#30 tag 24jam
Transformasi 10 Tahun Kepabeanan: Dorong Efisiensi Melalui Digitalisasi
Lebih dari satu dekade lalu, kinerja logistik nasional Indonesia dinilai belum berjalan dengan optimal karena besaran biaya logistiknya yang tinggi. [973] url asal
#bea-cukai #blockchain #instruksi-presiden-inpres-nomor-5-tahun-2020-tentang-penataan-ekosistem-logistik-nasional #pengembangan #lembaga-national-single-window #indonesia-logistics #pengembangan-indonesi
(detikFinance) 18/10/24 17:59
v/16701875/
Jakarta - Lebih dari satu dekade lalu, kinerja logistik nasional Indonesia dinilai belum berjalan dengan optimal karena besaran biaya logistiknya yang tinggi. Data Bank Dunia pada 2013 mencatat biaya logistik nasional Indonesia mencapai 24%, jauh melebihi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah menyusun strategi yang komprehensif untuk menjawab tantangan arus logistik agar semakin efisien dan sistematis dengan melakukan transformasi digital melalui pengembangan Indonesia National Single Window (INSW) dan National Logistic Ecosystem (NLE).
Pada awal pengembangannya, yaitu pada tahun 2014, INSW berada dalam fase awal konsolidasi sebagai ekosistem yang mengintegrasikan pengelolaan dokumen kepabeanan di Indonesia. Pengembangan berfokus pada penerapan single submission (SSm) untuk pengajuan dokumen ekspor dan impor. Kinerja INSW pada periode ini masih terbatas pada integrasi dasar antarinstansi pemerintah. Walau demikian, implementasi ini membantu meningkatkan efisiensi proses perdagangan lintas batas.
Tahun berikutnya, pada 2015, pemerintah membentuk lembaga yang mengelola portal INSW, yaitu Lembaga National Single Window (LNSW). Lembaga ini bertanggung jawab untuk mengelola dan mengoperasikan INSW secara nasional, memastikan koordinasi antarinstansi yang lebih baik, dan mendorong integrasi sistem di sektor kepabeanan, karantina, serta perizinan terkait perdagangan dengan nama Pengelola Portal (PP) INSW.
Pada tahun yang sama, untuk mendukung implementasi INSW, pemerintah juga membentuk Sistem Indonesia National Single Window (SINSW) Gen-1 yang berfungsi sebagai sistem elektronik untuk mengintegrasikan sistem pada kementerian/lembaga yang berkaitan dengan ekspor dan impor. Sistem pada kementerian/lembaga tersebut, antara lain, Sistem Inatrade (Kementerian Perdagangan RI), SIINAS (Kementerian Perindustrian RI), dan CEISA (Kementerian Keuangan RI).
Pada tahun 2016, INSW mulai diimplementasikan secara penuh di beberapa pelabuhan utama Indonesia, seperti Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Belawan, dan Pelabuhan Tanjung Perak. Penggunaan INSW di Pelabuhan-pelabuhan ini membantu percepatan proses clearance, karena adanya integrasi sistem kepabeanan dan perizinan pada lembaga terkait.
Pada tahun 2017, Indonesia mulai berpartisipasi aktif dalam ASEAN Single Window (ASW), yaitu platform regional untuk pertukaran data perdagangan lintas negara ASEAN. INSW diintegrasikan dengan ASW, sehingga memungkinkan pertukaran data elektronik seperti Certificate of Origin (e-Form D) antarnegara anggota ASEAN. Tahun berikutnya, Indonesia mulai mengimplementasikan Sistem Pertukaran Data Elektronik ASEAN Trade in Goods Agreement (SiPakDE ATIGA) antara Indonesia dengan Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
Hal ini mendukung perdagangan bebas di kawasan ASEAN dan memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasokan global.
Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada 2020 mendorong pemerintah meningkatkan proses digital dalam perdagangan lintas batas. Saat pandemi COVID-19, INSW membangun sistem SSm Perizinan Impor Tanggap Darurat untuk memfasilitasi pembebasan bea masuk dan perizinan dalam rangka penanggulangan COVID-19.
Di sisi ekspor, INSW membangun SSm Perizinan PE Alkes & DMA untuk persetujuan ekspor (PE) alat kesehatan (Alkes) yang terintegrasi dengan Dashboard Monitoring Alkes (DMA). INSW mengalami peningkatan penggunaan, seiring dengan meningkatnya permintaan perdagangan. Hal ini mendorong LNSW untuk membangun SINSW Gen-2 yang berfungsi memperkuat sistem keamanan data.
Percepatan penataan sistem logistik nasional terus diupayakan pemerintah sesuai amanat dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional yang programnya dikenal sebagai National Logistics Ecosystem (NLE). NLE merupakan ekosistem logistik yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen internasional sejak kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang. Berdasarkan hasil survei Program Kemitraan Indonesia Australia untuk Perekonomian (Prospera) pada tahun 2023, tercatat bahwa kehadiran layanan NLE mampu mendorong efisiensi waktu dan biaya, serta lebih jauh lagi mampu mendorong peningkatan efisiensi ekosistem logistik nasional untuk daya saing perekonomian tingkat global.
Dalam dua tahun terakhir, rata-rata efisiensi yang dihasilkan adalah 51,1% (waktu) dan 34,75% (biaya). Pada tahun 2023, NLE telah diimplementasikan di 46 pelabuhan dan 6 bandar udara dengan menerapkan layanan SSm (SSm Perizinan dan SSm Pabean Karantina Impor) mencapai 98%.
Pelaksanaan diseminasi survei efektivitas layanan NLE oleh Tim Teknis NLE dan Prospera pada Rabu (04/06/2024). Foto: Bea Cukai |
INSW dan NLE merupakan dua inisiatif strategis yang dirancang oleh pemerintah Indonesia untuk memperkuat proses logistik dan perdagangan internasional, yang saling melengkapi dalam upaya mempercepat serta mempermudah arus barang dan dokumen. INSW menjadi fondasi utama dokumen perizinan kepabeanan karena berfokus pada penyederhanaan proses perizinan dan administrasi ekspor-impor.
Sementara NLE dirancang untuk mengoptimalkan ekosistem logistik nasional dengan menggunakan data dan informasi yang telah diproses di INSW.
Penurunan dwelling time atau waktu tunggu barang/kontainer di pelabuhan dari tahun ke tahun menjadi salah satu indikator keberhasilan penerapan INSW dan NLE. Dwelling time di pelabuhan mengalami penurunan konsisten dari 4,05 hari pada tahun 2017 menjadi 2,62 hari pada tahun 2023. Ini merupakan hasil dari kolaborasi antarlembaga dan bukti transformasi digital mampu mempercepat proses clearance.
Waktu rata-rata dwelling time di pelabuhan periode 2017 s.d. 2023. Foto: Bea Cukai |
Implementasi NLE mendapat penghargaan World Customs Organization (WCO) Certificate of Merit pada 2024, serta penghargaan Indonesia Logistics Award (ILA) 2024 sebagai Government of the Year. Ini menegaskan peran penting Indonesia dalam komunitas logistik global dan daya saing perdagangan lintas batas.
INSW dan NLE mampu menunjukkan dampak positif dan mendapatkan penghargaan internasional. Walau demikian, pemerintah tidak berpuas diri dan senantiasa mengupayakan perbaikan pada segala lini. Pada tahun 2024, INSW telah berkembang menjadi sistem perdagangan lintas batas yang terintegrasi penuh dengan dukungan teknologi terbaru, seperti artificial intelligent (AI), big data, dan blockchain.
LNSW juga telah meluncurkan roadmap jangka panjang dalam bentuk IT Master Plan tahun 2024 - 2028 untuk meningkatkan efisiensi perdagangan internasional, memperluas konektivitas lintas negara, serta memastikan keamanan dan transparansi yang lebih tinggi dalam seluruh proses perizinan.
Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmen yang kuat dalam menciptakan layanan kepabeanan dan logistik yang terintegrasi, modern, dan efisien melalui transformasi digital. Dengan memperkuat sistem INSW dan NLE, pemerintah berupaya menjawab tuntutan globalisasi, mempercepat arus barang, dan memudahkan proses ekspor-impor.
Transformasi ini tak hanya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, tetapi juga mengurangi birokrasi yang menghambat kemudahan berusaha, sehingga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Apresiasi tinggi diberikan kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam mendorong perubahan ini, dari instansi pemerintah hingga pelaku usaha, yang bersama-sama mewujudkan ekosistem logistik yang lebih efisien dan kompetitif.
Bea Cukai
(ads/ads)
Dorong Ekspor, LPEI Hadirkan Pelaku Usaha Ekspor dalam Trade Expo Indonesia 2024
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) kembali berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2024. [429] url asal
#kementerian-keuangan #direktorat-jenderal-bea-dan-cukai #trade-expo-indonesia-2024 #lembaga-pembiayaan-ekspor-indonesia #lembaga-national-single-window #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijak
(Kontan-Keuangan) 09/10/24 18:22
v/16210246/
Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) kembali berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2024, yang berlangsung dari 9 hingga 12 Oktober 2024.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pelaku usaha Indonesia menembus pasar global.
Sebagai Special Mission Vehicle dari Kementerian Keuangan, LPEI berkolaborasi dengan Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Lembaga National Single Window (LNSW).
Mereka hadir dalam satu booth bernama KemenkeuSatu untuk mendukung perluasan akses pasar bagi pelaku ekspor agar produk-produk mereka mampu bersaing di kancah internasional.
Kepala Divisi SME & Advisory Services LPEI, Maria Sidabutar, menyatakan bahwa beberapa mitra LPEI memamerkan produk-produk seperti rempah-rempah, makanan dan minuman, kerajinan, serta furnitur kepada para pembeli dari berbagai negara.
Selain itu, pengunjung dan eksportir dapat berkonsultasi langsung mengenai produk dan layanan LPEI, termasuk pembiayaan ekspor, asuransi, dan penjaminan ekspor.
"Pelaku usaha berorientasi ekspor dapat memanfaatkan ekosistem ekspor yang disediakan oleh LPEI. Dalam booth KemenkeuSatu, pengunjung juga dapat berkonsultasi tentang berbagai kendala ekspor dengan petugas Bea Cukai dan LNSW yang hadir," ujar Maria di TEI 2024.
Sejak tahun 2020 hingga Juni 2024, LPEI berhasil melahirkan lebih dari 900 eksportir baru dengan komoditas unggulan seperti makanan dan minuman, home decor, serta fashion.
Sebagai bagian dari pameran, berikut adalah sebelas pelaku usaha yang dihadirkan oleh LPEI dalam TEI 2024:
1. Hugo Inovasi - Eksportir gula kelapa yang bermitra dengan lebih dari 1.000 petani untuk meningkatkan kualitas produk dan kesejahteraan petani.
2. Sumber Banyu Biru - Pemimpin pasar produk kehutanan non-kayu yang mendukung petani dan proses produksi ramah lingkungan.
3. Nusantara Segar Global (Java Fresh) - Fokus pada pemberdayaan perempuan, dengan 70% tenaga kerja perempuan dalam produk pertanian.
4. Haldin Pacific Semesta - Produksi makanan dan produk kesehatan organik yang mendukung inisiatif nol emisi.
5. Kelompok Tani Mulyo - Pengelola lebih dari 400 hektar perkebunan kakao dengan komitmen terhadap kesejahteraan petani lokal.
6. PT Karya Nusa Raya - Memproduksi kerajinan tangan ramah lingkungan dari bahan alami.
7. CV Kurnia Abadi - Mengolah hasil pertanian lokal menjadi produk makanan bernilai tinggi dan berkomitmen pada prinsip ESG.
8. Sabila Multi Kreasindo - Menghasilkan produk dekorasi rumah dari limbah kulit kerang, meningkatkan nilai ekspor.
9. Kaula Food Indonesia - Menawarkan produk pangan berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat lokal, terutama perempuan.
10. Lili Trisada Group - Menghasilkan bumbu rendang berkualitas ekspor dan berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja.
11. Temon Argo Lestari - Produsen gula aren organik yang berfokus pada pemberdayaan petani lokal dan praktik ramah lingkungan.
Dengan partisipasi ini, LPEI berharap dapat memperkuat posisi pelaku usaha Indonesia di pasar global serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui ekspor.

