#30 tag 24jam
Israel Bunuh Pemimpin Hamas Yahya Sinwar, Netanyahu: Perang Terus Akan Berlanjut
Militer Israel mengatakan bahwa mereka telah membunuh Yahya Sinwar dalam operasi di Jalur Gaza selatan pada hari Rabu. [429] url asal
#yahya-sinwar #hamas #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #jalur-gaza
(Bisnis.Com) 18/10/24 10:16
v/16642217/
Bisnis.com, JAKARTA – Israel mengonfirmasi telah membunuh pemimpin Hamas Yahya Sinwar di Jalur Gaza pada Kamis (17/10/2024).
Melansir Reuters, (Jumat (18/10/2024), Militer Israel mengatakan bahwa mereka telah membunuh Sinwar dalam operasi di Jalur Gaza selatan pada hari Rabu.
“Setelah menyelesaikan proses identifikasi mayat, dapat dipastikan bahwa Yahya Sinwar telah tewas,” demikian ungkap militer Israel.
Tewasnya Hamas menandai keberhasilan besar bagi Israel dan peristiwa penting dalam konflik yang telah berlangsung selama setahun ini. Para pemimpin negara-negara Barat mengatakan bahwa kematiannya memberikan kesempatan untuk mengakhiri perang, namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa perang akan terus berlanjut.
Tidak ada komentar langsung dari Hamas, namun sumber-sumber internal Hamas mengatakan bahwa indikasi dari Gaza menunjukkan bahwa Sinwar telah terbunuh dalam sebuah operasi Israel.
Di Israel, keluarga para sandera yang ditahan oleh Hamas di Gaza mengatakan bahwa mereka berharap adanya gencatan senjata untuk membawa pulang para tawanan, namun mereka juga khawatir bahwa orang-orang yang mereka cintai berada dalam bahaya yang lebih besar.
Di Gaza, yang digempur tanpa henti oleh pasukan Israel selama setahun, penduduk mengatakan mereka yakin perang akan terus berlanjut, tetapi mereka berpegang teguh pada harapan untuk menentukan nasib sendiri.
Presiden AS Joe Biden, yang berbicara dengan Netanyahu melalui telepon untuk mengucapkan selamat kepadanya, serta Presiden Prancis Emmanuel Macron, mengatakan bahwa kematian Sinwar membuka peluang berakhirnya konflik di Gaza yang telah berlangsung lebih dari setahun.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller mengatakan AS ingin memulai pembicaraan mengenai proposal untuk mencapai gencatan senjata dan mengamankan pembebasan para sandera. Miller menyebut Sinwar sebagai “penghalang utama” untuk mengakhiri perang.
“Hambatan itu jelas telah disingkirkan. Tidak dapat memprediksi bahwa itu berarti siapa pun yang menggantikan (Sinwar) akan menyetujui gencatan senjata, tetapi hal itu menghilangkan apa yang selama beberapa bulan terakhir ini menjadi penghalang utama untuk mencapai gencatan senjata,” ungkap Miller.
Netanyahu, yang berbicara di Yerusalem sesaat setelah kematiannya dikonfirmasi, mengatakan bahwa kematian Sinwar menawarkan peluang perdamaian di Timur Tengah, namun memperingatkan bahwa perang di Gaza belum berakhir dan Israel akan terus berlanjut hingga para sanderanya dikembalikan.
“Kepada keluarga sandera, saya ucapkan: Ini adalah momen penting dalam perang. Kami akan melanjutkan dengan kekuatan penuh sampai semua orang yang Anda cintai, orang-orang yang kami cintai, berada di rumah,” tegas Netanyahu.
Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, mengatakan kematian Sinwar adalah pencapaian militer dan moral yang luar biasa bagi Israel.
Dia menyebut Sinwar sebagai pembunuh massal yang bertanggung jawab serangan pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang. Israel merespons serangan tersebut dengan operasi militer ke Gaza hingga saat ini, yang menewaskan lebih dari 46.000 warga Palestina.
Yahya Sinwar: Pengungsi, Pendiri Hamas, Narapidana Israel, Hingga Gantikan Haniyeh
Yahya Sinwar kini menjabat kepala biro politik Hamas. [505] url asal
#yahya-sinwar #yahya-sinwar-pimpin-hamas #yahya-sinwar-jadi-pengganti-ismail-haniyeh #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #yahya-sinwar-terpilih #yahya-sinwar-gantikan-haniyeh #yahya-sinwar-gantikan-ismail-han
(Republika - Khazanah) 08/08/24 09:02
v/13774065/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok perlawanan Palestina Hamas menunjuk Yahya Sinwar sebagai kepala biro politik baru pada Selasa (6/8).
Sinwar menggantikan Ismail Haniyeh, yang dibunuh di ibu kota Iran, Teheran, setelah menghadiri upacara pelantikan presiden baru Iran pada 31 Juli, kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan di saluran Telegram.
Hamas dan Iran segera menuduh Israel membunuh Haniyeh, tetapi Tel Aviv hingga kini belum mengonfirmasi atau menyangkal tanggung jawabnya. Namun, laporan Washington Post (WP) pada Rabu (7/8) mengungkapkan bahwa Israel telah mengabari pemerintah Amerika Serikat (AS) bahwa rezim Zionis itu berada di balik pembunuhan Ismail Haniyeh pada 31 Juli di ibu kota Iran, Teheran.
Surat kabar tersebut menambahkan pejabat Gedung Putih menanggapi pemberitahuan tersebut dengan terkejut dan marah atas terjadinya pembunuhan Haniyeh. AS menilai kejadian tersebut sebagai kemunduran bagi upaya mereka selama berbulan-bulan untuk mengamankan gencatan senjata di Gaza.
Sementara itu, pemilihan Sinwar (61), mencerminkan sejarahnya dengan Hamas. Ia telah menjabat sebagai pejabat tertinggi kelompok perlawanan di Gaza selama dua periode berturut-turut, yang pertama dimulai pada 2017 dan yang kedua pada empat tahun setelahnya.
Mengomentari signifikansi pemilihan Sinwar sebagai kepala biro politik Hamas, penulis dan analis politik Palestina Ibrahim Al-Madhoun mengatakan kepada Anadolu “tidak diragukan lagi bahwa memilih Sinwar untuk posisi ini adalah tantangan bagi pendudukan Israel dan menunjukkan bahwa dia tetap efektif, kuat, dan mengendalikan lapangan” di Gaza, meskipun perang Israel telah berlangsung hampir 10 bulan.
Pada 20 Januari 1988, Israel menangkapnya kembali dan menjatuhkan hukuman empat kali seumur hidup plus 30 tahun penjara karena “mendirikan aparatur keamanan Al-Majd dan berpartisipasi dalam pendirian sayap militer pertama Hamas, yang dikenal sebagai Mujahidin Palestina.”
Sinwar menghabiskan 23 tahun di penjara Israel sebelum dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel pada 2011 yang dikenal sebagai “Kesepakatan Shalit.” Di bawah kesepakatan yang dilaksanakan pada 11 Oktober 2011, Israel membebaskan 1.027 tahanan Palestina sebagai imbalan atas pembebasan tentara Israel Gilad Shalit oleh Hamas.
Memimpin di Gaza Setelah dibebaskan pada 2011, Sinwar berpartisipasi dalam pemilihan internal Hamas pada tahun berikutnya. Sinwar memenangkan kursi di biro politik dan bertanggung jawab mengawasi sayap militer kelompok tersebut, Brigade Al-Qassam.
Pada September 2015, AS menambahkan Sinwar ke dalam daftar “teroris internasional.” Layanan keamanan Israel juga telah mencantumkan Sinwar sebagai target utama untuk pembunuhan di Gaza, menurut media Israel.
Israel, dengan mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal yang berlanjut di Gaza sejak serangan oleh kelompok perlawanan Palestina Hamas pada Oktober tahun lalu.
Lebih dari 39.600 warga Palestina telah tewas sejak serangan 7 Oktober itu, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan lebih dari 91.600 terluka, demikian catatan otoritas kesehatan setempat.
Hampir 10 bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza porak-poranda di tengah blokade ketat terhadap makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan.
Israel dituduh melakukan genosida di Pengadilan Internasional, yang memerintahkan agar segera menghentikan operasi militer di Rafah, di mana lebih dari 1 juta warga Palestina telah mencari perlindungan dari perang sebelum wilayah tersebut diinvasi pada 6 Mei.
Yahya Sinwar Jadi Pemimpin, Hamas Total War Habisi Israel
Penunjukkan Yahya Sinwar sinyal komunikasi Hamas lawan Israel hanya dengan peluru [637] url asal
#yahya-sinwar #yahya-sinwar-pimpin-hamas #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #yahya-sinwar-jadi-pengganti-ismail-haniyeh #yahya-sinwar-terpilih #yahya-sinwar-gantikan-haniyeh #yahya-sinwar-gantikan-ismail-han
(Republika - Khazanah) 08/08/24 08:25
v/13756660/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penunjukkan Yahya Sinwar sebagai pemimpin Hamas menggantikan almarhum Ismael Haniyeh, merupakan pernyataan sikap dari faksi terbesar pejuang di Jalur Gaza itu terhadap situasi di Palestina saat ini.
Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman menilai, penunjukkan Sinwar dapat diartikan sikap semakin mengerasnya perlawanan Hamas terhadap Zionis Israel. Sekaligus, jawaban kepada internasional yang tak pernah konsisten mentaati beragam resolusi dan perjanjian untuk mengakui Palestina sebagai negara merdeka.
“Yahya Sinwar ini, dia memastikan bahwa proses negosiasi yang dilakukan selama puluhan tahun terkait Palestina selama ini, tidak pernah berhasil, dan tidak membawa hasil,” begitu kata Dina kepada Republika, Rabu (7/8/2024).
“Karena dunia internasional, atau komunitas inernasional, yang dimaksud itu seperti PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dan juga negara-negara barat, dan juga negara-negara di kawasan, tidak pernah berhasil, dan tidak pernah konsisten dalam memaksa Zionis Israel untuk mematuhi berbagai perjanjian, berbagai resolusi terkait Palestina,” sambung Dina.
Sebab itu, menurut Dina, penunjukkan Sinwar, yang merupakan tokoh nonkonformis di internal Hamas, merupakan penyampaian terbuka dari faksi bersenjata di Jalur Gaza tersebut, untuk hanya menjadikan medan peperangan, sebagai wadah satu-satunya yang tersisa dalam penyikapi brutalisme Zionis Israel di Tanah Palestina.
“Sehingga bagi Sinwar ini, dia berpandangan bahwa perjuangan bersenjata, adalah satu-satunya cara untuk penghapusan penjajahan, dan untuk kemerdekaan Palestina dari Zionis Israel,” begitu ujar Dina.
“Jadi terpilihnya Sinwar ini, memang artinya, akan terus berlanjut perjuangan bersenjata untuk kemerdekaan Palestina. Yang artinya, jalan untuk bernegosiasi (dengan Zionis Israel), sudah nyaris tertutup. Bagi Hamas saat ini, keputusan ada di lapangan, ada di medan peperangan,” kata Pengajar Hubungan Internasional dan Geopolitik Timur Tengah di Universitas Padjajaran (Unpad) itu.
Karena menurut Dina, Sinwar, selama ini, salah-satu komandan Hamas yang tak pernah terdeteksi berada di luar zona perlawanan. “Karena Sinwar ini berada di Jalur Gaza. Dia (Sinwar) tidak ada di Qatar, atau di negara lain. Sementara negosiasi-negosiasi selama ini terjadinya di Qatar,” sambung Dina.
Masa depan Deklarasi Beijing
Lihat halaman berikutnya >>>
Penunjukkan Yahya Sinwar sebagai pemimpin baru bagi Hamas, menurut Dina, juga bakal memengaruhi Deklrasi Beijing. Deklrasi Beijing adalah perjanjian rekonsiliasi terbuka untuk penyatuan damai 14 faksi-faksi perjuangan di seluruh Tanah Palestina.
Deklarasi Beijing berhasil diinisiasi oleh China, pada Juli 2024 lalu. Dua faksi terbesar yang turut serta menandatangani deklarasi tersebut adalah Hamas dan Fattah yang merupakan faksi politik terbesar kedua di Palestina. Jika Hamas selama ini terkenal sebagai faksi politik-bersenjata nonkooperatif di Jalur Gaza, adapun Fattah, faksi politik lunak yang berbasis di Ramallah. Sejak lama, kedua faksi besar di Palestina ini dikondisikan selalu tak bisa akur.
Dalam Deklarasi Beijing, perwakilan dan negosiator Hamas saat itu, adalah Ismail Haniyeh yang punya pandangan kooperatif, dan terbuka untuk penyatuan faksi-faksi perjuangan di seluruh Palestina. Dina mengatakan Hamas di bawah kepemimpin Sinwar sekarang ini, diharapkan tetap komitmen mewarisi jalan damai Ismael Haniyeh untuk misi penyatuan faksi-faksi Palestina itu. “Kalau dikaitkan dengan Deklarasi Beijing, bukan berarti Sinwar tidak setuju meskipun bukan dia yang di sana, bukan berarti nantinya ada dualisme keputusan di Hamas. Menurut saya tidak,” kata Dina.
Hanya saja, kata Dina, penunjukkan Sinwar sebagai pemimpin baru bagi Hamas ini, merupakan situasi yang baru pasca-Deklarasi Beijing. “Yang harus diperhatikan, terpilihnya Sinwar ini, merupakan perkembangan baru di mana negosiator terdepan Hamas dalam Deklrasi Beijing itu (Ismail Haniyeh) dibunuh oleh Zionis Israel. Jadi negosiasi macam apa nantinya yang akan bisa diterapkan, ketika satu pihak dibunuh oleh pihak lain?,” begitu kata Dina.
Hamas mengabarkan penunjukkan Yahya Sinwar sebagai pemimpin baru menggantikan Ismail Haniyeh yang syahid, Rabu (31/7/2024) pekan lalu. Kantor berita Reuters mengabarkan, Sinwar resmi ditunjuk pada Selasa (6/8/2024) sebagai pemimpin faksi terbesar Gerakan Perlawanan Islam untuk Palestina di Jalur Gaza itu.
“Gerakan Perlawanan Islam - Hamas, mengumumkan hasil pemilihan Yahya Sinwar sebagai Kepala Biro Politik Gerakakan Perlawanan Hamas, menggantikan Ismail Haniyeh yang telah wafat,” begitu pernyataan resmi Hamas yang dikutip dari Reuters, pada Rabu (7/8/2024) dini hari.
5 Pesan Kuat untuk Zionis Israel di Balik Penunjukan Yahya Sinwar Sebagai Pemimpin Hamas
Yahya Sinwar dikenal sebagai sosok yang kuat penentang Israel [712] url asal
#yahya-sinwar #yahya-sinwar-terpilih #yahya-sinwar-pimpin-hamas #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #israel #perang-gaza #jalur-gaza
(Republika - News) 07/08/24 19:40
v/13680644/
REPUBLIKA.CO.ID, DOHA—Al-Sinwar adalah pemimpin Hamas keempat yang memegang posisi Kepala Biro Politik, setelah Moussa Abu Marzouk, Khaled Meshaal, dan syuhada Ismail Haniyeh.
Menariknya, pilihan ini tidak membutuhkan sepersepuluh dari waktu dan usaha yang dibutuhkan oleh partai-partai dan kekuatan politik lainnya di dunia Arab, dan bahkan di negara pendudukan, yang para pemimpin politiknya hidup dalam pergulatan sengit yang semakin memburuk setiap kali pintu rotasi politik atau pergantian pejabat terbuka.
Jika perayaan besar itu telah merambah dunia Islam dan Arab serta respons populer yang cepat melalui situs jejaring sosial terhadap pilihan Sinwar, maka pesan-pesan pilihan ini terhadap Israel sangat kuat dan berpengaruh, dan tidak akan berlalu begitu saja di kalangan pengambil keputusan Israel, termasuk yang paling menonjol di antara pesan-pesan ini:
Pesan pertama, kekuatan respons terhadap agresi Israel: Pria ini dianggap sebagai gelar "elang" dalam Hamas, dan salah satu elemen yang paling keras terhadap pendudukan, dan yang paling keras kepala dan ulet, menurut apa yang digambarkan oleh media Israel dan kalangan keamanan yang menemaninya dengan tidak ramah dan penuh penghargaan selama tahun-tahun penahanan.
Pesan kedua, konsensus: Hamas menegaskan bahwa keputusan untuk menggantikan Sinwar di biro politik setelah Haniyeh diambil dengan suara bulat, yang bertentangan dengan harapan Israel untuk menciptakan keretakan di antara para pemimpin gerakan, yang paling menjengkelkan bagi Israel dan yang paling mampu meningkatkan kemarahan dan rasa sakit di jajaran para pemimpin, lembaga, dan orang-orang Israel, yang berarti bahwa upaya untuk mendorong irisan yang dipertaruhkan oleh Tel Aviv telah menjadi bumerang.
Pesan ketiga, simbolisme lanjutan dari Badai Al Aqsa: Nama Al-Sinwar secara khusus dikaitkan dengan Banjir Al-Aqsa, dan juga mewakili gelar untuk kegagalan Israel dalam klaimnya yang terus menerus untuk melikuidasi dan menjangkau para pemimpin gerakan, yang berarti bahwa Hamas memutuskan untuk lebih memprovokasi kegelisahan dan kemarahan dalam pendudukan, dan juga mengkonfirmasi pengejarannya yang berkelanjutan terhadap opsi konfrontasi militer, meskipun 10 bulan perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Keempat, membawa politik kembali ke lapangan: Hal ini menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah menghadapi agresi secara militer, bersamaan dengan proses negosiasi, yang tampaknya telah mencapai jalan buntu karena sikap keras kepala Netanyahu dan penolakannya yang terus-menerus untuk mengakhiri perang dan memberikan konsesi.
Kelima, pembunuhan martir Ismail Haniyeh juga datang untuk menenggelamkan banyak peluang negosiasi yang tersedia bagi para mediator dan pergi dengan darah martir Haniyeh, karena suara yang paling keras menjadi lapangan, orang-orangnya, dan roket-roketnya, meskipun tim negosiasi yang sama yang ada di bawah Haniyeh akan terus berlanjut seperti sebelumnya, menurut perwakilan Hamas di Lebanon, Osama Hamdan.
Dengan kedatangan Sinwar sebagai kepala biro politik gerakan ini, setelah sebelumnya ia menjadi kepala sektor terkuat dan terpenting, Jalur Gaza, dan perencana utama Badai Al-Aqsa, harapan Israel untuk mengalahkan Jalur Gaza dengan cepat menjadi semakin jauh dari sebelumnya, karena dengan setiap pembunuhan seorang pemimpin, kemarahan warga Gaza tumbuh, dan lebih dari satu jalan dan rencana untuk balas dendam muncul.
Hamas dikabarkan menunjuk Yahya...
Reputasi tersebut, membawa Yahya Sinwar yang juga dikenal sebagai Abu Ibrahim keluar masuk penjara di Israel selama kurang lebih 22 tahun. Pada 2011, Yahya Sinwar menjadi salah-satu pejuang Hamas yang dibebaskan melalui pertukaran tawanan saat pejuang di Jalur Gaza berhasil menyandera tentara Zionis Israel, Ghilat Salid.
Pada 2013, Yahya Sinwar menjadi anggota Biro Politik Hamas di Jalur Gaza. Dan pada 2017 dia menjadi pemimpin perjuangan Hamas di Jalur Gaza dan menjadi otak setiap aksi-aksi bersenjata, dalam perlawanan terhadap Zionis Israel.
Pemerintahan Amerika Serikat (AS) pernah menyalahkan pemerintah Zionis Israel yang menyertakan Yahya Sinwar dalam pertukaran tawanan dengan Hamas.
Departemen Luar Negeri AS, melabeli Yahya Sinwar sebagai salah-satu orang paling berbahaya dalam struktur Hamas, dan memasukkan namanya dalam daftar teroris global. Dan pemerintahan sayap kanan di Tel Aviv, juga menebalkan nama Yahya Sinwar sebagai salah-satu tokoh Hamas yang harus segera dimatikan.
Keputusan Presiden Donald Trump yang memindahkan Kantor Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerussalem-Palestina, juga sempat membuat Yahya Sinwar berang. Ketika itu dia menyerukan masyarakat Palestina menerobos paksa tembok pemisah wilayah Palestina dan Israel.
Pada 2021, BBC News pernah melaporkan, serangan militer udara Zionis Israel menggempur rumah tinggal Yahya Sinwar yang berada di Jalur Gaza. Dan masih menurut laporan tersebut, pada April 2022 Yahya Sinwar menyerukan kepada seluruh rakyat di Palestina untuk melakukan penyerangan dengan cara apapun terhadap Zionis Israel.
Sumber: Aljazeera
Pesan 'Pembangkangan' Hamas di Balik Penunjukan Yahya Sinwar
Pemimpin Palestina ini adalah musuh nomor satu Israel. [652] url asal
#yahya-sinwar-gantikan-haniyeh #yahya-sinwar-dipilih #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #pimpinan-hamas #yahya-sinwar-pimpin-hamas #pernyataan-yahya-sinwar #yahya-sinwar-gantikan-ismail-haniyeh
(Republika - Khazanah) 07/08/24 07:06
v/13613881/
REPUBLIKA.CO.ID, Kelompok perjuangan Palestina, Hamas, telah menunjuk Yahya Sinwar sebagai pemimpin politik baru menggantikan Ismail Haniyeh yang syahid dalam sebuah serangan Israel di Teheran, Iran, pekan lalu. Pengumuman ditunjuknya Sinwar dilakukan pada Selasa (6/8/2024) saat terjadinya ketegangan di Timur Tengah yang menunggu bagaimana pembalasan Iran terhadap Israel atas pembunuhan Haniyeh di tanahnya.
Dianggap sebagai arsitek dari serangan 7 Oktober terhadap Israel, Sinwar akan mencoba untuk mendorong gerakan ini melewati masa-masa yang tidak menentu di seluruh wilayah tersebut dari sebuah lokasi yang tidak diketahui di Gaza, dilaporkan Aljazirah.
Pemimpin Palestina yang berbasis di Gaza ini adalah musuh nomor satu Israel. Dengan memilih Sinwar sebagai kepala biro politik, Hamas mengirimkan pesan pembangkangan kepada pemerintah Israel. Meski demikian, masih belum jelas bagaimana Sinwar akan dapat berkomunikasi dengan sesama anggota Hamas, menjalankan operasi politik sehari-hari dari gerakan tersebut, dan mengawasi negosiasi gencatan senjata Gaza saat bersembunyi. Para pejabat Israel tidak merahasiakan keinginan mereka untuk membunuhnya.
Lahir pada tahun 1962 di Khan Younis, Sinwar sering digambarkan sebagai salah satu pejabat tinggi Hamas yang paling tidak kenal kompromi. Dia ditangkap oleh Israel berulang kali pada awal 1980-an karena keterlibatannya dalam aksi anti-pendudukan di Universitas Islam di Gaza.
Setelah lulus, ia membantu membangun jaringan pejuang untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel. Kelompok ini kemudian bermetamorfosis menjadi Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas.
Sinwar bergabung dengan Hamas sebagai salah satu pemimpinnya segera setelah kelompok ini didirikan oleh Shekh Ahmad Yasin pada tahun 1987. Tahun berikutnya, ia ditangkap oleh pasukan Israel dan dijatuhi empat hukuman seumur hidup - setara dengan 426 tahun penjara - atas dugaan keterlibatannya dalam penangkapan dan pembunuhan dua tentara Israel dan empat orang yang dicurigai sebagai mata-mata Palestina.
Dia menghabiskan 23 tahun di penjara Israel di mana dia belajar bahasa Ibrani. Dia pun menjadi pakar dalam urusan Israel dan politik dalam negeri. Ia dibebaskan pada 2011 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan yang membebaskan tentara Israel Gilad Shalit, yang ditangkap oleh Hamas.
Setelah dibebaskan, Sinwar dengan cepat naik kembali ke jajaran Hamas. Pada 2012, ia terpilih menjadi anggota biro politik kelompok tersebut. Sinwar ditugaskan untuk berkoordinasi dengan Brigade Al Qassam.
Dia memainkan peran politik dan militer utama selama serangan tujuh pekan Israel terhadap Gaza pada tahun 2014. Tahun berikutnya, Amerika Serikat mencap Sinwar sebagai "teroris global yang ditunjuk secara khusus".
Pada 2017, Sinwar menjadi pemimpin Hamas di Gaza, menggantikan Haniyeh, yang terpilih sebagai ketua biro politik kelompok tersebut. Tidak seperti Haniyeh, yang telah melakukan perjalanan regional dan menyampaikan pidato selama perang yang terus berlanjut di Gaza, hingga pembunuhannya, Sinwar tetap bungkam sejak 7 Oktober.
Pesan Yahya Sinwar saat diwawancara..
Dalam sebuah wawancara dengan Vice News pada tahun 2021, Sinwar mengatakan meskipun warga Palestina tidak menginginkan perang karena biayanya yang mahal, mereka tidak akan "mengibarkan bendera putih".
"Untuk waktu yang lama, kami mencoba perlawanan damai dan populer. Kami berharap bahwa dunia, orang-orang yang merdeka dan organisasi-organisasi internasional akan mendukung rakyat kami dan menghentikan penjajahan yang melakukan kejahatan dan pembantaian terhadap rakyat kami. Sayangnya, dunia hanya diam dan menonton," katanya.
Sinwar kemungkinan besar menggambarkan Great March of Return, di mana warga Palestina melakukan protes setiap minggu selama berbulan-bulan di perbatasan Gaza pada tahun 2018 dan 2019, tetapi menghadapi tindakan keras Israel yang menewaskan lebih dari 220 orang dan melukai lebih banyak lagi.
Sinwar kemungkinan besar menggambarkan Great March of Return, di mana warga Palestina melakukan protes setiap minggu selama berbulan-bulan di perbatasan Gaza pada tahun 2018 dan 2019, tetapi menghadapi tindakan keras Israel yang menewaskan lebih dari 220 orang dan melukai lebih banyak lagi.
Ketika ditanya tentang taktik Hamas, termasuk menembakkan roket tanpa pandang bulu yang dapat membahayakan warga sipil, Sinwar mengatakan bahwa warga Palestina berjuang dengan cara yang mereka miliki. Ia menuduh Israel sengaja membunuh warga sipil Palestina secara massal, meskipun memiliki persenjataan yang canggih dan akurat.
"Apakah dunia mengharapkan kami menjadi korban yang berperilaku baik ketika kami dibunuh, kami dibantai tanpa membuat suara?" kata Sinwar.
Ini Sosok Yahya Sinwar, Pemimpin Baru Hamas yang Disebut Tahu Pola Pikir Israel
Israel memburu Sinwar sebagai target utama untuk dibunuh. [734] url asal
#yahya-sinwar #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #pemimpin-baru-hamas #yahya-sinwar-pimpin-hamas #pemimpin-hamas
(Republika - News) 07/08/24 06:09
v/13607169/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Hamas dikabarkan menunjuk Yahya Sinwar sebagai pemimpin baru menggantikan Ismail Haniyeh yang syahid, Rabu (31/7/2024) pekan lalu. Kantor berita Reuters mengabarkan, Sinwar resmi ditunjuk pada Selasa (6/8/2024) sebagai pemimpin faksi terbesar Gerakan Perlawanan Islam untuk Palestina di Jalur Gaza itu.
“Gerakan Perlawanan Islam - Hamas, mengumumkan hasil pemilihan Yahya Sinwar sebagai Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Hamas, menggantikan Ismail Haniyeh yang telah wafat,” begitu pernyataan resmi Hamas yang dikutip dari Reuters, pada Rabu (7/8/2024) dini hari.
Reuters mengabarkan, usai mengumumkan Yahya Sinwar sebagai pemimpin Hamas, sayap militer faksi politik di Jalur Gaza tersebut merayakannya dengan melakukan roket salvo, dan menembakkan beberapa roket ke arah kantung-kantung militer Zionis Israel.
Yahya Sinwar kelahiran Oktober 1962. Ia lahir di Kamp Pengungsian di Khan Younis 63 tahun lalu. Ketika itu, kamp pelarian tersebut masih dalam penguasaan militer Mesir selama Perang Arab-Zionis Israel 1948, atau yang dikenal sebagai al-Naqba. Keluarga, dan kedua orang tua Yahya Sinwar, diusir paksa dari tanah moyangnya di Majdal Asqalan, yang sekarang dberganti nama menjadi Ashkelon dalam peta aneksasi Zionis Israel.
Media di Palestina, al-Quds News Network menyebutkan Yahya Sinwar, adalah penganut Islam Sunni.
Lahir di pengungsian, dan besar di zona peperangan di Jalur Gaza, namun Yahya Sinwar tetap berpendidikan. Yahya Sinwar tercatat memiliki gelar kesarjanaan di Universitas Islam Gaza.
Pada 1980-an, Yahya Sinwar mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan politik. Aktivismenya ketika itu sempat berujung pada pemenjaraan. Saat di Penjara Far’a, pada awal-awal 1980-an, Yahya Sinwar mulai berkenalan dengan aktivis dan pejuang-pejuang Hamas, termasuk berkelindan dalam sayap militer Hamas-Brigade al-Qassam.
Reputasi Yahya Sinwar di Hamas, paling disorot menjelang ujung 1985-an. Ketika itu, dia digelari ‘Penjagal dari Khan Younis’ dalam gerakan al-Majd. Gelar tersebut mengacu pada reputasinya yang dianggap berhasil mengidentifikasi, bahkan menghabisi orang-orang yang mengaku sebagai Palestina, tetapi berkolaborasi dan menjadi antek-antek Zionis Israel.
Pada 1988 Yahya Sinwar pernah diberitakan melakukan pembunuhan terhadap dua tentara Zionis Israel, dan empat orang Palestina yang menjadi mata-mata Zionis Israel.
Reputasi tersebut, membawa Yahya Sinwar yang juga dikenal sebagai Abu Ibrahim keluar masuk penjara di Israel selama kurang lebih 22 tahun. Pada 2011, Yahya Sinwar menjadi salah-satu pejuang Hamas yang dibebaskan melalui pertukaran tawanan saat pejuang di Jalur Gaza berhasil menyandera tentara Zionis Israel, Ghilat Salid.
Pada 2013, Yahya Sinwar menjadi anggota Biro Politik Hamas di Jalur Gaza. Dan pada 2017 dia menjadi pemimpin perjuangan Hamas di Jalur Gaza dan menjadi otak setiap aksi-aksi bersenjata, dalam perlawanan terhadap Zionis Israel.
Pemerintahan Amerika Serikat (AS) pernah menyalahkan pemerintah Zionis Israel yang menyertakan Yahya Sinwar dalam pertukaran tawanan dengan Hamas. Departemen Luar Negeri AS, melabeli Yahya Sinwar sebagai salah-satu orang paling berbahaya dalam struktur Hamas, dan memasukkan namanya dalam daftar teroris global. Pemerintahan sayap kanan di Tel Aviv, juga menebalkan nama Yahya Sinwar sebagai salah-satu tokoh Hamas yang harus segera dimatikan.
Keputusan Presiden Donald Trumph yang memindahkan Kantor Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerussalem-Palestina, juga sempat membuat Yahya Sinwar berang. Ketika itu dia menyerukan masyarakat Palestina menerobos paksa tembok pemisah wilayah Palestina dan Israel.
Pada 2021, BBC News pernah melaporkan, serangan militer udara Zionis Israel menggempur rumah tinggal Yahya Sinwar yang berada di Jalur Gaza. Dan masih menurut laporan tersebut, pada April 2022 Yahya Sinwar menyerukan kepada seluruh rakyat di Palestina untuk melakukan penyerangan dengan cara apapun terhadap Zionis Israel.
Serangan 7 Oktober 2023
Al-Quds News Network melaporkan, serangan fenomenal Hamas ke wilayah Zionis Israel pada 7 Oktober 2023 adalah buah pikir dari seorang Yahya Sinwar. “Yahya Sinwar adalah seorang pemikir, dan pemimpin terkemuka Hamas, dan dianggap sebagai arsitektur utama dalam operasi Badai al-Aqsha, pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan korban jiwa militer yang signifikan di Israel ,” begitu menurut laporan tersebut.
Karena itu, menurut media tersebut, serangan membabi buta militer Zionis Israel merespons keberhasilan operasi Badai al-Aqsha, menjadikan Yahya Sinwar sebagai target utama.
“Israel selalu mengumumkan bahwa mengeliminasi Yahya Sinwar adalah salah-satu tujuan dari serangan balasan yang dilakukan (Zionis Israel) di Jalur Gaza,” begitu menurut al-Quds News Network.
Namun usaha Zionis Israel menjadikan Yahya Sinwar sebagai target operasi serangan militer, hingga kini tak pernah berhasil. “Yahya Sinwar selalu dianggap sebagai pemimpin Hamas yang paling mengetahui cara-cara, dan pola berpikir rezim Zionis Israel,” begitu sambung media tersebut. Usaha untuk mengeliminasi Yahya Sinwar, pun bukan cuma dilakukan oleh Zionis Israel, tetapi juga pemerintahan dan militer AS.
Siapa Yahya Sinwar, Mengapa Ia Dipilih Gantikan Ismail Haniyeh?
Penunjukkan Yahya Sinwar mengirimkan sinyal kuat ke Israel. [1,078] url asal
#yahya-sinwar #yahya-sinwar-gantikan-haniyeh #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #biro-politik-hamas #yahya-sinwar-dipilih #perlawanan-palestina
(Republika - News) 07/08/24 05:38
v/13601717/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengumumkan pemimpin mereka di Gaza, Yahya Sinwar sebagai kepala biro politik menggantikan Ismail Haniyeh yang syahid pekan lalu. Siapa tokoh itu dan apa pesan penunjukannya sebagai kepala biro politik?
Patut dicatat, Hamas memiliki sejumlah tokoh yang berada di posisi yang lebih aman di luar Palestina. Sementara Sinwar saat ini bersama warga Gaza tengah bertahan dari gempuran brutal Israel di wilayah terkepung tersebut.
Selain itu, Sinwar juga dilihat sebagai sosok yang lebih frontal dalam perlawanannya terhadap Israel. Ia Dianggap sebagai arsitek serangan 7 Oktober terhadap Israel. Pihak Israel tak menutup-nutupi niatan mereka menghabisi Sinwar. Para petinggi militer penjajah bahkan menyatakan bahwa Sinwar saat ini “hidup dalam waktu pinjaman”.
Artinya, penunjukkan Sinwar adalah juga pesan penting terhadap Israel: Bahwa perlawanan di Gaza tak akan mengendur. Penunjukkan ini bisa dilihat dalam kerangka tantangan kepada entitas penjajah.
“Saya pikir fokus pada Gaza, dan fokus pada Sinwar, adalah sinyal pembangkangan yang besar,” kata analis politik senior Aljazirah, Marwan Bishara. “Dan fakta bahwa Hamas tidak akan kehilangan Gaza, bahwa Hamas akan tetap menjadi kekuatan di Gaza, dan karenanya pemimpinnya tetap ada di sana.”
Analisis dari American Enterprise Institute’s Critical Threats Project, Institute for the Study of War dan CNN melansir bahwa hampir setengah dari batalion militer Hamas di Gaza utara dan tengah telah membangun kembali beberapa kemampuan tempur mereka. Hal ini menyangkal klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa mereka berhasil melumpuhkan pejuang Hamas.
Sayap militer Hamas, yang dikenal sebagai Brigade al-Qassam, dibagi menjadi 24 batalyon yang tersebar di seluruh wilayah, menurut militer Israel. Per 1 Juli, hanya tiga dari 24 batalyon ini yang tidak lagi bisa bertempur secara efektif karena dihancurkan oleh militer Israel, menurut penilaian CTP dan ISW. Delapan batalyon tempur efektif, mampu melaksanakan misi melawan tentara Israel di darat di Gaza.
Sedangkan 13 sisanya telah terdegradasi, hanya mampu melakukan serangan gerilya secara sporadis dan sebagian besar tidak berhasil. Batalyon di Gaza tengah adalah yang paling sedikit mengalami kerusakan di jalur tersebut, menurut sumber dan analisis militer Israel. Sumber-sumber Israel mengatakan mereka belum “menangani” batalyon-batalyon tersebut secara memadai karena mereka diyakini menyandera banyak orang Israel.
Analisis CTP, ISW dan CNN mengenai kemampuan Hamas untuk menyusun kembali fokus pada 16 batalyon di Gaza tengah dan utara, yang merupakan target serangan Israel yang paling lama berjalan. Tujuh dari 16 batalyon ini telah mampu menyusun dan membangun kembali beberapa kemampuan militer mereka setidaknya sekali dalam enam bulan terakhir. Semua ini berada di bagian utara Jalur Gaza yang diluluhlantakkan Israel.
“Dia [Sinwar] telah melejit ke posisi berpengaruh di Hamas, memimpin Hamas di Gaza. Pilihan Hamas untuk menunjuknya sebagai pemimpin gerakan tersebut kini menempatkan Gaza sebagai pusat perhatian, bukan hanya kejadian di lapangan, namun tentu saja dinamika dalam gerakan Hamas,” kata Nour Odeh, seorang analis politik Palestina yang berbasis di Ramallah kepada Aljazirah. “Dan ini benar-benar mengirimkan sinyal, sejauh menyangkut negosiasi gencatan senjata, bahwa Gazalah yang mengambil keputusan.”
Hizbullah menyambut baik penunjukan Sinwar pada Selasa malam, dan menyebutnya sebagai pesan yang kuat kepada Israel dan Amerika Serikat, dan menunjukkan bahwa Hamas bersatu dalam pengambilan keputusan. “Memilih saudara Yahya Sinwar dari jantung Jalur Gaza yang terkepung – yang berada di garis depan dengan pejuang perlawanan dan di antara anak-anak bangsanya, di bawah reruntuhan, blokade, pembunuhan dan kelaparan – menegaskan kembali bahwa tujuan yang ingin dicapai musuh yakni membunuh para pemimpin telah gagal,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.
Sinwar kini akan mencoba mendorong gerakan tersebut melewati masa-masa yang tidak menentu di seluruh wilayah dari lokasi yang tidak diketahui di Gaza. Pemimpin Palestina yang tinggal di Gaza adalah musuh publik nomor satu di Israel. Jadi, dengan memilihnya sebagai kepala biro politik, Hamas mengirimkan pesan pembangkangan kepada pemerintah Israel.
Namun masih belum jelas bagaimana Sinwar dapat berkomunikasi dengan sesama anggota Hamas, menjalankan operasi politik sehari-hari gerakan tersebut, dan mengawasi perundingan gencatan senjata di Gaza sambil bersembunyi.
Lahir pada 1962 di Khan Younis, Sinwar sering digambarkan sebagai salah satu pejabat tinggi Hamas yang paling tidak kenal kompromi. Dia ditangkap berulang kali oleh Israel pada awal tahun 1980an karena keterlibatannya dalam aktivisme anti-pendudukan di Universitas Islam di Gaza.
Setelah lulus, ia membantu membangun jaringan pejuang untuk melakukan perlawanan bersenjata melawan Israel. Kelompok tersebut kemudian menjadi Brigade Qassam, sayap militer Hamas. Sinwar bergabung dengan Hamas sebagai salah satu pemimpinnya segera setelah kelompok itu didirikan oleh Syekh Ahmad Yasin pada tahun 1987.
Tahun berikutnya, ia ditangkap oleh pasukan Israel dan dijatuhi empat hukuman seumur hidup – setara dengan 426 tahun penjara – karena tuduhan keterlibatan dalam penangkapan dan pembunuhan dua tentara Israel dan empat tersangka mata-mata Palestina. Dia menghabiskan 23 tahun di penjara Israel di mana dia belajar bahasa Ibrani dan menjadi ahli dalam urusan Israel dan politik dalam negeri.
Dia dibebaskan pada tahun 2011 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan yang mencakup pembebasan tentara Israel Gilad Shalit, yang telah ditangkap oleh Hamas.
Setelah dibebaskan, Sinwar dengan cepat kembali naik pangkat di Hamas. Pada tahun 2012, ia terpilih menjadi anggota biro politik kelompok tersebut dan ditugaskan untuk berkoordinasi dengan Brigade Qassam.
Dia memainkan peran utama politik dan militer selama tujuh minggu serangan Israel terhadap Gaza pada tahun 2014. Tahun berikutnya, Amerika Serikat mencap Sinwar sebagai “teroris global yang ditetapkan secara khusus”.
Pada tahun 2017, Sinwar menjadi ketua Hamas di Gaza, menggantikan Haniyeh, yang terpilih sebagai ketua biro politik kelompok tersebut. Berbeda dengan Haniyeh, yang telah melakukan perjalanan regional dan menyampaikan pidato selama perang yang berlanjut di Gaza, hingga pembunuhannya, Sinwar bungkam sejak 7 Oktober.
Namun dalam sebuah wawancara dengan Vice News pada tahun 2021, Sinwar mengatakan bahwa meskipun orang-orang Palestina tidak ingin berperang karena biayanya yang mahal, mereka tidak akan “mengibarkan bendera putih”. “Untuk waktu yang lama, kami melakukan perlawanan damai dan kerakyatan. Kami berharap dunia, masyarakat bebas dan organisasi internasional akan mendukung rakyat kami dan menghentikan pendudukan yang melakukan kejahatan dan pembantaian rakyat kami. Sayangnya, dunia hanya diam dan menyaksikan,” katanya.
Sinwar kemungkinan menggambarkan Great March of Return, di mana warga Palestina melakukan protes setiap minggu selama berbulan-bulan di perbatasan Gaza pada tahun 2018 dan 2019, namun menghadapi tindakan keras Israel yang menewaskan lebih dari 220 orang dan melukai lebih banyak lagi.
Ketika ditanya tentang taktik Hamas, termasuk menembakkan roket tanpa pandang bulu yang dapat membahayakan warga sipil, Sinwar mengatakan warga Palestina berperang dengan segala cara yang mereka miliki.
Dia menuduh Israel sengaja membunuh warga sipil Palestina secara massal, meski memiliki persenjataan canggih dan tepat sasaran. “Apakah dunia mengharapkan kita menjadi korban yang berkelakuan baik saat kita dibunuh, agar kita dibantai tanpa membuat keributan?” kata Sinwar.