#30 tag 24jam
Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani - kumparan.com
Peningkatan produksi padi dan jagung juga memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani. Dengan dukungan yang tepat dari pemerintah dan akses ke teknologi serta pasar yang lebih luas. [711] url asal
#pertanian-organik #pangan #petani
(Kumparan.com) 01/10/24 12:22
v/15806048/
Penerapan program Kemeterian Pertian untuk meningkatkan produksi pertanian nasional mencerminkan keberhasilan kolaborasi antara teknologi modern, dukungan pemerintah, dan kerjasama lintas lembaga. Sinergi ini telah membuktikan bahwa dengan perencanaan yang matang, koordinasi yang efektif, dan inovasi yang berkelanjutan, Indonesia optimis dapat menmeningkatka ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga membuka peluang ekspor yang signifikan.
Teknologi modern telah menjadi pilar utama dalam transformasi sektor pertanian Indonesia, khususnya dalam produksi padi dan jagung. Penerapan teknologi pertanian yang tepat guna, seperti penggunaan benih unggul, pemupukan presisi, dan sistem irigasi modern, telah berhasil meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas hasil panen. Teknologi juga berperan dalam penanganan pasca panen, di mana penggunaan alat pengering, penggilingan, dan penyimpanan yang lebih efisien mampu mengurangi kehilangan hasil dan menjaga mutu produk hingga sampai ke konsumen.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital seperti aplikasi pemantauan cuaca, analisis tanah, dan platform e-commerce telah membantu petani dalam mengambil keputusan yang lebih baik dan memperluas akses pasar mereka. Dengan terus mendorong adopsi teknologi di kalangan petani, Indonesia dapat meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing produk pertanian di pasar global.
Dukungan pemerintah melalui berbagai kebijakan dan program menjadi fondasi yang memperkuat sektor pertanian. Program subsidi benih, pupuk, dan alat-alat pertanian telah membantu petani mengurangi beban biaya produksi, sementara program pelatihan dan pendampingan teknis dari pemerintah membantu meningkatkan kapasitas dan pengetahuan petani dalam mengelola usaha tani mereka.
Pemerintah juga memainkan peran kunci dalam memperluas akses pasar bagi produk padi dan jagung melalui program pemasaran bersama, pengembangan pasar ekspor, serta promosi produk pertanian unggulan. Selain itu, adanya inisiatif pemerintah dalam mendukung infrastruktur pertanian, seperti pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi, jalan usaha tani, serta penyediaan fasilitas penyimpanan dan pengolahan pasca panen, turut berkontribusi dalam peningkatan produktivitas dan stabilitas harga pangan.
Dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi yang melindungi harga produk pertanian juga penting untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan petani dan keterjangkauan harga bagi konsumen. Kebijakan stabilisasi harga yang efektif mampu mencegah fluktuasi harga yang merugikan petani, sekaligus memastikan ketersediaan pangan dengan harga yang wajar di pasar domestik.
Kolaborasi lintas lembaga, baik antara Kementerian Pertanian, TNI, POLRI, dan lembaga terkait lainnya, telah menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program pertanian. Sinergi ini terlihat dalam berbagai aspek, mulai dari pengawalan distribusi hasil panen hingga penegakan hukum yang melindungi petani dari praktik yang merugikan, seperti penipuan dalam perdagangan hasil tani atau gangguan selama proses distribusi.
Peran TNI dan POLRI dalam memastikan keamanan distribusi hasil pertanian sangat penting, terutama di daerah-daerah yang rawan gangguan keamanan. Pengawalan truk pengangkut hasil panen oleh aparat keamanan telah berhasil mencegah pencurian dan memastikan produk sampai ke pasar dengan selamat dan tepat waktu. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa keamanan adalah komponen yang tidak bisa diabaikan dalam rantai distribusi pangan.
Dengan langkah-langkah yang telah diuraikan di atas, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk terus meningkatkan produksi padi dan jagung, mengurangi ketergantungan pada impor, dan menjaga stabilitas harga pangan di pasar domestik. Ketahanan pangan yang kuat merupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Peningkatan produksi padi dan jagung juga memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani. Dengan dukungan yang tepat dari pemerintah dan akses ke teknologi serta pasar yang lebih luas, petani dapat meningkatkan pendapatan mereka dan memperbaiki kualitas hidup. Selain itu, program-program yang mendukung keberlanjutan pertanian, seperti pelestarian lahan dan pengelolaan sumber daya alam yang bijak, memastikan bahwa keuntungan yang diperoleh dari peningkatan produksi tidak merugikan lingkungan dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Potensi Indonesia sebagai Produsen Pangan Global
Melihat potensi yang dimiliki, Indonesia berpeluang besar untuk menjadi salah satu produsen pangan utama di dunia. Dengan optimalisasi lahan pertanian, peningkatan efisiensi produksi, serta perluasan pasar ekspor, Indonesia tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan global.
Ke depan, tantangan yang dihadapi termasuk perubahan iklim, peningkatan permintaan pangan seiring pertumbuhan populasi, serta persaingan di pasar global. Namun, dengan terus mengoptimalkan kolaborasi antar pemangku kepentingan, berinovasi dalam teknologi dan praktik pertanian, serta menjaga komitmen terhadap keberlanjutan, Indonesia siap untuk menghadapi tantangan tersebut dan memanfaatkan peluang yang ada.
Dengan terus mendorong inovasi dan kolaborasi yang efektif, Indonesia dapat mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam pasar pangan global. Potensi besar ini harus terus dikembangkan melalui kebijakan yang tepat, dukungan teknologi, dan kerjasama lintas sektor yang solid.
Mori Farm, Wajah Pertanian Berkelanjutan Brunei Darussalam
Rempah yang melimpah dalam kari masakan sang nenek menginspirasi Jung Hong Lim menggagas pertanian organik berlabel Mori Farm. [724] url asal
#mori-farm #pertanian-berkelanjutan #brunei-darussalam #pertanian-organik #daun-kelor #pohon-moringa
(MedCom - Ekonomi) 05/08/24 14:43
v/13381856/
Bandar Seri Begawan: Rempah yang melimpah dalam kari masakan sang nenek menginspirasi Jung Hong Lim menggagas pertanian organik berlabel Mori Farm. Belasan tahun berselang, Jung menjadi salah satu wajah Brunei Darussalam dalam memperkenalkan konsep pertanian berkelanjutan."Prinsip saya kerja dengan alam, bukan mengambil dari alam," kata Jung, yang merupakan Founder Mori Farm, ditemui Medcom.id di kebunnya di kawasang Tutong, Brunei Darussalam, Sabtu, 4 Agustus 2024.
Kedatangan Medcom.id ke Mori Farm digagas Brunei Tourism dan Indonesia AirAsia. Mereka ingin dunia mengenal jika Brunei tak sekadar negara penghasil minyak terbesar di Asia Tenggara, tapi juga mulai mengembangkan pertanian ramah lingkungan.
Jung menamai kebunnya Mori Farm karena dia fokus mengembangkan tanaman moringa oleifera atau dikenal dengan tanaman kelor. Dia percaya pohon ini merupakan pohon ajaib.
Apa yang istimewa dari Mori Farm?
Sudah 8 hektare dari total 20 hektare kebunnya ditanami pohon moringa. Yang istimewa dari Mori Farm adalah teknik dalam menanamnya.Jung memakai prinsip berteman dengan alam. Tak serta merta dia langsung membuka lahan dan menanam moringa. Pertama-tama, dia ingin memastikan tanah yang akan dia tanami dalam keadaan sehat.
Caranya, pertama-tama dia menanam terlebih dulu bitter leaf (daun afrika). Jika tumbuh subur, maka bisa dipastikan tanah itu bisa segera ditanami moringa.
"Jadi, bitter leaf ini tak ubahnya seperti dokter bagi kami," kata Jung.
Selanjutnya, dia mempraktikkan teknik pertanian organik dan permakultur. Permakultur adalah teknik ekologi atau desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam.
Untuk pengomposan, Jung menggunakan bahan-bahan organik seperti sampah tanaman dan kotoran hewan. Jung juga menanam tanaman pendamping. Tanaman ini dikembangbiakkan bersama-sama untuk saling menguntungkan. Agar nitrogen di tanah tetap terjaga.
Limbah tanaman tak dia buang, tapi menjadi bahan untuk pupuk. Ini dinamakan teknik mulsa: menutupi tanah dengan bahan organik, seperti jerami atau serbuk gergaji, untuk menjaga kelembapan tanah dan menekan gulma.
Dia pun tak pernah membunuh serangga atau pun hewan lain yang hidup di kebunnya. "Seperti manusia, tubuh kita tak bisa hidup tanpa bakteri. Begitu juga dengan tanaman," kata dia.

Jung saat menunjukkan pohon bitter leaf
Beragam produk Mori Farm
Moringa menjadi menu utama Jung dalam membangun pertanian berkelanjutannya. Butuh empat tahun untuk bisa memanen daun kelor. Sambil menunggu panen, Jung membangun ekosistem di sekeliling pohon moringa.Sebagai penyangga, Jung menanam sejumlah sayuran macam tomat, mentimun, cabai, hingga bayam. Tanaman buah-buahan juga dia tanam, mulai dari mangga, pepaya, hingga pisang.
Kelak, pohon penyangga ini bisa dipanen ketika sudah berbuah. Seperti pisang, mangga, hingga pepaya. Bahkan, jika sedang musim, kita bisa menikmati durian khas Brunei di sana.
Untuk menjaga kesuburan tanah, Jung menanam tanaman herbal seperti kemangi, mint, dan rosemary. Rerumputan sengaja dia kembang biakkan untuk bisa menangkap air.
"Rumput penting untuk tetap melembapkan tanah," ujar dia.
Kesemua hasil tanamnya ini tak menyisakan sedikit pun sampah. Limbah masing-masing tanaman dia cacah untuk kemudian menjadi kompos.
Adapun produk unggulan dari hasil pertaniannya ini adalah teh moringa. Dia coba racik moringa dengan dedaunan lain seperti mint. Adapula racikan rosemary. Produk-produk yang dibuat Mori Farm sudah tersebar di lebih dari 20 supermarket di Brunei.

Berbagai produk yang dibuat Mori Farm
Dampak positif
Mori Farm memiliki dampak positif yang signifikan terhadap lingkungan dan masyarakat Brunei Darussalam. Pertama, perkebunan ini menginspirasi warga untuk mengurangi polusi."Praktik organik mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, sehingga meminimalkan polusi air dan tanah," kata Jung.
Selain itu, teknik permakultur yang dia gunakan mendorong keanekaragaman hayati. Yakni, dengan menarik serangga bermanfaat dan menciptakan habitat bagi satwa liar.
"Kami justru bahagia ketika melihat banyak satwa liar hidup di kebun kami. Tak terkecuali satwa berbahaya seperti ular," kata Jung.
Terima banyak penghargaan
Mori Farm telah menerima berbagai penghargaan dan pengakuan atas komitmen mereka terhadap pertanian organik. Salah satunya, Mori Farm menerima penghargaan Pertanian Organik Terbaik dari Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Brunei Darussalam.Mori Farm juga mendapat Sertifikasi Organik dari Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO). Ini adalah pengakuan akan pengembangan model pertanian berkelanjutan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Kami percaya bahwa pertanian organik adalah masa depan pertanian di Brunei Darussalam," kata Jung.
Humas Departemen Pengembangan Pariwisata Brunei Darussalam, Nazmi Mahali, mengatakan Mori Farm adalah bukti nyata bahwa pertanian organik dapat menjadi praktik yang sukses dan bermanfaat di Brunei Darussalam. Pertanian ini menginspirasi petani lain untuk mengadopsi praktik berkelanjutan dan menyediakan makanan sehat bagi masyarakat Brunei
"Melalui Mori Farm, kami juga ingin memperlihatkan bagaimana kawasan Tutong bisa menjadi daerah penggagas pertanian berkelanjutan," kata Nazmi.
(UWA)
Kisah Sukses Transmigran Lewat Pertanian Organik di Muara Enim
Khairil Anam adalah salah satu kisah transmigran yang gigih dalam memperjuangkan lingkungan. [1,353] url asal
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 27/07/24 16:15
v/12309784/
Jakarta - Khairil Anam adalah salah satu kisah transmigran yang gigih dalam memperjuangkan lingkungan. Ketika memberi pada kelestarian lingkungan, maka akan mendapatkan lebih dari lingkungannya.
Budidaya jeruk sudah menjadi kemampuan bertani turun temurun dari masyarakat Bali tepatnya di kawasan desa-desa Singaraja ke arah timur. Sedangkan Singaraja ke bawah, kebanyakan bertanam anggur. Pada tahun 1987, transmigrasi bedhol desa membawa sanak famili Khairil ke Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Kawasan ini merupakan Ring 3 PT. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Limau Field. Para petani ini dibekali lahan 2 hektar untuk berkebun sawit. Banyak dari para transmigran ini sukses meski dengan perjuangan cukup panjang ketika lahan sawit belum menghasilkan dan akhirnya menghasilkan.
"Tahun 2000 saya ikut paman saya untuk transmigrasi kerena kebun sawitnya sukses. Waktu itu di Bali juga sedang sulit ekonomi," kata Khairil dalam keterangannya dikutip Sabtu (27/7/2024).
Sama seperti petani lainnya, ia pun bertanam sawit. Selain itu, para petani bali ini kembali menekuni kemampuan turun temurun yaitu budidaya jeruk untuk menambah penghasilan. Panen sawit memang sepanjang tahun, namun puncak panen hanya 4 bulan saja dengan hasil 2,5 ton-3 ton/hektar.
Di luar 4 bulan, hanya mendampat 200-300kg sehingga tak mencukupi kebutuhan hidup. Oleh sebab itu, masyarakat menanam jeruk. Para petani memanfaatkan lahan tidur atau lahan-lahan yang tidak ditanami sawit. Mereka rata-rata memiliki 500-600 batang jeruk.
Air Talas menjadi pemasok jeruk untuk kawasan Sumatera Selatan khususnya, hingga menyebar ke beberapa kota. Bibitnya dibawa langsung dari Bali. Namun petaka itu datang. CVPD menyerang. Gara-gara ada yang membeli bibit dari penjual yang ternayata sudah membawa virus. Penyakit ini cepat menyebar.
Khairil mulai menanam jeruk pada tahun 2003, 3 tahun setelah ia menetap di Air Talas. Semua berjalan lancar. Sejumlah 600 batang tanaman jeruk sudah siap dipanen. Pedagang sudah menawar Rp 76 juta sampai 15 hari sebelum panen, tiba-tiba semua tanaman menguning. Jeruk yang sebentar lagi siap petik, berjatuhan. CVPD merenggut mimpi panen itu sehingga tak bersisa.
"Saya sampai kehilangan arah rasanya," kenang Khairil.
Selama 9-10 tahun, petani Air Talas tidak lagi menanam jeruk untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Pasokan jeruk pun terhenti.
Tahun 2012, petani mulai menanam kembali dan bisa panen umur 3-4 tahun. Kejayaan jeruk pun kembali. Namun tidak berlangsung lama. Tahun 2017, petaka itu kembali menghancurkan lahan jeruk petani Air Talas, termasuk milik Khairil. Kali ini penyebabnya jamur upas.
Jamur bisa dikendalikan dengan fungisida. Penggunakan pestisida yang masif pun dimulai. Dari sinilah, Khairil mulai memikirkan tentang agen pengendali hayati yaitu Trichoderma.
Ketika Tanah Menjadi Rusak
Ia belajar otodidak dan banyak membaca dan bertapa pada petugas pertanian. Juga beberapa akademisi dari universitas yang bisa ia temui.
"Kebiasaan kita dengan anorganik, sebenarnya karena waktu itu harga pupuk agak murah. Pembelian pupuknya pun sangat mudah, kita enggak harus ke pasar tapi orang menjajakan," kata Khairil.
Kemudahan itu memberi dampak buruk pada tanah. Dari hasil penelitiannya secara otodidak pula, 65%-70% tanah rusak. Dari kasat mata ia bisa melihat, tanah menjadi keras, miskin unsur hara. Jika ingin menghasilkan, harus dipupuk lebih banyak lagi.
Menurut penuturan Khairil, dosis pupuk satu hektar sekitar 200 sampai 250 kg, aplikasi pupuk bisa sampai 600kg-700kg untuk meningkatkan hasil panen. Memang, hasil panen menjadi sangat tinggi namun menyisakan kerusakan tanah yang cukup parah. Dari sanalah ia mulai mencoba menguatkan struktur tanah dan mengendalikan jamur upas dengan Trichoderma.
Langkah awalnya pun tak terlalu mulus. Saat mencoba pertama, banyak yang kontaminasi. Bukan Trichoderma yang tumbuh, tapi cendawan lain. Sampai akhirnya ia berhasil dan mengaplikasikannya di ladang sendiri.
Pertanian Organik, Panen Jeruk Sepanjang Tahun
Media yang ia gunakan hanya nasi, setelah dibiarkan selama 10 hari, lama kelamaan akan tumbuh jamur berwarn biru. Inilah yang disebut Trichoderma F1. Dari biang ini, dibiakkan lebih banyak lagi dengan air cucian beras (10 liter), terigu (200gr), molase (100ml) atau bisa menggunakan gula merah yang diiris kecil-kecil sebagai sumber glukosa.
Jamur membutuhkan glukosa untuk nutrisinya. Larutan ini dibiarkan hingga 3 bulan, baru disemprotkan. Pengaplikasiannya untuk mengendalikan jamur upas, disemprotkan seminggu dua kali.
Selain menggunakan agen hayati Trichoderma, Khairil juga menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing untuk memperbaiki struktur tanah. Pupuk kadang ini disemprot dulu dengan EM agar menjadi pupuk yang siap pakai.
"Saya pakai pupuk organik dan agen hayati ini menjadi pertumbuhan tanaman tidak cepat. Kalau pakai pupuk anorganik, kan cepat menunjukkan hasil," kata Khairil.
Oleh sebab itu, para petani yang bergabung di kelompok pertanian organik ini kembali beralih ke pupuk anorganik satu demi satu. Dari 8 orang anggota yang mencoba, akhirnya menyerah satu demi satu.
"Saya sempat goyah juga sih tuh di tahun 2018 saya udah ya nih," kenang Khairil. Ia tak menyerah. Hal yang menguatkan ketika ia mencotoh ekosistem hutan. Di hutan, semua bisa tumbuh dengan baik, tidak perlu pupuk. Ia sudah memperlakukan tanah dengan baik, maka ia yakin tanah akan memberikan yang terbaik.
Rupanya, kesabaran membuahkan hasil. Setelah 2 tahun aplikasi, kebun jeruknya mulai menghasilkan 400kg. Sampai tanaman umur 3 tahun, bisa menghasilkan 2,5 ton/2 hektar. Pada tahun 2019, hasil panen pun stabil.
Tak hanya itu, panen jeruk pun berjalan sepanjang tahun. Para petani yang menggunakan pupuk anorganik dan pestisida hanya bisa panen sekali, hasilnya Rp 35juta-Rp 60 juta sekali panen. Sementara Khairil bisa panen setiap 3 bulan selama satu tahun. Jadi ketika orang lain tidak punya jeruk yang dipanen, Khairil tetap bisa panen. Harga jualnya lebih tinggi karena bukan musim panen.
"Selain itu, rasa jeruknya pun lebih segar, lebih manis," katanya. Bila dilihat, struktur tanah pun lebih gembur dengan pertanian organik. Ia mengatakan, bukan 100% organik, tapi baru 98% organik. Beberapa petani masih menggunakan pupuk kimia sintetis, namun ada pengurangan dari waktu ke waktu.
Menolak Bansos
Kini di samping rumahnya, ada sebuah gubuk kecil yang dibangun oleh PT. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Limau Field. Di sini, puluhan botol cairan agen hayati dan pupuk cair organik diproduksi dan disimpan. Di sini juga menjadi tempat untuk mengadakan pertemuan dan belajar bersama bagi para petani yang ingin mengubah sistem pertaniannya menjadi sistem organik. Khairil senang membagikan ilmunya.
Sementara itu, di samping rumahnya, hamparan kebun jeruk berbuah sepanjang tahun. Tamu yang datang bisa menikmati dan memetik langsung dari kebun. Bulan Juni mendatang, kebun Khairil dibuka menjadi wahana petik buah jeruk. Dari pertanian organik yang bisa memasok jeruk sepanjang tahun, ia bisa membuka usaha wisata petik buah. Ia mendapat pemasukan baru yang berharap bisa dicontoh oleh petani yang lain.
Di samping kebun, ada beberapa ekor kambing sebagai tabungan sekaligus penghasil pupuk. Kambing-kambing itu pun bertambah satu demi satu.
"Pertamina masuk ke Musi Rawas tahun 2018. Saat itu sebenarnya untuk pembuatan embung," kata Khairil. Pertamina memfasilitasi pembangunan embung sebab di kawasan ini terjadi kekeringan bila musim kemarau. Ada beberapa embung dibangun namun sempat terhenti saat Covid.
Sebelum program embung, Pertamina sudah membantu petani jeruk di Air Talas dengan memberikan bantuan bibit jeruk yang tahan CVPD pada tahun 2016. Bibit yang bersertifikat dan unggul sehingga membantu petani dalam budidaya.
Selanjutnya, tahun 2023, ketika melihat kegigihan Khairil, Pertamina pun memberikan dukungan untuk Kelompok Tani Tunas Hijau dalam pengembangan pertanian organik.
"Kami memberi bantuan karena sudah ada inisiatif, tidak dari nol. Sifatnya hanya fasilitator," kata Dedo Kevin Prayoga, Community Development Officer PT. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Limau Field. Dukungan ini menjadi akselerator untuk pengembangan, aktor utama tetap masyarakat sehingga masyarakat menjadi kreatif dan mandiri.
Menurut Dedo, Pertamina memberikan dukungan berupa sosialisasi hingga pembetukan Satgas Pengendalian Hama Terpadu. Juga dalam hal kelembagaan, menfasilitasi pembentukan Kelompok Tunas Hijau yang beranggotakan para petani jeruk.
Kini, menurut perhitungan Khairil, pertumbuhan para petani organik selama setahun sudah mencapai 12 orang dari Khairil sendirian yang bertahan. Dari 12 orang tersebut, beberapa orang pun sudah ada yang menjadi trainer dan menjadi produsen pengendali hayati. Bila dihitung luas kebun semi organik mencapai 28hektar-30hektar.
Hal yang menggembirakan, Khairil pun sudah berani menolak Bansos untuknya sebab ia merasa sudah tidak berhak lagi menerima Bansos. Ia berharap bisa dialihkan pada orang yang lebih membutuhkan.
"Di Air Talas ini angka penerima Bansos tinggi, angka kemiskinan tinggi. Saya berharap pada teman-teman Pertamina, tahun 2024 ini, untuk lebih banyak membuat demplot pertanian organik. Harapannya, bisa menurunkan angka penerima bansos," harap Khairil. Dia sangat percaya bahwa desanya sebenarnya sangat kaya, asal tahu cara mengolah tanahnya.
(mpr/ega)