#30 tag 24jam
10.678 Maba UGM Bikin Selebrasi Formasi Unik, Enggak Pakai Latihan
Selebrasi formasi unik tersebut dibentuk tanpa latihan sebelumnya. [490] url asal
#formasi #formasi-ugm #formasi-mahasiswa-baru-ugm #maba-ugm #mahasiswa-baru-ugm #mahasiswa #pionir-ugm
(MedCom) 05/08/24 14:14
v/13380175/
Jakarta: Sebanyak 10.678 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) membentuk berbagai selebrasi formasi dalam penutupan PIONIR Gadjah Mada 2024. Selebrasi formasi unik tersebut dibentuk tanpa latihan sebelumnya.Belasan ribu mahasiswa baru UGM tersebut membetuk formasi dengan menggunakan 4 kertas warna berbeda yang diletakkan di atas kepala, para mahasiswa membalikan kertas warna tersebut sehingga membentuk formasi beragam seperti gambar tulisan derap langkah, gambar gerbang ugm, gerbang masjid kampus hingga tulisan kolaborasi generasi unggul Indonesia.
Formasi yang dibentuk tersebut menyampaikan pesan tentang derap langkah dan tonggak awal para Gamada, sebutan untuk mahasiswa baru UGM, untuk menggapai nilai luhur bangsa, menjadi inisiator persatuan dan membuka cakrawala pengetahuan. Melalui kerja inspiratif para Gamada, diharapkan mampu membangun peradaban gemilang melalui UGM sebagai pintu gerbang kejayaan nusantara dalam rangka membangun kolaborasi generasi unggul Indonesia.
Seperti yang telah dilakukan sejak 2012 silam, momen bentuk selebrasi formasi yang dilakukan mahasiswa baru pada upacara penutupan PIONIR Universitas Gadjah Mada sangatlah ditunggu-tunggu. Bahkan mahasiswa baru yang diajak untuk membentuk formasi tersebut tidak mengetahui formasi apa yang akan mereka buat nantinya.
Para mahasiswa bari hanya mengikuti instruksi panitia untuk membalikkan kertas warna di atas kepala mereka masing-masing. Rasa haru pun muncul pada benak seluruh panitia saat selebrasi formasi telah dilaksanakan.
Tak terkecuali Audy, sebagai salah satu co-fasilitator PIONIR Gadjah Mada 2024 yang selama kegiatan ini selalu mendampingi para mahasiswa baru. “Terharu, bahagia dan merasa bangga terhadap teman-teman gamada yang mampu mengerti mekanisme selebrasi secara cepat dan tepat,” katanya.
Para mahasiswa baru juga turut menyampaikan perasaannya terkait selebrasi formasi yang dilakukannya. “Seneng banget walaupun ada capeknya juga. Waktu liat formasi juga terharu banget,” ujar Quenna, mahasiswa baru Program Studi Biologi tersebut
Afa, mahasiswa baru Program Studi Ilmu Ekonomi juga menyampaikan bahwa ia merasakan hal yang sama dengan Quenna. “Aku agak gugup karena takut salah waktu formasi. Tetapi waktu selesai dan lihat formasinya lega banget. Kaget karena cantik banget dilihat,” ungkapnya.
Koordinator Acara PIONIR Gadjah Mada 2024, Kemal, mengungkapkan bahwa tema dari selebrasi formasi tahun ini yaitu lembaran pertama dalam buku PIONIR Gadjah Mada sebagai transformasi dari nama PPSMB Universitas Gadjah Mada. Oleh karena itu, tema ini representatif dari visualisasi pertama yang ditampilkan pada selebrasi formasi.
“Harapannya lembaran pertama pada buku tersebut menjadi langkah awal bagi Gamada (Gadjah Mada Muda) dalam menempuh kuliah di Universitas Gadjah Mada,” ujarnya.
Ia menambahkan, untuk menyiapkan ide selebrasi ini memakan waktu kurang lebih lima bulan, yang awalnya dibentuk dengan bantuan formasi Big Data. Ia mengaku sangat gugup dan gelisah saat formasi akan dilakukan sebab pembentukan formasi dilakukan tanpa latihan dan langsung sekali jalan hanya saat penutupan masa orientasi kampus.
“Berkat kerjasama dan kegigihan seluruh panitia, formasi bisa dilaksanakan,” ungkap Kemal bangga.
Kemal mewakili seluruh panitia PIONIR Gadjah Mada 2024 berharap untuk para mahasiswa baru agar bisa mendapatkan semua momen berkesan selama mengikuti kegiatan PIONIR. “Semoga teman-teman mahasiswa baru bisa dapat menjalani dunia perkuliahan dengan penuh semangat,” ujarnya.
| Baca juga: Mahasiswa UGM Teliti Khasiat Bawang Dayak untuk Obat Alternatif Kanker Lidah |
(CEU)
Beri Wejangan untuk Maba UGM, Menhub: Pintar Itu Penting, Tapi...
Bagi Budi, pengalaman adalah modal dan wujud daya juang. [598] url asal
#ugm #menhub #menteri-perhubungan #budi-karya #menhub-budi-karya #mahasiswa-baru #maba-ugm #maba
(MedCom) 02/08/24 14:01
v/13006285/
Jakarta: Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi berpesan kepada 1.803 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) agar memanfaatkan waktu kuliah untuk menggali pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal ini disampaikan Budi Karya saat mengisi kuliah umum di UGM.Bagi Budi, pengalaman adalah modal dan wujud daya juang. "Jadi adik-adik yang berpunya tanggalkan itu, salami dan salami serta ber bergaulah dengan masyarakat di Jogja karena disitu para mahasiswa akan mendapatkan experience yang baik, yang nantinya berguna di saat anda akan berkompetisi di nasional maupun internasional," kata Budi Karya dikutip dari laman UGM, Jumat, 2 Agustus 2024.
Hadir di almamaternya, membuat Budi Karya terkenang masa-masa ia menjadi mahasiswa baru di program studi Teknik Aristektur UGM pada 1976. Menurut Budi, ia termasuk mahasiswa yang aktif berkegiatan saat kuliah.
Mulai dari mencari dana sponsor di Jakarta, membuat majalah, hingga ikut membuat rumah untuk para tuna wisma. “Pengalaman-pengalaman Itu sangat membekas, dan jika flashback saya kan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja sesungguhnya,” ujar Budi.
Kisah Perantauan Budi Karya
Budi menyebut dirinya sebagai pujakusuma atau Putra Jawa Kelahiran Sumatra. Di tahun-tahun 1976 ia merantau dari Palembang ke Yogyakarta. Perjalanan selama dua hari saat itu, ia berbekal satu ransel dengan moda transportasi naik sepur, naik kapal, dan naik kereta lagi.Ia menggambarkan postur tubuhnya yang kurus kala itu. Meski begitu ia begitu bangga memakai jaket almamater UGM, dan dengan fisik seperti itu ia pun ditunjuk sebagai pengerek (pengibar) bendera saat Mapram (ospek).
“Dari sini saya tahu orang Jawa itu seneng ngajeni (menghargai orang lain). Itu filosofinya dalam sekali, justru kita menjadi orang baik dan luar biasa. Sekali lagi ini penting, ngajeni itu ilmu Jawa yang saya pelajari, saya bisa menjadi pengerek bendera dari Sumatra, lalu menjadi bangga sekali menjadi mahasiswa UGM,” ucapnya.
Lulus dari Arsitektur UGM tahun 1981, Budi Karya berkarier di banyak tempat. Salah satu yang kemudian membuatnya namanya populer saat ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Taman Impian Jaya Ancol, dan di tahun 2016 dipercaya Presiden Jokowi menjadi Menteri Perhubungan.
Menurut Budi Karya, kerja sama dan filosofi ngajeni memberi esensi bermakna dalam menyertai perjalanan kariernya. Kecelakaan transportasi Breksit tahun 2015 menjadikan kariernya semakin cemerlang.
Dengan kedua prinsip tersebut, ia mengaku mampu mengatasi solusi untuk kemacetan massif di Breksit yang berlangsung selama 3 hari. Keberhasilan tersebut karena ada kerjasama dan kolaborasi.
“Konsepnya ada kerja sama dan ngajeni tadi. Semua stakeholder kita hargai, semua pemain diajak untuk kerja sama. Misal jika di lapangan Polisi menjadi lead, kita ikuti saja. Oleh karena itu untuk teman-teman mahasiswa baru UGM, konsep filosofi hidup ngajeni itu tolong dipelajari secara baik,” pintanya.
Diakhir orasi, ia pun mengajak para mahasiswa baru FT UGM untuk selalu bersyukur agar dari sisi emosional dan psikis lebih menghargai dari apa yang telah didapatkan. “Tentunya bangga sekali, dan dengan mensyukuri akan tumbuhlah cara-cara bertindak yang lebih baik, out of the box. Lalu bergaul, pinter penting tetapi akan lebih lengkap kalau kalian memiliki pengalaman yang banyak. Saya yakin kalian bisa menjadi orang-orang terpandang di negeri ini,”katanya.
Pada kesempatan ini, Menteri Budi Karya dan Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D, IPU., ASEAN Eng, serta Ir. H. Onny Henro Adhiaksono, M.H, selaku alumnus Teknik Sipil 1978 membagikan 1803 tumbler untuk para mahasiswa baru FT UGM.
Pembagian tumbler ini sebagai upaya Fakultas Teknik UGM peduli lingkungan dengan mengurangi kemasan minuman plastik. “Pembagian tumbler ini merupakan langkah yang dilakukan Fakultas agar tumbler bisa dimanfaatkan para mahasiswa selama berkegiatan di kampus supaya kita bisa mengurangi sampah plastik”, ujar Dekan.
| Baca juga: Kisah Arnia, Putri Buruh Tani dari Aceh Jadi Maba di Teknik Nuklir UGM |
(CEU)
Cari Hal Baru, Penyanyi Putri Ariani Pilih Kuliah di Fakultas Hukum UGM
Putri Ariani diterima kuliah di FH UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di bidang seni. [450] url asal
#mahasiswa-baru-ugm #maba-ugm #putri-ariani #fh-ugm #ugm
(MedCom) 29/07/24 20:08
v/12563565/
Jakarta: Masyarakat Indonesia sempat digemparkan oleh penampilang Ariani Nisma Putri, 18, atau akrab disapa Putri Ariani di ajang America’s Got Talent (AGT). Siapa sangka, penyanyi berbakat ini memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).Putri Ariani diterima kuliah melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di bidang seni. Mengenakan kemeja putih dengan rok hitam, Putri Ariani, merupakan satu dari mahasiswa baru yang mengikuti PIONIR Gadjah Mada pada Senin, 29 Juli 2024.
Dia juga terpilih sebagai salah satu dari enam perwakilan mahasiswa baru yang disematkan jas almamater oleh Rektor UGM Ova Emilia sebagai tanda diterima menjadi mahasiswa baru UGM. PIONIR Gadjah Mada merupakan kegiatan pembelajaran, pengenalan, penggalian potensi, dan orientasi untuk mendidik calon pemimpin muda yang memiliki visi seiring dengan nilai-nilai ke-UGM-an.
Putri Ariani mengaku senang dan bangga menjadi mahasiswa baru UGM. Menurutnya, butuh waktu sekitar satu tahun untuk memilih pendidikan terbaik bagi masa depannya.
“Banyak pertimbangan. Setahun ini banyak berpikir untuk kelanjutan pendidikan Putri, akhirnya memilih di UGM. Putri pikir, UGM menjadi the right choice for me,” kata dia.
Putri memilih Fakultas Hukum bukan tanpa alasan. Dia ingin belajar sesuatu hal baru tidak hanya di bidang bernyanyi dan musik.
“Putri ingin belajar yang baru saja. Semoga bisa mengadvokasi teman putri yang difabel dan non difabel untuk meraih mimpi mereka,” kata dia.
Meski ia merupakan lulusan dari Sekolah Menengah Musik Indonesia atau SMKN 2 Bantul, namun ia berkeinginan mencoba dan menambah wawasan baru.
“Selama ini ambil musik di SMK, tapi putri suka sesuatu yang baru. Ingin belajar hukum bisa buat nambah wawasan yang lebih luas dan open minded,” kata dia.
Putri memastikan kariernya di bidang menyanyi tidak akan ditinggalkan begitu saja. Ia ingin pendidikan dan kariernya bisa berjalan beriringan.
“Kalau Putri ingin pendidikan dan karier berjalan beriringan dan kuliah akan lanjut. Tahun ini akan keluarkan album,” beber dia.
Rektor Universitas Gadjah Mada, Ova Emilia, mengatakan Putri Ariani merupakan salah satu dari 10 ribuan mahasiswa baru UGM yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Sehingga memberikan semangat dan motivasi untuk keberhasilan satu sama lain.
Ia berharap Putri bisa menjalankan kuliahnya dengan baik di kampus UGM. “Semoga lancar nanti kuliahnya dan fokus. Kami berusaha agar UGM menjadi tempat belajar yang nyaman dan menyenangkan untuk semua,” kata Ova.
Putri Ariani adalah seorang penyanyi-penulis lagu pop solo penyandang tunanetra. Namanya mulai dikenal sejak mengikuti kompetisi Indonesia’s Got Talent 2014 dan berhasil keluar sebagai juara.
Ketika beranjak remaja, ia mulai menarik perhatian publik internasional saat dia mendapatkan Golden Buzzer dari Simon Cowell di ajang America’s Got Talent (AGT) 2023 yang berhasil menempati posisi ke-4 dalam kompetisi tersebut.
| Baca juga: Sempat Dapat Ranking 10 Terbawah di SMA, Happy Kerja Keras hingga Diterima UGM Lewat SNBP |
(REN)
Cerita Damar, Anak Tukang Bengkel Kuliah Gratis di Prodi Kedokteran UGM
Damar berpretasi sejak bangku SMP-SMA untuk mencapai cita-citanya kuliah kedokteran di UGM. [531] url asal
#maba-ugm #mahasiswa-baru-ugm #ugm #mahasiswa-baru #snbp-2024
(MedCom) 29/07/24 10:07
v/12510161/
Jakarta: Keterbatasan ekonomi tak menyurutkan mimpi Damar Madya Prasetya, 19, kuliah kedokteran. Sejak di bangku SMP, dia ingin menjadi dokter dengan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).Motivasinya menjadi dokter semakin kuat setiap kali mengantar sang Ibu kontrol kesehatan di rumah sakit.
“Setiap kali kontrol, saya kepikiran, kok hebat ya seorang dokter bisa membantu untuk menyembuhkan keluhan pasien-pasiennya. Dan mulai dari situ, sebenarnya sudah kepikiran untuk kayaknya kuliah di kedokteran bagus,” kata Damar dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 29 Juli 2024.
Anak kedua dari pasangan Mohammad Sarif, 49, dan Yayuk Suprihatin, 49, itu berasal dari keluarga kurang berada. Dia tinggal di rumah yang cukup sederhana di sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu motor di daerah Mangkuyudan, Mantrijeron, Yogyakarta.
Sehari-hari, Sarif bekerja menjadi tukang bengkel dengan penghasilan kurang dari Rp1,5 juta per bulan. Penghasilannya berdasarkan jumlah motor yang berhasil diperbaiki per hari.
Sarif sudah melakoni pekerjaannya sejak 21 tahun lalu. Dari pekerjaan itu, untuk membiayai kebutuhan sekolah kedua anaknya. Sedangkan istrinya, Yayuk, merupakan ibu rumah tangga yang rutinitas sehari-harinya memasak dan mengurus keluarga.
Meskipun tumbuh di keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Damar memiliki berbagai prestasi. Di bangku SMP dan SMA, Damar sudah meraih berbagai prestasi dan kejuaraan yang didapatkan hingga tingkat Nasional.
Mulai dari perlombaan menyanyi, lomba macapat (tembang Jawa), lomba menggambar, lomba desain poster, serta FLS2N. Damar juga menyeimbangkan kualitas diri aktif mengikuti organisasi, misalnya dia pernah menjabat sebagai Ketua Osis dan Ketua MPK (Majelis Perwakilan Kelas) semasa sekolah.
Damar bercerita menjelang kelulusannya di SMA Negeri 1 Yogyakarta, dia mendaftar kuliah di Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Dia senang bukan kepalang diterima kuliah di prodi yang paling diminati oleh calon mahasiswa di setiap perguruan tinggi itu.
Namun, saat menunggu pengumuman biaya UKT, perasaan Damar menjadi campur aduk. Mengingat, kondisi ekonomi keluarganya yang tidak akan bisa memenuhi kebutuhan selama kuliah kelak.
“Melihat dari kondisi ekonomi, bisa dikatakan, masih menengah ke bawah banget. Jadi kayak belum sepenuhnya yang bisa menutupi segala keperluan kuliah, apalagi bayar UKT, di kedokteran lagi,” ujar dia.
Berkat doa dari orang tua dan kegigihannya, dia beserta kedua orang tuanya bersyukur setelah mendapat kabar Damar mendapatkan Beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari UGM. Sehingga, ia digratiskan dari biaya kuliah.
“Kami sangat bersyukur sekali. Sejak kecil ia sudah bercita-cita kuliah di kedokteran UGM, akhirnya bisa tercapai,” kata Yayuk.
Yayuk mengaku sebagai ibu dirinya sangat mendukung keinginan sang anak untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Baginya, pendidikan menjadi nomor satu untuk anaknya dan harus diperjuangkan.
“Pendidikan anak itu harus kita dukung, apalagi dengan keadaan kami sekarang. Saya enggak mau ketika anak-anakku ini harus lebih sedih daripada keadaan saya,” ujar dia.
Melihat keberhasilan Damar kuliah di prodi kedokteran UGM, Yayuk teringat dengan kegigihan Damar sejak kecil hingga sekarang dalam menjalankan pendidikannya yang selalu ingin berprestasi baik di sekolah maupun di luar sekolah. Meski begitu, Yayuk tak pernah lupa untuk mengingatkan Damar agar selalu rendah hati dalam menjalani setiap proses kehidupannya.
“Karena memang dasarnya kami orang enggak punya. Sehingga sejadi apa pun besok, kamu (Damar) harus tetap rendah hati,” pesannya kepada Damar.
| Baca juga: Regina, Anak Pengrajin Bambu dari Buleleng Kuliah Gratis di UGM |
(REN)
Regina, Anak Pengrajin Bambu dari Buleleng Kuliah Gratis di UGM
Regina sudah bersiap melamar kerja bila tak lolos seleksi. [878] url asal
#mahasiswa-baru-ugm #maba-ugm #ugm #mahasiswa #snbp-2024 #snbp
(MedCom) 26/07/24 20:09
v/12217850/
Jakarta: Ni Putu Dinda Regina, 18, tak berhenti menangis begitu tahu diterima kuliah di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Regina sudah bersiap melamar kerja bila tak lolos seleksi.Dia tak mau menyusahkan orang tunya yang merupakan pengrajin anyaman sokasi untuk membiayai kuliahnya. Beruntung, guru bimbingan konseling di sekolahnya menyarankan mendaftar kuliah sambil mencari peluang beasiswa.
Saran itu pun diambil oleh Regina. Dia diterima di Fakultas Hukum UGM dengan beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen.
Regina mengaku masih merasa seperti mimpi diterima kuliah di Fakultas Hukum UGM. Tidak terbayangkan sebelumnya, seorang anak gadis desa tinggal di pedalaman perbukitan bisa diterima kuliah di salah satu universitas bergengsi di Indonesia.
Keluarga Regina tinggal di daerah perbukitan di desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. Daerah ini dikenal sulit air. Setiap harinya, setiap keluarga di desa ini harus mengambil air yang berjarak kurang lebih 5 kilometer.
Bahkan, untuk keperluan mandi cuci kakus saja, keluarga Regina masih menggunakan kamar mandi sederhana di luar rumah. Kamar mandi itu hanya mengandalkan dinding dari atap asbes bekas, lantainya dari bata bekas yang disusun seadanya. Lalu sisa pecahan genteng disulap jadi lubang kloset.
Saking tidak percaya dirinya, ia sempat menyembunyikan informasi terkait pendaftaran kuliahnya di UGM pada teman-teman di sekolahnya. “Saya enggak kepikiran akan kuliah, maunya bakalan kerja dulu nanti baru mikirin kuliah,” kenang dia dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 26 Juli 2024.
Regina masih ingat, saat ia menyampaikan maksudnya untuk mendaftar kuliah ke ibunya, Ni Kadek Nely Supriyati, 43. Dia meyakinkan sang ibu agar tidak usah khawatir soal biaya karena ia juga mendaftar beasiswa.
“'Nanti pas nggak dapat beasiswa, gimana?', 'Tapi saya mau coba dulu, Bu',” kata Regina menjawab ibunya yang khawatir
Sang ibunda tidak pernah melarang keinginan sang anak. Meski dari pekerjaan ia dan suami sebagai pengrajin bambu, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membeli bensin motor untuk keperluan Regina pergi ke sekolah di SMAN 1 Singaraja yang jaraknya 17 kilometer dari rumah.
“Setiap tiga hari sekali dikasih uang Rp50 ribu untuk ganti bensin boncengan dengan teman ke sekolah,” kata dia.
Di sekolah, Regina dikenal dengan anak yang cukup cerdas. Selain sering juara kelas, nilai mata pelajaran IPS seperti Geografi dan Ekonomi, ia selalu mendapat nilai 9.
“Selama tiga tahun sering juara 2 dan pernah juara 4 pas di awal, tapi nilai selalu naik terus,” ujar dia.
Regina mengandalkan buku-buku LKS yang ia beli di sekolah untuk mendukung belajar. Sedangkan, untuk buku cetak sudah didapatkan dari sekolah gratis.
Adapun untuk belajar, Regina menyempatkan waktu sekitar 1-2 jam menjelang tidur. “Sore hari setelah pulang sekolah, saya membantu ibu buat anyaman. Sekitar jam 8 malam saya mulai belajar dan buka buku,” kata dia.
Regina tahu diri tidak menuntut banyak ke kedua orang tuanya. Apalagi sang Ayah, I Gede Suastra Jaya, 44, beberapa tahun lalu pernah terkena serangan stroke ringan. Praktis, pekerjaan yang dilakoni sekarang ini membantu sang istri membuat anyaman dan berjualan bensin eceran di depan rumahnya.
Tepat di hari pengumuman kelulusan tiba, Regina masih ingat persis saat pulang sekolah, dia tidak begitu antusias untuk membuka layar ponselnya karena merasa tidak akan lolos. Kalau pun lolos, ia hanya diterima di salah perguruan tinggi negeri di Bali.
“Saya enggak yakin bakalan diterima, jadi enggak bilang ke teman-teman, kebetulan waktu itu link web sempat error,” kenang dia.
Selang beberapa jam kemudian, Regina mencoba membuka situs pengumuman SNBP. Dia tidak menyangka namanya terdaftar diterima kuliah di prodi Ilmu Hukum UGM.
“Saya lolos, Pak,” kata regina pada Ayahnya.
"Lolos di Bali?" tanya ayahnya.
“Nggak, di Jogja,” timpal Regina.
Kedua orang tua regina senang bukan kepalang, anaknya sulungnya diterima kuliah di PTN. Saat itu, ayah dan ibunya tampak senang, namun juga tidak bisa menyembunyikan raut sedih di wajah mereka memikirkan soal biaya Regina ketika kuliah kelak.
Namun, saat registrasi dan pengumpulan dokumen, sang ibunda, Nely Supriyati, tidak menyembunyikan kebahagiaannya setelah mengetahui anaknya mendapat beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari kampus UGM.
"Saya bersyukur sekali ia bisa kuliah di UGM, apalagi bisa dapat beasiswa,” katanya.
Menurutnya, beasiswa UKT sangat membantu beban ekonomi keluarganya. Nely mengaku dari penghasilan ia dan suami sebagai pengrajin sokasi hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari.
Setiap harinya, keduanya dapat menyelesaikan 3-4 anyaman sokasi. Untuk satu sokasi, ia jual ke pengepul seharga Rp20 ribu.
Dari satu anyaman sokasi ini, ia mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp15 ribu dipotong dari biaya pembelian bahan baku. “Dalam sebulan, kalau saya dapat Rp500 ribu, kalo bapak dapat Rp1 jutaan. Sekitar Rp1,5 juta berdua,” kata dia.
Sebagai orang desa yang tinggal di pedalaman perbukitan, Nely mengaku tidak tahu banyak soal kampus UGM. Yang ia tahu dari televisi atau obrolan dari tetangganya yang menyampaikan, Nely menjadi orang tua beruntung karena anaknya diterima di kampus pilihan.
“Katanya dapat sekolah di UGM itu tidak mudah, orang pilihan katanya,” ujar dia.
Sebagai orang tua, Nely tidak berharap banyak pada anak perempuannya. Apalagi ia dan suami tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, keduanya hanya sampai lulus SMP. Kini, hanya doa yang ia bisa panjatkan agar Regina bisa meraih mimpi dan cita-cita yang diinginkannya.
“Kita tidak bisa beri bekal apa-apa. Semoga ia bisa sukses menuntut ilmu di sana. Semoga apa yang diinginkannya sesuai harapannya,” tutur Nely.
| Baca juga: Sempat Dapat Ranking 10 Terbawah di SMA, Happy Kerja Keras hingga Diterima UGM Lewat SNBP |
(REN)
Cerita Emil Anak Transmigran di Mamuju Tengah Kuliah Gratis di UGM, Siswa Pertama di Sekolahnya
Berbagai cara ia lakukan untuk bisa masuk UGM tanpa tes dengan mengikuti berbagai perlombaan. [793] url asal
#maba-ugm #mahasiswa-ugm #kuliah-gratis-ugm #snbp-ugm #snbp-2024-ugm
(MedCom) 22/07/24 17:08
v/11686311/
Jakarta: Made Emilia Cahyati, 18, masih tak percaya diterima di program studi Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat Jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2024. Emil merupakan siswa pertama SMA 1 Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah yang diterima kuliah di kampus UGM."'Emil, yakin mau ambil UGM?'”, 'Saya yakin Bu'," kenang Emil meski dalam hatinya tidak percaya diri dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 22 Juli 2024.
Emil meyakinkan dirinya memilih kuliah di UGM karena sejak bangku sekolah dasar hingga bangku SMP dan SMA tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah Favorit. Bahkan, jarak sekolah SMA dari rumahnya ditempuh hingga 45 menit naik kendaraan roda dua melewati area kebun sawit.
“Saya bergantian dengan teman setiap tiga hari sekali gantian bawa motor, patungan bensin,” kenang Emil.
Pernah sesekali ban bocor, Emil dan temannya terpaksa datang terlambat sampai ke sekolah. Apabila ban bocor di jalan, ia menunggu teman satu sekolah lainnya yang melintas untuk membantu mendorong atau menelepon ayahnya untuk menjemput.
Selama di bangku sekolah, Emil langganan juara kelas masuk rata-rata tiga besar. Ketertarikannya pada pelajaran matematika dan sastra mendorongnya mengikuti berbagai perlombaan dan sering berhasil menjadi juara.
Emil pernah mendapat juara 1 bidang matematika pada lomba Olimpiade Sains Nasional Tingkat Mamuju pada April 2023 se-Sulawesi Barat. Selain itu, ia juga pernah meraih juara 1 bidang lomba menulis cerpen pada Festival Lomba Siswa Nasional (FLS2N) jenjang SMA tingkat Kabupaten Mamuju Tengah.
Di tingkat nasional, Emil juga pernah lolos lomba Utsawa Dharmagita Agama Hindu tahun 2021 yang diselenggarakan Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag RI untuk kategori remaja. Lalu di 2024, ia kembali lolos di ajang yang sama yang diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah.
Meski tinggal di kawasan Transmigran, tidak menyulutkan langkah Emil mengenyam kuliah di kampus UGM. Berbagai cara ia lakukan untuk bisa masuk UGM tanpa tes dengan mengikuti berbagai perlombaan.
“Dari awal memang saya sudah niat mau masuk UGM karena Yogyakarta terkenal dengan pendidikannya. Dulu saja sekolah SMP saya termasuk daerah 3T. Lalu SMA saya tidak masuk daftar ranking 1000 SMA terbaik di Indonesia, paling tidak saya bisa masuk ke kampus favorit,” kata dia.
Upaya Emil terbayar. Tidak hanya lolos masuk UGM tanpa tes, Emil juga mendapat beasiswa UKT pendidikan Unggul Bersubsidi sebesar 100 persen atau biaya kuliah gratis dari UGM.
Dukungan penuh orang tua
Emil beruntung mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. Ayahnya, I Kadek Somadana, 44, dan Ni Luh Ernawati, 40, merupakan transmigran yang kini tinggal di Desa Tommo 1, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.Desa ini berada di area kawasan Transmigrasi yang berada sekitar 84 kilometer dari Kota Mamuju. Keduanya mengelola lahan sawit seluas kurang lebih satu hektare yang jaraknya hanya 50 meter dari rumahnya.
Di desa ini hampir semua keluarga transmigran bertanam sawit setelah padi tidak lagi cocok untuk ditanam di bekas rawa yang sudah mengering. Kadek mengolah lahan sawit milik ayahnya.
Selama hampir 15 tahun, keluarga Kadek menggantungkan penghasilan dari hasil panen kebun sawit. Setiap dua minggu sekali, Kadek bisa panen sekitar 4-5 kuintal buah sawit. Satu kilogram buah sawit dijual Rp2.000 ke pengepul.
“Rata-rata setiap bulan dapat sekitar Rp2 juta,” beber Kadek.
Uang dari penghasilan ini digunakan Kadek untuk menghidupi tiga orang anaknya dan kedua orang tuanya yang tinggal serumah dengannya. Sambil menunggu panen sawit, Kadek juga bekerja serabutan bila ada tetangga yang mengajaknya menjadi buruh harian lepas.
Ada juga tetangga yang mengajaknya untuk mengangkut hasil panen sawit atau mengolah bibit kebun sawit. Kebetulan, Kadek pernah 10 tahun bekerja sebagai mandor di perusahaan sawit Astra mengurusi plasma nutfah.
Meski dari kecil dan besar hidup di wilayah transmigran, Kadek memiliki tekad kuat untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang perguruan tinggi.
Sang kakek, Made Yarnita, 69, juga sumringah melihat sang cucu melanjutkan kuliah di kampus UGM. Meski, ia tak tahu banyak soal pendidikan.
Namun, Yarnita ingat persis pada 1983, ia mengajak istri dan anaknya baru satu, Kadek umur 3 tahun, berangkat naik kapal dari Buleleng, Bali merantau ke Mamuju sebagai transmigran bersama ratusan kepala keluarga lainnya.
Mendaftar sebagai transmigran, menjadi satu-satunya pilihan bagi Yarnita untuk mengubah masa depan keluarganya. Di Buleleng, kenangnya, ia tidak punya tanah untuk digarap dan sehari-hari bekerja sebagai buruh tukang kayu.
Sesampainya di Tommo, Yarnita hanya diberi rumah papan seluas 5x7 meter. Jalan masih berupa tanah liat, belum ada listrik dan di sekitar pekarangan masih dikelilingi hutan dan rawa.
Berangsur-angsur, warga transmigran menebang pohon, lalu mengolah lahan untuk menanam padi dan sesekali menjadi tenaga serabutan di desa lain. Kini, bekas papan rumah tersebut masih tersimpan rapi di depan rumah anaknya.
Yarnita sengaja tidak ingin menjualnya, sebagai kenangan rumah itulah tanda perjuangannya untuk mengubah nasib supaya anak dan cucunya tahu awal kehidupan para transmigran di masa lalu.
| Baca juga: Lolos SNBP di UGM dan Raih UKT Rp 0, Ini Kisah Syifa Anak Buruh Tani Sumbar |
(REN)