#30 tag 24jam
Ghana Export-Import Bank Pelajari Inovasi dan Strategi Indonesia Eximbank dalam Pembiayaan Ekspor
Indonesia Eximbank menerima kunjungan delegasi Ghana Export-Import Bank. [354] url asal
(IDX-Channel - Economics) 01/11/24 19:31
v/17323611/
IDXChannel - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau LPEI (Indonesia Eximbank) menerima kunjungan delegasi Ghana Export-Import Bank.
Kunjungan ini dalam rangka mempelajari operasional, inovasi, dan strategi LPEI dalam mendukung ekspor nasional.
Kegiatan yang berlangsung pada 21-24 Oktober 2024 ini menjadi forum interaktif yang memungkinkan kedua lembaga untuk bertukar informasi, pengalaman dan peluang bisnis, terutama terkait inovasi dalam pembiayaan ekspor.
Delegasi Ghana Export-Import Bank yang terdiri dari 10 orang dan dipimpin oleh Manager Export Trade Gloria Opoku.
Pertemuan ini berfokus pada berbagai aspek operasional dan teknologi informasi yang diterapkan oleh Indonesia Eximbank. Mereka juga mempelajari pendekatan inovatif LPEI dalam mendukung ekspor sektor strategis, seperti industri dirgantara.
"Kami menghargai kesempatan ini dan berkomitmen untuk membangun kemitraan yang produktif dan berkelanjutan," kata Gloria lewat keterangan tertulisnya, Jumat (1/11/2024).
"Kami sangat berterima kasih atas sambutan hangat yang diberikan oleh Indonesia Eximbank dan kami berharap dapat belajar dan berbagi banyak hal terutama dalam komitmen memajukan ekspor nasional. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari lebih banyak potensi kerja sama di masa yang akan datang," katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank, Riyani Tirtoso mengatakan, kunjungan ini tidak hanya mempererat hubungan antara kedua lembaga.
"Tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di masa depan untuk mendorong pertumbuhan perdagangan internasional, khususnya antara Indonesia dengan Ghana, terutama perdagangan dan ekspor," kata Riyani.
Delegasi Ghana Export-Import Bank berkesempatan untuk mengunjungi PT Dirgantara Indonesia (PTDI), salah satu debitur strategis LPEI di sektor industri penerbangan. PTDI merupakan pemain utama dalam ekspor produk pesawat terbang, termasuk ke kawasan Afrika.
Delegasi Ghana Export-Import Bank akan mendapatkan gambaran langsung mengenai proses produksi pesawat serta inovasi dan dukungan Indonesia Eximbank kepada industri strategis seperti PTDI dalam menembus pasar internasional.
Selain itu, delegasi Ghana Export-Import Bank juga diajak untuk memahami lebih dalam tentang sektor kerajinan tangan Indonesia yang memiliki potensi ekspor besar.
Mereka mengunjungi dua mitra binaan LPEI, yakni Balizen dan Maharani Craft, yang telah berhasil menembus pasar global dengan dukungan pembiayaan dan pendampingan dari Indonesia Eximbank. Kedua mitra usaha ini memproduksi kerajinan berkualitas tinggi yang sudah diekspor ke berbagai negara, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui produk-produk unggulan mereka.
(Nur Ichsan Yuniarto)
LPEI Dorong UKM Papua Menjadi Eksportir Andalan
Dalam mendukung peningkatan ekspor, Kementerian Keuangan melalui Special Mission Vehicle (SMV) Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, terus menjalankan mandatnya untuk men [677] url asal
#lpei #eximbank #ekspor #umkm #eksportir
(MedCom - Ekonomi) 31/10/24 13:30
v/17257096/
Jayapura: Papua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi ekspor yang sangat besar, baik di sektor migas maupun nonmigas. Produk-produk nonmigas yang menjadi andalan ekspor Papua meliputi kayu, produk olahan kayu, ikan, hewan air lainnya, serta berbagai produk unggulan lainnya. Potensi besar ini menjadikan Papua sebagai salah satu pemain penting dalam mendorong pertumbuhan ekspor nasional.Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2024, ekspor produksi dari Papua mengalami lonjakan signifikan, meningkat hingga 174,56 persen atau senilai USD9.367 juta. Angka ini menggambarkan bahwa Papua memiliki kapasitas yang terus berkembang dan berpeluang untuk lebih menggerakkan roda ekonomi provinsi sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam mendukung peningkatan ekspor, Kementerian Keuangan melalui Special Mission Vehicle (SMV) Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, terus menjalankan mandatnya untuk menciptakan eksportir baru. Salah satu program utamanya adalah Coaching Program for New Exporter (CPNE), yang kali ini digelar di Papua, diikuti oleh sekitar 27 UMKM dan berlangsung pada 21-22 Oktober 2024 di Jayapura.
Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan DJKN Kementerian Keuangan, Meirijal Nur, menyatakan bahwa UMKM memegang peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, dan program CPNE diharapkan mampu melahirkan eksportir baru dari Papua. Untuk itu, Kementerian Keuangan melalui LPEI akan memberikan pelatihan intensif agar mereka dapat menjadi eksportir. Sedangkan bagi UMKM yang sudah aktif mengekspor, LPEI akan memberikan coaching lebih lanjut untuk meningkatkan skala ekspor mereka.
"Kementerian Keuangan memandang bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam membangun perekonomian daerah dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional. Pelatihan eksportir seperti ini merupakan suatu langkah untuk mendorong peningkatkan pertumbuhan UMKM dalam memenuhi peran strategis pembangunan ekonomi nasional," katanya.
Kepala Divisi SMEs Advisory Service LPEI, Maria Sidabutar, menjelaskan program CPNE sebelumnya telah sukses dilaksanakan di berbagai wilayah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Hingga saat ini, lebih dari 5.000 pelaku UMKM dari berbagai provinsi telah mendapatkan pendampingan dan pelatihan melalui CPNE. CPNE ini memberikan pendampingan dari awal hingga proses business matching dengan buyers internasional. Melalui konsistensi dan tekad kuat, pelaku UMKM Papua diharapkan dapat menjadi eksportir yang sukses di pasar global.
"Banyak dari mereka yang berhasil menjadi eksportir baru dengan berbagai komoditas unggulan seperti produk perikanan, kerajinan, dan komoditas lokal lainnya. Kami juga berharap Bapak dan Ibu CPNE Papua juga dapat mengikuti jejak keberhasilan tersebut dengan mengikuti setiap tahap CPNE secara berkesinambungan karena konsistensi dan tekad kuat sangat dibutuhkan untuk menjadi eksportir. Dengan mengikuti program ini, semoga bapak dan ibu, pelaku UMKM dari Papua, bisa menjadi eksportir yang siap mendunia," kata Maria Sidabutari.
Kepala Kantor Wilayah DJKN Papua, Papua Barat, dan Maluku, Kristijanindyati Puspitasari, mengatakan Provinsi Papua memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, dengan hasil hutan dan laut yang melimpah seperti kerajinan, ukiran Asmat, tas noken, ikan, udang, lobster, mutiara, serta produk perkebunan seperti kakao, kopi, vanili, dan kelapa sawit. Meski demikian, banyak pelaku UMKM di Papua masih menghadapi kesulitan dalam melakukan ekspor.
"Melalui program CPNE ini, para pelaku UMKM Papua dapat menjadi eksportir baru dan memperluas jangkauan pasar mereka. Kementerian Keuangan berharap, ilmu yang diberikan dalam kegiatan ini dapat diimplementasikan dan dikembangkan untuk membuat produk UMKM Papua semakin dikenal di dunia internasional," katanya.
Frans, pemilik UMKM Paon Sida, salah satu pelaku UMKM yang mengikuti program CPNE Papua mengatakan program ini memberikan pengalaman, wawasan, dan kesempatan pertama belajar tentang ekspor.
"Ternyata ekspor sebenarnya tidak sulit namun perlu dipelajari lebih mendalam. Harapan saya, semoga kegiatan ini terus berlanjut dengan program lanjutan yang dapat membimbing para UMKM di Jayapura menjadi eksportir yang andal," katanya.
Harapan serupa juga diungkapkan oleh Rini Eko Setiyani, pemilik UMKM Ririn Foods, UMKM asal Jayapura yang mengolah sagu Papua menjadi aneka kue kukis.
"Kesempatan mengikuti program CPNE dari Kemenkeu dan LPEI menjadi motivasi kami untuk segera ekspor. Ilmu yang diberikan akan kami aplikasikan, mulai dari menyusun company pofile, hingga membuat kemasan standar ekspor. Program ini bermanfaat bagi kami dan terus berlanjut sampai kami bisa ekspor," ungkap Rini.
Kegiatan CPNE Papua merupakan wujud konkret kehadiran negara untuk mendorong terciptanya eksportir baru di kawasan timur Indonesia, dan kegiatan ini tidak lepas dari kemitraan yang kuat antara LPEI dengan Kemenkeu Satu Papua.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(ROS)
Cerita Eksportir Getah Pinus: Laris di 15 Negara, Mulai dari China hingga India - kumparan.com
Gum rosin dan turpentine oil yang merupakan produk olahan getah pinus menjadi salah satu produk ekspor Indonesia yang laris di beberapa negara, termasuk India dan China. [1,105] url asal
#lpei #ekspor #eksportir #eximbank #china #india
(Kumparan.com - Bisnis) 14/10/24 15:02
v/16452340/
Gum rosin dan turpentine oil (minyak terpentin) yang merupakan produk olahan getah pinus menjadi salah satu produk yang dipamerkan di Trade Expo Indonesia (TEI) 2024 yang berlokasi di ICE BSD, Tangerang, 9-12 Oktober. Produk ini dipamerkan PT Sumber Banyu Biru yang berhasil memanfaatkan hasil penyulingan getah pinus untuk jadi produk yang bisa dijual ke luar negeri.
Gum rosin memang diperlukan untuk bahan baku industri cat, bahan baku industri kertas, bahan baku industri tinta, bahan baku malam untuk membatik, bahan baku perekat kertas, dan lain-lain.
Produk inilah yang telah menemani perjalanan hidup Neelesh Maheshwari selama 24 tahun terakhir. Bahkan, gum rosin membuat founder PT Sumber Banyu Biru itu yakin untuk menetap dan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
Ceritanya bermula ketika Neelesh mendapat permintaan dari temannya untuk mengirim gum rosin ke negara asalnya, India. Sejak saat itu, dia mulai menyadari bisa mencari peruntungan dengan berjualan gum rosin dari Indonesia yang memiliki pohon pinus melimpah.
“Saya mulai usaha sejak tahun 2000, ada teman mau cari produk gum rosin dan waktu itu Indonesia tidak banyak ekspor ke India. Saya cari supplier gum rosin dan saya coba pasarkan,” kata Neelesh di TEI ke-39, ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (9/10).
Terlebih, menurut Neelesh, produk-produk yang dipasarkannya ini sangat ramah lingkungan dengan campuran bahan kimia hanya sebesar 1 persen. Begitu juga dengan proses penyadapan getah pinus dari pohon, dia mengklaim hal ini tidak akan merusak tumbuhan tersebut. Dengan demikian, produk ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan usaha bidang hasil hutan non kayu di Indonesia.
Mulai saat itu, Neelesh yang masih berprofesi sebagai pekerja di industri tekstil terus berkutat dengan gum rosin. Walaupun dia tidak punya latar belakang sebagai pebisnis, dia berupaya menggali ilmu seputar gum rosin dan tata cara berbisnis dari internet.
Selain itu, Neelesh juga yakin bisa menjembatani penjualan gum rosin asal Indonesia ke India. Salah satu modalnya adalah kemampuan berbahasa India dan juga Indonesia. Dia membeli gum rosin yang diproduksi perusahaan pelat merah Perum Perhutani dari agen resmi Perhutani, kemudian menjajakannya ke India.
“Produksi terbesar Indonesia adalah Perum Perhutani. Perhutani punya agen, saya ambil dari agen, lewat saya masuk ke India. Saya mulai dari India, keuntungan saya kan bisa bicara bahasa (Indonesia), dan bahasa India,” ungkap Neelesh.
Selama merintis bisnis gum rosin ini, Neelesh bercerita sudah mengalami banyak tantangan. Sebut saja, perlakuan tidak menyenangkan dari salah satu rekan bisnis sampai ditipu oleh supplier. Namun, lama-kelamaan jejaringnya bertambah dan pemahamannya seputar bisnis juga menguat.
Setelah menggeluti gum rosin selama 20 tahun, barulah pada 2020 PT Sumber Banyu Biru lahir dan memproduksi gum rosin sendiri. Meski sudah memiliki jejaring yang luas dan pengetahuan produk yang mendalam, Neelesh paham betul keputusannya itu pasti diiringi dengan sederet kendala, mulai dari sisi pembeli, hingga pembiayaan usaha.
Dia memahami perputaran uang di usaha yang dia geluti itu harus selalu lancar dan cepat. Sejak memutuskan untuk memproduksi gum rosin, perusahaan harus berurusan dengan para petani yang membutuhkan waktu pembayaran cepat. Sementara, pembayaran dari hasil ekspor baru bisa dicairkan sekitar satu bulan setelah produk dikirim.
“Bisnis kami kan butuh finance? di mana kita kerja sama dengan petani. Kita harus kasih cash on the spot kepada petani dan kita dapat uang dari luar negeri setelah satu bulan,” katanya.
Kondisi ini yang mengantarkan Neelesh menjadi debitur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Eximbank. Tidak hanya membantu dari sisi pembiayaan, Neelesh mengatakan, sejak bergabung sebagai debitur LPEI, dia juga mendapatkan pendampingan dan relasi baru sesama pengusaha.
Dukungan pembiayaan yang diberikan LPEI kepada industri lokal sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendukung industri lokal bisa bersaing di pasar global. Dukungan ini juga menjadi cerminan upaya pemerintah mendorong ekspor nasional melalui peningkatan kapasitas bisnis dan daya saing produk lokal.
Hal ini dianggapnya sebagai keberuntungan, sebab dia bisa mendapatkan ilmu baru di dunia usaha. Bergabungnya perusahaan yang digawangi Neelesh menjadi debitur LPEI juga berdampak pada omzet yang dihasilkan naik berkali-kali lipat. Cash flow perusahaan lancar dan lebih terukur dibandingkan masa sebelum PT Sumber Banyu Biru mengenal lembaga di bawah Kementerian Keuangan RI tersebut.
Neelesh membeberkan sudah ada 15 negara yang telah disinggahi produk buatannya. Mulai dari India sebagai pemesan tertinggi, Jepang, China, Mesir, Filipina, Korea, Thailand, Bangladesh, Pakistan, Saudi, dan Dubai meski tidak rutin.
“Order China yang lucu, mereka buat gum rosin dan yang terbesar, tapi tetap masih order sama kita,” ungkap Neelesh.
Banyaknya pesanan dari luar negeri ini, membuat kapasitas produksi pabrik sebesar 30 ton per hari terkadang kewalahan. Makanya, dia tetap memesan produk gum rosin dan terpentin Perhutani. Bahkan, Neelesh sudah bisa langsung memesan produk dari Perhutani, tidak lagi melalui agen.
Selain itu, Neelesh juga bersinergi dengan industri sejenis di sekitar pabriknya, di Gayo Lues, Aceh, untuk membantu memenuhi permintaan ekspor. Permintaan dari luar negeri, menurut dia, bisa mencapai 40 kontainer atau 800 ton per bulannya.
Meski menjadi off taker dari produk hasil industri kecil, Neelesh memastikan, produk yang diekspornya akan sesuai dengan standar kualitas tinggi. Sebab, dia memberikan pendampingan kepada 10 pelaku usaha industri kecil agar membuat produk dengan kualitas tinggi.
“Kita punya laboratorium, punya alat-alat untuk melakukan pengetesan 8 kualitasnya,” imbuhnya.
Neelesh menekankan, kualitas produk memang selalu diutamakannya sejak awal terjun menjadi commissioning agent, lantaran berkaitan erat dengan kepercayaan konsumen. Dia yakin, kepercayaan konsumen yang membuat gum rosin dan minyak terpentin yang diproduksi dan dipasarkannya tetap diminati banyak orang di berbagai negara.
“Apa yang dijanjikan itu harus dipenuhi, bisnis memang tidak boleh terlalu jujur tapi sama sekali tidak boleh bohong, saya selalu ingat satu kepercayaan customer bisa menyebar ke seluruh dunia,” terang Neelesh.
Di sisi lain, Neelesh juga mengatakan, hal yang membuat usahanya bertahan adalah tetap memanfaatkan pasar dalam negeri. Artinya, sekalipun permintaan ekspor terbilang tinggi, dia tetap berusaha memenuhi permintaan dalam negeri. Sehingga, ketika salah satu pasar mengalami kelesuan, dia tidak akan kelimpungan mencari penggantinya.
”Kenapa kita bisa berhasil, karena ada berbeda market ya, ada market ekspor, ada market lokal, kadang-kadang ekspor down, kita bisa jual ke lokal. Kadang-kadang lokal down, kita jual ekspor, terang Neelesh.
Hal ini diiringi dengan kemampuan manajemen dan tim yang suportif. Tidak hanya itu, Neelesh juga mengaku berusaha untuk terus menjalin hubungan yang baik dengan petani dan pelaku industri yang membantunya, caranya dengan mematok harga yang baik dan membayarnya tepat waktu.
Selain gum rosin dan terpentin, PT Sumber Banyu Biru juga memproduksi minyak pinus, gum copal, alpha pinene, sineol, dan lain-lain. Meskipun, gum rosin masih menjadi yang dominan atau sekitar 80% dari total 30 ton produksi harian PT Sumber Banyu Biru. Sementara terpentin yang banyak diminati masyarakat India untuk pembuatan kamper ada di posisi kedua.
“Gum rosin karena dia mengkilap, waterproofing, bisa untuk kertas. Kertas ini mengkilap, paper sizing, bisa untuk adhesive, dia melting point-nya rendah, banyak penggunaan gum rosin, bisa untuk industri cat,” terangnya.
Raya Craft Manfaatkan Pelatihan Bisnis LPEI untuk Menembus Pasar Global
LPEI memberikan saya pelatihan ekspor yang saya butuhkan. Selama pelatihan [531] url asal
#eximbank #kilas #lembaga-pembiayaan-ekspor-indonesia #raya-craft #herlina #lamp-shade #coaching-program-for-new-exporter #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Industri) 11/10/24 16:35
v/16309360/
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Tak disangka, usaha milik Herlina bernama Raya Craft berkembang pesat. Dalam kurun waktu kurang dari setahun, produk Lamp Shade berbahan rotan berhasil ekspor ke Italia pada bulan Agustus tahun 2022. Kala itu, ia berhasil mengekspor 100 pcs lamp shade.
Tujuannya agar pengekspor mencoba produknya. Dan, bila produknya laris, buyer di sana cukup menghubunginya lagi.
Keberhasilan itu pun tidak membuat Herlina puas. Ia mencoba berbagai cara agar produknya semakin terkenal di dalam dan luar negeri. Pada tahun 2023, Herlina ikut pelatihan bisnis dan ekspor dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Eximbank, lembaga pemerintah yang didirikan undang-undang no 2 tahun 2009 dan memiliki mandat mendorong ekspor nasional melalui Pembiayaan, Penjaminan, Asuransi dan Jasa Konsultasi. Dalam hal ini LPEI memberikan pelatihan untuk ekspor barang bagi pengusaha lokal di Indonesia maupun luar negeri melalui Coaching Program for New Exporter (CPNE).

Di sana, jejaring Herlina semakin luas dan ilmu tentang ekspor semakin luas. Pelatihan dari LPEI memberikan banyak manfaat bagi usaha kerajinan rotan karya anak bangsa miliknya.
“LPEI memberikan saya pelatihan ekspor yang saya butuhkan. Selama pelatihan, relasi saya juga bertambah, khususnya sesama pelaku usaha,” cerita Herlina kepada Tim Kontan pada Kamis (10/10/2024) dalam acara Trade Expo Indonesia (TEI) 2024 di ICE BSD, Tangerang.
Peran LPEI untuk Business Matching
Berkat dukungan dan business matching yang difasilitasi LPEI, ekspor Raya Craft turut bertambah ke beberapa negara seperti Kanada, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Jepang. Tercatat Raya Craft kini telah memiliki produk ekspor yang dibuat oleh pengrajin lokal dari beberapa daerah di Indonesia seperti Solo, Yogyakarta, dan Lombok. Adapun produk kayu rotan alami karya Raya Craft antara lain Rattan Kooboo Grey, Kooboo Natural, Lacak, Fitrit, Seagrass, dan Mendong.

Dengan pelatihan dan relasi yang kian bertambah, ia berharap LPEI terus memberikan semangat untuk pebisnis lokal mendapatkan pasar internasional yang lebih luas. Tidak hanya melalui pembiayaan, tapi pelatihan maupun pameran. Karena, sambung Herlina, pameran seperti TEI 2024 dapat membuka business matching menuju pasar global.
“Saya berharap LPEI dapat terus memberikan dukungan kepada pelaku usaha atau UMKM lokal lewat pameran seperti ini. Di sini kan kita bisa business matching atau eksportir lain. Bisa cari tanya-tanya juga kalau ada problem bahan baku,” ujar wanita yang juga seorang graphic designer tersebut.
Dalam pameran serupa, Kepala Divisi SME & Advisory LPEI Maria Sidabutar menjelaskan, pelaku usaha yang memanfaatkan ekosistem ekspor yang disediakan oleh LPEI. Di sisi lain, kehadiran LPEI dalam pameran TEI 2024 turut mendukung ekosistem bisnis yang memberdayakan perempuan, ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berorientasi ekspor.
“Pelaku usaha berorientasi ekspor dapat memanfaatkan ekosistem ekspor yang disediakan oleh LPEI melalui produk dan jasanya,” kata Maria pada Rabu, (9/10/2024).
LPEI sendiri telah hadir di Indonesia sejak tahun 2009 di bawah naungan Pemerintah Republik Indonesia. Tujuannya untuk mendorong ekspor nasional dan membantu eksportir meningkatkan produk atau kapasitas usahanya. Terdapat empat produk unggulan LPEI yang dapat dimanfaatkan eksportir lokal, yaitu pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi.
Untuk jasa konsultasi, LPEI memberikan wadah bagi UMKM atau calon eksportir “curhat” tentang kendala bisnis. Nantinya, jasa konsultasi bakal memberikan arahan untuk mengembangkan usaha sesuai kebutuhan, misalnya dengan memanfaatkan produk LPEI, pelatihan, pendampingan, atau bantuan sarana produksi.
LPEI Gandeng UK Export Finance untuk Potensi Bisnis Ekspor Baru - kumparan.com
LPEI gandeng UK Export Finance (UKEF) untuk melebarkan sayap Indonesia ekspor ke Inggris. [413] url asal
#lpei #eximbank #finansial #ekspor
(Kumparan.com - Bisnis) 07/10/24 20:15
v/16133857/
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank bekerja sama dengan UK Export Finance (UKEF) atau lembaga kredit pemerintah Inggris untuk menciptakan potensi bisnis baru bagi eksportir.
Penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) digelar di Jakarta. Kerja sama ini menandakan akan adanya intensi kedua belah pihak untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek baru di seluruh dunia, terutama di Afrika dan Indo-Pasifik.
Selain itu, melalui kerja sama ini, LPEI dan UKEF mendukung proyek-proyek internasional Inggris dan Indonesia, dengan fokus pada energi bersih, kesehatan, air, pendidikan, dan transportasi.
Direktur Eksekutif LPEI, Rijani Tirtoso, menuturkan kerja sama ini menjadi bukti komitmen kedua negara dalam menjalankan perdagangan yang berkelanjutan.
Di saat yang bersamaan, Rijani memandang kerja sama ini dapat menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peran yang lebih kuat di perdagangan global.
“Kolaborasi UKEF dengan Indonesia Eximbank secara signifikan mendorong pengembangan bisnis dan menunjukkan komitmen kedua lembaga untuk mendukung perdagangan yang bertanggung jawab, hijau, berkelanjutan dan berdampak, yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi,” tutur Rijani dalam keterangannya, Senin (7/10).
UKEF merupakan lembaga yang menyediakan pembiayaan dan asuransi untuk membantu pembeli luar negeri melaksanakan proyek yang menggunakan barang dan jasa dari Inggris.
Tahun lalu, UKEF mengalokasikan hampir £1,7 miliar atau setara dengan Rp 34,97 triliun (dengan kurs Rp 20.574 per pound Britania) dalam pembiayaan yang baru untuk wilayah-wilayah tersebut. UKEF juga membantu menghasilkan bisnis baru bagi ratusan pelaku usaha serta menunjukkan besarnya peluang yang tersedia bagi bisnis di Indonesia.
CEO UKEF, Tim Reid, mengatakan pihaknya telah mendukung banyak usaha di Asia Pasifik, termasuk di Indonesia. Sehingga kesepakatan kali ini menurut dia membuka babak baru yang menarik dalam kerja sama ekonomi antara Inggris dan Indonesia.
“Dengan kerja sama ini, kita dapat bertukar best practice, mencari peluang baru, dan meningkatkan perdagangan bilateral,” tuturnya.
Total dana yang dianggarkan UKEF untuk mendukung pelaku usaha Indonesia membiayai proyek-proyek yang menggunakan barang dan jasa dari Inggris adalah lebih dari £3 miliar atau setara dengan Rp 61,72 triliun.
Indonesia tetap menjadi pasar prioritas bagi UKEF, yang pada tahun 2017 menunjuk perwakilan luar negeri pertamanya dengan mengangkat Richard Michael sebagai Kepala Perwakilan Negara untuk Indonesia.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey juga mengatakan kerja sama Inggris dengan Indonesia telah terjalin lebih dari 75 tahun dan nota kesepahaman kali ini diharapkan dapat memperluas hubungan diplomatik ini.
“Di tengah perayaan hubungan diplomatik antara Inggris dan Indonesia yang telah terjalin selama lebih dari 75 tahun, saya senang dapat memperluas hubungan ini melalui kesepakatan antara UKEF dengan Indonesia Eximbank,” tutup Jermey.
LPEI Gandeng UK Export Finance untuk Potensi Bisnis Ekspor Baru - kumparan.com
LPEI gandeng UK Export Finance (UKEF) untuk melebarkan sayap Indonesia ekspor ke Inggris. [413] url asal
#lpei #eximbank #finansial #ekspor
(Kumparan.com - Bisnis) 07/10/24 20:15
v/16121742/
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank bekerja sama dengan UK Export Finance (UKEF) atau lembaga kredit pemerintah Inggris untuk menciptakan potensi bisnis baru bagi eksportir.
Penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) digelar di Jakarta. Kerja sama ini menandakan akan adanya intensi kedua belah pihak untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek baru di seluruh dunia, terutama di Afrika dan Indo-Pasifik.
Selain itu, melalui kerja sama ini, LPEI dan UKEF mendukung proyek-proyek internasional Inggris dan Indonesia, dengan fokus pada energi bersih, kesehatan, air, pendidikan, dan transportasi.
Direktur Eksekutif LPEI, Rijani Tirtoso, menuturkan kerja sama ini menjadi bukti komitmen kedua negara dalam menjalankan perdagangan yang berkelanjutan.
Di saat yang bersamaan, Rijani memandang kerja sama ini dapat menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peran yang lebih kuat di perdagangan global.
“Kolaborasi UKEF dengan Indonesia Eximbank secara signifikan mendorong pengembangan bisnis dan menunjukkan komitmen kedua lembaga untuk mendukung perdagangan yang bertanggung jawab, hijau, berkelanjutan dan berdampak, yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi,” tutur Rijani dalam keterangannya, Senin (7/10).
UKEF merupakan lembaga yang menyediakan pembiayaan dan asuransi untuk membantu pembeli luar negeri melaksanakan proyek yang menggunakan barang dan jasa dari Inggris.
Tahun lalu, UKEF mengalokasikan hampir £1,7 miliar atau setara dengan Rp 34,97 triliun (dengan kurs Rp 20.574 per pound Britania) dalam pembiayaan yang baru untuk wilayah-wilayah tersebut. UKEF juga membantu menghasilkan bisnis baru bagi ratusan pelaku usaha serta menunjukkan besarnya peluang yang tersedia bagi bisnis di Indonesia.
CEO UKEF, Tim Reid, mengatakan pihaknya telah mendukung banyak usaha di Asia Pasifik, termasuk di Indonesia. Sehingga kesepakatan kali ini menurut dia membuka babak baru yang menarik dalam kerja sama ekonomi antara Inggris dan Indonesia.
“Dengan kerja sama ini, kita dapat bertukar best practice, mencari peluang baru, dan meningkatkan perdagangan bilateral,” tuturnya.
Total dana yang dianggarkan UKEF untuk mendukung pelaku usaha Indonesia membiayai proyek-proyek yang menggunakan barang dan jasa dari Inggris adalah lebih dari £3 miliar atau setara dengan Rp 61,72 triliun.
Indonesia tetap menjadi pasar prioritas bagi UKEF, yang pada tahun 2017 menunjuk perwakilan luar negeri pertamanya dengan mengangkat Richard Michael sebagai Kepala Perwakilan Negara untuk Indonesia.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey juga mengatakan kerja sama Inggris dengan Indonesia telah terjalin lebih dari 75 tahun dan nota kesepahaman kali ini diharapkan dapat memperluas hubungan diplomatik ini.
“Di tengah perayaan hubungan diplomatik antara Inggris dan Indonesia yang telah terjalin selama lebih dari 75 tahun, saya senang dapat memperluas hubungan ini melalui kesepakatan antara UKEF dengan Indonesia Eximbank,” tutup Jermey.
Eximbank dan UK Export Finance Kolaborasi Ciptakan Peluang Bisnis Baru
MoU ini memperkuat dukungan yang sudah ada sebelumnya dari UKEF untuk organisasi di Indonesia. [283] url asal
#eximbank #uk-export-finance #ekspor-impor
(IDX-Channel - Banking) 07/10/24 17:42
v/16117311/
IDXChannel - Pemerintah Inggris melalui UK Export Finance (UKEF) Indonesia Eximbank berkolaborasi dalam menciptakan potensi bisnis baru bagi eksportir Indonesia.
UK Export Finance (UKEF) adalah lembaga kredit ekspor pemerintah Inggris, lembaga ini menyediakan pembiayaan dan asuransi untuk membantu pembeli luar negeri melaksanakan proyek yang menggunakan barang dan jasa dari Inggris.
Tahun lalu, UKEF mengalokasikan hampir 1,7 miliar poundsterling dalam pembiayaan yang baru untuk wilayah-wilayah tersebut. UKEF juga membantu menghasilkan bisnis baru bagi ratusan pelaku usaha serta menunjukkan besarnya peluang yang tersedia bagi bisnis di Indonesia.
Melalui kerja sama ini, UKEF dan Indonesia Eximbank mendukung proyek-proyek internasional yang akan menciptakan kontrak bagi pelaku usaha dari Inggris dan Indonesia, dengan fokus pada energi bersih, kesehatan, air, pendidikan, dan transportasi.
“Di tengah perayaan hubungan diplomatik antara Inggris dan Indonesia yang telah terjalin selama lebih dari 75 tahun, saya senang dapat memperluas hubungan ini melalui kesepakatan antara UKEF dengan Indonesia Eximbank," kata Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey, Senin (7/10/2024).
Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank Rijani Tirtoso mengatakan, sebagai Lembaga Kredit Ekspor (ECA) yang diakui secara global dengan kehadiran internasional yang luas, kolaborasi UKEF dengan Indonesia Eximbank secara signifikan mendorong pengembangan perdagangan yang bertanggung jawab, hijau, berkelanjutan dan berdampak.
"Ini berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi serta menempatkan Indonesia dalam peran yang lebih kuat di pasar global," tutur Rijani.
MoU ini memperkuat dukungan yang sudah ada sebelumnya dari UKEF untuk organisasi di Indonesia. UKEF memiliki lebih dari 3 miliar poundsterlingdana yang tersedia untuk mendukung pelaku usaha Indonesia membiayai proyek-proyek yang menggunakan barang dan jasa dari Inggris.
Indonesia tetap menjadi pasar prioritas bagi UKEF, di mana pada 2017 menunjuk perwakilan luar negeri pertamanya dengan mengangkat Richard Michael sebagai Kepala Perwakilan Negara untuk Indonesia.
(DESI ANGRIANI)
Garap Pasar Afrika, LPEI Sediakan Fasilitas Ekspor Kawasan
Kajian LPEI menunjukkan komoditas seperti minyak sawit, otomotif, komponen otomotif, dan kayu lapis berpotensi besar di pasar Afrika [419] url asal
#eximbank #indonesia-eximbank #kilas #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-industri
(Kontan-Industri) 07/09/24 09:03
v/14916889/
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Jakarta, 6 September 2024 Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) / Indonesia Eximbank terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan ekspor produk dan komoditas Indonesia ke negara-negara non-tradisional, khususnya di Benua Afrika. Pada tahun 2023, nilai ekspor Indonesia ke Afrika mencapai USD6,88 miliar. LPEI berperan aktif dalam mendukung 84 eksportir Indonesia untuk menembus pasar di 49 negara di Afrika.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank, ekspor Indonesia ke Afrika mengalami pertumbuhan stabil dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sekitar 9,47% dalam lima tahun terakhir. Lima negara tujuan utama ekspor Indonesia di Afrika meliputi Mesir (37%), Kamerun (7,3%), Djibouti (7%), Afrika Selatan (6,1%), dan Nigeria (5,5%). Adapun lima komoditas ekspor terbesar Indonesia ke Afrika antara lain minyak hewani dan nabati, kertas dan produk kertas, sabun dan bahan pembersih, otomotif dan komponen otomotif, serta peralatan elektrikal.
Plt. Direktur Pelaksana Sekretariat Lembaga, Kepatuhan, dan Sumber Daya Manusia LPEI, T. Wahyu Prihadi Wibowo, menjelaskan bahwa Indonesia Eximbank berkomitmen untuk terus mendukung eksportir dalam mengakses pasar Afrika melalui penyediaan Pembiayaan Ekspor dan Asuransi Kredit Perdagangan (Trade Credit Insurance/TCI).
"Indonesia Eximbank tidak hanya berperan dalam meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar Afrika yang terus berkembang, tetapi juga memberikan perlindungan kepada eksportir dari berbagai risiko yang berkaitan dengan perdagangan internasional,” kata Wahyu.
Sebagai bagian dari upaya peningkatan ekspor ke negara-negara non tradisional khususnya kawasan Afrika, pemerintah melalui LPEI memiliki fasilitas Penugasan Khusus Ekspor (PKE) Kawasan, yang bertujuan memberikan pembiayaan untuk transaksi atau proyek yang secara komersial sulit diwujudkan, namun dipandang strategis oleh pemerintah dalam mendukung kebijakan ekspor nasional. PKE Kawasan mencakup pembiayaan ekspor bagi eksportir yang berfokus pada negara-negara di Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah, kecuali negara-negara yang mendapat perhatian khusus.
Beberapa proyek yang telah difasilitasi oleh LPEI melalui program PKE Kawasan di Afrika antara lain pembiayaan ekspor pesawat CN-235 ke Senegal, pembiayaan pembangunan 3.950 unit Rumah Sosial di Aljazair oleh PT Wijaya Karya, ekspor semen dan klinker ke Afrika Timur, serta ekspor ikan kaleng (sarden, makarel, dan tuna) ke Nigeria dan Ghana di Afrika Barat.
“Kajian LPEI menunjukkan komoditas seperti minyak sawit, otomotif, komponen otomotif, dan kayu lapis masih memiliki potensi besar di pasar Afrika. Afrika menawarkan peluang pasar besar dengan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan bagi eksportir Indonesia. Dengan dukungan LPEI para pelaku usaha dapat lebih percaya diri menembus pasar Afrika. Saatnya eksportir Indonesia memanfaatkan peluang ini untuk memperluas jangkauan dan memperkuat posisi di pasar global,” tutup Wahyu.
Manfaatkan Limbah Sawit, Produk Lidi Indonesia Jadi Sumber Devisa
Saya menyadari bahwa di Sumatera memiliki banyak perkebunan kelapa sawit, dan pelepah sawit selalu terbuang setiap panen dua minggu sekali [1,297] url asal
#eximbank #indonesia-eximbank #kilas #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-industri
(Kontan) 07/08/24 14:00
v/13638446/
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Jakarta, 7 Agustus 2024 Pasar furnitur dunia, termasuk dekorasi rumah, sempat mengalami pertumbuhan positif selama pandemi karena masyarakat banyak melakukan renovasi rumah untuk mendukung berbagai aktivitas seperti bekerja dan belajar di rumah (work/school from home). Beberapa produk turunan dari furnitur yang turut mengalami peningkatan nilai ekspor adalah sapu lidi nipah dan lidi sawit. Sebagai salah satu produsen utama, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengekspor lidi nipah dan lidi sawit ke negara-negara dengan pasar yang berpotensi tinggi.
Permintaan global terhadap produk lidi nipah dan lidi sawit Indonesia pada tahun 2023 tercatat tumbuh positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh tim Economist Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menunjukkan nilai ekspor lidi nipah dan lidi sawit Indonesia tahun 2023 meningkat 11,44% year-on-year (yoy) mencapai USD29,32 juta dari USD 26,31 juta pada tahun 2022. Sejalan dengan nilai, volume ekspor juga meningkat 15,97% yoy mencapai 70,08 ribu ton dari 60,43 ribu ton di tahun sebelumnya.
Peningkatan ekspor ini ditopang oleh naiknya permintaan dari dua negara tujuan utama pada 2023, yaitu ekspor ke India naik USD1,16 juta menjadi USD17,04 juta pada tahun 2023 dan ke Pakistan naik USD1,84 juta menjadi USD6,17 juta pada tahun 2023.
Lidi nipah dan lidi sawit berasal dari tulang daun yang menghubungkan daun dengan pelepah. Lidi sawit, yang berasal dari pohon kelapa sawit, memiliki tekstur agak keras, ringan, dan lentur pada bagian ujungnya serta berwarna cokelat muda. Standar kualitas lidi nipah dan lidi sawit memiliki tingkat kekeringan 50% dengan panjang sapu lidi minimal 90 centimeter. Selain menjadi sapu, lidi dapat diolah menjadi berbagai kerajinan tangan seperti piring, keranjang, vas, dan kotak tisu. Produk turunan lidi nipah dan lidi sawit yang paling banyak diekspor Indonesia adalah sapu dari ranting atau bahan nabati diikat, dengan porsi sebesar 98,24% atau setara USD 28,80 juta.
Selama lima tahun terakhir, neraca perdagangan lidi nipah dan lidi sawit Indonesia selalu mencatatkan surplus, dengan surplus tahun 2023 mencapai USD 29,14 juta, lebih tinggi dibandingkan tahun 2022 sebesar USD 26,27 juta. Berdasarkan data yang dirilis oleh International Trade Centre (ITC) melalui trademap, pada tahun 2023, Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara eksportir utama lidi sipah dan lidi sawit di dunia dengan porsi 12,42% terhadap total ekspor dunia, setelah Tiongkok (20,90%). Negara eksportir terbesar berikutnya adalah Sri Lanka (11,95%), Belanda (5,31%) dan Meksiko (5,29%).
Perkembangan terkini, nilai ekspor lidi sawit dan lidi nipah periode Januari-Juni 2024 mencapai USD10,18 juta atau turun 27,59% yoy dari USD14,06 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan penurunan di sisi volume, yang hanya mencapai 26,6 ribu ton atau turun 18,91% yoy dari 32,8 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ekspor paling dalam dicatatkan ke India yang turun 51,85%, diikuti Jepang 17,82%, dan Tiongkok 34,93%. Di tengah tren penurunan ini, ekspor lidi sawit dan lidi nipah Indonesia pada periode tersebut ke sejumlah negara masih mencatatkan peningkatan, seperti ke Pakistan naik 11,05%, ke Filipina naik 20,03% dan ke Vietnam naik 194,59%.

“Melihat realisasi nilai ekspor Semester I-2024 maka nilai ekspor menunjukkan penurunan hingga akhir 2024, terutama ke India, Jepang, dan Tiongkok. Era suku bunga tinggi melemahkan sektor properti global dan mengurangi permintaan produk furnitur dan home decor, konsumen cenderung memilih produk esensial. Namun, ada peluang ekspor ke negara dengan permintaan meningkat seperti Pakistan, Filipina, Vietnam, Korea Selatan, dan Iran. Indonesia sebagai salah satu produsen utama diharapkan dapat memanfaatkan peluang ini dengan memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan kualitas produk di pasar non-tradisional,” kata Senior Economist LPEI, Donda Sarah Hutabarat.
Secara historis, produk lidi nipah dan Lidi Sawit asal Indonesia mencatatkan daya saing yang baik (dengan pendekatan Revealed Comparative Advantage/RSCA pada level 0,79) dibandingkan Tiongkok, Belanda, dan Meksiko, namun masih tertinggal dibandingkan dengan Sri Lanka (RSCA 0,99). Berdasarkan data ITC Export Potential Map, juga masih terdapat potensi ekspor lidi nipah dan lidi sawit Indonesia dengan negara-negara dengan potensi pasar tinggi untuk produk lidi antara lain Amerika Serikat, Malaysia, Filipina, Inggris, Belanda, Taiwan, dan Prancis.
Salah satu eksportir lidi nipah dan lidi sawit asal Indonesia adalah Rianto Aritonang, pemilik CV Kahaka Internasional yang juga alumni program Coaching Program New Exporters (CPNE) LPEI pada 2020 lalu. Setelah melalui program pendampingan dari LPEI, Rianto berhasil melakukan ekspor lidi sawit yang berasal dari limbah hingga tujuh negara, yaitu Pakistan, India, Nepal, Vietnam, Singapura, dan Bangladesh dengan rata-rata ekspor 12 hingga 15 kontainer per bulan.
Sejak 2020 hingga Juni 2024, CV Kahaka Internasional telah melakukan ekspor 8.500 metrik ton lidi sawit atau sebanyak 622 kontainer dengan nilai ekspor USD3,5 juta. Untuk memenuhi permintaan ekspor, Rianto memanfaatkan Kredit Modal Kerja Ekspor Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM LPEI. Pemerintah memberikan Penugasan Khusus Ekspor (PKE) kepada LPEI untuk menyediakan pembiayaan, penjaminan dan/atau asuransi kepada kegiatan ekspor yang secara komersial sulit untuk dilaksanakan, tetapi dianggap perlu untuk menunjang kebijakan ekspor nasional.
“Satu kontainer itu dapat memuat hingga 25 ton lidi senilai Rp130-150 juta per kontainer. Lidi-lidi tersebut nanti diolah lagi di negara tujuan menjadi sapu lidi siap pakai. Kami juga ekspor sapu lidi siap pakai ke Singapura dengan harga Rp10-12 ribu per buah, yang dijual kembali oleh pihak distributor seharga SGD2 per buah atau sekitar Rp20-25 ribu,” kata Rianto.
Ia bercerita awal mula melakukan ekspor lidi sawit adalah ketika melihat teman-temannya yang bekerja sebagai pengepul pinang kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19. Rianto yang tumbuh besar di perkebunan kelapa sawit dan bekerja sebelumnya sebagai engineer di industri perkapalan mulai mencari seluk beluk bisnis ekspor. Peluang pertama terlihat dari ekspor buah pinang ke negara-negara Asia Selatan. Tidak berhenti di situ, Rianto melakukan eksplorasi peluang ekspor lainnya.
"Saya menyadari bahwa di Sumatera memiliki banyak perkebunan kelapa sawit, dan pelepah sawit selalu terbuang setiap panen dua minggu sekali. Saya berbicara dengan pembeli dan meyakinkan mereka untuk mencoba lidi sawit. Pada November 2020, kami berhasil ekspor perdana ke India dan ternyata mereka suka. Secara kekuatan, lidi sawit tidak jauh berbeda namun biayanya 20% lebih murah dibandingkan lidi dari pohon kelapa yang juga terbatas produksinya. Sementara lidi dari limbah sawit selalu tersedia karena panen dilakukan dua minggu sekali sehingga ada jaminan pasokan bahan baku dan lebih ramah lingkungan," kata Rianto.
Ekspor lidi dari limbah sawit tidak hanya berkontribusi pada pengurangan limbah tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani sawit mitra CV Kahaka Internasional. Untuk memenuhi bahan baku lidi sawit yang berasal dari limbah, CV Kahaka Internasional bermitra dengan lebih dari 300 petani sawit yang tersebar di 15 lokasi di Pulau Sumatera dan Jawa, seperti di Siantang, Dumai, Lampung, dan Pemalang.
“Kalau melihat dulu, petani hanya mengambil brondolan sawit. Sekarang mereka juga mengambil pelepah untuk diambil lidinya. Sehari petani dapat membawa 15-20 kilogram pelepah sawit untuk diambil lidinya sehingga mendapatkan pendapatan tambahan sekitar Rp60-80 ribu per hari,” katanya.
Rianto berencana untuk memperluas pasar ekspor lidi sawit ke negara-negara Eropa dan Australia yang memprioritaskan produk ramah lingkungan. Saat ini CV Kahaka Internasional dengan dibantu oleh LPEI dan lembaga pemerintah lainnya sedang memperkuat hubungan dengan buyer Eropa dan Australia untuk penetrasi pasar ekspor ke negara-negara baru.
“Kami juga sudah memulai ekspor abu limbah janjang sawit atau tankos ke Taiwan hingga dua kontainer setiap bulannya. Abu tankos mengandung kalium hingga 40% dan dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah,” katanya.
Aritonang memberikan tips bagi pelaku usaha yang ingin memulai ekspor. “Ekspor itu tidak mudah tetapi tidak sesulit yang dibayangkan. Bergabung dengan komunitas ekspor dan mengikuti program CPNE LPEI merupakan langkah awal untuk belajar. Mulai petakan komoditas apa yang memiliki nilai ekspor dan just do it, pada akhirnya nanti akan naik kelas menjadi eksportir.”
Sumatra Utara Perkuat Peran Tulang Punggung Ekspor Nasional
Sumatra Utara tulang punggung ekspor wilayah Sumatra, menjadi provinsi ketiga dengan nilai ekspor terbesar setelah Kepulauan Riau dan Riau. - Halaman all [755] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #lpei #ekspor #indonesia-eximbank #sumatra-utara #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 29/07/24 15:08
v/12531455/
MEDAN, investor.id - Sumatra Utara telah menjadi tulang punggung ekspor wilayah Sumatra dengan menjadi provinsi ketiga dengan nilai ekspor terbesar setelah Kepulauan Riau dan Riau. Produk ekspor Sumatra Utara didominasi oleh produk lemak & minyak hewani/nabati yang telah menembus hingga 182 negara.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor Sumatra Utara mencapai US$ 10,24 miliar, Kepulauan Riau US$ 17,39 miliar dan Riau US$ 18,96 miliar. Dari sisi PDB, Sumatra Utara merupakan kontributor PDB Indonesia di peringkat 5 dengan kontribusi PDB sebesar 5,12% pada tahun 2023. Data tersebut menunjukkan bahwa Sumatra Utara memiliki peran yang signifikan dalam perekonomian nasional, baik dari sisi ekspor maupun kontribusi terhadap PDB.
Melihat pentingnya peran Sumatra Utara dalam perekonomian nasional tersebut, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) terus mendukung dan meningkatkan potensi ekspor provinsi Sumatra Utara dengan kembali menyelenggarakan forum pertemuan bersama para eksportir unggulan Sumatra Utara dalam acara "LPEI Export Forum dan Sosialisasi Program Penugasan Khusus Ekspor 2024" pada Kamis (25/7/2024). Acara ini bertujuan untuk mendorong ekspor Sumatra Utara dengan memberikan export outlook di Sumatra Utara sehingga pelaku ekspor dapat melihat prospek ekspor yang akan datang. Acara ini terselenggara dengan baik melalui kolaborasi antara LPEI dengan DJPPR Kementerian Keuangan, Bea Cukai Sumatra Utara, dan Dinas Perindustrian Perdagangan Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatra Utara.
Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Kementerian Keuangan, Heri Setiawan mengatakan untuk mendorong ekspor Sumatra Utara, pemerintah memberikan Penugasan Khusus Ekspor (PKE) kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk menyediakan pembiayaan, penjaminan dan/atau asuransi kepada kegiatan ekspor yang secara komersial sulit untuk dilaksanakan, tetapi dianggap perlu untuk menunjang kebijakan ekspor nasional.
“Melalui PKE, LPEI sebagai perpanjangan tangan Kementerian Keuangan membantu pelaku usaha mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi, khususnya eksportir Sumatra Utara. Para eksportir dapat memanfaatkan berbagai Program Penugasan Khusus Ekspor sesuai dengan profil/karakteristik ekspor yang ada, antara lain PKE UKM yang dirancang untuk UKM berorientasi ekspor, PKE Kawasan untuk eksportir yang ingin menembus pasar ekspor ke tujuan negara non tradisional, PKE Trade Finance dengan skema transaksi trade, serta PKE Farmasi dan alat kesehatan bagi eksportir yang bergerak di industri kesehatan,” kata Heri Setiawan.
Chief of Region LPEI, Anton Herdiyanto menjelaskan LPEI proaktif untuk memberikan solusi dan dukungan penuh kepada eksportir Sumatra Utara sehingga mampu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas para pelaku usaha ekspor serta menciptakan kepercayaan dari negara lain. Saat ini Sumatra Utara memiliki 737 eksportir yang terdiri dari 555 eksportir dengan nilai ekspor di bawah Rp 50 miliar, 137 eksportir dengan nilai ekspor Rp 50-500 miliar, dan 45 eksportir dengan nilai ekspor di atas Rp 500 miliar.
“Pada level nasional, nilai ekspor Sumatra Utara masuk ke dalam 10 provinsi terbesar dengan jumlah eksportir terbesar ke-7 di Indonesia. Angka kontribusi yang signifikan ini tentulah hasil kolaborasi yang solid antara Kementerian, Lembaga, pelaku usaha serta seluruh elemen ekosistem ekspor Sumatra Utara,” kata Anton.
Market Intelligence & Leads Management Chief Specialist LPEI, Rini Satriani, menjelaskan bahwa sekitar 80% ekspor Sumatra Utara tersebar oleh produk lemak & minyak hewani/nabati, produk kimia, ampas & sisa industri makanan, karet & barang dari karet, dan sabun & bahan pembersih. Produk-produk Sumatra Utara telah menjangkau hingga 182 negara, dengan lima negara tujuan utama yaitu China, Singapura, Amerika Serikat, Malaysia, dan India.
Hal ini didorong oleh peningkatan jumlah buyer produk ekspor Sumatra Utara sejak 2022, dengan 32,29% di antaranya merupakan buyer loyal. Rini menganalisis bahwa pertumbuhan ekspor Sumatra Utara akan tetap stabil hingga tahun 2025. Sejumlah produk unggulan asal Sumatra Utara memiliki peluang nilai ekspor di dunia yang tinggi, seperti kopi, teh, dan rempah dengan nilai mencapai Rp 14,09 triliun, buah-buahan mencapai Rp 8,9 triliun, produk plastik dan barang dari plastik senilai Rp58,46 triliun, minyak atsiri, wewangian dan kosmetik sebesar Rp22,12 triliun, produk olahan dari daging, ikan, krustasea dan moluska sebesar Rp 15,69 triliun serta produk kayu sebesar Rp 39,5 triliun.
Di sesi terpisah, LPEI juga memperkenalkan marketplace bernama Komodoin kepada para pelaku usaha berorientasi ekspor Sumatra Utara. Komodoin yang akan meluncur dalam beberapa waktu mendatang akan membantu dan memudahkan pelaku usaha berorientasi ekspor dengan menyediakan informasi berbasis riset data dan membantu eksportir dalam menjangkau buyer baru di pasar dunia agar produk Indonesia berani mendunia.
Kepala Divisi SME’s Advisory Services LPEI, Lutpi Ginanjar yang menjelaskan marketplace Komodoin di hadapan para pelaku UKM berorientasi ekspor juga menggali masukan dari UKM yang sudah ekspor untuk mengoptimalkan dukungan LPEI dalam meningkatkan peran UKM Sumatra Utara menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Editor: Yurike Metriani (yurikemetriani@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
LPEI Rombak Jajaran Direksi, Berikut Daftarnya
Perubahan susunan direksi LPEI ini seiring dengan penugasan baru Dikdik Yustandi sebagai Komisaris Independen PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). [233] url asal
#lpei #indonesia-eximbank #update-me #direksi
(Katadata - FINANSIAL) 22/07/24 17:41
v/11687411/
Dewan Direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mengubah susunan direksi seiring dengan penugasan baru Dikdik Yustandi sebagai Komisaris Independen PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), special mission vehicle (SMV) Kementerian Keuangan.
Kepala Divisi Sekretariat Lembaga LPEI Dyza Rochadi menjelaskan perubahan susunan direksi tersebut tertuang dalam Keputusan Dewan Direktur melalui Surat Nomor 0005/KDD/07/2024 dan KDD No. 0006/KDD/07/2024 tertanggal 19 Juli 2024.
"Dewan direktur, manajemen dan segenap jajaran LPEI mengucapkan selamat bertugas dan sukses kepada Bapak Dikdik Yustandi yang mengemban amanah baru sebagai Komisaris Sarana Multi Infrastruktur," kata Dyza di Jakarta, Senin (22/7).
Pihaknya berharap, semoga Dikdik dapat menjalankan amanah sebagai Komisaris Sarana Multi Infrastruktur. Dengan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa.
Jajaran dewan direktur dan manajemen menyampaikan penghargaan kepada Dikdik atas dedikasi dan sumbangsih yang diberikan selama bertugas sebagai Direktur Pelaksana Bisnis LPEI dalam memajukan ekspor Indonesia.
Posisi Direktur Pelaksana Bisnis LPEI saat ini dirangkap oleh Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis Maqin U Norhadi sampai dengan terpilihnya Direktur Pelaksana Bisnis definitif yang baru.
Berikut Susunan Pengurus LPEI Terbaru:
- Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif Rijani Tirtoso
- Anggota Dewan Direktur: Suminto
- Anggota Dewan Direktur: Yon Arsal
- Anggota Dewan Direktur: Kasan
- Anggota Dewan Direktur: Arus Gunawan
- Anggota Dewan Direktur: D James Rompas
- Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis merangkap Plt Direktur Pelaksana Bisnis: Maqin U Norhadi
- Direktur Pelaksana Keuangan, Operasional & Teknologi Informasi: Agus Windiarto
- Direktur Pelaksana Sekretariat Lembaga, Kepatuhan & Sumber Daya Manusia: Chesna F. Anwar
- Direktur Pelaksana Manajemen Risiko & Kredit: Sam Malee
Dikdik Yustandi ke PT SMI, LPEI Ubah Susunan Pengurus
Sementara itu, posisi Direktur Bisnis LPEI dirangkap oleh Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis, Maqin U. Norhadi. - Halaman all [262] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #pengurus-lpei #manajemen-lpei #direksi-lpei #perubahan-pengurus-lpei #lembaga-pembiayaan-ekspor-indonesia #indonesia-eximbank #pt-sarana-multi-infrastruktur-smi #ber
(InvestorID) 22/07/24 16:00
v/11679329/
JAKARTA, investor.id – Direktur Pelaksana Bisnis Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Dikdik Yustandi mendapat penugasan baru sebagai Komisaris Independen PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI, special mission vehicle (SMV) Kementerian Keuangan. Menyikapi hal itu, LPEI mengumumkan perubahan susunan pengurus yang baru.
Kepala Divisi Sekretariat Lembaga LPEI, Dyza Rochadi menjelaskan, perubahan susunan jajaran pengurus LPEI tertuang pada Keputusan Dewan Direktur melalui surat Nomor 0005/KDD/07/2024 dan KDD No. 0006/KDD/07/2024 tanggal 19 Juli 2024.
Dia mengungkapkan bahwa jajaran Dewan Direktur dan Manajemen LPEI menyampaikan penghargaan sebesar-besarnya kepada Dikdik Yustandi atas dedikasi dan sumbangsih yang diberikan selama bertugas sebagai Direktur Pelaksana Bisnis LPEI dalam memajukan ekspor Indonesia.
“Dewan Direktur, Manajemen dan segenap jajaran LPEI mengucapkan selamat bertugas dan sukses kepada Bapak Dikdik Yustandi yang mengemban amanah baru sebagai Komisaris PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Semoga beliau dapat menjalankan amanah tersebut dengan memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsa,” kata Dyza dalam keterangannya, Senin (22/7/2024).
Adapun posisi Direktur Bisnis LPEI saat ini dirangkap oleh Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis, Maqin U. Norhadi sampai dengan terpilihnya Direktur Pelaksana Bisnis definitif yang baru.
Dengan demikian, berikut susunan pengurus LPEI terbaru:
Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif: Rijani Tirtoso
Anggota Dewan Direktur:
Suminto
Yon Arsal
Kasan
Arus Gunawan
D. James Rompas
Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis merangkap Plt Direktur Pelaksana Bisnis: Maqin U Norhadi
Direktur Pelaksana Keuangan, Operasional & Teknologi Informasi: Agus Windiarto
Direktur Pelaksana Sekretariat Lembaga, Kepatuhan & Sumber Daya Manusia: Chesna F. Anwar
Direktur Pelaksana Manajemen Risiko & Kredit: Sam Malee
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News