#30 tag 24jam
Dirut BPJS Kesehatan Dorong Peneliti Temukan Obat Kanker Berkualitas dengan Harga Terjangkau
Kontrol kualitas dan kontrol biaya merupakan hal penting agar standarisasi layanan dan fasilitas kesehatan di Indonesia berjalan baik. [618] url asal
#obat-kanker #harga-obat-kanker #bpjs-kesehatan #bpjs #unpad
(MedCom) 04/11/24 13:15
v/17458527/
Jakarta: Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Ghufron Mukti, mengatakan kontrol kualitas dan kontrol biaya merupakan hal penting agar standarisasi layanan dan fasilitas kesehatan di Indonesia berjalan baik. Dia menyebut dibutuhkan obat-obatan dengan harga lebih terjangkau untuk mendukung cakupan layanan lebih luas.Para peneliti diharapkan dapat memberikan kontribusi menemukan obat-obatan dengan harga terjangkau, terutama untuk penyakit kanker. Hal itu mengemuka dalam acara The 6th Internasional Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPT) and 15th ISCC Annual Meeting 2024 bertema “Pharmaceutical Science Innovaton on Cancer Healtcare Technology”
“Harapan kami, ada banyak tersedia obat-obat yang cost effective sehingga BPJS Kesehatan bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi. BPJS Kesehatan terus berupaya untuk melakukan transformasi kualitas, yaitu dengan memberikan pelayanan kesehatan yang lebih mudah, lebih cepat, dan yang paling penting adalah pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi,” ujar Ghufron dikutip dari laman unpad.ac.id, Senin, 4 November 2024.
Ghufron menuturkan dalam 10 tahun terakhir melalui transformasi kualitas, BPJS Kesehatan berhasil membawa Indonesia menjadi salah satu negara yang mencapai cakupan kesehatan universal tercepat di dunia hingga mendapatkan penghargaan Universal Health Coverage Award dari International Social Security Association (ISSA).
Dia menyebut untuk mencapai hal tersebut tentu banyak hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, mempersiapkan catastrophic financing bagi beberapa penyakit dengan pembiayaan sangat besar, salah satunya adalah kanker.
Oleh karena itu, sangat diperlukan intervensi dalam produksi obat untuk kanker serta mengelola catastrophic illnesses dengan mengoptimalkan kompetensi penyedia layanan kesehatan, standarisasi layanan kesehatan, dan melakukan promosi kesehatan sebagai upaya pencegahan.
Semua masyarakat dapat mengakses pemeriksaan riwayat kesehatan hanya dengan menjawab 47 pertanyaan di aplikasi Mobile JKN yang dikembangkan oleh BPJS. Apabila pasien berisiko terkena kanker, otomatis disarankan memeriksa IVA di fasilitas kesehatan primer.
"Jika positif, mereka akan diberikan perawatan dengan prosedur yang benar untuk merawat pasien kanker,” jelas Ghufron.
Inovasi lainnya dari aplikasi Mobile JKN adalah fitur “BUGAR” yang berfungsi mencatat dan merekam vitalitas tubuh, seperti detak jantung, tekanan darah, pengeluaran energi, jumlah langkah, waktu tidur, dan sebagainya. Intervensi lainnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan adalah fitur yang menghubungkan dokter di berbagai tempat dapat mengetahui kondisi kesehatan pasien.
Ghufron berharap standarisasi layanan dan fasilitas kesehatan di Indonesia dilakukan dengan mempertimbangkan kontrol kualitas dan kontrol biaya. Tidak hanya itu, memetakan area prioritas untuk mengembangkan fasilitas layanan kanker dan sumber daya manusia juga perlu dilakukan.
Terutama pembangunan kapasitas untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam perawatan kanker, obat-obatan, dan apotek sangat penting. Serta distribusi merata untuk layanan di seluruh negeri.
"Kemudian, memperkuat layanan kesehatan primer sebagai pemantau pasien sehingga perawatan dapat mengurangi perburukan penyakit,” jelas dia.
Dekan Fakultas Farmasi Unpad, Ajeng Diantini, mengatakan obat-obatan berkualitas baik dengan harga terjangkau diperlukan untuk mendukung layanan BPJS Kesehatan. Hal itu agar bisa memberikan fasilitas pengobatan lebih luas lagi.
“Penyakit itu macam-macam, dari yang biayanya ringan sampai yang pengobatan mahal seperti kanker. Tidak semua obat bisa dicover, hanya yang cost effective saja dalam arti memiliki efektivitas yang baik, efek samping rendah dan harga terjangkau. Itu yang diupayakan oleh semua yang terlibat dalam penyediaan obat baik indsutri farmasi dan para peneliti,” ujar Ajeng.
Ketua panitia seminar, Muchtaridi, mengatakan topik ISPST ke-6 kali ini mengangkat isu inovasi ilmu farmasi dalam teknologi pelayanan kesehatan kanker termasuk penemuan dan pengembangan obat serta alat diagnosa kanker.
“Universitas Padjadjaran sangat peduli terhadap penyakit kanker, salah satu bukti nyata kepeduliannya, Universitas Padjadjaran berinisiatif mendirikan rumah sakit kanker dan akan segera hadir di Bandung,” ujar Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad itu.
Muchtaridi memaparkan ISPST ke-6 dan ISCC ke-15 melibatkan 19 pembicara, termasuk 9 pembicara utama, dan 18 pembicara undangan dari 7 negara, Jepang, Korea Selatan, Australia, Malaysia, Thailand, Yordania, dan juga Indonesia.
| Baca juga: Pertama di Dunia, UI Meneliti Gen Penentu Respons Pengobatan Kanker Nasofaring |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Mahasiswa UGM Kembangkan Obat Kanker dari Albumin Ikan Gabus dan Bunga Sinyo Nakal
T?im mahasiswa UGM berhasil mengembangkan pengobatan kanker dengan menggunakan kombinasi albumin ikan gabus. [467] url asal
#obat-kanker #kanker #terapi-kanker #albumin-ikan-gabus #ikan-gabus #bunga-sinyo-nakal #inovasi-ugm #inovasi #ugm
(MedCom) 01/08/24 19:10
v/12904775/
Jakarta: Upaya untuk menemukan obat kanker terus dilakukan oleh para ilmuwan. Tidak hanya mencari obat yang efektif, penggunaan obat kemoterapi dan terapi radiasi saat ini paling banyak dilakukan.Di antara proses berinovasi tersebut, salah satu hasil riset juga dilakukan tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim mahasiswa UGM berhasil mengembangkan pengobatan kanker dengan menggunakan kombinasi albumin ikan gabus (Channa striata) dan senyawa bunga Sinyo Nakal (Duranta erecta L.) yang dianggap potensial dan efektif mengghambat pertumbuhan sel kanker.
Tim peneliti tersebut terdiri atas Fahmi Ihsanuddin Jauhari, Rafif Ananda Putra, Fadillah Rahma Ranita, dan Naafi’ Noor Nafiza Novikh dari mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, dengan dukungan dari dosen pembimbing, Dr. Sci. apt. Rohmad Yudi Utomo, M. Sc. Proyek ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta, yang didanai oleh UGM dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Ketua Tim penelitian, Fahmi Ihsanuddin Jauhari mengatakan, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi senyawa antikanker yang terdapat dalam bunga Sinyo Nakal, khususnya flavonoid, dengan meningkatkan stabilitas dan bioavailabilitas senyawa tersebut menggunakan albumin sebagai medium penghantar. “Inovasi ini tidak hanya menciptakan solusi baru dalam pengobatan kanker, tetapi juga memperkenalkan penggunaan sumber daya alam lokal dalam pengembangan farmasi,” ujar Fahmi dikutip dari laman UGM, Kamis, 1 Agustus 2024.
Fahmi menjelaskan, albumin ikan gabus dipilih karena kemampuannya dalam meningkatkan stabilitas dan bioavailabilitas senyawa aktif di dalam tubuh. Albumin ini memiliki keunggulan dalam memperpanjang waktu paruh senyawa aktif dalam sirkulasi darah dan mengurangi efek samping yang mungkin timbul.
Dalam penelitian ini, albumin ikan gabus digunakan sebagai pembawa (carrier) untuk senyawa aktif dari bunga Sinyo Nakal, yang diharapkan dapat lebih efektif menghantarkan senyawa ke sel kanker melalui proses Enhanced Permeability and Retention (EPR). Penelitian ini melibatkan serangkaian uji in vitro untuk menguji efektivitas sistem penghantaran albumin ikan gabus pada sel kanker payudara.
“Hasil awal dari uji ini menunjukkan bahwa penggunaan albumin sebagai medium penghantar dapat meningkatkan penyerapan senyawa anti-kanker secara signifikan dan memperlambat pertumbuhan sel kanker,” ujar Fahmi.
Rahmad Yudi Utomo selaku dosen pendamping mengatakan, senyawa aktif yang dikaji dalam penelitian ini, seperti durantoside, telah menunjukkan aktivitas antikanker yang menjanjikan, dan dengan adanya sistem penghantaran ini, diharapkan efikasi terapinya dapat meningkat. “Inovasi ini menunjukkan potensi besar dalam pengembangan terapi kanker berbasis bahan alam, khususnya dari sumber daya yang melimpah seperti ikan gabus dan tanaman Sinyo Nakal,” katanya.
Menurutnya, proyek penelitian ini juga membuka jalan untuk pengembangan lebih lanjut dalam industri farmasi, terutama dalam pengembangan obat-obatan berbasis bahan alam yang lebih terjangkau dan efektif. Selain berkontribusi pada ilmu pengetahuan dan teknologi, proyek ini juga mencerminkan dedikasi dan kreativitas mahasiswa UGM dalam mengembangkan solusi inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Adanya temuan ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam penanganan kasus kanker di Indonesia dan mungkin di tingkat global,” pungkasnya.
| Baca juga: Pertama di Indonesia, Mahasiswa Doktor UI Kembangkan Penentuan Terapi Stroke dengan AI |
(CEU)
Penelitian UGM, Kombinasi Herbal Kunyit dan Graphene untuk Obat Kanker Payudara
Senyawa yang terkandung dalam kunyit tersebut memiliki zat antikanker untuk membantu pemulihan pasien kanker payudara. [547] url asal
#penelitian-ugm #ugm #penelitian #herbal-kunyit #kunyit #graphene #obat-kanker #kanker #kanker-payudara #curcumapharphene #antikanker #mahasiswa-uugm #mahasiswa
(MedCom) 21/07/24 11:00
v/11531793/
Jakarta: Penelitian tim mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) berhasil mengembangkan alternatif terapi kanker payudara dengan CurcumaPharphene. Senyawa yang terkandung dalam kunyit tersebut memiliki zat antikanker untuk membantu pemulihan pasien kanker payudara.“Hasil penelitian kita ternyata kunyit mengandung zat yang lebih tinggi dan efektif dibanding ekstrak kunyit biasa,” kata Ketua CurcumaPharphene Research Team, Afnan Syifa’ Muhammad, dalam siaran pers UGM, dikutip Minggu, 21 Juli 2024.
Laporan Global Cancer Statistics (GLOBOCAN) menyatakan bahwa penderita kanker dunia berpotensi meningkat sebesar 47% pada tahun 2040. Sebanyak 28,4 juta kasus berbagai jenis kanker akan muncul, dan salah satu yang diprediksi paling tinggi adalah kanker payudara.
Angka penderita kanker payudara di Indonesia sendiri mencapai 19,2 persen dari seluruh populasi penderita kanke atau tertinggi kedua setelah kanker paru-paru. Saat ini, teknologi penyembuhan dan penghambat pertumbuhan kanker berbasis bioaktif telah banyak dikembangkan.
Selain Afnan, CurcumaPharphene Research Team beranggotakan empat orang lainnya, yakni Muhammad Nino Irwana (Fakultas Farmasi), Gabriella Kanya Sapto Putri (Fakultas Farmasi), Jennifer (Fakultas Farmasi), dan Durroh Sofiana (Fakultas MIPA) di bawah bimbingan Prof. Dr. Ritmaleni, S.Si., Dosen Fakultas Farmasi UGM.
Melalui program Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE), tim ini menguji kandungan alami dalam kunyit. Selama ini kunyit dikenal memiliki kandungan efektif sebagai zat antikanker.
Turunannya yang dikenal dengan nama Pentagamavunon-1 (PGV-1) merupakan senyawa hasil sintesis yang berfungsi sebagai antiinflamasi dan antikanker. Menurut Afnan, meskipun pemanfaatan zat tersebut sudah cukup umum, kandungannya dalam kunyit belum maksimal untuk membunuh sel kanker di tubuh dengan tepat.
Afnan dan tim menemukan potensi penggunaan graphene atau grafena yang mampu meningkatkan kinerja Pentagamavunon-1. Nanomaterial graphene serta turunannya, seperti graphene oxide dan graphene quantum dots adalah material yang diketahui memiliki luas permukaan yang sangat besar sehingga memiliki drug loading capacity yang sangat baik.
“Kelebihan ini memungkinkan kandungan yang dibawa dalam satuan nanopartikel lebih banyak dibanding material lainnya,” ujarnya.
Gabriella Kanya Sapto Putri, anggota tim lainnya menuturkan pada penelitian tersebut, ekstrak kunyit (curcumin) yang dikomplekskan dengan graphene oxide dan graphene quantum dots sebagai penghantar obat terhadap sel MCF-7 kanker payudara terbukti memiliki potensi yang lebih baik daripada curcumin biasa, hingga mencapai delapan kali lipat (800%). “Dengan kombinasi ini, berpotensi dapat membantu penderita kanker payudara di luar sana,” katanya.
Ia menjelaskan, Graphene adalah nanobased material dua dimensi yang memiliki kekuatan hingga 200x lebih kuat daripada baja. Graphene juga memiliki konduktivitas listrik 70% lebih baik dibanding tembaga,” terang Jennifer, salah satu anggota tim.
Fleksibilitas yang dimiliki graphene terlampau tinggi, yakni daya renggang lebih dari 40 perseb. Graphene juga sangat tipis, ringan, dan bahkan nyaris transparan, sehingga mudah untuk diaplikasikan di berbagai bidang. Salah satunya adalah bidang farmasi.
Selama ini potensi graphene di bidang farmasi dapat dimanfaatkan sebagai nanocosmetic, nanobiosensor, dan nano drug delivery system. Kemoterapi oral sebagai salah satu metode pengobatan kanker memerlukan drug delivery system yang kuat untuk meningkatkan efektivitas dan menurunkan efek samping.
“Drug delivery saat ini dinilai masih belum cukup efektif untuk digunakan sebagai kemoterapi secara oral. Oleh karena itu, graphene digadang-gadang sebagai drug delivery system baru untuk merevolusi kemoterapi secara oral,” tutur anggota tim lainnya, Nino.
Nino optimis bahwa hasil penelitian ini mampu merevolusi perkembangan dunia farmasi di Indonesia. Inovasi ini sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ke-3, yakni kehidupan sehat dan sejahtera.
| Baca juga: Peneliti Padi Gamagora Prof. Taryono Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGM |
(CEU)
BRIN dan UGM Kembangkan Obat Anti Kanker dari Bisa Ular Tanah
Obat anti kanker dan bisa ular tanah dikembangkan oleh BRIN dan UGM [559] url asal
#kanker #obat-kanker #brin #ugm #bisa-ular-tanah
(Bisnis.Com) 17/07/24 11:15
v/11060064/
Bisnis.com, JAKARTA -Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRTRRB BRIN) bekerja sama dengan pusat riset teknologi radioisotop mengembangkan obat kanker berbasis peptida dengan teknologi berbasis OMICs (genomics, transcriptomics, proteomics, dan metabolomics).
Pengembangan ini merupakan salah satu bidang penelitian untuk mencari peptida anti kanker sebagai alternatif obat konvensional yang berbasis small molecule.
Dari hasil dari teknologi yang diterapkan BRIN dan UGM ini diketahui bahwa salah satu sumber penemuan obat baru untuk peptida anti kanker yang menjanjikan adalah racun hewan seperti bisa ular (venom).
“Berbagai pusat riset di BRIN telah banyak yang melakukan kerja sama dengan FMIPA UGM, kami ingin tidak sebatas kajian saja, namun sampai ke hilir dimulai dengan meningkatkan massa produk dari penelitian yang dilakukan,” ungkap Kuwat Triyana, Dekan FMIPA UGM dilansir dari laman resmi BRIN.
Lebih jauh, Kuwat menyebutkan berdasarkan data International Agency for Research on Cancer pada tahun 2020, terdapat 19,3 juta kasus kanker baru dan 10 juta kasus di antaranya menyebabkan kematian.
Metode konvensional pengobatan kanker seperti pembedahan, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi belum memberikan hasil yang optimal karena efek samping dari terapi kanker yang juga merusak sel normal dan sistem imun.
Oleh karena itu, diperlukan inovasi untuk menemukan kandidat obat terapi kanker yang efektif dengan spesifisitas tinggi.
Di sisi lain, venom ular mengandung campuran berbagai jenis protein dan peptida yang dilaporkan berpotensi memiliki aktivitas biologis berupa anti kanker, agen trombolitik, antimikroba, antivirus, dan antiparasit.
“Spesies ular beracun yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia adalah ular tanah (Calloselasma rhodostoma). Spesies ular ini termasuk ke dalam kelompok ular berbisa kuat. Pada penelitian sebelumnya, dua senyawa peptida dari venom ular tanah diketahui memiliki potensi sebagai antikanker terhadap cell line MCF-7,” jelas Isti Daruwati, Peneliti Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN.
Selanjutnya, diperlukan pula pemahaman yang mendalam tentang mekanisme farmakologis secara in vitro dan in vivo dari venom ular untuk dapat mengarah pada penemuan calon obat kanker baru. “Radiopeptida adalah radiofarmaka dengan peptida yang digunakan sebagai pembawa radioisotop ke lokasi kanker dimana radiopeptida akan menarget reseptor peptida yang diekspresikan secara berlebihan (over expressed) pada jaringan kanker. Reseptor- reseptor ini merupakan target molekuler potensial pada awal munculnya kanker,” paparnya.
Kerja sama riset ini bertujuan untuk lebih memahami interaksi dan mekanisme peptida sintesis venom ular tanah dengan protein reseptor. Departemen Kimia, FMIPA UGM mendukung penelitian dalam penyiapan peptida yang berasal dari turunan venom ular dan karakterisasinya, sedangkan PRTRRB BRIN berperan dalam radiosintesis peptida serta uji in vitro baik peptida dan radiopeptida pada sel kanker tulang yaitu MG63 dan sel tulang normal yaitu HfOb dan sel kanker prostat yaitu LNCap dan DU145. “Sejauh ini sudah ada 10 kandidat peptida yang cukup potensial sebagai obat antikanker dari lapangan yang kami ambil, namun bukti aktivitas uji in vitro masih terbatas. Dari 10 kandidat sudah kami kirim ke BRIN sejumlah empat,” papar Respati Tri Swasono, Peneliti dan Dosen Kimia FMIPA UGM.
Pengujian aktivitas anti kanker beberapa peptida sintesis turunan venom ular tanah akan dilakukan secara in vitro dengan mengikatkan radioisotop pada peptida untuk mengetahui afinitas peptida tersebut di berbagai macam sel kanker. Diharapkan output yang dihasilkan melalui kolaborasi ini menunjukkan bahwa venom ular tanah dapat menunjukkan aktivitas antikanker yang signifikan dan interaksi serta mekanisme aksinya dengan protein reseptor dapat diketahui. Selain itu, peptida dan radiopeptida yang diperoleh juga diharapkan akan menjadi kandidat obat baru atau radiofarmaka baru untuk kanker. (hmp,ek/ed:jml)