#30 tag 24jam
Golkar dan Gerindra Jajaki Peluang Koalisi di Pilgub Jakarta
Zaki menyerahkan keputusan koalisi dengan Gerindra kepada DPP Golkar. [384] url asal
#koalisi-golkar-gerindra #golkar #gerindra #pilgub-jakarta #pilkada-dki-jakarta
(Republika - News) 18/07/24 19:56
v/11214544/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- DPD Partai Golkar dan Gerindra DKI Jakarta menjajaki koalisi menjelang pelaksanaan Pilkada Jakarta pada November 2024. Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta Ahmed Zaki mengatakan di Jakarta, Kamis (18/7/2024), keduanya sedang mempersiapkan berbagai tahapan untuk menghadapi Pilkada Jakarta.
Menurut dia, komunikasi dengan Partai Gerindra berjalan sangat baik karena pernah masuk dalam koalisi yang sama yakni Koalisi Indonesia Maju (KIM) di Pilpres 14 Februari 2024. Sejauh ini, lanjut Zaki, pihaknya mengeluarkan empat surat tugas untuk bakal calon gubernur dan wakil gubernur (Bacagub/Bacawagub) Jakarta di internal partai, yakni dirinya, Wakil Ketua DPP Golkar Erwin Aksa dan Wakil Ketua DPP Golkar Ridwan Kamil.
Belakangan, katanya, pengusaha tol, Jusuf Hamka alias Babah Alun juga mendapatkan surat tugas dari DPP Golkar dan hingga kini, DPD Golkar menghargai keputusan DPP tersebut.
"Begitu juga kami menunggu Gerindra, nanti mungkin ada tahapan yang sedang dilalui, sampai kami serahkan keputusannya kepada DPP masing-masing. Mudah-mudahan kami di Jakarta bisa bekerja sama lagi," ujarnya.
Kendati demikian, dia tak menjelaskan secara detail soal kerja sama tersebut. Zaki pun menyerahkan keputusan koalisi dengan Gerindra itu kepada DPP Golkar.
"Pasti nanti (kerja sama) dibicarakan oleh DPP masing-masing," kata dia.
Mantan Bupati Tangerang dua periode 2018-2023 itu mengaku belum mendapatkan instruksi lebih lanjut soal kader Golkar yang mendapatkan tiket untuk bursa Bacagub/Bacawagub Jakarta. Dia meminta publik untuk menunggu keputusan tersebut karena ranah dari DPP Golkar.
"Entah surat tugas atau surat perintahnya, kita lihat nanti dari DPP. Hari ini maksudnya belum (ada keputusan) entah Babah Alun, atau kami yang bertiga (Ridwan Kamil, Erwin Aksa dan Zaki) ini belum menerima instruksi lebih lanjut, nanti kita tunggu saja," paparnya.
Sementara itu, Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, pihaknya juga masih menunggu putusan dari DPP Gerindra terkait nama yang dicalonkan dalam bursa Bacagub/Bacawagub Jakarta. Namun, sejauh ini sudah ada empat nama yang diajukan DPD Gerindra kepada DPP, yakni dirinya, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, Budisatrio Djiwandono dan Sekretaris DPD Gerindra DKI Rani Maulani.
"Kalau di Golkar punya Bang Zaki, di Gerindra punya Mbak Rani yang juga bisa dicalonkan (Pilkada Jakarta), seluruhnya kami sampaikan ke DPP. Siapa pun nanti, kami berdua sepakat, ingin mempersiapkan tim pemenangan di pilkada sehingga siapa pun yang diputuskan oleh para pimpinan mesinnya sudah siap," kata mantan Wagub DKI Jakarta itu.
Aroma Pecah Kongsi Gerindra-Golkar di Jabar dan Jakarta
Aroma pecah kongsi antara Gerindra dan Golkar kian terasa dalam Pilkada Jabar dan Jakarta. [1,037] url asal
#golkar #gerindra #golkar-gerindra #pecah-kongsi #ridwan-kamil #dedi-mulyadi #pilkada-2024 #pilkada-serentak #pilkada-serentak-2024
(Bisnis.Com) 15/07/24 05:36
v/10827838/
Bisnis.com, JAKARTA -- Ide koalisi tetap para partai pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 terancam bubar jalan di Pemilihan Kepala Daerah alias Pilkada Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Dua partai terbesar di koalisi tersebut, Golkar dan Gerindra, berebut pengaruh. Golkar memiliki jagoan, Ridwan Kamil, untuk bertarung sebagai kandidat calon gubernur di Jawa Barat. Sementara itu di Jakarta, Golkar telah mendorong nama Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo alias Jokowi.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Freidrich mengungkapkan bahwa usulan nama Kaesang untuk Pilgub Jakarta memperjelas posisi Golkar. Pasalnya, dengan keputusan politik tersebut, secara otomatis Ridwan Kamil tetap maju di Jabar.
“Iya karena itu, otomatis Pak RK akan tetap di Jawa Barat,” kata Wakil Ketua DPR itu.
Adapun Gerindra memiliki sosok Dedi Mulyadi yang bisa diajukan sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat. Dedi adalah bekas kader Golkar. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama 2 periode. Namun Dedi kemudian pindah haluan dari Golkar ke Gerindra pada Mei 2023 lalu. Sedangkan di Jakarta, Gerindra telah secara terbuka mengungkapkan dukungannya kepada Ridwan Kamil.
Soal potensi pecah kongsi, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyebut anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM) berupaya untuk satu suara saat mencalonkan pasangan nama untuk Pilkada 2024 di Provinsi Jawa Barat dan Jakarta.
Dia juga menilai wajar jika saat ini masing-masing partai masih menggodok nama-nama yang potensial dan mengusulkan kader-kadernya untuk maju pada kontestasi Pilkada Jawa Barat (Jabar) dan Jakarta.
"Kami memang di Koalisi Indonesia Maju sudah bersepakat sebisa mungkin kami maksimalkan di Jawa Barat, di DKJ (Daerah Khusus Jakarta, red.). Ini kami bersama-sama dengan teman-teman KIM mengusung satu pasangan calon yang kami sepakati bersama. Jadi, kurang lebih seperti itu," kata Eddy dilansir Antara, Minggu (14/7/2024).
Eddy juga menyebut untuk di Jakarta partai-partai KIM juga punya misi sama mengalahkan petahana (incumbent), yaitu Anies Baswedan, yang bulan lalu telah mendapatkan dukungan maju sebagai calon Gubernur Jakarta dari DPW PKB.
"Kami melihat pertarungan di Jakarta ini memang banyak yang ingin maju. Akan tetapi, peluangnya bagaimana untuk mengalahkan petahana? Tentu ya perlu diperhitungkan karena petahana biasanya diunggulkan," kata Sekjen PAN.
Sementara itu, untuk Jawa Barat, Sekjen PAN menyebut partai-partai KIM saat ini masih menggelar survei akhir untuk menentukan nama-nama yang mereka usung.
"Nah, nanti kita lihat output dari surveinya bagaimana untuk kami menentukan secara final karena sekali sudah kami tentukan, sekali kami umumkan, kita enggak mau tarik kembali karena nanti akan membingungkan masyarakat," kata Eddy.
Tren Elektabilitas
Sementara itu, rilis terbaru Indikator Politik mengungkap bahwa Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi bersaing di hampir semua simulasi. Simulasi 26 nama, misalnya, Ridwan Kamil memimpin dengan tingkat keterpilihan atau elektabilitas sebanyak 36,8%. Dedi Mulyadi berada di peringkat kedua dengan elektabilitas sebesar 31,19%.
Sementara itu peringkat ketiga, ada sosok pesohor dan komedian Alfiansyah alias Komeng yang memiliki elektabilitas 5,6%. Komeng adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih. Pada pemilihan legislatif atau Pileg 2024 lalu, ia memperoleh suara cukup fantastis 5,3 juta.
Nama Komeng bahkan unggul dibandingkan politikus Partai Demokrat, Dede Yusuf dan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu yang elektabilitasnya masing-masing hanya 3% dan 2,8%.
Sementara itu, jika mengacu kepada simulasi 12 nama, sosok Komeng tidak muncul di survei versi Indikator. Meski demikian, laiknya simulasi 26 nama, Kang Emil dan Dedi Mulyadi tetap bersaing. Elektabilitas keduanya masing-masing sebesar 44,5% dan 33,2%.
Di bawah Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi ada nama Dede Yusuf 5,4%, Bima Arya Sugiarto 2,2%, hingga Desy Ratnasari yang memiliki elektabilitas 1,8%.
Kendati telah muncul nama kandidat calon gubernur yang beredar setidaknya masih versi hasil survei, partai politik sampai saat ini masih belum bulat untuk menentukan siapa sosok yang akan bertarung di daerah lumbung suara tersebut.
Golkar Optimistis Menang
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (Jabar) Ace Hasan Syadzily percaya diri (pede) Ridwan Kamil akan menang apabila melawan calon lain termasuk Sandiaga Uno dalam ajang Pilkada Jabar 2024.
Ace tidak menampik apabila belakangan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mewacanakan untuk mengusung Sandiaga Uno sebagai bakal calon gubernur Jabar 2024. Meski demikian, dia meyakini posisi Ridwan Kamil masih aman.
"Terakhir survei yang dipublikasikan Indikator Politik Indonesia menunjukan bahwa kepuasan publik terhadap Kang Emil sangat tinggi, termasuk juga masyarakat yang tetep ingin Kang Emil menjadi gubernur Jawa Barat cukup tinggi. Jadi bagi kami-kami tidak terlalu khawatir," ujar Ace di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2024).
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa Golkar belum memutuskan siapa calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung dalam kontestasi Pilkada Jabar 2024.
Golkar, lanjut Ace, masih akan menanti hasil survei selanjutnya sebelum mengambil keputusan final soal sosok yang akan diusung menjadi calon gubernur dan wakil gubernur Jabar 2024.
"Kita tunggu hasilnya," jelas wakil ketua Komisi VIII DPR itu.
Adapun hasil pemilu 2024 lalu, mengungkap bahwa Gerinda mendominasi DPRD Jawa Barat dengan perolehan 20 kursi. PKS dan PKB masing-masing-masing memperoleh 19 kursi, PDIP 17 kursi, PKB 15 kursi, Demokrat dan Nasdem memperoleh 8 kursi, PPP 6 kursi dan PSI 1 kursi.
Perolehan kursi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satupun partai yang bisa mengajukan kandidat sendiri dalam kontestasi Pilgub Jabar 2024. Semua partai buruh koalisi.
Alasan Gerindra Dukung RK
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi membeberkan alasan dari Partai Gerindra kekeuh mendorong Ridwan Kamil mencalonkan diri di Pilkada DKI Jakarta.
Ia mengemukakan jika Ridwan Kamil diusung oleh Partai Golkar di Pilkada Jawa Barat, maka Partai Gerindra tidak mungkin bisa menang jika mengusung Dedi Mulyadi.
Maka dari itu, menurut Burhanuddin, Partai Gerindra sampai saat ini terus melobi dan mendorong Partai Golkar akan mengusung Ridwan Kamil di Pilkada DKI Jakarta.
"Kalau Ridwan Kamil diusung oleh Partai Golkar untuk ikut Pilkada DKI Jakarta, maka kemungkinan menangnya sangat kecil dan suara dia di Jawa Barat akan lari ke Dedi Mulyadi," tuturnya di Jakarta, Kamis (4/7).
Burhanuddin menjelaskan meskipun Partai Golkar dan Partai Gerindra sempat satu kolam pada Pilpres 2024 kemarin, namun untuk Pilkada kedua partai tersebut bakal berkompetisi, terutama di Pilkada Jawa Barat.
Pasalnya, menurut Burhanuddin, Partai Golkar akan mengusung Ridwan Kamil dan Partai Gerindra bakal mengusung Dedi Mulyadi untuk Pilkada Jawa Barat.
"Ini menarik, meskipun kedua partai itu satu kolam saat Pilpres 2024 kemarin, tapi untuk Pilkada Jawa Barat mereka berkompetisi karena memiliki kader masing-masing yang kompeten
Aroma Pecah Kongsi Gerindra-Golkar di Jabar dan Jakarta
Aroma pecah kongsi antara Gerindra dan Golkar kian terasa dalam Pilkada Jabar dan Jakarta. [1,037] url asal
#golkar #gerindra #golkar-gerindra #pecah-kongsi #ridwan-kamil #dedi-mulyadi #pilkada-2024 #pilkada-serentak #pilkada-serentak-2024
(Bisnis.Com) 15/07/24 05:36
v/10810051/
Bisnis.com, JAKARTA -- Ide koalisi tetap para partai pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 terancam bubar jalan di Pemilihan Kepala Daerah alias Pilkada Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Dua partai terbesar di koalisi tersebut, Golkar dan Gerindra, berebut pengaruh. Golkar memiliki jagoan, Ridwan Kamil, untuk bertarung sebagai kandidat calon gubernur di Jawa Barat. Sementara itu di Jakarta, Golkar telah mendorong nama Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo alias Jokowi.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Freidrich mengungkapkan bahwa usulan nama Kaesang untuk Pilgub Jakarta memperjelas posisi Golkar. Pasalnya, dengan keputusan politik tersebut, secara otomatis Ridwan Kamil tetap maju di Jabar.
“Iya karena itu, otomatis Pak RK akan tetap di Jawa Barat,” kata Wakil Ketua DPR itu.
Adapun Gerindra memiliki sosok Dedi Mulyadi yang bisa diajukan sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat. Dedi adalah bekas kader Golkar. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama 2 periode. Namun Dedi kemudian pindah haluan dari Golkar ke Gerindra pada Mei 2023 lalu. Sedangkan di Jakarta, Gerindra telah secara terbuka mengungkapkan dukungannya kepada Ridwan Kamil.
Soal potensi pecah kongsi, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyebut anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM) berupaya untuk satu suara saat mencalonkan pasangan nama untuk Pilkada 2024 di Provinsi Jawa Barat dan Jakarta.
Dia juga menilai wajar jika saat ini masing-masing partai masih menggodok nama-nama yang potensial dan mengusulkan kader-kadernya untuk maju pada kontestasi Pilkada Jawa Barat (Jabar) dan Jakarta.
"Kami memang di Koalisi Indonesia Maju sudah bersepakat sebisa mungkin kami maksimalkan di Jawa Barat, di DKJ (Daerah Khusus Jakarta, red.). Ini kami bersama-sama dengan teman-teman KIM mengusung satu pasangan calon yang kami sepakati bersama. Jadi, kurang lebih seperti itu," kata Eddy dilansir Antara, Minggu (14/7/2024).
Eddy juga menyebut untuk di Jakarta partai-partai KIM juga punya misi sama mengalahkan petahana (incumbent), yaitu Anies Baswedan, yang bulan lalu telah mendapatkan dukungan maju sebagai calon Gubernur Jakarta dari DPW PKB.
"Kami melihat pertarungan di Jakarta ini memang banyak yang ingin maju. Akan tetapi, peluangnya bagaimana untuk mengalahkan petahana? Tentu ya perlu diperhitungkan karena petahana biasanya diunggulkan," kata Sekjen PAN.
Sementara itu, untuk Jawa Barat, Sekjen PAN menyebut partai-partai KIM saat ini masih menggelar survei akhir untuk menentukan nama-nama yang mereka usung.
"Nah, nanti kita lihat output dari surveinya bagaimana untuk kami menentukan secara final karena sekali sudah kami tentukan, sekali kami umumkan, kita enggak mau tarik kembali karena nanti akan membingungkan masyarakat," kata Eddy.
Tren Elektabilitas
Sementara itu, rilis terbaru Indikator Politik mengungkap bahwa Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi bersaing di hampir semua simulasi. Simulasi 26 nama, misalnya, Ridwan Kamil memimpin dengan tingkat keterpilihan atau elektabilitas sebanyak 36,8%. Dedi Mulyadi berada di peringkat kedua dengan elektabilitas sebesar 31,19%.
Sementara itu peringkat ketiga, ada sosok pesohor dan komedian Alfiansyah alias Komeng yang memiliki elektabilitas 5,6%. Komeng adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih. Pada pemilihan legislatif atau Pileg 2024 lalu, ia memperoleh suara cukup fantastis 5,3 juta.
Nama Komeng bahkan unggul dibandingkan politikus Partai Demokrat, Dede Yusuf dan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu yang elektabilitasnya masing-masing hanya 3% dan 2,8%.
Sementara itu, jika mengacu kepada simulasi 12 nama, sosok Komeng tidak muncul di survei versi Indikator. Meski demikian, laiknya simulasi 26 nama, Kang Emil dan Dedi Mulyadi tetap bersaing. Elektabilitas keduanya masing-masing sebesar 44,5% dan 33,2%.
Di bawah Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi ada nama Dede Yusuf 5,4%, Bima Arya Sugiarto 2,2%, hingga Desy Ratnasari yang memiliki elektabilitas 1,8%.
Kendati telah muncul nama kandidat calon gubernur yang beredar setidaknya masih versi hasil survei, partai politik sampai saat ini masih belum bulat untuk menentukan siapa sosok yang akan bertarung di daerah lumbung suara tersebut.
Golkar Optimistis Menang
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (Jabar) Ace Hasan Syadzily percaya diri (pede) Ridwan Kamil akan menang apabila melawan calon lain termasuk Sandiaga Uno dalam ajang Pilkada Jabar 2024.
Ace tidak menampik apabila belakangan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mewacanakan untuk mengusung Sandiaga Uno sebagai bakal calon gubernur Jabar 2024. Meski demikian, dia meyakini posisi Ridwan Kamil masih aman.
"Terakhir survei yang dipublikasikan Indikator Politik Indonesia menunjukan bahwa kepuasan publik terhadap Kang Emil sangat tinggi, termasuk juga masyarakat yang tetep ingin Kang Emil menjadi gubernur Jawa Barat cukup tinggi. Jadi bagi kami-kami tidak terlalu khawatir," ujar Ace di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2024).
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa Golkar belum memutuskan siapa calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung dalam kontestasi Pilkada Jabar 2024.
Golkar, lanjut Ace, masih akan menanti hasil survei selanjutnya sebelum mengambil keputusan final soal sosok yang akan diusung menjadi calon gubernur dan wakil gubernur Jabar 2024.
"Kita tunggu hasilnya," jelas wakil ketua Komisi VIII DPR itu.
Adapun hasil pemilu 2024 lalu, mengungkap bahwa Gerinda mendominasi DPRD Jawa Barat dengan perolehan 20 kursi. PKS dan PKB masing-masing-masing memperoleh 19 kursi, PDIP 17 kursi, PKB 15 kursi, Demokrat dan Nasdem memperoleh 8 kursi, PPP 6 kursi dan PSI 1 kursi.
Perolehan kursi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satupun partai yang bisa mengajukan kandidat sendiri dalam kontestasi Pilgub Jabar 2024. Semua partai buruh koalisi.
Alasan Gerindra Dukung RK
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi membeberkan alasan dari Partai Gerindra kekeuh mendorong Ridwan Kamil mencalonkan diri di Pilkada DKI Jakarta.
Ia mengemukakan jika Ridwan Kamil diusung oleh Partai Golkar di Pilkada Jawa Barat, maka Partai Gerindra tidak mungkin bisa menang jika mengusung Dedi Mulyadi.
Maka dari itu, menurut Burhanuddin, Partai Gerindra sampai saat ini terus melobi dan mendorong Partai Golkar akan mengusung Ridwan Kamil di Pilkada DKI Jakarta.
"Kalau Ridwan Kamil diusung oleh Partai Golkar untuk ikut Pilkada DKI Jakarta, maka kemungkinan menangnya sangat kecil dan suara dia di Jawa Barat akan lari ke Dedi Mulyadi," tuturnya di Jakarta, Kamis (4/7).
Burhanuddin menjelaskan meskipun Partai Golkar dan Partai Gerindra sempat satu kolam pada Pilpres 2024 kemarin, namun untuk Pilkada kedua partai tersebut bakal berkompetisi, terutama di Pilkada Jawa Barat.
Pasalnya, menurut Burhanuddin, Partai Golkar akan mengusung Ridwan Kamil dan Partai Gerindra bakal mengusung Dedi Mulyadi untuk Pilkada Jawa Barat.
"Ini menarik, meskipun kedua partai itu satu kolam saat Pilpres 2024 kemarin, tapi untuk Pilkada Jawa Barat mereka berkompetisi karena memiliki kader masing-masing yang kompeten
Golkar dan Gerindra Berpotensi Pecah Kongsi di Pilgub Jabar
Golkar dan Gerindra berpotensi pecah kongsi di Pemilihan Gubernur atau Pilgub Jabar. [860] url asal
#gerindra #ridwan-kamil #golkar #golkar-gerindra #pilgub-jabar #jawa-barat
(Bisnis.Com) 12/07/24 08:50
v/10507341/
Bisnis.com, JAKARTA -- Golkar dan Gerindra berpotensi pecah kongsi di Pemilihan Gubernur atau Pilgub Jawa Barat (Jabar). Proses penentuan calon gubernur sebagai pemicunya.
Gerindra semula mendorong Ridwan Kamil (RK) untuk maju sebagai calon gubernur di DKI Jakarta. Sementara, kader Gerindra, Dedi Mulyadi, bisa maju di Pilgub Jabar. Namun demikian, Golkar tetap berkukuh supaya RK tetap bertarung di Jawa Barat.
Sikap Golkar semakin jelas ketika Sekretaris Jenderal (Sekjen) Golkar, Lodewijk Freidrich Paulus menyampaikan niatnya untuk mengusung duet Kaesang Pangarep-Jusuf Hamka di Pilgub Jakarta.
“Iya karena itu, otomatis Pak RK akan tetap di Jawa Barat,” katanya kepada wartawan di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Kamis (11/7/2024).
Menurutnya, pengambilan keputusan Golkar telah didasarkan kepada berbagai pertimbangan, salah satunya survei elektabilitas.
Selain itu, dia menyebut bahwa Golkar tidak sendiri dalam mengambil keputusan mengenai Pilkada serentak, melainkan juga melihat pertimbangan dari Koalisi Indonesia Maju (KIM).
“Dari koalisi ini kita melihat realita politik di lapangan. Itulah yang perlu kita combine, di mana ada kelemahan, di situ kita atur. Secara geopolitik pasti masing-masing wilayah berbeda,” jelas Lodewijk.
Tren Elektabilitas
Rilis terbaru Indikator Politik mengungkap bahwa Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi bersaing di hampir semua simulasi. Simulasi 26 nama, misalnya, Ridwan Kamil memimpin dengan tingkat keterpilihan atau elektabilitas sebanyak 36,8%. Dedi Mulyadi berada di peringkat kedua dengan elektabilitas sebesar 31,19%.
Sementara itu peringkat ketiga, ada sosok pesohor dan komedian Alfiansyah alias Komeng yang memiliki elektabilitas 5,6%. Komeng adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih. Pada pemilihan legislatif atau Pileg 2024 lalu, ia memperoleh suara cukup fantastis 5,3 juta.
Nama Komeng bahkan unggul dibandingkan politikus Partai Demokrat, Dede Yusuf dan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu yang elektabilitasnya masing-masing hanya 3% dan 2,8%.
Adapun, jika mengacu kepada simulasi 12 nama, sosok Komeng tidak muncul di survei versi Indikator. Meski demikian, laiknya simulasi 26 nama, Kang Emil dan Dedi Mulyadi tetap bersaing. Elektabilitas keduanya masing-masing sebesar 44,5% dan 33,2%.
Di bawah Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi ada nama Dede Yusuf 5,4%, Bima Arya Sugiarto 2,2%, hingga Desy Ratnasari yang memiliki elektabilitas 1,8%.
Kendati telah muncul nama kandidat calon gubernur yang beredar setidaknya masih versi hasil survei, partai politik sampai saat ini masih belum bulat untuk menentukan siapa sosok yang akan bertarung di daerah lumbung suara tersebut.
Dalam catatan Bisnis, Golkar dan Gerindra masih belum sepakat mengenai masa depan Ridwan Kamil di Pilgub Jawa Barat. Gerindra mendorong mantan Gubernur Jawa Barat (2018-2023) itu maju di DKI Jakarta. Jika itu terjadi kemungkinan kans kadernya untuk maju yakni Dedi Mulyadi kian terbuka.
Namun demikian, partai beringin (Golkar) sebagai tempat Ridwan Kamil (RK) bernaung belum memberikan lampu hijau. Golkar ingin RK tetap bertarung di Pilgub Jawa Barat. Pertimbangannya, elektabilitas RK jauh lebih tinggi di Jawa Barat dibandingkan di Jakarta.
Golkar Siapkan RK
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (Jabar) Ace Hasan Syadzily percaya diri (pede) Ridwan Kamil akan menang apabila melawan calon lain termasuk Sandiaga Uno dalam ajang Pilkada Jabar 2024.
Ace tidak menampik apabila belakangan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mewacanakan untuk mengusung Sandiaga Uno sebagai bakal calon gubernur Jabar 2024. Meski demikian, dia meyakini posisi Ridwan Kamil masih aman.
"Terakhir survei yang dipublikasikan Indikator Politik Indonesia menunjukan bahwa kepuasan publik terhadap Kang Emil sangat tinggi, termasuk juga masyarakat yang tetep ingin Kang Emil menjadi gubernur Jawa Barat cukup tinggi. Jadi bagi kami-kami tidak terlalu khawatir," ujar Ace di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2024).
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa Golkar belum memutuskan siapa calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung dalam kontestasi Pilkada Jabar 2024.
Golkar, lanjut Ace, masih akan menanti hasil survei selanjutnya sebelum mengambil keputusan final soal sosok yang akan diusung menjadi calon gubernur dan wakil gubernur Jabar 2024.
"Kita tunggu hasilnya," jelas wakil ketua Komisi VIII DPR itu.
Adapun hasil pemilu 2024 lalu, mengungkap bahwa Gerinda mendominasi DPRD Jawa Barat dengan perolehan 20 kursi. PKS dan PKB masing-masing-masing memperoleh 19 kursi, PDIP 17 kursi, PKB 15 kursi, Demokrat dan Nasdem memperoleh 8 kursi, PPP 6 kursi dan PSI 1 kursi.
Perolehan kursi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satupun partai yang bisa mengajukan kandidat sendiri dalam kontestasi Pilgub Jabar 2024. Semua partai butuh koalisi.
Gerindra dan Ridwan Kamil
Juni lalu, Gerindra mendorong Ridwan Kamil maju sebagai calon gubernur untuk melawan Anies Baswedan yang semakin banyak dapat dukungan menjelang pemilihan gubernur alias Pilgub Jakarta 2024.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman menjelaskan, pihaknya terus jalin komunikasi dengan Partai Golkar ihwal Pilkada Jakarta 2024. Terutama, lanjutnya, agar Golkar mengusung Ridwan Kamil menjadi bakal calon gubernur Jakarta 2024.
"Menurut kami lebih baik RK [sapaan Ridwan Kamil] ke Jakarta," ujar Habiburokhman di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2024).
Apalagi, wakil ketua Komisi III DPR ini menilai Ridwan Kamil menjadi sosok yang paling pas untuk melawan Anies. Menurutnya, warga Jakarta cenderung lebih tertarik dengan sosok baru daripada tokoh lama seperti Anies.
Habiburokhman mencontohkan, meski Anies merupakan mantan gubernur DKI Jakarta namun perolehan suaranya tetap kalah dari Prabowo Subianto di ibu kota negara itu dalam ajang Pilpres 2024.
"Penantangnya [Anies] insyaAllah akan menang jika kita cari calon kuat seperti Pak RK, kenapa? Karena rakyat Jakarta ini selalu ingin yang baru," katanya.