#30 tag 24jam
Barito Renewables (BREN) Jawab soal Free Float dan Hormati Upaya OJK
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membantah tudingan penghapusannya dari daftar konstituen indeks FTSE Russell akibat free float. - Halaman all [515] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #barito-renewables-energy #bren-saham #prajogo-pangestu #barito-group #free-float #ftse-russell #ojk #bei #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 24/10/24 14:33
v/16935999/
JAKARTA, investor.id – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjawab tudingan soal penghapusan saham perseroan dari daftar konstituen indeks pasar saham global, FTSE Russell, akibat tidak terpenuhinya ketentuan free float.
Direktur BREN, Merly, menjelaskan penghapusan tersebut lebih disebabkan adanya konsentrasi kepemilikan saham BREN oleh empat pemegang saham sebagaimana yang dipublikasikan dalam pengumuman resmi FTSE Russell.
Empat pemegang saham BREN yang dinilai sebagai pihak “high shareholder concentration” adalah PT Barito Pacific Tbk (64,666%), Green Era Energy Pte. Ltd. (23,603%), Jupiter Tiger Holdings (4,365%), dan Prime Hill Funds (4,365%).
FTSE Russell dalam pernyataan resminya (19/9/2024) mengumumkan, keempat pemegang saham tersebut mengendalikan 97% dari total saham BREN. Atas dasar itu, FTSE pun menghapus BREN secara efektif dari konstituennya pada 25 September 2024.
“Jadi, bukan karena tidak terpenuhinya ketentuan mengenai free float. Mungkin, itu yang ingin kami garis bawahi terlebih dahulu,” ucap Merly dalam paparan publik, Kamis (24/10/2024).
Merly menuturkan, FTSE Russell sempat memasukkan BREN sebagai konstituen sebanyak dua kali. Pertama, pada 24 Mei 2024 yang kemudian dibatalkan pada 4 Juni 2024. Kedua, pada 23 Agustus 2024 yang lalu dibatalkan pada 19 September 2024.
“Kami sampaikan, sesuai dengan laporan bulanan sesuai apa yang sudah datanya kami miliki saat ini, tidak terjadi perubahan material terhadap empat pemegang saham BREN,” beber dia.
Ihwal saham free float, Merly yang sekaligus merangkap sebagai sekretaris perusahaan BREN menyebut, pada saat menggelar IPO, jumlah saham free float BREN sebanyak 15.694.413.334 saham atau setara 11,73%.
“Hal ini sudah kami sampaikan pada saat proses IPO kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga kami bisa mendapatkan pernyataan efektif dari OJK untuk BREN dapat menerbitkan saham perdana di Oktober 2023,” paparnya.
Dengan status BREN yang kini menjadi perusahaan publik, Merly menegaskan, perseroan senantiasa menerapkan good corporate governance (GCG) dan akan memenuhi ketentuan ataupun kewajiban terhadap saham free float dan pelaporan pemegang saham yang sudah dilakukan berkala di setiap laporan bulanan.
Termasuk, lanjut Merly, pelaporan bulanan mengenai pembelian saham oleh Prajogo Pangestu selaku beneficial owner BREN. Ini sesuai dengan peraturan yang ditetapkan bursa dan OJK.
Pemeriksaan OJK
Menyangkut adanya pemeriksaan OJK ataupun BEI, Merly kembali menekankan, BREN senantiasa menerapkan GCG dan menghormati segala upaya regulator untuk memastikan transaksi di pasar modal dapat berjalan optimal.
“Sebagai perusahaan publik, kami juga akan mengikuti regulasi di pasar modal untuk mendukung terciptanya pasar modal yang selalu bertumbuh dan maju,” tutup Merly.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi,tengah memeriksa secara mendalam transaksi perdagangan saham BREN. Pemeriksaan itu menyusul adanya potensi manipulasi pasar.
Bilamana manipulasi itu benar terjadi, kata dia, maka OJK akan menindak secara hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. “OJK juga melakukan analisis atas pergerakan harga saham sesuai prosedur untuk mendeteksi adanya ketidakwajaran dalam perdagangan saham,” jelas Inarno.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Korea Selatan Masuk Indeks Obligasi Global, Arus Modal Mengalir dari Berbagai Negara
Korea Selatan masuk dalam indeks obligasi global. Langkah ini diharapkan dapat menarik arus dana segar dari berbagai negara. [429] url asal
#korea-selatan #ftse-russell #imbal-hasil-obligasi #obligasi-negara-korea-selatan #indeks-obligasi-pemerintah-dunia #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #peristiwa
(Kontan) 17/10/24 08:48
v/16591456/
Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -SEOUL. Korea Selatan masuk dalam indeks obligasi global. Langkah ini diharapkan dapat menarik arus dana segar dari berbagai negara, termasuk Jepang, dan membantu menjaga imbal hasil obligasi Korea tetap stabil di tengah meningkatnya pasokan utang.
Mengutip Reuters, Kamis (17/10), FTSE Russell pada tanggal 8 Oktober mengatakan akan menambahkan obligasi pemerintah Korea Selatan ke Indeks Obligasi Pemerintah Dunia yang diperkirakan bernilai US$ 30 triliun tahun depan.
Keputusan tersebut akan memberi jalur baru bagi investor untuk menaruh uang mereka ke obligasi Korea Selatan karena fund manager sering melacak indeks utang global saat mengalokasikan uang.
Bagi Korea Selatan, hal ini menandai peluang untuk memanfaatkan kumpulan likuiditas yang lebih besar pada saat pemerintah berencana untuk meminjam sejumlah dana dari pasar untuk menjembatani kesenjangan fiskal, dan karena dana global kembali menumpuk ke negara-negara berkembang karena imbal hasil yang turun di AS dan Eropa.
"Dana-dana Jepang mewakili sekitar 10% dari indeks (WGBI) yang sebagian besar merupakan dana pasif, jadi kami berharap sebagian besarnya akan masuk ke sini," kata Wakil Menteri Keuangan dan Ekonomi Korea Selatan Kim Yoon-sang, dalam sebuah wawancara di Seoul.
Tonton:Ini Ancaman Terbaru Kim Jong Un Terhadap Korea Selatan
Menurut Kementerian Keuangan dan Ekonomi, pencantuman WGBI juga terlihat menarik arus masuk dari dana pensiun dari Australia, Kanada, dan Timur Tengah, yang semuanya saat ini memiliki jumlah eksposur investasi yang dapat diabaikan dalam obligasi pemerintah Korea.
Itu adalah uang yang dibutuhkan Korea karena "arus masuk tersebut mewakili permintaan yang meningkat untuk utang kami yang membantu menyerap penerbitan yang direncanakan," kata Kim kepada Reuters, ketika ditanya apakah pasar lokal siap untuk menangani rekor pinjaman sebesar 201,3 triliun won ($147,9 miliar) yang direncanakan untuk tahun 2025.
Imbal hasil obligasi 10 tahun Korea Selatan berada di sekitar 3,0%, setelah menurun selama beberapa bulan terakhir di tengah meningkatnya ekspektasi untuk pemotongan suku bunga.
Pejabat Kementerian Keuangan telah bekerja sama dengan Layanan Pajak Nasional, Depositori Efek Korea, bank sentral, dan regulator untuk meningkatkan pasar modal negara tersebut dalam dua tahun terakhir, memperpanjang jam perdagangan untuk dolar-won, dan mempermudah investor asing untuk menyelesaikan perdagangan mereka melalui platform kliring internasional seperti Euroclear.
Dalam jangka panjang, Korea Selatan mungkin akan mengalami penurunan suku bunga secara struktural. Menurut Kim, fenomena ini dapat memberikan sedikit kelegaan terhadap volatilitas pasar.
"Kami memiliki perangkat yang siap untuk menstabilkan pasar jika diperlukan sehingga tidak akan ada masalah jika volatilitas meningkat, tetapi mengingat arus masuk akan menjadi investasi jangka menengah hingga panjang, perangkat tersebut sebenarnya akan berfungsi untuk mengurangi volatilitas apa pun."
Intervensi Prajogo Belum Mampu Memantik Kinerja Saham BREN
Manuver Prajogo Pangestu mengakumulasi saham Barito Renewables Energy belum mampu memulihkan kinerja saham BREN yang tertekan usai terdepak dari Indeks FTSE. [697] url asal
#barito-renewables-energy #bren #prajogo-pangestu #buyback-saham #beli-saham #investor-asing #net-sell #indeks-ftse #ftse-russell #indeks-global #indeks-acuan #saham-bren #saham-bren-anjlok #big-caps
(Bisnis.Com - Market) 08/10/24 06:00
v/16136669/
Bisnis.com, JAKARTA — Manuver Prajogo Pangestu mengakumulasi saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) belum mampu memulihkan kinerja saham BREN yang tertekan usai terdepak dari Indeks FTSE Russel pada 19 September 2024 lalu.
Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (7/10/2024). Saham BREN ditutup turun 2,88% ke level Rp6.750 per lembar. Mahar tersebut juga mencerminkan pelemahan 36,34% dalam sebulan terakhir. Adapun, sepanjang tahun berjalan 2024, saham BREN telah terkoreksi 9,70%.
Sepanjang perdagangan dua pekan terakhir, BREN juga dihadapkan pada tekanan jual investor asing. Pada periode 23 hingga 27 September 2024, BREN mencatatkan net foreign sell sebesar Rp1,1 triliun, berada di posisi kedua emiten yang dilego asing terbesar setelah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang mencatatkan net foreign sell sebesar Rp3,5 triliun.
Selanjutnya pada periode 30 September hingga 4 Oktober 2024, saham BREN tercatat dilepas invesor asing sebesar Rp90,1 miliar, atau berada di urutan ke-6 saham yang paling banyak membukukan net foreign sell.
“Sepertinya kepercayaan pasar belum sepenuhnya pulih sejak terakhir berita FTSE dan berbeda ketika Full Periodic Call Auction (FCA) ketika pak Prajogo Pangestu melakukan pembelian dan harga saham BREN langsung pulih,” kata Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT) Angga Septianus saat dihubungi, Senin (7/10/2024).
Angga menambahkan sentimen yang mendera BREN kali ini relatif lebih berdampak serius bagi emiten ketimbang polemik papan pemantauan khusus pada akhir Juni 2024 lalu.
“Jadi kali ini berbeda karena melibatkan institusi global seperti FTSE dan MSCI kedepannya mungkin,” kata dia.
Angga merekomendasikan investor untuk tetap menunggu sembari mempelajari gerak saham BREN di tengah sentimen FTSE Russel yang masih berlanjut bulan ini.
“Untuk saham-saham Prajogo karena mayoritas baru breakdown dari support lebih baik wait and see dulu tunggu pembalikan secara teknikal,” kata dia.
Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan manuver Prajogo belum kelihatan signifikan mengerek kinerja saham BREN lantaran tren outflow dana asing yang ikut dipengaruhi stimulus People's Bank of China (PBOC).
“Efek masih belum terlalu signifikan ke pergerakan harga saham emiten terkait, dikarenakan foreign outlflow masih terus terjadi di market,” kata Miftahul.
Setali tiga uang, Miftahul merekomendasikan investor untuk wait and see terhadap saham BREN. Dia beralasan pergerakan saham BREN masih rentan.
“Untuk saat ini kami masih merekomendasikan wait and see terlebih dahulu untuk saham saham grup Prajogo Pangestu,” kata dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Prajogo Pangestu belakangan intensif menambah porsi kepemilikannya di BREN sejak akhir semester I/2024.
Akumulasi terakhir tercatat pada periode 2 Oktober 2024 sampai dengan 3 Oktober 2024, saat harga saham BREN melanjutkan koreksi di tengah sentimen keluarnya emiten itu dari dari Indeks FTSE Russel pada akhir September 2024 lalu.
Saat itu, Prajogo Pangestu membeli sebanyak 26,61 juta lembar saham BREN dengan nilai transaksi ditaksir sekitar Rp181 miliar.
Secara rinci, salah satu orang terkaya di Indonesia itu membeli sebanyak 16,71 juta lembar saham BREN dengan harga rata-rata Rp6.776 per lembar pada pada 2 Oktober 2024.
Kemudian Prajogo melanjutkan pembelian saham BREN pada 3 Oktober 2024 dengan jumlah sebanyak 9,89 juta lembar di harga rata-rata Rp6.845 per lembar.
"Tujuan [transaksi] untuk investasi pribadi dengan status kepemilikan langsung," jelas Director and Corporate Secretary BREN, Merly lewat keterbukaan, Kamis (3/10/2024).
Merly mengatakan akumulasi beli Prajogo Pangestu di BREN dilatarbelakangi kepercayaan akan pertumbuhan bisnis perseroan.
“Bapak Prajogo menambah kepemilikan saham sebanyak 26.611.600 lembar yang dilakukan pada tanggal 2 dan 3 Oktober 2024,” katanya.
Lewat pembelian saham BREN itu, Prajogo kini memiliki sebanyak 119,78 juta lembar saham BREN atau setara 0,08%.
Adapun, sebelum transaksi berlangsung jumlah lembar saham BREN yang dimiliki Prajogo sebanyak 93,17 juta lembar atau setara dengan 0,06%.
Sebelumnya, Prajogo lebih dahulu membeli saham BREN sebanyak 10 juta lembar pada Rabu (12/6/2024) di tengah polemik FCA kala itu.
Adapun pada perdagangan di hari tersebut, saham BREN naik 9,9% atau tumbuh 725 poin ke level Rp8.025. Sementara itu dua hari sebelumnya Senin (10/6/2024), Prajogo telah mengakumulasi 37,84 juta saham BREN.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Banderol BREN Melorot Lagi, Ini Target Harga untuk Masuk Ke Saham Orang Terkaya RI
Analis merekomendasikan beli saham BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024 [1,179] url asal
#ftse-russell #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #indeks-ftse-russell #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 26/09/24 07:33
v/15571230/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali melemah. Untuk masuk ke saham milik orang terkaya Indonesia, investor perlu mencermati batasan harga yang disarankan para analis.
Harga saham BREN pada perdagangan Rabu 25 September 2024 ditutup di level 6.975, turun 250 poin atau 3,46% dibandingkan sehari sebelumnya. Penurunan harga saham BREN terjadi setelah saham milik orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu ini resmi keluarg dari Indeks FTSE Global Equity Indonesia kategori large cap pada Rabu 25 September 2024.
FTSE mencoret saham BREN dari konstituen indeks tersebut dengan alasan adanya konsentrasi pemegang saham yang tinggi alias high shareholder concentration atau terkait dengan jumlah saham yang beredar di pasar reguler (free float). Padahal, BREN baru masuk ke dalam indeks FTSE Global Equity Series-Large Cap pada Senin (23/9) lalu.
Dalam keterangan tertulis FTSE Russel pada Kamis (19/9) lalu, BREN dinilai tidak memenuhi aturan free float restriction alias restriksi batas minimal saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik. FTSE pun melihat, ada empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan.
Sejak pengumuman itu, harga saham BREN melemah drastis dengan akumulasi penurunan sebesar 3.750 poin atau 34,97%.
Manajemen BREN telah buka suara atas kebijakan FTSE tersebut. Direktur & Sekretaris Perusahaan BREN Merly mengungkapkan sejak 23 Agustus hingga 19 September 2024 tidak terjadi perubahan signifikan terhadap kepemilikan floating shares BREN.
Adapun, 23 Agustus 2024 merupakan tanggal pengumuman FTSE Global Equity Index Series yang memasukkan BREN ke dalam indeks, sedangkan 19 September 2024 merupakan pengumuman BREN tidak lagi menjadi konstituen indeks.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 September 2024, jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sebesar 15,60 miliar saham atau 11,66% dari total saham BREN.
Jumlah tersebut tidak berubah signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) yang menyebutkan bahwa jumlah saham free float adalah sebanyak 15,69 miliar saham atau 11,73%.
Ada empat pemegang saham yang menguasai sebanyak 97% saham BREN berdasarkan prospektus IPO. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. (23,60%), Jupiter Tiger Holdings (4,36%) dan Prime Hill Funds (4,36%).
Sampai dengan 19 September 2024, porsi kepemilikan BRPT dan Green Era Energy masih sama, masing-masing 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings berubah menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%. Adapun, kepemilikan saham dari Jupiter Tiger dan Prime Hill masuk ke dalam floating shares.
Rekomendasi saham BREN
Founder Indonesia Investment Education Rita Efendy mengatakan, setelah BREN resmi keluar dari Indeks FTSE, pandangan investor cenderung terbagi.
Beberapa investor institusional yang harus mematuhi indeks FTSE mungkin terpaksa melepas saham BREN sebagai bagian dari penyesuaian portofolio. Hal ini bisa menyebabkan tekanan jual jangka pendek. Namun, dalam dua hari perdagangan terakhir, ada investor juga terlihat mengambil sikap wait and see.
“Mereka mungkin memperhatikan perkembangan bisnis yang akan menunjang fundamental perusahaan yang lebih baik sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Sebagian investor dengan strategi jangka panjang yang yakin pada prospek bisnis BREN, terutama di sektor energi terbarukan, mungkin mereka lebih memilih untuk menambah kepemilikan. Para investor ini memanfaatkan potensi harga yang lebih rendah setelah adanya penjualan oleh institusi.
Ke depannya, jika BREN mampu menunjukkan performa bisnis yang baik, investor bisa kembali tertarik. Namun, untuk saat ini, banyak investor yang cenderung memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum membuat keputusan besar terutama investor institusi.
“Investor jangka pendek banyak yang masih berkeyakinan akan potensi BREN untuk di masukan ke indeks global lain, seperti MSCI yang akan di-review pada November 2024, mereka memilih cicil buy on weakness,” ungkap dia.
Sebagai investor ritel, Rita pun memanfaatkan strategi buy on weaknes di situasi saat ini. Sebab, investor ritel memang tidak terikat banyak aturan layaknya investor institusional.
“Harga yang terkoreksi jauh saya manfaatkan untuk buy on weakness, seperti yang dilakukan hari ini. Saham milik Prajogo Pangestu masih memiliki daya tarik dan peluang cuan yang menarik untuk investor ritel,” tuturnya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, FTSE memiliki hak untuk memasukkan dan mengeluarkan saham perusahaan yang dinilai layak untuk menjadi konstituen di dalam indeks mereka. Namun, keputusan FTSE itu dianggap kurang hati-hati, dan hanya mendisrupsi pasar saham Indonesia.
“Investor pun sudah rugi dalam dua hari, yaitu Jumat pekan lalu dan Senin kemarin,” ujar Budi kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Setelah BREN keluar dari Indeks FTSE, Budi melihat, akan ada aksi beli yang lebih besar daripada aksi jual. Kecuali, jika semua investor ikut menjual kepemilikan.
Budi menyarankan, investor untuk memantau bid and offer BREN pada perdagangan esok hari. Jika aksi beli besok lebih dominan, investor bisa membeli BREN. Jika sebaliknya, sebaiknya kepemilikannya bisa dilepas.
“Sulit melawan aksi masuk atau keluar investor besar dengan nilai yang nilainya sangat fantastis ini. Setengah hari perdagangan hari ini saja, transaksi BREN sekitar Rp 2,7 triliun,” tutur dia.
Budi melihat, harga saham BREN memang tidak murah, sehingga daya tarik investor untuk memiliki saham emiten ini lebih didorong faktor lain, seperti adanya liquidity provider dan sosok sang pemilik, yaitu Prajogo Pangestu.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina melihat, investor yang memegang saham BREN punya kecenderungan untuk berinvestasi dengan cara trading. Hal ini karena valuasi saham BREN yang dianggap masih mahal, meskipun kinerja perseroan terbilang baik.
“Untuk trading aja, karena memanfaatkan volatilitas pasar. Penurunan harga BREN saat ini juga tengah dimanfaatkan investor yang mencari harga yang lebih baik. Tetapi, memang untuk trading saja. Karena kinerjanya ada (baik), tapi harga mahal,” ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/9).
Martha pun melihat volatilitas harga BREN kemungkinan tidak akan memberatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun 2024.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk BREN dengan target harga Rp 10.725 per saham
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe melihat, kinerja BREN dilihat menarik oleh para investor akibat fokus bisnis perusahaan yang fokus pada energi baru terbarukan (EBT).
“Apalagi, BREN diketahui akan segera menambah kapasitas pembangkit mereka,” kata Kiswoyo kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Pada 18 September 2024, Star Energy Geothermal, anak perusahaan BREN, secara signifikan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya, yang diumumkan melalui dengan pengumuman pemenang tender terpilih di dalam International Geothermal Conference and Exhibition 2024 (IIGCE).
Inisiatif strategis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Star Energy Geothermal melalui proyek retrofitting dan penambahan kapasitas baru. Inisiatif tersebut terdiri dari penambahan pembangkit baru dan ekspansi, serta peningkatan kapasitas di unit yang sudah ada.
“Meskipun ada nama Prajogo Pangestu di belakangnya, tetapi kinerja BREN sangat prospektif, bahkan dalam jangka waktu yang panjang. Sentimen investor terhadap nama Prajogo hanya sebagai apresiasi pasar terhadap aset milik dia yang premium,” tuturnya.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli saham BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024.
Resmi, BREN Keluar FTSE Hari Ini (25/9), Investor Perlu Jual / Beli?
Analis merekomendasikan beli saham BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024 [1,252] url asal
#ftse-russell #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #indeks-ftse-russell #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 25/09/24 06:45
v/15519434/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) akan keluar dari Indeks FTSE Global Equity Indonesia kategori large cap pada hari ini Rabu 25 September 2024. Lalu, investor sebaiknya pilih membeli atau menjual saham tersebut?
Harga saham BREN melorot karena pengumuman FTSE yang mencoret BREN dari konstituen indeks tersebut dengan alasan adanya konsentrasi pemegang saham yang tinggi alias high shareholder concentration atau terkait dengan jumlah saham yang beredar di pasar reguler (free float). Padahal, BREN baru masuk ke dalam indeks FTSE Global Equity Series-Large Cap pada Senin (23/9) lalu.
Dalam keterangan tertulis FTSE Russel pada Kamis (19/9) lalu, BREN dinilai tidak memenuhi aturan free float restriction alias restriksi batas minimal saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik. FTSE pun melihat, ada empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan.
Harga saham BREN pada perdagangan Kamis 19 September 2024 ditutup di level 11.025. Sehari kemudian, harga saham BREN melorot ke level 8.825.
Saham BREN yang merupakan milik orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu ini melorot ke titik terendah di level 7.075 pada 23 September 2024. Ini adalah harga terendah saham BREN sejak Juni 2024.
Pada perdagangan Rabu 24 September 2024, harga saham BREN mulai bangkit di level 7.225, naik 150 poin atau 2,12% dibandingkan sehari sebelumnya.
Manajemen BREN telah buka suara atas kebijakan FTSE tersebut. Direktur & Sekretaris Perusahaan BREN Merly mengungkapkan sejak 23 Agustus hingga 19 September 2024 tidak terjadi perubahan signifikan terhadap kepemilikan floating shares BREN.
Adapun, 23 Agustus 2024 merupakan tanggal pengumuman FTSE Global Equity Index Series yang memasukkan BREN ke dalam indeks, sedangkan 19 September 2024 merupakan pengumuman BREN tidak lagi menjadi konstituen indeks.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 September 2024, jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sebesar 15,60 miliar saham atau 11,66% dari total saham BREN.
Jumlah tersebut tidak berubah signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) yang menyebutkan bahwa jumlah saham free float adalah sebanyak 15,69 miliar saham atau 11,73%.
Ada empat pemegang saham yang menguasai sebanyak 97% saham BREN berdasarkan prospektus IPO. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. (23,60%), Jupiter Tiger Holdings (4,36%) dan Prime Hill Funds (4,36%).
Sampai dengan 19 September 2024, porsi kepemilikan BRPT dan Green Era Energy masih sama, masing-masing 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings berubah menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%. Adapun, kepemilikan saham dari Jupiter Tiger dan Prime Hill masuk ke dalam floating shares.
Rekomendasi saham BREN
Founder Indonesia Investment Education Rita Efendy mengatakan, setelah BREN resmi keluar dari Indeks FTSE, pandangan investor cenderung terbagi.
Beberapa investor institusional yang harus mematuhi indeks FTSE mungkin terpaksa melepas saham BREN sebagai bagian dari penyesuaian portofolio. Hal ini bisa menyebabkan tekanan jual jangka pendek. Namun, dalam dua hari perdagangan terakhir, ada investor juga terlihat mengambil sikap wait and see.
“Mereka mungkin memperhatikan perkembangan bisnis yang akan menunjang fundamental perusahaan yang lebih baik sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Sebagian investor dengan strategi jangka panjang yang yakin pada prospek bisnis BREN, terutama di sektor energi terbarukan, mungkin mereka lebih memilih untuk menambah kepemilikan. Para investor ini memanfaatkan potensi harga yang lebih rendah setelah adanya penjualan oleh institusi.
Ke depannya, jika BREN mampu menunjukkan performa bisnis yang baik, investor bisa kembali tertarik. Namun, untuk saat ini, banyak investor yang cenderung memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum membuat keputusan besar terutama investor institusi.
“Investor jangka pendek banyak yang masih berkeyakinan akan potensi BREN untuk di masukan ke indeks global lain, seperti MSCI yang akan di-review pada November 2024, mereka memilih cicil buy on weakness,” ungkap dia.
Sebagai investor ritel, Rita pun memanfaatkan strategi buy on weaknes di situasi saat ini. Sebab, investor ritel memang tidak terikat banyak aturan layaknya investor institusional.
“Harga yang terkoreksi jauh saya manfaatkan untuk buy on weakness, seperti yang dilakukan hari ini. Saham milik Prajogo Pangestu masih memiliki daya tarik dan peluang cuan yang menarik untuk investor ritel,” tuturnya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, FTSE memiliki hak untuk memasukkan dan mengeluarkan saham perusahaan yang dinilai layak untuk menjadi konstituen di dalam indeks mereka. Namun, keputusan FTSE itu dianggap kurang hati-hati, dan hanya mendisrupsi pasar saham Indonesia.
“Investor pun sudah rugi dalam dua hari, yaitu Jumat pekan lalu dan Senin kemarin,” ujar Budi kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Setelah BREN keluar dari Indeks FTSE, Budi melihat, akan ada aksi beli yang lebih besar daripada aksi jual. Kecuali, jika semua investor ikut menjual kepemilikan.
Budi menyarankan, investor untuk memantau bid and offer BREN pada perdagangan esok hari. Jika aksi beli besok lebih dominan, investor bisa membeli BREN. Jika sebaliknya, sebaiknya kepemilikannya bisa dilepas.
“Sulit melawan aksi masuk atau keluar investor besar dengan nilai yang nilainya sangat fantastis ini. Setengah hari perdagangan hari ini saja, transaksi BREN sekitar Rp 2,7 triliun,” tutur dia.
Budi melihat, harga saham BREN memang tidak murah, sehingga daya tarik investor untuk memiliki saham emiten ini lebih didorong faktor lain, seperti adanya liquidity provider dan sosok sang pemilik, yaitu Prajogo Pangestu.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina melihat, investor yang memegang saham BREN punya kecenderungan untuk berinvestasi dengan cara trading. Hal ini karena valuasi saham BREN yang dianggap masih mahal, meskipun kinerja perseroan terbilang baik.
“Untuk trading aja, karena memanfaatkan volatilitas pasar. Penurunan harga BREN saat ini juga tengah dimanfaatkan investor yang mencari harga yang lebih baik. Tetapi, memang untuk trading saja. Karena kinerjanya ada (baik), tapi harga mahal,” ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/9).
Martha pun melihat volatilitas harga BREN kemungkinan tidak akan memberatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun 2024.
Namun, harus menjadi catatan bahwa kapitalisasi pasar BREN sangat besar dan potensi pengaruhnya ke gerak IHSG sangat tinggi. Per hari ini, kapitalisasi pasar BREN sebesar Rp 966,61 triliun.
“Kalau jadi pemberat juga tidak terlalu. Buktinya, hari ini gerak saham para emiten milik Prajogo Pangestu terpantau ada list penopang hari ini,” tuturnya.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk BREN dengan target harga Rp 10.725 per saham
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe melihat, kinerja BREN dilihat menarik oleh para investor akibat fokus bisnis perusahaan yang fokus pada energi baru terbarukan (EBT).
“Apalagi, BREN diketahui akan segera menambah kapasitas pembangkit mereka,” kata Kiswoyo kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Pada 18 September 2024, Star Energy Geothermal, anak perusahaan BREN, secara signifikan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya, yang diumumkan melalui dengan pengumuman pemenang tender terpilih di dalam International Geothermal Conference and Exhibition 2024 (IIGCE).
Inisiatif strategis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Star Energy Geothermal melalui proyek retrofitting dan penambahan kapasitas baru. Inisiatif tersebut terdiri dari penambahan pembangkit baru dan ekspansi, serta peningkatan kapasitas di unit yang sudah ada.
“Meskipun ada nama Prajogo Pangestu di belakangnya, tetapi kinerja BREN sangat prospektif, bahkan dalam jangka waktu yang panjang. Sentimen investor terhadap nama Prajogo hanya sebagai apresiasi pasar terhadap aset milik dia yang premium,” tuturnya.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli saham BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024.
BREN Besok Resmi Keluar FTSE, Ini Dampaknya ke Investor
Barito Renewables Energy (BREN) akan keluar dari Indeks FTSE Global Equity Indonesia. [1,165] url asal
#ftse-russell #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #indeks-ftse-russell #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 24/09/24 20:49
v/15498341/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) akan keluar dari Indeks FTSE Global Equity Indonesia kategori large cap Rabu (25/9) besok. Hal ini tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap para investor BREN.
FTSE mencoret BREN dari konstituen indeks tersebut dengan alasan adanya konsentrasi pemegang saham yang tinggi alias high shareholder concentration atau terkait dengan jumlah saham yang beredar di pasar reguler (free float). Padahal, BREN baru masuk ke dalam indeks FTSE Global Equity Series-Large Cap pada Senin (23/9) lalu.
Dalam keterangan tertulis FTSE Russel pada Kamis (19/9) lalu, BREN dinilai tidak memenuhi aturan free float restriction alias restriksi batas minimal saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik. FTSE pun melihat, ada empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan.
Manajemen BREN pun telah buka suara. Direktur & Sekretaris Perusahaan BREN Merly mengungkapkan sejak 23 Agustus hingga 19 September 2024 tidak terjadi perubahan signifikan terhadap kepemilikan floating shares BREN. Adapun, 23 Agustus 2024 merupakan tanggal pengumuman FTSE Global Equity Index Series yang memasukkan BREN ke dalam indeks, sedangkan 19 September 2024 merupakan pengumuman BREN tidak lagi menjadi konstituen indeks.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 September 2024, jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sebesar 15,60 miliar saham atau 11,66% dari total saham BREN.
Jumlah tersebut tidak berubah signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) yang menyebutkan bahwa jumlah saham free float adalah sebanyak 15,69 miliar saham atau 11,73%.
Ada empat pemegang saham yang menguasai sebanyak 97% saham BREN berdasarkan prospektus IPO. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. (23,60%), Jupiter Tiger Holdings (4,36%) dan Prime Hill Funds (4,36%).
Sampai dengan 19 September 2024, porsi kepemilikan BRPT dan Green Era Energy masih sama, masing-masing 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings berubah menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%. Adapun, kepemilikan saham dari Jupiter Tiger dan Prime Hill masuk ke dalam floating shares.
Melansir RTI, harga saham BREN pada hari Jumat (20/9) turun 19,95% dan pada Senin (23/9) turun 19,83%. Saham BREN baru kembali naik 2,12% ke level 7.225 per saham pada perdagangan hari ini (24/9).
Founder Indonesia Investment Education Rita Efendy mengatakan, setelah BREN resmi keluar dari Indeks FTSE, pandangan investor cenderung terbagi.
Beberapa investor institusional yang harus mematuhi indeks FTSE mungkin terpaksa melepas saham BREN sebagai bagian dari penyesuaian portofolio. Hal ini bisa menyebabkan tekanan jual jangka pendek. Namun, dalam dua hari perdagangan terakhir, ada investor juga terlihat mengambil sikap wait and see.
“Mereka mungkin memperhatikan perkembangan bisnis yang akan menunjang fundamental perusahaan yang lebih baik sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Sebagian investor dengan strategi jangka panjang yang yakin pada prospek bisnis BREN, terutama di sektor energi terbarukan, mungkin mereka lebih memilih untuk menambah kepemilikan. Para investor ini memanfaatkan potensi harga yang lebih rendah setelah adanya penjualan oleh institusi.
Ke depannya, jika BREN mampu menunjukkan performa bisnis yang baik, investor bisa kembali tertarik. Namun, untuk saat ini, banyak investor yang cenderung memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum membuat keputusan besar terutama investor institusi.
“Investor jangka pendek banyak yang masih berkeyakinan akan potensi BREN untuk di masukan ke indeks global lain, seperti MSCI yang akan di-review pada November 2024, mereka memilih cicil buy on weakness,” ungkap dia.
Sebagai investor ritel, Rita pun memanfaatkan strategi buy on weaknes di situasi saat ini. Sebab, investor ritel memang tidak terikat banyak aturan layaknya investor institusional.
“Harga yang terkoreksi jauh saya manfaatkan untuk buy on weakness, seperti yang dilakukan hari ini. Saham milik Prajogo Pangestu masih memiliki daya tarik dan peluang cuan yang menarik untuk investor ritel,” tuturnya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, FTSE memiliki hak untuk memasukkan dan mengeluarkan saham perusahaan yang dinilai layak untuk menjadi konstituen di dalam indeks mereka. Namun, keputusan FTSE itu dianggap kurang hati-hati, dan hanya mendisrupsi pasar saham Indonesia.
“Investor pun sudah rugi dalam dua hari, yaitu Jumat pekan lalu dan Senin kemarin,” ujar Budi kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Setelah BREN keluar dari Indeks FTSE, Budi melihat, akan ada aksi beli yang lebih besar daripada aksi jual. Kecuali, jika semua investor ikut menjual kepemilikan.
Budi menyarankan, investor untuk memantau bid and offer BREN pada perdagangan esok hari. Jika aksi beli besok lebih dominan, investor bisa membeli BREN. Jika sebaliknya, sebaiknya kepemilikannya bisa dilepas.
“Sulit melawan aksi masuk atau keluar investor besar dengan nilai yang nilainya sangat fantastis ini. Setengah hari perdagangan hari ini saja, transaksi BREN sekitar Rp 2,7 triliun,” tutur dia.
Budi melihat, harga saham BREN memang tidak murah, sehingga daya tarik investor untuk memiliki saham emiten ini lebih didorong faktor lain, seperti adanya liquidity provider dan sosok sang pemilik, yaitu Prajogo Pangestu.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina melihat, investor yang memegang saham BREN punya kecenderungan untuk berinvestasi dengan cara trading. Hal ini karena valuasi saham BREN yang dianggap masih mahal, meskipun kinerja perseroan terbilang baik.
“Untuk trading aja, karena memanfaatkan volatilitas pasar. Penurunan harga BREN saat ini juga tengah dimanfaatkan investor yang mencari harga yang lebih baik. Tetapi, memang untuk trading saja. Karena kinerjanya ada (baik), tapi harga mahal,” ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/9).
Martha pun melihat volatilitas harga BREN kemungkinan tidak akan memberatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun 2024.
Namun, harus menjadi catatan bahwa kapitalisasi pasar BREN sangat besar dan potensi pengaruhnya ke gerak IHSG sangat tinggi. Per hari ini, kapitalisasi pasar BREN sebesar Rp 966,61 triliun.
“Kalau jadi pemberat juga tidak terlalu. Buktinya, hari ini gerak saham para emiten milik Prajogo Pangestu terpantau ada list penopang hari ini,” tuturnya.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk BREN dengan target harga Rp 10.725 per saham
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe melihat, kinerja BREN dilihat menarik oleh para investor akibat fokus bisnis perusahaan yang fokus pada energi baru terbarukan (EBT).
“Apalagi, BREN diketahui akan segera menambah kapasitas pembangkit mereka,” kata Kiswoyo kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Pada 18 September 2024, Star Energy Geothermal, anak perusahaan BREN, secara signifikan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya, yang diumumkan melalui dengan pengumuman pemenang tender terpilih di dalam International Geothermal Conference and Exhibition 2024 (IIGCE).
Inisiatif strategis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Star Energy Geothermal melalui proyek retrofitting dan penambahan kapasitas baru. Inisiatif tersebut terdiri dari penambahan pembangkit baru dan ekspansi, serta peningkatan kapasitas di unit yang sudah ada.
“Meskipun ada nama Prajogo Pangestu di belakangnya, tetapi kinerja BREN sangat prospektif, bahkan dalam jangka waktu yang panjang. Sentimen investor terhadap nama Prajogo hanya sebagai apresiasi pasar terhadap aset milik dia yang premium,” tuturnya.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli untuk BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024.
BEI Buka Peluang Revisi Aturan Free Float Imbas Polemik BREN di FTSE Russel
BEI tengah mengkaji kemungkinan revisi ketentuan free float selepas polemik Barito Renewables Energy (BREN) di indeks FTSE Russel. [746] url asal
#barito-renewables-energy #bren #prajogo-pangestu #indeks-ftse #ftse-russell #indeks-global #bei #revisi-aturan-free-float #bursa-efek-indonesia #ipo #indeks-acuan #saham-bren #saham-bren-anjlok #big-c
(Bisnis.Com - Market) 24/09/24 14:10
v/15486906/
Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengkaji kemungkinan revisi atas ketentuan free float atau jumlah saham yang beredar di pasar reguler selepas polemik PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) di Indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russel.
Direktur Penilaian Perusahaan Tercatat I Gede Nyoman Yetna mengatakan lembagannya saat ini tengah melakukan pendalaman terkait dengan inisiatif penyesuan aturan free float tersebut.
“Salah satu hal yang kami pertimbangkan adalah terkait kriteria kepemilikan saham yang diperhitungkan sebagai free float saat pencatatan perdana, di mana kami ingin memfokuskan pada jumlah saham yang ditawarkan kepada publik,” kata Nyoman kepada wartawan lewat pesan tertulis dikutip Selasa (24/9/2024).
Kemungkinan revisi itu, kata Nyoman, bakal dituangkan dalam rancangan perubahan peraturan anyar baru nantinya ihwal saham yang beredar di pasar reguler.
Menurut dia, BEI senantiasa melakukan evaluasi dan pengembangan atas peraturan bursa mengikuti dinamika yang ada di tengah pasar, termasuk persoalan BREN di FTSE Russel.
“Agar tetap relevan terhadap kondisi terkini dalam dinamika pasar modal dengan tetap memerhatikan aspek perlindungan investor, peningkatan kualitas perusahaan tercatat dan daya tarik dan best practice di antara bursa global lainnya,” tuturnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, FTSE Russel mengeluarkan emiten milik Prajogo Pangestu, BREN dari indeks FTSE Global Equity Indonesia.
Keputusan itu disampaikan FTSE lewat pengumuman resmi yang disampaikan pada Kamis (19/9/2024).
“Barito Renewables Energy (Indonesia, BR2QH03, Large Cap addition), merupakan tambahan untuk seri Indeks FTSE Global All Cap dan indeks terkait, akan dihapus dari indeks FTSE Russell,” tulis FTSE lewat keterangan resmi, dikutip Jumat (20/9/2024).
FTSE beralasan BREN tidak memenuhi aturan ihwal ketentuan free float atau jumlah saham yang beredar di pasar reguler yang tertuang dalam aturan high shareholder concentration yang diamanatkan FTSE.
“Hal ini disebabkan oleh empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang beredar di Barito Renewables Energy,” tulis FTSE dalam keterangannya.
Sementara itu, Direktur & Corporate Secretary BREN Merly mengatakan, saat ini sebagian besar saham BREN dikuasai empat pemegang saham utama yakni PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), Green Era Energy Pte Ltd (GE), Jupiter Tiger Holdings, dan Prime Hill Funds.
Dia menjelaskan bahwa kehadiran empat pemegang saham itu sudah ada sejak penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
"Pada saat IPO, kepemilikan saham oleh empat pemegang saham tersebut adalah sebagaimana yang telah diungkapkan di dalam Pernyataan Pendaftaran, prospektus dan dokumen lainnya untuk keperluan IPO," katanya lewat keterbukaan informasi, Senin (23/9/2024).
Namun, Merly menjelaskan ada perubahan persentase kepemilikan saham BREN pada empat pemegang saham tersebut. Saat IPO keempatnya memiliki 97% saham BREN, namun terjadi perubahan, kini tercatat 95,97%.
"Pada saat IPO, komposisi kepemilikan saham oleh empat pemegang saham tersebut adalah 97%, dan sampai hari ini telah terjadi perubahan," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa kepemilikan saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan Green Era Energy Pte Ltd (GE), masing-masing 64,6% dan 23,6%, tidak ada perubahan.
Sementara untuk Jupiter Tiger Holdings dan Prime Hill Funds, terjadi perubahan bahwa kedua entitas ini masing-masing menggenggam saham 3,94% dan 3,76%.
Menurutnya, status pengendalian dan afiliasi keempat pemegang saham telah disampaikan pada saat IPO.
Ketentuan Aturan Free Float
Sebagai infromasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mewajibkan perusahaan tercatat untuk memiliki saham free float paling sedikit 50 juta saham dan 7,5% dari jumlah saham tercatat sejak 21 Desember 2023.
Kewajiban free float 7,5% tertuang dalam Peraturan Bursa Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat (Peraturan No. I-A).
Berdasarkan beleid tersebut, Perusahaan Tercatat atau emiten harus memenuhi persyaratan minimum free float dan jumlah pemegang saham.
Mengacu pada ketentuan V.1. dari Peraturan No. I-A, persyaratan tersebut, yaitu pertama, jumlah saham free float paling sedikit 50 juta saham dan paling sedikit 7,5% dari jumlah saham tercatat.
Kedua jumlah pemegang saham paling sedikit 300 (tiga ratus) Nasabah pemilik SID [single investor identification].
Saham free float juga tidak mencakup saham-saham yang dimiliki oleh pengendali dan afiliasinya, anggota dewan komisaris atau direksi, dan bukanlah saham hasil buyback atau saham treasure.
Dalam regulasi tersebut, perusahaan dapat tetap tercatat di bursa jika memenuhi kriteria tersebut paling lambat dua tahun sejak aturan berlaku.
Namun, Peraturan Nomor I-A juga memungkinkan emiten untuk mengajukan permohonan agar pemegang saham tertentu dapat dikategorikan sebagai pemegang saham free float, tetapi dengan ketentuan kepemilikan berupa portofolio investasi dengan penerima manfaat investor publik.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Silang Pendapat Free Float Barito Renewables (BREN)
Silang pendapat mengenai free float membayangi keputusan FTSE Russell menghapus PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). - Halaman all [49] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #bren #saham-bren #barito-renewables-energy #free-float #ftse-russell #prajogo-pangestu-bren #grup-barito #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 24/09/24 10:27
v/15486333/
JAKARTA, inestor.id – Silang pendapat mengenai free float membayangi keputusan FTSE Russell menghapus PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dari konstituen indeks. Empat pemegang saham BREN yang dituding menguasai 97%, rupanya hanya menggenggam 95%. Bahkan, dua pemegang saham BREN kepemilikannya di bawah 5% yang membuat syarat free float terpenuhi.
Setelah BREN Terdepak FTSE, Bagaimana Nasib 16.000 Investor Minoritas?
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) terjun bebas setelah terdepak dari indeks FTSE. Bagaimana nasib lebih dari 16.000 investor minoritas BREN? [1,268] url asal
#barito-renewables-energy #bren #prajogo-pangestu #indeks-ftse #ftse-russell #indeks-global #indeks-acuan #saham-bren #saham-bren-anjlok #big-caps #free-float-saham
(Bisnis.Com - Market) 24/09/24 06:40
v/15471659/
Bisnis.com, JAKARTA —Polemik komposisi pemegang saham yang terkonsentrasi hanya pada empat pihak saja menghentikan langkah PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) untuk melaju di dalam indeks FTSE. Lantas, bagaimana nasib lebih dari 16.000 investor minoritas BREN di tengah anjloknya harga saham emiten holding panas bumi itu?
Keputusan FTSE Russell terkait dengan rebalancing indeks FTSE Large Cap Indonesia menjadi sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan saham BREN dalam 4 bulan terakhir.
Pada akhir Mei 2024, saham BREN mengalami euforia usai FTSE Russell mengumumkan bahwa saham BREN masuk dalam indeks bergensi itu untuk kategori large cap periode Juni 2024. BREN merangkak naik hingga menyentuh level Rp11.250 pada akhir perdagangan 22 Mei 2024.
Namun, laju apresiasi saham BREN terhenti setelah PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenakan suspensi terhadap saham BREN selama dua hari sejak 22 Mei 2024. Setelah itu, BREN dijebloskan Bursa Efek Indonesia ke dalam papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme perdagangan full call auction (FCA).
Keputusan BEI itu berbuntut panjang. FTSE Russell memutuskan untuk menunda masuknya saham BREN ke dalam indeks FTSE.
Keputusan itu disampaikan FTSE Russell melalui pengumuman resmi pada awal Juni 2024. Dalam pengumuman tersebut, FTSE sedang mengevaluasi apakah aturan BEI mengenai PPK dengan mekanisme FCA menjadi bagian dalam peraturan dasar indeks FTSE.
“Menunggu penelaahan kelayakan efek pada papan pemantauan khusus, FTSE Russell akan menunda perubahan tinjauan indeks berikut hingga pemberitahuan lebih lanjut,” tulis FTSE Russell.
Hasilnya sudah bisa diperkirakan. Kombinasi dari sentimen negatif FCA dan FTSE membuat saham BREN terjun bebas.
BREN tercatat menyentuh level Rp6.050 per saham pada 7 Juni 2024. Di posisi itu, BREN anjlok 46,22% dari level tertinggi Rp11.250 per saham.
FTSE kembali mencuri perhatian setelah mengumumkan kocok ulang konstituen indeksnya pada 23 Agustus 2024. Lewat pengumuman resminya, FTSE merombak penghuni Indeks FTSE Global Equity Indonesia dalam semi-annual review September 2024.
Lagi-lagi, saham BREN dimasukkan ke dalam indeks large cap mulai 23 September 2024. Kali ini, BREN tidak sendiri karena saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) ikut masuk dalam indeks yang menjadi acuan investor global itu.
Rekor Harga Saham BREN
Euforia pun kembali menyelimuti saham BREN. Hingga BREN menyentuh level harga tertinggi sepanjang masa di posisi Rp11.900 per saham pada akhir perdagangan Rabu (11/9/2024).
Namun, reli saham BREN berakhir setelah FTSE Russell mendepak saham BREN dari indeks FTSE Global All Cap Index lewat pengumuman resmi pada 19 September 2024.
Kali ini, FTSE mempersoalkan komposisi pemegang saham BREN yang tidak memenuhi aturan ‘Free Float Restriction’ yang disusun lembaga finansial yang terafiliasi dengan London Stock Exhange Group (LSEG) itu.
“BREN akan dihapus dari indeks FTSE Russell karena empat pemegang saham mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan oleh Barito Renewables Energy,” tulis pengumuman FTSE.
Kajian itu juga didasarkan pada 'FTSE Russell Recalculation Policy and Guidelines' untuk menghindari konsentrasi tinggi pemegang saham tertentu dalam saham yang masuk dalam konstituen indeks FTSE. Adapun, penghapusan saham BREN dari indeks FTSE akan efektif mulai 25 September 2024.
Merujuk ‘Free Float Restrictions’ version 2.9 edisi Agustus 2024, FTSE mencantumkan ketentuan tentang batasan kepemilikan saham suatu pemegang saham maksimal sebesar 30%.
“Kepemilikan portofolio, seperti dana pensiun, dana asuransi atau perusahaan investasi, pada umumnya tidak dianggap dibatasi. Namun, jika satu portofolio memiliki kepemilikan sebesar 30% atau lebih, hal ini akan dianggap strategis dan oleh karena itu dibatasi. Saham tersebut akan tetap dibatasi sampai kepemilikannya turun di bawah 30%.”
Pelaku pasar pun merespons negatif keputusan FTSE mendepak saham BREN. Saham BREN terperosok dua hari berturut-turut dengan menyentuh auto rejection bawah (ARB).
Saham BREN anjlok 19,95% ke posisi Rp8.825 pada 20 September 2024 dan lanjut merosot dengan penurunan 19,83% ke posisi Rp7.075 pada Senin (23/9/2024).
Manajemen BREN Buka Suara
Manajemen BREN buka suara terkait dengan kabar teranyar dari FTSE tersebut. Direktur & Corporate Secretary BREN Merly mengatakan saat ini sebagian besar saham BREN dikuasai empat pemegang saham utama yakni PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), Green Era Energy Pte Ltd (GE), Jupiter Tiger Holdings, dan Prime Hill Funds.
Dia menjelaskan bahwa kehadiran empat pemegang saham itu sudah ada sejak penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).
Namun, Merly menjelaskan ada perubahan persentase kepemilikan saham BREN pada empat pemegang saham tersebut. Saat IPO keempatnya memiliki 97% saham BREN. Namun, terjadi perubahan dan kini tercatat 95,97%.
Lebih terperinci, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menguasai 64,6% saham BREN dan Green Era Energy Pte Ltd (GE) menggenggam 23,6%. Porsi kepemilikan kedua pemegang saham itu tidak ada perubahan dari IPO hingga saat ini.
Di sisi lain, perubahan persentase kepemilikan saham terjadi pada Jupiter Tiger Holdings dari 4,36% menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds dari 4,36% menjadi 3,76%.
Sebagai informasi, Barito Pacific merupakan perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu. BRPT menjalankan bisnis di sektor petrokimia, energi, properti, dan lainnya.
Bisnis petrokima dijalankan BRPT melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), sedangkan properti salah satunya dioperasikan PT Griya Idola. Dengan menggenggam 64,67% saham, Barito Pacific menempati posisi sebagai pemegang saham pengendali BREN.
Setali tiga uang, Green Era Pte. Ltd. juga terafiliasi dengan Prajogo Pangestu. Berdasarkan catatan Bisnis, Green Era Pte Ltd. membeli 33,33% saham Star Energy Group Holding Pte Ltd dari BCPG Thailand pada 10 Maret 2022.
Adapun, porsi saham BREN yang digenggam oleh Jupiter Tiger Holdings dan Prime Hill Funds masuk ke dalam bagian dari saham free float sesuai aturan Bursa Efek Indonesia. Sejak setelah IPO, Merly menyampaikan saham free float BREN stabil di level 11,73%.
Meski begitu, jumlah pemegang saham free float BREN bergerak dinamis dalam 8 bulan terakhir. Merujuk data Biro Administrasi Efek PT Datindo Entrycom, jumlah pemegang saham BREN dengan kepemilikan di bawah 5% mencapai 28.313 pihak pada Januari 2024.
Jumlahnya berangsur turun menjadi hanya 11.706 pihak pada Mei 2024. Selanjutnya, pemegang saham minoritas BREN mencapai 14.945 pihak pada Juni 2024, 21.572 pihak pada Juli 2024, dan 16.401 pihak pada Agustus 2024.
Para pihak itu berbagi 15.694.413.334 saham BREN atau setara dengan 11,73% dari total modal ditempatkan dan disetor BREN.
Namun, jumlah itu sudah termasuk porsi saham BREN milik Jupiter Tiger Holdings sebesar 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%. Artinya, sisa 4,03% saham publik BREN diperebutkan oleh sekitar 16.399 pihak investor minoritas lainnya.
Rekomendasi untuk Investor Minoritas BREN
Lantas bagaimana nasib lebih dari 16.000 investor minoritas BREN di tengah gejolak saham induk usaha Star Energy Geothermal itu? Sejumlah analis yang dihubungi Bisnis punya sudut pandang dan rekomendasi yang berbeda.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan selepas penilian FTSE Russel, saham BREN cenderung terkoreksi pada jangka pendek.
Selain itu, Miftahul menambahkan, sentimen negatif dari FTSE Russel itu juga berimbas terhadap pergerakan saham afiliasi Prajogo Pangestu lainnya, seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN).
“Untuk saat ini kami terlebih dahulu merekomendasikan wait and see untuk saham BREN,” kata Miftahul saat dihubungi Bisnis, Jumat (20/9/2024).
Ihwal penilaian dari FTSE itu, Miftahul berpendapat, pemegang saham pengendali dan asosiasi yang mengusasi 97% dari total saham yang diterbitkan oleh BREN bakal mengoreksi likuiditas perseroan.
“Dengan kepemilikan yang terkonsentrasi, dinilai FTSE membuat likuiditas saham BREN menjadi rendah,” kata Miftahul.
Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan masih ada peluang speculative buy di tengah kontraksi saham BREN pada penutupan perdagangan pekan ini.
“BREN semestinya bisa speculative buy karena tertahan di up channel support. Adapun, gap resistance berada pada Rp10.725,” kata Nafan saat dihubungi Bisnis, baru-baru ini.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Terungkap 4 Investor yang Kuasai 95,97% Saham Barito Renewables (BREN)
PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menjabarkan empat pemegang saham yang menguasai lebih dari 95% saham perseroan holding panas bumi itu. [445] url asal
#barito-renewables-energy #bren #prajogo-pangestu #indeks-ftse #ftse-russell #indeks-global #indeks-acuan #saham-bren #saham-bren-anjlok #big-caps #free-float-saham
(Bisnis.Com - Market) 23/09/24 15:30
v/15440812/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menjabarkan empat pemegang saham yang menguasai lebih dari 95% saham perseroan holding panas bumi itu.
Penjelasan disampaikan oleh BREN setelah sahamnya terdepak dari indeks FTSE Russell mulai perdagangan Rabu, 25 September 2024. Dalam pengumumannya, FTSE menyebut BREN tidak memenuhi aturan free float yang ditentukan FTSE karena sebanyak empat pemegang saham menguasai 97% saham BREN.
Direktur & Corporate Secretary BREN Merly mengatakan saat ini sebagian besar saham BREN dikuasai empat pemegang saham utama yakni PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), Green Era Energy Pte Ltd (GE), Jupiter Tiger Holdings, dan Prime Hill Funds.
Dia menjelaskan bahwa kehadiran empat pemegang saham itu sudah ada sejak penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).
Namun, Merly menjelaskan ada perubahan persentase kepemilikan saham BREN pada empat pemegang saham tersebut. Saat IPO keempatnya memiliki 97% saham BREN. Namun, terjadi perubahan dan kini tercatat 95,97%.
Lebih terperinci, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menguasai 64,6% saham BREN dan Green Era Energy Pte Ltd (GE) menggenggam 23,6%. Porsi kepemilikan kedua pemegang saham itu tidak ada perubahan dari IPO hingga saat ini.
Di sisi lain, perubahan persentase kepemilikan saham terjadi pada Jupiter Tiger Holdings dari 4,36% menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds dari 4,36% menjadi 3,76%.
Sebagai informasi, Barito Pacific merupakan perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu. BRPT menjalankan bisnis di sektor petrokimia, energi, properti, dan lainnya.
Bisnis petrokima dijalankan BRPT melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), sedangkan properti salah satunya dioperasikan PT Griya Idola. Dengan menggenggam 64,67% saham, Barito Pacific menempati posisi sebagai pemegang saham pengendali BREN.
Setali tiga uang, Green Era Pte. Ltd. juga terafiliasi dengan Prajogo Pangestu. Berdasarkan catatan Bisnis, Green Era Pte Ltd. membeli 33,33% saham Star Energy Group Holding Pte Ltd dari BCPG Thailand pada 10 Maret 2022.
Green Era yang berbasis di Singapura itu berkomitmen untuk berinvestasi dalam aset dan teknologi energi terbarukan. Melalui keterlibatan pemangku kepentingan yang mendalam, kolaborasi bersama mitra yang berorientasi pada misi, dan perspektif strategis jangka panjang.
Green Era fokus pada proyek-proyek yang berkontribusi pada transisi energi di Asia Tenggara yang memiliki populasi besar, muda, dan urban, di beberapa negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
Merujuk prospektus IPO BREN, 24,33% saham Perseroan milik GE digadaikan kepada Bangkok Bank berdasarkan Deed of Pledge Over Shares No. 80 tanggal 28 Maret 2023 antara GE dan Bangkok Bank.
Sementara itu, Jupiter Tiger Holdings dan Prime Hill Funds tercatat pernah melaksanakan transaksi pembelian saham BREN dari Green Era pada 19 Mei 2023. Transaksi itu dilaksanakan Jupiter Tiger Holdings melalui Zaocai VCC dan Prime Hill Funds melalui HPWM Global Opportunities VCC. Keduanya merupakan perusahaan private equity yang berbasis di Singapura.
Barito Renewables (BREN) Kembali ARB, Simak Penjelasan Soal FTSE hingga Free Float
saham Barito Renewables Energy (BREN) ambles 19,83% ke level Rp 7.075 per saham hingga pukul 11:11 WIB. [588] url asal
#ftse-russell #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #saham-bren #bren #financial-times-stock-exchange-ftse #pt-barito-renewables-energy-tbk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonom
(Kontan-Investasi) 23/09/24 11:21
v/15431371/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masih belum reda usai kabar keluarnya saham big caps tersebut dari indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell. Harga saham BREN kembali menyentuh level Auto Rejection Bawah (ARB) pada sesi I perdagangan Senin (23/9).
Harga BREN ambles 19,83% ke level Rp 7.075 per saham hingga pukul 11:11 WIB. Melanjutkan ARB pada perdagangan akhir pekan lalu, dimana harga saham BREN anjlok sedalam 19,95% pada Jumat (20/9).
Adapun, FTSE Russell mengeluarkan BREN dari Indeks Large Cap karena dinilai tidak memenuhi aturan jumlah saham yang beredar di pasar reguler (free float). Manajemen BREN pun buka suara untuk memberikan penjelasan mengenai porsi kepemilikan saham dan free float dari emiten Grup Barito milik taipan Prajogo Pangestu ini.
Direktur & Corporate Secretary Barito Renewables Energy, Merly menjelaskan jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan Bursa adalah sebesar 15,60 miliar saham atau 11,66%.
Keterangan ini berdasarkan data harian per 19 September 2024 yang disediakan untuk emiten oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Jumlah tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus saat penawaran umum saham perdana alias Initial Public Offering (IPO) yang menyebutkan jumlah saham free float sebanyak 15,69 miliar saham atau 11,73%.
"Perseroan akan terus memantau kepatuhan terhadap aturan free float yang ditetapkan oleh Bursa," ungkap Merly dalam keterbukaan informasi, Minggu (22/9).
Sampai dengan 19 September 2024, terdapat empat pemegang saham dengan total kepemilikan mencapai 95,97% saham BREN. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan kepemilikan 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. sebesar 23,60%, Jupiter Tiger Holdings sebanyak 3,94% dan Prime Hill Funds sebesar 3,76%.
Dibandingkan dalam laporan prospektus IPO pada tahun lalu, keempat pemegang saham tersebut menguasai 97% saham BREN. Dengan komposisi BRPT dan Green Era Energy masing-masing berjumlah 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings dan Prime Hill Funds kala itu masing-masing memiliki sebanyak 4,36%.
Merly juga memberikan penjelasan tentang analisa manajemen BREN terkait "high shareholder concentration". Dalam hal ini, Merly menegaskan BREN bersifat pasif dan tidak memiliki kewenangan apapun yang dapat mempengaruhi keputusan yang diterbitkan FTSE.
Merly menjelaskan pada saat IPO, komposisi kepemilikan oleh empat pemegang saham BREN adalah 97%. Namun telah terjadi perubahan sebagaimana yang diuraikan dalam penjelasan di atas.
Sejak 23 Agustus 2024 (berdasarkan pengumuman FTSE Global Equity Index Series, Asia Pacific Ex Japan Ex China September 2024 Semi-Annual Review oleh FTSE) sampai dengan 19 September 2024, tidak terjadi perubahan signifikan terhadap kepemilikan oleh empat pemegang saham tersebut.
"Seluruh informasi kepemilikan saham tersebut telah dilaporkan dan diungkapkan sesuai ketentuan yang berlaku," terang Merly.
Merly mengatakan, manajemen BREN juga telah memberikan informasi lengkap mengenai status pengendalian dan afiliasi dari semua pihak yang tercatat sebagai pemegang saham sebelum dan pada saat IPO tahun 2023.
"Kami tidak menambahkan informasi baru karena semua sudah sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku serta terungkap dalam laporan yang relevan," imbuh Merly.
Merly melanjutkan, seluruh informasi atau kejadian penting yang material dan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup serta harga saham BREN telah diungkapkan di dalam beberapa keterbukaan informasi yang disampaikan sesuai ketentuan.
Termasuk dari sisi aksi korporasi berupa akuisisi, kerja sama strategis serta program inisiatif untuk menambah kapasitas pembangkit listrik yang dimiliki BREN.
Terdepak dari Indeks FTSE, Manajemen BREN Buka Suara
PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) memberi klarifikasi usai sahamnya terdepak dari Indeks FTSE Russel. [637] url asal
#barito-renewables-energy #bren #prajogo-pangestu #indeks-ftse #ftse-russell #indeks-global #indeks-acuan #saham-bren #saham-bren-anjlok #big-caps #free-float-saham
(Bisnis.Com - Market) 23/09/24 08:28
v/15427366/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) memberi penjelasan setelah sahamnya terdepak dari Indeks FTSE Russel, yang akan berlaku mulai perdagangan Rabu 25 September 2024.
Direktur & Corporate Secretary BREN Merly mengatakan, saat ini sebagian besar saham BREN dikuasai empat pemegang saham utama yakni PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), Green Era Energy Pte Ltd (GE), Jupiter Tiger Holdings, dan Prime Hill Funds.
Dia menjelaskan bahwa kehadiran empat pemegang saham itu sudah ada sejak penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO).
"Pada saat IPO, kepemilikan saham oleh empat pemegang saham tersebut adalah sebagaimana yang telah diungkapkan di dalam Pernyataan Pendaftaran, prospektus dan dokumen lainnya untuk keperluan IPO," katanya lewat keterbukaan informasi, Senin (23/9/2024).
Namun, Merly menjelaskan ada perubahan persentase kepemilikan saham BREN pada empat pemegang saham tersebut. Saat IPO keempatnya memiliki 97% saham BREN, namun terjadi perubahan, kini tercatat 95,97%.
"Pada saat IPO, komposisi kepemilikan saham oleh empat pemegang saham tersebut adalah 97%, dan sampai hari ini telah terjadi perubahan," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa kepemilikan saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan Green Era Energy Pte Ltd (GE), masing-masing 64,6% dan 23,6%, tidak ada perubahan.
Sementara untuk Jupiter Tiger Holdings dan Prime Hill Funds, terjadi perubahan bahwa kedua entitas ini masing-masing menggenggam saham 3,94% dan 3,76%.
Menurutnya, status pengendalian dan afiliasi keempat pemegang saham telah disampaikan pada saat IPO.
"Kami tidak menambahkan informasi baru karena semua sudah sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku serta terungkap dalam laporan yang relevan," katanya.
Kemudian mengenai free float, dia menegaskan bahwa BREN telah memenuhi aturan, yang tercatat hingga 19 September 2024, jumlah saham yang memenuhi free float mencapai 15,6 miliar saham atau setara 11,66%, jumlah ini lebih besar dari yang dipersyaratkan yakni minimal 50 juta saham dan 7,5% dari total saham.
"Jumlah ini tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus IPO yang menyebutkan bahwa jumlah saham free float adalah sebanyak 15.694.413.334 saham atau 11,73%," ucapnya.
Menurutnya, pihak perseroan akan terus memantau kepatuhan terhadap aturan free float yang ditetapkan oleh Bursa.
Seperti diberitakan sebelumnya, FTSE Russell bakal mengeluarkan emiten milik Prajogo Pangestu, BREN dari indeks FTSE Global Equity Indonesia. Rencana itu disampaikan FTSE lewat pengumuman resmi yang disampaikan pada Kamis (19/9/2024).
“Barito Renewables Energy (Indonesia, BR2QH03, Large Cap addition), merupakan tambahan untuk seri Indeks FTSE Global All Cap dan indeks terkait, akan dihapus dari indeks FTSE Russell,” tulis FTSE lewat keterangan resmi, dikutip Jumat (20/9/2024).
FTSE beralasan BREN tidak memenuhi aturan ihwal ketentuan free float atau jumlah saham yang beredar di pasar reguler yang tertuang dalam aturan high shareholder concentration yang diamanatkan FTSE.
Rencanannya, BREN bakal dikeluarkan dari Indeks FTSE Russel pada Rabu 25 September 2024.
“Hal ini disebabkan oleh empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang beredar di Barito Renewables Energy,” tulis FTSE dalam keterangannya.
Di sisi lain, produk pelacak T+5 yang bakal diterbitkan hari ini bakal mencerminkan penghapusan BREN dari Indeks FTSE Russel nantinya.
Selepas kabar ini, saham BREN terjun ke level terendah pada pembukaan perdagangan Kamis (19/9) ke level Rp8.825 per saham atau anjlok 19,95%.
Sesaat pembukaan perdagangan, saham BREN telah diperdagangkan sebanyak 10,42 juta saham dengan nilai transaksi mencapai Rp92 miliar. Adapun, kapitalisasi pasar dari BREN telah menembus level Rp1.180,66 triliun.
Berdasarkan data RTI Business, jumlah saham free float dari BREN baru mencapai 11,731% per Agustus 2024.
Sementara itu, FTSE menilai BREN tidak sesuai dengan panduan 'Free Float Restrictions' lantaran pemegang saham pengendali dan asosiasinya menguasai 97% dari total saham yang diterbitkan oleh Barito Renewables Energy.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.