#30 tag 24jam
Rancang Konsep Energi Bersih, Bahlil Pastikan Program B40 Jalan Awal Tahun 2025
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan produk B40 siap digunakan dan program penggunaan wajib B40 siap diimplementasikan 2025 [289] url asal
#energi-bersih #b40 #b100 #biodiesel #kementerian-esdm
(MedCom - Ekonomi) 03/11/24 17:49
v/17431861/
Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan produk B40 siap digunakan dan program penggunaan wajib B40 siap diimplementasikan pada 1 Januari 2025.“Insyaallah (diimplementasikan 1 Januari 2025), (produk B40) sudah selesai dites dan siap implementasinya,” ujar Bahlil usai Konferensi Pers Pembahasan Usulan Program Quick Win di Kantor Kementerian Bidang Perekonomian dilansir Antara, Minggu, 3 November 2024.
Dia juga menyatakan pihaknya sedang menyiapkan rancangan konsep pengembangan bahan bakar biodiesel hingga biodiesel 100 (B100) sebagai salah satu upaya mewujudkan swasembada energi.
“Salah satu rancangan yang dilakukan adalah mempersiapkan semua konsep sampai dengan B100, tapi sudah tentu itu bertahap, nanti kami laporkan (perkembangannya),” jelas dia.
| Baca juga: Mandatori Bio Solar B40 Dikeluarkan Awal Januari 2025 |
Kini, produk biodiesel yang wajib digunakan di Indonesia adalah B35, yakni campuran 35 persen Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dari minyak sawit dan 65 persen BBM diesel jenis solar, yang penerapannya dimulai pada 1 Februari 2023.
Pemerintah pun terus menyempurnakan produk biodiesel lanjutan dengan meningkatkan proporsi minyak sawit menjadi 40 persen, atau sering disebut B40.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyatakan kesiapan untuk menerapkan mandatori biodiesel B40 pada awal Januari 2025.
Ia mengatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan sejumlah infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, pengiriman, dan logistik untuk kelancaran penerapan mandatori bioenergi yang ditargetkan persiapan selesai Desember 2024.
"Memang perlu banyak hal untuk mempersiapkan kaya pelabuhannya, pengirimannya, logistik. Industri harus mempersiapkan, investasi butuh modal juga," ucapnya.
Selain fokus pada B40, pemerintah juga mengkaji kemungkinan penerapan biodiesel B50. Eniya menyebutkan bahwa kajian teknis terkait performa mesin dengan penggunaan B50 sudah dilakukan.
Ia menuturkan bahwa uji coba implementasi biodiesel B50 telah dilakukan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Kalimantan Selatan.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(ANN)
Roadshow di Bandung, SRECharged Dorong Percepatan Adopsi Motor Listrik Tanah Air
Keterlibatan anak muda dalam program ini merupakan langkah awal untuk masa depan adopsi motor listrik yang lebih cerah. Halaman all [631] url asal
#motor-listrik #itb #kementerian-esdm #energi-bersih #ekosistem-kendaraan-listrik #sdg13-penanganan-perubahan-iklim
(Kompas.com) 03/11/24 09:24
v/17398335/
KOMPAS.com – Society of Renewable Energy (SRE) bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar SRE Country Hub for Accelerating Electric Motorcycle Deployment (SRECharged) Roadshow Bandung di Auditorium Campus Centre Timur, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Senin (14/10/2024).
Program yang dilaksanakan melalui Swakelola Tipe III dari pembiayaan Proyek Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia (ENTREV) itu bertujuan untuk mendorong akselerasi adopsi motor listrik di Indonesia, terutama dengan peran serta pemuda.
Mengusung tema "Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik Berbasis Baterai Oleh Generasi Muda", SRECharged dihadiri oleh pakar, akademisi, dan komunitas pengguna motor listrik.
Gelaran tersebut terdiri atas sejumlah kegiatan, mulai dari talkshow, leaderless group discussion (LGD), hingga pameran motor listrik dari berbagai merek motor listrik yang dapat dicoba (test ride) oleh para partisipan.
Dalam sambutannya, Direktur Kemahasiswaan ITB G Prasetyo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penggunaan motor listrik di Tanah Air.
“Keterlibatan anak muda dalam program ini merupakan langkah awal untuk masa depan adopsi motor listrik yang lebih cerah," ucap Prasetyo dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (1/11/2024).
Dalam sesi talk show pertama dengan tema "Inovasi Teknologi dan Masa Depan Konversi Motor Listrik di Indonesia", perwakilan Kementerian ESDM, Harris, menyoroti pentingnya membangun ekosistem motor listrik secara menyeluruh.
“Mulai dari penyediaan komponen hingga dukungan industri memerlukan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan sektor ekonomi. Kolaborasi ini dapat mendorong pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060 sesuai roadmap yang ditetapkan,” kata Harris.
Hal senada juga disampaikan Ciptaghani Antasaputra dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia.
Ciptaghani menilai, roadmap yang jelas dengan target kendaraan dan infrastruktur yang terukur dapat membantu pemerintah daerah (pemda) mengikuti target nasional dan mendukung industri motor listrik.
“Ekosistem motor listrik perlahan-lahan mulai terbentuk. Saat ini, tantangan terbesarnya adalah harga dan infrastruktur pengisian daya,” tuturnya.
Dia menambahkan, motor listrik bukan hanya solusi bagi lingkungan, melainkan juga bagi kesehatan manusia.
Sementara, Guru Besar Elektro IPB Suwarno juga memaparkan bahwa percepatan adopsi motor listrik dapat mengurangi emisi karbon, terlebih saat ini Indonesia memiliki lebih dari 130 juta motor berbahan bakar fosil.
Peran pemuda dalam revolusi motor listrik
Sesi talkshow berikutnya mengangkat tema "Energi Bersama: Peran Pemuda dan Revolusi Motor Listrik". Salah satu pembicara yang dihadirkan adalah Duwi Pratiwi dari ENTREV. Ia menekankan pentingnya peran pemuda dalam mendukung transisi energi bersih.
“Pemuda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam adopsi teknologi yang lebih ramah lingkungan," ucap Duwi.
Sementara itu, Widiartyasari dari SRE Woman juga mengajak para perempuan muda untuk lebih aktif berpartisipasi dalam gerakan motor listrik, mengingat potensi besar yang dimiliki dalam riset dan pengembangan teknologi tersebut.
Acara tersebut semakin menarik dengan kehadiran Ketua Alva Riders Community Bandung Muhammad Herland Sugiantoro yang membagikan pengalamannya dalam mempromosikan motor listrik di kalangan anak muda melalui berbagai kegiatan komunitas.
"Kami secara rutin mengadakan perjalanan jarak jauh dengan motor listrik untuk menunjukkan bahwa teknologi ini bisa diandalkan. Ini juga menghemat biaya karena pengisian daya sering kali gratis," imbuh Herland.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.
Dorong Transisi Energi, Jababeka Ajak Perusahaan Jalankan Strategi Dekarbonisasi
Jababeka meningkatkan pemahaman dan pengetahuan perusahaan di Kawasan Industri Jababeka mengenai transisi energi [412] url asal
#jababeka #kawasan-industri-jababeka #transisi-energi #energi-bersih #emisi-nol-karbon
(MedCom - Ekonomi) 29/10/24 17:18
v/17167945/
Jakarta: PT Jababeka Tbk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan perusahaan di Kawasan Industri Jababeka mengenai transisi energi serta strategi dekarbonisasi yang diperlukan untuk mencapai komitmen emisi nol bersih. Upaya ini sekaligus untuk mendorong akselerasi transisi energi oleh perusahaan-perusahaan yang ada.Untuk itu, Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (Jababeka NZICC) bersama dengan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) menggelar workshop “Peningkatan Kapasitas Perusahaan untuk Efisiensi Energi dan Dekarbonisasi Sumber Energi”. Workshop ini dihadiri 20-25 perusahaan industri.
“Pentingnya kolaborasi antar perusahaan untuk mencapai keberlanjutan yang lebih baik. kami berharap agar perusahaan-perusahaan yang hadir dapat mengambil langkah nyata dalam transisi energi,” kata Executive Committee Jababeka NZICC Beta Safitri dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 29 Oktober 2024.
Senada, Direktur Eksekutif IBCSD Indah Budiani juga menyoroti pentingnya sinergi dalam mempercepat langkah menuju keberlanjutan. Ia mengungkapkan transisi energi merupakan elemen kunci dalam perjalanan menuju emisi nol karbon (net zero emission) demi masa depan yang lebih baik.
“Dengan adanya sesi berbagi pengetahuan dan sumber daya terkait transisi energi untuk bisnis seperti ini, kita bisa mempercepat langkah menuju masa depan rendah karbon,” jelas Indah.
| Baca juga: Optimalkan Smelter di Kolaka, Antam Gandeng PLN Buat Pasokan Listrik |
Sementara Program & Engagement Manager IBCSD Aloysius Wiratmo mengajak para peserta untuk berinteraksi melalui sesi pengenalan IBCSD dan Kadin Net Zero Hub (NZH). IBCSD berkomitmen untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan saat ini juga generasi mendatang.
“Dengan bergabung dalam Kadin NZH, perusahaan tidak hanya mendapatkan akses ke sumber daya dan pengetahuan, tetapi juga kesempatan untuk berkolaborasi dalam inisiatif yang mendukung dekarbonisasi dan efisiensi energi,” lanjut Aloysius.
Dalam sesi workshop, peserta mendapatkan kesempatan untuk mendiskusikan makna transisi energi bisnis. Mereka juga mendapatkan wawasan tentang enam elemen kunci transisi energi, penerapan energi efisien, serta sumber energi rendah karbon yang relevan dengan regulasi dekarbonisasi di Indonesia.
IBCSD dan Jababeka NZICC meyakini hal itu dapat lebih membuat peserta workshop memahami langkah-langkah konkret yang bisa diambil untuk mendukung dekarbonisasi dan efisiensi energi di perusahaan masing-masing. Salah satu cara yang paling mudah ialah berkolaborasi dengan pengelola kawasan industri.
“Jababeka berkomitmen untuk mencapai target SDGs dan net zero melalui Core Decarbonization, yang memberdayakan tenant industri untuk melakukan mitigasi emisi dan aksi keberlanjutan secara mandiri,” jelas Kepala seksi Public-Infra bahwa Jababeka Regi Risman Sandi.
Di samping itu, ada Systemic Decarbonization mengedepankan kolaborasi antara tenant untuk tindakan mitigasi sistemik, termasuk pembangunan fasilitas dan infrastruktur kawasan. Dengan kedua strategi ini, Jababeka berupaya mengurangi jejak karbon dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(END)
Dorong Akselerasi Transisi Energi, IBCSD dan Jababeka NZICC Gelar Workshop
IBCSD bekerja sama dengan Jababeka NZICC menggelar workshop bertajuk Peningkatan Kapasitas Perusahaan untuk Efisiensi Energi dan Dekarbonisasi Sumber Energi. Indonesia... | Halaman Lengkap [368] url asal
#jababeka #energi-bersih #transisi-energi #energi-terbarukan #dekarbonisasi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/10/24 09:07
v/17142865/
BEKASI - Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bekerja sama dengan Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (Jababeka NZICC) sukses menggelar workshop bertajuk Peningkatan Kapasitas Perusahaan untuk Efisiensi Energi dan Dekarbonisasi Sumber Energi di Hotel Sunerra Antero, Jababeka, Bekasi, Kamis (3/10/2024) lalu.Tujuan workshop ini digelar untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan perusahaan di Kawasan Jababeka mengenai transisi energi serta strategi dekarbonisasi yang diperlukan untuk mencapai komitmen emisi nol bersih. Workshop ini dihadiri 20-25 perusahaan industri.
Head of Industrial & Public Engagement PT Jababeka Infrastruktur dan Executive Committee Jababeka NZICC, Beta Safitri menekankan pentingnya kolaborasi antar perusahaan untuk mencapai keberlanjutan yang lebih baik. Ia berharap agar perusahaan-perusahaan yang hadir dapat mengambil langkah nyata dalam transisi energi.
Sementara Direktur Eksekutif IBCSD Indah Budiani menyoroti pentingnya sinergi dalam mempercepat langkah menuju keberlanjutan. ?Transisi energi merupakan elemen kunci dalam perjalanan menuju net zero. Dengan adanya sesi berbagi pengetahuan dan sumber daya terkait transisi energi untuk bisnis seperti ini, kita bisa mempercepat langkah menuju masa depan rendah karbon,? ujarnya.
Dalam workshop ini peserta juga diajak berinteraksi melalui sesi pengenalan IBCSD dan KADIN Net Zero Hub (NZH). ?IBCSD berkomitmen untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan keberlanjutan untuk generasi mendatang,? kata Program & Engagement Manager IBCSD Aloysius Wiratmo.
?Dengan bergabung dalam Kadin NZH, perusahaan tidak hanya mendapatkan akses ke sumber daya dan pengetahuan, tetapi juga kesempatan untuk berkolaborasi dalam inisiatif yang mendukung dekarbonisasi dan efisiensi energi,? lanjutnya.
Dalam sesi workshop transisi energi bisnis, peserta mendapatkan kesempatan untuk mendiskusikan makna transisi energi bisnis. Mereka juga mendapatkan wawasan tentang enam elemen kunci transisi energi, penerapan energi efisien, serta sumber energi rendah karbon yang relevan dengan regulasi dekarbonisasi di Indonesia.
Ditambah dengan adanya sesi interaktif berupa kuis dan tanya jawab, pihak IBCSD dan Jababeka NZICC meyakini hal itu dapat lebih membuat peserta workshop memahami langkah-langkah konkret yang bisa diambil untuk mendukung dekarbonisasi dan efisiensi energi di perusahaan masing-masing.
Salah satu cara yang paling mudah perusahaan dalam menerapkan transisi energi atau dekarbonisasi ialah berkolaborasi dengan pengelola kawasan industri, seperti Jababeka Infrastruktur selaku pengelola Kawasan Jababeka. Kepala seksi Public-Infra Regi Risman Sandi menjelaskan, Jababeka berkomitmen untuk mencapai target SDGs dan net zero melalui Core Decarbonization.
Strategi Volta (NFCX) Kerek Penjulan saat Motor Listrik Tak Lagi Disubsidi
Volta, anak usaha NFC Indonesia (NFCX), membeberkan strategi untuk memasarkan sepeda motor listrik, jika nantinya tidak mendapatkan subsidi oleh pemerintah. [422] url asal
#nfc-indonesia #nfcx #motor-listrik-volta #volta #subsidi-motor-listrik #subsidi-kendaraan-listrik #energi-bersih #baterai-listrik #motor-listrik #iklan-digital #cloud-digital-advertising #iot #saham-n
(Bisnis.Com - Market) 26/10/24 12:47
v/17013056/
Bisnis.com, JAKARTA — Volta, anak usaha PT NFC Indonesia Tbk. (NFCX), membeberkan strategi untuk memasarkan sepeda motor listrik, jika nantinya tidak mendapatkan subsidi oleh pemerintah.
Pasalnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan kemungkinan bahwa subsidi motor listrik sebesar Rp7 juta per unit tidak akan dilanjut pada 2025.
CEO Volta dan Direktur NFCX, Okie Octavia Kurniawan mengatakan jika subsidi dihentikan, salah satu strategi penjualan perseroan yaitu akan lebih gencar mengedukasi masyarakat terkait keuntungan menggunakan sepeda motor listrik.
"Meskipun subsidi dapat membantu mendorong adopsi motor listrik, Volta tetap menyosialisasikan keuntungan bagi konsumen seperti ramah lingkungan, dan nilai ekonomis jangka panjang dalam hal efisiensi dibandingkan dengan motor konvensional," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Sabtu (26/10/2024).
Tak hanya itu, Volta juga akan melakukan pengembangan produk yang kompetitif, yaitu berfokus pada inovasi motor listrik berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Perseroan juga bekerja sama dengan lembaga keuangan untuk menawarkan kredit motor listrik dengan bunga rendah.
Selanjutnya, Volta juga akan memperluas fokus ke segmen konsumen yang lebih spesifik, seperti perusahaan yang memerlukan armada kendaraan listrik, program MOP untuk perusahaan, ojek online, atau pelanggan komersial.
"Kami juga akan memperkuat kemitraan dengan pemerintah atau perusahaan untuk program kendaraan listrik yang bersifat komunal atau fleet," katanya.
Okie pun tak menampik bahwa penjualan motor listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti masih adanya konsumen yang kurang memahami keuntungan jangka panjang pemakaian motor listrik baik dari sisi efisiensi maupun kesadaran akan dampak bagi lingkungan.
Menurutnya, seiring dengan kemajuan teknologi baterai dan semakin banyaknya stasiun pengisian, hambatan utama yang ada saat ini bisa berkurang, membuat motor listrik lebih kompetitif.
Tak hanya itu, kolaborasi dengan perusahaan di sektor teknologi kendaraan listrik juga bisa menjadi kunci untuk memperluas ekosistem motor listrik di masa depan.
"Terlepas dari penghentian subsidi, tren global dan domestik menuju kendaraan ramah lingkungan tetap kuat. Dengan semakin berkembangnya infrastruktur dan penurunan harga baterai, pasar motor listrik berpotensi terus tumbuh," pungkasnya.
Sebagai informasi, Volta memiliki berbagai model motor listrik, di antaranya yaitu Volta 401 seharga Rp16,95 juta, Volta Virgo (Rp18,1 juta), Volta Mandala (Rp18,95 juta), dan terbaru, Volta eX (Rp17,35 juta).
Diberitakan sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, program subsidi motor listrik tahun ini kuantitasnya yang ditetapkan oleh pemerintah dan DPR sebanyak 50.000 unit, dan kini sudah habis.
Kendati demikian, Agus memberi sinyal bahwa program subsidi motor listrik tersebut tidak akan dilanjut pada 2025, atau pada tahun pertama kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto lantaran tidak ada penambahan anggaran.
"Pertanyaannya, apakah akan ditambah? Kita lihat tahun depan tuh enggak ada," ujar Agus di Jakarta, dikutip Rabu (23/10/2024).
Menghapus Jejak Karbon Merajut Masa Depan Hijau
Pertamina berhasil berhasil melakukan dekarbonisasi sebesar 1,13 juta ton C02e dari target 910 ribu ton C02e pada 2023. [3,096] url asal
#transisi-energi #energi-bersih #pertamina #bisnis-pertamina #energi-terbarukan #emisi-karbon #perubahan-iklim #kendaraan-listrik
(IDX-Channel - Economics) 24/10/24 19:45
v/16937785/
IDXChannel - Sejak masa praindustri, suhu dunia sudah memanas sekitar 1,19 derajat celsius dalam jangka waktu 10 tahun. Ini memicu terjadinya cuaca ekstrem seperti gelombang panas, badai, dan kekeringan yang lebih intens serta perubahan pola cuaca di seluruh dunia.
Sahara, yang selama ribuan tahun gersang, mulai menunjukkan tanda-tanda vegetasi. Sementara hutan hujan Amazon yang dikenal sebagai paru-paru dunia pun mulai mengalami pengeringan dan deforestasi di sepanjang wilayahnya.
Fenomena tersebut dipicu oleh penggunaan bahan bakar fosil yang terus menerus seperti batu bara, minyak dan gas alam. Jika emisi karbon terus meningkat, Antartika dan Greenland dapat kehilangan sejumlah besar massa es dan permukaan air laut bisa naik hingga 1 meter menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).
Di sisi lain, produksi minyak bumi secara global juga mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya kesadaran global akan pentingnya menjaga lingkungan. Komitmen ini memaksa setiap negara termasuk Indonesia untuk mencari sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut dikukuhkan oleh 195 negara dengan meratifikasi Perjanjian Paris atau Paris Agreement pada 2016 lalu. Setiap negara yang berpartisipasi dalam Kesepakatan Paris diwajibkan untuk menyerahkan Nationally Determined Contributions (NDCs), yaitu target pengurangan emisi gas rumah kaca yang disesuaikan dengan kondisi nasional masing-masing negara.
Indonesia pun mendeklarasikan penurunan emisi menjadi 31,89 persen pada 2030 dengan target dukungan internasional sebesar 43,20 persen. Langkah-langkah yang ditempuh pemerintah berupa penetapan target emisi nol bersih, pengembangan energi terbarukan, dan pengurangan subsidi bahan bakar fosil.
Keikutsertaan Indonesia juga dilatarbelakangi oleh konsumsi minyak bumi yang mencapai 1,5 juta barrels of oil per day (BOPD). Sementara produksi minyak dalam negeri hanya mencapai 700 ribu BPOD. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut, terdapat ketimpangan yang besar antara konsumsi dan produksi sehingga mengharuskan Indonesia untuk meningkatkan impor minyak.
Ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) ini tidak hanya berkontribusi terhadap neraca perdagangan tapi juga meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi harga minyak global dan risiko pasokan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu perusahaan energi terbesar di Indonesia memiliki andil yang besar dalam mewujudkan ketahanan energi yakni dengan menempatkan energi terbarukan sebagai salah satu pilar utama dalam strategi bisnis jangka panjang.
Dalam implementasinya, Pertamina mengalokasikan 15 persen dari belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk mengembangkan bisnis nol karbon ini.
Komitmen Pertamina pada Energi Terbarukan
BUMN migas itu mengembangkan kapasitas energi terbarukan hingga 10 GW pada 2026 dengan nilai investasi USD10 miliar. Ini difokuskan pada energi panas bumi, tenaga surya, bioenergi, hingga infrastruktur kendaraan listrik.
Dalam memaksimalkan potensi energi panas bumi yang baru tergarap 4 persen, Pertamina melalui anak usahanya, Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengoperasikan PLTP dengan nilai investasi USD1 miliar. Kapasitas yang sudah terpasang mencapai 672 MW dengan target 1 GW hingga 2026. Pada 2022, kontribusi panas bumi Pertamina membantu mengurangi emisi karbon sebesar 3,2 juta ton CO? per tahun.
Kemudian, pemasangan panel surya di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan fasilitas lain juga tak luput dari usaha Pertamina. Pada 2021, Perseroan meresmikan PLTS terbesar di area SPBU Bali yang mampu menghasilkan 1 MWp listrik. Setidaknya terjadi peningkatan kapasitas energi surya hingga 1,6 MW dari proyek-proyek percontohan yang dijalankan Pertamina di 2022. Perusahaan juga menargetkan untuk menginstalasi 500 MWp tenaga surya di berbagai lokasi operasionalnya pada 2025 dengan perkiraan anggaran USD2 juta per lokasi.
Pertamina pun mengembangkan biogas dan biodiesel berbasis bahan baku nabati seperti kelapa sawit dan minyak jelantah dengan menggandeng petani lokal. Program Green Diesel (D100) yang diluncurkan pada 2020 di Kilang Dumai ini mampu memproduksi diesel berbasis minyak kelapa sawit dengan kapasitas 1.000 barel per hari.
Pada 2022, Pertamina meluncurkan B40 (campuran 40 persen biodiesel dengan solar) sebagai bagian dari komitmennya untuk mengurangi impor BBM dan mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan. Kapasitas produksi Green Diesel ditargetkan mencapai 6.000 barel per hari dengan nilai investasinya sekitar USD500 juta.
Inovasi CCS dan Pengembangan Hidrogen Hijau
Salah satu inovasi paling signifikan Pertamina dalam menurunkan emisi karbon adalah penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi ini memungkinkan penangkapan emisi karbon dari fasilitas industri dan pembangkit listrik, yang kemudian disimpan di bawah tanah sehingga tidak dilepaskan ke atmosfer.
Pada 2022, Pertamina memulai proyek percontohan CCS di lapangan Tangguh, Papua Barat, dan Lapangan Sukowati, Jawa Timur. Proyek ini bertujuan untuk menangkap 1,5 juta ton CO? per tahun dari operasi migas yang ada. Ini menjadikannya salah satu proyek CCS terbesar di Asia Tenggara sehingga Indonesia memiliki potensi menjadi Carbon Capture Hub atau pusat penyimpanan CO2 dalam skala regional.
Menurut Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, Indonesia memiliki 520 gigaton CO2 storage sehingga akan berkontribusi besar terhadap pencapaian target keberlanjutan global.
Pertamina sendiri memiliki potensi 400 giga pounds CCUS atau semacam rumah untuk karbon dalam mengurangi emisi gas buang dari operasional hulu migas. Dengan begitu, penyimpanan karbon dapat menjadi bisnis baru dan CO2 yang tersimpan akan menambah kredit karbon Indonesia.
“Bahwa transisi energi juga bukan hanya mengurangi kegiatan bisnis di hulu migas. Tetapi juga menciptakan bisnis baru,” kata Nicke dalam Kick Off Field Trial Interwell CO2 Injection di Lapangan Sukowati, Bojonegoro, Jawa Timur pada Senin (14/10/2024).
Di sisi lain, Pertamina mulai mengembangkan hidrogen hijau, yang dihasilkan dari air dengan menggunakan energi terbarukan (EBT). Hidrogen hijau dianggap sebagai salah satu bahan bakar masa depan paling potensial karena menghasilkan nol emisi.
Karena itu, perseroan berencana mengembangkan fasilitas produksi hidrogen hijau berskala besar dengan kapasitas 50 ribu ton per tahun pada 2026-2030. Proyek ini mengandalkan sumber daya energi terbarukan yang sudah dimiliki Pertamina, terutama dari panas bumi dan tenaga surya.
Meskipun hidrogen hijau memiliki potensi besar, Pertamina dihadapkan pada biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan hidrogen yang dihasilkan dari bahan bakar fosil. Nilai investasi yang dibutuhkan dalam proyek jangka panjang ini mencapai USD1,5-USD2 miliar termasuk investasi teknologi elektrolisis, infrastruktur penyimpanan, dan biaya distribusi.
Karena itu, dibutuhkan kerja sama dengan beberapa mitra internasional, termasuk menjajaki potensi ekspor hidrogen hijau ke pasar global khususnya Eropa yang semakin membutuhkan energi bersih. Saat ini Pertamina telah menggandeng ENEOS Corporation, sebuah perusahaan energi asal Jepang untuk mengembangkan teknologi hidrogen hijau.
Infrastruktur Kendaraan Listrik
Untuk mempercepat transisi energi, Pertamina juga melebarkan sayapnya ke bisnis infrastruktur kendaraan listrik (EV). Anak usahanya, Pertamina Power Indonesia (PPI) meluncurkan sejumlah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di beberapa kota besar, termasuk Jakarta dan Bali pada 2022 lalu.
Perseroan berencana untuk membangun lebih dari 500 unit SPKLU di seluruh Tanah Air pada 2025 untuk meningkatkan penggunaan kendaraan listrik dan mengurangi emisi karbon. Setiap unit SPKLU membutuhkan investasi sekitar USD50 ribu sampai USD100 ribu sehingga total dana yang dibutuhkan mencapai USD50 juta.
Selain SPKLU, Perseroan juga mengincar bisnis battery swapping di mana pengguna kendaraan listrik dapat mengganti baterai yang habis dengan baterai yang sudah terisi penuh. Ini akan mempersingkat waktu pengisian dibandingkan dengan metode pengisian konvensional.
Ekspansi bisnis ini berlanjut pada kolaborasi antara Pertamina NRE, subholding Pertamina yang fokus pada pengembangan energi bersih dengan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), anak perusahaan dari Grup Bakrie. Keduanya akan mengembangkan opsi pembiayaan yang fleksibel untuk operasi dan pemeliharaan bus listrik melalui e-Mobility as a Service (e-MaaS). Pasalnya, investasi infrastruktur transportasi publik saat ini masih mengandalkan dana pemerintah.
VKTR dan Pertamina NRE akan membentuk joint venture (JV) atau usaha patungan yang menyediakan kendaraan listrik untuk kebutuhan Transjakarta atau perusahaan-perusahaan lain. Dengan menyediakan belanja modal yang memadai, perusahaan bersangkutan cukup membayar sewa atau membayar rupiah per kilometer pakai kepada JV tersebut. Adapun JV ditargetkan menjual 10 ribu unit kendaraan listrik hingga 2030.
"VKTR berkomitmen untuk menyediakan solusi financing yang memudahkan untuk memfasilitasi infrastruktur EV yang komprehensif, mengalihkan model CAPEX ke model OPEX, dan secara signifikan berkontribusi pada ekonomi Indonesia melalui e-MaaS. Bersama dengan PNRE, kami siap merevolusi lanskap EV di Indonesia dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih hijau dan sadar lingkungan," ujar CEO VKTR Gilarsi W Setijono usai seremonial penandatanganan Joint Development Agreement di Graha Pertamina, Jakarta pada Selasa (26/3/2024).
Saat ini, Indonesia mengoperasikan lebih dari 260 ribu unit bus terdaftar dengan nilai USD50 miliar. CEO Pertamina NRE, John Anis menambahkan, kemitraan ini akan berfokus pada bus sebagai transportasi massal untuk tahap awal. Kemudian berkembang ke segmen kendaraan komersial seperti truk dan kendaraan lainnya.
"Kami sangat bangga dan optimis dengan kerjasama ini, sudah saatnya berbagai pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat membangun ekosistem kendaraan listrik yang kuat. Tidak hanya bicara tentang peningkatan ekonomi, menjaga lingkungan dan keberlanjutan juga menjadi hal yang juga terus Pertamina kembangkan lewat berbagai inovasi dan kerjasama strategis lainnya,” kata John.
Digitalisasi Energi Bersih
Digitalisasi memainkan peran penting dalam inovasi energi hijau Pertamina. Melalui penggunaan Internet of Things (IoT), big data, kecerdasan buatan (AI), smart grid, hingga blockchain dapat meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan produksi energi terbarukan.
Adapun pemantauan dan optimasi berbasis IoT sudah diterapkan di lapangan panas bumi dan mampu meningkatkan output energi hingga 5-10 persen dari kapasitas normal. Tak kalah, Pertamina juga menggunakan teknologi digital twin untuk mensimulasikan kinerja pembangkit listrik tenaga surya dan panas bumi, yang memungkinkan perusahaan melakukan prediksi dan pemeliharaan secara lebih efisien.
Di berbagai SPBU Pertamina misalnya, panel surya telah dipasang untuk mendukung operasional stasiun pengisian bahan bakar dengan energi yang lebih ramah lingkungan. Digitalisasi memungkinkan manajemen SPBU memantau konsumsi energi, output tenaga surya, serta mengintegrasikannya dengan jaringan listrik umum.
Di sisi lain, Perseroan mendirikan Digital Acceleration Center (DAC) sebagai pusat inovasi digital dan pengembangan teknologi di bidang energi, termasuk energi bersih. Salah satu inovasinya, berhasil menciptakan platform untuk mengukur jejak karbon (carbon footprint) dalam proses produksi energi.
Saat ini ribuan sumur yang dikelola Pertamina sudah terkoneksi secara digital dari hulu hingga ke hilir. Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan, transformasi digital dan inovasi riset teknologi ini berhasil mendorong kinerja yang positif di hampir seluruh lini bisnis.
Subholding Upstream Pertamina mampu mencatatkan kenaikan produksi migas sebesar 8 persen sepanjang 2023. "Kita sudah mulai menggunakan AI untuk mengolah dan analisa data secara lebih cepat sehingga pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan akurat," ujar Nicke dalam acara Pemred Gathering Pertamina 2024, di Bali, pada Minggu (23/6/2024).
Bahan Bakar Rendah Emisi untuk Masa Depan
Sebagai bagian dari komitmennya terhadap energi bersih, Pertamina juga mengembangkan produk bahan bakar rendah emisi seperti biofuel. Produk tersebut merupakan bahan bakar terbarukan pengganti bahan bakar fosil misalnya biogas, bioetanol, dan biodiesel.
Hal ini sejalan dengan revisi perubahan Peraturan Pemerintah 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dan berbagai upaya untuk mendorong tercapainya target bauran energi. Dalam konteks pengembangan bahan bakar nabati, diperlukan diversifikasi feedstock untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis sumber bahan bakar nabati (BBN).
Namun kebutuhan akan stok Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah untuk program mandatori biodiesel tidak perlu dikhawatirkan. Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, stok CPO aman untuk kebutuhan pengembangan biodiesel ke depan.
"Kalau ditanya bahwa itu cukup atau tidak, B35 sampai B40, itu kan kita habiskan kurang lebih sekitar 14 juta kiloliter. Nah, sementara ekspor kita kan masih banyak. Nah, kalau ditanya kapasitasnya CPO kita cukup atau tidak, cukup. Pasti cukup," ujarnya di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (21/10/2024).
Pertamina sudah mendistribusikan B30, yaitu campuran 30 persen biodiesel berbasis nabati (minyak sawit) dengan 70 persen solar fosil. Penggunaan biodiesel ini diklaim secara signifikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 20-30 persen dibandingkan solar konvensional.
Sejalan dengan itu, peluang industri biofuel sangat besar lantaran Indonesia mensuplai 21 persen minyak nabati dan minyak sawit dunia. Vice Chairman Research & Technology Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Jummy BM Sinaga menyebut, kapasitas terpasang biodiesel di Indonesia mencapai 20 juta kiloliter.
Dengan kata lain, masih ada ruang untuk meningkatkan campuran hingga 40 persen atau B40. Saat ini penggunaan biodiesel telah berhasil diimplementasikan di sektor otomotif dan sedang berlangsung uji coba untuk non otomotif seperti sektor kereta api, alat berat di sektor pertambangan, pembangkit listrik, dan alat mesin pertanian.
"Program B35 saat ini telah berhasil diimplementasikan dan progress uji coba biodiesel B40 yang sedang dilakukan secara bertahap. Jika uji coba B40 diperkirakan selesai akhir 2024 dan berjalan dengan lancar maka ada kemungkinan implementasinya pada 2025," tutur Jummy pada The 2nd Pertamina Energy Dialog 2024, Senin (5/8/2024).
Pertamina juga meluncurkan green diesel (D100) atau solar yang sepenuhnya diproduksi dari minyak sawit murni dan diproduksi di Kilang Dumai dengan kapasitas 1.000 barel per hari. Ini memiliki potensi untuk menekan emisi karbon hingga 80 persen sehingga menjadikannya salah satu bahan bakar paling ramah lingkungan.
Pada 2021, Pertamina menyediakan Pertamax Turbo Euro 4, yakni bahan bakar berkualitas tinggi yang sesuai dengan standar emisi Eropa dan mampu mengurangi emisi gas buang secara signifikan. Dengan kandungan sulfur yang rendah, Pertamina Dex berkontribusi pada penurunan emisi partikel berbahaya (seperti SOx) yang sering dihasilkan oleh bahan bakar dengan kadar sulfur tinggi.
Solar CN 51 juga varian solar ramah lingkungan yang dikembangkan oleh Pertamina. Angka cetane number (CN)-nya lebih tinggi, yaitu 51 dibandingkan dengan solar biasa yang memiliki CN 48. CN 51 memberikan pembakaran yang lebih efisien, sehingga menghasilkan emisi yang lebih rendah.
Selain solar, Perseroan mengembangkan bioavtur atau bahan bakar pesawat dengan campuran komponen nabati. Saat ini bioavtur diproduksi di Kilang Cilacap dengan kandungan nabati 2,4 persen. Penggunaan Bioavtur diharapkan dapat mengurangi 50-80 persen emisi karbon pesawat terbang dibandingkan saat menggunakan avtur konvensional.
Dari berbagai upaya tersebut, Pertamina berhasil berhasil melakukan dekarbonisasi sebesar 1,13 juta ton C02e dari target 910 ribu ton C02e pada 2023. Keberhasilan ini menjadikan Pertamina menduduki peringkat pertama dalam ranking ESG di dunia berdasarkan sustainalytics, pada subsektor minyak dan gas terintegrasi dari 61 perusahaan dunia.
Prospek Cerah dan Tantangan Bisnis Energi Bersih
Permintaan akan energi bersih seperti energi terbarukan, teknologi rendah emisi, dan kendaraan listrik (EV) semakin meningkat di berbagai negara.Menurut laporan Renewables 2022 Global Status Report, kapasitas energi terbarukan secara global tumbuh sebesar 9,1 persen pada 2021, dengan investasi mencapai USD366 miliar.
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN), persentase penggunaan batu bara di dalam negeri turun menjadi 40,46 persen pada 2023 dari sebelumnya sebesar 42,38 persen. Sebaliknya, penggunaan energi terbarukan meningkat 0,79 persen menjadi 13,09 persen pada 2023.
Ini menunjukkan peningkatan minat yang besar dalam penggunaan energi bersih untuk menggantikan energi berbasis fosil. Meski demikian, realisasi tersebut masih di bawah target pemerintah yang menetapkan peningkatan kapasitas EBT sebesar 23 persen pada 2025. Apalagi kebutuhan energi Indonesia pada 2050 diproyeksikan mencapai 2,9 miliar setara barel minyak (SBM).
Untuk memenuhinya, Indonesia perlu melakukan transisi energi dari fosil ke EBT yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan. Upaya yang dapat dilakukan pemerintah yakni mendorong kapasitas terpasang, menggenjot produksi, maupun meningkatkan konsumsi energi bersih yang sejalan dengan kebijakan insentif fiskal maupun non fiskal.
Saat ini, pemerintah sudah memberikan tarif khusus dalam harga jual pembangkit listrik energi terbarukan sebagai salah satu insentif fiskal. Sedangkan untuk insentif non fiskal sebagaimana diatur dalam PP Nomor 3 Tahun 2005, pengembangan energi terbarukan juga tidak memerlukan proses tender. Insentif fiskal lainnya bagi pengembang energi baru terbarukan yaitu tax allowance yang mencakup 145 segmen bisnis yang memenuhi syarat untuk tunjangan pajak.
Pemerintah juga menyiapkan insentif pajak dan subsidi bagi kendaraan listrik. Di mana subsidi sebesar Rp70 juta-Rp80 juta untuk mobil listrik berbasis baterai, subsidi sebesar Rp40 juta untuk mobil listrik hybrid, subsidi motor listrik sebesar Rp7 juta per unit, serta konversi motor konvensional menjadi motor listrik sebesar Rp 5 juta per unit.
Insentif ini diberikan untuk mencapai target 2 juta kendaraan listrik di Indonesia pada 2025. Sementara itu, pasar kendaraan listrik global diperkirakan akan tumbuh sebesar 24,3 per tahun hingga 2028, dengan total penjualan mencapai 39,21 juta unit pada 2030.
Peluang ini dapat dimanfaatkan Pertamina melalui bisnis teknologi baterai, infrastruktur pengisian, dan kendaraan listrik misalnya membangun 10 ribu SPKLU di seluruh Indonesia hingga 2030 sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya.
Kemudian pengembangan hidrogen hijau juga berpotensi menjadikan Indonesia pemain utama di kawasan. Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina Salyadi Dariah Saputra mengatakan, hidrogen hijau bisa menjadi salah satu bisnis masa depan Pertamina.
"Namun, dibutuhkan investasi besar serta dukungan pemerintah sehingga ekosistem hidrogen di sektor transportasi bisa terbangun dengan maksimal," katanya dalam siaran pers, Kamis (22/8/2024).
Pertamina sendiri telah memetakan 17 lokasi sumber pasokan hidrogen yang tersebar dari Sumatera hingga Papua. Saat ini perseroan tengah mengembangkan proyek percontohan hidrogen hijau di area geothermal Ulubelu dengan target produksi 100 kg per hari dan memulai proyek percontohan hidrogen hijau di Jawa Barat dengan menggunakan energi panas bumi.
Tantangan Bisnis Energi Bersih
Pengembangan energi bersih masih menjadi perdebatan di berbagai kalangan. Pasalnya, target pengurangan emisi ini dinilai belum memadai lantaran masih menggunakan co firing, biomassa serta clean coal technology berupa teknologi penangkapan karbon (CCS) pada pembangkit listrik fosil.
Hal ini dianggap berbahaya berdasarkan analisis dari Yayasan Indonesia CERAH yang menerbitkan risalah Kebijakan Transisi Energi Indonesia 2014-2024. Dalam analisisnya, pencampuran bahan bakar nabati (biomassa), maupun penggunaan clean coal technology seperti CCS pada PLTU, dapat melanggengkan penggunaan batu bara penghasil emisi.
Forest Watch Indonesia (2023) menyebutkan, transisi energi yang mengandalkan bahan bakar nabati seperti biomassa, berpotensi menghilangkan hutan alam seluas 55 ribu hektare (ha) atau deforestasi. Lebih lanjut, penggunaan teknologi CCS dinilai tidak benar-benar menghilangkan emisi, tetapi mencegah pelepasan emisi ke atmosfer melalui penyimpanan bawah tanah.
Pengamat Energi Komaidi Notonegoro mengungkapkan, harga bahan bakar fosil yang rendah dan akses mudah terhadap pembiayaan untuk proyek-proyek berbasis fosil membuat transisi energi bersih menjadi lebih sulit.
Karena itu, Pertamina diminta lebih berhati-hati saat beralih ke energi bersih lantaran pendapatan Pertamina mayoritas masih berasal dari bisnis fosil.
"Kalau dilihat streaming pendapatan Pertamina, EBT saat ini hanya di panas bumi, uap, dan listrik. Kalau dihitung dari 2019-2023 itu hanya 0,7-1,1 persen. Artinya 98-99 persen pendapatan Pertamina masih dari fosil," katanya dalam media briefing di Sarinah, Jakarta, Selasa (10/9/2024).
Terlepas dari perdebatan tersebut, dana yang diperlukan untuk transisi energi juga sangat besar. Kesepakatan Paris berjanji untuk memberikan bantuan finansial sebesar USD100 miliar per tahun ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, Indonesia setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp1.500 triliun untuk mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025. Sementara itu, dalam laporan International Renewable Energy Agency (IRENA), secara global investasi yang dibutuhkan mencapai USD131 triliun sepanjang 2021-2050.
Selain itu, minat investor terhadap proyek EBT cukup rendah akibat tingginya biaya modal dan operasional, serta risiko teknis dan komersial serta pembiayaan yang kurang kompetitif. Masalah perizinan yang terlalu panjang, rumit, dan birokratis juga menjadi penghambat yang menyebabkan lamanya waktu realisasi proyek dan meningkatnya biaya transaksi.
Di sisi lain, ketersediaan teknologi dan kapasitas infrastruktur energi bersih di Indonesia, seperti energi surya dan hidrogen hijau juga relatif rendah. Ditambah dengan keterbatasan infrastruktur pendukung yang juga menjadi penghalang utama dalam pengembangan tenaga surya skala besar. Pasalnya, ini memerlukan jaringan listrik canggih dan penyimpanan energi yang efisien. Sementara hidrogen hijau masih memerlukan teknologi yang lebih efisien untuk bisa bersaing secara ekonomi.
(DESI ANGRIANI)
Manfaatkan Energi Bersih, Merck Pasang Panel Surya di Pabrik
PT Merck Tbk (MERK) meresmikan instalasi panel surya fotovoltaik (PV) di atap pabriknya yang berlokasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur. [361] url asal
#energi-terbarukan #energi-bersih #emisi-karbon #merck #panel-surya
(Kompas.com) 23/10/24 18:19
v/16903016/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Merck Tbk (MERK) meresmikan instalasi panel surya fotovoltaik (PV) di atap pabriknya yang berlokasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Merck dalam mendorong transisi menuju energi terbarukan perusahaan.
Selain instalasi panel surya, Merck juga telah mengambil inisiatif untuk membeli Sertifikat Energi Terbarukan atau Renewable Energy Certificate (REC) dari PT PLN (Persero).
Arryo Aritrixso Wachjuwidajat, Site Director PT Merck Tbk, menegaskan komitmen Merck Group, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk menjalankan operasional yang berkelanjutan.
SHUTTERSTOCK/DIYANA DIMITROVA Ilustrasi panel surya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)."Kami berkomitmen untuk terus mengurangi dampak lingkungan, baik melalui pengurangan emisi karbon maupun peningkatan penggunaan energi terbarukan. Pada 2030, kami menargetkan pengurangan emisi GRK langsung (Cakupan 1) dan tidak langsung (Cakupan 2) sebesar 50 persen dibandingkan dengan tahun dasar 2020, dan penggunaan 80 persen energi terbarukan dalam operasional kami, sebagai bagian dari upaya global menuju masa depan yang lebih berkelanjutan," kata Aryyo dalam keterangan resmi, Rabu (23/10/2024).
Komitmen keberlanjutan ini salah satunya diwujudkan melalui peresmian panel surya
fotovoltaik (PV) dan pembelian energi terbarukan.
Di Indonesia, imbuh Arryo, instalasi panel surya ini tidak hanya menjadi tonggak penting dalam perjalanan Merck menuju operasional yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga merupakan bukti komitmen jangka panjang dalam mengurangi jejak lingkungan dan mendukung transisi energi terbarukan.
"Kami yakin, investasi ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi Merck tetapi juga masyarakat luas, terutama dalam mengurangi jejak karbon dan mendukung upaya global untuk melawan perubahan iklim," tutur dia.
Manfaatkan Energi Bersih, Merck Pasang Panel Surya di Pabrik Halaman all
PT Merck Tbk (MERK) meresmikan instalasi panel surya fotovoltaik (PV) di atap pabriknya yang berlokasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Halaman all?page=all [361] url asal
#energi-terbarukan #energi-bersih #emisi-karbon #merck #panel-surya
(Kompas.com) 23/10/24 18:19
v/16900106/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Merck Tbk (MERK) meresmikan instalasi panel surya fotovoltaik (PV) di atap pabriknya yang berlokasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Merck dalam mendorong transisi menuju energi terbarukan perusahaan.
Selain instalasi panel surya, Merck juga telah mengambil inisiatif untuk membeli Sertifikat Energi Terbarukan atau Renewable Energy Certificate (REC) dari PT PLN (Persero).
Arryo Aritrixso Wachjuwidajat, Site Director PT Merck Tbk, menegaskan komitmen Merck Group, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk menjalankan operasional yang berkelanjutan.
SHUTTERSTOCK/DIYANA DIMITROVA Ilustrasi panel surya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)."Kami berkomitmen untuk terus mengurangi dampak lingkungan, baik melalui pengurangan emisi karbon maupun peningkatan penggunaan energi terbarukan. Pada 2030, kami menargetkan pengurangan emisi GRK langsung (Cakupan 1) dan tidak langsung (Cakupan 2) sebesar 50 persen dibandingkan dengan tahun dasar 2020, dan penggunaan 80 persen energi terbarukan dalam operasional kami, sebagai bagian dari upaya global menuju masa depan yang lebih berkelanjutan," kata Aryyo dalam keterangan resmi, Rabu (23/10/2024).
Komitmen keberlanjutan ini salah satunya diwujudkan melalui peresmian panel surya
fotovoltaik (PV) dan pembelian energi terbarukan.
Di Indonesia, imbuh Arryo, instalasi panel surya ini tidak hanya menjadi tonggak penting dalam perjalanan Merck menuju operasional yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga merupakan bukti komitmen jangka panjang dalam mengurangi jejak lingkungan dan mendukung transisi energi terbarukan.
"Kami yakin, investasi ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi Merck tetapi juga masyarakat luas, terutama dalam mengurangi jejak karbon dan mendukung upaya global untuk melawan perubahan iklim," tutur dia.
Manfaatkan Energi Bersih, Merck Pasang Panel Surya di Pabrik
PT Merck Tbk (MERK) meresmikan instalasi panel surya fotovoltaik (PV) di atap pabriknya yang berlokasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Halaman all [617] url asal
#energi-terbarukan #energi-bersih #emisi-karbon #merck #panel-surya
(Kompas.com - Money) 23/10/24 18:19
v/16889237/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Merck Tbk (MERK) meresmikan instalasi panel surya fotovoltaik (PV) di atap pabriknya yang berlokasi di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Merck dalam mendorong transisi menuju energi terbarukan perusahaan.
Selain instalasi panel surya, Merck juga telah mengambil inisiatif untuk membeli Sertifikat Energi Terbarukan atau Renewable Energy Certificate (REC) dari PT PLN (Persero).
Arryo Aritrixso Wachjuwidajat, Site Director PT Merck Tbk, menegaskan komitmen Merck Group, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk menjalankan operasional yang berkelanjutan.
SHUTTERSTOCK/DIYANA DIMITROVA Ilustrasi panel surya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)."Kami berkomitmen untuk terus mengurangi dampak lingkungan, baik melalui pengurangan emisi karbon maupun peningkatan penggunaan energi terbarukan. Pada 2030, kami menargetkan pengurangan emisi GRK langsung (Cakupan 1) dan tidak langsung (Cakupan 2) sebesar 50 persen dibandingkan dengan tahun dasar 2020, dan penggunaan 80 persen energi terbarukan dalam operasional kami, sebagai bagian dari upaya global menuju masa depan yang lebih berkelanjutan," kata Aryyo dalam keterangan resmi, Rabu (23/10/2024).
Komitmen keberlanjutan ini salah satunya diwujudkan melalui peresmian panel surya
fotovoltaik (PV) dan pembelian energi terbarukan.
Di Indonesia, imbuh Arryo, instalasi panel surya ini tidak hanya menjadi tonggak penting dalam perjalanan Merck menuju operasional yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga merupakan bukti komitmen jangka panjang dalam mengurangi jejak lingkungan dan mendukung transisi energi terbarukan.
"Kami yakin, investasi ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi Merck tetapi juga masyarakat luas, terutama dalam mengurangi jejak karbon dan mendukung upaya global untuk melawan perubahan iklim," tutur dia.
Instalasi panel surya di atap pabrik Merck ini dikerjakan oleh PT PLN Indonesia Geothermal, anak usaha PT PLN Indonesia Power yang berfokus pada pengembangan pembangkit energi baru dan terbarukan baik di dalam atau di luar PLN Group.
Panel surya yang terpasang mencakup area seluas 2.100 meter persegi dengan total 817 modul surya. Panel ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 473,9 kWp dan diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 594,3 MWh listrik per tahun.
Energi ini akan memberikan kontribusi 12 persen dari total kebutuhan energi tahunan pabrik serta menurunkan emisi GRK sebesar 465,3 ton CO2, mengurangi ketergantungan pada
sumber energi konvensional.
Lambok Renaldo Siregar, Direktur Proyek PLN Indonesia Geothermal menjelaskan, sebagai negara yang memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah, Indonesia memiliki peluang
besar untuk memimpin dalam adopsi energi bersih.
"Kami berharap kolaborasi antara PLN Indonesia Geothermal dan Merck dapat menginspirasi perusahaan lain untuk mengambil langkah serupa dalam mendukung penggunaan energi terbarukan, pengurangan jejak karbon untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) 2060 dan mendorong daya saing global industri nasional," ucap dia.
Selain instalasi fisik panel surya, Merck juga telah mengambil langkah proaktif dengan
membeli energi hijau melalui REC dari PLN yang telah digunakan untuk operasional pabrik sejak tahun 2022.
Dengan langkah ini, Merck akan meningkatkan portofolio energi listrik berasal dari energi terbarukan hingga 40 persen pada tahun 2026. Hal ini mencerminkan kontribusi signifikan perusahaan dalam mendukung agenda energi bersih di Indonesia yang sejalan dengan salah satu target keberlanjutan Merck Group, yaitu mengurangi jejak ekologis.
Pada 2040, Merck menargetkan untuk mencapai netralitas iklim dan mengurangi konsumsi sumber daya.
PLN EPI-Sembcorp Bangun Proyek Hidrogen Hijau Terbesar di Asia Tenggara
Proyek bersama ini memiliki kapasitas produksi mencapai 100.000 metrik ton per tahun dan akan menjadi proyek hidrogen hijau terbesar di Asia Tenggara. PT PLN Energi... | Halaman Lengkap [470] url asal
#pln-epi #hidrogen-hijau #transisi-energi #energi-bersih
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 23/10/24 13:54
v/16881577/
JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia ( PLN EPI ) menandatangani Perjanjian Pengembangan Bersama (Joint Development Agreement/JDA) dengan Sembcorp Industries untuk pengembangan fasilitas produksi hidrogen hijau di Sumatera. Kerja sama ini merupakan komitmen PLN EPI dalam mendukung transisi energi di Indonesia.Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) Hartanto Wibowo mengatakan, pengembangan hidrogen hijau menjadi salah satu strategi PLN dalam mengakselerasi proyek ramah lingkungan. "Hidrogen hijau merupakan kunci energi masa depan. Proyek yang ditandatangani hari ini akan menjadi yang pertama dan terbesar untuk hub hidrogen Asia Tenggara. Ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam membentuk kembali lanskap energi di kawasan ini," ujar Hartanto dalam keterangan resminya, Rabu (23/10/2024).
Direktur Utama PLN EPI Iwan Agung Firstantara menjelaskan proyek ini memiliki kapasitas produksi mencapai 100.000 metrik ton per tahun dan akan menjadi proyek hidrogen hijau terbesar di Asia Tenggara. Proyek ini berperan penting dalam membentuk pusat hidrogen hijau regional yang menghubungkan Sumatera, Kepulauan Riau, dan Singapura.
Penandatanganan JDA ini berlangsung dalam rangkaian acara Singapore International Energy Week (SIEW) 2024 dan merupakan lanjutan dari fase pertama studi bersama yang melibatkan pemilihan lokasi, penilaian risiko, serta pengembangan skema teknis. Dengan adanya JDA ini, proyek akan berlanjut ke fase berikutnya yang mencakup rekayasa detail dan perencanaan komersial.
"Kerja sama ini mencerminkan komitmen PLN EPI dalam mendukung transisi energi berkelanjutan. Proyek hidrogen hijau ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam transisi energi di ASEAN, tetapi juga membuka peluang besar untuk mengembangkan infrastruktur energi bersih yang dapat memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor," kata Iwan.
Sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam mendukung transisi energi dan mencapai Net Zero Emissions, proyek hidrogen hijau ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan. Hidrogen hijau akan menjadi salah satu solusi utama dalam upaya dekarbonisasi sektor energi, serta mendorong inovasi dan kolaborasi antarnegara di kawasan Asia Tenggara.
Proyek ini selaras dengan strategi hidrogen nasional Singapura yang berfokus pada solusi energi berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon, serta sejalan dengan inisiatif Indonesia untuk membangun infrastruktur hidrogen yang kokoh. Hidrogen hijau yang dihasilkan dari proyek ini akan berperan penting dalam upaya dekarbonisasi industri, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh kawasan Asia Tenggara.
"Kami sangat antusias bekerja sama dengan Sembcorp dalam pengembangan proyek ini. Ini merupakan langkah nyata untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya berperan sebagai penyedia energi konvensional, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam energi bersih di tingkat regional," lanjut Iwan.
CEO Singapore and Southeast Asia Sembcorp Industries Koh Chiap Khiong mengatakan, kesepakatan ini menandai tahapan penting dalam pengembangan ekosistem hidrogen yang berkelanjutan untuk Asia Tenggara. Dia menambahkan, Sembcorp dan PLN berkomitmen menyukseskan program ini untuk mendorong diversifikasi sumber energi dan ketahanan energi Asia Tenggara.
"Kami telah melaksanakan progress yang signifikan dalam kerjasama dengan PLN. Proyek ini menandai tahapan penting menuju pembangunan ekosistem hidrogen. Ini memungkinkan koneksi Sumatera, Kepulauan Riau dan Singapura untuk hub hidrogen yang kuat," tandasnya.
Reforestasi Lahan Kritis, Solusi Cofiring Biomassa untuk Transisi Energi Bersih
Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman, menekankan pentingnya reforestasi dalam menyediakan bahan baku untuk cofiring, langkah signifikan dalam menjaga... | Halaman Lengkap [295] url asal
#transisi-energi #energi-terbarukan #energi-bersih
(SINDOnews Ekbis) 22/10/24 16:36
v/16838165/
JAKARTA - Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman, menekankan pentingnya reforestasi dalam menyediakan bahan baku untuk cofiring, langkah signifikan dalam menjaga lingkungan dan mendukung transisi energi menuju net zero emission."Dengan menanam kembali pohon-pohon di lahan kritis, kita tidak hanya memproduksi sumber energi terbarukan, tetapi juga mengembalikan fungsi ekosistem yang hilang. Hal ini menunjukkan bahwa reforestasi tidak hanya berkontribusi pada pasokan biomassa, tetapi juga memperbaiki kondisi lingkungan yang telah terdegradasi," kata dia, dikutip, Selasa (22/10/2024).
Melalui reforestasi, lahan yang sebelumnya kritis dapat ditanami pohon indigofera, jenis tanaman yang mampu menyimpan air, sehingga tanah menjadi subur. Ranting pohonnya kemudian diolah oleh masyarakat menjadi biomassa, yang selanjutnya dibeli oleh PLN sebagai bahan campuran batu bara di PLTU melalui proses yang disebut cofiring.
"Dengan cara tersebut, penggunaan batu bara di PLTU berkurang, sehingga emisi karbon juga menurun. Selain itu, lahan kritis yang diolah menjadi hijau kembali, serta ekonomi masyarakat terdorong karena mereka terlibat dalam seluruh proses pengembangan biomassa tersebut," tambah Ferdy.
Ferdy menjelaskan bahwa penggunaan biomassa dianggap karbon-netral. Meskipun pembakaran biomassa menghasilkan emisi karbon, proses pertumbuhan kembali tanaman di area reforestasi akan menyerap karbon dari atmosfer, sehingga tidak menambah emisi baru.
"Pohon yang ditanam dalam program reforestasi bisa menghasilkan kayu, sisa tanaman, atau bahan organik lain yang kemudian diolah menjadi pelet biomassa," jelasnya.
Ferdy menambahkan, Biomassa memiliki potensi besar untuk digunakan dalam pembangkit listrik, yang pada gilirannya akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Dengan menggunakan biomassa, PLTU dapat beroperasi dengan lebih ramah lingkungan, membantu menurunkan emisi yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil," katanya.
Sebagai informasi, co-firing adalah teknik pembakaran bersama dua jenis bahan bakar, biasanya biomassa dan batubara, di dalam pembangkit listrik. Dengan menggunakan biomassa, penggunaan batubara dapat dikurangi dan emisi karbon pun menurun, sehingga pembangkit listrik menjadi lebih ramah lingkungan.
PGN Jamin Ketersediaan Pasokan Gas dan Rencana Pemenuhan Kebutuhan Industri
Beberapa tahun mendatang gas memiliki peranan penting sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan strategi menuju NZE [677] url asal
#pertumbuhan-ekonomi #pgas #energi-bersih #pt-perusahaan-gas-negara #wiko-migantoro #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #energi
(Kontan) 21/10/24 19:44
v/16796746/
Reporter: Filemon Agung | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN mengupayakan pemenuhan kebutuhan gas yang kian meningkat bagi seluruh pelanggan khususnya pada sektor industri.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina Wiko Migantoro mengatakan, beberapa tahun mendatang gas memiliki peranan penting sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan strategi menuju NZE.
"Kita tahu di negara berkembang seperti Indonesia ini akan terus bertumbuh dari segala aspek seperti industri dan semacamnya, sehingga diperlukan adanya ketersediaan energi. Saat ini Indonesia menjalin komitmen dengan komunitas di dunia yang ingin merealisasikan terciptanya energi bersih, salah satunya dengan gas bumi” jelas Wiko dalam siaran pers, dikutip Sabtu (21/10).
Dalam acara Customer Business Forum 2024 (CBF 2024) yang digelar pekan lalu, PGN menunjukkan keyakinan dan optimisme dalam memaksimalkan serapan gas yang ada di Indonesia serta membuktikan komitmennya dalam mengutamakan pelanggan demi kemajuan industri.
Direktur Utama PGN, Arief S. Handoko menjelaskan, melalui forum ini, PGN berharp dapat memberikan manfaat untuk pelanggan secara keseluruhan.
"Karena dari sisi pelanggan pun pasti berharap PGN akan menjamin ketersediaan gas demi keberlanjutan industri. Maka dari itu, ke depan PGN akan merambah ke Indonesia Timur dengan melakukan investasi masif demi penyediaan LNG bersih dari hulu ke hilir Indonesia sebagai upaya meyakinkan pelanggan bahwa gas selalu tersedia," jelas Arief.
Arief menjelaskan, dalam memenuhi kebutuhan gas bumi pelanggan dan beradaptasi terhadap dinamika lingkungan bisnis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, PGN telah melakukan berbagai upaya yakni memaksimalkan serapan gas seperti serapan LNG di Jawa Barat yang sudah mencapai 60 BBTUD dimana saat ini layanan gas bumi nasional telah mengalami pergeseran portfolio pasokan yang awalnya didominasi oleh gas pipa, sekarang 60 % dilayani gas pipa dan 40 % dilayani melalui LNG.
Arief menegaskan, PGN akan terus mengupayakan ketersediaan gas melalui komunikasi aktif dengan regulator, stakeholder termasuk menggiatkan pembangunan infrastruktur untuk menjangkau pasar-pasar baru.
Direktur Komersial PGN Ratih Esti Prihatini mengungkapkan, demand gas bumi saat ini terus mengalami peningkatan.
“PGN akan terus berusaha menyediakan gas pipa dengan komunikasi intensif degan pemerintah untuk mengalokasikan gas pipa pada pelanggan industri. Sedangkan sisanya akan diisi oleh supply LNG yang dipasok dari infrastruktur FSRU Lampung, Nusantara Regas, dan Aceh” tegas Ratih.
Tercatat, pembangunan infrastruktur juga sedang digiatkan PGN dengan tujuan gas bumi yang bersumber dari Sumatera dapat didistribusikan hingga Jawa Barat melalui pipa Dumai – Sei Mangke, SSWJ, dan pipa Cisem 2.
Melalui berbagai proyek ini, PGN pun berharap adanya penyerapan gas secara maksimal oleh industri untuk menjaga keberlanjutan industri salah satunya dengan LNG.
"Karena LNG menjadi energi pilihan dan signifikan untuk mendukung pasokan energi pada tahun-tahun berikutnya sesuai dengan proyeksi ketersediaan pasokan di beberapa wilayah pengembangan baru yang didominasi di offshore,” ucap Ratih.
Dalam forum tersebut juga merupakan ajang diskusi dan komunikasi kedua belah pihak terkait rencana harga gas tahun 2025. Dijelaskan bahwa mekanisme yang digunakan akan tetap sama dengan tahun 2024 yang terdiri dari harga gas pipa dan harga gas regasifikasi.
Tentunya harga gas regasifikasi akan bersifat dinamis, menyesuaikan dinamika harga LNG sesuai dengan formula yang ditetapkan oleh regulator dan kondisi ICP.
Diharapkan dengan pemberlakuan harga gas regasifikasi yang dinamis berdasarkan formula ICP, memungkinkan pelanggan memperoleh price signal yang tepat dan harga gas yang tetap kompetitif jika dibandingkan dengan BBM.
Ratih mengatakan, harga LNG mengacu pada Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan oleh Menteri ESDM setiap bulan. Sementara itu, realisasi harga gas cenderung fluktuatif yang dipengaruhi oleh supply maupun faktor eksternal.
Kondisi ini membuat harga gas dapat lebih rendah maupun tinggi namun tetap mengacu pada ICP.
"Ini menjadi strategi yang kita terapkan untuk tahun 2025 hingga ke depan mengingat ketersediaan LNG yang lebih dominan dibandingkan gas pipa. Kami sangat mengharapkan sektor industri dapat terus tumbuh dan berkelanjutan,” tambah Ratih.
Terakhir, beberapa hal yang menjadi komitmen PGN bagi pelanggan khususnya sektor industri yakni PGN senantiasa berupaya mendukung pemenuhan gas bumi domestik khususnya pada sektor industri sejumlah sekitar 2500 pelanggan per 2024 dan diperkirakan akan meningkat mencapai 2700-2750 pelanggan industri pada beberapa tahun ke depan.
Mengingat peningkatan kebutuhan masyarakat akan gas, maka LNG akan menjadi penopang ketersediaan dan keandalan dalam distribusi gas bumi PGN.