Pertamina meluncurkan inisiatif green refinery di Cilacap untuk produksi bahan bakar ramah lingkungan, HVO dan SAF, demi ketahanan energi berkelanjutan. [550] url asal
Pertamina mengambil inisiatif memproduksi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Inisiatif serius tersebut ditunjukkan lewat pembangunan kilang hijau atau green refinery di kilang terbesar yang dimilikinya saat ini, Kilang Pertamina Cilacap atau Refinery Unit IV Cilacap.
Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Didik Bahagia mengatakan, inovasi ini harus dilakukan agar dapat beradaptasi terhadap tantangan zaman saat ini. Namun perusahaan disadari tak bisa bergerak sendiri, butuh kolaborasi dengan berbagai stakeholder agar formula yang dimiliki bisa dijalankan demi kemandirian dan ketahanan energi yang berkelanjutan.
"Pertamina tidak bisa hadir sendiri. Butuh kolaborasi semua elemen, semua stakeholder, yang meliputi para pemasok (minyak nabati dan jelantah), produsen sudah siap memproduksi ini, dan calon konsumen yang akan menggunakan HVO atau SAF." katanya saat ditemui di Kilang Cilacap, beberapa waktu lalu.
Salah satu jaminan keberlanjutan yang diharapkan Pertamina adalah regulasi. Dengan adanya kebijakan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, diharapkan menjadi bensin Pertamina untuk terus mengembangkan produk-produk ramah lingkungan lainnya.
"Yang kami butuhkan regulasi dari pemerintah sebagai payung hukum supaya HVO dan SAF ini bisa dipakai secara sustain ke depannya dan menurunkan emisi yang luar biasa." kata Didik.
Pertamina sendiri setidaknya telah memproduksi dua produk bahan bakar ramah lingkungan untuk diesel dan avtur. Pada tahap I, Pertamina telah berhasil mengembangkan dua produk energi hijau, yakni Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan sustainable aviation fuel (SAF).
Untuk HVO, Pertamina telah mengemasnya dalam produk Pertamina Renewable Diesel D100 atau yang lebih sering disebut sebagai Pertamina RD. Pertamina RD merupakan bahan bakar nabati ramah lingkungan yang telah meraih sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).
Dengan sertifikasi ISCC ini, HVO Pertamina diakui atas kontribusinya dalam menurunkan emisi karbon hingga 65-70% dibandingkan dengan bahan bakar konvensional, sehingga dengan layak dapat disebut sebagai produk ramah lingkungan.
KPI juga berhasil memproduksi SAF J2.4 di Refinery Unit IV Cilacap dengan teknologi Co-Processing dari bahan baku Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO), atau minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau, dengan kapasitas 1.350 kilo liter (KL) per hari. SAF telah berhasil digunakan dalam penerbangan komersil perdana Garuda Indonesia pada pesawat Boeing 737-800 NG.
Hasil dari serangkaian pengujian yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional, namun lebih ramah lingkungan.
"Pertamina selalu berkomitmen untuk selalu hadir melayani negara ini menyediakan energi nasional dan menjaga ini lebih secure." kata Didik.
Pertamina dan Vale Indonesia bekerja sama untuk menyediakan HVO, bahan bakar ramah lingkungan yang mengurangi emisi karbon hingga 85 persen. Halaman all [371] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina Patra Niaga telah menjalin kerja sama strategis dengan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) untuk penyediaan bahan bakar ramah lingkungan, yaitu Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) yang dikenal dengan nama Pertamina Renewable Diesel.
Pemanfaatan HVO memiliki potensi untuk mereduksi emisi karbon hingga 85 persen dan emisi gas rumah kaca hingga 90 persen.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, menjelaskan bahwa melalui layanan Pertamina One Solution, perusahaan menyediakan solusi energi terintegrasi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan beragam mitra bisnis, termasuk PT Vale Indonesia Tbk.
“Solusi ini mencakup penyediaan bahan bakar yang lebih bersih serta dukungan logistik dan infrastruktur yang efisien, memastikan operasional bisnis berjalan secara optimal dan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (9/9/2024).
Riva juga menambahkan bahwa kemitraan strategis antara Pertamina Patra Niaga dan Vale tidak hanya berfokus pada penyediaan produk energi bersih, tetapi juga pada program pemberdayaan masyarakat.
Selain dekarbonisasi, kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendukung PT Vale Indonesia Tbk dalam mematuhi regulasi lingkungan yang diterapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, termasuk penilaian peringkat PROPER.
"Kerja sama ini sejalan dengan upaya PT Vale Indonesia Tbk dalam meningkatkan standar keberlanjutan lingkungan dalam operasional mereka,” tambahnya.
President Director PT Vale Indonesia Tbk, Febriany Eddy, mengungkapkan bahwa kerja sama strategis ini selaras dengan roadmap dekarbonisasi perusahaannya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi ini bagi PT Vale Indonesia Tbk dalam mencapai dan meningkatkan standar keberlanjutan serta mengurangi emisi karbon di seluruh kegiatan operasional.
"Produk dan layanan dari Pertamina Patra Niaga, seperti HVO, akan sangat membantu dalam perjalanan dekarbonisasi kami,” pungkas Febriany Eddy.
IDXChannel - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menyelesaikan Green Refinery Cilacap yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan target kapasitas produk biofuel hingga 6.000 barrel.
Proyek ini merupakan salah satu program unggulan dalam energi transisi, guna mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23 persen pada 2025.
Corporate Secretary KPI, Hermansyah Y Nasroen, mengatakan Green Refinery Cilacap dapat menjawab tantangan produk yang lebih ramah lingkungan, karena kilang ini dapat memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau bahan bakar dengan komponen nabati.
Selain itu, juga memproduksi produk bionafta dan bioavtur/Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang berbahan baku minyak inti kelapa sawit (yang telah melalui proses Refined, Bleached, and Deodorized) yang diolah bersamaan dengan avtur fosil melalui metode co-processing.
"Dengan kemampuan untuk mengolah sumber energi nabati, proyek Kilang Cilacap ini dapat memberikan nilai tambah bagi bangsa. Hal ini semakin diperkuat oleh pengalaman dan keahlian KPI di bisnis kilang, sejalan dengan perannya sebagai induk usaha kilang dan petrokimia Pertamina," kata Hermansyah dalam keterangan resminya, Rabu (110/7/2024).
Kilang Cilacap merupakan contoh kilang terintegrasi yang sejalan dengan transisi energi. Proyek ini ditargetkan dapat menambah kapasitas produksi dari 3.000 barrel per hari menjadi 6.000 barrel produk HVO, SAF, dan Bionafta yang berasal dari Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.
Unit baru dari Green Refinery Cilacap ini juga akan dilengkapi dengan infrastruktur termasuk Palm Oil Treater, Faractionator, dan fasilitas Offsite.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso, mengatakan Green Refinery Cilacap memiliki peran besar dalam energi transisi di Indonesia sejalan dengan produk ramah lingkungan yang akan diproduksinya.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi Pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emission," kata Fadjar.