Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Bandung pada Selasa (5.11.2024) sore hingga malam mengakibatkan banjir yang cukup parah di beberapa wilayah, termasuk di Kampung... | Halaman Lengkap [293] url asal
BANDUNG - Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Bandung pada Selasa (5/11/2024) sore hingga malam mengakibatkan banjir yang cukup parah di beberapa wilayah, termasuk di Kampung Cikupa, Desa Bojongmanggu, Kecamatan Pameungpeuk.
Salah satu rekaman video yang beredar di media sosial adalah terbawanya sebuah gerobak etalase penjual ayam oleh arus banjir yang sangat deras.
Menurut saksi mata, Elsa Oktaviani (23), banjir mulai menggenangi wilayah tersebut sekitar pukul 20.00 WIB, setelah hujan turun sejak sore hari. Di tengah derasnya arus, gerobak etalase milik pedagang ayam terangkat dan terbawa air.
"Etalasenya kebawa arus, mungkin karena arusnya sangat kuat," kata Elsa, yang merekam kejadian tersebut dari depan rumahnya.
Elsa menjelaskan bahwa arus banjir yang besar membuat pedagang ayam tersebut tidak dapat menyelamatkan barang dagangannya.
"Kayaknya si pedagangnya lagi masuk di dalam warung niatnya mau dimasukin tapi keburu airnya gede," ujarnya.
Saat etalase terbawa arus, warga juga tidak berani menahan roda lantaran arus yang sangat deras. "Jadi orang-orang nggak berani mau nahan roda yang kebawa arus karena gede. Si pedagang juga diem soalnya airnya gede banget," tambahnya.
Saat merekam berada di depan rumahnya dan gerobak etalase sempat berhenti dekat mobil yang mogok terkena banjir. "Nah, saya ngambil videonya dari depan rumah jadi kurang tahu tapi tadi lihat mah hampir menabrak mobil karena ada mobil mogok. Kayaknya udah berhenti," ungkapnya.
Selain itu, Elsa juga menambahkan rumahnya tidak terendam berkat adanya penahan air di pintu masuk. "Di rumah aku, air nggak masuk karena ada penahan besi, kalau nggak pasti sudah masuk ke dalam rumah," ujarnya.
Menurutnya, saat ini warga masih bertahan di dalam rumahnya dan berjaga jika air terus semakin naik. "Warga was-was banjir, apalagi yang di dalem gang kan otomatis di pinggir jalan orang-orang pada waspada karena takut air masuk ke dalam rumah," katanya.
BHP dan Vale sepakat dengan pemerintah Brasil untuk membayar hampir US$ 30 miliar (Rp 468 triliun) sebagai kompensasi runtuhnya bendungan Mariana. [324] url asal
Raksasa pertambangan BHP dan Vale menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Brasil untuk membayar hampir US$ 30 miliar atau Rp 468 triliun sebagai kompensasi runtuhnya bendungan Mariana. Insiden yang terjadi pada 2015 itu menyebabkan bencana lingkungan terburuk di Brasil.
Runtuhnya bendungan melepaskan limbah beracun dan lumpur yang membanjiri kota-kota di sekitarnya, sungai dan hutan. Bencana ini menewaskan 19 orang, menyebabkan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal, dan mencemari sungai.
"Saya harap perusahaan pertambangan dapat mengambil pelajaran, hal ini akan mengurangi biaya yang harus mereka keluarkan untuk mencegah bencana ini," kata Presiden Brasil, Luiz InĂ¡cio Lula da Silva, dikutip dari BBC, Sabtu (26/10/2024).
Sebagai informasi, bendungan itu dimiliki oleh Samarco, perusahaan patungan antara Vale dan BHP. Sejak bencana terjadi, perusahaan telah mendirikan yayasan untuk memberikan kompensasi kepada masyarakat. Kota baru juga dibangun untuk menggantikan salah satu kota yang hancur.
Namun, masyarakat menilai mereka belum menerima keadilan yang cukup untuk membangun kembali kehidupan mereka sembilan tahun kemudian. Selain proses hukum di Brasil, lebih dari 620.000 orang telah mengajukan BHP ke pengadilan di Inggris, tempat BHP berkantor pusat pada saat itu.
Mereka menuntut ganti rugi sekitar US$ 47 miliar dalam persidangan perdata. Tahap pertama akan menentukan apakah BHP sebagai perusahaan induk bertanggung jawab. Sekitar 70.000 pengadu juga membawa Vale ke pengadilan di Belanda.
Pada tahun 2016, kedua perusahaan sepakat untuk membayar kompensasi sebesar US$ 3,5 miliar. Namun negosiasi dibuka kembali pada tahun 2021 karena lambatnya kemajuan sistem peradilan Brasil dalam menyelesaikan perselisihan tersebut.
Perjanjian hari Jumat ini mencakup kewajiban mereka di masa lalu dan masa depan untuk membantu masyarakat, komunitas, dan ekosistem yang terkena dampak bencana.
Perusahaan-perusahaan tersebut setuju untuk membayar 100 miliar reais atau US$ 17,5 miliar kepada pemerintah daerah selama 20 tahun. Lalu 32 miliar reais untuk memberikan kompensasi dan pemukiman kembali para korban, serta memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Sisanya sebesar 38 miliar reais adalah jumlah yang menurut perusahaan telah mereka bayarkan sebagai kompensasi.