Galon polikarbonat yang digunakan berulang kali dapat menggantikan ratusan botol plastik sekali pakai, dan mengurangi jumlah sampah plastik. - Halaman all [399] url asal
JAKARTA, investor.id – Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon mengatakan, galon air minum dalam kemasan (AMDK) polikarbonat (PC) dapat mengurangi kebutuhan botol plastik sekali pakai. Menurut dia, satu galon polikarbonat yang digunakan berulang kali dapat menggantikan ratusan botol plastik sekali pakai, dan mengurangi jumlah sampah plastik yang dihasilkan.
“Galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun," ujar dia.
Bahkan, penggunaan satu galon AMDK polikarbonat secara teratur dapat menggantikan sekitar 200 hingga 300 kemasan plastik sekali pakai setiap tahunnya. Oleh karenanya, dengan jutaan galon polikarbonat yang digunakan, dampaknya terhadap pengurangan sampah plastik dapat sangat signifikan.
Selain mengurangi sampah plastik, penggunaan galon polikarbonat juga berkontribusi terhadap penurunan jejak karbon. Pasalnya, produksi galon plastik sekali pakai memerlukan energi lebih besar dibandingkan pembuatan dan penggunaan galon polikarbonat..
“Penggunaan galon guna ulang juga membuat Indonesia mengurangi penggunaan plastik virgin untuk membuat kemasan galon baru. Ini berarti dalam jangka panjang, penggunaan galon yang lebih tahan lama dapat meminimalkan total energi yang dibutuhkan untuk produksi wadah plastik. Ada sekitar 4.152 ton plastik virgin yang bisa kita hindarkan karena adanya galon guna ulang,” tutur Bisuk.
Pemerintah melalui Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019 pun sesungguhnya telah membuat roadmap agar target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30% di 2029 dapat tercapai. Dengan melaksanakan Permen ini, perusahaan dapat memberikan kontribusi sekaligus menghemat emisi karbon dan menangani dampak polusi limbah plastik
"Kita semua sepakat untuk mengurangi pencemaran sampah plastik di lingkungan, tidak lagi menggunakan single-use plastic," kata Pakar Teknologi Lingkungan ITB, Prof Enri Damanhuri.
Sebagai informasi, plastik PC lebih fleksibel, sehingga lebih tahan dari risiko pecah/retak. Plastik jenis ini juga memiliki ketahanan gores dan benturan yang lebih baik dengan suhu transisi gelas (Tg) lebih tinggi (Tg PC=150 derajat celcius, Tg PET = 70 derajat celcius), sehingga tahan untuk dicuci dengan suhu panas antara 60-80 derajat celcius dengan penyikatan menggunakan sikat plastik tanpa menyebabkan kerusakan pada permukaan kemasan.
“Galon PC memiliki densitas sedikit lebih rendah dibandingkan galon lain. Artinya, jika botol galon dibuat dengan bentuk dan ukuran serta ketebalan yang sama, galon dari PC akan memiliki berat yang lebih ringan dibandingkan galon lainnya,” ujar Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center IPB, Nugraha Edhi Suyatma.
Dalam upaya global untuk mengurangi sampah plastik, penggunaan galon polikarbonat menjadi salah satu solusi efektif. Galon yang sering digunakan untuk air minum ini menawarkan alternatif ramah lingkungan dibandingkan dengan galon sekali pakai.
Mulai dari hulu, pembuatan galon polikarbonat hanya 1 kali menggunakan plastik virgin karena setelahnya bisa dipakai ulang. Berbeda dengan kemasan sekali pakai yang terus menggunakan plastik virgin untuk membuat galon baru.
Mengutip laman aliansi zero waste, organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang lingkungan, proses ekstraksi atau pemurnian hingga produksi pelet plastik sebelum dibentuk sesuai kebutuhan membutuhkan energi yang besar. Hal ini tentu menghasilkan emisi karbon yang besar pula.
Proses pencetakan plastik ini membutuhkan suhu tinggi dari pembakaran batu bara dengan emisi karbon sebesar 535 Juta Metric Ton CO2. Dalam skala dunia, produksi pelet plastik ini menghasilkan 1.781 Million Metric Ton CO2 jejak karbon.
Permintaan produksi plastik saat ini meningkat hingga empat kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, jika permintaan plastik terus tumbuh secara konsisten sebesar 4% per tahun, emisi dari produksi plastik akan mencapai 15% dari emisi global pada 2050 mendatang. Bisa dibayangkan bagaimana banyaknya CO2 yang akan memenuhi bumi di masa depan!
"Ada sekitar 4.152 ton plastik virgin yang bisa kita hindarkan oleh karena adanya galon guna ulang," kata Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon dalam keterangan tertulis, Rabu (11/9/2024).
Selama pemakaian, galon polikarbonat juga lebih awet dan tahan lama. Ini berarti galon tersebut bisa bertahan bertahun-tahun jika dirawat dengan baik. Air yang berada di dalamnya juga bersih dan tidak terpapar zat kimia berbahaya bagi kesehatan.
Volume galon polikarbonat adalah 19 liter air, jumlahnya lebih banyak dibanding galon sekali pakai yang berisi 15 liter. Volume air dari galon ini pada akhirnya juga lebih efektif dalam mengurangi sampah plastik.
Menurut data dari Asosiasi Daur Ulang Plastik Internasional (APR), setiap galon polikarbonat yang digunakan ulang dapat menggantikan penggunaan hingga 100 galon plastik sekali pakai. Hal ini secara signifikan mampu mengurangi volume sampah.
"Galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun," tambah Bisuk.
Sedangkan di hilir, galon polikarbonat yang mengalami kerusakan atau sudah 50 kali dipakai ulang akan didaur ulang untuk menghasilkan galon baru. Ini jelas mengurangi dampak limbah plastik di tempat pembuangan akhir. Proses daur ulang polikarbonat juga memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan pembuatan plastik baru.
Tanggung jawab produsen yang menggunakan galon polikarbonat juga lebih nampak terlihat. Pasalnya, mereka 100 persen mengambil hasil produksi galon masing-masing secara terstruktur sehingga terpantau jelas.
Berbeda dengan galon sekali pakai yang hasil penarikan produknya diserahkan kepada masyarakat. Artinya, apabila masyarakat kurang sadar akan lingkungan, maka akan memberikan dampak bagi kehidupan mereka.
Penggunaan galon sekali pakai menghasilkan volume sampah plastik yang sangat besar. Plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dan sering kali mencemari lingkungan. Proses produksi dan pembuangan galon sekali pakai dapat melepaskan mikroplastik ke lingkungan yang berbahaya bagi ekosistem laut dan kesehatan manusia.
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2021, produksi sampah di Indonesia mencapai 68,5 juta ton. Dari angka tersebut, sebesar 11,6 juta ton atau sekitar 17% disumbang oleh sampah plastik.
Sedangkan dalam laporan terbaru dari United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2023, total sampah plastik yang dihasilkan secara global mencapai 500 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 50% adalah plastik sekali pakai yang kerap berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan.
"Jadi dari aspek lingkungan, kemasan galon polikarbonat lebih unggul karena lebih ramah lingkungan. Kemasan galon polikarbonat memiliki guna ulang yang lebih panjang dibandingkan galon lainnya," ungkap Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center IPB, Nugraha Edhi Suyatma.
Pilihan antara galon polikarbonat dan galon sekali pakai bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan memilih galon polikarbonat, Anda dapat turut berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik, menjaga kualitas air, dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih bagi generasi mendatang.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ema Setyawati, menyebut ada tujuh penyakit yang berkorelasi dengan risiko kontaminasi senyawa kimia Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang, sebutan populer untuk galon air minum bermerek yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.
"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada risiko kesehatan yang ditimbulkan akibat paparan BPA melalui mekanisme endocrine disruptor, khususnya hormon estrogen," kata Ema melalui keterangan tertulis, Kamis (15/8/2024).
Ema merinci ketujuh penyakit tersebut termasuk gangguan sistem reproduksi baik pria maupun wanita, diabetes dan obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal, kanker, gangguan perkembangan kesehatan mental dan Autism Spectrum Disorder (ASD) pada anak.
Ema menyatakan pemerintah mengantisipasi dampak kesehatan tersebut dengan mengeluarkan kebijakan pelabelan BPA. "Berdasarkan risiko kesehatan, jumlah konsumsi, dan data produk beredar, BPOM memandang perlu untuk segera melakukan pengaturan label Air Minum Dalam Kemasan," katanya.
Pada 5 April 2024, BPOM mengesahkan penambahan dua pasal baru pada peraturan tentang Label Pangan Olahan, yakni kewajiban pencantuman label cara penyimpanan air minum kemasan (Pasal 48a) dan kewajiban pencantuman label peringatan risiko BPA pada semua galon air minum bermerek yang menggunakan kemasan polikarbonat (Pasal 61A).
Nantinya, saat masa tenggang (grace periode) penerapan aturan tersebut berakhir pada 2028, produsen yang menggunakan kemasan polikarbonat wajib menerakan label peringatan "Dalam kondisi tertentu, kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA pada air minum dalam kemasan".
Bahaya Galon Guna Ulang
Masih dalam wawancara yang sama, Ema menyatakan mayoritas kemasan galon bermerek yang beredar di tengah masyarakat berbahan polikarbonat, jenis plastik keras yang pembuatannya menggunakan BPA sebagai bahan baku. Galon dengan kemasan plastik polikarbonat tersebut juga umumnya didistribusikan dengan sistem ‘guna ulang’, di mana produsen rutin menarik kembali galon kosong untuk dibersihkan di pabrik sebelum diisi dan dipasarkan kembali.
Kontaminasi BPA pada galon guna ulang, lanjutnya, berpotensi terjadi bila proses pencucian dan distribusi galon "tidak tepat", semisal saat produsen menyemprot galon bekas dengan suhu tinggi, menggunakan deterjen atau menggosok bagian dalam galon hingga tergores serta membiarkan galon terpapar sinar matahari langsung dalam waktu yang lama saat pengantaran ke konsumen.
"Penggunaan berulang dari kemasan galon tersebut dapat berpotensi terjadinya migrasi/pelepasan BPA," katanya.
Hal senada diungkap sebelumnya oleh peneliti polimer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Akbar Hanif Dawam Abdullah. Menurut Akbar, meskipun penggunaan BPA pada galon polikarbonat menjadikan galon kuat dan tahan panas, tetap ada potensi migrasi BPA dari kemasan ke air minum. "Selama bahan kemasan dibuat dari polimer polikarbonat, potensi migrasi BPA dipastikan tetap ada. BPA bisa masuk ke dalam tubuh dan mengganggu fungsi kerja hormon," katanya.
Karena itulah, Ema mendesak industri melakukan "monitoring mandiri secara berkala" terhadap persyaratan keamanan dan kemasan pangan dan menerapkan cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB) secara konsisten.
Dalam peraturan Label Pangan Olahan, BPOM mewajibkan produsen galon bermerek mematuhi ambang batas aman migrasi BPA dari kemasan polikarbonat sebesar 0,6 mg per kg. Riset komprehensif BPOM kurun 2021-2022 mendapati peluruhan BPA pada galon air minum dengan kemasan plastik polikarbonat "menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan", dengan lima provinsi tercatat memiliki angka migrasi BPA melampaui ambang batas aman.
Sebelumnya, pakar epidemologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, menyatakan BPA sejak lama telah diklasifikasikan sebagai bahan kimia pengganggu endokrin, sistem kekebalan dalam tubuh. Menurutnya, BPA bisa memunculkan efek kesehatan pada semua lapisan kalangan umur, termasuk atas janin pada periode prenatal. "Industri yang menggunakan wadah produk makanan dan minuman dari plastik yang mengandung BPA diminta untuk beralih ke wadah yang lebih aman dan bebas BPA," pungkasnya.