#30 tag 24jam
Kinerja Laba Bank KBMI III Beragam, Sebagian Catat Penurunan Per Agustus 2024
Sejumlah bank di jajaran Kelompok Bank berdasakan Modal Inti (KBMI) III mencatat kinerja yang beragam hingga Agustus 2024. [1,102] url asal
#laba-bank #kelompok-bank-berdasarkan-modal-inti-kbmi #bank-kbmi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Uang) 08/10/24 19:20
v/16163404/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank di jajaran Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) III mencatat kinerja yang beragam hingga Agustus 2024. Sejumlah bank sukses mencapai pertumbuhan laba, namun di sisi yang lain harus terpuruk pada delapan bulan pertama 2024.
Berdasarkan laporan bulanan, anak usaha BUMN seperti PT Bank Syariah Tbk. alias BSI (BRIS) dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mampu membukukan kenaikan laba bersih per Agustus 2024.
Tercatat laba BRIS mencapai Rp 4,47 triliun, tumbuh 20,59% dari sebelumnya Rp 3,71 triliun pada Agustus 2023.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi pun optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan laba bersih di atas 30% pada 2024.
BSI juga menargetkan penyaluran pembiayaan tumbuh 16%-18% pada 2024. Selain itu, BSI mendorong pendapatan berbasis komisi (fee based income) agar dapat tumbuh di atas 10% pada 2024.
Hery menyebut, fee based income akan bersumber dari transaksi treasury, investasi syariah, reksadana dan lainnya. Ada juga fee admin deposit hingga transaksi digital.
"BSI juga menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan laba, salah satunya dengan mendongkrak pembiayaan yang menghasilkan margin bagi hasil," ujarnya.
Adapun BNGA membukukan laba mencapai Rp 4,36 triliun pada Agustus 2024, meningkat 4,23% dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 4,18 triliun.
Direktur Utama BNGA Lani Darmawan menerangkan, bahwa pihaknya fokus di dana pihak ketiga (DPK) dan CASA karena tahun ini cost of fund tetap tinggi. Sehingga kata Lani, baik DPK terutama CASA dan kredit tetap tumbuh positif.
"Utntuk kredit kami memilih fokus di UKM dan ritel, adapun penyaluran ke korporasi lebih hati-hati karena CoF masih tinggi," ujar Lani.
Selain itu, fokus penting lainnya, disebut Lani ada di efisiensi untuk menjaga CIR yang bagus dan asset quality NPL agar tidak terbebani dengan CKPN provisi yang bisa menghantam profit.
Tak mau kalah, kelompok keuangan Singapura PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan pertumbuhan laba sebesar 29,90% menjadi Rp 3,58 triliun dari sebelumnya Rp 2,75 triliun di Agustus 2023.
Seperti diketahui, belum lama ini Bank OCBC NISP resmi mengumumkan penggabungan usaha atau merger dengan Bank Commonwealth. Langkah ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank OCBC NISP Tbk yang berlangsung di OCBC Tower Jakarta, hari ini.
Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja menyampaikan optimisme usai merger dilakukan. Menurutnya ini adalah strategi yang menandai tahapan baru dalam industri perbankan Indonesia bagi OCBC.
Merger ini juga merupakan langkah strategis yang dilakukan oleh OCBC untuk terus tumbuh menjadi Bank swasta terkemuka di Indonesia. Hal ini juga mencerminkan komitmen dalam peningkatan layanan nasabah dan pemanfaatan peluang yang ada di pasar perbankan nasional.
"Kami percaya penggabungan ini akan membawa sinergi. Dengan menyatukan kekuatan yang dimiliki, OCBC siap melayani basis nasabah yang lebih luas dengan solusi perbankan yang lebih komprehensif," beber Parwati.
Lebih lanjut, integrasi nasabah ritel dan UKM Bank Commonwealth akan menguatkan posisi pasar OCBC, memperbesar portfolio, dan mengukuhkan OCBC menjadi salah satu bank swasta terdepan di Indonesia.
Sayangnya, sejumlah bank lain seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mengalami penurunan kinerja per Agustus 2024
Laba BBTN tercatat susut 9,75% secara tahunan per Agustus 2024 menjadi Rp 1,80 triliun dari Rp 2 triliun per Agustus 2023.
Selanjutnya, Panin Bank (PNBN) juga mencatatkan penurunan laba hingga 12,20% menjadi Rp 1,67 triliun pada Agustus 2024 dari sebelumnya Rp 1,91 pada Agustus 2023.
Di tengah penurunan kinerja, ada kabar terkait penjualan saham atau divestasi Bank Panin (PNBN) oleh ANZ. Tak hanya ANZ, keluarga Mu'min Ali Gunawan juga dikabarkan mempertimbangkan melepas saham pengendali.
Kabar terbaru menyebutkan, para pemegang saham PNBN telah menunjuk Citigroup untuk menjalankan rencana penjualan saham PNBN. Sumber Reuters yang mengetahui proses tersebut menyebutkan materi pemasaran telah dikirimkan kepada buyer potensial dan proses penjualan resmi masih beberapa pekan lagi.
Namun, Bank Panin membantah pernyataan tersebut datang dari manajemen perusahaan. Bank Panin memberikan pernyataan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) bahwa kabar tersebut bukan berasal dari manajemen Bank Panin, sehingga perseroan tidak mengetahui kebenaran berita yang dimaksud.
“Tidak terdapat informasi, fakta, dan/atau kejadian penting lainnya yang dapat mempengaruhi secara material kelangsungan kegiatan usaha Perseroan dan harga saham Perseroan yang belum diungkapkan oleh Perseroan kepada Bursa Efek Indonesia,” tulis manajemen PNBN.
Selain itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) juga turun 6,99% menjadi Rp 2 triliun dari sebelumnya Rp 2,1 triliun.
Adapula PT Bank BTPN Tbk dan Maybank Indonesia yang membukukan penyusutan laba masing-masing sebesar 12,61% dan 65,53%. Di mana, per Agustus 2024 laba Bank BTPN mencapai Rp1,51 triliun dan Maybank sebesar Rp 350,59 miliar.
Penyusutan cuan pada awal tahun juga terjadi pada PT Bank Mega Tbk (MEGA) sebesar 31,98% menjadi Rp 1,72 triliun dari sebelumnya Rp 2,53 triliun.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, penyebab fluktuatifnya kinerja bank KBMI III karena peningkatan beban operasional sementara pertumbuhan pendapatan agak terhambat atau adanya kenaikan BOPO.
"Kinerja kuartal ketiga sepertinya juga tidak jauh berbeda, dan proyeksi sampai akhir tahun juga masih fluktuatif, ada yang mencatat pertumbuhan ada yang mengalami penurunan," kata Trioksa.
Adapun Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, Bank KBMI III memang tengah menghadapi tantangan karena economic of scale-nya lebih terbatas dibandingkan dengan bank-bank besar.
"Sehingga memang kalau diperhatikan dari kinerjanya, ini akan cenderung lebih fluktuatif. Kalau dalam kondisi ekonomi yang kecenderungannya sedang melambat seperti hari ini, mereka akan lebih challenging, terutama dalam menyalurkan kredit yang sifatnya kredit jangka panjang atau kredit produktif," jelas Eko.
Bank KBMI III disebut Eko memang mengalami tantangan yang tidak ringan, karena economic of scale-nya membuat persaingan dengan bank-bank besar dengan menawarkan bunga yang lebih menarik.
Artinya, kata Eko kecenderungannya di KBMI 3 bunganya untuk simpanan lebih tinggi, tapi juga untuk penyaluran kreditnya, untuk skala ekonomi, skala likuiditas, biasanya jangkauannya tidak lebih luas dibandingkan dengan bank besar, sehingga itulah yang kadang-kadang menyebabkan pasang surut kinerja keuangannya.
"Kalau saya lihat sebetulnya untuk kuartal ketiga ini kinerja keuangannya tidak akan banyak berubah karena tidak ada hal kejutan atau ekonomi yang sangat akseleratif atau momen-momen yang sangat mendorong kredit di kuartal 3," kata Eko.
Sementara sampai akhir tahun, ia memperkirakan dari sisi penyaluran kredit, kemungkinan lajunya akan lebih rendah dibandingkan dengan bank besar. Menurut Eko, yang lebih menantang adalah cara mereka untuk bisa mendapatkan simpanan, karena dalam konteks perlambatan ekonomi tentu uang yang bisa disimpan atau dana pihak ketiga dari masyarakat itu juga kecenderungannya tumbuhnya moderat.
"Nah, ketika berebut mereka harus memberikan bunga yang lebih tinggi tadi untuk bisa mendapatkan liabilitas Itu kadang-kadang membuat cekaknya kinerja mereka begitu ketika situasi ekonomi cenderung turun," tandasnya.
Laba Bank KBMI 3 Terdampak Pembengkakan Beban di Semester I-2024
Beban operasional yang tinggi mempengaruhi laba bersih dari bank yang masuk Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KMBI) 3 [772] url asal
#bank-tabungan-negara #cimb-niaga #pt-bank-ocbc-nisp-tbk #rekomendasi-saham #kelompok-bank-berdasarkan-modal-inti-kbmi #bank-ocbc #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Uang) 04/08/24 20:48
v/13278474/
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beban operasional yang tinggi mempengaruhi laba bersih dari bank yang masuk Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KMBI) 3. Sehingga banyak bank yang mencatatkan penurunan laba bersih di semester I-2024.
Di sisi lain, rata-rata kinerja bank di KBMI 3 belum lebih baik dibandingkan kinerja bank KBMI 4 yang seluruhnya konsisten mencatatkan pertumbuhan laba bersih di semester I-2024. Meskipun secara angka pertumbuhan, laba bersih bank KBMI 3 lebih tinggi dibandingkan KBMI 4 yang tumbuh mini.
Dalam riset Kontan, dari 9 bank di KBMI 3 yang sudah rilis kinerja, hanya 4 bank yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih.
PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) menjadi yang tertinggi mencetak pertumbuhan laba bersih, yakni naik 16% secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp 3,41 triliun pada semester I-2024.
Di susul oleh PT Bank Permata Tbk (BNLII) alias Permatabank yang laba bersihnya tumbuh 8,75% yoy menjadi Rp 1,53 triliun.
Sementara itu PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masing-masing tumbuh 5,38% yoy dan 1,80% yoy. Sisanya mencatatkan penurunan laba bersih ddi semester I-2024.
OCBC NISP misalnya, pertumbuhan laba bersih yang tinggi tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit, pendanaan (DPK) dan penurunan beban operasional.
Penyaluran kredit OCBC NISP tumbuh sebesar 14% yoy mencapai Rp 162,5 triliun. Sumber pendanaan untuk menyokong kredit juga tumbuh 6% yoy, dengan total DPK mencapai Rp 249,8 triliun.
Di sisi lain, beban operasional OCBC NISP naik 4% menjadi Rp 2,36 triliun.
“Dengan kinerja yang baik di semester pertama tahun ini, OCBC terus optimis namun tetap penuh kehati-hatian untuk bertumbuh secara kesinambungan, dengan terus berinovasi untuk melayani nasabah individu dan korporasi,” kata Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja.
Sementara itu, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, pertumbuhan laba bersih bank yang mencapai 5,38% yoy disokong oleh berbagai faktor.
“Pertumbuhan laba di kontribusi dari berbagai faktor, selain pertumbuhan balance sheet baik loan yang didominasi oleh UKM & ritel yang memberikan margin yg bagus dan juga DPK yang tumbuh positif terutama CASA yg tumbuh 7,4%,” ungkap Lani kepada Kontan.
Lebih lanjut, Lani menyebut, upaya bank mencetak laba sejalan dengan sisi efisiensi yang juga terjaga dengan cost to income ratio (CIR) yg menurun di bawah 44% per Juni 2024, disertai dengan kualitas aset yang sangat baik, hal ini terlihat dari rasio NPL di level 2,1% per Juni 2024.
Di sisi lain, penurunan laba bersih PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) disebabkan oleh membengkaknya beban operasional bank serta penebalan dana pencadangan guna mengantisipasi risiko kredit yang akhirnya berpengaruh pada perolehan laba bersih bank
“Tantangannya bank secara umum tahun ini ada pada DPK dan cost of fund. Serta SRBI juga challanging,dimana itu juga menyedot juga likuiditas, sehingga kredit tumbuh tinggi namun DPK tumbuhnya lambat,” ungkap Muljono Tjandara Direktur Keuangan Danamon.
Sejalan dengan tantangan yang disebut Muljono sebelumnya, sejumlah bank juga mencatatkan pembengkakan beban bunga sehingga menyebabkan pendapatan bunga bersih hingga beban operasional menurun.
Tertinggi, ada Bank Mega yang mencatatkan beban operasional membengkak sebesar 139% yoy menjadi Rp 1,19 triliun. Penyebab meningkatnya beban tersebut disebabkan oleh beban bunga yang naik hingga kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment).
Di sisi lain penyaluran kredit Bank Mega menurun 12,25% yoy menjadi Rp 4,5 triliun. Alhasil ini turut menurunkan laba bersih Bank Mega sebesar 38,36% yoy menjadi Rp 1,23 triliun.
Rekomendasi Saham Analis
Melihat kinerja bank KBMI 3 tersebut, sejumlah analis memberikan rekomendasi saham-saham yang masih menarik untuk dikoleksi.
Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengatakan, saham-saham bank lapis dua yang menarik dikoleksi jika melihat kinerja keuangannya yang positif di semester I-2024 di antaranya saham NISP, BNLII, BNGA, dan BBTN.
“Dengan fundamental yang kuat dan pertumbuhan yang konsisten, saham NISP memiliki prospek yang positif, sementara saham BNGA memiliki valuasi yang murah dengan Price Earning Ratio (PER) dan Price Book Value (PBV) yang masih di bawah rata-rata industri, menjadikannya pilihan yang menarik,” ungkap Reza kepada Kontan.
Lebih lanjut Reza menyebut untuk saham BNLII masih menarik untuk dipertimbangkan, begitu juga dengan saham BBTN yang memiliki potensi untuk tumbuh lebih lanjut dengan dukungan dari sektor perumahan yang terus berkembang.
“Secara keseluruhan, meskipun beberapa bank mengalami penurunan laba, prospek saham bank lapis dua masih menarik karena valuasi yang relatif murah dan fundamental yang kuat,” ungkap dia.
Sementara itu Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, mengatakan saham-saham bank lapis dua belum menunjukkan tren kenaikan (bullish).
“Saya belum merekomendasikan saham-saham bank lapis dua/KBMi 3, karena trennya belum menunjukkan bullish,” ungkap Nafan.
Kredit Tumbuh Dua Digit Angkat Laba Bank-Bank Besar
Era suku bunga tinggi telah menjadi tantangan tersendiri bagi kinerja industri perbankan. [704] url asal
#bank-bri #bank-mandiri #bank-bca #kelompok-bank-berdasarkan-modal-inti-kbmi #bank-kbmi-4 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan) 31/07/24 20:51
v/12778891/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Era suku bunga tinggi telah menjadi tantangan tersendiri bagi kinerja industri perbankan. Namun, itu tak menjadi hambatan bagi bank-bank Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 untuk mencetak laba jumbo.
Perolehan laba tersebut banyak terbantu dengan pertumbuhan kredit bank-bank besar yang tetap ekspansif. Alhasil, bank KBMI 4 ini tetap mampu mencatatkan kenaikan pendapatan bunga bersih yang berdampak pada profitabilitas di separuh pertama 2024 ini.
Ambil contoh, PT Bank Mandiri Tbk yang mencatatkan pertumbuhan kredit hingga 20,46% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1.532,35 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut jauh di atas rata-rata industri yang sebesar 12,36% YoY.
Alhasil, Bank Mandiri mampu mengimbangi kenaikan beban bunga dengan pendapatan bunga yang didapat dari kredit. Pendapatan bunga bersih bank berlogo pita emas ini masih bisa naik 3,75% YoY menjadi Rp 49,08 triliun.
Bank berkode emiten BMRI ini menutup periode enam bulan pertama 2024 dengan membukukan laba jumbo. Laba bersih Bank Mandiri tercatat naik 5,22% menjadi Rp 26,55 triliun.
Contoh lain, ada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang pada periode sama juga mampu meningkatkan kredit sekitar 15,49% YoY menjadi Rp 850 triliun. Sama halnya dengan Bank Mandiri, pertumbuhan kredit BCA juga berada di atas pertumbuhan industri.
Pertumbuhan kredit BCA juga memicu kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 7,84% YoY, tertinggi di antara bank KBMI 4 lainnya. Capaian tersebut yang akhirnya turut mendongkrak laba bank milik Djarum Grup ini tumbuh 11,16% atau senilai Rp 26,9 triliun dan menjadi satu-satunya bank KBMI 4 yang mencatat pertumbuhan laba hingga dua digit.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) juga mampu membukukan pertumbuhan laba 0,95% menjadi Rp 29,7 triliun di semester I 2024. Laba BRI tetap menjadi laba terbesar di industri bank tanah air.
Pencapaian laba BRI tersebut juga disokong pertumbuhan kredit. Per Juni 2024, kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp 1.336,78 triliun atau naik 11,16% YoY.
Sejatinya, masih ada satu bank KBMI 4 yang belum merilis kinerja keuangan di semester I-2024, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Namun, jika dilihat laporan bulanan per Mei 2024, BNI mencatat kenaikan laba 1,52% YoY menjadi Rp 8,57 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, pertumbuhan kredit Bank Mandiri yang melebihi rata-rata industri perbankan ini tidak lepas dari stabilitas dan perkembangan ekonomi Indonesia, meskipun di tengah dinamika ekonomi global.
Ia bilang untuk mendorong pertumbuhan kredit, Bank Mandiri berfokus pada perluasan ekosistem dan optimalisasi potensi di setiap wilayah, guna mencapai hasil maksimal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan nasabah.
“Kami mengoptimalkan komposisi portofolio kredit agar profitabilitas tetap terjaga dengan mendorong pertumbuhan pada higher yield segmen,” ujar Darmawan, Rabu (31/7).
Secara rinci, penyaluran kredit Bank Mandiri ke segmen korporasi menjadi kontributor terbesar, dengan realisasi mencapai Rp 561 triliun pada kuartal II 2024, meningkat 29,7% YoY dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 433 triliun.
Selain korporasi, segmen komersial mencatat peningkatan kredit sebesar 21,7% YoY menjadi Rp 262 triliun, sementara kredit UMKM meningkat 6,3% YoY mencapai Rp 127 triliun. Diikuti dengan laju kredit konsumer yang meningkat 9,02% YoY menjadi Rp 116 triliun.
“Lewat pemetaan bisnis yang tepat, kami yakin Bank Mandiri akan terus tumbuh dan berkembang menjadi bank yang unggul dan berdaya saing di tingkat regional maupun global,” tambah Darmawan.
Sependapat, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja pertumbuhan laba ditopang ekspansi pembiayaan secara berkualitas. Ditambah, adanya peningkatan volume transaksi dan pendanaan.
Adapun, kenaikan pendapatan bunga bersih yang diraih oleh BCA juga didukung oleh likuiditas yang longgar. Alhasil, BCA sama sekali tidak menaikkan bunga deposito yang pada akhirnya beban bunga pun terkendali.
“Di pasar memang terjadi kenaikan suku bunga deposito, yang menunjukkan bahwa pasar semakin ketat. Namun, ada pemain seperti BCA dan beberapa bank lain yang sangat likuid,” tambah Jahja.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengatakan, di semester kedua ini, kinerja perbankan diharapkan menjadi jauh lebih baik, terlebih lagi dengan kehadiran pilkada yang memang berpotensi untuk meningkatkan aktivitas perbankan.
Selain itu potensi penurunan tingkat suku bunga The Fed juga memberikan angin segar bagi Bank Indonesia (BI) untuk dapat memangkas tingkat suku bunga. Penurunan suku bunga akan mendorong peningkatan penyaluran kredit ke depannya.