kendali penuh terhadap pengelolaan pengoperasian Jalan Tol Trans Jawa.
Adapun komposisi pemegang saham lain PT JTT saat ini yaitu sebesar 20,3% dimiliki PT MPTIS, 10,5% dimiliki Warrington dan 4,2% dimiliki oleh PT MUN yang merupakan anak usaha dari PT Nusantara Infrastructure Tbk.
Direktur Utama Jasa Marga, Subakti Syukur mengatakan, dalam jangka panjang, pengusahaan Jalan Tol Trans Jawa diproyeksikan akan terus mengalami pertumbuhan positif seiring dengan pengembangan infrastruktur dan jaringan jalan di berbagai wilayah di pulau Jawa.
“Sehingga, tentunya akan menghasilkan value yang optimal bagi pemegang saham dan para stakeholder,” ujarnya dalam keterangan resmi di laman Jasa Marga dikutip Senin (30/9).
Sebelumnya, ada PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melepas 2,41 miliar saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) yang dimiliki oleh anak usahanya, PT Megapratama Karya Persada. Berkat aksi korporasi ini perusahaan mengantongi dana segar Rp 6,88 triliun.
Jumlah saham yang dilepas ini setara dengan 18,57% dari modal disetor Siloam. Setelah transaksi tersebut, Megapratama masih memiliki 29,09% saham SILO.
President Director PT Lippo Karawaci Tbk Marlo Budiman mengatakan, transaksi ini membuat LPKR bisa mengurangi utang dan memperkuat fokus bisnis real estate, sembari mempertahankan kepentingan strategis dalam penyedia layanan kesehatan terkemuka di Indonesia.Keputusan untuk mengurangi kepemilikannya merupakan bagian dari strategi LPKR yang lebih luas untuk berkonsentrasi pada operasi kawasan terpadu.
“Ini meliputi kepemilikan land bank, pengembangan kawasan, perumahan, lahan industri, perhotelan, pusat perbelanjaan gaya hidup, dan taman pemakaman,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (19/9).
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani melihat, keputusan perusahaan dalam melakukan divestasi memang ditujukan untuk berbagai alasan strategik
“Jika melihat kinerja fundamental dan valuasi yang masih menarik, ADRO bisa dilirik,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/10).
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, M Faiz Abrar melihat, divestasi ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk meningkatkan keuntungan di tengah penurunan suku bunga. Perusahaan biasanya melakukan ekspansi maupun investasi yang lebih menguntungkan di tengah suku bunga rendah.
“Sehingga, hal ini pun akan berdampak positif jika perusahaan bisa memaksimalkan momentum tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/10).
Di sisa tahun 2024, kinerja perusahaan akan cenderung lebih baik dibandingkan dengan kinerja semester I lalu. Sentimen penurunan tingkat suku bunga pun menjadi pendorong utama aktivitas para agen ekonomi.
Lalu, surplus pada neraca perdagangan domestik membuktikan bahwa perekonomian Indonesia masih dalam keadaan yang solid. Mengacu rilis data neraca dagang Indonesia di bulan September 2024.
Faiz menuturkan, pada bulan Agustus 2024, neraca perdagangan Indonesia juga tercatat mengalami surplus US$ 2,89 miliar, lebih tinggi dibandingkan pada bulan Juli yang hanya sebesar US$ 470 juta.
“Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan bisa menjadi sentimen negatif, yaitu kondisi geopolitik yang kembali memanas,” tuturnya.
Kinerja LPKR dan JSMR dilihat Faiz berpotensi membaik hingga akhir tahun 2024. Untuk LPKR, sentimen positifnya adalah penurunan suku bunga yang berdampak pada kinerja keuangan optimal. Sementara, untuk JSMR, laporan keuangan yang solid di semester I berpotensi meningkatkan kinerja keuangan perseroan di sisa tahun ini.
Faiz pun merekomendasikan beli untuk JSMR dengan target harga Rp 5.100 per saham.
Sementara, LPKR direkomendasikan beli dengan target harga Rp 126 per saham. Namun, investor disarankan cut loss jika harga saham LPKR menyentuh di bawah Rp 100 per saham.
Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty melihat, aksi divestasi oleh ADRO, JSMR, dan LPKR bertujuan untuk meningkatkan efisiensi bisnis dan fokus pada segmen yang lebih potensial.
Berdasarkan laporan keuangan semester I lalu, para emiten tersebut memang tidak sedang menghadapi masalah keuangan yang serius. Sehingga, divestasi murni dilakukan untuk memperkuat likuiditas dan mendukung proyek strategis.
ADRO, misalnya, memerlukan pendanaan untuk proyek energi hijau seperti pembangkit listrik tenaga air.
“Sementara itu, JSMR dan LPKR menghadapi tekanan dari beban utang yang tinggi. Sehingga, divestasi diharapkan dapat meringankan beban tersebut serta memperkuat neraca,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/10).
Di sisa tahun 2024 ini, kinerja keuangan dan saham para emiten tersebut diprediksi masih akan melanjutkan tren positif, utamanya didorong dari aksi divestasi yang akan memperkuat likuiditas perusahaan.
Untuk ADRO, perseroan bisa lebih fokus pada bisnis energi hijau yang tengah diminati investor. Untuk JSMR, divestasi diharapkan mendorong ekspansi jalan tol yang lebih efisien.
“Namun, harga komoditas, terutama batu bara, bagi ADRO masih akan menjadi sentimen utama yang mempengaruhi kinerja hingga akhir tahun,” tuturnya.
Arinda pun merekomendasikan beli untuk ADRO dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 4.000 per saham dan Rp 6.500 per saham.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, divestasi aset bertujuan untuk meningkatkan dan memperlancar arus kas perusahaan.
Walaupun nantinya berdampak pada penurunan aset, tetapi dana segar yang diperoleh dari divestasi tersebut bisa digunakan untuk ekspansi bisnis dan meningkatkan EBITDA perusahaan.
“Apalagi, para perusahaan ini melakukan divestasi terhadap aset mereka yang sudah memiliki nilai yang relatif lebih tinggi,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/10).
Nafan melihat, kinerja SILO yang didivestasikan oleh LPKR justru memiliki kinerja yang lebih menarik di sisa tahun 2024 ini. Hal itu tercermin dari fasilitas rumah sakit yang masih bertumbuh hingga semester I 2024.
Di sisi lain, industri kesehatan juga berpotensi berkinerja baik ke depan, mengingat permintaan akan layanan kesehatan akan terus ada. Saat ini, SILO masih memusatkan persebaran rumah sakit dan layanan kesehatan di wilayah kota-kota besar di wilayah Barat Indonesia.
“Jika ke depannya SILO bisa melakukan ekspansi dan menyediakan layanan ke kota-kota di wilayah Timur, kinerjanya tentu bisa terdorong lagi. Namun, perlu diperhatikan juga stabilitas pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut,” paparnya.
Nafan pun merekomendasikan ADD untuk SILO dengan target harga terdekat di Rp 3.220 per saham.