#30 tag 24jam
10.678 Maba UGM Bikin Selebrasi Formasi Unik, Enggak Pakai Latihan
Selebrasi formasi unik tersebut dibentuk tanpa latihan sebelumnya. [490] url asal
#formasi #formasi-ugm #formasi-mahasiswa-baru-ugm #maba-ugm #mahasiswa-baru-ugm #mahasiswa #pionir-ugm
(MedCom) 05/08/24 14:14
v/13380175/
Jakarta: Sebanyak 10.678 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) membentuk berbagai selebrasi formasi dalam penutupan PIONIR Gadjah Mada 2024. Selebrasi formasi unik tersebut dibentuk tanpa latihan sebelumnya.Belasan ribu mahasiswa baru UGM tersebut membetuk formasi dengan menggunakan 4 kertas warna berbeda yang diletakkan di atas kepala, para mahasiswa membalikan kertas warna tersebut sehingga membentuk formasi beragam seperti gambar tulisan derap langkah, gambar gerbang ugm, gerbang masjid kampus hingga tulisan kolaborasi generasi unggul Indonesia.
Formasi yang dibentuk tersebut menyampaikan pesan tentang derap langkah dan tonggak awal para Gamada, sebutan untuk mahasiswa baru UGM, untuk menggapai nilai luhur bangsa, menjadi inisiator persatuan dan membuka cakrawala pengetahuan. Melalui kerja inspiratif para Gamada, diharapkan mampu membangun peradaban gemilang melalui UGM sebagai pintu gerbang kejayaan nusantara dalam rangka membangun kolaborasi generasi unggul Indonesia.
Seperti yang telah dilakukan sejak 2012 silam, momen bentuk selebrasi formasi yang dilakukan mahasiswa baru pada upacara penutupan PIONIR Universitas Gadjah Mada sangatlah ditunggu-tunggu. Bahkan mahasiswa baru yang diajak untuk membentuk formasi tersebut tidak mengetahui formasi apa yang akan mereka buat nantinya.
Para mahasiswa bari hanya mengikuti instruksi panitia untuk membalikkan kertas warna di atas kepala mereka masing-masing. Rasa haru pun muncul pada benak seluruh panitia saat selebrasi formasi telah dilaksanakan.
Tak terkecuali Audy, sebagai salah satu co-fasilitator PIONIR Gadjah Mada 2024 yang selama kegiatan ini selalu mendampingi para mahasiswa baru. “Terharu, bahagia dan merasa bangga terhadap teman-teman gamada yang mampu mengerti mekanisme selebrasi secara cepat dan tepat,” katanya.
Para mahasiswa baru juga turut menyampaikan perasaannya terkait selebrasi formasi yang dilakukannya. “Seneng banget walaupun ada capeknya juga. Waktu liat formasi juga terharu banget,” ujar Quenna, mahasiswa baru Program Studi Biologi tersebut
Afa, mahasiswa baru Program Studi Ilmu Ekonomi juga menyampaikan bahwa ia merasakan hal yang sama dengan Quenna. “Aku agak gugup karena takut salah waktu formasi. Tetapi waktu selesai dan lihat formasinya lega banget. Kaget karena cantik banget dilihat,” ungkapnya.
Koordinator Acara PIONIR Gadjah Mada 2024, Kemal, mengungkapkan bahwa tema dari selebrasi formasi tahun ini yaitu lembaran pertama dalam buku PIONIR Gadjah Mada sebagai transformasi dari nama PPSMB Universitas Gadjah Mada. Oleh karena itu, tema ini representatif dari visualisasi pertama yang ditampilkan pada selebrasi formasi.
“Harapannya lembaran pertama pada buku tersebut menjadi langkah awal bagi Gamada (Gadjah Mada Muda) dalam menempuh kuliah di Universitas Gadjah Mada,” ujarnya.
Ia menambahkan, untuk menyiapkan ide selebrasi ini memakan waktu kurang lebih lima bulan, yang awalnya dibentuk dengan bantuan formasi Big Data. Ia mengaku sangat gugup dan gelisah saat formasi akan dilakukan sebab pembentukan formasi dilakukan tanpa latihan dan langsung sekali jalan hanya saat penutupan masa orientasi kampus.
“Berkat kerjasama dan kegigihan seluruh panitia, formasi bisa dilaksanakan,” ungkap Kemal bangga.
Kemal mewakili seluruh panitia PIONIR Gadjah Mada 2024 berharap untuk para mahasiswa baru agar bisa mendapatkan semua momen berkesan selama mengikuti kegiatan PIONIR. “Semoga teman-teman mahasiswa baru bisa dapat menjalani dunia perkuliahan dengan penuh semangat,” ujarnya.
| Baca juga: Mahasiswa UGM Teliti Khasiat Bawang Dayak untuk Obat Alternatif Kanker Lidah |
(CEU)
Kisah Arnia, Putri Buruh Tani dari Aceh Jadi Maba di Teknik Nuklir UGM
Arnia Fatmawati Mirsanda diterima sebagai mahasiswa baru di Teknik Nuklir UGM. [589] url asal
#ugm #teknik-nuklir #mahasiswa #mahasiswa-baru-ugm #buruh-tani #arnia-fatmawati-mirsanda
(MedCom) 01/08/24 19:48
v/12910581/
Jakarta: Raut bahagia tampak pada wajah Arnia Fatmawati Mirsanda, 17 tahun usai mengikuti rangkaian pembukaan PIONIR Gadjah Mada di lapangan Pancasila. Berbalut jas almamater, Nia, biasa menceritakan kegiatannya di hari pertama sebagai mahasiswa baru Program Studi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik UGM.Nia menjadi salah satu dari 10.678 mahasiswa baru yang diterima di Universitas Gadjah Mada pada 2024 dan wajib mengikuti kegiatan PIONIR sebelum kegiatan perkuliahan dimulai. PIONIR Gadjah Mada merupakan kegiatan pembelajaran, pengenalan, penggalian potensi, dan orientasi untuk mendidik calon pemimpin muda yang memiliki visi seiring dengan nilai-nilai ke-UGM-an, dan akan berlangsung hingga 3 Agustus nanti.
Ayah Nia, Arman, 45 tahun bekerja sebagai buruh tani di Desa Lhang, Kecamatan Setia, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Arman yang lulusan jenjang SMP ini bekerja sebagai buruh tani harian lepas yang menggarap lahan sawah orang lain.
Sedangkan ibunda Nia, Muasiah, 43 tahun merupakan Ibu Rumah Tangga yang terkadang membantu suaminya jika ada panggilan kerja. “Penghasilan tiap bulan tidak menentu, terkadang 700ribu, bisa sampai satu juta kalau sedang banyak yang butuh tenaga buruh,” kata Arman, dilansir dari laman UGM.
Di sela-sela meladang, Arman sesekali juga menyambi sebagai buruh bangunan untuk menyambung hidup istri dan anak-anaknya. Dari pekerjaan tidak tetap inilah, Arman memenuhi kebutuhan sekolah bagi kedua anaknya.
Beruntung bagi Arman, Nia anak sulungnya memiliki prestasi akademik dan non-akademik yang baik di sekolah. Selain pernah menjabat sebagai Ketua OSIS, Nia juga pernah terpilih menjadi Duta Pelajar Kamtibmas se-Kabupaten Aceh Barat Daya, serta menjuarai Lomba Desain Poster FLS2N tingkat Kabupaten.
“Tadinya saya tidak yakin kalau Nia bisa kuliah di UGM. Selain keterbatasan ekonomi, saya tidak bisa membayangkan kalau dia merantau ke Pulau Jawa sendirian. Kami tidak punya sanak saudara dan kenalan di Jogja,” tutur Arman.
Namun pandangan Arman berubah, setelah Nia mendapatkan beasiswa. Kini ia mendoakan Arnia dapat menjalani kuliah dengan baik dan lulus tepat waktu.
Ia pun mengikuti kegiatan Temu Orang Tua Mahasiswa Baru Program Sarjana dan Sarjana Terapan Tahun Akademik 2024/2025 di Grha Sabha Pramana. “Ternyata ada banyak mahasiswa baru yang dapat beasiswa seperti Nia. Terima kasih UGM sudah memberikan kesempatan ke anak-anak tidak mampu ini untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ucapnya.
Sama seperti mahasiswa penerima Uang Kuliah Tunggal Pendidikan Unggul bersubsidi 100 persen (UKT 0) lainnya, Nia, lulusan SMA Negeri 1 Aceh Barat Daya ini akan dibebaskan dari biaya pendidikan selama kuliah.
Nia diterima di Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Nuklir melalui jalur Seleksi Nasional Berdasar Prestasi (SNBP). “Masih tidak menyangka bisa diterima di UGM, apalagi SMA saya dulu bukan termasuk jajaran top 1000 sekolah terbaik di Indonesia,” ucapnya riang.
Memiliki keinginan untuk merubah nasib keluarga, pilihannya ke UGM tidaklah mudah karena harus melalui perdebatan dengan sang ayah tercinta. “Karena ayah tidak mau saya putus kuliah di tengah jalan, ayah lebih memilih saya kuliah di Aceh saja,” kata Nia
Beasiswa yang ia peroleh semakin mengobarkan semangatnya untuk lulus kuliah tepat waktu, meskipun kuliah di Teknik Nuklir terhitung antimainstream bagi sebagian orang awam. “Banyak yang berpikir kalau nuklir itu tidak baik, padahal penggunaan teknologi nuklir itu luas sekali, mulai dari pembangkit daya, radiasi dalam dunia industri, hingga radiologi klinik untuk diagnosa medis,” tutur Nia.
Keinginannya untuk memperdalam ilmu nuklir dikarenakan hobi membaca yang ia tekuni semenjak sekolah dasar dan ia mulai terpapar dengan banyak informasi terkait nuklir semenjak SMA. Dia pun berdoa agar bisa bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) atau industri lain yang terkait dengan teknik nuklir untuk memajukan teknologi nuklir di Indonesia.
| Baca juga: Teknik Nuklir, Jurusan Langka yang Prospek Kerjanya Luas |
(CEU)
Cari Hal Baru, Penyanyi Putri Ariani Pilih Kuliah di Fakultas Hukum UGM
Putri Ariani diterima kuliah di FH UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di bidang seni. [450] url asal
#mahasiswa-baru-ugm #maba-ugm #putri-ariani #fh-ugm #ugm
(MedCom) 29/07/24 20:08
v/12563565/
Jakarta: Masyarakat Indonesia sempat digemparkan oleh penampilang Ariani Nisma Putri, 18, atau akrab disapa Putri Ariani di ajang America’s Got Talent (AGT). Siapa sangka, penyanyi berbakat ini memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).Putri Ariani diterima kuliah melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di bidang seni. Mengenakan kemeja putih dengan rok hitam, Putri Ariani, merupakan satu dari mahasiswa baru yang mengikuti PIONIR Gadjah Mada pada Senin, 29 Juli 2024.
Dia juga terpilih sebagai salah satu dari enam perwakilan mahasiswa baru yang disematkan jas almamater oleh Rektor UGM Ova Emilia sebagai tanda diterima menjadi mahasiswa baru UGM. PIONIR Gadjah Mada merupakan kegiatan pembelajaran, pengenalan, penggalian potensi, dan orientasi untuk mendidik calon pemimpin muda yang memiliki visi seiring dengan nilai-nilai ke-UGM-an.
Putri Ariani mengaku senang dan bangga menjadi mahasiswa baru UGM. Menurutnya, butuh waktu sekitar satu tahun untuk memilih pendidikan terbaik bagi masa depannya.
“Banyak pertimbangan. Setahun ini banyak berpikir untuk kelanjutan pendidikan Putri, akhirnya memilih di UGM. Putri pikir, UGM menjadi the right choice for me,” kata dia.
Putri memilih Fakultas Hukum bukan tanpa alasan. Dia ingin belajar sesuatu hal baru tidak hanya di bidang bernyanyi dan musik.
“Putri ingin belajar yang baru saja. Semoga bisa mengadvokasi teman putri yang difabel dan non difabel untuk meraih mimpi mereka,” kata dia.
Meski ia merupakan lulusan dari Sekolah Menengah Musik Indonesia atau SMKN 2 Bantul, namun ia berkeinginan mencoba dan menambah wawasan baru.
“Selama ini ambil musik di SMK, tapi putri suka sesuatu yang baru. Ingin belajar hukum bisa buat nambah wawasan yang lebih luas dan open minded,” kata dia.
Putri memastikan kariernya di bidang menyanyi tidak akan ditinggalkan begitu saja. Ia ingin pendidikan dan kariernya bisa berjalan beriringan.
“Kalau Putri ingin pendidikan dan karier berjalan beriringan dan kuliah akan lanjut. Tahun ini akan keluarkan album,” beber dia.
Rektor Universitas Gadjah Mada, Ova Emilia, mengatakan Putri Ariani merupakan salah satu dari 10 ribuan mahasiswa baru UGM yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Sehingga memberikan semangat dan motivasi untuk keberhasilan satu sama lain.
Ia berharap Putri bisa menjalankan kuliahnya dengan baik di kampus UGM. “Semoga lancar nanti kuliahnya dan fokus. Kami berusaha agar UGM menjadi tempat belajar yang nyaman dan menyenangkan untuk semua,” kata Ova.
Putri Ariani adalah seorang penyanyi-penulis lagu pop solo penyandang tunanetra. Namanya mulai dikenal sejak mengikuti kompetisi Indonesia’s Got Talent 2014 dan berhasil keluar sebagai juara.
Ketika beranjak remaja, ia mulai menarik perhatian publik internasional saat dia mendapatkan Golden Buzzer dari Simon Cowell di ajang America’s Got Talent (AGT) 2023 yang berhasil menempati posisi ke-4 dalam kompetisi tersebut.
| Baca juga: Sempat Dapat Ranking 10 Terbawah di SMA, Happy Kerja Keras hingga Diterima UGM Lewat SNBP |
(REN)
10.678 Mahasiswa Baru UGM Ikut PIONIR
PIONIR merupakan kegiatan pembelajaran, pengenalan, penggalian potensi, dan orientasi bagi mahasiswa baru. [695] url asal
#pionir-ugm #pionir #ugm-pionir #pionir-2024 #mahasiswa-baru-ugm #maba-ugm
(MedCom) 29/07/24 18:09
v/12548756/
Jakarta: Sebanyak 10.678 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti PIONIR Gadjah Mada. Ini merupakan kegiatan pembelajaran, pengenalan, penggalian potensi, dan orientasi bagi mahasiswa baru.“Ini hari pertama mahasiswa baru memasuki kampus tercinta untuk mengikuti PIONIR Gadjah Mada tahun 2024. Selamat datang Gadjah Mada Muda, kami sangat bangga menyambut kedatangan kalian semua. Kalian adalah orang-orang yang telah berhasil berjuang masuk untuk menjadi bagian dari Keluarga Besar Universitas Gadjah Mada,” ujar Rektor UGM Ova Emilia dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 29 Juli 2024.
Dia menyampaikan mahasiswa baru UGM adalah orang-orang terpilih. Sebab, mereka terpilih diterima setidaknya telah mengalahkan 13 orang lain yang memiliki keinginan sama masuk ke Universitas Gadjah Mada.
Ova meyakini mahasiswa baru telah mencurahkan seluruh kemampuan fisik, mental dan spiritual untuk bisa merebut tiket masuk ke Universitas Gadjah Mada. Ia berharap pada acara PIONIR mahasiswa baru UGM bisa menikmati acara, menikmati pertemanan baru, menikmati suasana baru yang tentunya akan digeluti selama 4 tahun kedepan.
“Gadjah Mada Muda adalah PIONIR hebat yang memiliki komitmen kuat untuk berproses menjadi generasi unggul yang memiliki kapabilitas dan berdaya saing menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia 10-20 tahun ke depan,” tutur dia.
PIONIR 2024 dilaksanakan sebagai bentuk transformasi dari Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB). PIONIR Gadjah Mada 2024 mengusung tema Kolaborasi Gadjah Mada, Generasi Unggul Indonesia.
Upacara PIONIR Gadjah Mada dipimpin Rektor UGM, Ova Emilia, di lapangan Grha Sabha Pramana, Bulaksumur, Senin, 29 Juli 2023. Upacara turut dihadiri pimpinan universitas dan fakulltas, Direktur Utama PT Jasa Raharja, Rivan Achmad Purwantono, alumnus Fakultas Filsafat UGM yang berorasi memberi bekal kepada mahasiswa baru.
Saat memimpin upacara PIONIR, Ova berkesempatan mengenakan jaket almamater kepada sejumlah mahasiswa baru UGM. Antara lain Ariani Nismaputri (Putri Ariani) Fakultas Hukum, Alfian Adicandra (FMIPA), Yanditia Shafa Nadhiya (FKG), Malya Cetta Parahita Danisworo (FKH), Haifanuha Luna Lilatata Kusuma (FIB), dan Mohammad Attar Fiqis (SV Teknologi Veteriner).
Banyak hal-hal baru yang akan dilakukan nantinya. UGM memastikan mahasiswa baru menikmati, menyayangi dan senang mengikuti kegiatan PIONIR selama seminggu.
UGM sangat berharap ke depan mahasiswa tidak hanya mengelaborasi pengetahuan yang diperlukan. Lebih dari itu, yang diperlukan juga kerja sama lintas disiplin ilmu, serta mengenal budaya pembelajar di lingkungan kampus yang cerdas, inklusif, berbudaya, bermartabat, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.
Ova mengingatkan mahasiswa baru akan berbaur dengan berbagai bidang ilmu dari fakultas berbeda-beda, daerah berbeda-beda, budaya yang dibawa berbeda-beda, serta bahasa ibu yang berbeda-beda pula. Dari situ, akan didapat pembelajaran sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi.
"Yang mampu mengintegrasikan, bukan hanya kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan emosional sebagai parameter utama dalam menghadapi tantangan dan perubahan ekosistem global,” ujar dia.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Arie Sujito, mengatakan PIONIR Gajah Mada berkomitmen menjadikan orientasi kampus ini sebagai langkah awal dalam mendukung gaya hidup berkelanjutan dan menumbuhkan kesadaran lingkungan hidup, khususnya melalui prinsip zero waste.
Dia menuturkan transformasi menuju zero waste bukan hanya tanggung jawab panitia atau universitas, tetapi juga tanggung jawab setiap individu. UGM mengajak mahasiswa baru untuk menjadi agen perubahan.
"Mulailah dengan kebiasaan sehari-hari seperti membawa botol minum dan kotak makan sendiri, menghindari penggunaan kantong plastik, dan mendukung program daur ulang di kampus,” papar dia.
Mahasiswa baru juga diberikan edukasi dengan cara mengimplementasikan langsung pemilahan sampah. Inisiatif ini bertujuan membangun kesadaran dan keterampilan mahasiswa baru dalam menerapkan prinsip-prinsip zero waste sejak hari pertama mereka di kampus.
Sebanyak 10.678 mahasiswa baru terdiri atas 8.815 mahasiswa Program Sarjana dan 1.863 mahasiswa Program Sarjana Terapan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.003 mahasiswa atau 9,34 persen bantuan KIP-K atau Program Bidikmisi dan PBUTM/ Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu sebelumnya. Berdasarkan jenis kelaminnya, 4.332 mahasiswa laki-laki dan 6.346 mahasiswa perempuan.
Pada Program Sarjana, jumlah lulusan sekolah menengah yang memilih UGM baik sebagai pilihan 1, 2, maupun 3 sejumlah 166.162 orang yang tersebar di 71 program studi. Sedangkan, yang memilih Program Sarjana Terapan pada tahun ini 46.770 untuk 22 program studi.
Pada 2024, mahasiswa baru UGM berasal dari semua provinsi di Indonesia. Mahasiswa asing sejumlah lima orang yang berasal dari Perancis, Norwegia, Australia, dan Laos.
| Baca juga: Fiqka Balas Bully dengan Prestasi, Diterima Kuliah Gratis di FKH UGM |
(REN)
Cerita Damar, Anak Tukang Bengkel Kuliah Gratis di Prodi Kedokteran UGM
Damar berpretasi sejak bangku SMP-SMA untuk mencapai cita-citanya kuliah kedokteran di UGM. [531] url asal
#maba-ugm #mahasiswa-baru-ugm #ugm #mahasiswa-baru #snbp-2024
(MedCom) 29/07/24 10:07
v/12510161/
Jakarta: Keterbatasan ekonomi tak menyurutkan mimpi Damar Madya Prasetya, 19, kuliah kedokteran. Sejak di bangku SMP, dia ingin menjadi dokter dengan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).Motivasinya menjadi dokter semakin kuat setiap kali mengantar sang Ibu kontrol kesehatan di rumah sakit.
“Setiap kali kontrol, saya kepikiran, kok hebat ya seorang dokter bisa membantu untuk menyembuhkan keluhan pasien-pasiennya. Dan mulai dari situ, sebenarnya sudah kepikiran untuk kayaknya kuliah di kedokteran bagus,” kata Damar dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 29 Juli 2024.
Anak kedua dari pasangan Mohammad Sarif, 49, dan Yayuk Suprihatin, 49, itu berasal dari keluarga kurang berada. Dia tinggal di rumah yang cukup sederhana di sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu motor di daerah Mangkuyudan, Mantrijeron, Yogyakarta.
Sehari-hari, Sarif bekerja menjadi tukang bengkel dengan penghasilan kurang dari Rp1,5 juta per bulan. Penghasilannya berdasarkan jumlah motor yang berhasil diperbaiki per hari.
Sarif sudah melakoni pekerjaannya sejak 21 tahun lalu. Dari pekerjaan itu, untuk membiayai kebutuhan sekolah kedua anaknya. Sedangkan istrinya, Yayuk, merupakan ibu rumah tangga yang rutinitas sehari-harinya memasak dan mengurus keluarga.
Meskipun tumbuh di keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Damar memiliki berbagai prestasi. Di bangku SMP dan SMA, Damar sudah meraih berbagai prestasi dan kejuaraan yang didapatkan hingga tingkat Nasional.
Mulai dari perlombaan menyanyi, lomba macapat (tembang Jawa), lomba menggambar, lomba desain poster, serta FLS2N. Damar juga menyeimbangkan kualitas diri aktif mengikuti organisasi, misalnya dia pernah menjabat sebagai Ketua Osis dan Ketua MPK (Majelis Perwakilan Kelas) semasa sekolah.
Damar bercerita menjelang kelulusannya di SMA Negeri 1 Yogyakarta, dia mendaftar kuliah di Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Dia senang bukan kepalang diterima kuliah di prodi yang paling diminati oleh calon mahasiswa di setiap perguruan tinggi itu.
Namun, saat menunggu pengumuman biaya UKT, perasaan Damar menjadi campur aduk. Mengingat, kondisi ekonomi keluarganya yang tidak akan bisa memenuhi kebutuhan selama kuliah kelak.
“Melihat dari kondisi ekonomi, bisa dikatakan, masih menengah ke bawah banget. Jadi kayak belum sepenuhnya yang bisa menutupi segala keperluan kuliah, apalagi bayar UKT, di kedokteran lagi,” ujar dia.
Berkat doa dari orang tua dan kegigihannya, dia beserta kedua orang tuanya bersyukur setelah mendapat kabar Damar mendapatkan Beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari UGM. Sehingga, ia digratiskan dari biaya kuliah.
“Kami sangat bersyukur sekali. Sejak kecil ia sudah bercita-cita kuliah di kedokteran UGM, akhirnya bisa tercapai,” kata Yayuk.
Yayuk mengaku sebagai ibu dirinya sangat mendukung keinginan sang anak untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Baginya, pendidikan menjadi nomor satu untuk anaknya dan harus diperjuangkan.
“Pendidikan anak itu harus kita dukung, apalagi dengan keadaan kami sekarang. Saya enggak mau ketika anak-anakku ini harus lebih sedih daripada keadaan saya,” ujar dia.
Melihat keberhasilan Damar kuliah di prodi kedokteran UGM, Yayuk teringat dengan kegigihan Damar sejak kecil hingga sekarang dalam menjalankan pendidikannya yang selalu ingin berprestasi baik di sekolah maupun di luar sekolah. Meski begitu, Yayuk tak pernah lupa untuk mengingatkan Damar agar selalu rendah hati dalam menjalani setiap proses kehidupannya.
“Karena memang dasarnya kami orang enggak punya. Sehingga sejadi apa pun besok, kamu (Damar) harus tetap rendah hati,” pesannya kepada Damar.
| Baca juga: Regina, Anak Pengrajin Bambu dari Buleleng Kuliah Gratis di UGM |
(REN)
Regina, Anak Pengrajin Bambu dari Buleleng Kuliah Gratis di UGM
Regina sudah bersiap melamar kerja bila tak lolos seleksi. [878] url asal
#mahasiswa-baru-ugm #maba-ugm #ugm #mahasiswa #snbp-2024 #snbp
(MedCom) 26/07/24 20:09
v/12217850/
Jakarta: Ni Putu Dinda Regina, 18, tak berhenti menangis begitu tahu diterima kuliah di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Regina sudah bersiap melamar kerja bila tak lolos seleksi.Dia tak mau menyusahkan orang tunya yang merupakan pengrajin anyaman sokasi untuk membiayai kuliahnya. Beruntung, guru bimbingan konseling di sekolahnya menyarankan mendaftar kuliah sambil mencari peluang beasiswa.
Saran itu pun diambil oleh Regina. Dia diterima di Fakultas Hukum UGM dengan beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen.
Regina mengaku masih merasa seperti mimpi diterima kuliah di Fakultas Hukum UGM. Tidak terbayangkan sebelumnya, seorang anak gadis desa tinggal di pedalaman perbukitan bisa diterima kuliah di salah satu universitas bergengsi di Indonesia.
Keluarga Regina tinggal di daerah perbukitan di desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. Daerah ini dikenal sulit air. Setiap harinya, setiap keluarga di desa ini harus mengambil air yang berjarak kurang lebih 5 kilometer.
Bahkan, untuk keperluan mandi cuci kakus saja, keluarga Regina masih menggunakan kamar mandi sederhana di luar rumah. Kamar mandi itu hanya mengandalkan dinding dari atap asbes bekas, lantainya dari bata bekas yang disusun seadanya. Lalu sisa pecahan genteng disulap jadi lubang kloset.
Saking tidak percaya dirinya, ia sempat menyembunyikan informasi terkait pendaftaran kuliahnya di UGM pada teman-teman di sekolahnya. “Saya enggak kepikiran akan kuliah, maunya bakalan kerja dulu nanti baru mikirin kuliah,” kenang dia dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 26 Juli 2024.
Regina masih ingat, saat ia menyampaikan maksudnya untuk mendaftar kuliah ke ibunya, Ni Kadek Nely Supriyati, 43. Dia meyakinkan sang ibu agar tidak usah khawatir soal biaya karena ia juga mendaftar beasiswa.
“'Nanti pas nggak dapat beasiswa, gimana?', 'Tapi saya mau coba dulu, Bu',” kata Regina menjawab ibunya yang khawatir
Sang ibunda tidak pernah melarang keinginan sang anak. Meski dari pekerjaan ia dan suami sebagai pengrajin bambu, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membeli bensin motor untuk keperluan Regina pergi ke sekolah di SMAN 1 Singaraja yang jaraknya 17 kilometer dari rumah.
“Setiap tiga hari sekali dikasih uang Rp50 ribu untuk ganti bensin boncengan dengan teman ke sekolah,” kata dia.
Di sekolah, Regina dikenal dengan anak yang cukup cerdas. Selain sering juara kelas, nilai mata pelajaran IPS seperti Geografi dan Ekonomi, ia selalu mendapat nilai 9.
“Selama tiga tahun sering juara 2 dan pernah juara 4 pas di awal, tapi nilai selalu naik terus,” ujar dia.
Regina mengandalkan buku-buku LKS yang ia beli di sekolah untuk mendukung belajar. Sedangkan, untuk buku cetak sudah didapatkan dari sekolah gratis.
Adapun untuk belajar, Regina menyempatkan waktu sekitar 1-2 jam menjelang tidur. “Sore hari setelah pulang sekolah, saya membantu ibu buat anyaman. Sekitar jam 8 malam saya mulai belajar dan buka buku,” kata dia.
Regina tahu diri tidak menuntut banyak ke kedua orang tuanya. Apalagi sang Ayah, I Gede Suastra Jaya, 44, beberapa tahun lalu pernah terkena serangan stroke ringan. Praktis, pekerjaan yang dilakoni sekarang ini membantu sang istri membuat anyaman dan berjualan bensin eceran di depan rumahnya.
Tepat di hari pengumuman kelulusan tiba, Regina masih ingat persis saat pulang sekolah, dia tidak begitu antusias untuk membuka layar ponselnya karena merasa tidak akan lolos. Kalau pun lolos, ia hanya diterima di salah perguruan tinggi negeri di Bali.
“Saya enggak yakin bakalan diterima, jadi enggak bilang ke teman-teman, kebetulan waktu itu link web sempat error,” kenang dia.
Selang beberapa jam kemudian, Regina mencoba membuka situs pengumuman SNBP. Dia tidak menyangka namanya terdaftar diterima kuliah di prodi Ilmu Hukum UGM.
“Saya lolos, Pak,” kata regina pada Ayahnya.
"Lolos di Bali?" tanya ayahnya.
“Nggak, di Jogja,” timpal Regina.
Kedua orang tua regina senang bukan kepalang, anaknya sulungnya diterima kuliah di PTN. Saat itu, ayah dan ibunya tampak senang, namun juga tidak bisa menyembunyikan raut sedih di wajah mereka memikirkan soal biaya Regina ketika kuliah kelak.
Namun, saat registrasi dan pengumpulan dokumen, sang ibunda, Nely Supriyati, tidak menyembunyikan kebahagiaannya setelah mengetahui anaknya mendapat beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari kampus UGM.
"Saya bersyukur sekali ia bisa kuliah di UGM, apalagi bisa dapat beasiswa,” katanya.
Menurutnya, beasiswa UKT sangat membantu beban ekonomi keluarganya. Nely mengaku dari penghasilan ia dan suami sebagai pengrajin sokasi hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari.
Setiap harinya, keduanya dapat menyelesaikan 3-4 anyaman sokasi. Untuk satu sokasi, ia jual ke pengepul seharga Rp20 ribu.
Dari satu anyaman sokasi ini, ia mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp15 ribu dipotong dari biaya pembelian bahan baku. “Dalam sebulan, kalau saya dapat Rp500 ribu, kalo bapak dapat Rp1 jutaan. Sekitar Rp1,5 juta berdua,” kata dia.
Sebagai orang desa yang tinggal di pedalaman perbukitan, Nely mengaku tidak tahu banyak soal kampus UGM. Yang ia tahu dari televisi atau obrolan dari tetangganya yang menyampaikan, Nely menjadi orang tua beruntung karena anaknya diterima di kampus pilihan.
“Katanya dapat sekolah di UGM itu tidak mudah, orang pilihan katanya,” ujar dia.
Sebagai orang tua, Nely tidak berharap banyak pada anak perempuannya. Apalagi ia dan suami tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, keduanya hanya sampai lulus SMP. Kini, hanya doa yang ia bisa panjatkan agar Regina bisa meraih mimpi dan cita-cita yang diinginkannya.
“Kita tidak bisa beri bekal apa-apa. Semoga ia bisa sukses menuntut ilmu di sana. Semoga apa yang diinginkannya sesuai harapannya,” tutur Nely.
| Baca juga: Sempat Dapat Ranking 10 Terbawah di SMA, Happy Kerja Keras hingga Diterima UGM Lewat SNBP |
(REN)
Cerita Gigih Anak Guru Honorer Gratis Kuliah di UGM
Gigih rajin belajar dan mengikuti berbagai perlombaan demi mimpinya kuliah di UGM. [756] url asal
#mahasiswa-baru-ugm #ugm #mahasiswa #gigih-indah-sukma-halwai #guru-honorer
(MedCom) 19/07/24 11:05
v/11293485/
Jakarta: Gigih Indah Sukma Halwai, 17, tak berhenti mengucap syukur diterima di program studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM). Apalagi, dia satu-satunya murid MAN 1 Lombok Timur yang berhasil masuk UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2024.“Deg-degan, nangis, bahagia, semuanya campur. Saya masih tidak percaya bisa diterima di UGM lewat SNBP. Di sekolah saya, jarang ada yang lulus SNBP,” cerita Gigih dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 19 Juli 2024.
Seperti namanya, dia gigih mengejar pendidikan sejak kecil. Gigih rajin belajar dan mengikuti berbagai perlombaan demi mimpinya kuliah di UGM.
Gigih berhasil meraih berbagai prestasi, termasuk medali perak dan perunggu di Olimpiade Fisika dan juara 1 di kompetisi inovasi sains tingkat provinsi.
Anak ketiga dari empat bersaudara ini memang gemar belajar fisika. Ia aktif mengikuti klub belajar fisika di sekolahnya. Di klub ini, ia terbiasa membahas soal-soal olimpiade maupun membuat kreasi alat inovasi. Meski terkenal sulit, soal-soal fisika membuatnya merasa senang dan tertantang.
Gigih bersyukur, sang ayah, Muhidin, 59, selalu mendukung cita-citanya. Muhidin jugalah yang memantik semangat Gigih mengejar pendidikan setinggi-tingginya.
Muhidin tidak pernah memaksa Gigih menjadi juara kelas. Terpenting, Gigih rajin belajar dan memiliki karakter yang baik.
“Saya sebagai orang tua selalu memberikan motivasi, apa pun pandangan atau pendapatnya tidak pernah saya bantah. Kalau cita-cita Gigih baik bagi hidupnya di dunia dan akhirat, saya berdoa semoga Tuhan mengabulkan. Kalau kuliah di UGM baik untuk hidup Gigih ke depan, keluarga tentu mendukung,” ucap Muhidin.
Tak mudah bagi Muhidin menjalani peran sebagai ayah sekaligus ibu selepas istrinya, Purnawati, meninggal dunia pada 2019. Kepergian sang istri yang begitu mendadak menjadi ujian berat tak hanya baginya, tetapi juga bagi keempat anaknya.
Awalnya, ia mengaku kesulitan saat harus menyesuaikan diri dengan tanggung jawab ganda. Terlebih, perkembangan anak bungsunya agak terhambat.
Dulu, kata Muhidin, mendiang sang istrinyalah yang biasanya mengurus toko alat rumah tangga di depan rumah mereka di Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penghasilan dari toko digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Namun, karena tak ada lagi yang semahir sang istri dalam berdagang, toko tersebut kini tidak ada yang mengurusi. Muhidin tak pernah lagi mengisi barang-barang untuk dijual di toko.
Sehari-hari, Muhidin berprofesi sebagai guru honorer. Lulusan Pertanian Universitas Mataram Tahun 1990 ini mengaku tak langsung mendapatkan pekerjaan setelah wisuda.
Beruntung, dua tahun berselang, temannya menawarkan posisi guru matematika di MAS NW Korleko. Sejak saat itu, Muhidin mengabdikan diri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
“Pernah juga saya ikut teman jadi TKI di Malaysia, tetapi hanya setahun. Selepas itu, saya kembali lagi jadi guru,” kenang dia.
Lebih dari 30 tahun Muhidin mengajar, berbagai karakter anak telah ia temui. Adakalanya, di ruang guru, ia dan beberapa rekan menangisi anak-anak yang terlampau nakal.
Meski begitu, ia tetap mendoakan agar segala ilmu yang ia berikan bisa bermanfaat buat mereka. Dengan penghasilan sebesar Rp2 juta sebulan, Muhidin harus putar otak mencukupi kebutuhan keluarga.
Terlebih, pada Desember ini, ia tidak lagi menerima uang sertifikasi karena telah memasuki usia pensiun. Meski masih diperbolehkan mengajar, penghasilannya akan berkurang drastis karena hanya mendapat gaji pokok Rp500.000 per bulan.
“Untuk tambah-tambah, setelah mengajar, saya juga ngarit rumput untuk pakan sapi,” ujar Muhidin.
Meski penghasilannya sebagai guru honorer pas-pasan, Muhidin selalu berupaya memenuhi kebutuhan Gigih. Saat sang anak menyampaikan keinginan untuk berkuliah di UGM, awalnya Muhidin merasa berat dan khawatir untuk melepas anaknya menimba ilmu yang jaraknya lebih 800 kilometer. Terlebih, biaya untuk menyekolahkan Gigih di perantauan tidak sedikit.
Kabar bahagia datang ke Muhidin ketika Gigih dinyatakan mendapatkan subsidi UKT 100 persen dari UGM. Saat itu, ia dan Gigih terkejut bukan main hingga sang anak harus memeriksa layar beberapa kali.
Ia juga turut memeriksa layar Simaster Gigih dan mendapati bahwa benar, kuliah sang anak di UGM gratis hingga lulus nanti. Kini, ia dan Gigih tinggal menunggu pengumuman beasiswa KIP Kuliah.
“Saya sangat merasa terbantu dengan adanya subsidi UKT, khususnya dalam keadaan ekonomi yang sulit seperti ini,” ucap dia.
Menjelang keberangkatan Gigih ke Yogyakarta, Muhidin tak henti-hentinya memberikan nasihat. Ia mengingatkan Gigih untuk selalu menjaga tutur kata dan perilaku di tanah rantau, serta memanfaatkan subsidi yang diterima secara maksimal.
Dia juga berpesan agar Gigih selalu disiplin menunaikan salat lima waktu. “Nanti, setelah di Yogyakarta, jaga diri baik-baik. Jaga baik-baik apa yang keluar dari mulut sebab bila salah, itu bisa membahayakan. Bertutur kata yang lemah lembut, sabar, dan jangan lupa sholat,” pesan dia.
| Baca juga: Cerita Haru Moses Patibang, Anak Petani Singkong yang Berhasil Kuliah Gratis di UGM |
(REN)