JAKARTA, investor.id – Penjualan mobil di pasar domestik secara grosir (wholesale) pada Juni 2024 mencapai 72.936 unit atau meningkat 2,3% mom, tapi turun 11,8% yoy. Alhasil, penjualan sepanjang semester I-2024 mencapai 407.833 unit, turun 19,5% yoy.
“Hasil tersebut baru memenuhi 37,1% dari target Gaikindo tahun ini yang sebanyak 1,1 juta unit,” tulis Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Michael Owen Kohana dalam ulasannya, Rabu (10/7/2024).
Lantas, bagaimana dengan pencapaian PT Astra International Tbk (ASII), sang penguasa pasar otomotif? Menurut Michael, volume penjualan Astra jauh lebih baik ketimbang industri. Astra membukukan penjualan mobil secara grosir sebanyak 43.908 unit pada Juni 2024 atau tumbuh 6,3% mom, namun turun 5,2% yoy.
Kinerja emiten berkode saham ASII tersebut disokong oleh penjualan Toyota+Lexus yang naik 7,3% mom atau meningkat 2,3% yoy. Sedangkan penjualan merek Daihatsu melemah pada Juni 2024, turun tipis 0,1% mom atau terkoreksi 17,4% yoy.
Adapun pangsa pasar ASII terangkat menjadi 60,2% pada Juni 2024 dibandingkan 58% pada Mei 2024 dan 56% pada Juni 2023. Pangsa pasar tersebut merupakan tertinggi sejak Agustus 2023. Secara kumulatif selama semester I-2024, volume penjualan ASII turun 16,6% yoy.
Meski penjualan bulanan mobil secara grosir di industri otomotif masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu, penurunannya kembali melandai – terutama volume penjualan ASII. “Hal itu mengindikasikan bahwa kondisi terburuk di industri otomotif domestik telah terlewati. The worst is over,” tutur Michael.
Kondisi tersebut dapat mendukung pergerakan harga saham ASII. “Namun, kami menilai bahwa katalis positif masih dibutuhkan, sebelum kita bisa melihat pemulihan harga saham ASII yang signifikan,” pungkas dia.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Dalam pertemuan analis dengan Astra International (ASII) terungkap bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi para pemain mobil adalah makin berkembangnya pasar mobil bekas.
“Kami baru-baru ini menghadiri analyst day ASII untuk membahas prospek mobil. ASII menyatakan bahwa perkembangan pasar mobil bekas yang pesat menjadi salah satu tantangan terbesar,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Richard Jerry dalam risetnya.
Berdasarkan data pengalihan kepemilikan, penjualan mobil bekas mencapai 1,4 juta unit pada 2023, meningkat 4% yoy atau 40% lebih tinggi dibandingkan penjualan mobil baru. Penjualan mobil baru pada 2023 turun 1,5% yoy.
Pasar mobil bekas telah meningkat pesat sejak 2020, yang merupakan pertama kalinya sejak 2006, penjualan mobil bekas mencapai 1,1 juta unit, tumbuh 8% yoy atau melampaui penjualan mobil baru yang sebanyak 579 ribu unit, anjlok 44% yoy.
Tahun lalu, proporsi penjualan mobil bekas terhadap total penjualan mobil mencapai 58% dibandingkan periode 2015-2019 yang rata-rata sebesar 42%.
Pertumbuhan pasar mobil bekas yang pesat seiring tingginya harga jual rata-rata (average selling price/ASP) mobil baru. ASII, menurut Richard, mengindikasikan bahwa dalam 10 tahun terakhir, ASP mobil baru naik lebih tinggi dibandingkan pendapatan tahunan sebagian besar rumah tangga.
Meski ada tantangan dari mobil bekas, BRI Danareksa Sekuritas berharap model-model baru dengan perubahan besar, misalnya ‘All New Series’ untuk ASII, dapat membantu memitigasi risiko tersebut. Karena itu, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pengenalan mobil model baru pada semester II-2024 akan meningkatkan penjualan mobil baru. Perkiraannya tumbuh 12% pada semester II-2024 dibandingkan semester I-2024.
Dengan berbagai faktor yang ada, BRI Danareksa Sekuritas kembali menegaskan rating beli untuk saham ASII. Target harga saham ASII dipatok sebesar Rp 5.100. Saat ini, saham ASII diperdagangkan pada P/E sebesar 5,7 kali atau standar deviasi (SD) -1,5 dari rata-rata 8 tahun.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News