#30 tag 24jam
Rapor Hijau Emiten Afiliasi Hermanto Tanoko Kuartal III/2024, Siapa Paling Moncer?
Mayoritas emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Hermanto Tanoko membukukan pertumbuhan kinerja sepanjang 9 bulan 2024. Emiten mana yang paling moncer? [976] url asal
#hermanto-tanoko #kinerja-emiten #konglomerat #taipan #crazy-rich #avia-avian #cleo #sariguna-primatirta #depo-bangunan #bles #manzone #zone #cakk #peve #rise
(Bisnis.Com - Market) 06/11/24 07:20
v/17553979/
Bisnis.com, JAKARTA — Mayoritas emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Hermanto Tanoko membukukan pertumbuhan kinerja sepanjang 9 bulan 2024. PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO) menjadi emiten yang paling moncer dari sisi pendapatan maupun laba bersih.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sedikitnya ada delapan emiten yang terafiliasi dengan Hermanto Tanoko. Delapan emiten tersebut ialah PT Avia Avian Tbk. (AVIA), PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE), PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk. (CAKK), PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk. (DEPO), PT Mega Perintis Tbk. (ZONE), PT Penta Valent Tbk. (PEVE), dan PT Superior Prima Sukses Tbk. (BLES).
Sepanjang Januari—September 2024, delapan emiten tersebut kompak membukukan pertumbuhan pendapatan. Pendapatan CLEO naik paling tinggi sebesar 31,51% year-on-year (YoY) menjadi Rp1,97 triliun.
Sementara itu, nilai pendapatan terbesar pada 9 bulan 2024 di antara emiten-emiten afiliasi Hermanto Tanoko ialah AVIA senilai Rp5,4 triliun. Adapun, nilai pendapatan paling kecil diraih emiten keramik CAKK dengan nilai Rp163,53 miliar.
Meski top line menghijau, profitabilitas yang diperoleh emiten-emiten afiliasi Hermanto Tanoko relatif bervariasi sepanjang Januari—September 2024. Emiten air minum dalam kemasan (AMDK), CLEO kembali tampil sebagai jawara dengan kenaikan laba bersih paling tinggi di antara delapan emiten afiliasi Hermanto Tanoko.
Kinerja Pendapatan Emiten Afiliasi Hermanto Tanoko (Rp miliar)
| Kode Saham | Pendapatan 9 bulan 2023 | Pendapatan 9 bulan 2024 | Perubahan YoY |
| AVIA | 5.163,73 | 5.404,72 | 4,67% |
| CLEO | 1.503,93 | 1.977,88 | 31,51% |
| CAKK | 155,75 | 163,53 | 5,00% |
| RISE | 205,95 | 224,91 | 9,21% |
| DEPO | 1.976,13 | 2.023,39 | 2,39% |
| ZONE | 542,73 | 545,58 | 0,53% |
| PEVE | 1.797,47 | 2.191,89 | 21,94% |
| BLES | 973,28 | 1.032,65 | 6,10% |
Sepanjang 9 bulan 2024, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk CLEO tumbuh 58,18% YoY menjadi Rp33,95 miliar dari Rp209,22 miliar.
Adapun, AVIA masih menjadi emiten afiliasi Hermanto Tanoko dengan nilai laba bersih paling besar yakni Rp1,16 triliun atau tumbuh tipis 1,77% YoY dari Rp1,14 triliun pada 9 bulan 2023.
Selain CLEO, pertumbuhan laba yang tinggi juga diraih oleh RISE sebesar 44,96% YoY menjadi Rp25,64 miliar, PEVE naik 33,78% YoY menjadi Rp32,04 miliar, dan BLES naik 21,15% YoY menjadi Rp125,84 miliar.
Bertolak belakang, laba bersih ZONE dan DEPO justru merosot pada 9 bulan 2024. ZONE mengantongi laba bersih Rp10,47 miliar atau anjlok 77% secara tahunan, sedangkan laba bersih DEPO merosot 6,67% YoY menjadi Rp56,78 miliar. Sementara itu, CAKK masih merugi Rp7,8 miliar per kuartal III/2024 atau menyusut dibanding rugi bersih Rp17,84 miliar pada 9 bulan 2024.
Kinerja Laba (Rugi) Bersih* Emiten Afiliasi Hermanto Tanoko (Rp miliar)
| Kode Saham | Laba (Rugi) 9 bulan 2023 | Laba (Rugi) 9 bulan 2024 | Perubahan YoY |
| AVIA | 1.140,29 | 1.160,42 | 1,77% |
| CLEO | 209,22 | 330,95 | 58,18% |
| CAKK | -17,84 | -7,8 | -56,28% |
| RISE | 19,14 | 25,64 | 33,96% |
| DEPO | 60,84 | 56,78 | -6,67% |
| ZONE | 45,52 | 10,47 | -77,00% |
| PEVE | 23,95 | 32,04 | 33,78% |
| BLES | 103,87 | 125,84 | 21,15% |
*) laba (rugi) yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk
Chief Executive Officer CLEO Melisa Patricia mengatakan pertumbuhan laba bersih itu didorong oleh meningkatkan penjualan perseroan selama periode sembilan bulanan tahun ini.
Segmen air minum dalam kemasan botol masih menjadi kontributor utama pendapatan dan laba perusahaan, dengan raihan penjualan sebesar Rp1,08 triliun, berkontribusi sebesar 54% dari seluruh pendapatan CLEO.
Adapun penjualan segmen air minum non-botol tercatat sebesar Rp861,98 miliar, atau 44% dari total pendapatan perseroan. Sementara penjualan dari produk-produk lain tercatat sebesar Rp34,99 miliar, atau 2% dari total pendapatan.
Penjualan CLEO per kuartal ketiga ini tercatat sebesar Rp1,98 triliun, tumbuh 32% dibandingkan penjualan pada periode yang sama tahun 2023 di angka Rp1,50 triliun. Sementara beban pokok tercatat sebesar Rp819,47 miliar, meningkat 22% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp669,91 miliar.
“Keberhasilan secara terus menerus mencatatkan pertumbuhan positif yang signifikan ini bisa dicapai, karena CLEO secara konsisten melakukan ekspansi baik jaringan pemasaran maupun pabrik di seluruh Indonesia,” kata Melisa seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (1/11/2024).
Hingga saat ini, CLEO memiliki 31 pabrik yang sudah beroperasi dengan lokasi tersebar di berbagai wilayah di Tanah Air. Lokasi pabrik yang terpencar di berbagai daerah tersebut merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mendekatkan lokasi produksi ke tempat konsumen.
Terpisah, manajemen AVIA menjelaskan perseroan mencatat double digit volume penjualan kuartal III/2024 yang tumbuh sebesar 12,1% YoY dan meningkat 14,7% secara kuartalan.
“Pertumbuhan volume penjualan ini utamanya didukung oleh segmen cat tembok yang naik double-digit secara tahunan dan kuartalan. Pencapaian tersebut selaras dengan strategi AVIA untuk terus memperkuat posisinya di segmen cat tembok,” tulisnya dalam keterangan resmi, Kamis (31/10/2024).
Meskipun dihadapkan dengan kondisi ekonomi yang menantang, lanjutnya, EBITDA yang diraih AVIA tercatat sebesar Rp1,43 triliun dengan margin 26,5% selama 9 bulan 2024. Pada periode yang sama, laba bersih konsolidasi AVIA mencapai Rp1,16 triliun, dengan margin sebesar 21,5%.
Saat ini, AVIA mengoperasikan sebanyak total 162 pusat distribusi yang terdiri atas 123 pusat distribusi yang dimiliki sendiri dan 39 pusat distribusi pihak ketiga. Selain itu, AVIA juga didukung oleh 15 pusat distribusi mini yang mampu menjangkau hingga ke pelosok Indonesia. Jaringan distribusi AVIA tersebar di 38 provinsi di Indonesia dan telah melayani lebih dari 57.000 toko bahan bangunan.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Superior Prima Sukses Andrew menyampaikan kinerja perseroan hingga kuartal III/2024 antara lain didukung dengan telah beroperasinya kembali pabrik 1 Mojokerto dan pabrik 2 Lamongan—yang sebelumnya pada kuartal II/2024 dilakukan upgrading capacity.
Dengan demikian, total kapasitas terpasang BLES saat ini adalah 4,6 juta m3 per tahun dari sebelumnya pada 2023 sebesar 3,2 juta m3 per tahun. BLES merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri manufaktur bata ringan dengan merek BLESSCON dan SUPERIORE BLOCK.
Di sisi ekspansi, BLES sedang melakukan pembangunan pabrik 5 di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pabrik yang direncanakan beroperasi pada pertengahan 2025 dan memiliki kapasitas terpasang sebesar 1 juta m3 per tahun sehingga total kapasitas terpasang BLES menjadi 5,6 juta m3 per tahun.
Sritex (SRIL) Diputus Pailit, Ini Rapor Merah Saham Emiten Tekstil
Mayoritas saham emiten tekstil mengalami koreksi yang cukup dalam sepanjang tahun ini. Bahkan, BEI menerapkan suspensi saham terhadap lima emiten di sektor ini. [726] url asal
#sektor-tekstil #saham-sektoral #emiten-tekstil #tekstil-dan-produk-tekstil #tpt #sritex #sril #pbrx #pan-brothers #manzone #zone #indo-rama
(Bisnis.Com - Market) 28/10/24 11:12
v/17118628/
Bisnis.com, JAKARTA — Mayoritas saham emiten tekstil mengalami koreksi yang cukup dalam sepanjang tahun ini. Bahkan, BEI menerapkan suspensi saham terhadap lima emiten di sektor ini.
Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat menghentikan sementara perdagangan saham atau suspensi terhadap lima emiten tekstil, dari total 16 emiten. Adapun, Lima emiten tersebut, yaitu PT Century Textile Industry Tbk. (CNTX), PT Panasia Indo Resources Tbk. (HDTX), PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. (SBAT), PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) dan PT Nusantara Inti Corpora Tbk. (UNIT).
Saham Sritex, misalnya, sudah disuspensi BEI sejak sejak 18 Mei 2021. BEI menerapkan suspensi lantaran SRIL menunda kewajiban pembayaran bunga surat utang yang merujuk pada surat elektronik PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) No. KSEI-3657/DIR/0521 tanggal 17 Mei 2021 terkait Penundaan Pembayaran Pokok dan Bunga MTN SRITEX TAHAP III TAHUN 2018 Ke-6 (enam) (USD-SRIL01X3MF).
Sejak saat itu, saham Sritex terkapar di level Rp146. Dengan demikian, suspensi saham SRIL sudah berlangsung selama 42 bulan atau 3 tahun 5 bulan.
Di antara 11 saham emiten tekstil lain yang masih diperdagangkan di BEI, mayoritas mengalami penurunan harga saham dalam sebulan terakhir.
Penurunan harga saham paling dalam dialami oleh saham PT Asia Pacific Fibers Tbk. (POLY) anjlok 31,03% dalam 1 bulan ke level Rp20 hingga Senin (28/10/2024) pukul 10.00 WIB.
Pada saat yang sama, saham PT Indo-Rama Synthetics Tbk. (INDR) yang terafiliasi dengan kongolomerat Sri Prakash Lohia itu merosot 10,57% dalam sebulan ke posisi Rp3.130 dan saham PT Sunson Textile Manufacturer Tbk. (SSTM) turun 7,18% dalam sebulan ke level Rp168.
Di sisi lain, saham PT Asia Pacific Investama Tbk. (MYTX) dan PT Ever Shine Textile Tbk. (ESTI) masih mampu menguat dengan kenaikan berturut-turut sebesar 17,95% dan 11,9% dalam sebulan terakhir.
Apabila ditarik dalam rentang waktu sepanjang tahun berjalan 2024, saham PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. (SBAT) menjadi emiten tekstil paling boncos. Saham SBAT anjok 87,5% year-to-date (YtD) ke posisi Rp1 per saham dan dalam kondisi suspensi sejak 18 September 2024 karena ketidakpastian kelangsungan usaha.
Selain SBAT, saham SSTM juga merosot 66,27%, POLY -60%, PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) -60%, dan PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk. (ACRO) -46,9% secara YtD.
Sejumlah analis menilai negatif prospek saham emiten tekstil selepas SRIL atau Sritex resmi dinyatakan pailit oleh PN Niaga Semarang. Alasannya, kinerja keuangan dan operasional emiten tekstil relatif tertekan dalam akibat impor yang masif dari China.
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti mengatakan situasi itu membuat harga jual tekstil di dalam negeri ikut terkoreksi signifikan. Konsekuensinya, sebagian besar perusahaan tidak mampu membayar kewajiban utang pada kreditur.
“Tren penurunan penjualan sejak era pandemi Covid-19 sangat berdampak pada kemampuan pemenuhan kewajiban perusahaan,” kata Vinko saat dihubungi, Kamis (24/10/2024).
Secara umum, kata Vinko, industri tekstil tengah menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku serta persaingan global. Dia berharap pemerintah dapat mencari keluar atas kesulitan industri pada karya tersebut.
Berikut Kinerja Saham Emiten Tekstil per 28 Oktober 2024 hingga pukul 10.00 WIB:
Perusahaan | Kode Saham | Harga saham | Perubahan Hari Ini | Perubahan Bulanan | Perubahan Year-to-Date |
PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk. | ACRO | Rp77 | -1,28% | -3,75% | -46,90 |
PT Argo Pantes Tbk. | ARGO | Rp1.080 | -4,42% | -4,42% | 12,50% |
PT Trisula Textile Industries Tbk. | BELL | Rp71 | -1,39% | -2,74% | -7,79% |
PT Century Textile Industr Tbk. (suspensi) | CNTX | Rp142 | suspen | 0,00% | 16,39% |
PT Ever Shine Textile Tbk. | ESTI | Rp47 | 0,00% | 11,90% | -7,84% |
PT Panasia Indo Resources Tbk. (suspensi) | HDTX | Rp120 | suspen | 0,00% | 0,00% |
PT Indo-Rama Synthetics Tbk. | INDR | Rp3.130 | -2,49% | -10,57% | 2,96% |
PT Inocycle Technology Group Tbk. | INOV | Rp97 | 0,00% | 6,59% | -37,42% |
PT Asia Pacific Investama Tbk. | MYTX | Rp46 | 0,00% | 17,95% | -20,69% |
PT Asia Pacific Fibers Tbk. | POLY | Rp20 | 0,00% | -31,03% | -60% |
PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. (suspensi) | SBAT | Rp1 | 0,00% | 0,00% | -87,5% |
PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Sritex) (suspensi) | SRIL | Rp146 | 0,00% | 0,00% | 0,00% |
PT Sunson Textile Manufacturer Tbk. | SSTM | Rp168 | -0,59% | -7,18% | -66,27% |
PT Tifico Fiber Indonesia Tbk. | TFCO | Rp635 | 0,00% | 0,00% | -5,22% |
PT Nusantara Inti Corpora Tbk. (suspen) | UNIT | Rp316 | 0,00% | 0,00% | 0,00% |
PT Pan Brothers Tbk. | PBRX | Rp20 | 0,00% | 0,00% | -60% |
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Rapor Merah Saham Emiten Tekstil, PBRX, POLY, SBAT Paling Boncos
Mayoritas saham emiten tekstil mengalami koreksi yang cukup dalam sepanjang tahun ini. Bahkan, BEI menerapkan suspensi saham terhadap lima emiten di sektor ini. [731] url asal
#sektor-tekstil #saham-sektoral #emiten-tekstil #tekstil-dan-produk-tekstil #tpt #sritex #sril #pbrx #pan-brothers #manzone #zone #indo-rama
(Bisnis.Com - Market) 28/10/24 11:12
v/17095209/
Bisnis.com, JAKARTA — Mayoritas saham emiten tekstil mengalami koreksi yang cukup dalam sepanjang tahun ini. Bahkan, BEI menerapkan suspensi saham terhadap lima emiten di sektor ini.
Malahan, Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menghentikan sementara perdagangan saham atau suspensi terhadap lime emiten tekstil. Lima emiten tersebut, yaitu PT Century Textile Industry Tbk. (CNTX), PT Panasia Indo Resources Tbk. (HDTX), PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. (SBAT), PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) dan PT Nusantara Inti Corpora Tbk. (UNIT).
Saham Sritex, misalnya, sudah disuspensi BEI sejak sejak 18 Mei 2021. BEI menerapkan suspensi lantaran SRIL menunda kewajiban pembayaran bunga surat utang yang merujuk pada surat elektronik PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) No. KSEI-3657/DIR/0521 tanggal 17 Mei 2021 terkait Penundaan Pembayaran Pokok dan Bunga MTN SRITEX TAHAP III TAHUN 2018 Ke-6 (enam) (USD-SRIL01X3MF).
Sejak saat itu, saham Sritex terkapar di level Rp146. Dengan demikian, suspensi saham SRIL sudah berlangsung selama 42 bulan atau 3 tahun 5 bulan.
Di antara 11 saham emiten tekstil lain yang masih diperdagangkan di BEI, mayoritas mengalami penurunan harga saham dalam sebulan terakhir.
Penurunan harga saham paling dalam dialami oleh saham PT Asia Pacific Fibers Tbk. (POLY) anjlok 31,03% dalam 1 bulan ke level Rp20 hingga Senin (28/10/2024) pukul 10.00 WIB.
Pada saat yang sama, saham PT Indo-Rama Synthetics Tbk. (INDR) yang terafiliasi dengan kongolomerat Sri Prakash Lohia itu merosot 10,57% dalam sebulan ke posisi Rp3.130 dan saham PT Sunson Textile Manufacturer Tbk. (SSTM) turun 7,18% dalam sebulan ke level Rp168.
Di sisi lain, saham PT Asia Pacific Investama Tbk. (MYTX) dan PT Ever Shine Textile Tbk. (ESTI) masih mampu menguat dengan kenaikan berturut-turut sebesar 17,95% dan 11,9% dalam sebulan terakhir.
Apabila ditarik dalam rentang waktu sepanjang tahun berjalan 2024, saham PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. (SBAT) menjadi emiten tekstil paling boncos. Saham SBAT anjok 87,5% year-to-date (YtD) ke posisi Rp1 per saham dan dalam kondisi suspensi sejak 18 September 2024 karena ketidakpastian kelangsungan usaha.
Selain SBAT, saham SSTM juga merosot 66,27%, POLY -60%, PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) -60%, dan PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk. (ACRO) -46,9% secara YtD.
Sejumlah analis menilai negatif prospek saham emiten tekstil selepas SRIL atau Sritex resmi dinyatakan pailit oleh PN Niaga Semarang. Alasannya, kinerja keuangan dan operasional emiten tekstil relatif tertekan dalam akibat impor yang masif dari China.
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti mengatakan situasi itu membuat harga jual tekstil di dalam negeri ikut terkoreksi signifikan. Konsekuensinya, sebagian besar perusahaan tidak mampu membayar kewajiban utang pada kreditur.
“Tren penurunan penjualan sejak era pandemi Covid-19 sangat berdampak pada kemampuan pemenuhan kewajiban perusahaan,” kata Vinko saat dihubungi, Kamis (24/10/2024).
Secara umum, kata Vinko, industri tekstil tengah menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku serta persaingan global. Dia berharap pemerintah dapat mencari keluar atas kesulitan industri pada karya tersebut.
Berikut Kinerja Saham Emiten Tekstil per 28 Oktober 2024 hingga pukul 10.00 WIB:
Perusahaan | Kode Saham | Harga Perdangan Hari Ini per saham | Perubahan Hari Ini | Perubahan Bulanan | Perubahan Year-to-Date |
PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk. | ACRO | Rp77 | -1,28% | -3,75% | -46,90 |
PT Argo Pantes Tbk. | ARGO | Rp1.080 | -4,42% | -4,42% | 12,50% |
PT Trisula Textile Industries Tbk. | BELL | Rp71 | -1,39% | -2,74% | -7,79% |
PT Century Textile Industr Tbk. | CNTX | Rp142 (suspensi) | suspen | 0,00% | 16,39% |
PT Ever Shine Textile Tbk. | ESTI | Rp47 | 0,00% | 11,90% | -7,84% |
PT Panasia Indo Resources Tbk. | HDTX | Rp120 (suspensi) | suspen | 0,00% | 0,00% |
PT Indo-Rama Synthetics Tbk. | INDR | Rp3.130 | -2,49% | -10,57% | 2,96% |
PT Inocycle Technology Group Tbk. | INOV | Rp97 | 0,00% | 6,59% | -37,42% |
PT Asia Pacific Investama Tbk. | MYTX | Rp46 | 0,00% | 17,95% | -20,69% |
PT Asia Pacific Fibers Tbk. | POLY | Rp20 | 0,00% | -31,03% | -60% |
PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. | SBAT | Rp1 (suspensi) | 0,00% | 0,00% | -87,5% |
PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Sritex) | SRIL | Rp146 (suspensi) | 0,00% | 0,00% | 0,00% |
PT Sunson Textile Manufacturer Tbk. | SSTM | Rp168 | -0,59% | -7,18% | -66,27% |
PT Tifico Fiber Indonesia Tbk. | TFCO | Rp635 | 0,00% | 0,00% | -5,22% |
PT Nusantara Inti Corpora Tbk. | UNIT | Rp316 (suspen) | 0,00% | 0,00% | 0,00% |
PT Pan Brothers Tbk. | PBRX | Rp20 | 0,00% | 0,00% | -60% |
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.