#30 tag 24jam
Empat Pemimpin Zalim yang Diazab Tragis dan di Luar Nalar
Pemimpin seperti ini cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi [967] url asal
#abu-lahab #pemimpin-zalim #pemimpin-dzalim #para-pemimpin-zalim #kezaliman-pemimpin #qarun #kisah-qarun #kisah-firaun #azab-bagi-firaun #azab-yang-amat-pedih
(Republika - Khazanah) 22/08/24 15:26
v/14525480/
REPUBLIKA.CO.ID,Dalam sejarah Islam, terdapat beberapa pemimpin dan tokoh yang dikenal sebagai orang zalim dan diberi azab yang tragis oleh Allah SWT. Para pemimpin zalim ini menjalankan kekuasaannya dengan cara yang tidak adil, sewenang-wenang, dan menindas rakyatnya.
Pemimpin seperti ini cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, tanpa memedulikan kesejahteraan, hak, dan keadilan bagi rakyat yang dipimpinnya. Tindakan zalim dapat berupa penindasan, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, serta pengambilan keputusan yang merugikan banyak orang.
Dalam sejarah, pemimpin zalim sering kali diingat karena kekejamannya, penindasan terhadap rakyat, dan tindakan tidak manusiawi lainnya yang mereka lakukan selama masa kekuasaan mereka. Akibatnya, mereka sering dianggap sebagai contoh buruk dalam kepemimpinan dan moralitas, dan dalam beberapa kasus, mereka diyakini mengalami akhir hidup yang tragis atau mendapatkan hukuman baik di dunia maupun di akhirat.
Berikut daftar pemimpin atau orang zalim yang diazab dengan tragis:
1. Fir'aun (Ramses II)
Fir'aun adalah penguasa Mesir yang menentang Nabi Musa dan memperbudak Bani Israil. Dia terkenal karena kezaliman dan kesombongannya. Dalam kisah Alquran, Fir'aun dan pasukannya tenggelam di Laut Merah ketika mereka mengejar Nabi Musa dan umatnya yang melarikan diri dari Mesir.
Puncak kezaliman penguasa Mesir kuno ini adalah ketika klaim dirinya sebagai tuhan. Dia berkata:
أَنَارَبُّكُمُالْأَعْلَىٰ
Artinya: "Aku tuhanmu yang paling tinggi." (QS an-Nazi'at: 24).
Di penghujung hidupnya, Raja zalim ini pun bernasib tragis. Ia tenggelam di laut Merah saat mengejar Nabi Musa dan kaum Bani Israil. Menjelang kematiannya, ia baru berserah diri dan mengakui Tuhan yang diimani oleh Bani Israil. “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan (yang berkuasa dan berhak disembah) selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya),” (QS. Yunus [10]: 90).
Bahkan, dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dikisahkan bahwa Firaun nyaris saja mengucap kalimat tauhid Lailahaillallah. Namun, karena kekesalannya, malaikat Jibril segera menjejali mulut Firaun dengan lumpur laut. Sehingga ia gagal beriman dan mengakui ketuhanan Allah.
2. Namrud
Namrud adalah raja yang berkuasa di Babilonia dan dikenal sebagai penguasa yang sangat zalim. Dia menantang Allah dan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Menurut riwayat, Namrud diazab dengan seekor nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan menggerogoti otaknya hingga dia meninggal dengan sangat menyakitkan.
Raja Namrud juga mengaku berkuasa atas kehidupan seseorang. Semasa hidupnya, dia bahkan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Karena itulah Allah mengazabnya dengan cara yang tragis.
Dikisahkan bahwa Allah mengirimkan malaikat untuk memberi peringatan kepada raja Namrud yang diktator. Namun, hingga tiga kali peringatan diberikan, Namrud tetap menentang Allah SWT. Hingga malaikat pun menantang Namrud untuk mengumpulkan semua pasukannya.
Dalam buku 40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah diceritakan, pada hari yang ditentukan, Raja Namrud kemudian mengumpulkan seluruh pasukan dengan seluruh kekuatannya, di sebuah tempat yang sangat luas. Allah lalu memerintahkan kepada malaikat yang menjadi utusan-Nya untuk membuka satu pintu yang menjadi jalan bagi datangnya nyamuk-nyamuk.
Selanjutnya, Allah mengirim nyamuk-nyamuk tersebut untuk menyerbu pasukan Namrud. Nyamuk itu menggigit kulit hingga tembus ke dalam daging dan membuat para pasukan Namrud tewas.
Sementara Namrud masih selamat dan menyaksikan kekalahan pasukannya oleh nyamuk. Tetapi, Allah mengirim nyamuk masuk ke lubang hidung Namrud. Nyamuk itu hidup dan tinggal di dalamnya selama 400 tahun. Hal itu membuat Namrud hidup penuh kesengsaraan karena nyamuk yang bersarang di kepalanya.
Namrud hidup seperti orang yang tidak waras. Setiap hari ia memukuli kepalanya sendiri dengan palu, hingga membuat orang merasa iba dan kasihan terhadapnya. Selama 400 tahun, Namrud hidup penuh penderitaan hingga kemudian dia tewas secara tragis.
Qarun dan Abu Lahab..
3. Qarun
Qarun adalah seorang yang sangat kaya raya pada zaman Nabi Musa, namun dia sangat sombong dan zalim. Crazy Rich ini dikenal karena keangkuhannya dan ketidaktaatannya terhadap perintah Allah. Alquran menyebutkan bahwa Qarun beserta kekayaannya ditelan oleh bumi sebagai azab atas kesombongannya.
Allah SWT berfirman bahwa Qarun menjadi tiran terhadap semua orang Bani Israil. Teman dekat Firaun ini juga merupakan salah satu orang yang banyak melakukan dosa pada masa Musa.
Dikutip dalam buku "40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah", meskipun memiliki harta yang melimpah ruah, Qarun adalah manusia yang pelit dan kikir. Dia tidak mampu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT.
Dengan harta kekayaan yang luar biasa banyak itu, Qarun justru menjelma menjadi manusia yang sangat sombong dan pongah. Dia merasa semua yang dimiliki adalah hasil usahanya sendiri.
Karena kekikiran dan kesombongannya, Allah SWT pun akhirnya menurunkan azab pada Qarun. Ia lenyap ditelan bumi bersama seluruh hartanya yang sangat banyak. Tokoh zalim ini pun mati dengan tragis.
4. Abu Lahab
Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad yang sangat menentang dakwah Islam dan kerap berbuat zalim. Dia dikenal karena kebenciannya yang besar terhadap Nabi dan umat Islam. Dalam Alquran, terdapat satu surah khusus yang menjelaskan kebinasaan Abu Lahab, yaitu Surah Al-Lahab. Dia meninggal dalam keadaan mengenaskan akibat penyakit yang parah, di mana tubuhnya penuh dengan bisul yang pecah-pecah.
Kematian Abu Lahab terjadi setelah Perang Badar. Saat itu, ia tidak mengikuti pertempuran tersebut. Dengan menyetor 4.000 dirham, dia meminta seorang temannya, al-Ashi bin Hisyam, untuk menggantikannya di medan perang.
Perang Badar lalu berakhir dengan kekalahan yang memalukan dari pihak musyrikin Quraisy. Sepekan setelah itu, Abu Lahab menderita sakit parah. Dia pun meregang nyawa dan tewas.
Jasadnya diabaikan orang-orang tiga hari berturut-turut. Bau busuk menyeruak. Para tetangganya memutuskan untuk menggali sebuah lubang besar dan memasukkan mayat Abu Lahab ke dalam boks kayu. Dimasukkanlah peti kayu dan isinya itu ke dalam lubang tersebut.
Cara menguburkannya begitu merepotkan. Orang-orang tidak tahan dengan bau busuk yang keluar dari jasad Abu Lahab, sehingga mereka memasukkan peti tadi dari kejauhan. Sesudah itu, lubang tadi dilempari dengan kerikil dan tanah sampai rata.
Itulah kisah empat tokoh zalim yang biasa dikemukakan. Tokoh-tokoh ini sering disebut dalam sejarah Islam sebagai contoh-contoh orang yang zalim dan mengalami akhir hidup yang tragis sebagai akibat dari perbuatan mereka.
Firaun Kejam dan Sombong, Nabi Musa Diperintah Berdakwah Lemah Lembut
Allah memerintahkan Nabi Musa berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut. [385] url asal
#kezaliman-firaun #kisah-firaun #firaun-mengaku-tuhan #kesombongan-firaun #kisah-nabi-musa
(Republika - Khazanah) 22/08/24 11:35
v/14525485/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Musa AS adalah utusan Allah Ta'ala kepada Bani Israil. Saudara Harun AS itu dikisahkan dalam banyak ayat Alquran, terutama dalam konteks perjuangannya mendakwahi Firaun.
Firaun sesungguhnya bukanlah nama orang, melainkan gelar bagi raja Mesir pada zaman dahulu. Menurut para ahli, sosok yang ditemui Nabi Musa AS adalah Firaun Ramses II. Jasad atau muminya sudah diteliti ilmuwan sejak abad ke-19 M. Tepatnya pada tahun 1974, Dr Maurice Bucaille dan tim mengonfirmasi Ramses II mati tenggelam di laut.
Hingga kini, orang-orang dapat mengamati muminya di sebuah museum di Kairo, Mesir. Jasad Firaun Ramses II utuh, tak terurai. Ini pun telah diisyaratkan dalam Alquran.
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami” (QS Yunus: 92).
Semasa hidupnya, Firaun Ramses II amat kejam dan keji. Ia menindas Bani Israil dengan sangat sistematis dan tanpa rasa kemanusiaan.
Untuk menyadarkan Firaun, Allah mengutus Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun. Keduanya diperintahkan untuk mengingatkan pemimpin Mesir itu agar bertobat.
Perintah Allah bukan untuk semisal memerangi atau membunuh Firaun. Para nabi itu hanya disuruh-Nya untuk mendakwahi pemimpin Mesir itu dengan bahasa yang jauh dari nada menghasut.
“Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut” (QS Taha: 43-44).
Selain ayat di atas, acuan lainnya dalam berdakwah adalah tegas. Agama ini dengan jelas menyatakan mana saja yang haq (kebenaran) dan mana saja yang bathil.
وَلَا تَلۡبِسُوا الۡحَـقَّ بِالۡبَاطِلِ وَتَكۡتُمُوا الۡحَـقَّ وَاَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya" (QS al-Baqarah: 42).
Dalam kasus Firaun, dakwah yang terus menerus dan lama itu tidak berujung hidayah. Tetap saja raja Mesir nan kejam dan zalim itu bersikukuh pada sikapnya, yang angkuh dengan mengaku-aku diri sebagai tuhan.
Nabi Musa AS pun bertawakal kepada Allah. Ia berdoa, sebagaimana diabadikan dalam Alquran.
وَقَالَ مُوۡسٰى رَبَّنَاۤ اِنَّكَ اٰتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَاَهٗ زِيۡنَةً وَّاَمۡوَالًا فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ۙ رَبَّنَا لِيُضِلُّوۡا عَنۡ سَبِيۡلِكَۚ رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰٓى اَمۡوَالِهِمۡ وَاشۡدُدۡ عَلٰى قُلُوۡبِهِمۡ فَلَا يُؤۡمِنُوۡا حَتّٰى يَرَوُا الۡعَذَابَ الۡاَ لِيۡمَ
"Dan Musa berkata, 'Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Firaun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih'" (QS Yunus: 88).
Jangan Seperti Firaun
Firaun pada akhirnya mati dalam keadaan hina. [369] url asal
#kisah-firaun #kezaliman-firaun #kesombongan-firaun #firaun-mengaku-tuhan #hikmah
(Republika - Khazanah) 22/08/24 10:59
v/14525487/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umumnya, manusia di mana pun dan kapan pun selalu melihat harta sebagai sumber kebahagiaan di dunia. Hal itu mungkin wajar. Sebab, siapapun orang tidak bisa menafikan kegunaan materi dalam kehidupannya. Namun, tidak sedikit yang kemudian terseret dalam godaan duniawi sehingga dengan sengaja melawan aturan Allah SWT.
Manusia yang memilih jalan seperti itu akan semakin jauh meninggalkan eksistensi dirinya. Ia akan terus terobsesi mengumpulkan harta yang banyak dan semakin banyak setiap harinya. Akibatnya, nilai-nilai agama dan norma sosial dinilainya menjadi tak berguna.
Sejauh keinginannya bisa dicapai, apa pun cara harus dilakukan. Inilah tipe manusia yang telah mati hatinya. Mereka tak akan pernah sadar akan kekeliruannya hingga ajal pun tiba.
Kondisi ini bisa menimpa siapa saja, baik penguasa, pegawai, pengusaha, ataupun alim ulama. Itulah mengapa, dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW mengingatkan umat agar berhati-hati pada hal-hal duniawi.
Bagaimanapun, ambisi materiel yang ada pada diri pemimpin jauh lebih berdampak serius dan masif. Alquran memberikan bukti akan hal tersebut.
Simaklah kisah tentang Firaun. Dengan kekuasaannya, raja Mesir itu menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Secara terbuka, ia pun menyatakan perang terhadap utusan-Nya, Nabi Musa AS.
Harta benda dan kekuasaan yang dimiliki Firaun semakin membuatnya gelap mata. Firaun tidak peduli bahwa dirinya hanyalah manusia. Segala yang ada adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Nabi Musa yang mendapat mandat dari Allah agar memberikan peringatan kepada Firaun. Setelah banyak berdakwah, pada akhirnya saudara Harun AS itu pun tak berdaya.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Firaun dan pemuka- pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih” (QS Yunus: 88).
Belajar dari kisah Firaun, tahanlah diri kita dari berbuat curang, jahat, ataupun kriminal. Jangan sampai kita termasuk orang yang dibutakan mata-hatinya oleh gemerlap harta dan manisnya kekuasaan di tangan. Padahal, semua itu boleh jadi akan membawa kesengsaraan untuk selama-lamanya di akhirat kelak.
Jangan sampai menjadi manusia yang berwatak Firaun, yakni pikiran dan seluruh perilakunya justru mengundang kemurkaan Allah SWT. Ingatlah, betapa penindas itu mati dalam keadaan yang sangat nista.
Kisah Syuhada Gugur di Istana Firaun
Teguh mempertahankan imannya, syuhada ini pun dibakar hidup-hidup oleh Firaun. [516] url asal
#kisah-firaun #kesombongan-firaun #kezaliman-firaun #firaun-mengaku-tuhan #syuhada-dibunuh-firaun
(Republika - Khazanah) 22/08/24 10:44
v/14525489/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW menuturkan berbagai kisah untuk menguatkan iman kaum Muslimin. Salah satunya, ihwal seorang perempuan pada zaman Firaun di Mesir. Wanita ini gugur sebagai syuhada.
Dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad dari jalur Abdullah bin Abbas, disebutkan sebagai berikut. Rasulullah SAW bersabda, "Pada malam ketika aku diperjalankan (isra'), tiba-tiba aroma wangi semerbak menghampiriku. Maka aku bertanya, 'Wahai Jibril, wangi apakah ini?'
Dia (Jibril) menjawab, 'Ini adalah aroma wangi dari seorang perempuan yang (bekerja sebagai) penyisir (rambut) putri Firaun serta anak-anaknya.' Beliau menuturkan, 'Aku bertanya, 'Bagaimana cerita tentang mereka?' Dia (Jibril) menceritakan, 'Ketika dia (perempuan tersebut) sedang menyisir putri Firaun suatu hari, tiba-tiba sisir itu jatuh dari tangannya, kemudian dia mengatakan, 'Bismillah.'
(Mendengarnya) maka putri Firaun bertanya, '(Apakah yang engkau sebut) itu ayahku?' Dia (perempuan itu) menjawab, 'Bukan. (Nama itu adalah) Tuhanku dan Tuhan ayahmu. Dia adalah Allah.'
Putri Firaun itu mengancam, 'Aku akan beritakan kepadanya (Firaun).' Perempuan itu menimpali, 'Ya, silakan saja.' Putri Firaun lalu mengadukannya kepada Firaun. Akhirnya, Firaun memanggilnya dan menginterogasinya, 'Hai fulanah, apa kamu punya tuhan selain aku?'
Perempuan itu berkata, 'Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Firaun lalu menyuruh pembantunya untuk mendatangkan sebuah tungku yang sangat besar, terbuat dari tembaga, yang lalu dipanaskan.
Kemudian, dia (Firaun) memaksa perempuan itu agar terjun ke dalamnya (tungku tersebut) bersama dengan anak-anaknya. Perempuan itu berkata, 'Aku punya satu permintaan kepadamu.' Firaun bertanya, 'Apa itu?'
Perempuan itu mengatakan, 'Aku ingin kau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang anak-anakku dalam satu kain, lalu kuburkanlah kami bersama-sama.' Firaun menimpali, 'Itu sudah menjadi hakmu dan kewajiban bagi kami.'
Rasulullah SAW meneruskan kisahnya ...
Rasulullah SAW meneruskan kisahnya, 'Firaun kemudian menyuruh (para algojonya) agar anak-anaknya (perempuan tersebut) dijatuhkan ke dalam tungku panas tepat di hadapannya satu per satu. Maka tiba giliran anak bayi yang masih disusui (perempuan tadi). Perempuan itu spontan seperti mau mundur karenanya.
Akan tetapi, bayi tadi kemudian berkata, 'Wahai ibu, masuklah ke dalamnya (tungku panas) karena siksa dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.' Maka dia (perempuan itu) menceburkan diri.'"
Demikianlah, keberanian sang penyisir putri Firaun. Dia dan anak-anaknya gugur sebagai syuhada karena memilih mempertahankan keimanan daripada menyerah di hadapan penguasa yang lalim.
Maka ketika jasad mereka sudah hangus jadi abu, aroma hasil pembakaran itu menyeruak hingga ke atas langit. Allah menjadikan aroma tersebut harum semerbak secara terus-menerus bagi penduduk langit. Maka ketika Rasulullah SAW menjalani isra dan miraj ke langit, beliau mencium aroma tersebut.
Keberanian perempuan tersebut kelak ditiru umat berikutnya, terutama seperti dikisahkan tentang ashabul ukhdud. Mereka adalah orang-orang yang beriman beberapa puluh tahun sebelum risalah Alquran turun. Orang-orang dari Arab Selatan itu menjalani siksaan penguasa zalim dengan cara dilempar ke dalam parit yang penuh kobaran api.
Seorang ibu di antara mereka sempat gentar, tetapi bayi yang digendongnya kemudian berkata-kata, meyakinkan sang ibu agar menceburkan diri ke dalamnya demi mempertahankan iman. Tindakan masuk ke dalam api bukanlah bentuk bunuh diri. Sebab, hal itu menegaskan kepada penguasa bahwa diri orang beriman menolak memohon-mohon kepada penguasa yang melampaui batas dalam kekafiran.
Ini Sosok Firaun yang Diazab Allah
Firaun ini ditenggelamkan di Laut Merah, jasadnya awet hingga kini. [413] url asal
#kesombongan-firaun #firaun-pada-masa-rasulullah #kisah-firaun #penguasa-mesir #kisah-nabi-musa
(Republika - Khazanah) 22/08/24 10:24
v/14525491/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kedatangan Bani Israil di Tanah Mesir bermula sejak masa Nabi Yusuf AS. Putra Nabi Yaqub--utusan Allah yang berjulukan Israil--ini mengawali kisahnya di negeri delta Sungai Nil itu sebagai budak.
Saat dibawa ke istana raja Mesir, statusnya sangat rendah. Namun, saat dewasa, nasibnya menjadi baik.
Bahkan, ratu Mesir lalu jatuh hati kepadanya. Itu lantaran wajah Yusuf AS yang begitu tampan.
Sang ratu sampai-sampai merayu dan menjebak Yusuf AS di dalam kamar. Namun, putra Yaqub AS itu tidak tergoda. Ia berhasil keluar dari kamar.
Kejadian ini lantas diketahui raja Mesir. Bukti-bukti menguatkan bahwa Yusuf AS tak bersalah. Namun, sang raja memilih untuk menghukum lelaki Bani Israil tersebut demi menjaga nama baik istrinya di mata publik.
Singkat cerita, Nabi Yusuf yang diberi mukjizat oleh Allah dapat menafsirkan mimpi, bebas dari penjara. Ia juga diangkat menjadi menteri sesudah berhasil menakwil mimpi raja Mesir.
Palestina, yakni negeri tempat Yaqub AS dan 11 anaknya, mengalami paceklik hebat. Mereka lantas hijrah ke Mesir.
Awalnya, mereka tak mengira bahwa sosok menteri yang menyambutnya adalah Yusuf. Barulah sesudah mengetahui keadaan yang sesungguhnya, Yakub AS terharu. Begitu pun 11 putranya. Terlebih lagi, Yusuf AS memaafkan para saudaranya itu, yang dahulu telah berkomplot untuk memisahkannya dari sang ayah.
Sepeninggal Yusuf AS, Bani Israil terus berkembang. Namun, posisinya kian tergerus. Hingga akhirnya, mereka menjadi kelompok paling inferior di Mesir.
Sosok Firaun Ramses II, penindas Bani Israil ....
Alquran menceritakan bahwa penindasan yang dialami Bani Israil di Mesir sangat tidak manusiawi. Bahkan, Firaun sampai-sampai membantai nyaris semua bayi laki-laki mereka. Sebab, ia bermimpi bahwa kelak ada seorang putra Bani Israil yang akan menjungkalkannya dari kekuasaan.
Dikatakan "nyaris", sebab Allah berkehendak bahwa satu bayi selamat dari pembantaian itu. Anak ini kelak tumbuh menjadi seorang utusan-Nya. Dialah Nabi Musa AS.
Lantas, siapakah firaun yang menindas Bani Israil pada zaman kenabian Musa AS?
Menurut Ali Akbar dalam buku Arkeologi Al-Qur’an, para peneliti sejauh ini telah mengerucutkan kesimpulan pada dua nama, yakni Firaun Ramses II dan anaknya, Firaun Merneptah.
Ramses II memerintah Mesir hingga tahun 1212 SM. Mumi atau jasadnya telah diteliti banyak ahli, termasuk Dr Maurice Bucaille, seorang ahli bedah asal Prancis, pada 1975-1976.
Hingga kini, jasad firaun Ramses II dan Merneptah dapat disaksikan di museum di Kairo, Mesir. Hal ini mengingatkan pada Alquran surah Yunus ayat 92, artinya, “Maka pada hari ini, Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”
Mengapa Malaikat Jibril tak Sudi Melihat Firaun 'Bertobat'?
Malaikat Jibril menyumpal mulut Firaun yang sedang tenggelam di lautan. [444] url asal
#firaun-bertobat #jibril-menyumpal-firaun #kisah-firaun #kisah-nabi-musa
(Republika - Khazanah) 12/07/24 15:46
v/10534917/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kisah tentang Firaun muncul di berbagai ayat dalam Alquran. Pemimpin negeri Mesir pada zaman Nabi Musa AS itu merupakan sosok yang zalim, tiran, dan kejam. Bahkan, ia dengan sesumbar mengaku sebagai tuhan.
Firaun yang menindas Bani Israil ini mendapatkan azab dari Allah SWT. Ia dan balatentaranya tewas usai tenggelam di Laut Merah. Sebelum ajal menjemput, mereka sedang mengejar Nabi Musa AS dan para pengikutnya.
Di detik-detik akhir hidupnya, Firaun sempat mengucapkan kesaksian yang penting. Ia berkata, "Aku beriman bahwa tiada tuhan selain yang diimani oleh kaum Bani Israil.”
Namun, sebelum tuntas menyelesaikan kalimat tauhid, mulut pemimpin zalim ini sudah disumpal dengan tanah. Yang melakukannya adalah Malaikat Jibril.
Fakta ini terungkap dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. Seperti diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dari jalur Ibnu ‘Abbas, Rasulullah SAW pada suatu ketika mengisahkan perihal Firaun kepada para sahabat beliau.
"Pada waktu Allah menenggelamkan Firaun, ia mengucapkan, “Aku beriman bahwa tiada tuhan kecuali yang diimani kaum Bani Israil” (seperti disebut dalam Alquran surah Yunus ayat ke-90 --Red)."
Kemudian, Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Muhammad, seandainya saja engkau melihatku! Waktu itu, aku mengambil tanah hitam dari dasar lautan dan memasukkannya ke dalam mulut Firaun. Sebab, aku takut ia akan diliputi oleh rahmat (karena mengucapkan kalimat tauhid).”
Dalam riwayat lain, disebutkan sebagai berikut. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, Malaikat Jibril memasukkan tanah ke dalam mulut Firaun karena takut ia mengucapkan 'Laa ilaaha illa Allah' atau Jibril takut Allah akan merahmatinya."
Dalam sebuah ceramahnya, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengatakan, hadis tersebut menunjukkan, malaikat pun tidak jauh berbeda dengan orang. Makhluk yang diciptakan dari cahaya itu juga bisa kesal dengan tingkah polah manusia. Bahkan, sekaliber Jibril pun mengungkapkan kekesalannya.
Ia kesal dengan Firaun, sosok yang telah melampaui batas dalam berbuat kekufuran dan kerusakan di muka bumi. Inilah pula alasannya, Jibril tidak ingin Allah merahmati dan mengampuni penguasa zalim tersebut, yakni apabila penjajah Bani Israil itu berhasil mengucapkan kalimat "Laa ilaaha illa Allah" secara tuntas.
Nabi Musa AS pun menganggap Firaun sebagai sosok yang melampaui batas. Pernah saudara Nabi Harun itu berdoa agar hati tiran tersebut dan bala tentaranya dikunci mati oleh Allah.
وَقَالَ مُوۡسٰى رَبَّنَاۤ اِنَّكَ اٰتَيۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَاَهٗ زِيۡنَةً وَّاَمۡوَالًا فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ۙ رَبَّنَا لِيُضِلُّوۡا عَنۡ سَبِيۡلِكَۚ رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰٓى اَمۡوَالِهِمۡ وَاشۡدُدۡ عَلٰى قُلُوۡبِهِمۡ فَلَا يُؤۡمِنُوۡا حَتّٰى يَرَوُا الۡعَذَابَ الۡاَ لِيۡمَ
"Dan Musa berkata, 'Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Firaun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih'" (QS Yunus: 88).
Nasib yang menimpa Firaun itu hendaknya menjadi pelajaran. Di antaranya adalah, pintu tobat bagi seseorang tertutup bila mana ia sedang diazab atau merasakan sakaratul maut, kecuali bahwa Allah menghendaki kebaikan untuknya.