#30 tag 24jam
Kapal Besar 'KIM Plus' Terancam Karam Diterjang Gelombang Perpecahan?
Ibarat kapal besar KIM Plus harus berdamai dengan realitas politik lokal yang jauh berbeda dibandingkan situasi nasional. [909] url asal
#kim-plus #pdip #koalisi-indonesia-maju #golkar #pecah-kongsi #kim-plus #pdip #airin #pilkada-banten
(Bisnis.Com) 28/08/24 07:35
v/14786006/
Bisnis.com, JAKARTA -- Semula Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus diharapkan solid dalam pemilihan kepala daerah alias Pilkada 2024. Namun harapan tinggalah harapan. Realitas politik lokal ternyata tidak sama dengan nasional. 'Kapal besar' inipun terancam oleng diterjang gelombang perpecahan.
KIM Plus adalah gabungan koalisi partai pendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dengan partai politik yang berseberangan selama pemilihan presiden alias Pilpres 2024. Koalisi ini beranggotakan mayoritas partai parlemen yakni Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, Nasdem, PKS, dan PKB dan partai nonparlemen seperti PPP, PSI, hingga Partai Prima.
Pada awalnya, KIM Plus telah bersepakat untuk mengusung calon kepala daerah yang sama, terutama di provinsi-provinsi strategis. Di Sumatra Utara mereka mengusung Bobby Nasution, Jakarta Ridwan Kamil, Banten Andra Soni, Jawa Barat Dedi Mulyani, Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah.
Menariknya mayoritas calon gubernur di koalisi tersebut berasal dari Gerindra. Bobby setelah keluar dari PDIP tercatat bergabung dengan Gerindra, begitupula dengan Andra Soni, Dedi Mulyani, hingga De Gadjah merupakan kader Gerindra. Di luar itu, nama Ahmad Luthfi telah dideklarasikan pertama kali oleh Gerindra.
Namun putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No.60/PUU-XXII/2024 tentang ambang batas alias threshold pencalonan PIlkada 2024 mengubah konstelasi. PDIP atau partai lain yang semula tidak bisa mengusung calonnya di Banten, Jakarta, dan Jawa Timur secara sendirian, bisa bernafas lega karena acuannya tidak lagi ke angka 20%. Skenario kotak kosong pun runtuh seketika.
Di Banten misalnya, Golkar yang merupakan partai pemilik kursi paling banyak di KIM Plus berbalik arah. Golkar akhirnya mengusung kadernya sendiri, Airin Rachmi Diany. Airin sebelumnya telah dideklarasikan sebagai calon gubernur alias cagub oleh PDI Perjuangan alias PDIP. Ia bahkan sempat diisukan akan bergabung dengan partai berlambang banteng tersebut.
Sementara itu di Jawa Barat, KIM Plus juga terpecah. PKS dan Nasdem mulai menjajaki jalannya sendiri. Mereka tidak mendukung Dedi Mulyadi dan rencananya akan mengusung calonnya sendiri yakni Presiden PKS Ahmad Syaikhu yang berpasangan dengan putra Pressiden BJ Habibie, Ilham Habibie.
Kondisi serupa juga terjadi di Bali, KIM Plus pecah, sejumlah partai yang di tingkat pusat bergabung dengan KIM Plus menolak bergabung untuk memilih dan mendukung pasangan De Gadjah-Putu Agus Suradnyana.
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengklaim bahwa presiden terpilih Prabowo Subianto telah menyerahkan kepada partai-partai Anggita Koalisi Indonesia Maju (KIM) untuk menentukan sikap politik masing-masing.
Kendati demikian, Bahlil menegaskan bahwa KIM yang mengusung Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming pada Pilptes 2024 sangat kompak.
"Pak Prabowo dalam beberapa kesempatan menyampaikan, menyerahkan semuanya kepada partai-partai koalisi untuk menentukan sikap politiknya sekalipun tidak kita berbeda. Sekalipun kita berbeda pilihan dalam pilkada," katanya Selasa kemarin.
Andra Soni-Dimyati Kena Prank
Sementara itu, bakal pasangan calon gubernur-wakil gubernur Banten Andra Soni dan Dimyati Natakusumah menyebut aksi zigzag Partai Golkar sebagai sebuah drama.
Andra mengklaim sejak mendeklarasikan diri untuk menjadi peserta pilkada jauh-jauh hari, jumlah dukungan partai masih sama hingga kini.
"Bahwa kemarin ada dinamika bertambah dalam waktu satu hari, dan kemudian berkurang juga dalam satu hari, itu adalah dinamika drama yang hadir dalam proses Pilkada," ujar dia dilansir dari Antara.
Namun, Andra melihat bahwa keputusan Partai Golkar yang mengalihkan dukungannya pada pasangan lawan, Airin Rachmi Diany dan Ade Sumardi, adalah kedaulatan masing-masih partai dalam menentukan pasangan calon.
"Dan seperti yang pernah disampaikan kepada pimpinan, kita tidak pernah memaksa, kita juga tidak pernah mengatur bagaimana proses komunikasi di masing-masing partai politik," tegas Andra.
Yakin Menang Mutlak
Sementara itu, di Jawa Barat, pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan telah mendaftar ke KPU. Kalau PKS dan Nasdem berbalik arah, maka mereka dipastikan akan melawan Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie.
Kendati demikian, Dedi berharap pertarungan selama masa kampanye di Pilgub Jabar 2024 menghindari isu politik identitas.
Dedi Mulyadi mengatakan dirinya sering menjadi korban dari politik identitas, karena itu pihaknya berharap pasangan calon lain tidak menggunakan isu ini saat masa kampanye berlangsung nanti.
"Mudah-mudahan tidak ada pasangan calon lain yang menggunakan isu politik identitas untuk menyerang lawan politik," katanya usai mendaftar Pilgub Jabar 2024 di KPU Jabar, Bandung, Selasa (27/8/2024).
Dedi Mulyadi memastikan dirinya bersama Erwan siap berkompetisi dengan siapapun dalam Pilgub Jabar karena warga Jabar sudah dewasa dalam menentukan pilihan. Saat ditanya target kemenangan dalam Pilgub, Dedi menjawab tegas.
"Menang mutlak dong," katanya.
Banteng Vs Banteng di Bali
Sementara itu, pertarungan menarik akan tersaji di Bali, calon PDI Perjuangan (PDIP) yakni I Wayan Koster dan Nyoman Giri Prasta akan melawan KIM Plus yang mendukung Made Mulyawan Arya alias De Gadjah dan Putu Agus Suradnyana. Agus Suradnyana adalah bekas kader PDIP.
I Wayan Koster adalah Ketua DPD PDIP Bali. Ia pernah menjadi anggota DPR dari Fraksi PDIP dan menjabat Gubernur Bali 2018-2023 lalu. Begitupula dengan I Nyoman Giri Prasta, tokoh pemuda dari Kabupaten Badung, Bali.
Ia pernah duduk sebagai Ketua DPRD Badung. Giri Prasta kemudian menjabat sebagai Bupati Badung. Prasta cukup populer di kalangan masyarakat Bali.
De Gadjah adalah tokoh pemuda Bali dan merupakan Ketua DPD Gerindra Bali. Sementara wakilnya Putu Agus Suradnyana adalah mantan Bupati Buleleng 2 periode dan mantan Ketua DPC PDIP Buleleng. Suradnyana kemudian dipecat karena maju menjadi cawagub De Dadjah.
Baik Koster dan Agus Suradnyana keduanya adalah politikus asal Bali Utara, Buleleng yang juga memiliki sejarah yang kental dengan PDIP. Sedangkan Giri Prasta dan De Gadjah, keduanya sempat identik dengan ormas kepemudaan yakni Baladika dan Pemuda Bali Bersatu.
Hanya saja berbeda dengan daerah lain, dominasi PDIP di level legislatif Bali sangat kuat. PDIP memiliki 32 kursi di DPRD Bali. Sementara itu, partai lainnya yang terbang dalam KIM Plus kalau digabungkan hanya 23 kursi.
Gerindra dan Golkar Pecah Kongsi, Ada Kejutan di Jakarta & Jabar?
Gerindra dan Golkar, berpotensi pecah kongsi menghadapi Pilkada Banten. Meski demikian, keduanya mewacanakan kejutan di Jakarta dan Jawa Barat (Jabar) 2024. [876] url asal
#gerindra #golkar #gerinda-golkar-pecah-kongsi #pilkada #pilkada-serentak #pilkada-2024
(Bisnis.Com) 01/08/24 11:54
v/12861346/
Bisnis.com, JAKARTA - Partai Gerindra dan Partai Golkar, berpotensi pecah kongsi menghadapi Pilkada Banten 2024. Meski demikian, keduanya mewacanakan kejutan di Pilkada Jakarta dan Jawa Barat (Jabar) 2024.
Di Banten, Golkar ngotot ingin mendorong maju kadernya yang merupakan mantan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany. Tak mau kalah, Gerindra juga ingin mendorong maju kadernya Andra Soni.
Bahkan, Golkar sudah memberikan surat instruksi kepada Airin untuk maju sebagai bakal calon gubernur Banten 2024. Begitu juga Gerindra yang sudah mendeklarasikan Andra Soni sebagai calon gubernur Banten 2024 usungan partai.
Tak sejalan dengan KIM, Golkar dikabarkan akan berkoalisi dengan PDI Perjuangan (PDIP) dalam ajang Pilkada Banten 2024. Bahkan, Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat sudah mengonfirmasikan wacana kerja sama politik tersebut.
Djarot mengaku, pihaknya sudah memutuskan untuk mendorong Ketua DPD PDIP Banten Ade Sumardi sebagai calon wakil gubernur Banten 2024, berpasangan dengan calon gubernur usungan Golkar Airin Rachmi Diany.
"Betul [PDIP dukung Airin]. Kalau untuk Banten, kalau enggak salah Pak Ade Ketua DPD [PDIP] Banten [yang didorong jadi cawagub Airin]," ungkap Djarot di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2024).
Sementara itu, Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad tidak menampik adanya pecah kongsi dua partai politik terbesar KIM di Pilkada Banten: antara Golkar dan Gerindra. Menurutnya, dinamika politik seperti itu merupakan suatu kewajaran.
"Jadi memang khusus tadi yang ditanyakan soal Banten, pilihan partai politik atau kedaulatan partai politik itu adalah hal yang biasa," jelas Dasco kepada wartawan, Rabu (31/7/2024).
Dia juga tidak mengaku tidak mempermasalahkan apabila Golkar akhirnya berkoalisi dengan PDIP di Pilkada Banten 2024. Gerindra, lanjutnya, siap melawan koalisi Golkar-PDIP.
Siapkan Kejutan
Tak hanya di Banten, isu pecah kongsi antara Golkar dan Gerindra di Pilkada Jakarta dan Jabar 2024. Alasannya, kedua partai tersebut tidak satu suara ihwal siapa sosok calon gubernur yang akan diusung di Jakarta dan Jabar.
Sebelumnya, Gerindra mendorong kader Golkar Ridwan Kamil untuk maju sebagai calon gubernur Jakarta 2024. Dengan begitu, kader Gerindra Dedi Mulyadi bisa maju sebagai calon gubernur Jabar 2024.
Meski demikian, Golkar tetap ngotot usung Ridwan Kamil di Pilkada Jabar bukan Pilkada Jakarta. Akibatnya, peluang Dedi Mulyadi maju sebagai orang nomor satu di Jabar semakin tipis.
Meski demikian, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani membantah pecah kongsi pihaknya dengan Golkar di Jakarta dan Jabar. Muzani mengaku, kejadian seperti itu wajar karena masing-masing partai politik memiliki ambisi tersendiri seperti usung kader internal maju dalam ajang elektoral.
"Jadi itu karena ada kepentingan internal partainya yang juga harus kita hormati. Misalnya di situ ada dua kader dari Partai Gerindra dan Partai Golkar yang berbeda, dua-duanya sama kuat, keduanya punya tanggung jawab membela kadernya untuk mendapatkan tempat dalam pilkada," ujar Muzani di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (22/7/2024).
Menurut wakil ketua MPR ini, Gerindra dan Golkar masih akan tetap kompak menghadapi Pilkada 2024 seperti ketika keduanya hadapi Pilpres 2024. Bahkan, dia tidak menampik sudah ada kesepakatan antara Gerindra dan Golkar di Jakarta dan Jabar.
Muzani mengungkapkan, Gerindra, Golkar dan para partai politik lainnya yang punya satu pandangan tinggal mencari waktu yang tepat untuk umumkan pasangan calon yang akan diusung di Jakarta dan Jabar.
Dia mengungkapkan, pengumuman pasangan calon di Jakarta dan Jabar direncanakan akan dilakukan bersamaan. "Dua-duanya [Jakarta dan Jabar] nanti akan mengejutkan," jelasnya.
Dia menjelaskan, pengumuman tersebut bisa digelar sebelum 17 Agustus nanti atau malah di menit-menit akhir pendaftaran calon kepala daerah pada 27-29 Agustus nanti.
Sosok
Pertanyaan kini: siapa yang disiapkan Golkar dan Gerindra bersama KIM untuk maju di Jakarta dan Jabar?
Di Jabar, nama Ridwan Kamil masih memiliki tingkat keterpilihan paling tinggi di antara para pesaingnya sebagai bakal calon gubernur Jabar 2024. Menurut survei SMRC pada 9 Juni 2024–1 Juli 2024 misalnya, yang mengungkapkan Ridwan Kamil masih menjadi pilihan 50,6% warga Jabar.
Oleh sebab itu, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus pun menyatakan pihaknya lebih mendorong Ridwan Kamil maju di Jabar meski sebelumnya sempat dirumorkan maju di Jakarta.
“Kita telah mengeluarkan penugasan kepada RK [Ridwan Kamil] untuk [maju Pilgub] Jakarta dan Jabar. Tetapi, dari hasil survei, ternyata pak RK lebih kuat di Jabar,” katanya di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Kamis (18/7/2024)
Sementara itu untuk calon gubernur Jakarta 2024, Golkar mendorong kadernya yang juga pebisnis jalan tol yaitu Jusuf Hamka alias Babah Alun. Bahkan, Lodewijk mengungkap Golkar sudah memberikan surat instruksi kepada Babah Alun untuk maju Pilkada Jakarta 2024 pada Kamis (18/7/2024).
“Untuk Jakarta, kami telah memberikan surat instruksi kepada Babah Alun atau Pak Jusuf Hamka. Orang katakan bapak jalan tol ya. Nah, tugas yang diberikan kepada beliau adalah sebagai bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur,” kata Lodewijk.
Adapun Dasco menyatakan Gerindra akan terus berkomunikasi dengan Golkar dan partai politik di KIM lainnya untuk segera memutuskan siapa sosok calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung dalam ajang Pilkada Jakarta sekaligus Jabar 2024.
Menurutnya, para ketua umum partai politik di KIM akan segera melakukan pertemuan usai presiden terpilih periode 2024-2029 Prabowo Subianto kembali ke Indonesia usai bertandang ke sejumlah negara.
"Ini nunggu Pak Prabowo pulang, akan ada pertemuan dari partai-partai koalisi. Koalisi Plus, Koalisi Indonesia Maju Plus. Plus, ada partai lain dong yang ikut kan begitu," ungkap Dasco.
Oleh sebab itu, dia meminta setiap pihak bersabar sebelum adanya keputusan final antara para ketua umum partai politik di KIM.
Aroma Pecah Kongsi Gerindra-Golkar di Jabar dan Jakarta
Aroma pecah kongsi antara Gerindra dan Golkar kian terasa dalam Pilkada Jabar dan Jakarta. [1,037] url asal
#golkar #gerindra #golkar-gerindra #pecah-kongsi #ridwan-kamil #dedi-mulyadi #pilkada-2024 #pilkada-serentak #pilkada-serentak-2024
(Bisnis.Com) 15/07/24 05:36
v/10827838/
Bisnis.com, JAKARTA -- Ide koalisi tetap para partai pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 terancam bubar jalan di Pemilihan Kepala Daerah alias Pilkada Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Dua partai terbesar di koalisi tersebut, Golkar dan Gerindra, berebut pengaruh. Golkar memiliki jagoan, Ridwan Kamil, untuk bertarung sebagai kandidat calon gubernur di Jawa Barat. Sementara itu di Jakarta, Golkar telah mendorong nama Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo alias Jokowi.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Freidrich mengungkapkan bahwa usulan nama Kaesang untuk Pilgub Jakarta memperjelas posisi Golkar. Pasalnya, dengan keputusan politik tersebut, secara otomatis Ridwan Kamil tetap maju di Jabar.
“Iya karena itu, otomatis Pak RK akan tetap di Jawa Barat,” kata Wakil Ketua DPR itu.
Adapun Gerindra memiliki sosok Dedi Mulyadi yang bisa diajukan sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat. Dedi adalah bekas kader Golkar. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama 2 periode. Namun Dedi kemudian pindah haluan dari Golkar ke Gerindra pada Mei 2023 lalu. Sedangkan di Jakarta, Gerindra telah secara terbuka mengungkapkan dukungannya kepada Ridwan Kamil.
Soal potensi pecah kongsi, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyebut anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM) berupaya untuk satu suara saat mencalonkan pasangan nama untuk Pilkada 2024 di Provinsi Jawa Barat dan Jakarta.
Dia juga menilai wajar jika saat ini masing-masing partai masih menggodok nama-nama yang potensial dan mengusulkan kader-kadernya untuk maju pada kontestasi Pilkada Jawa Barat (Jabar) dan Jakarta.
"Kami memang di Koalisi Indonesia Maju sudah bersepakat sebisa mungkin kami maksimalkan di Jawa Barat, di DKJ (Daerah Khusus Jakarta, red.). Ini kami bersama-sama dengan teman-teman KIM mengusung satu pasangan calon yang kami sepakati bersama. Jadi, kurang lebih seperti itu," kata Eddy dilansir Antara, Minggu (14/7/2024).
Eddy juga menyebut untuk di Jakarta partai-partai KIM juga punya misi sama mengalahkan petahana (incumbent), yaitu Anies Baswedan, yang bulan lalu telah mendapatkan dukungan maju sebagai calon Gubernur Jakarta dari DPW PKB.
"Kami melihat pertarungan di Jakarta ini memang banyak yang ingin maju. Akan tetapi, peluangnya bagaimana untuk mengalahkan petahana? Tentu ya perlu diperhitungkan karena petahana biasanya diunggulkan," kata Sekjen PAN.
Sementara itu, untuk Jawa Barat, Sekjen PAN menyebut partai-partai KIM saat ini masih menggelar survei akhir untuk menentukan nama-nama yang mereka usung.
"Nah, nanti kita lihat output dari surveinya bagaimana untuk kami menentukan secara final karena sekali sudah kami tentukan, sekali kami umumkan, kita enggak mau tarik kembali karena nanti akan membingungkan masyarakat," kata Eddy.
Tren Elektabilitas
Sementara itu, rilis terbaru Indikator Politik mengungkap bahwa Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi bersaing di hampir semua simulasi. Simulasi 26 nama, misalnya, Ridwan Kamil memimpin dengan tingkat keterpilihan atau elektabilitas sebanyak 36,8%. Dedi Mulyadi berada di peringkat kedua dengan elektabilitas sebesar 31,19%.
Sementara itu peringkat ketiga, ada sosok pesohor dan komedian Alfiansyah alias Komeng yang memiliki elektabilitas 5,6%. Komeng adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih. Pada pemilihan legislatif atau Pileg 2024 lalu, ia memperoleh suara cukup fantastis 5,3 juta.
Nama Komeng bahkan unggul dibandingkan politikus Partai Demokrat, Dede Yusuf dan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu yang elektabilitasnya masing-masing hanya 3% dan 2,8%.
Sementara itu, jika mengacu kepada simulasi 12 nama, sosok Komeng tidak muncul di survei versi Indikator. Meski demikian, laiknya simulasi 26 nama, Kang Emil dan Dedi Mulyadi tetap bersaing. Elektabilitas keduanya masing-masing sebesar 44,5% dan 33,2%.
Di bawah Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi ada nama Dede Yusuf 5,4%, Bima Arya Sugiarto 2,2%, hingga Desy Ratnasari yang memiliki elektabilitas 1,8%.
Kendati telah muncul nama kandidat calon gubernur yang beredar setidaknya masih versi hasil survei, partai politik sampai saat ini masih belum bulat untuk menentukan siapa sosok yang akan bertarung di daerah lumbung suara tersebut.
Golkar Optimistis Menang
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (Jabar) Ace Hasan Syadzily percaya diri (pede) Ridwan Kamil akan menang apabila melawan calon lain termasuk Sandiaga Uno dalam ajang Pilkada Jabar 2024.
Ace tidak menampik apabila belakangan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mewacanakan untuk mengusung Sandiaga Uno sebagai bakal calon gubernur Jabar 2024. Meski demikian, dia meyakini posisi Ridwan Kamil masih aman.
"Terakhir survei yang dipublikasikan Indikator Politik Indonesia menunjukan bahwa kepuasan publik terhadap Kang Emil sangat tinggi, termasuk juga masyarakat yang tetep ingin Kang Emil menjadi gubernur Jawa Barat cukup tinggi. Jadi bagi kami-kami tidak terlalu khawatir," ujar Ace di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2024).
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa Golkar belum memutuskan siapa calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung dalam kontestasi Pilkada Jabar 2024.
Golkar, lanjut Ace, masih akan menanti hasil survei selanjutnya sebelum mengambil keputusan final soal sosok yang akan diusung menjadi calon gubernur dan wakil gubernur Jabar 2024.
"Kita tunggu hasilnya," jelas wakil ketua Komisi VIII DPR itu.
Adapun hasil pemilu 2024 lalu, mengungkap bahwa Gerinda mendominasi DPRD Jawa Barat dengan perolehan 20 kursi. PKS dan PKB masing-masing-masing memperoleh 19 kursi, PDIP 17 kursi, PKB 15 kursi, Demokrat dan Nasdem memperoleh 8 kursi, PPP 6 kursi dan PSI 1 kursi.
Perolehan kursi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satupun partai yang bisa mengajukan kandidat sendiri dalam kontestasi Pilgub Jabar 2024. Semua partai buruh koalisi.
Alasan Gerindra Dukung RK
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi membeberkan alasan dari Partai Gerindra kekeuh mendorong Ridwan Kamil mencalonkan diri di Pilkada DKI Jakarta.
Ia mengemukakan jika Ridwan Kamil diusung oleh Partai Golkar di Pilkada Jawa Barat, maka Partai Gerindra tidak mungkin bisa menang jika mengusung Dedi Mulyadi.
Maka dari itu, menurut Burhanuddin, Partai Gerindra sampai saat ini terus melobi dan mendorong Partai Golkar akan mengusung Ridwan Kamil di Pilkada DKI Jakarta.
"Kalau Ridwan Kamil diusung oleh Partai Golkar untuk ikut Pilkada DKI Jakarta, maka kemungkinan menangnya sangat kecil dan suara dia di Jawa Barat akan lari ke Dedi Mulyadi," tuturnya di Jakarta, Kamis (4/7).
Burhanuddin menjelaskan meskipun Partai Golkar dan Partai Gerindra sempat satu kolam pada Pilpres 2024 kemarin, namun untuk Pilkada kedua partai tersebut bakal berkompetisi, terutama di Pilkada Jawa Barat.
Pasalnya, menurut Burhanuddin, Partai Golkar akan mengusung Ridwan Kamil dan Partai Gerindra bakal mengusung Dedi Mulyadi untuk Pilkada Jawa Barat.
"Ini menarik, meskipun kedua partai itu satu kolam saat Pilpres 2024 kemarin, tapi untuk Pilkada Jawa Barat mereka berkompetisi karena memiliki kader masing-masing yang kompeten
Aroma Pecah Kongsi Gerindra-Golkar di Jabar dan Jakarta
Aroma pecah kongsi antara Gerindra dan Golkar kian terasa dalam Pilkada Jabar dan Jakarta. [1,037] url asal
#golkar #gerindra #golkar-gerindra #pecah-kongsi #ridwan-kamil #dedi-mulyadi #pilkada-2024 #pilkada-serentak #pilkada-serentak-2024
(Bisnis.Com) 15/07/24 05:36
v/10810051/
Bisnis.com, JAKARTA -- Ide koalisi tetap para partai pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 terancam bubar jalan di Pemilihan Kepala Daerah alias Pilkada Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Dua partai terbesar di koalisi tersebut, Golkar dan Gerindra, berebut pengaruh. Golkar memiliki jagoan, Ridwan Kamil, untuk bertarung sebagai kandidat calon gubernur di Jawa Barat. Sementara itu di Jakarta, Golkar telah mendorong nama Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo alias Jokowi.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Freidrich mengungkapkan bahwa usulan nama Kaesang untuk Pilgub Jakarta memperjelas posisi Golkar. Pasalnya, dengan keputusan politik tersebut, secara otomatis Ridwan Kamil tetap maju di Jabar.
“Iya karena itu, otomatis Pak RK akan tetap di Jawa Barat,” kata Wakil Ketua DPR itu.
Adapun Gerindra memiliki sosok Dedi Mulyadi yang bisa diajukan sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat. Dedi adalah bekas kader Golkar. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama 2 periode. Namun Dedi kemudian pindah haluan dari Golkar ke Gerindra pada Mei 2023 lalu. Sedangkan di Jakarta, Gerindra telah secara terbuka mengungkapkan dukungannya kepada Ridwan Kamil.
Soal potensi pecah kongsi, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyebut anggota Koalisi Indonesia Maju (KIM) berupaya untuk satu suara saat mencalonkan pasangan nama untuk Pilkada 2024 di Provinsi Jawa Barat dan Jakarta.
Dia juga menilai wajar jika saat ini masing-masing partai masih menggodok nama-nama yang potensial dan mengusulkan kader-kadernya untuk maju pada kontestasi Pilkada Jawa Barat (Jabar) dan Jakarta.
"Kami memang di Koalisi Indonesia Maju sudah bersepakat sebisa mungkin kami maksimalkan di Jawa Barat, di DKJ (Daerah Khusus Jakarta, red.). Ini kami bersama-sama dengan teman-teman KIM mengusung satu pasangan calon yang kami sepakati bersama. Jadi, kurang lebih seperti itu," kata Eddy dilansir Antara, Minggu (14/7/2024).
Eddy juga menyebut untuk di Jakarta partai-partai KIM juga punya misi sama mengalahkan petahana (incumbent), yaitu Anies Baswedan, yang bulan lalu telah mendapatkan dukungan maju sebagai calon Gubernur Jakarta dari DPW PKB.
"Kami melihat pertarungan di Jakarta ini memang banyak yang ingin maju. Akan tetapi, peluangnya bagaimana untuk mengalahkan petahana? Tentu ya perlu diperhitungkan karena petahana biasanya diunggulkan," kata Sekjen PAN.
Sementara itu, untuk Jawa Barat, Sekjen PAN menyebut partai-partai KIM saat ini masih menggelar survei akhir untuk menentukan nama-nama yang mereka usung.
"Nah, nanti kita lihat output dari surveinya bagaimana untuk kami menentukan secara final karena sekali sudah kami tentukan, sekali kami umumkan, kita enggak mau tarik kembali karena nanti akan membingungkan masyarakat," kata Eddy.
Tren Elektabilitas
Sementara itu, rilis terbaru Indikator Politik mengungkap bahwa Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi bersaing di hampir semua simulasi. Simulasi 26 nama, misalnya, Ridwan Kamil memimpin dengan tingkat keterpilihan atau elektabilitas sebanyak 36,8%. Dedi Mulyadi berada di peringkat kedua dengan elektabilitas sebesar 31,19%.
Sementara itu peringkat ketiga, ada sosok pesohor dan komedian Alfiansyah alias Komeng yang memiliki elektabilitas 5,6%. Komeng adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih. Pada pemilihan legislatif atau Pileg 2024 lalu, ia memperoleh suara cukup fantastis 5,3 juta.
Nama Komeng bahkan unggul dibandingkan politikus Partai Demokrat, Dede Yusuf dan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu yang elektabilitasnya masing-masing hanya 3% dan 2,8%.
Sementara itu, jika mengacu kepada simulasi 12 nama, sosok Komeng tidak muncul di survei versi Indikator. Meski demikian, laiknya simulasi 26 nama, Kang Emil dan Dedi Mulyadi tetap bersaing. Elektabilitas keduanya masing-masing sebesar 44,5% dan 33,2%.
Di bawah Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi ada nama Dede Yusuf 5,4%, Bima Arya Sugiarto 2,2%, hingga Desy Ratnasari yang memiliki elektabilitas 1,8%.
Kendati telah muncul nama kandidat calon gubernur yang beredar setidaknya masih versi hasil survei, partai politik sampai saat ini masih belum bulat untuk menentukan siapa sosok yang akan bertarung di daerah lumbung suara tersebut.
Golkar Optimistis Menang
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (Jabar) Ace Hasan Syadzily percaya diri (pede) Ridwan Kamil akan menang apabila melawan calon lain termasuk Sandiaga Uno dalam ajang Pilkada Jabar 2024.
Ace tidak menampik apabila belakangan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mewacanakan untuk mengusung Sandiaga Uno sebagai bakal calon gubernur Jabar 2024. Meski demikian, dia meyakini posisi Ridwan Kamil masih aman.
"Terakhir survei yang dipublikasikan Indikator Politik Indonesia menunjukan bahwa kepuasan publik terhadap Kang Emil sangat tinggi, termasuk juga masyarakat yang tetep ingin Kang Emil menjadi gubernur Jawa Barat cukup tinggi. Jadi bagi kami-kami tidak terlalu khawatir," ujar Ace di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2024).
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa Golkar belum memutuskan siapa calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung dalam kontestasi Pilkada Jabar 2024.
Golkar, lanjut Ace, masih akan menanti hasil survei selanjutnya sebelum mengambil keputusan final soal sosok yang akan diusung menjadi calon gubernur dan wakil gubernur Jabar 2024.
"Kita tunggu hasilnya," jelas wakil ketua Komisi VIII DPR itu.
Adapun hasil pemilu 2024 lalu, mengungkap bahwa Gerinda mendominasi DPRD Jawa Barat dengan perolehan 20 kursi. PKS dan PKB masing-masing-masing memperoleh 19 kursi, PDIP 17 kursi, PKB 15 kursi, Demokrat dan Nasdem memperoleh 8 kursi, PPP 6 kursi dan PSI 1 kursi.
Perolehan kursi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satupun partai yang bisa mengajukan kandidat sendiri dalam kontestasi Pilgub Jabar 2024. Semua partai buruh koalisi.
Alasan Gerindra Dukung RK
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi membeberkan alasan dari Partai Gerindra kekeuh mendorong Ridwan Kamil mencalonkan diri di Pilkada DKI Jakarta.
Ia mengemukakan jika Ridwan Kamil diusung oleh Partai Golkar di Pilkada Jawa Barat, maka Partai Gerindra tidak mungkin bisa menang jika mengusung Dedi Mulyadi.
Maka dari itu, menurut Burhanuddin, Partai Gerindra sampai saat ini terus melobi dan mendorong Partai Golkar akan mengusung Ridwan Kamil di Pilkada DKI Jakarta.
"Kalau Ridwan Kamil diusung oleh Partai Golkar untuk ikut Pilkada DKI Jakarta, maka kemungkinan menangnya sangat kecil dan suara dia di Jawa Barat akan lari ke Dedi Mulyadi," tuturnya di Jakarta, Kamis (4/7).
Burhanuddin menjelaskan meskipun Partai Golkar dan Partai Gerindra sempat satu kolam pada Pilpres 2024 kemarin, namun untuk Pilkada kedua partai tersebut bakal berkompetisi, terutama di Pilkada Jawa Barat.
Pasalnya, menurut Burhanuddin, Partai Golkar akan mengusung Ridwan Kamil dan Partai Gerindra bakal mengusung Dedi Mulyadi untuk Pilkada Jawa Barat.
"Ini menarik, meskipun kedua partai itu satu kolam saat Pilpres 2024 kemarin, tapi untuk Pilkada Jawa Barat mereka berkompetisi karena memiliki kader masing-masing yang kompeten