#30 tag 24jam
10 Pertanda Seseorang Terjebak di Kelas Menengah Tanpa Menyadarinya
Jika seseorang merasa mandek secara finansial, mungkin saja dia terjebak di kelas menengah tanpa menyadarinya. [1,056] url asal
#dana-darurat #kelas-menengah #stagnasi-finansial #hidup-dari-gaji-ke-gaji #mengumpulkan-utang #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bisnis
(Kontan - Terbaru) 29/10/24 03:25
v/17042270/
Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Jika seseorang merasa mandek secara finansial, mungkin saja dia terjebak di kelas menengah tanpa menyadarinya.
Artikel ini akan membahas sepuluh tanda umum stagnasi finansial kelas menengah dan memberikan saran yang dapat ditindaklanjuti untuk memperbaiki situasi finansial seseorang.
Mengutip New Trader U, berikut penjelasan lengkapnya:
1. Hidup dari Gaji ke Gaji
Sering kita dengar, kelas pekerja melaporkan hidup dari gaji ke gaji atau bahkan pendapatan mereka tidak menutupi pengeluaran mereka.
Hal ini menciptakan tekanan finansial yang konstan dan mencegah membangun tabungan. Ketika Anda hampir tidak dapat memenuhi kebutuhan setiap bulan, menabung untuk masa depan atau berinvestasi dalam peluang yang dapat memperbaiki situasi finansial Anda menjadi hampir mustahil.
Cara mengubahnya:
Langkah pertama untuk memutus siklus gaji ke gaji adalah membuat anggaran terperinci. Lacak semua pengeluaran bulanan Anda untuk memahami dengan jelas ke mana uang Anda pergi.
Setelah Anda memiliki informasi ini, identifikasi area yang dapat Anda kurangi. Selanjutnya, fokuslah membangun dana darurat. Dana ini akan menyediakan penyangga terhadap biaya tak terduga dan membantu memutus siklus hidup yang sulit secara finansial.
2. Penghasilan di Bawah US$ 36.000 Per Tahun
Penghasilan tahunan di bawah US$ 36.000 atau setara dengan Rp 560 juta sering dianggap sebagai ambang batas bawah untuk status kelas menengah di AS. Pada tingkat pendapatan ini, mungkin sulit untuk menutupi pengeluaran dasar, apalagi menabung untuk masa depan atau berinvestasi dalam pertumbuhan pribadi.
Cara mengubahnya:
Meningkatkan penghasilan sangat penting untuk memperbaiki situasi keuangan Anda. Mulailah dengan mengevaluasi pekerjaan Anda saat ini. Apakah ada peluang untuk kemajuan atau tanggung jawab tambahan yang dapat menghasilkan kenaikan gaji? Jika tidak, pertimbangkan untuk mencari posisi baru yang menawarkan kompensasi yang lebih baik.
Berinvestasi dalam pendidikan dan keterampilan Anda juga dapat menghasilkan potensi pendapatan yang lebih tinggi. Cari sertifikasi atau program pelatihan yang relevan dengan bidang Anda.
Pilihan lainnya adalah memulai bisnis sampingan atau pekerjaan lepas di waktu luang Anda.
3. Mengumpulkan Utang untuk Mempertahankan Gaya Hidup
Mengandalkan kartu kredit atau pinjaman untuk mempertahankan gaya hidup Anda saat ini adalah perangkap yang berbahaya. Meskipun mungkin tampak seperti solusi dalam jangka pendek, mengumpulkan utang hanya akan memperpanjang masalah keuangan dan sering kali memperburuknya karena suku bunga yang tinggi.
Cara mengubahnya:
Langkah pertama adalah berhenti mengumpulkan utang baru. Jika perlu, potong kartu kredit dan berkomitmen untuk hanya membelanjakan apa yang sebenarnya Anda miliki.
Selanjutnya, lunasi utang yang ada menggunakan metode seperti bola salju utang atau longsoran utang. Pada saat yang sama, sesuaikan gaya hidup Anda untuk hidup di bawah kemampuan Anda.
4. Kurangnya Anggaran
Tidak memiliki anggaran dapat membuat Anda mandek secara finansial. Tanpa gambaran yang jelas tentang pendapatan dan pengeluaran Anda, mudah untuk mengeluarkan uang secara berlebihan dan sulit untuk mencapai kemajuan menuju tujuan keuangan.
Cara mengubahnya:
Buat anggaran bulanan yang komprehensif yang memperhitungkan semua pendapatan dan pengeluaran. Mulailah dengan mencantumkan semua sumber pendapatan, lalu kategorikan pengeluaran Anda. Sertakan biaya tetap seperti sewa, utilitas, dan pengeluaran variabel seperti bahan makanan dan hiburan.
Tinjau dan sesuaikan anggaran Anda secara teratur. Saat pendapatan atau pengeluaran Anda berubah, perbarui anggaran Anda sebagaimana mestinya. Kuncinya adalah memastikan pengeluaran Anda selaras dengan tujuan keuangan Anda.
5. Tidak Ada Dana Darurat
Kekurangan tabungan untuk pengeluaran tak terduga dapat menyebabkan utang lebih lanjut dan ketidakstabilan keuangan. Tanpa dana darurat, Anda rentan terhadap biaya tak terduga, mulai dari perbaikan mobil hingga tagihan medis.
Cara mengubahnya:
Mulailah membangun dana darurat Anda segera, bahkan jika Anda hanya dapat menyimpan sejumlah kecil uang. Tetapkan tujuan untuk menabung biaya hidup selama 3-6 bulan. Mulailah dengan secara otomatis mentransfer sejumlah kecil uang dari setiap gaji ke rekening tabungan terpisah yang ditujukan untuk keadaan darurat.
6. Tidak Berinvestasi
Gagal berinvestasi dapat secara signifikan membatasi potensi pertumbuhan kekayaan Anda. Meskipun menabung itu penting, berinvestasi memungkinkan uang Anda tumbuh seiring waktu melalui bunga majemuk dan pengembalian pasar.
Cara mengubahnya:
Mulailah berinvestasi, bahkan dengan jumlah kecil. Didik diri Anda sendiri tentang berbagai opsi dan strategi investasi. Buku-buku seperti “The Simple Path to Wealth” oleh JL Collins atau “The Bogleheads’ Guide to Investing” dapat memberikan dasar yang kuat. Seiring bertambahnya pengetahuan dan tingkat kenyamanan Anda, Anda dapat menjelajahi peluang investasi yang lebih beragam.
7. Bertahan Terlalu Lama di Satu Pekerjaan
Bertahan di pekerjaan yang sama dalam jangka waktu yang lama dapat membatasi pertumbuhan pendapatan. Meskipun loyalitas dapat dikagumi, memastikan perkembangan karier Anda sejalan dengan tujuan finansial Anda sangatlah penting.
Cara mengubahnya:
Secara berkala, nilai jalur karier dan kepuasan kerja Anda. Apakah Anda terus belajar dan berkembang dalam peran Anda saat ini? Apakah kompensasi Anda sesuai dengan standar industri?
Jika Anda telah berada di posisi yang sama selama beberapa tahun tanpa kemajuan yang signifikan, mungkin sudah waktunya untuk mencari peluang baru. Ini bisa berarti mencari promosi di perusahaan Anda saat ini atau menjajaki posisi dengan pemberi kerja lain.
Jejaring sangat penting untuk kemajuan karier. Hadiri acara industri, bergabunglah dengan asosiasi profesional, dan jalin hubungan dengan kolega dan mentor. Hubungan ini sering kali dapat menghasilkan peluang baru atau memberikan wawasan berharga untuk pertumbuhan karier.
Terus kembangkan keterampilan baru yang relevan dengan bidang Anda. Ini dapat membuat Anda lebih berharga bagi pemberi kerja Anda saat ini dan menarik bagi calon pemberi kerja baru. Platform daring seperti LinkedIn Learning atau sertifikasi khusus industri dapat membantu Anda tetap terkini dan kompetitif.
8. Puas dengan Keadaan yang Biasa-biasa Saja
Menerima apa yang kurang dari yang dapat Anda capai dapat menghambat Anda secara finansial. Meskipun ada nilai dalam merasa puas, penting untuk membedakan antara rasa puas dan rasa puas diri dalam hal masa depan finansial Anda.
Cara mengubahnya:
Tetapkan tujuan finansial yang ambisius tetapi dapat dicapai. Ini mungkin termasuk mencapai kekayaan bersih tertentu, memulai bisnis yang sukses, atau mencapai kemandirian finansial. Pecahkan tujuan yang lebih besar ini menjadi langkah-langkah yang lebih kecil dan dapat ditindaklanjuti.
9. Membeli Mobil Baru
Mobil baru terdepresiasi dengan cepat, kehilangan sekitar 20% dari nilainya di tahun pertama. Depresiasi yang cepat ini dapat menguras keuangan kelas menengah secara signifikan, mengikat uang yang dapat digunakan untuk menabung atau berinvestasi.
Cara mengubahnya:
Pertimbangkan untuk membeli mobil bekas yang andal daripada yang baru. Cari kendaraan berusia 2-3 tahun, karena kendaraan tersebut telah mengalami bagian tercuram dari kurva depresiasinya tetapi masih memiliki masa pakai yang masih lama.
10. Tidak Mendidik Diri Sendiri Tentang Keuangan
Kurangnya literasi keuangan dapat menyebabkan keputusan pengelolaan uang yang buruk dan hilangnya peluang membangun kekayaan. Banyak orang menganggap keuangan pribadi menakutkan, tetapi memahami konsep dasar sangat penting untuk kesuksesan ekonomi.
Cara mengubahnya:
Manfaatkan sumber daya keuangan pribadi gratis daring.
Anak Muda Penting Miliki Literasi Keuangan, Cerdas Persiapkan Masa Depan
Seiring dengan perkembangan zaman, kemampuan literasi keuangan semakin mendesak untuk dikuasai, terutama bagi generasi muda. Halaman all [463] url asal
#finansial #dana-darurat #literasi-keuangan
(Kompas.com) 22/10/24 10:20
v/16824019/
JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring dengan perkembangan zaman, kemampuan literasi keuangan semakin mendesak untuk dikuasai, terutama bagi generasi muda.
Di tengah arus informasi yang cepat dan perkembangan ekonomi yang dinamis, keterampilan ini menjadi kunci bagi anak muda dalam membangun masa depan finansial yang lebih stabil dan aman.
Dengan literasi keuangan yang baik, generasi muda dapat membuat keputusan investasi yang cerdas, mengelola utang dengan lebih efektif, serta menyiapkan dana darurat dan rencana pensiun.
SHUTTERSTOCK/MELIMEY Ilustrasi gaji. Cara mengatur keuangan yang bijak. Tips mengelola keuangan yang baik agar terbebas hutang.Meski demikian, tingkat literasi keuangan di Indonesia masih tergolong rendah, terutama di kalangan anak muda. Banyak yang masih kurang memahami bagaimana cara memanfaatkan instrumen keuangan untuk mencapai tujuan hidup mereka.
Hal ini membuat generasi muda lebih rentan terhadap krisis finansial dan ketidakpastian ekonomi di masa depan.
Salah satu organisasi yang menaruh perhatian mengenai minimnya kapabilitas literasi keuangan adalah Young Vision. Organisasi ini turut membawa solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan pendekatan yang inovatif.
Sejak didirikan pada tahun 2016 oleh Kevin Adiputra Hermi dan Devin Adiputra Hermi, organisasi ini telah menginspirasi lebih dari 3.000 anak muda di seluruh Indonesia untuk meningkatkan literasi keuangan.
Young Vision tidak hanya menjadi tempat bagi mereka yang ingin belajar tentang keuangan, tetapi juga platform untuk mengembangkan soft skill yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.
“Dengan memberikan pelatihan intensif dan program yang menyeluruh, Young Vision berharap bisa menciptakan generasi muda yang lebih mandiri dan percaya diri dalam mengambil keputusan keuangan.” ujar Devin dalam keterangannya, dikutip pada Selasa (22/10/2024).
Kevin menambahkan, Young Vision bukan hanya sekadar komunitas, tetapi juga gerakan untuk mendorong anak muda Indonesia agar berani bermimpi dan bertindak untuk masa depan mereka.
Ia percaya bahwa setiap anak muda memiliki potensi besar untuk mencapai kesuksesan jika dibekali dengan literasi keuangan.
Dengan hadirnya organisasi serupa yang berdedikasi untuk mengedukasi dan membimbing para pemuda, diharapkan semakin banyak anak muda Indonesia yang termotivasi untuk memperkuat kemampuan literasi keuangan mereka dan lebih bijak dalam menghadapi risiko finansial.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, keterampilan ini adalah fondasi penting bagi mereka yang ingin meraih masa depan yang lebih cerah dan aman.
Gaji UMR Mau Punya Dana Darurat? Bisa Kok!
Begini cara mempersiapkan dana darurat, meskipun dengan gaji pas-pasan UMR. [447] url asal
#dana-darurat #umr #upah #upah-minimum
(MedCom - Ekonomi) 21/10/24 16:25
v/16794732/
Dalam konteks gaji dengan penghasilan upah minimum regional (UMR), memiliki dana darurat tidak hanya memberikan rasa tenang, tetapi juga dapat menjadi penyangga saat menghadapi situasi mendesak.
Jadi, mau tahu bagaimana cara mempersiapkan dana darurat meskipun dengan gaji UMR? Berikut penjelasannya, yang dikutip dari ruangmenyala.com.
Susun anggaran dan catat pengeluaran
Langkah awal untuk menyiapkan dana darurat adalah menyusun anggaran dan mencatat pengeluaran sehari-hari. Anggaran membantu kamu dalam mengatur alokasi dana, sehingga kamu bisa memahami seberapa banyak yang bisa ditabung setiap bulan.
Sementara itu, pencatatan pengeluaran berguna untuk memantau sejauh mana pengeluaranmu, sehingga memudahkan saat kamu melakukan evaluasi keuangan di akhir bulan. Setelah anggaran dan catatan pengeluaran siap, kamu akan lebih jelas mengenai potensi tabunganmu setiap bulannya.
Tentukan tujuan
Setelah mengetahui seberapa besar kemampuanmu menabung setiap bulan, langkah berikutnya adalah menetapkan tujuan untuk dana darurat yang ingin kamu kumpulkan.
Misalnya, jika pengeluaran bulananmu mencapai Rp5 juta dan kamu berstatus single, maka dana darurat yang perlu disiapkan adalah Rp5 juta dikalikan enam, sehingga totalnya menjadi Rp30 juta.
Jumlah dana darurat ini bervariasi tergantung pada status pernikahanmu. Berikut adalah panduan umum untuk menentukan besaran dana darurat yang perlu diakumulasi:
- Bagi yang masih single, dana darurat sebaiknya minimal enam kali pengeluaran bulanan.
- Bagi yang sudah menikah, dana darurat sebaiknya minimal sembilan kali pengeluaran bulanan.
- Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak, dana darurat sebaiknya minimal 12 kali pengeluaran bulanan.
| Baca juga: Cara Mudah Ngumpulin Dana Darurat untuk Kebutuhan Mendesak |
Tentukan jangka waktu
Menentukan berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mengumpulkan dana darurat tersebut. Misalnya, jika kamu dapat menabung Rp500 ribu per bulan dan total dana darurat yang perlu disiapkan adalah Rp30 juta, kamu bisa menghitungnya dengan cara membagi total dana darurat dengan jumlah tabungan bulananmu.
Dengan demikian, dana darurat tersebut akan terakumulasi dalam waktu 60 bulan, atau sekitar lima tahun.
Prioritaskan dana darurat dalam keuanganmu
Jadikan dana darurat sebagai prioritas utama dalam rencana keuanganmu. Dana ini sangat penting untuk melindungi diri dari berbagai risiko kehidupan, seperti:
- Kehilangan pekerjaan atau pengurangan pendapatan
- Biaya perbaikan (rumah, kendaraan, gadget)
- Pengeluaran mendesak yang tak terduga
Pikirkan sejenak, kapan saja situasi tersebut bisa terjadi? Menunda pengumpulan dana darurat hanya akan menyulitkanmu di kemudian hari. Mulailah dari nominal kecil jika perlu, dan setelah terbiasa, tingkatkan jumlahnya.
Membangun dana darurat dengan gaji UMR itu sangat mungkin. Dengan perencanaan dan disiplin menabung, kamu bisa menciptakan keamanan finansial yang dibutuhkan. Ingat, setiap langkah kecil menuju tujuan besar sangat berarti.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(HUS)
10 Kebiasaan Finansial yang Buat Orang Miskin Tetap Miskin dan Orang Kaya Tetap Kaya
Keputusan finansial kita sehari-hari, sekecil apa pun, dapat berdampak besar pada kesehatan finansial jangka panjang kita. [1,423] url asal
#bebas-finansial #1-kebiasaan-finansial #2-bayar-diri-sendiri #3-kelola-utang #4-dana-darurat #5-investasi-jangka-panjang #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #peristiwa
(Kontan - Terbaru) 17/10/24 09:58
v/16594606/
Sumber: New Trader U | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Keputusan finansial kita sehari-hari, sekecil apa pun, dapat berdampak besar pada kesehatan finansial jangka panjang kita.
Perbedaan antara kesulitan finansial dan kesuksesan sering kali bergantung pada serangkaian kebiasaan yang menghambat atau membantu pertumbuhan kekayaan dan kemakmuran kita.
Dalam artikel ini, kita akan membahas sepuluh kebiasaan finansial penting dan membandingkan perilaku mereka yang berjuang secara finansial dengan mereka yang membangun kekayaan.
Dengan memahami dan mengadopsi kebiasaan-kebiasaan ini, Anda dapat mengambil langkah-langkah signifikan untuk meningkatkan masa depan finansial Anda.
1. Bayar Diri Anda Sendiri Terlebih Dahulu
Kebiasaan Buruk: Membayar Semua Tagihan Sebelum Menabung
Banyak orang terjebak dalam memprioritaskan semua pengeluaran mereka sebelum menyisihkan tabungan.
Pendekatan ini sering kali menyebabkan hidup pas-pasan, tanpa ada yang tersisa untuk ditabung di akhir bulan. Ini adalah siklus yang membuat stres yang tidak menyisakan ruang untuk pertumbuhan atau keamanan finansial.
Lebih buruk lagi, banyak orang memiliki penghasilan yang hampir tidak cukup untuk membayar tagihan mereka. Anda harus memperoleh penghasilan lebih banyak atau mengurangi pengeluaran untuk keluar dari siklus pas-pasan ini.
Kebiasaan Kaya: Menabung 10%-20% dari Pendapatan Terlebih Dahulu
Orang yang cerdas mengelola keuangan mempraktikkan kebiasaan "membayar diri sendiri terlebih dahulu." Ini berarti secara otomatis menyisihkan 10%-20% dari pendapatan mereka untuk ditabung sebelum membayar pengeluaran lainnya.
Dengan memperlakukan tabungan sebagai pengeluaran yang tidak dapat dinegosiasikan, mereka memastikan pertumbuhan kekayaan mereka yang konsisten.
Bahkan memulai dengan jumlah kecil dapat membuat perbedaan yang signifikan dari waktu ke waktu. Untuk membuat kebiasaan ini mudah dilakukan, pertimbangkan untuk mengatur transfer otomatis ke rekening tabungan pada hari gajian.
2. Kelola Utang dengan Bijaksana
Kebiasaan Buruk: Mengumpulkan Utang Berbunga Tinggi
Mengumpulkan utang berbunga tinggi, seperti saldo kartu kredit atau pinjaman gajian, dapat menjadi spiral kematian finansial. Suku bunga yang tinggi membuat sulit untuk melunasi pokoknya, yang menyebabkan efek bola salju di mana utang tumbuh lebih cepat daripada kemampuan seseorang untuk membayarnya.
Kebiasaan ini tidak hanya menguras sumber daya keuangan tetapi juga menciptakan tekanan psikologis yang signifikan.
Kebiasaan Kaya: Menghindari Utang Buruk dan Pelunasan Cepat
Mereka yang membangun kekayaan memahami perbedaan antara utang baik (seperti hipotek atau pinjaman bisnis yang dapat meningkatkan kekayaan bersih) dan utang buruk (utang konsumen berbunga tinggi). Mereka menghindari utang yang tidak perlu dan fokus untuk segera melunasi kewajiban berbunga tinggi.
Strategi yang dapat dilakukan antara lain metode longsor utang (melunasi utang berbunga tertinggi terlebih dahulu) atau metode bola salju utang (melunasi utang terkecil terlebih dahulu untuk kemenangan psikologis). Bebas utang memberikan kebebasan finansial dan membuka peluang untuk membangun kekayaan.
3. Bangun Dana Darurat
Kebiasaan Buruk: Tidak Ada Tabungan untuk Pengeluaran Tak Terduga
Pengeluaran tak terduga dapat menggagalkan kemajuan finansial tanpa dana darurat dan sering kali menyebabkan lebih banyak utang. Perbaikan mobil, tagihan medis, atau kehilangan pekerjaan dapat dengan cepat menjadi bencana finansial jika tidak ada jaring pengaman.
Kebiasaan Kaya: Mempertahankan Biaya Hidup 3-6 Bulan
Individu yang stabil secara finansial memprioritaskan membangun dan memelihara dana darurat yang mencakup biaya hidup 3-6 bulan. Dana ini memberikan ketenangan pikiran dan stabilitas keuangan, sebagai penyangga terhadap ketidakpastian hidup.
Dana ini mencegah kebutuhan untuk bergantung pada utang berbunga tinggi selama krisis. Mulailah dengan menyisihkan sejumlah kecil secara teratur, dan secara bertahap tingkatkan hingga mencapai seluruh dana darurat.
4. Menguasai Penganggaran
Kebiasaan Buruk: Tidak Melacak Pendapatan dan Pengeluaran
Mengelola keuangan secara membabi buta adalah resep untuk pengeluaran berlebihan dan penghematan yang kurang. Tanpa gambaran yang jelas tentang ke mana uang pergi, membuat keputusan yang tepat tentang pengeluaran dan tabungan adalah hal yang mustahil.
Kebiasaan Kaya: Membuat Anggaran yang Terperinci
Membuat dan mematuhi anggaran terperinci adalah landasan kesuksesan finansial. Anggaran ini memperjelas pendapatan dan pengeluaran, memungkinkan keputusan yang disengaja tentang ke mana uang harus digunakan.
Metode yang populer adalah aturan 50/30/20: 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan dan pembayaran utang. Tinjauan anggaran secara teratur memastikan keselarasan dengan tujuan keuangan dan memungkinkan penyesuaian saat keadaan berubah.
5. Hidup Sesuai Kemampuan
Kebiasaan Buruk: Belanja Berlebihan dan Inflasi Gaya Hidup
Pengeluaran cenderung meningkat secara proporsional atau bahkan melampaui tingkat pendapatan baru seiring dengan peningkatan pendapatan. Inflasi gaya hidup ini dapat menjebak individu dalam siklus hidup pas-pasan, terlepas dari tingkat pendapatan.
Kebiasaan Kaya: Memprioritaskan Tabungan daripada Hal-hal yang Tidak Penting
Pembangun kekayaan menahan keinginan untuk meningkatkan gaya hidup mereka dengan setiap kenaikan gaji. Sebaliknya, mereka memprioritaskan menabung dan menginvestasikan pendapatan tambahan. Ini tidak berarti menikmati hasil kerja keras Anda, tetapi membuat keputusan sadar tentang pengeluaran mana yang benar-benar menambah nilai dalam hidup Anda.
Hidup di bawah kemampuan Anda menciptakan kesenjangan antara pendapatan dan pengeluaran yang dapat digunakan untuk membangun kekayaan dan menciptakan kebebasan finansial jangka panjang.
6. Berinvestasi untuk Masa Depan
Kebiasaan Buruk: Mengabaikan atau Menunda Investasi
Banyak orang menunda investasi, berpikir mereka tidak memiliki cukup uang atau pengetahuan untuk memulai. Penundaan ini dapat merugikan potensi pertumbuhan dan bunga majemuk selama bertahun-tahun.
Kebiasaan Kaya: Investasi Jangka Panjang yang Konsisten dan Dini
Mereka yang membangun kekayaan memahami kekuatan pengembalian majemuk dan mulai berinvestasi sedini mungkin, bahkan dengan jumlah yang kecil. Mereka berfokus pada strategi investasi jangka panjang yang konsisten daripada mencoba mengatur waktu pasar.
Dana indeks atau ETF yang terdiversifikasi dapat menjadi titik awal yang bagus bagi banyak investor. Kuncinya adalah memulai lebih awal dan tetap konsisten, memberi waktu dan bunga majemuk, keuntungan modal majemuk, dan investasi ulang dividen untuk bekerja dengan baik.
7. Kontrol Pembelian Impuls
Kebiasaan Buruk: Sering Melakukan Pembelian yang Tak Direncanakan
Pembelian impulsif dapat dengan cepat menggagalkan rencana keuangan yang paling matang sekalipun. Pembelian yang tidak direncanakan ini, yang sering dipicu oleh emosi atau pemasaran yang cerdik, dapat bertambah secara signifikan dari waktu ke waktu dan menjadi potensi penghematan.
Kebiasaan Kaya: Pertimbangan yang Cermat Sebelum Berbelanja
Orang-orang yang sukses secara finansial cenderung lebih berhati-hati tentang pembelian mereka. Mereka mungkin menggunakan strategi seperti aturan 24 jam untuk pembelian yang tidak penting, memberi mereka waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau diinginkan.
Mereka berfokus pada pengeluaran berbasis nilai, memastikan uang mereka digunakan untuk hal-hal yang sejalan dengan nilai dan tujuan jangka panjang mereka. Kebiasaan ini menghemat uang dan sering kali menghasilkan kepuasan lebih saat berbelanja.
8. Prioritaskan Pendidikan Keuangan
Kebiasaan Buruk: Mengabaikan Pengetahuan Keuangan Pribadi
Ketidaktahuan tentang keuangan dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk dan hilangnya peluang. Banyak orang menghindari belajar tentang keuangan pribadi, menganggapnya menakutkan atau membosankan, yang dapat mengakibatkan kesalahan yang merugikan.
Kebiasaan Kaya: Belajar Berkelanjutan tentang Manajemen Uang
Mereka yang sukses secara finansial memiliki kebiasaan untuk terus mendidik diri mereka sendiri tentang manajemen uang. Mereka membaca buku, menghadiri lokakarya, mendengarkan podcast, dan tetap mendapatkan informasi tentang berita keuangan.
Pendidikan berkelanjutan ini memberdayakan mereka untuk membuat keputusan keuangan yang lebih baik dan memanfaatkan peluang. Ini bukan tentang menjadi ahli keuangan, melainkan tentang memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat pilihan yang tepat tentang uang Anda.
9. Ciptakan Peluang Anda
Kebiasaan Buruk: Mengandalkan Keberuntungan atau Rejeki Nomplok
Menunggu keberuntungan atau rejeki nomplok finansial adalah pendekatan pasif yang jarang menghasilkan kesuksesan ekonomi yang berkelanjutan. "Mentalitas lotre" ini dapat menyebabkan tidak adanya tindakan dan hilangnya peluang pertumbuhan.
Kebiasaan Kaya: Kerja Keras dan Perencanaan Keuangan yang Strategis
Orang-orang yang sukses secara finansial mengambil pendekatan proaktif terhadap keuangan mereka. Mereka menciptakan peluang melalui kerja keras, perencanaan strategis, dan terkadang risiko yang diperhitungkan.
Ini mungkin melibatkan memulai bisnis sampingan, berinvestasi dalam keterampilan mereka untuk meningkatkan potensi penghasilan mereka, atau memposisikan diri secara strategis untuk kemajuan karier.
Mereka memahami bahwa kekayaan yang berkelanjutan dibangun melalui upaya yang konsisten dan perencanaan yang cerdas, bukan keberuntungan.
10. Berpikir Jangka Panjang
Kebiasaan Buruk: Hanya Berfokus pada Kebutuhan Mendesak
Pemikiran jangka pendek dalam keuangan sering kali mengarah pada siklus penyelesaian krisis keuangan pribadi tanpa pernah maju. Perangkap picik ini dapat mengakibatkan keputusan yang memberikan kelegaan langsung tetapi tekanan finansial jangka panjang.
Kebiasaan Kaya: Menetapkan dan Mengejar Tujuan Finansial Jangka Panjang
Pembangun kekayaan memiliki visi jangka panjang untuk keuangan mereka. Mereka menetapkan tujuan finansial jangka panjang yang jelas dan membuat keputusan harian berdasarkan tujuan ini.
Ini mungkin termasuk merencanakan masa pensiun, menabung untuk rumah, atau membangun dana kuliah untuk anak-anak. Pemikiran jangka panjang memengaruhi segalanya mulai dari pilihan karier hingga keputusan pengeluaran, menyediakan peta jalan untuk keputusan finansial dan motivasi untuk menunda kepuasan.
Kesimpulan
Mengadopsi sepuluh kebiasaan keuangan yang tepat di atas dapat berdampak signifikan pada masa depan finansial Anda. Penting untuk menyadari bahwa mengubah kebiasaan finansial membutuhkan waktu dan usaha.
Mulailah dengan berfokus pada satu atau dua kebiasaan dan secara bertahap masukkan yang lain saat Anda membangun kekuatan finansial Anda.
Setiap langkah kecil menuju kebiasaan finansial yang lebih baik adalah keamanan dan kebebasan finansial yang lebih besar. Kendalikan masa depan finansial Anda hari ini dengan mengubah kebiasaan finansial Anda dari yang membuat Anda miskin menjadi yang membangun kekayaan.
10 Tanda Umum Seseorang Terjebak di Kelas Menengah dan Cara Mengubah Nasibnya
Jika seseorang merasa mandek secara finansial, mungkin saja dia terjebak di kelas menengah tanpa menyadarinya. [1,066] url asal
#dana-darurat #kelas-menengah #stagnasi-finansial #hidup-dari-gaji-ke-gaji #mengumpulkan-utang #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 16/10/24 06:42
v/16536618/
Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Jika seseorang merasa mandek secara finansial, mungkin saja dia terjebak di kelas menengah tanpa menyadarinya.
Artikel ini akan membahas sepuluh tanda umum stagnasi finansial kelas menengah dan memberikan saran yang dapat ditindaklanjuti untuk memperbaiki situasi finansial seseorang.
Mengutip New Trader U, berikut penjelasan lengkapnya:
1. Hidup dari Gaji ke Gaji
Sering kita dengar, kelas pekerja melaporkan hidup dari gaji ke gaji atau bahkan pendapatan mereka tidak menutupi pengeluaran mereka.
Hal ini menciptakan tekanan finansial yang konstan dan mencegah membangun tabungan. Ketika Anda hampir tidak dapat memenuhi kebutuhan setiap bulan, menabung untuk masa depan atau berinvestasi dalam peluang yang dapat memperbaiki situasi finansial Anda menjadi hampir mustahil.
Cara mengubahnya:
Langkah pertama untuk memutus siklus gaji ke gaji adalah membuat anggaran terperinci. Lacak semua pengeluaran bulanan Anda untuk memahami dengan jelas ke mana uang Anda pergi.
Setelah Anda memiliki informasi ini, identifikasi area yang dapat Anda kurangi. Selanjutnya, fokuslah membangun dana darurat. Dana ini akan menyediakan penyangga terhadap biaya tak terduga dan membantu memutus siklus hidup yang sulit secara finansial.
2. Penghasilan di Bawah US$ 36.000 Per Tahun
Penghasilan tahunan di bawah US$ 36.000 atau setara dengan Rp 560 juta sering dianggap sebagai ambang batas bawah untuk status kelas menengah di AS. Pada tingkat pendapatan ini, mungkin sulit untuk menutupi pengeluaran dasar, apalagi menabung untuk masa depan atau berinvestasi dalam pertumbuhan pribadi.
Cara mengubahnya:
Meningkatkan penghasilan sangat penting untuk memperbaiki situasi keuangan Anda. Mulailah dengan mengevaluasi pekerjaan Anda saat ini. Apakah ada peluang untuk kemajuan atau tanggung jawab tambahan yang dapat menghasilkan kenaikan gaji? Jika tidak, pertimbangkan untuk mencari posisi baru yang menawarkan kompensasi yang lebih baik.
Berinvestasi dalam pendidikan dan keterampilan Anda juga dapat menghasilkan potensi pendapatan yang lebih tinggi. Cari sertifikasi atau program pelatihan yang relevan dengan bidang Anda.
Pilihan lainnya adalah memulai bisnis sampingan atau pekerjaan lepas di waktu luang Anda.
3. Mengumpulkan Utang untuk Mempertahankan Gaya Hidup
Mengandalkan kartu kredit atau pinjaman untuk mempertahankan gaya hidup Anda saat ini adalah perangkap yang berbahaya. Meskipun mungkin tampak seperti solusi dalam jangka pendek, mengumpulkan utang hanya akan memperpanjang masalah keuangan dan sering kali memperburuknya karena suku bunga yang tinggi.
Cara mengubahnya:
Langkah pertama adalah berhenti mengumpulkan utang baru. Jika perlu, potong kartu kredit dan berkomitmen untuk hanya membelanjakan apa yang sebenarnya Anda miliki.
Selanjutnya, lunasi utang yang ada menggunakan metode seperti bola salju utang atau longsoran utang. Pada saat yang sama, sesuaikan gaya hidup Anda untuk hidup di bawah kemampuan Anda.
4. Kurangnya Anggaran
Tidak memiliki anggaran dapat membuat Anda mandek secara finansial. Tanpa gambaran yang jelas tentang pendapatan dan pengeluaran Anda, mudah untuk mengeluarkan uang secara berlebihan dan sulit untuk mencapai kemajuan menuju tujuan keuangan.
Cara mengubahnya:
Buat anggaran bulanan yang komprehensif yang memperhitungkan semua pendapatan dan pengeluaran. Mulailah dengan mencantumkan semua sumber pendapatan, lalu kategorikan pengeluaran Anda. Sertakan biaya tetap seperti sewa, utilitas, dan pengeluaran variabel seperti bahan makanan dan hiburan.
Tinjau dan sesuaikan anggaran Anda secara teratur. Saat pendapatan atau pengeluaran Anda berubah, perbarui anggaran Anda sebagaimana mestinya. Kuncinya adalah memastikan pengeluaran Anda selaras dengan tujuan keuangan Anda.
5. Tidak Ada Dana Darurat
Kekurangan tabungan untuk pengeluaran tak terduga dapat menyebabkan utang lebih lanjut dan ketidakstabilan keuangan. Tanpa dana darurat, Anda rentan terhadap biaya tak terduga, mulai dari perbaikan mobil hingga tagihan medis.
Cara mengubahnya:
Mulailah membangun dana darurat Anda segera, bahkan jika Anda hanya dapat menyimpan sejumlah kecil uang. Tetapkan tujuan untuk menabung biaya hidup selama 3-6 bulan. Mulailah dengan secara otomatis mentransfer sejumlah kecil uang dari setiap gaji ke rekening tabungan terpisah yang ditujukan untuk keadaan darurat.
6. Tidak Berinvestasi
Gagal berinvestasi dapat secara signifikan membatasi potensi pertumbuhan kekayaan Anda. Meskipun menabung itu penting, berinvestasi memungkinkan uang Anda tumbuh seiring waktu melalui bunga majemuk dan pengembalian pasar.
Cara mengubahnya:
Mulailah berinvestasi, bahkan dengan jumlah kecil. Didik diri Anda sendiri tentang berbagai opsi dan strategi investasi. Buku-buku seperti “The Simple Path to Wealth” oleh JL Collins atau “The Bogleheads’ Guide to Investing” dapat memberikan dasar yang kuat. Seiring bertambahnya pengetahuan dan tingkat kenyamanan Anda, Anda dapat menjelajahi peluang investasi yang lebih beragam.
7. Bertahan Terlalu Lama di Satu Pekerjaan
Bertahan di pekerjaan yang sama dalam jangka waktu yang lama dapat membatasi pertumbuhan pendapatan. Meskipun loyalitas dapat dikagumi, memastikan perkembangan karier Anda sejalan dengan tujuan finansial Anda sangatlah penting.
Cara mengubahnya:
Secara berkala, nilai jalur karier dan kepuasan kerja Anda. Apakah Anda terus belajar dan berkembang dalam peran Anda saat ini? Apakah kompensasi Anda sesuai dengan standar industri?
Jika Anda telah berada di posisi yang sama selama beberapa tahun tanpa kemajuan yang signifikan, mungkin sudah waktunya untuk mencari peluang baru. Ini bisa berarti mencari promosi di perusahaan Anda saat ini atau menjajaki posisi dengan pemberi kerja lain.
Jejaring sangat penting untuk kemajuan karier. Hadiri acara industri, bergabunglah dengan asosiasi profesional, dan jalin hubungan dengan kolega dan mentor. Hubungan ini sering kali dapat menghasilkan peluang baru atau memberikan wawasan berharga untuk pertumbuhan karier.
Terus kembangkan keterampilan baru yang relevan dengan bidang Anda. Ini dapat membuat Anda lebih berharga bagi pemberi kerja Anda saat ini dan menarik bagi calon pemberi kerja baru. Platform daring seperti LinkedIn Learning atau sertifikasi khusus industri dapat membantu Anda tetap terkini dan kompetitif.
8. Puas dengan Keadaan yang Biasa-biasa Saja
Menerima apa yang kurang dari yang dapat Anda capai dapat menghambat Anda secara finansial. Meskipun ada nilai dalam merasa puas, penting untuk membedakan antara rasa puas dan rasa puas diri dalam hal masa depan finansial Anda.
Cara mengubahnya:
Tetapkan tujuan finansial yang ambisius tetapi dapat dicapai. Ini mungkin termasuk mencapai kekayaan bersih tertentu, memulai bisnis yang sukses, atau mencapai kemandirian finansial. Pecahkan tujuan yang lebih besar ini menjadi langkah-langkah yang lebih kecil dan dapat ditindaklanjuti.
9. Membeli Mobil Baru
Mobil baru terdepresiasi dengan cepat, kehilangan sekitar 20% dari nilainya di tahun pertama. Depresiasi yang cepat ini dapat menguras keuangan kelas menengah secara signifikan, mengikat uang yang dapat digunakan untuk menabung atau berinvestasi.
Cara mengubahnya:
Pertimbangkan untuk membeli mobil bekas yang andal daripada yang baru. Cari kendaraan berusia 2-3 tahun, karena kendaraan tersebut telah mengalami bagian tercuram dari kurva depresiasinya tetapi masih memiliki masa pakai yang masih lama.
10. Tidak Mendidik Diri Sendiri Tentang Keuangan
Kurangnya literasi keuangan dapat menyebabkan keputusan pengelolaan uang yang buruk dan hilangnya peluang membangun kekayaan. Banyak orang menganggap keuangan pribadi menakutkan, tetapi memahami konsep dasar sangat penting untuk kesuksesan ekonomi.
Cara mengubahnya:
Manfaatkan sumber daya keuangan pribadi gratis daring.
Allo Bank Punya Layanan Tabungan Fleksibel untuk Dana Darurat
Allo Bank meluncurkan Allo Grow, produk tabungan fleksibel dengan suku bunga hingga 5,25% dan cash reward untuk nasabah baru. [228] url asal
#allo-bank #tabungan-fleksibel #dana-darurat #allo-grow #cash-reward #bank-digital
(detikFinance) 24/09/24 20:37
v/15500032/
Jakarta - Bank digital Allo Bank menghadirkan layanan produk tabungan inovatif yang tidak hanya membantu disiplin menabung, tetapi juga menawarkan fleksibilitas untuk menarik dana kapan saja saat diperlukan.
Allo Grow hadir sebagai produk tabungan yang mengutamakan fleksibilitas dalam menabung. Dengan Allo Grow, menabung untuk dana darurat kini lebih mudah dan menarik dengan Allo Grow.
Dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (24/9/2024), dengan layanan tersebut menabung diyakini semakin mudah karena dapat merasakan pengalaman menabung dengan suku bunga yang menarik.
Selain itu, fleksibilitas karena dapat menarik dana kapan saja dan dimana saja. Uang tabungan dijamin tidak hanya akan mengendap, tetapi juga berkembang.
Pengguna dapat mulai menabung tanpa menunggu waktu yang tepat, dengan suku bunga menarik hingga 5,25% p.a. setelah 3 bulan menabung. Ini adalah pilihan ideal untuk mempersiapkan dana darurat, mengingat pepatah "sedia payung sebelum hujan."
Bergabung dengan Allo Grow juga memberikan keuntungan tambahan berupa cash reward hingga Rp100.000 bagi nasabah baru dengan setoran minimal Rp500.000. Bunga sudah bisa dinikmati mulai hari ke-3, dan penarikan dana dapat dilakukan tanpa biaya penalti, sehingga keamanan dana terjaga.
Dengan skema baru ini, Allo Grow bertujuan untuk mendorong generasi muda, terutama Gen Z, agar lebih semangat dalam menabung dan mempersiapkan dana darurat. Untuk informasi lebih lanjut tentang skema bunga berjenjang dan cara memanfaatkannya, silakan kunjungi tautan atau unduh aplikasi Allo Bank di App Store dan Play Store.
(ada/rrd)
Jangan Sampai Kegerus Inflasi, Dana Pensiun Harus Dipersiapkan Sejak Awal
Merencanakan masa depan yang nyaman adalah impian bagi banyak orang, terutama ketika mendekati usia pensiun. [636] url asal
#inflasi #dana-pensiun #dana-darurat #tips-keuangan
(MedCom - Ekonomi) 17/09/24 10:54
v/15145115/
Jakarta: Merencanakan masa depan yang nyaman adalah impian bagi banyak orang, terutama ketika mendekati usia pensiun.Saat laju kehidupan semakin cepat, tidak jarang kita terpaku pada rutinitas harian tanpa memikirkan persiapan jangka panjang. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, termasuk ancaman inflasi, perencanaan dana pensiun menjadi semakin penting.
Melansir Sikapi Uangmu OJK, tanpa persiapan yang matang, nilai tabungan yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun bisa saja tergerus, membuat masa pensiun tidak seaman yang diharapkan.
Apa Itu inflasi?
Inflasi merupakan kondisi saat harga barang dan jasa secara perlahan namun konsisten meningkat, yang pada akhirnya mengurangi nilai daya beli uang kita.Secara sederhana, inflasi berarti uang yang kita miliki sekarang akan bernilai lebih rendah di masa depan. Sebagai contoh, jika harga kebutuhan pokok seperti beras atau kebutuhan lainnya meningkat, namun pendapatan atau tabungan kita tidak bertambah seiring dengan kenaikan tersebut, maka daya beli kita akan berkurang.
Bagaimana mengantisipasi inflasi?
Untuk menghadapi inflasi, kita harus mempersiapkannya sejak dini, terutama untuk masa pensiun yang bisa berlangsung lama. Selama waktu tersebut, nilai uang bisa menurun jika tidak diantisipasi. Salah satu cara untuk melindungi dana pensiun dari inflasi adalah dengan berinvestasi, misalnya di saham atau properti, yang bisa memberi keuntungan lebih tinggi dari kenaikan harga.Selain itu, kita bisa memilih produk keuangan yang menyesuaikan dengan inflasi, seperti obligasi yang melindungi nilai uang agar tetap aman dari penurunan daya beli.
| Baca juga: Ditambah Dana Pensiun, Ini Deretan Potongan Wajib setelah Menerima Gaji |
Simulasi inflasi dan dana pensiun
Misalkan Anda berencana menyiapkan dana pensiun sebesar Rp100 juta untuk digunakan 30 tahun mendatang. Jika tingkat inflasi rata-rata mencapai tiga persen per tahun, nilai uang Anda akan berkurang sekitar 50 persen dalam 24 tahun.Dengan kata lain, Rp100 juta di masa depan hanya akan setara dengan sekitar Rp50 juta dalam nilai saat ini.
Untuk menghadapi penurunan daya beli tersebut, Anda perlu menambah jumlah dana pensiun atau memilih investasi yang mampu memberikan hasil lebih tinggi.
Sebagai contoh, jika Anda bisa mendapatkan investasi dengan pengembalian rata-rata 6-7 persen di atas inflasi, maka nilai dana pensiun akan terus meningkat dan tetap terjaga seiring waktu.
Mengapa persiapan pensiun harus dimulai sekarang?
Memulai persiapan pensiun sejak dini adalah langkah penting yang tidak bisa dianggap remeh. Dengan menabung lebih awal, kita dapat memanfaatkan efek bunga majemuk, di mana keuntungan dari investasi juga menghasilkan keuntungan tambahan.Hal ini memberikan waktu lebih lama untuk mengumpulkan dana pensiun yang cukup dan menyesuaikan strategi investasi kita agar sesuai dengan tujuan keuangan jangka panjang, serta membantu mengatasi dampak inflasi di masa depan.
| Baca juga: Apa yang Terjadi Jika Kita Tidak Punya Dana Pensiun? |
Tips merencanakan dana pensiun
Untuk mempersiapkan masa pensiun yang stabil dan nyaman, penting untuk memahami bagaimana inflasi dapat mempengaruhi keuangan kita dan memulai perencanaan pensiun sedini mungkin. Berikut beberapa langkah yang bisa Anda ikuti:- Tentukan estimasi kebutuhan dana pensiun dengan mempertimbangkan biaya hidup dan dampak inflasi di masa depan.
- Alokasikan sebagian pendapatan Anda secara rutin untuk program pensiun guna mencapai jumlah yang diinginkan.
- Pilih instrumen investasi yang sesuai, seperti saham, reksadana, emas, deposito, atau produk investasi lainnya.
- Bergabunglah dengan program pensiun yang memenuhi kebutuhan Anda, pahami manfaat serta risiko yang ada, dan penuhi kewajiban Anda sebagai peserta.
- Pastikan untuk memilih produk dan perusahaan dana pensiun yang terdaftar dan diawasi oleh OJK. Verifikasi legalitas dan reputasi perusahaan sebelum mendaftar.
Dengan mengikuti tips ini dan memastikan investasi serta program pensiun yang dipilih sesuai dan terdaftar resmi, Anda dapat memastikan masa pensiun yang nyaman dan terjamin.
Jangan menunda, karena persiapan yang matang hari ini akan memastikan keamanan dan kesejahteraan finansial Anda di masa depan. (Nanda Sabrina Khumairoh)
(ANN)
Simak, 5 Kebiasaan Buruk Anak Muda dalam Mengelola Keuangan Halaman all
Terdapat lima kebiasaan buruk yang ternyata masih menghantui generasi muda dalam mengelola keuangan. Halaman all?page=all [299] url asal
#kartu-kredit #dana-darurat #meminjam-uang #ocbc #mengelola-keuangan
(Kompas.com) 23/08/24 16:59
v/14585486/
JAKARTA, KOMPAS.com - Survei OCBC Financial Fitness Index (FFI) 2024 mengungkap, terdapat lima kebiasaan buruk yang ternyata masih menghantui generasi muda dalam mengelola keuangan.
Pertama, sebanyak 80 persen generasi muda cenderung menghabiskan uang secara berlebihan untuk mengikuti gaya hidup teman-teman karena tekanan sosial dan keinginan untuk memenuhi ekspektasi sosial.
Kedua, sebanyak 41 persen generasi muda sering meminjam uang dari teman atau keluarga untuk kebutuhan gaya hidup.
FREEPIK/JCOMP Ilustrasi kartu kredit.Ketiga, 40 persen anak muda sering membayar tagihan minimum kartu kredit yang menambah beban bunga utang.
Selanjutnya, sebanyak 12 persen anak muda juga mengaku pengeluaran sering melebihi pemasukan.
Terakhir, sebanyak 4 persen dari generasi muda terlibat dalam spekulasi berlebihan untuk mendapatkan keuntungan yang cepat.
"Meskipun data FFI 2024 mengidentifikasi sejumlah kebiasaan buruk yang dimiliki generasi muda, ada beberapa kemajuan dari sejumlah indikator kesehatan finansial," tulis OCBC dalam laporannya, dikutip Jumat (23/8/2024).
Misalnya, ada sekitar 25 persen dari responden mengaku telah memiliki dana darurat.
Dengan demikian, terjadi peningkatan kesadaran pentingnya memiliki dana darurat sebanyak 17 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Hal ini memperlihatkan, semakin banyak generasi muda yang mulai melakukan perencanaan finansial untuk masa depannya.
Simak, 5 Kebiasaan Buruk Anak Muda dalam Mengelola Keuangan
Terdapat lima kebiasaan buruk yang ternyata masih menghantui generasi muda dalam mengelola keuangan. Halaman all [404] url asal
#kartu-kredit #dana-darurat #meminjam-uang #ocbc #mengelola-keuangan
(Kompas.com) 23/08/24 16:59
v/14578045/
JAKARTA, KOMPAS.com - Survei OCBC Financial Fitness Index (FFI) 2024 mengungkap, terdapat lima kebiasaan buruk yang ternyata masih menghantui generasi muda dalam mengelola keuangan.
Pertama, sebanyak 80 persen generasi muda cenderung menghabiskan uang secara berlebihan untuk mengikuti gaya hidup teman-teman karena tekanan sosial dan keinginan untuk memenuhi ekspektasi sosial.
Kedua, sebanyak 41 persen generasi muda sering meminjam uang dari teman atau keluarga untuk kebutuhan gaya hidup.
FREEPIK/JCOMP Ilustrasi kartu kredit.Ketiga, 40 persen anak muda sering membayar tagihan minimum kartu kredit yang menambah beban bunga utang.
Selanjutnya, sebanyak 12 persen anak muda juga mengaku pengeluaran sering melebihi pemasukan.
Terakhir, sebanyak 4 persen dari generasi muda terlibat dalam spekulasi berlebihan untuk mendapatkan keuntungan yang cepat.
"Meskipun data FFI 2024 mengidentifikasi sejumlah kebiasaan buruk yang dimiliki generasi muda, ada beberapa kemajuan dari sejumlah indikator kesehatan finansial," tulis OCBC dalam laporannya, dikutip Jumat (23/8/2024).
Misalnya, ada sekitar 25 persen dari responden mengaku telah memiliki dana darurat.
Dengan demikian, terjadi peningkatan kesadaran pentingnya memiliki dana darurat sebanyak 17 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Hal ini memperlihatkan, semakin banyak generasi muda yang mulai melakukan perencanaan finansial untuk masa depannya.
SHUTTERSTOCK/PRATHANKARNPAP Ilustrasi anak muda mengatur keuangan, gen Z menabung dana darurat.Dalam riset tahunan hasil kerja sama OCBC dan NielsenIQ ini, sejumlah tips juga diberikan agar generasi muda bisa memiliki kondisi keuangan sehat.
Generasi muda diharapkan mampu memperluas literasi keuangan secara online maupun offline. Selain itu, anak muda diharapkan mengecek kesehatan finansial secara menyeluruh, serta ikuti ragam kelas finansial dengan topik menarik.
Sebagai informasi, riset ini dibuat menggunakan metode pengamatan sikap dan perilaku mereka dalam mengelola keuangan.
Survei dilakukan dengan melibatkan 1.241 generasi muda rentan usia 25 sampai 34 tahun dari lima kota besar di Indonesia mencakup Jabodetabek, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar.
Simak, 5 Kebiasaan Buruk Anak Muda dalam Mengelola Keuangan
Terdapat lima kebiasaan buruk yang ternyata masih menghantui generasi muda dalam mengelola keuangan. Halaman all [404] url asal
#kartu-kredit #dana-darurat #meminjam-uang #ocbc #mengelola-keuangan
(Kompas.com - Money) 23/08/24 16:59
v/14566243/
JAKARTA, KOMPAS.com - Survei OCBC Financial Fitness Index (FFI) 2024 mengungkap, terdapat lima kebiasaan buruk yang ternyata masih menghantui generasi muda dalam mengelola keuangan.
Pertama, sebanyak 80 persen generasi muda cenderung menghabiskan uang secara berlebihan untuk mengikuti gaya hidup teman-teman karena tekanan sosial dan keinginan untuk memenuhi ekspektasi sosial.
Kedua, sebanyak 41 persen generasi muda sering meminjam uang dari teman atau keluarga untuk kebutuhan gaya hidup.
FREEPIK/JCOMP Ilustrasi kartu kredit.Ketiga, 40 persen anak muda sering membayar tagihan minimum kartu kredit yang menambah beban bunga utang.
Selanjutnya, sebanyak 12 persen anak muda juga mengaku pengeluaran sering melebihi pemasukan.
Terakhir, sebanyak 4 persen dari generasi muda terlibat dalam spekulasi berlebihan untuk mendapatkan keuntungan yang cepat.
"Meskipun data FFI 2024 mengidentifikasi sejumlah kebiasaan buruk yang dimiliki generasi muda, ada beberapa kemajuan dari sejumlah indikator kesehatan finansial," tulis OCBC dalam laporannya, dikutip Jumat (23/8/2024).
Misalnya, ada sekitar 25 persen dari responden mengaku telah memiliki dana darurat.
Dengan demikian, terjadi peningkatan kesadaran pentingnya memiliki dana darurat sebanyak 17 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Hal ini memperlihatkan, semakin banyak generasi muda yang mulai melakukan perencanaan finansial untuk masa depannya.
SHUTTERSTOCK/PRATHANKARNPAP Ilustrasi anak muda mengatur keuangan, gen Z menabung dana darurat.Dalam riset tahunan hasil kerja sama OCBC dan NielsenIQ ini, sejumlah tips juga diberikan agar generasi muda bisa memiliki kondisi keuangan sehat.
Generasi muda diharapkan mampu memperluas literasi keuangan secara online maupun offline. Selain itu, anak muda diharapkan mengecek kesehatan finansial secara menyeluruh, serta ikuti ragam kelas finansial dengan topik menarik.
Sebagai informasi, riset ini dibuat menggunakan metode pengamatan sikap dan perilaku mereka dalam mengelola keuangan.
Survei dilakukan dengan melibatkan 1.241 generasi muda rentan usia 25 sampai 34 tahun dari lima kota besar di Indonesia mencakup Jabodetabek, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar.
Khawatir Kena PHK? Lakukan Persiapan Keuangan Ini
Berikut beberapa persiapan keuangan yang harus dilakukan jika Anda khawatir akan menjadi korban PHK. Halaman all [525] url asal
#tabungan #dana-darurat #cicilan-kredit #phk
(Kompas.com - Money) 23/08/24 15:37
v/14563132/
JAKARTA, KOMPAS.com - Jika perusahaan Anda baru-baru ini melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan Anda khawatir akan menjadi korban berikutnya, Anda mungkin mulai bertanya-tanya apa yang harus dilakukan dengan keuangan.
Saat Anda menghadapi masa-masa yang penuh tekanan dan tidak terduga ini, Anda mungkin bertanya pada diri sendiri berapa lama akan mampu hidup dari tabungan atau apa yang harus Anda lakukan dengan cicilan kredit.
Ini semua adalah kekhawatiran yang valid. Meskipun Anda mungkin tidak dapat sepenuhnya mempersiapkan diri untuk PHK, terutama jika itu diperkirakan akan segera terjadi, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencermati pengeluaran, pendapatan, dan utang.
SHUTTERSTOCK/ANDRII YALANSKYI Ilustrasi pemutusan hubungan kerja (PHK).Dengan demikian, Anda dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
Dikutip dari CNBC, Jumat (23/8/2024), perencana keuangan dan penasihat investasi di Ritholtz Wealth Management Blair duQuesnay menjelaskan beberapa persiapan keuangan yang harus dilakukan jika Anda khawatir akan menjadi korban PHK.
1. Hitung berapa banyak tabungan yang Anda perlukan
Konsensus umum adalah bahwa orang harus memiliki tabungan untuk biaya hidup tiga hingga enam bulan sebagai dana darurat. Artinya, memiliki cukup uang untuk menutupi biaya penting seperti sewa, transportasi, makanan, dan perawatan kesehatan.
duQuesnay merekomendasikan agar orang yang bekerja di bidang atau industri yang lebih rentan terhadap PHK mempertimbangkan untuk menabung dengan jumlah setara pengeluaran lebih dari enam bulan.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.Jika menabung untuk biaya beberapa bulan merupakan tujuan yang tidak dapat dicapai, menetapkan target yang lebih kecil untuk menabung biaya beberapa minggu mungkin cukup untuk membantu Anda.
Mulailah menabung dengan menyisihkan uang dari setiap gaji setelah Anda menerimanya, yang akan mengurangi godaan Anda untuk menghabiskan uang untuk hal-hal lain.
Cobalah untuk mengotomatiskan penyetoran ke rekening tabungan jika memungkinkan.
Anda juga tidak perlu menabung sejumlah besar uang dari setiap gaji. Mulailah dari angka kecil dan tingkatkan tingkat tabungan sesekali.
Misalnya, Anda dapat mulai dengan menabung 5 persen dari gaji Anda, lalu tingkatkan persentase tersebut seiring berjalannya waktu.
Untuk dana darurat, pertimbangkan menabung di rekening tabungan berbunga tinggi, yang menawarkan suku bunga atau persentase hasil tahunan yang jauh lebih tinggi daripada rekening tabungan tradisional, tetapi tidak sevolatil investasi di pasar saham.
2. Perhatikan utang saat ini
Jika Anda memiliki utang jenis apa pun, Anda perlu mencari tahu rencana untuk melakukan pembayaran setelah Anda terdampak PHK.
duQuesnay menekankan bahwa orang harus mencoba melakukan pembayaran bulanan minimum untuk semua utang mereka.
Jika perlu, Anda bahkan dapat menghubungi pemberi pinjaman dan meminta masa tenggang, yaitu jangka waktu tertentu saat pemberi pinjaman mengizinkan seseorang untuk menghentikan atau mengurangi pembayaran mereka.
Tips Menyiapkan Dana Darurat Bagi Pekerja Kala Badai PHK Menggila
Tips menyiapkan dana darurat bagi pekerja di tengah maraknya PHK. Instrumen apa yang tepat, jumlah dana hingga pemakaiannya. [506] url asal
#dana-darurat #edukasi-keuangan #phk #deposito
(CNN Indonesia - Ekonomi) 03/08/24 13:52
v/13132801/
Setiap individu wajib memiliki dana darurat untuk mengantisipasi ketidakpastian, termasuk bagi pekerja yang rutin menerima gaji. Apalagi, kini badai PHK tengah menggila.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat PHK menimpa 32.064 tenaga kerja pada semester I 2024. Mayoritas PHK terjadi di Jakarta, yakni sebanyak 23,29 persen atau setara 7.469 orang.
Dana darurat bertujuan untuk membiayai kebutuhan yang tidak terprediksi atau ketika keadaan mendesak terjadi. Besaran nominal dana darurat setiap individu berbeda-beda, bergantung pada penghasilan dan gaya hidup.
Namun, tak sedikit orang yang kesulitan menyiapkan dana darurat karena pendapatan yang tak besar atau bahkan hanya setara upah minimum regional (UMR).
Lantas bagaimana cara menyiapkan dana darurat?
Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Rahardjo mengatakan penempatan dana darurat memang harus dilakukan secara khusus. Pasalnya, dana darurat dibutuhkan sewaktu-waktu apabila ada pengeluaran darurat yang mendesak.
"Sehingga prioritas kita memang bukan untuk pertumbuhannya, tapi adalah likuiditas dan keamanan nilai pokoknya," katanya kepada CNNIndonesia.com.
Budi mengatakan pilihan utama penempatan dana darurat adalah instrumen yang stabil nilainya dan mudah dilikuidasi dalam waktu singkat apabila diperlukan. Adapun jenis aset likuid di antaranya uang tunai dan emas.
Alternatif instrumen yang juga dapat dipilih seperti tabungan berjangka, deposito jangka pendek yang bulanan, atau reksa dana pasar uang.
Senada, Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno mengatakan dana darurat sebaiknya ditaruh di instrumen yang aman, risikonya rendah, nilainya tidak berfluktuasi, dan mudah dicairkan kapan saja tanpa kena denda.
Instrumen keuangan seperti tabungan harian, tabungan berjangka, deposito satu bulan, dan reksadana pasar uang dapat dikombinasikan untuk penempatan dana darurat.
"Cara menyimpan dapat dilakukan dengan melakukan setoran rutin bulanan dari gaji ke tabungan, melakukan penempatan dana secara berkala ke deposito bulanan atau melakukan pembelian reksa dana pasar uang, sampai tercapai target dana daruratnya," katanya.
Budi mengatakan penggunaan dana darurat tidak boleh dilakukan sembarangan. Dana darurat hanya kondisi darurat yang memang diperlukan dan tidak ditanggung asuransi.
Dana darurat, sambungnya, tidak boleh digunakan untuk hiburan seperti untuk biaya liburan atau belanja konsumtif karena diskon.
"Atau untuk menutupi pengeluaran tahunan yang seharusnya bisa direncanakan, misalnya pengeluaran untuk liburan atau pembayaran pajak tahunan," katanya.
Mike mengatakan jumlah ideal dana darurat secara umum adalah 6 - 12 kali pengeluaran per bulan. Namun demikian, jumlah dana darurat dapat disesuaikan dengan kondisi setiap individu.
Bagi yang belum menikah, Mike mengatakan jumlah dana darurat bisa 3 - 6 kali pengeluaran per bulan. Sedangkan bagi yang sudah berkeluarga berkisar 6 - 12 bulan.
Sementara itu, Budi mengatakan acuan dasar (rule of thumb) kebutuhan dana darurat adalah 3 sampai dengan 6 bulan pengeluaran rata-rata bulanan.
Jika diasumsikan penghasilan UMR bulanan misalnya Rp5 juta dengan rata-rata pengeluaran Rp3 juta per bulan, maka kebutuhan dana darurat mengacu kepada rata-rata pengeluaran orang atau keluarga tersebut, yaitu dapat berkisar antara Rp9 juta hingga Rp18 juta.
Bagi yang belum menikah, katanya, dapat memilih angka yang lebih kecil yaitu Rp9 juta (3 kali pengeluaran bulanan) dan bagi yang berkeluarga dapat memilih paling tidak memiliki dana darurat Rp 18 juta (enam kali pengeluaran bulanan).
"Dan untuk mengumpulkannya bisa dengan menyisihkan minimal 10 persen dari pendapatan bulanan secara rutin," katanya.