#30 tag 24jam
Garap Pasar Afrika, LPEI Sediakan Fasilitas Ekspor Kawasan
Kajian LPEI menunjukkan komoditas seperti minyak sawit, otomotif, komponen otomotif, dan kayu lapis berpotensi besar di pasar Afrika [419] url asal
#eximbank #indonesia-eximbank #kilas #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-industri
(Kontan-Industri) 07/09/24 09:03
v/14916889/
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Jakarta, 6 September 2024 Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) / Indonesia Eximbank terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan ekspor produk dan komoditas Indonesia ke negara-negara non-tradisional, khususnya di Benua Afrika. Pada tahun 2023, nilai ekspor Indonesia ke Afrika mencapai USD6,88 miliar. LPEI berperan aktif dalam mendukung 84 eksportir Indonesia untuk menembus pasar di 49 negara di Afrika.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank, ekspor Indonesia ke Afrika mengalami pertumbuhan stabil dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sekitar 9,47% dalam lima tahun terakhir. Lima negara tujuan utama ekspor Indonesia di Afrika meliputi Mesir (37%), Kamerun (7,3%), Djibouti (7%), Afrika Selatan (6,1%), dan Nigeria (5,5%). Adapun lima komoditas ekspor terbesar Indonesia ke Afrika antara lain minyak hewani dan nabati, kertas dan produk kertas, sabun dan bahan pembersih, otomotif dan komponen otomotif, serta peralatan elektrikal.
Plt. Direktur Pelaksana Sekretariat Lembaga, Kepatuhan, dan Sumber Daya Manusia LPEI, T. Wahyu Prihadi Wibowo, menjelaskan bahwa Indonesia Eximbank berkomitmen untuk terus mendukung eksportir dalam mengakses pasar Afrika melalui penyediaan Pembiayaan Ekspor dan Asuransi Kredit Perdagangan (Trade Credit Insurance/TCI).
"Indonesia Eximbank tidak hanya berperan dalam meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar Afrika yang terus berkembang, tetapi juga memberikan perlindungan kepada eksportir dari berbagai risiko yang berkaitan dengan perdagangan internasional,” kata Wahyu.
Sebagai bagian dari upaya peningkatan ekspor ke negara-negara non tradisional khususnya kawasan Afrika, pemerintah melalui LPEI memiliki fasilitas Penugasan Khusus Ekspor (PKE) Kawasan, yang bertujuan memberikan pembiayaan untuk transaksi atau proyek yang secara komersial sulit diwujudkan, namun dipandang strategis oleh pemerintah dalam mendukung kebijakan ekspor nasional. PKE Kawasan mencakup pembiayaan ekspor bagi eksportir yang berfokus pada negara-negara di Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah, kecuali negara-negara yang mendapat perhatian khusus.
Beberapa proyek yang telah difasilitasi oleh LPEI melalui program PKE Kawasan di Afrika antara lain pembiayaan ekspor pesawat CN-235 ke Senegal, pembiayaan pembangunan 3.950 unit Rumah Sosial di Aljazair oleh PT Wijaya Karya, ekspor semen dan klinker ke Afrika Timur, serta ekspor ikan kaleng (sarden, makarel, dan tuna) ke Nigeria dan Ghana di Afrika Barat.
“Kajian LPEI menunjukkan komoditas seperti minyak sawit, otomotif, komponen otomotif, dan kayu lapis masih memiliki potensi besar di pasar Afrika. Afrika menawarkan peluang pasar besar dengan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan bagi eksportir Indonesia. Dengan dukungan LPEI para pelaku usaha dapat lebih percaya diri menembus pasar Afrika. Saatnya eksportir Indonesia memanfaatkan peluang ini untuk memperluas jangkauan dan memperkuat posisi di pasar global,” tutup Wahyu.
Manfaatkan Limbah Sawit, Produk Lidi Indonesia Jadi Sumber Devisa
Saya menyadari bahwa di Sumatera memiliki banyak perkebunan kelapa sawit, dan pelepah sawit selalu terbuang setiap panen dua minggu sekali [1,297] url asal
#eximbank #indonesia-eximbank #kilas #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-industri
(Kontan) 07/08/24 14:00
v/13638446/
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Jakarta, 7 Agustus 2024 Pasar furnitur dunia, termasuk dekorasi rumah, sempat mengalami pertumbuhan positif selama pandemi karena masyarakat banyak melakukan renovasi rumah untuk mendukung berbagai aktivitas seperti bekerja dan belajar di rumah (work/school from home). Beberapa produk turunan dari furnitur yang turut mengalami peningkatan nilai ekspor adalah sapu lidi nipah dan lidi sawit. Sebagai salah satu produsen utama, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengekspor lidi nipah dan lidi sawit ke negara-negara dengan pasar yang berpotensi tinggi.
Permintaan global terhadap produk lidi nipah dan lidi sawit Indonesia pada tahun 2023 tercatat tumbuh positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh tim Economist Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menunjukkan nilai ekspor lidi nipah dan lidi sawit Indonesia tahun 2023 meningkat 11,44% year-on-year (yoy) mencapai USD29,32 juta dari USD 26,31 juta pada tahun 2022. Sejalan dengan nilai, volume ekspor juga meningkat 15,97% yoy mencapai 70,08 ribu ton dari 60,43 ribu ton di tahun sebelumnya.
Peningkatan ekspor ini ditopang oleh naiknya permintaan dari dua negara tujuan utama pada 2023, yaitu ekspor ke India naik USD1,16 juta menjadi USD17,04 juta pada tahun 2023 dan ke Pakistan naik USD1,84 juta menjadi USD6,17 juta pada tahun 2023.
Lidi nipah dan lidi sawit berasal dari tulang daun yang menghubungkan daun dengan pelepah. Lidi sawit, yang berasal dari pohon kelapa sawit, memiliki tekstur agak keras, ringan, dan lentur pada bagian ujungnya serta berwarna cokelat muda. Standar kualitas lidi nipah dan lidi sawit memiliki tingkat kekeringan 50% dengan panjang sapu lidi minimal 90 centimeter. Selain menjadi sapu, lidi dapat diolah menjadi berbagai kerajinan tangan seperti piring, keranjang, vas, dan kotak tisu. Produk turunan lidi nipah dan lidi sawit yang paling banyak diekspor Indonesia adalah sapu dari ranting atau bahan nabati diikat, dengan porsi sebesar 98,24% atau setara USD 28,80 juta.
Selama lima tahun terakhir, neraca perdagangan lidi nipah dan lidi sawit Indonesia selalu mencatatkan surplus, dengan surplus tahun 2023 mencapai USD 29,14 juta, lebih tinggi dibandingkan tahun 2022 sebesar USD 26,27 juta. Berdasarkan data yang dirilis oleh International Trade Centre (ITC) melalui trademap, pada tahun 2023, Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara eksportir utama lidi sipah dan lidi sawit di dunia dengan porsi 12,42% terhadap total ekspor dunia, setelah Tiongkok (20,90%). Negara eksportir terbesar berikutnya adalah Sri Lanka (11,95%), Belanda (5,31%) dan Meksiko (5,29%).
Perkembangan terkini, nilai ekspor lidi sawit dan lidi nipah periode Januari-Juni 2024 mencapai USD10,18 juta atau turun 27,59% yoy dari USD14,06 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan penurunan di sisi volume, yang hanya mencapai 26,6 ribu ton atau turun 18,91% yoy dari 32,8 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ekspor paling dalam dicatatkan ke India yang turun 51,85%, diikuti Jepang 17,82%, dan Tiongkok 34,93%. Di tengah tren penurunan ini, ekspor lidi sawit dan lidi nipah Indonesia pada periode tersebut ke sejumlah negara masih mencatatkan peningkatan, seperti ke Pakistan naik 11,05%, ke Filipina naik 20,03% dan ke Vietnam naik 194,59%.

“Melihat realisasi nilai ekspor Semester I-2024 maka nilai ekspor menunjukkan penurunan hingga akhir 2024, terutama ke India, Jepang, dan Tiongkok. Era suku bunga tinggi melemahkan sektor properti global dan mengurangi permintaan produk furnitur dan home decor, konsumen cenderung memilih produk esensial. Namun, ada peluang ekspor ke negara dengan permintaan meningkat seperti Pakistan, Filipina, Vietnam, Korea Selatan, dan Iran. Indonesia sebagai salah satu produsen utama diharapkan dapat memanfaatkan peluang ini dengan memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan kualitas produk di pasar non-tradisional,” kata Senior Economist LPEI, Donda Sarah Hutabarat.
Secara historis, produk lidi nipah dan Lidi Sawit asal Indonesia mencatatkan daya saing yang baik (dengan pendekatan Revealed Comparative Advantage/RSCA pada level 0,79) dibandingkan Tiongkok, Belanda, dan Meksiko, namun masih tertinggal dibandingkan dengan Sri Lanka (RSCA 0,99). Berdasarkan data ITC Export Potential Map, juga masih terdapat potensi ekspor lidi nipah dan lidi sawit Indonesia dengan negara-negara dengan potensi pasar tinggi untuk produk lidi antara lain Amerika Serikat, Malaysia, Filipina, Inggris, Belanda, Taiwan, dan Prancis.
Salah satu eksportir lidi nipah dan lidi sawit asal Indonesia adalah Rianto Aritonang, pemilik CV Kahaka Internasional yang juga alumni program Coaching Program New Exporters (CPNE) LPEI pada 2020 lalu. Setelah melalui program pendampingan dari LPEI, Rianto berhasil melakukan ekspor lidi sawit yang berasal dari limbah hingga tujuh negara, yaitu Pakistan, India, Nepal, Vietnam, Singapura, dan Bangladesh dengan rata-rata ekspor 12 hingga 15 kontainer per bulan.
Sejak 2020 hingga Juni 2024, CV Kahaka Internasional telah melakukan ekspor 8.500 metrik ton lidi sawit atau sebanyak 622 kontainer dengan nilai ekspor USD3,5 juta. Untuk memenuhi permintaan ekspor, Rianto memanfaatkan Kredit Modal Kerja Ekspor Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM LPEI. Pemerintah memberikan Penugasan Khusus Ekspor (PKE) kepada LPEI untuk menyediakan pembiayaan, penjaminan dan/atau asuransi kepada kegiatan ekspor yang secara komersial sulit untuk dilaksanakan, tetapi dianggap perlu untuk menunjang kebijakan ekspor nasional.
“Satu kontainer itu dapat memuat hingga 25 ton lidi senilai Rp130-150 juta per kontainer. Lidi-lidi tersebut nanti diolah lagi di negara tujuan menjadi sapu lidi siap pakai. Kami juga ekspor sapu lidi siap pakai ke Singapura dengan harga Rp10-12 ribu per buah, yang dijual kembali oleh pihak distributor seharga SGD2 per buah atau sekitar Rp20-25 ribu,” kata Rianto.
Ia bercerita awal mula melakukan ekspor lidi sawit adalah ketika melihat teman-temannya yang bekerja sebagai pengepul pinang kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19. Rianto yang tumbuh besar di perkebunan kelapa sawit dan bekerja sebelumnya sebagai engineer di industri perkapalan mulai mencari seluk beluk bisnis ekspor. Peluang pertama terlihat dari ekspor buah pinang ke negara-negara Asia Selatan. Tidak berhenti di situ, Rianto melakukan eksplorasi peluang ekspor lainnya.
"Saya menyadari bahwa di Sumatera memiliki banyak perkebunan kelapa sawit, dan pelepah sawit selalu terbuang setiap panen dua minggu sekali. Saya berbicara dengan pembeli dan meyakinkan mereka untuk mencoba lidi sawit. Pada November 2020, kami berhasil ekspor perdana ke India dan ternyata mereka suka. Secara kekuatan, lidi sawit tidak jauh berbeda namun biayanya 20% lebih murah dibandingkan lidi dari pohon kelapa yang juga terbatas produksinya. Sementara lidi dari limbah sawit selalu tersedia karena panen dilakukan dua minggu sekali sehingga ada jaminan pasokan bahan baku dan lebih ramah lingkungan," kata Rianto.
Ekspor lidi dari limbah sawit tidak hanya berkontribusi pada pengurangan limbah tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani sawit mitra CV Kahaka Internasional. Untuk memenuhi bahan baku lidi sawit yang berasal dari limbah, CV Kahaka Internasional bermitra dengan lebih dari 300 petani sawit yang tersebar di 15 lokasi di Pulau Sumatera dan Jawa, seperti di Siantang, Dumai, Lampung, dan Pemalang.
“Kalau melihat dulu, petani hanya mengambil brondolan sawit. Sekarang mereka juga mengambil pelepah untuk diambil lidinya. Sehari petani dapat membawa 15-20 kilogram pelepah sawit untuk diambil lidinya sehingga mendapatkan pendapatan tambahan sekitar Rp60-80 ribu per hari,” katanya.
Rianto berencana untuk memperluas pasar ekspor lidi sawit ke negara-negara Eropa dan Australia yang memprioritaskan produk ramah lingkungan. Saat ini CV Kahaka Internasional dengan dibantu oleh LPEI dan lembaga pemerintah lainnya sedang memperkuat hubungan dengan buyer Eropa dan Australia untuk penetrasi pasar ekspor ke negara-negara baru.
“Kami juga sudah memulai ekspor abu limbah janjang sawit atau tankos ke Taiwan hingga dua kontainer setiap bulannya. Abu tankos mengandung kalium hingga 40% dan dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah,” katanya.
Aritonang memberikan tips bagi pelaku usaha yang ingin memulai ekspor. “Ekspor itu tidak mudah tetapi tidak sesulit yang dibayangkan. Bergabung dengan komunitas ekspor dan mengikuti program CPNE LPEI merupakan langkah awal untuk belajar. Mulai petakan komoditas apa yang memiliki nilai ekspor dan just do it, pada akhirnya nanti akan naik kelas menjadi eksportir.”
Sumatra Utara Perkuat Peran Tulang Punggung Ekspor Nasional
Sumatra Utara tulang punggung ekspor wilayah Sumatra, menjadi provinsi ketiga dengan nilai ekspor terbesar setelah Kepulauan Riau dan Riau. - Halaman all [755] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #lpei #ekspor #indonesia-eximbank #sumatra-utara #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 29/07/24 15:08
v/12531455/
MEDAN, investor.id - Sumatra Utara telah menjadi tulang punggung ekspor wilayah Sumatra dengan menjadi provinsi ketiga dengan nilai ekspor terbesar setelah Kepulauan Riau dan Riau. Produk ekspor Sumatra Utara didominasi oleh produk lemak & minyak hewani/nabati yang telah menembus hingga 182 negara.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor Sumatra Utara mencapai US$ 10,24 miliar, Kepulauan Riau US$ 17,39 miliar dan Riau US$ 18,96 miliar. Dari sisi PDB, Sumatra Utara merupakan kontributor PDB Indonesia di peringkat 5 dengan kontribusi PDB sebesar 5,12% pada tahun 2023. Data tersebut menunjukkan bahwa Sumatra Utara memiliki peran yang signifikan dalam perekonomian nasional, baik dari sisi ekspor maupun kontribusi terhadap PDB.
Melihat pentingnya peran Sumatra Utara dalam perekonomian nasional tersebut, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) terus mendukung dan meningkatkan potensi ekspor provinsi Sumatra Utara dengan kembali menyelenggarakan forum pertemuan bersama para eksportir unggulan Sumatra Utara dalam acara "LPEI Export Forum dan Sosialisasi Program Penugasan Khusus Ekspor 2024" pada Kamis (25/7/2024). Acara ini bertujuan untuk mendorong ekspor Sumatra Utara dengan memberikan export outlook di Sumatra Utara sehingga pelaku ekspor dapat melihat prospek ekspor yang akan datang. Acara ini terselenggara dengan baik melalui kolaborasi antara LPEI dengan DJPPR Kementerian Keuangan, Bea Cukai Sumatra Utara, dan Dinas Perindustrian Perdagangan Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatra Utara.
Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Kementerian Keuangan, Heri Setiawan mengatakan untuk mendorong ekspor Sumatra Utara, pemerintah memberikan Penugasan Khusus Ekspor (PKE) kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk menyediakan pembiayaan, penjaminan dan/atau asuransi kepada kegiatan ekspor yang secara komersial sulit untuk dilaksanakan, tetapi dianggap perlu untuk menunjang kebijakan ekspor nasional.
“Melalui PKE, LPEI sebagai perpanjangan tangan Kementerian Keuangan membantu pelaku usaha mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi, khususnya eksportir Sumatra Utara. Para eksportir dapat memanfaatkan berbagai Program Penugasan Khusus Ekspor sesuai dengan profil/karakteristik ekspor yang ada, antara lain PKE UKM yang dirancang untuk UKM berorientasi ekspor, PKE Kawasan untuk eksportir yang ingin menembus pasar ekspor ke tujuan negara non tradisional, PKE Trade Finance dengan skema transaksi trade, serta PKE Farmasi dan alat kesehatan bagi eksportir yang bergerak di industri kesehatan,” kata Heri Setiawan.
Chief of Region LPEI, Anton Herdiyanto menjelaskan LPEI proaktif untuk memberikan solusi dan dukungan penuh kepada eksportir Sumatra Utara sehingga mampu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas para pelaku usaha ekspor serta menciptakan kepercayaan dari negara lain. Saat ini Sumatra Utara memiliki 737 eksportir yang terdiri dari 555 eksportir dengan nilai ekspor di bawah Rp 50 miliar, 137 eksportir dengan nilai ekspor Rp 50-500 miliar, dan 45 eksportir dengan nilai ekspor di atas Rp 500 miliar.
“Pada level nasional, nilai ekspor Sumatra Utara masuk ke dalam 10 provinsi terbesar dengan jumlah eksportir terbesar ke-7 di Indonesia. Angka kontribusi yang signifikan ini tentulah hasil kolaborasi yang solid antara Kementerian, Lembaga, pelaku usaha serta seluruh elemen ekosistem ekspor Sumatra Utara,” kata Anton.
Market Intelligence & Leads Management Chief Specialist LPEI, Rini Satriani, menjelaskan bahwa sekitar 80% ekspor Sumatra Utara tersebar oleh produk lemak & minyak hewani/nabati, produk kimia, ampas & sisa industri makanan, karet & barang dari karet, dan sabun & bahan pembersih. Produk-produk Sumatra Utara telah menjangkau hingga 182 negara, dengan lima negara tujuan utama yaitu China, Singapura, Amerika Serikat, Malaysia, dan India.
Hal ini didorong oleh peningkatan jumlah buyer produk ekspor Sumatra Utara sejak 2022, dengan 32,29% di antaranya merupakan buyer loyal. Rini menganalisis bahwa pertumbuhan ekspor Sumatra Utara akan tetap stabil hingga tahun 2025. Sejumlah produk unggulan asal Sumatra Utara memiliki peluang nilai ekspor di dunia yang tinggi, seperti kopi, teh, dan rempah dengan nilai mencapai Rp 14,09 triliun, buah-buahan mencapai Rp 8,9 triliun, produk plastik dan barang dari plastik senilai Rp58,46 triliun, minyak atsiri, wewangian dan kosmetik sebesar Rp22,12 triliun, produk olahan dari daging, ikan, krustasea dan moluska sebesar Rp 15,69 triliun serta produk kayu sebesar Rp 39,5 triliun.
Di sesi terpisah, LPEI juga memperkenalkan marketplace bernama Komodoin kepada para pelaku usaha berorientasi ekspor Sumatra Utara. Komodoin yang akan meluncur dalam beberapa waktu mendatang akan membantu dan memudahkan pelaku usaha berorientasi ekspor dengan menyediakan informasi berbasis riset data dan membantu eksportir dalam menjangkau buyer baru di pasar dunia agar produk Indonesia berani mendunia.
Kepala Divisi SME’s Advisory Services LPEI, Lutpi Ginanjar yang menjelaskan marketplace Komodoin di hadapan para pelaku UKM berorientasi ekspor juga menggali masukan dari UKM yang sudah ekspor untuk mengoptimalkan dukungan LPEI dalam meningkatkan peran UKM Sumatra Utara menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Editor: Yurike Metriani (yurikemetriani@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
LPEI Rombak Jajaran Direksi, Berikut Daftarnya
Perubahan susunan direksi LPEI ini seiring dengan penugasan baru Dikdik Yustandi sebagai Komisaris Independen PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). [233] url asal
#lpei #indonesia-eximbank #update-me #direksi
(Katadata - FINANSIAL) 22/07/24 17:41
v/11687411/
Dewan Direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mengubah susunan direksi seiring dengan penugasan baru Dikdik Yustandi sebagai Komisaris Independen PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), special mission vehicle (SMV) Kementerian Keuangan.
Kepala Divisi Sekretariat Lembaga LPEI Dyza Rochadi menjelaskan perubahan susunan direksi tersebut tertuang dalam Keputusan Dewan Direktur melalui Surat Nomor 0005/KDD/07/2024 dan KDD No. 0006/KDD/07/2024 tertanggal 19 Juli 2024.
"Dewan direktur, manajemen dan segenap jajaran LPEI mengucapkan selamat bertugas dan sukses kepada Bapak Dikdik Yustandi yang mengemban amanah baru sebagai Komisaris Sarana Multi Infrastruktur," kata Dyza di Jakarta, Senin (22/7).
Pihaknya berharap, semoga Dikdik dapat menjalankan amanah sebagai Komisaris Sarana Multi Infrastruktur. Dengan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa.
Jajaran dewan direktur dan manajemen menyampaikan penghargaan kepada Dikdik atas dedikasi dan sumbangsih yang diberikan selama bertugas sebagai Direktur Pelaksana Bisnis LPEI dalam memajukan ekspor Indonesia.
Posisi Direktur Pelaksana Bisnis LPEI saat ini dirangkap oleh Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis Maqin U Norhadi sampai dengan terpilihnya Direktur Pelaksana Bisnis definitif yang baru.
Berikut Susunan Pengurus LPEI Terbaru:
- Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif Rijani Tirtoso
- Anggota Dewan Direktur: Suminto
- Anggota Dewan Direktur: Yon Arsal
- Anggota Dewan Direktur: Kasan
- Anggota Dewan Direktur: Arus Gunawan
- Anggota Dewan Direktur: D James Rompas
- Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis merangkap Plt Direktur Pelaksana Bisnis: Maqin U Norhadi
- Direktur Pelaksana Keuangan, Operasional & Teknologi Informasi: Agus Windiarto
- Direktur Pelaksana Sekretariat Lembaga, Kepatuhan & Sumber Daya Manusia: Chesna F. Anwar
- Direktur Pelaksana Manajemen Risiko & Kredit: Sam Malee
Dikdik Yustandi ke PT SMI, LPEI Ubah Susunan Pengurus
Sementara itu, posisi Direktur Bisnis LPEI dirangkap oleh Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis, Maqin U. Norhadi. - Halaman all [262] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #pengurus-lpei #manajemen-lpei #direksi-lpei #perubahan-pengurus-lpei #lembaga-pembiayaan-ekspor-indonesia #indonesia-eximbank #pt-sarana-multi-infrastruktur-smi #ber
(InvestorID) 22/07/24 16:00
v/11679329/
JAKARTA, investor.id – Direktur Pelaksana Bisnis Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Dikdik Yustandi mendapat penugasan baru sebagai Komisaris Independen PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI, special mission vehicle (SMV) Kementerian Keuangan. Menyikapi hal itu, LPEI mengumumkan perubahan susunan pengurus yang baru.
Kepala Divisi Sekretariat Lembaga LPEI, Dyza Rochadi menjelaskan, perubahan susunan jajaran pengurus LPEI tertuang pada Keputusan Dewan Direktur melalui surat Nomor 0005/KDD/07/2024 dan KDD No. 0006/KDD/07/2024 tanggal 19 Juli 2024.
Dia mengungkapkan bahwa jajaran Dewan Direktur dan Manajemen LPEI menyampaikan penghargaan sebesar-besarnya kepada Dikdik Yustandi atas dedikasi dan sumbangsih yang diberikan selama bertugas sebagai Direktur Pelaksana Bisnis LPEI dalam memajukan ekspor Indonesia.
“Dewan Direktur, Manajemen dan segenap jajaran LPEI mengucapkan selamat bertugas dan sukses kepada Bapak Dikdik Yustandi yang mengemban amanah baru sebagai Komisaris PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Semoga beliau dapat menjalankan amanah tersebut dengan memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsa,” kata Dyza dalam keterangannya, Senin (22/7/2024).
Adapun posisi Direktur Bisnis LPEI saat ini dirangkap oleh Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis, Maqin U. Norhadi sampai dengan terpilihnya Direktur Pelaksana Bisnis definitif yang baru.
Dengan demikian, berikut susunan pengurus LPEI terbaru:
Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif: Rijani Tirtoso
Anggota Dewan Direktur:
Suminto
Yon Arsal
Kasan
Arus Gunawan
D. James Rompas
Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis merangkap Plt Direktur Pelaksana Bisnis: Maqin U Norhadi
Direktur Pelaksana Keuangan, Operasional & Teknologi Informasi: Agus Windiarto
Direktur Pelaksana Sekretariat Lembaga, Kepatuhan & Sumber Daya Manusia: Chesna F. Anwar
Direktur Pelaksana Manajemen Risiko & Kredit: Sam Malee
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
LPEI (Eximbank) Catatkan Laba Senilai Rp 89,3 Miliar Hingga Juni 2024
LPEI atau yang dikenal dengan Eximbank telah membukukan laba periode berjalan senilai Rp 89,3 miliar per Juni 2024. [398] url asal
#eximbank #indonesia-eximbank #lembaga-pembiayaan-ekspor-indonesia-lpei #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Uang) 22/07/24 11:19
v/11654171/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Lembaga Pembiayaan Eskpor Indonesia (LPEI) atau yang dikenal dengan Eximbank telah membukukan laba periode berjalan senilai Rp 89,3 miliar per Juni 2024. Angka tersebut tumbuh sekitar 57,92% secara tahunan (YoY).
Mengutip laporan keuangannya per 30 Juni 2024, raihan laba tersebut didukung oleh pendapatan bunga bersih yang tercatat masih tumbuh. Di mana, pada periode tersebut, pendapatan bunga dan usaha syariah LPEI tercatat senilai Rp 391,92 miliar atau naik 0,44% YoY.
Di sisi lain, pendapatan non bunga dari LPEI justru mengalami koreksi menjadi Rp 85,29 miliar. Pada periode sama tahun lalu, pendapatan non bunga yang dicatat oleh LPEI mampu mencapai sebesar Rp 134,3 miliar.
Untungnya, LPEI mampu melakukan efisiensi terhadap beban operasional sehingga tercatat ada penurunan. Beban operasional LPEI di periode Juni 2024 tercatat senilai Rp 374,04 miliar dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 393,9 miliar.
Adapun, salah satu hal yang menyebabkan beban operasional mengalami penurunan adalah pos pembentukan CKPN. Sebab, CKPN yang dibentuk LPEI pada periode ini turun 75,35% YoY menjadi hanya sekitar Rp 19,72 miliar.
Tak hanya itu, beban gaji dan tunjangan dari LPEI juga tercatat mengalami penurunan di periode ini. Di mana, beban gaji dan tunjangan LPEI senilai Rp 240,18 miliar dari tahun sebelumnya senilai Rp 246,46 miliar.
Sementara itu, total pembiayaan dan piutang yang dimiliki LPEI per 30 Juni 2024 tercatat senilai Rp 41 triliun. Sebagai perbandingan, total pembiayaan dan piutang LPEI per 31 Desember 2023 senilai Rp 41,18 triliun.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Eximbank Riyani Tirtoso memproyeksikan laba Eximbank pada tahun ini bisa positif. Di mana, pada 2023 sebelumnya LPEI masih mencatatkan rugi 18,1 triliun.
Bukan tanpa alasan, Riyani bilang Penyebab terbesar dari kerugian tersebut berasal dari pos pencadangan yang naik hingga 703,6% YoY. Di mana, Eximbank melakukan pencadangan hingga Rp 16,9 triliun.
"Sebenarnya kinerja kita di sepanjang 2023 itu meningkat. Laba kita sebelum pembentukan CKPN saja mencapai Rp 402 miliar atau naik 87%" ujar Direktur Eksekutif Eximbank Riyani Tirtoso kepada Kontan, Senin (1/4).
Riyani bilang pencadangan memang perlu dilakukan untuk memperkuat lembaga agar menjadi lebih baik. Ini pun tercermin dari NPL nett Eximbank yang sudah mulai susut dari 10,4% menjadi 4,5%.
Ia memastikan bahwa penempatan pencadangan yang besar ini tak akan kembali dilakukan pada 2024 ini
Ekspor Handicraft & Home Decor Indonesia Tumbuh Di Tengah Tantangan Ekonomi Global
Sejalan dengan peningkatan nilai ekspor tersebut, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank [784] url asal
#ekspor #eximbank #indonesia-eximbank #ekspor #kilas #tantangan-ekonomi-global #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-industri
(Kontan-Industri) 16/07/24 19:46
v/10985524/
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Jakarta, 16 Juli 2024 Industri handicraft dan home décor dari kayu dan batu alam Indonesia terus menunjukkan potensi yang cemerlang di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik global. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekspor yang mengesankan pada kuartal-I 2024.
Data Biro Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh tim Economist Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menunjukkan kenaikan nilai ekspor mencapai USD 35,76 juta (naik 8,15% yoy) sepanjang Januari-Maret 2024.
Dari tren tersebut, terlihat adanya peningkatan ekspor didorong oleh faktor kenaikan harga. Peningkatan kumulatif nilai ekspor ini didorong oleh meningkatnya ekspor ke beberapa pasar utama, termasuk Jepang (naik USD6,55 juta), Korea Selatan (naik USD1,62 juta yoy), Jerman (naik USD1,15 juta yoy), Belanda (naik USD 670,32 ribu yoy), dan Papua Nugini (naik USD 522,09 ribu yoy).
Sejalan dengan peningkatan nilai ekspor tersebut, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank terus berusaha meningkatkan kapasitas UKM Indonesia untuk dapat bersaing di pasar global salah satunya melalui program pelatihan ekspor yaitu Coaching Program for New Exporter (CPNE).

Salah satunya adalah CV Maharani yang menekuni kerajinan handicraft dan home decor dari kayu dan batu alam dari Pulau Bali. CV Maharani telah menjadi salah satu mitra binaan LPEI sejak tahun 2021 dan telah berhasil ekspor ke mancanegara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Belanda, Jerman, dan Rusia. LPEI melakukan pendampingan dengan tujuan utama untuk meningkatkan nilai dan kualitas produk ekspor serta menjadi bagian ekosistem pelaku usaha untuk Berani Mendunia.
Selain itu, Business Matching yang dilaksanakan oleh LPEI berkolaborasi dengan Atase Perdagangan (Atdag) Ottawa, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Vancouver dan Diaspora Indonesia berhasil mengantarkan Maharani Craft menembus pasar ekspor Kanada untuk pertama kalinya pada April 2024.
Pemilik CV Maharani, Irene Setiawati mengatakan bahwa pendampingan yang diberikan oleh LPEI sangat membantu usahanya untuk dapat membuka pasar ekspor lebih luas. “Berbagai layanan dan fasilitas dari LPEI diberikan kepada pelaku UKM berorientasi ekspor seperti kami sehingga mampu melakukan ekspor,” kata Irene.

CV. Maharani telah menjadi perusahaan produsen dan eksportir aksesoris, perhiasan perak dengan desain etnik dan kontemporer, kemudian merambah ke handicraft dan home décor dengan membawa kreativitas dan teknik yang khas dari Bali. Maharani bekerja sama dengan kurang lebih 53 pengrajin dari daerah Gianyar Bali. Maharani Craft turut hadir dalam pameran Road to G20 di Bali pada tahun 2022 dengan menawarkan keunikan yang premium untuk kerajinan yang berfungsi sebagai hiasan untuk rumah (home decor).
Pada tahun 2023, Indonesia paling banyak mengekspor jenis handicraft/home décor berupa Tatakan & Peralatan Makan dari Kayu (49,30%); diikuti Perangkat Makan & Dapur dari Kayu (21,58%); dan Perangkat Dapur/Meja dari Logam Dasar (16,63%). Hal ini menunjukkan keahlian dan kapabilitas Indonesia dalam pengolahan kayu serta keragaman produk utama dalam ekspor, mulai dari barang-barang kecil seperti tatakan makan hingga perangkat yang lebih besar dan kompleks.
Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis LPEI, Maqin U. Norhadi, mengatakan "Selain dari sisi pembiayaan, penjaminan, dan asuransi, LPEI mendukung UKM berorientasi ekspor untuk mengembangkan usahanya melalui program jasa konsultasi. Program jasa konsultasi ini menyediakan pelatihan, pendampingan, dan business matching untuk mendukung pelaku usaha berorientasi ekspor sehingga mampu meningkatkan kualitas produknya dan dapat bersaing di pasar global."
LPEI memiliki komitmen kuat untuk membantu produk lokal Indonesia menembus pasar internasional. LPEI terus berupaya untuk menyediakan serangkaian pendampingan dan pelatihan yang dirancang khusus untuk mendukung para pelaku usaha di Indonesia. Melalui berbagai program seperti Coaching Program for New Exporter (CPNE), Desa Devisa, dan Business Matching LPEI tidak hanya memberikan bantuan finansial tetapi juga membekali para pelaku usaha dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk bersaing di pasar global.
Saat ini, LPEI tengah menyiapkan sebuah marketplace yang dirancang khusus sebagai sarana edukasi ekspor, layanan informasi, inkubasi, peningkatan kapasitas, dan tempat bertemunya seller dan buyer (business matching). Marketplace ini dirancang untuk menjadi ekosistem terpadu yang memfasilitasi berbagai aspek ekspor, dari pengembangan produk hingga pemasaran dan sertifikasi.
Marketplace dari LPEI ini akan membantu UKM meningkatkan kinerja ekspor mereka dengan memanfaatkan informasi berbasis riset data dan teknologi digital dalam pengambilan keputusan mereka di bidang ekspor. Dengan adanya akses ke data yang akurat dan analisis pasar yang mendalam, UKM dapat merumuskan strategi ekspor yang lebih efektif dan efisien. Kemudahan dan ketersediaan pelayanan yang lengkap pada marketplace ini diharapkan dapat mendorong pelaku usaha berorientasi ekspor untuk berani mendunia.
Ia menambahkan inisiatif ini untuk memperkuat daya saing produk-produk Indonesia di kancah internasional, sehingga mampu berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional. LPEI berkomitmen untuk terus mendukung inovasi dan pengembangan kapasitas para pelaku usaha Indonesia agar mampu beradaptasi dan berkembang di pasar global yang semakin kompetitif.
"Dengan dukungan ini, LPEI berharap dapat mendorong lebih banyak pelaku usaha berorientasi ekspor untuk mengambil langkah berani mendunia," kata Maqin.
LPEI Dorong UKM Jawa Tengah Tingkatkan Daya Saing Produk Unggulan di Pasar Global
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) kembali menyelenggarakan pertemuan dengan eksportir unggulan Jawa Tengah. - Halaman all [889] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #lpei #pembiayaan #ekspor #semarang #indonesia-eximbank #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 10/07/24 22:33
v/10353348/
SEMARANG, investor.id - Menempati posisi kelima terbesar di Indonesia dalam jumlah eksportir, Jawa Tengah tidak hanya menjadi pusat produksi tetapi juga motor penggerak ekonomi yang signifikan melalui sektor ekspor. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran penting para eksportir, khususnya eksportir dari kalangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Jawa Tengah saat ini memiliki 2.261 eksportir dengan rincian 1.897 eksportir dengan nilai ekspor di bawah Rp 50 miliar, 296 eksportir dengan nilai ekspor Rp 50-500 miliar, dan 68 eksportir dengan nilai ekspor di atas Rp 500 miliar. Untuk lebih memperkuat kontribusi tersebut dan mendukung pertumbuhan eksportir di Jawa Tengah, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) kembali menyelenggarakan pertemuan dengan eksportir unggulan Jawa Tengah dalam acara LPEI Export Forum 2024 di Semarang, Jawa Tengah pada Rabu (3/7). Forum dengan tema “Bedah Pasar Ekspor Produk Unggulan Jawa Tengah” diselenggarakan LPEI bekerja sama dengan DJPPR Kementerian Keuangan, Bea Cukai Jawa Tengah, dan Disperindag Provinsi Jawa Tengah.
Distribusi ekspor Jawa Tengah didominasi oleh beberapa komoditas utama, seperti pakaian dan aksesoris bukan rajutan (20,18%), pakaian dan aksesoris rajutan (12,24%), alas kaki (11,01%), kayu dan barang dari kayu (9,98%), serta perabotan, lampu, dan alat penerangan (7,20%). Diversifikasi ini memperlihatkan kemampuan Jawa Tengah dalam memproduksi berbagai jenis produk yang diminati di pasar internasional. Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi Jawa Tengah dengan kontribusi sebesar 30,43%, disusul oleh Tiongkok (7,66%), Jepang (6,51%), Singapura (6,49%), dan Belanda (5,6%). Selain itu, jumlah buyer yang bekerja sama dengan eksportir Jawa Tengah terus meningkat, dengan 22,25% di antaranya merupakan buyer yang loyal. Hal ini menunjukkan hubungan perdagangan yang kuat antara Jawa Tengah dengan beberapa negara ekonomi terbesar di dunia dan kepercayaan dan buyer internasional terhadap produk Jawa Tengah.
“LPEI mendukung peningkatan ekspor pelaku usaha dengan memberikan fasilitas seperti business matching untuk memperluas akses ke buyer internasional, baik secara konvensional maupun digital,” kata Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis Maqin U. Norhadi. Market Intelligence & Leads Management Chief Specialist LPEI Rini Satriani menganalisis pertumbuhan ekspor Jawa Tengah akan tetap stabil hingga tahun 2025, didukung oleh sejumlah produk unggulan.
“Beberapa produk memiliki nilai peluang ekspor signifikan di 2024 ini antara lain produk kayu diperkirakan mencapai nilai US$ 2,20 miliar, produk furniture senilai US$ 2,30 miliar dan minyak Atsiri untuk beauty products yang diperkirakan mencapai nilai US$ 1,40 miliar,” kata Rini.
Pada kesempatan yang sama, LPEI menjelaskan fasilitas dan dukungan LPEI kepada pelaku UKM ekspor. Para UKM Ekspor dapat memanfaatkan berbagai Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) sesuai dengan profil/karakteristik ekspor yang ada, antara lain PKE UKM (dirancang untuk UKM berorientasi ekspor), PKE Kawasan (untuk pasar tujuan negara non-tradisional) dan PKE Trade Finance (dengan skema transaksi trade). Hingga Juni 2024 tercatat LPEI telah melakukan disbursement fasilitas PKE Kawasan sebesar Rp 4.247 miliar dengan ekspor lebih dari 40 negara, PKE Trade Finance sebesar Rp8.187 miliar dengan ekspor lebih dari 55 negara, dan PKE UKM hingga Rp 1.058 miliar untuk pangsa ekspor ke lebih dari 65 negara.
Salah satu pelaku usaha yang telah m memanfaatkan pembiayaan PKE LPEI adalah Margono Paper, produsen fancy paper (kertas motif berwarna) dengan 90% produknya diekspor ke 50 negara di 5 benua. Pembiayaan PKE Kawasan dari LPEI membantu usaha Margono Paper dalam mengembangkan bisnis dengan menambah negara tujuan ekspor ke negara-negara non tradisional.
Direktur Ekspor PT Margono Paper Ferianti Chandranta mengatakan, Margono Paper membutuhkan tambahan modal kerja di tengah tingginya permintaan fancy paper di seluruh dunia. Pandemi Covid-19 membuat pabrik fancy paper di Eropa dan China tutup. Hal ini membuka peluang bagi Margono Paper untuk ekspansi ekspor ke negara baru dan ekspor berkelanjutan.
“LPEI hadir dengan berbagai produk yang dapat membantu pelaku usaha berorientasi ekspor. Dukungan pembiayaan LPEI mampu meningkatkan daya saing perusahaan untuk menembus pasar global, termasuk ekspor ke negara-negara non tradisional. Dengan bunga yang sangat kompetitif kami bisa memperlancar cashflow dan menambah modal untuk membeli bahan baku, yang pada akhirnya mendorong inovasi perusahaan dengan menambah variasi produk lain,” kata Ferianti.
Secara terpisah, LPEI juga menggelar pertemuan dengan pelaku UKM di Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 2024. Pertemuan yang juga dihadiri pengurus KADIN Provinsi Jawa Tengah ini bertujuan mempersiapkan para pelaku UKM dan para eksportir untuk masuk ke dalam platform digital yang sedang disiapkan LPEI.
“LPEI memiliki komitmen kuat untuk membantu produk lokal Indonesia menembus pasar internasional dan mendorong berbagai komoditas Indonesia dapat berani mendunia. Melalui Coaching Program for New Exporter (CPNE) dan Desa Devisa, LPEI terus melakukan pendampingan dan mencetak eksportir baru dan memperkuat ekosistem ekspor. LPEI tengah menyiapkan marketplace yang dirancang khusus untuk kemudahan dan ketersediaan pelayanan di dalam ekosistem ekspor yang diharapkan dapat mendorong pelaku usaha berorientasi ekspor untuk berani mendunia,” kata Maqin.
Lebih lanjut Maqin menguraikan bahwa marketplace ini membantu UKM untuk meningkatkan kinerja ekspor mereka dengan memanfaatkan informasi berbasis riset data dan teknologi digital dalam pengambilan keputusan mereka di bidang ekspor. Melalui terobosan digital ini, LPEI juga mendorong pelaku ekspor unggulan Jawa Tengah untuk mengembangkan program pelatihan yang diperlukan oleh mereka dan tim. Hasil penelitian ini juga membantu para pembuat kebijakan dan regulator untuk menyempurnakan ekosistem ekspor UKM, dll. Hasil studi ini dapat diperluas ke negara-negara berkembang lainnya dengan struktur ekonomi dan sistem hukum yang serupa.
Editor: Yurike Metriani (yurikemetriani@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
OJK Ungkap Biang Kerok Permasalahan di LPEI
Menurut OJK, LPEI melakukan ekspansi pembiayaan yang tidak didukung dengan prinsip kehati-hatian, sehingga timbul NPL jangka panjang. - Halaman all [351] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #lpei #kredit-macet-lpei #ojk #lpei-rugi #indonesia-eximbank #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 09/07/24 18:27
v/10215681/
JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap akar permasalahan di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank. Adapun permasalahan yang dimaksud yakni terjadi kredit macet dalam jangka panjang.
“Permasalahan yang terjadi di LPEI disebabkan antara lain karena ekspansi pembiayaan yang tidak didukung dengan prinsip kehati-hatian sehingga berdampak pada peningkatan NPF dalam jangka panjang,” ungkap Agusman selaku Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, dikutip Selasa (9/7/2024).
Dia menambahkan, OJK telah melakukan supervisory action terhadap LPEI antara lain dengan melakukan pengawasan secara onsite dan offsite serta mendalami dan menindaklanjuti dugaan fraud sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Aparat Penegak Hukum.
Diberitakan sebelumnya, LPEI melaporkan saat ini telah berhasil menekan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dibawah level 5%. Namun, langkah yang diambil cukup signifikan yaitu dengan melakukan pencadangan sampai Rp 17 triliun. Karena itu pula, LPEI menelan kerugian sampai dengan Rp 16 triliun pada tahun 2023 lalu.
Direktur Eksekutif LPEI Riyani Tirtoso menerangkan, permasalahan kualitas pembiayaan LPEI telah terjadi sebelum tahun 2018. Pada puncaknya, kredit/pembiayaan LPEI mencapai Rp 108,9 triliun dengan NPL sebesar 19%.
“Dimana penyebabnya adalah pemberian kredit, mostly terjadi over-financing. Infrastruktur dan mekanisme peringatan dini atau early warning detection belum tersedia. Kemudian komite pembiayaan tidak ada. Pengambilan keputusan dilakukan secara sirkuler dan MIS tidak tersedia secara detail. Serta tidak ada unit khusus untuk special asset management,” urai Riyani dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR, baru-baru ini.
Tidak itu saja, permasalahan yang terdeteksi mengungkap pada saat itu LPEI juga tidak bisa melakukan hapus buku, sebagaimana yang dapat dilakukan bank komersial. Dalam menetapkan kolektibilitas, LPEI hanya memberlakukan prinsip satu pilar.
“Dengan adanya manajemen yang baru, sejak tahun 2020-2022, kita perbaiki semua itu. Ditutup pada tahun 2023, kita bukukan CKPN yang cukup signifikan, sehingga kondisi NPL net sudah dibawah 5% yaitu sekitar 4%,” beber Riyani.
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News