JAKARTA, Investor.id - Pelemahan nilai tukar rupiah serta ketatnya likuiditas valas dikhawatirkan membawa efek domino ke pasar keuangan Tanah Air, termasuk sektor perbankan. Manajemen risiko yang baik menjadi krusial bagi lembaga keuangan dalam kondisi seperti ini.
Nilai tukar rupiah, berdasarkan kurs JISDOR per 10 Juli 2024, ditutup di Rp 16.256 per dolar AS. Meski telah menguat dari posisi terendahnya di Rp 16.458 per dolar AS, mata uang nasional masih terdepresiasi 5,1% sepanjang 2024.
Pelemahan nilai tukar yang berlangsung membuat kebijakan suku bunga tetap tinggi, sehingga likuiditas menjadi lebih ketat. Selain itu, kebijakan bank sentral AS (the Fed) yang sempat hawkish turut menekan likuiditas valas di perekonomian.
Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, likuiditas dolar dibutuhkan dalam perbankan. Namun, eksposur risikonya juga harus diperhatikan.
Adapun untuk mengatasi risiko nilai tukar, dia meyakini perbankan akan melakukan hedging untuk menjaga pergerakan nilai tukarnya. “Pelemahan rupiah juga harus diperhatikan dari sisi pemberian kredit dalam bentuk valuta asing, untuk tetap menjaga rasio keuangan yang mereka miliki,” kata dia, Senin (15/7/2024).
Di tengah kondisi yang menantang ini, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), yang dikenal dengan bisnis international banking yang kuat, telah menyiapkan strategi manajemen risiko yang jitu.
Salah satunya, BBNI menerapkan strategi likuiditas yang konservatif, memastikan kemampuan yang cukup untuk ekspansi bisnis tanpa mengorbankan likuiditas serta menjaga cost of fund (CoF) di level yang dapat dikelola. Bank pelat merah ini berupaya mendiversifikasi sumber pendanaannya, bukan hanya dari masyarakat, tetapi juga melalui penerbitan instrumen keuangan seperti obligasi. Belum lama ini, bank dengan logo 46 tersebut sukses menerbitkan global bond senilai US$ 500 juta.
Aksi korporasi ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas valas perseroan yang saat ini cenderung mengetat di perekonomian. Selain itu, nilai penerbitan yang optimal serta fundamental perseroan yang solid membuat CoF tetap terjaga.
Tidak hanya mendiversifikasi sumber pendanaan, BBNI juga terus mendorong fee-based income dengan memanfaatkan momentum melalui fasilitas trading valas. Hal ini diharapkan mampu mendorong pendapatan bank ketika tren penurunan margin bunga bersih (NIM) di sektor perbankan masih berlangsung.
Berdasarkan laporan keuangan BBNI (bank only) pada Mei 2024, pendapatan dari komisi/provisi/fee dan administrasi mencapai Rp 4,2 triliun, meningkat 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,9 triliun.
Hal lain yang menggembirakan adalah meskipun suku bunga tinggi dan depresiasi nilai tukar dicemaskan dapat menurunkan kualitas portofolio kredit perbankan, BBNI justru terus membukukan perbaikan kualitas kredit yang tercermin dari rasio nonperforming loan (NPL) yang terus menurun.
Per akhir Mei 2024, BBNI (bank only) mencatatkan beban pencadangan kredit sebesar Rp 2,8 triliun, turun 20,1% secara tahunan dari Rp 3,5 triliun pada Mei 2023. Inilah yang menjadi salah satu kekuatan BBNI menurut Prasetya Gunadi, analis Samuel Sekuritas dalam catatan risetnya.
“Pertumbuhan pinjaman tetap solid sebesar 12,6% YoY pada Mei 2024. BBNI berhasil meningkatkan imbal hasil pinjamannya menjadi 6,7% dibandingkan 6,5% pada April 2024, sehingga memungkinkan bank tersebut membukukan NIM lebih tinggi sebesar 3,9% pada Mei 2024. CoC juga tetap rendah di 0,7% dibandingkan 1% pada periode yang sama tahun lalu,” tulisnya dalam catatan riset.
Editor: Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News