#30 tag 24jam
Pakar hukum soroti wacana penyeragaman kemasan rokok tanpa merek
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia sekaligus Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Hikmahanto Juwana menyoroti perihal wacana ... [523] url asal
#kemasan-rokok-polos #hikmahanto-juwana #industri-trmbakau #indef
(Antara) 06/11/24 23:05
v/17608043/
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia sekaligus Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Hikmahanto Juwana menyoroti perihal wacana penyeragaman kemasan rokok tanpa identitas merek.
Ia menjelaskan penerapan penyeragaman kemasan rokok tanpa identitas merek mirip dengan kebijakan yang diterapkan Australia pada 2012. Saat itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang menolak kebijakan tersebut.
"Sekarang kita justru ingin menerapkan apa yang pernah kita lawan. Ini sangat membingungkan," kata dia dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.
Hikmahanto menekankan bahwa Indonesia sebagai negara penghasil tembakau, seharusnya tidak mengikuti regulasi yang ditentukan oleh negara lain, terutama yang bersumber dari Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).
Pasalnya, kebijakan tersebut dapat mengganggu pendapatan negara yang berasal dari keseluruhan kegiatan ekonomi mata rantai sektor tembakau, termasuk devisa ekspor.
"Kita adalah negara penghasil tembakau, tetapi justru kebijakan ini bisa membuat produk kita terpinggirkan di pasar internasional," ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah perlu menjaga kedaulatan negara serta memperhatikan kepentingan pelaku usaha domestik yang berjuang untuk bersaing di pasar global. Salah satu poin penting yang disoroti Hikmahanto, kebijakan itu dapat merugikan pelaku usaha yang ingin membedakan produk mereka.
"Setiap pelaku usaha berhak untuk bersaing dengan cara menonjolkan identitas merek mereka. Jika identitas itu dihilangkan, bagaimana mereka dapat bersaing?," katanya.
Lebih lanjut, sebut dia, ada urgensi untuk mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan tersebut terhadap masyarakat.
"Jika regulasi ini diterapkan, maka perokok malah akan beralih ke produk ilegal yang tidak terkontrol," ucapnya.
Hikmahanto turut menggarisbawahi perlunya koordinasi antar kementerian dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada kesehatan masyarakat sekaligus keberlangsungan industri serta menolak adanya intervensi asing dalam menentukan arah kebijakan nasional yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Kita harus berjuang untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak mengorbankan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat. Indonesia harus memiliki ketahanan dan kedaulatan dalam menentukan arah kebijakan kita sendiri," kata Hikmahanto.
Untuk diketahui, kebijakan kemasan rokok polos tanpa merek tertuang dalam Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan yang merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024.
Sementara itu, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengatakan berdasarkan hasil kajian Indef, dampak ekonomi yang hilang atas rencana kebijakan penyeragaman kemasan rokok polos tanpa identitas merek dapat mencapai Rp308 triliun.
Menurut Andry, rencana aturan tersebut juga akan meningkatkan peredaran rokok ilegal di masyarakat. Tanpa merek dan identitas yang jelas, produk ilegal akan lebih mudah menyerupai produk legal di pasaran.
"Produsen rokok ilegal tidak perlu lagi repot memikirkan desain kemasan yang kompleks. Dengan aturan kemasan tanpa identitas merek, mereka bisa langsung memasukkan produknya ke pasar, dan pemerintah akan kesulitan dalam pengawasan serta identifikasi produk," ujarnya.
Selain itu, Andry mengungkapkan dari sisi penerimaan negara, ada potensi hilangnya Rp160,6 triliun atau sekitar 7 persen dari penerimaan pajak jika aturan itu disahkan dan membuat target penerimaan negara sulit tercapai. Jika regulasi itu diterapkan, target penerimaan negara sebesar Rp218,7 triliun untuk 2024 ini kemungkinan besar tidak akan tercapai.
Pasalnya, lanjut Andry, industri hasil tembakau merupakan salah satu penyumbang signifikan bagi produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Sebelum pandemi COVID-19, industri tersebut menyumbang hingga 6,9 persen terhadap PDB, namun angka ini terus menurun setiap tahunnya.
Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2024
Dulu Gugat Australia, RI Kini Mau Terapkan Kemasan Rokok Tanpa Merek
Indonesia dinilai seharusnya tidak meniru Australia setelah kalah di WTO. [330] url asal
#rancangan-peraturan-menteri-kesehatan #tantangan-industri-tembakau #universitas-jenderal-achmad-yani #badan-perdagangan-dunia #fctc #wto #hikmahanto-juwana #menara-bank-mega #pemerintah-indonesia #honduras #bad
(detikFinance - Perencanaan Keuangan) 05/11/24 15:20
v/17511191/
Jakarta - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia sekaligus Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Prof Hikmahanto Juwana mengkritik regulasi penyeragaman kemasan rokok tanpa identitas merek. Pasalnya Indonesia pernah menggugat aturan tersebut kepada Badan Perdagangan Dunia (WTO).
Ia menjelaskan, tahun 2014 Australia menerapkan aturan kemasan rokok tanpa identitas merek di negaranya. Indonesia sebagai salah satu pengekspor produk hasil tembakau terbesar melakukan perlawanan meskipun akhirnya kalah.
"Bayangkan, 2014 Australia meletakkan kemasan polos, dan kita melawat tahun 2017. Kita Indonesia melawan sebagai negara pengekspor keenam dunia. Kenapa, karena yang dipikirkan adalah kalau Australia bisa, berhasil, itu tenaga kerja kita, produk ekspor kita akan terganggu," katanya dalam detikcom Leaders Forum bertajuk Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 8%: Tantangan Industri Tembakau di Bawah Kebijakan Baru di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (5/11/2024).
"Dan memang kita kalah. Masa kita kalah terus kemudian sekarang kita mau menerapkan apa yang dilakukan Australia? Bingung saya," sambung Hikmahanto.
Adapun regulasi baru soal kemasan rokok tertuang dalam Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) sebagai aturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28/2024 tentang Kesehatan.
Menurutnya rencana penerapan kemasan rokok tanpa identitas merek berasal dari FCTC atau Framework Convention on Tobacco Control. FCTC adalah perjanjian kesehatan masyarakat global pertama yang dibahas dan disepakati oleh negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Kita nggak (meratifikasi FCTC) dan jangan pernah kita ikut FCTC. Tapi kan pintarnya mereka memaksa lewat Menteri Kesehatan supaya ketentuan-ketentuan yang ada dalam FCTC itu diadopsi ke dalam hukum Indonesia," ujarnya.
Ia menuding ada kelompok yang ingin agar produk rokok dari negara pengekspor tidak bisa masuk ke negaranya. Hikmahanto lalu meminta pemerintah Indonesia agar tidak mudah diintervensi.
Dalam catatan detikcom, Indonesia menggugat Negeri Kanguru lantaran menerapkan aturan kemasan netral pada produk tembakau. Sengketa dagang ini merupakan salah satu sengketa dagang terbesar yang ditangani WTO sampai saat ini.
Tercatat ada tiga anggota WTO lainnya yang ikut menggugat kebijakan yang sama, yaitu Honduras, Republik Dominika, dan Kuba, serta 36 Anggota WTO menjadi pihak ketiga yang turut berkepentingan terhadap gugatan ini.
(ily/kil)
Indonesia Bisa Jadi Penengah Israel-Iran yang Lagi Memanas - kumparan.com
Indonesia Bisa Jadi Penengah Israel-Iran yang Lagi Memanas [241] url asal
#news #internasional #iran #israel #hikmahanto #indonesia
(Kumparan.com - News) 26/10/24 19:47
v/17027914/
Iran dan Israel semakin memanas. Teranyar, Israel menyerang target di wilayah jantung Iran, Teheran. Ini merupakan serangan yang tereskalasi dari beberapa serangan antar-dua pihak.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai semakin tereskalasi atau tidaknya serangan dari dua pihak ini tergantung kepada respons dari Iran. Apakah Teheran akan melakukan serangan balik tanpa jeda beberapa hari atau minggu ke depan.
Menurutnya, bila Iran melakukan serangan balik secara langsung ke Israel, dan Israel langsung membalasnya, maka serangan itu akan bereskalasi menjadi perang terbuka antara Iran dan Israel.
"Tidak lagi perang antar-negara dengan kelompok," kata Hikmahanto dalam keterangannya, Sabtu (26/10).
Jika hal tersebut terjadi, maka bukan tidak mungkin negara lain akan terlibat. Seperti Amerika Serikat dan Inggris yang berada di belakang Israel, dan Rusia mendukung Iran.
Maka, lanjut dia, ada sejumlah langkah bagi masyarakat internasional untuk menyikapi kondisi tersebut. Salah satunya Indonesia, menurutnya, bisa turut terlibat sebagai penengah.
"Negara ketiga seperti Indonesia turun untuk menjadi penengah. Intinya Indonesia ke AS dan meminta AS menahan Israel untuk tidak menyerang Hamas, Hizbullah maupun Iran. Sebagai imbalannya Indonesia ke Iran agar tidak melakukan pembalasan serangan Israel," kata Rektor Univ Jenderal A. Yani itu.
Langkah lainnya, yakni PBB dinilai perlu bersikap. Menurut Hikmahanto, Dewan Keamanan PBB perlu melakukan rapat darurat demikian juga Majelis Umum untuk mengeluarkan resolusi.
Kemudian, Amerika Serikat juga harus intensif melakukan lobi ke Iran maupun Israel untuk mencegah perang terjadi. "Terutama saat ini agar Iran tidak melakukan serangan balasan," ujarnya.
RI Bisa Dapat BBM Murah dari Rusia kalau Gabung BRICS
Bergabung dengan BRICS, Indonesia berpotensi mendapatkan akses minyak murah dari Rusia dan memperkuat kerja sama perdagangan. [617] url asal
#brics #bbm-murah #indonesia #rusia #hubungan #brazil #india #piter-abdullah #negara-negara-anggota-brics #ukraina #rusia-china #institute #aja #merah #hikmahanto-juwana #perdagangan-dunia #pengaruh-negara #china
(detikFinance - Energi) 25/10/24 16:08
v/16979549/
Jakarta - Pemerintah diperkirakan bisa mendapat sejumlah manfaat dari bergabungnya Indonesia dengan blok ekonomi BRICS sebagai mitra. Salah satunya terkait kerja sama perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota kelompok 'anti-barat' tersebut.
Sebab sebagaimana diketahui BRICS merupakan akronim dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan yang dibentuk untuk memperkuat kerja sama ekonomi serta untuk meningkatkan pengaruh negara anggota di kancah global. Blok perdagangan ini disebut-sebut memegang sekitar seperlima perdagangan dunia.
Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana berpendapat dengan menjadi negara mitra BRICS, Indonesia berpeluang mendapat akses kerja sama ekonomi atau transaksi komoditas tertentu dari para negara anggota blok tersebut.
Ia mencontohkan dengan bergabungnya Indonesia sebagai mitra BRICS, pemerintah bisa mendapat akses terhadap minyak mentah Rusia dengan harga murah. Sebab selama ini minyak mentah asal Negeri Beruang Merah itu banyak mendapat embargo dari berbagai negara, khususnya negara barat.
"Kalau menurut saya (menjadi mitra BRICS) bisa mempengaruhi, misalnya gini, (pasokan) BBM," kata Hikmahanto.
"Sekarang Rusia bisa menawarkan kita BBM yang lebih murah karena dia nggak laku katakanlah karena dia diembargo sama negara-negara Eropa karena Ukraina. Nah pertanyaan kita kenapa kita nggak beli dari Rusia?" tambahnya lagi.
Menurutnya keuntungan-keuntungan seperti ini menjadi sangat penting mengingat beban negara untuk subsidi BBM ini sudah sangat besar. Sehingga dengan adanya pembelian pasokan minyak harga murah ini setidaknya pengeluaran negara dapat sedikit berkurang.
:Kita kan mau beli murah karena negara mensubsidi (BBM) rakyatnya mahal ya kan? Nah kalau misalnya kita beli mahal kemudian subsidi juga mahal (beban negara akan semakin besar)," ucap Hikmahanto.
"Karena kepentingan nasional kita adalah kita bisa membeli minyak yang sudah di-refine itu dengan harga murah supaya negara tidak terbebani dengan subsidi yang cukup besar kepada rakyatnya," terangnya lagi.
Meski begitu ia mengakui jika langkah seperti ini bisa saja membuat sejumlah negara, khususnya mereka yang mengembargo minyak mentah Rusia, akan memberi opini negatif terhadap Indonesia. Termasuk di antaranya bisa saja mempengaruhi proses bergabungnya RI dengan OECD.
Sebab menurutnya keberadaan blok ekonomi BRICS ini berada di posisi saling berlawanan dengan OECD, mengingat bagaimana negara-negara anggota blok tersebut kerap bermasalah dengan negara-negara barat yang merupakan anggota OECD.
Untuk itu menurutnya pemerintah perlu mempertimbangkan betul-betul posisinya dalam kancah politik global. Sehingga ia menyarankan untuk mempertimbangkan kembali untung rugi bagi Indonesia untuk tetap bermitra dengan BRICS maupun tergabung dalam OECD.
"Tapi kalau kita masuk OECD, kalau ada ketentuan yang mengatakan bahwa pokoknya negara anggota OECD nggak boleh beli dari Rusia, wah tunggu dulu, jangan (langsung bergabung OECD)," terangnya.
"Kita juga harus hati-hati ya untuk melihat apa yang bisa dihasilkan atau nggak kalau kita ingin gabung ke OECD. Jangan sampai dengan bergabungnya kita (dengan BRICS ataupun OECD), kita tidak bisa mempertahankan politik luar negeri yang bebas aktif," kata Hikmahanto.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah berpendapat secara umum Indonesia tidak mendapat nilai tambah yang besar dengan menjadi negara mitra BRICS. Sebab selama ini Indonesia sudah memiliki hubungan yang cukup dekat dengan negara-negara anggota geng Rusia-China ini.
"Saya kira sih sama aja. Ini kita sebenarnya sebagai mitra BRICS itu kita sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa karena sebelumnya hubungan kita dengan China, dengan India, dengan Rusia itu ya sudah baik," kata Piter.
Sehingga menurutnya kemitraan ini hanya menjadi salah satu sarana mempererat hubungan diplomatik antara Indonesia dengan negara-negara anggota BRICS saja. Walaupun langkah ini juga merupakan hal yang penting mengingat para anggota geng Rusia-China ini masih memiliki potensi perdagangan yang besar dengan Indonesia.
"Mungkin yang hanya bisa lebih ditindaklanjuti seharusnya itu adalah misalnya terkait dengan potensi perdagangan dengan Brazil ya, atau termasuk dengan Rusia," ucapnya.
"Rusia kan kita sudah berhubungan baik, tapi kalau secara perdagangan masih kurang ya. Mungkin melalui kemitraan ini bisa dimanfaatkan lebih gitu," sambungnya.
(fdl/fdl)
RI Bermitra dengan Geng Rusia-China, Bakal Susah Masuk OECD?
Indonesia bergabung dengan BRICS sebagai mitra, membuka peluang kerja sama. Namun, perlu hati-hati agar tidak merugikan hubungan dengan OECD. [601] url asal
#brics #oecd #indonesia #kemitraan-internasional #presiden-prabowo #geng-rusia-china #detikcom #negara-negara-anggota-oecd #rusia-china #afrika-selatan #hikmahanto-juwana #cina #keberadaan-blok-ekonomi-brics
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 25/10/24 14:45
v/16973877/
Jakarta - Indonesia bergabung dengan blok ekonomi BRICS sebagai salah satu negara mitra. BRICS merupakan akronim dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan yang menyumbang seperlima dari perdagangan global.
Atas kemitraan ini Indonesia disebut-sebut bisa mendapat sejumlah keuntungan semisal keterbukaan peluang kerja sama yang lebih besar di berbagai bidang seperti perdagangan hingga pengaruh di kancah politik global.
Meski begitu, Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana berpendapat dalam bermitra Indonesia tetap harus menjaga 'jarak aman' dengan dengan BRICS. Hal ini menjadi penting mengingat RI juga berencana untuk bergabung dengan OECD.
Sebab menurutnya keberadaan blok ekonomi BRICS ini berada di posisi saling berlawanan dengan OECD, mengingat bagaimana negara-negara anggota blok tersebut kerap bermasalah dengan negara-negara barat yang merupakan anggota OECD.
"Kita tahu bahwa OECD sama BRICS ini sebenarnya agak berhadapan-hadapan. Karena OECD kan Amerika dan negara-negara Eropa gitu kan, sementara kalau BRICS itu lihatlah ada Rusia, ada Cina di situ, ada India, Brazil," kata Hikmahanto kepada detikcom, Jumat (25/10/2024).
"Tapi kalau misalnya Presiden Prabowo mengatakan ingin menjaga jarak yang sama dan non block, berarti kita boleh juga tuh kalau misalnya kita join ke BRICS, kira-kira seperti itu," terangnya.
Untuk itu menurutnya pemerintah harus mengkaji lebih jauh terkait keterlibatan Indonesia dalam kelompok 'anti-barat' yang dikepalai Rusia-China ini sehingga tidak mengganggu hubungan bilateral atau perdagangan dengan negara lain, termasuk blok ekonomi OECD.
"Pertanyaannya adalah apakah kalau kita jadi anggota OECD membuat kita tidak boleh masuk dalam BRICS, atau sebaliknya kalau kita menjadi anggota BRICS kita tidak boleh masuk ke OECD. Karena Indonesia sekarang ini sudah dalam tahap persiapan akan masuk ke OECD," ucapnya.
"Nah kalau misalnya kita ternyata boleh masuk di dua-duanya kenapa nggak untuk kepentingan nasional kita?" tambah Hikmahanto.
Pada akhirnya, Hikmahanto menekankan bagaimana Indonesia harus bisa mempertahankan kebijakan politik luar negerinya yang bebas aktif. Sehingga benar-benar penting bagi pemerintah untuk menjaga jarak aman dengan negara-negara baik yang tergabung dalam BRICS maupun OECD, sehingga RI benar-benar bisa mendapatkan manfaat dari kedua belah pihak.
"Menurut saya bagus juga Indonesia bergabung dengan BRICS agar Indonesia tidak didominasi oleh negara-negara OECD. Indonesia juga bisa menjaga jarak yang sama antara negara-negara yang bergabung dengan OECD, dengan negara-negara yang tergabung dalam BRICS," terang Hikmahanto.
"Terpenting adalah kepentingan nasional kita diuntungkan dan tidak sebaliknya dirugikan. Indonesia mungkin melihat OECD sudah tidak sekuat di masa lalu karenanya Indonesia perlu masuk ke BRICS dimana kekuatan pasarnya sangat luar biasa dan mampu menjadi penyeimbang OECD," pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah berpendapat secara umum keterlibatan Indonesia dengan BRICS tidak akan memberi dampak besar terhadap rencana bergabung dengan OECD.
Sebab menurutnya hubungan yang dibina antara Indonesia dengan BRICS masih dalam tahap mitra. Berbeda jika Indonesia benar-benar masuk dan menjadi anggota BRICS, di mana hal ini dapat memancing opini negatif dari negara-negara barat khususnya yang tergabung dalam OECD.
"Makanya kalau kita hanya sebagai mitra, itu menurut saya nggak ada minusnya. Karena kita hanya sebagai mitra bukan sebagai anggota," ucapnya.
Meski begitu menurutnya Indonesia masih harus berhati-hati atas kemitraannya ini dengan BRICS, utamanya agar tidak mendapat opini negatif dari negara-negara anggota OECD. Sebab menurutnya RI belum memiliki kemampuan atau ketahanan jika harus berhadapan dengan misalnya sanksi atau embargo negara-negara barat.
"Kalau kita menjadi penggerak (anggota) dalam BRICS Itu mungkin kita akan diperlakukan secara berbeda negatif oleh negara-negara barat, terutama dengan melihat hubungan baik antara kita dengan Rusia. Nanti kan (OECD) beranggap (Indonesia) berteman dengan Rusia, kita akan diperlakukan secara negatif. Sementara kita belum punya posisi yang cukup kuat Untuk diperlakukan seperti itu," terang Piter.
(fdl/fdl)
Khalifah Umar Memetik Hikmah dari Anak Gembala
Umar bin Khattab menangis setelah mendengar perkataan si anak gembala. [340] url asal
#kisah-sahabat-nabi #kisah-hikmah #sikap-amanah #teladan-amanah
(Republika - Khazanah) 13/08/24 14:53
v/14369022/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Abdullah bin Dinar menceritakan, suatu hari dirinya menemani Khalifah Umar bin Khattab dalam perjalanan dari Madinah menuju Makkah. Belum sampai tujuan, keduanya lantas beristirahat di dekat padang rumput.
Mereka lantas berpapasan dengan seorang anak gembala. Sang amirul mu`minin berkata, "Aku ingin menguji kejujuran gembala itu. Apakah ia amanah dalam pekerjaannya ataukah tidak."
Umar lantas berjalan mendekati si anak gembala. Sementara, Ibnu Dinar mengikutinya.
"Wahai anak gembala," kata Umar, "bagaimana kalau engkau menjual kepadaku seekor anak kambing dari ternak ini?"
"Aku bukan pemiliknya. Aku hanya seorang budak. Tuanku-lah yang mempunyai kambing-kambing ini," jawab si gembala.
Umar berkata lagi, "Kalau begitu, bilang saja nanti kepada tuanmu, anak kambing itu berkurang satu karena dimakan serigala."
Si bocah diam sejenak. Ia lama menatap wajah Amirul Mukminin, seperti keheranan. Ia lalu berkata, "Jika Anda menyuruh saya berbohong, fa ainallah (di mana Allah)?"
Maksudnya, anak ini mengingatkan pria dewasa yang ditemuinya itu, sesungguhnya Allah Mahamelihat.
"Mungkin tuanku tidak melihat, tetapi bagaimana dengan Allah?" tutur dia lagi.
Ibnu Dinar menceritakan, begitu mendengar perkataan itu sang khalifah pun tampak takjub.
Umar adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah.
Lantas, Umar menangis karena memahami makna tauhid kalimat itu.
Kalimat yang mengingatkannya pada keagungan Allah, sekaligus tanggung jawabnya kelak di Hari Kiamat sebagai seorang pemimpin.
Umar kemudian menemui majikan si anak gembala itu. Akhirnya, sahabat Nabi SAW berjulukan al-Faruq itu membeli lalu membebaskan si bocah dari status budak.
"Dengan kalimat fa ainallah, telah kumerdekakan kamu dari perbudakan dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak."
Demikianlah, sikap amanah anak kecil tadi membebaskannya dari belenggu perbudakan sekaligus memberi pelajaran hikmah bagi sang pemimpin.
Dalam bahasa sehari-hari, amanah bisa diartikan sebagai sikap bertanggung jawab. Jika seseorang bertanggung jawab terhadap tugas- tugasnya, ia dipandang sebagai sosok amanah. Demikian juga sebaliknya, jika ia mengkhianati amanahnya, ia dipandang sebagai sosok yang tak bisa dipercaya.
Bijak Memaknai Musibah
Musibah dapat mendatangkan pahala bila dihadapi dengan keimanan dan kesabaran. [397] url asal
#hikmah #musibah #hikmah-di-balik-musibah #memaknai-musibah #tawakal
(Republika - Khazanah) 13/08/24 11:25
v/14356935/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musibah berasal dari kata musibat dalam bahasa Arab. Ini berakar dari bentuk ashaaba, yushiibu, mushiibatan, yang berarti 'segala yang menimpa pada sesuatu.'
Secara kebahasaan, hal itu dapat berupa kesenangan maupun kesengsaraan. Namun, umumnya dipahami bahwa musibah identik dengan kesusahan. Padahal, nikmat yang dirasakan pada hakikatnya bisa saja menjadi musibah juga.
Dengan musibah, Allah SWT hendak menguji siapa yang paling baik amalnya. Ini diisyaratkan dalam Alquran.
اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى الۡاَرۡضِ زِيۡنَةً لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ اَ يُّهُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya" (QS al-Kahf: 7).
Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.
Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT.
Terakhir, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Golongan yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.
Musibah yang ditimpakan kepada manusia ada dua macam: musibah dunia dan di akhirat. Yang pertama itu dapat berwujud ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya. Ini sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surah al-Baqarah ayat ke-155. Artinya, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
Adapun musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya."
Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.
Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.
Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis qudsi, Allah SWT berfirman, "Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan."
Sudah Miskin, Sombong Pula
Allah lebih tidak suka lagi kepada orang miskin yang sombong. [433] url asal
#kesombongan #hikmah #nasihat #takabur #hadis-nabi
(Republika - Iqra) 07/08/24 04:07
v/13619502/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejatinya, Allah SWT tidak menyukai kesombongan dalam bentuk apa pun, baik sikap, ucapan, maupun perbuatan (QS Luqman [31]: 18-19). Sebab, membesarkan diri (al-mutakabbir) adalah pakaian kebesaran-Nya.
Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman, “Kemuliaan adalah pakaian-Ku, dan kebesaran adalah selendang-Ku. Siapa saja yang menyaingi-Ku dalam salah satunya, maka Aku pasti akan menyiksanya.” (HR Muslim).
Allah SWT tidak suka kepada orang kaya yang sombong seperti Qarun, sehingga dilenyapkan ke perut bumi (QS al-Qashash [28]: 81). Sebab, sekaya apa pun seseorang, ia tidak mampu mengendalikan segalanya dan tetap bergantung kepada-Nya (QS Fatir [35]: 15). Namun, Allah lebih tidak suka lagi kepada orang miskin yang sombong, sebab ia tidak punya sesuatu untuk disombongkan.
Imam Nawawi dalam kitab Riyadhush-Shalihin menukil sebuah hadis dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Ada tiga kelompok yang kelak di hari kiamat, di mana Allah tidak akan berbicara, membersihkan dan memandang mereka, bahkan akan menyiksanya dengan azab yang pedih, yaitu orang tua berzina, penguasa bohong, dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim).
Setidaknya, ada empat pertanda orang miskin yang sombong. Pertama, enggan berdoa (ibadah). Allah SWT sangat senang kepada seorang hamba yang taat dan selalu meminta kepada-Nya. Setiap permohonan akan dipenuhi dengan cara-Nya sendiri (QS Ghafir [40]: 60).
Namun, jika orang miskin enggan berdoa, maka itulah pertanda kesombongan Sekiranya pun berdoa, tidak sepenuh hati. “Ya Allah, berikanlah aku, jika Engkau mau.” (HR Muslim).
Kedua, malas melaksanakan tugas. Semestinya orang miskin harus sungguh-sungguh memenuhi kebutuhan hidup dan mewujudkan cita-citanya. Namun, jika orang miskin malas ibadah, bekerja, belajar atau lalai akan janji (komitmen), maka itulah pertanda kesombongan (QS An-Nisa`[4]: 142).
Ketiga, suka melanggar aturan. Tujuan agama diturunkan agar hidup manuisa menjadi tertib, disiplin dan bertanggung jawab. Seorang Muslim, wajib patuh pada aturan Allah dan Rasul-Nya.
Begitu pun masyarakat harus mematuhi peraturan yang dibuat oleh pemerintah atau pemimpinnya (QS an-Nisa [4]:59). Namun, jika orang miskin suka melanggar aturan atau tidak mau mendengarkan nasihat, itulah pertanda kesombongan.
Keempat, tak pandai berterima kasih. Orang kaya yang tulus tidak mengharapkan balasan dari orang yang ditolongnya (QS al-Insan [76]:9-10). Namun, orang miskin wajib berterima kasih atas kebaikan yang diterimanya.
“Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR Ahmad). Namun, jika orang miskin tidak pandai berterima kasih, itulah pertanda kesombongan.
Akhirnya, tiada yang patut disombongkan, sebab semua kekayaan dan kekuasaan akan sirna pada waktunya. Namun, ketika sseorang yang sudah miskin dan sombong pula, maka tiada lagi yang berharga pada dirinya. Lalu, orang-orang pun akan membiarkannya merana dalam kesendirian.
Islamnya Yahudi Juru Tulis Mushaf Alquran dan Kisah Nasrani Penyalin Tafsir Ath-Thabari
Profesi penyalin kitab pernah populer dalam peradaban Islam [860] url asal
#industri-kertas #industri-kertas-peradaban-islam #penulis-kitab-peradaban-islam #penyalin-kitab #penyalin-kitab-sejarah-islam #baitul-hikmah #teknologi-kertas-dalam-sejarah-islam
(Republika - Khazanah) 05/08/24 21:01
v/13417559/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Fenomena "kertas dan perkamen" -atau industri penerbitan buku dalam kehidupan ilmiah Islam, merupakan salah satu fenomena pengetahuan yang paling penting dan signifikan yang dihadiahkan oleh peradaban Islam kepada pengalaman peradaban manusia, dan menyebabkan, dengan perkembangan dan perluasannya, melimpahnya buku.
Hal ini membuka jalan bagi fenomena lain yang sama pentingnya dan perintis, yaitu pembentukan perpustakaan umum dan pribadi, dan menghasilkan warisan ilmiah terkaya yang dikenal oleh umat manusia hingga era modern dan ledakan pengetahuan yang disaksikannya berkat penemuan mesin cetak pada tahun 854 H / 1450 M oleh ilmuwan Jerman, Johann Gutenberg (wafat tahun 863 H / 1468 M).
Penemuan ini merupakan terobosan teknologi yang mengubah wajah sejarah budaya dunia, namun juga menandai awal berakhirnya sistem budaya unik yang disebut "perkamen", yang mana artikel ini akan membawa kita ke dalam koridor sejarahnya untuk menelusuri dunianya, yang selama lebih dari 12 abad penuh dengan kehidupan dan kreativitas, penuh dengan kontroversi dan keributan budaya, dan bukan tanpa fakta-fakta yang mengejutkan dan lucu.
Sebagaimana toko-toko perkamen tidak terbatas pada penyalinan buku-buku budaya Islam, tetapi juga menambahkan buku-buku terjemahan, komunitas pedagang perkamen pun meluas hingga mencakup pedagang dari semua agama dan kepercayaan, tidak hanya mengkhususkan diri pada penyalinan dan penerbitan buku-buku kepercayaan dan agama mereka, tetapi juga menyalin dan menjual buku-buku Islam dengan tangan mereka sendiri!
Pada akhir abad kedua Hijriyah, "industri vellum" - meminjam istilah sejarawan Ibnu Khaldun (wafat 808 H/1406 M) dalam 'Muqaddimah' - telah mencapai penyebaran yang luas dan menuju kemakmuran pada abad ketiga/sembilan Hijriyah, sehingga cabang-cabangnya - menurut Ibnu Khaldun - didefinisikan sebagai "menyalin, mengoreksi, menjilid, dan urusan administrasi serta buku-buku lainnya" seperti menjual kertas dan kartrid.
Tak lama kemudian, industri kertas memiliki "toko-toko" atau "toko-toko" yang termasuk dalam "pasar-pasar pekerja kertas" yang "mengkhususkan diri pada pusat-pusat kota besar", dan beberapa di antaranya bekerja di perpustakaan-perpustakaan "resmi" di negara-negara besar di dunia Islam, seperti "Baitul Hikmah" yang didirikan oleh Abbasiyah di Baghdad, Dar al-Ulum di Kairo pada masa Fatimiyah, dan Khazanah al-Ulum di Kordoba pada masa Umayyah di Andalusia.
Empat abad sebelum Ibnu Khaldun, Abu Hayyan al-Tawhidi (wafat setelah 400 H/1010 M) - dalam sebuah surat kepada seorang teman dalam bukunya 'Al-Imtisa' - mengidentifikasi beberapa alat industri perkamen dan penyertaannya dalam pekerjaan penyalin yang baik; ia menyebutkan "tinta, kertas, kulit, bacaan, wawancara dan koreksi".
Namun, pada masa penurunan kualitas dalam industri perkamen, diketahui bahwa "mayoritas dari mereka yang tulisan tangannya bagus tidak terbebas dari ketidaktahuan", menurut Imam Badr al-Din al-Ayni (wafat 855 H/1451 M) dalam 'Umdat al-Qari Syarah Sahih al-Bukhari' (Umdat al-Qari Syarah Sahih al-Bukhari).
Kota-kota besar Islam memiliki berbagai macam pasar, yang didistribusikan sesuai dengan barang yang mereka tawarkan atau kerajinan yang mereka sediakan; salah satunya adalah "pasar kertas" atau "pemilik kertas" atau "pemilik kartrid"; sesuai dengan masing-masing daerah dan nomenklaturnya untuk kertas.
Ahli geografi dan sejarawan al-Yaqoubi (wafat 284 H/897 M) - dalam bukunya 'Negara-Negara' - menyebutkan sebuah daerah pinggiran kota Baghdad yang disebut "Rabd Wadah", kemudian mengatakan bahwa daerah tersebut memiliki pasar-pasar "dan sebagian besar pasar-pasar yang ada pada masa sekarang (= abad ketiga H/abad kesembilan M): Para penjilid buku, karena ada lebih dari seratus toko penjilid buku"!
Al-Dzahabi memberitahu kita dalam 'Al-Abbar fi Khabar min Ghubar' bahwa pada tanggal 26 Syawal 740 H/1339 M, "kebakaran besar terjadi di Damaskus... [api] menyebar ke pasar buku dan pasar para pustakawan terbakar". Rujukan telah dibuat ke sisi timur Kordoba dan lusinan perempuan pekerja dokumen, yang kemungkinan besar bekerja di toko-toko yang didirikan untuk dokumen.
Sebagaimana toko-toko perkamen tidak terbatas pada penyalinan buku-buku budaya Islam, tetapi juga menambahkan buku-buku terjemahan, komunitas pedagang perkamen meluas hingga mencakup para pedagang dari semua agama dan kepercayaan, tidak hanya mengkhususkan diri dalam menyalin dan menerbitkan buku-buku kepercayaan dan agama mereka, tetapi juga menyalin dan menjual buku-buku Islam dengan tangan mereka sendiri!
Imam al-Baihaqi (wafat 458 H/1067 M) meriwayatkan sebuah kisah dalam 'Dalilat al-Nubuwwah' (Bukti-bukti Kenabian) bahwa seorang intelektual Yahudi yang "pandai menulis" menjadi seorang Muslim dan menceritakan kisah keislamannya kepada Khalifah Abbasiyah al-Ma'mun (wafat 218 H/833 M), ia berkata, "Aku fokus ke Alquran dan membuat tiga salinan, menambah dan mengurangi, dan membawanya kepada para pekerja kertas dan mereka memeriksanya, dan ketika mereka menemukan tambahan dan pengurangan di dalamnya, mereka membuangnya dan tidak membelinya, aku tahu bahwa ini adalah kitab yang terpelihara, dan ini adalah penyebab keislamanku."
Kita tidak mengetahui bahwa penulisan Alquran oleh seorang Yahudi ini memicu penyanggahan oleh Khalifah atau para penulis Muslim, meskipun fakta kisahnya diketahui telah diceritakan di istana Khilafah Islam pada puncak kekuasaannya, dan bahkan sejarawan besar seperti Al-Baihaqi menyebutkannya - mengkonfirmasi keasliannya - dalam konteks pembuktian bahwa Alquran terpelihara dari perubahan dan distorsi meskipun penulisnya adalah non-Muslim.
Dalam Al-Fihrist, Al-Nadim mengutip filsuf Kristen Yahya bin Adi al-Monqi (wafat 364 H/975 M) yang mengatakan kepadanya, "Saya menyalin dengan tulisan tangan saya sendiri dua salinan Tafsir al-Tabari dan membawanya kepada raja-raja di daerah pinggiran, dan saya menulis banyak sekali buku-buku para pembicara."
Sumber: aljazeera
Kisah Pemabuk Bertobat pada Zaman Khalifah Umar
Abu Mihjan ats-Tsaqafi akhirnya bertobat dan ikut berjihad. [472] url asal
#kisah-sahabat-nabi #kisah-hikmah #bahaya-miras #bahaya-khamar #keutamaan-bertobat
(Republika - Khazanah) 05/08/24 10:49
v/13360847/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Abu Mihjan ats-Tsaqafi masuk Islam sejak peristiwa Pembebasan Makkah (Fath Makkah). Di tengah kaumnya, ia masyhur lantaran keahliannya menunggang kuda sembari mengayunkan pedang atau tombak.
Sayangnya, semua kehebatan itu seolah-olah sirna ketika Abu Mihjan mabuk. Ya, kegemarannya adalah meminum khamar.
Sesudah berislam pun, kebiasaannya tidak ikut surut. Beberapa kali, para sahabat Nabi SAW mendapati Abu Mihjan menenteng botol khamar. Sekalipun benda itu disembunyikannya, bau mulutnya tak mungkin bisa berdusta. Ia pun dihukum atas perbuatannya itu.
Mabuk-mabukan tetap menjadi tabiatnya hingga masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Beberapa kali, sang amirul mukminin menjatuhkan hukuman cambuk kepada Abu Mihjan ats-Tsaqafi karena terbukti menenggak miras.
Umar berpikir untuk mengasingkan Abu Mihjan ke daerah pesisir. Dengan pengawalan ketat, pria dari Thaif itu diarahkan ke tempat pengasingan. Allah menakdirkan, yang bersangkutan dapat kabur.
Dalam keadaan bingung, ia memutuskan untuk lari ke arah Irak, menyusul Muslimin lainnya di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqqash. Mengetahui itu, Umar bersurat ke Sa’ad, memerintahkannya agar memenjarakan sang terdakwa.
Waktu itu, Irak menjadi basis pertahanan pasukan Muslim yang hendak menghadapi Imperium Persia dalam Perang Qadisiyyah. Sa’ad menjadi panglima yang memimpin umat Islam di perang tersebut. Terkait kasus Abu Mihjan, komandan tempur itu mematuhi arahan Khalifah Umar.
Lelaki dari Bani Tsaqif itu ditempatkan di dalam sel. Hatinya sedih. Putus asa membayangi pikirannya.
Padahal, niatnya ke Irak untuk mengikuti pasukan jihad melawan Persia. Dalam penjara, dirinya bersenandung, “Sedih menyelimuti hatiku karena terbelenggu di balik jeruji besi. Bila engkau melepaskan kerangkeng yang membelengguku, niscaya akan kuraih syahid dalam medan perang. Aku dahulu kaya, tetapi kini sebatang kara. Aku dulu berwibawa, tapi kini tubuhku kering dihantam terik matahari. Maka hanya ampunan Allah yang kuharap.”
Syair itu didengar istri Sa'ad ....
Syair itu didengar istri Sa’ad. Kepadanya, Abu Mihjan memohon agar dirinya dibebaskan dan dipinjami kuda Sa’ad untuk berjihad di medan Qadisiyyah. Ia berjanji akan kembali lagi ke dalam sel bila selamat dalam peperangan tersebut. Hati perempuan itu terenyuh. Istri Sa’ad melepaskannya.
Di tengah perang, Sa’ad sebenarnya melihat Abu Mihjan, tetapi tidak menyadarinya. “Siapa dia? Dia berjuang seperti mencari syahid di medan perang,” gumam komandan itu dalam hati.
Usai pertempuran, Sa’ad kembali ke rumah. Ia bercerita kepada istrinya bahwa tadi melihat seorang pemberani di Qadisiyyah, tetapi wajahnya mirip Abu Mihjan.
“Demi Allah, itu memang Abu Mihjan. Dia telah memohon begini dan berjanji begitu.”
Mendengar pengakuan istrinya, Sa’ad bergegas ke rumah tahanan. Ia menjumpai narapidana itu masih di tempatnya semula. Namun, batinnya mengakui, tidak seorang prajurit pun bisa menunjukkan heroisme seperti yang telah ditunjukkan Abu Mihjan. Maka, Sa’ad membuka pintu sel itu seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menghukum cambuk kepadamu.”
“Demi Allah,” jawab Abu Mihjan, “aku tidak akan meminum khamar lagi. Kutinggalkan minuman itu bukan karena takut dicambuk kalian, tetapi semata-mata untuk membersihkan jiwaku, bertobat kepada Allah.”
Kerugian dan Kehilangan tak Terhindarkan, Alquran Beri Pedoman Ini
Kehilangan atau kerugian adalah bagian alami dari kehidupan. [1,210] url asal
#alquran #ilustrasi-alquran #haji #makkah #hikmah #islam #tafsir-alquran
(Republika - Iqra) 28/07/24 08:00
v/12393983/
REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Seringkali tantangan muncul, menghalangi kita mencapai impian besar dan visi besar yang ingin kita wujudkan.
Kita terjebak, melambat dalam perjalanan kita untuk memenuhi potensi kita dan menjalani hidup dengan tujuan dan semangat.
Beberapa tahun terakhir ini telah menjadi contoh besar dari sikap dikesampingkan oleh hampir semua orang.
Tantangan untuk mencapai impian kita sering kali datang dalam bentuk kehilangan atau kerugian. Dalam Alquran, Tuhan memberi tahu kita:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (QS Al-Asr Ayat 1-3).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (QS Al-Baqarah Ayat 155)
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa manusia secara alamiah akan mengalami semacam kehilangan sepanjang hidupnya.
Ada yang kehilangan kesehatan, ada yang kehilangan kekayaan, ada yang kehilangan orang-orang tercinta, ada juga yang kehilangan barang-barang yang dicintai.
Apakah kehilangan tersebut merupakan karier atau impian atau dalam beberapa kasus ekstrim, keamanan dan kebebasan.
Bisa dibilang, jika kerugian ini tidak dikelola dengan baik, maka kerugian tersebut bisa menjadi kerugian besar.
Kita bisa kehilangan hubungan yang kuat dengan Allah, kebahagiaan di akhirat, serta kedamaian dan kepuasan di dunia.
Kehilangan dan Kerugian Tidak Bisa Dihindari
Jadi pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengatasi kehilangan atau kerugian yang tidak bisa dihindari ini?
Bagaimana kita dapat melanjutkan hidup kita untuk memenuhi tujuan akhir kita dan menjaga hubungan yang kuat dengan Allah?
Bagaimana kita dapat menyembuhkan luka-luka tersebut dan mengatasi kekhawatiran tersebut sehingga kita dapat menjalani hidup sepenuhnya?
Bukankah kita ingin menjadi diri kita sendiri, melakukan apa yang kita bisa untuk membuat perbedaan positif di dunia?
Pertama, ada baiknya untuk mengingat bahwa kehilangan atau kerugian adalah bagian alami dari kehidupan. Semuanya bersifat sementara, berlalu, dan sementara.
Kita bisa merasakan kesedihan dan kesakitan yang luar biasa, namun kita juga bisa merasakan kegembiraan dan kelegaan yang luar biasa. Allah SWT memberitahu kita sekali lagi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Bahwa sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, bahwa sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan, (QS An-Najm Ayat 42-44)
Kesehatan, kekayaan, dan orang-orang yang kita kasihi semuanya adalah berkah dan anugerah. Mereka milik Allah dan Dia meminjamkannya kepada kita untuk beberapa waktu.
Kita cenderung melupakan apa itu karunia-karunia. Kita akhirnya terikat pada anugerah itu dan bukan pada Dia yang memberkati kita dengan anugerah itu, bahkan ketika Dia, dalam rahmat-Nya yang tak terhingga, memilih untuk mengambil anugerah itu.
Kita tahu bahwa bagi orang mukmin, diuji atau diberkati adalah kesempatan untuk bersabar dan bersyukur.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sungguh luar biasa urusan orang Mukmin, sesungguhnya semua urusannya baik dan itu bukan urusan siapapun kecuali orang Mukmin. Apabila suatu kebaikan/ kebahagiaan menimpanya, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika suatu musibah menimpanya, maka dia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR Imam Muslim)
Sekali lagi, kita dibimbing dalam Surat Al-Asr tentang jalan keluar dari keadaan kehilangan ini dan bagaimana cara mengatasinya, bergerak menuju kepuasan dan kesuksesan yang lebih besar dengan izin Allah.
Sebagaimana dijelaskan Um Hadi sarjana Psikologi dan Pendidikan dalam laman About Islam, 19 Oktober 2023. Dijelaskan bahwa kunci yang disebutkan dalam ayat yang dikutip di atas adalah (1) Iman kepada Allah. (2) Berbuat Baik. (3) Saling mengajak kepada kebenaran. (4) Menaruh satu sama lain untuk bersabar.
1. Iman Kepada Allah SWT
Keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya serta kitab-Nya (Alquran) membuat kita memahami bahwa kita diberikan kehidupan ini sebagai kesempatan, cara untuk mencapai kebahagiaan baik sekarang maupun di kemudian hari di akhirat. Jika kita bisa mengamati kunci keselamatan itu. Kita diberitahu dalam Alquran.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
(Dialah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Al-Mulk Ayat 2)
2. Berbuat Baik
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan. (QS An-Nahl Ayat 97)
Jadi secara harfiah, kami berada di sini untuk waktu yang terbatas. Kita berlomba-lomba berbuat baik, termasuk berbagai amalan yang dianjurkan dalam iman kita. Semua sifat akhlak indah yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.
Jadi karakter moral kita yang baik meliputi kebaikan, kemurahan hati, pengampunan, keadilan, kesetiaan, dan lain-lain.
Hadits ini dan keutamaan akhlak yang baik sering disebutkan baik dalam Alquran maupun sunnah.
Ditekankan pada lima rukun dan ibadah yang hendaknya membentuk, meningkatkan, dan menyempurnakan akhlak kita yang baik.
Implementasi kita terhadap hal ini harus menjadi bahan bakar kita untuk menjaga dunia dan membuat perbedaan positif.
"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik."
3. Saling Mengajak Kepada Kebenaran
Kunci ketiga yang disebutkan dalam ayat di atas adalah berpegang pada kebenaran.
Kebenaran keimanan kepada Allah dan firman-Nya dalam Alquran yang memuat sifat-sifat dunia sementara telah disebutkan, kebenaran bahwa di dalamnya terdapat baik dan buruk, dan kamu akan merasakan senang dan sedih.
Kita diingatkan akan hal ini:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Apabila ditimpa bencana, manusia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali (taat) kepada-Nya. Akan tetapi, apabila Dia memberikan nikmat kepadanya, dia lupa terhadap apa yang pernah dia mohonkan kepada Allah sebelum itu dan dia menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bersenang-senanglah dengan kekufuranmu untuk sementara waktu! Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (QS Az-Zumar Ayat 8)
Kita perlu terus-menerus mengingatkan satu sama lain akan kebenaran ini karena, sebagai manusia, kita cenderung lupa.
Melupakan nikmat yang Allah limpahkan kepada kita dan tahun-tahun yang Dia berikan kemudahan kepada kita. Kita cenderung hanya mengingat Dia di saat-saat sulit.
Ingatlah ketika kita diuji dengan kehilangan beberapa nikmat karena sebuah alasan dari Allah dalam pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas. Kehilangan itu pada akhirnya akan bermanfaat dan mengangkat kita.
Kita mengetahuinya dari kisah-kisah dalam Alquran dan kisah-kisah orang-orang hebat yang transformasinya berkali-kali disebabkan oleh kesengsaraan.
Saat-saat kelemahan terbesar membuka jalan menuju momen kekuatan terbesar.
4. Mengingatkan Satu Sama Lain untuk Sabar
Terakhir, kunci keempat yang diberitahukan kepada kita adalah kesabaran. Kesabaran disebutkan berulang kali dalam Alquran dan ada banyak ayat yang menulis tentang keutamaan dan pentingnya kesabaran.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al-Baqarah Ayat 153)
Salah satu ayat favorit saya dalam Alquran yang menurut saya sangat mengharukan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Bersabarlah (Nabi Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami! Bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu ketika engkau bangun! (QS At-Tur Ayat 48)
Menurut saya ayat ini mengharukan karena sepertinya Allah sedang menghibur kita.
Meyakinkan kita bahwa apapun yang kita alami atau saksikan dan diderita orang lain, Dia selalu ada, menjaga kita di setiap langkah. Bagian kita, sekali lagi tugasnya adalah saling mendukung dan bersabar.
Penting untuk diingat bahwa dua kunci terakhir tersebut melibatkan orang lain untuk saling mendukung dan menjangkau satu sama lain
RUU TNI: Hikmahanto Minta Peran TNI AL dan AU Sebagai Penegak Hukum Lebih Rinci - kumparan.com
RUU TNI: Hikmahanto Minta Peran TNI AL dan AU Sebagai Penegak Hukum Lebih Rinci [376] url asal
#tni #prajurit #hukum #hikmahanto
(Kumparan.com - News) 11/07/24 20:14
v/10452669/
Ahli Hukum Internasional sekaligus Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani, Hikmahanto Juwana, mengatakan kewenangan TNI Angkatan Udara (AU) dan Angkatan Laut (AL) sebagai penegak hukum perlu diperhatikan dalam Revisi Undang-Undang (RUU) TNI.
Sebab dalam UU TNI saat ini Pasal 9 huruf (b) dan Pasal 10 huruf (b) tidak dirinci peran prajurit TNI sebagai penegak hukum. Apakah membuat TNI AU dan AL menjadi penyelidik atau penyidik?
"Saya bicara tentang TNI sebagai penegak hukum, jadi bukan penegak kedaulatan tapi sebagai penegak hukum. Kalau saya lihat di Pasal 9 huruf (b) dan Pasal 10 huruf (b) (Undang-Undang TNI) disebutkan tugas TNI AL dan AU sebagai penegak hukum," ujar Hikmahanto dalam acara Dengar Pendapat Publik tentang RUU TNI dan RUU Polri secara virtual Kamis (11/7).
Ia juga menjelaskan, pada konteks TNI AU, apabila ada pesawat sipil yang masuk ke wilayah Indonesia tanpa izin dan TNI AU melakukan force down atau turun paksa, apakah hal tersebut bisa disidik langsung oleh TNI AU.
"Pertanyaannya adalah apakah mereka bisa melakukan penyidikan atau tidak? Atau TNI AU harus menyerahkan ke PPNS atau kepolisian?" ucap Hikmahanto.
Menurutnya tak jadi masalah apabila pesawat sipil yang diminta force down tidak ditemukan unsur pidananya, atau tidak ditemukan unsur mata-mata, tapi untuk melakukan force down memerlukan biaya.
"Nah, itu anggaran seperti itu apa tidak seharusnya dibebankan kepada pesawat yang secara tanpa izin masuk ke wilayah udara Indonesia?" tuturnya.
"Ini juga jadi permasalahan, jangan sampai kita menjaga kedaulatan kita, lalu anggaran dari kita sendiri. Padahal sebenarnya untuk kepentingan secara keseluruhan Indonesia, dan kemudian juga berkaitan dengan pesawat-pesawat udara yang memasuki wilayah udara kita," tambahnya.
Kemudian juga pada TNI AL, berdasarkan Pasal 10 huruf (b) merupakan penegak hukum di wilayah zona ekonomi eksklusif, bukan di laut teritorial.
Menurut Hikmahanto, banyak negara tetangga yang menanyakan mengapa ada kapal militer di wilayah zona ekonomi eksklusif. Zona tersebut dinilai sebagai laut lepas bebas.
"Saya selalu mengatakan 'oh iya ada kapal militer karena menurut Undang-Undang kita memang ada dasarnya. Dan kita tahu bahwa kalau kita serahkan kepada instansi-instansi lain untuk bisa sampai 200 mil itu sulitnya minta ampun. Karena perlu punya kapal-kapal yang bertonase besar," ungkap Hikmahanto.
"Hal-hal yang seperti ini bapak ibu sekalian, mungkin bisa menjadi pertimbangan di dalam merevisi atau mengamandemen Undang-Undang TNI," pungkasnya.