#30 tag 24jam
Rekomendasi Saham Migas & Batubara Pilihan Mencermati Momentum di Sektor Energi
analis memberikan rekomendasi saham batubara dan migas [902] url asal
#ihsg #produsen-batubara #rekomendasi-saham #emiten-batubara #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 14/10/24 20:49
v/16463766/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga komoditas energi dunia bergerak dengan volatilitas tinggi dalam beberapa pekan ini. Setelah sempat mendaki, harga komoditas minyak dan gas (migas) dan batubara kini berbalik melandai.
Merujuk Trading Economics, Harga West Texas Intermediate (WTI) mengawali pekan ini dengan penurunan sekitar 2% ke level US$ 74 per barel. Sedangkan harga Brent anjlok 1,90% ke posisi US$ 77,5 per barel.
Harga gas alam ikut merosot 2,7% ke level US$ 2.559 per MMBtu. Begitu juga harga batubara yang sempat naik menembus level US$ 150 pada pekan lalu, kini kembali merosot ke area US$ 149,4 per ton.
Volatilitas harga komoditas menular ke laju saham-saham emiten di sektor energi. Di saat mayoritas indeks sektoral menguat, sektor energi justru anjlok 0,77% pada pekan lalu.
Membuka pekan ini, indeks sektor energi justru menanjak 1,04% pada Senin (14/10). Sektor energi pun masih kokoh di puncak, jauh memimpin dengan lonjakan 31,10% secara year to date dibandingkan indeks sektoral yang lain.
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyoroti tiga faktor utama yang saat ini memengaruhi outlook komoditas energi global. Pertama, masih seputar eskalasi geopolitik di Timur Tengah, yang terutama melibatkan Israel vs Iran.
Sentimen ini punya peranan penting lantaran Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia, yang menyumbang sekitar 3 juta barel minyak per hari. Kedua, efek pemangkasan suku bunga terutama dari bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.
Secara teori, pemotongan suku bunga akan mendongkrak ekonomi karena biaya pinjaman yang turun bisa membantu perusahaan untuk menggenjot kinerja.
"Jika perusahaan berjalan dengan baik, maka permintaan energi juga akan meningkat. Dengan tren suku bunga AS turun, diharapkan demand energi akan membaik," kata Liza kepada Kontan.co.id, Senin (14/10).
Ketiga, faktor permintaan energi global, terutama dari China sebagai konsumen utama. Perlambatan ekonomi masih membayangi China meski berulang kali meluncurkan stimulus ekonomi. Stimulus teranyar yang dikucurkan China sejauh ini tampak hanya berdampak sementara mendongkrak harga komoditas logam dan energi.
Research Analyst Phintraco Sekuritas Muhamad Heru Mustofa menambahkan, faktor lain yang berpengaruh terhadap fluktuasi harga minyak adalah Badai Milton yang terjadi di Florida, AS. Di sisi lain, kecenderungan AS untuk menahan Israel agar tidak menyerang fasilitas produksi minyak Iran cukup meredam kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Sementara untuk batubara, ada efek cuaca dari hujan lebat di China yang mengganggu produksi ketika permintaan berpeluang naik. Faktor lainnya, penurunan produksi energi terbarukan sekitar 16%, yang diikuti oleh peningkatan 15% pada pembangkit listrik batubara dalam sepekan terakhir di India.
Mempertimbangkan situasi tersebut, Heru menaksir harga minyak mentah dunia bakal berfluktuasi di rentang US$ 72 - US$ 77 per barel. Namun jika tensi Israel vs Iran memanas, bahkan meluas melibatkan negara lain, maka harga minyak berpotensi melonjak hingga US$ 80 per barel.
Sedangkan harga batubara diperkirakan akan berfluktuasi di area US$ 145 - US$ 155 per ton sampai tutup tahun 2024. "Seiring dengan tingginya permintaan di tengah pasokan yang terganggu," terang Heru.
Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki melihat harga minyak masih menyimpan peluang untuk berfluktuasi pada area US$ 80 - US$ 95 per barel dalam jangka pendek atau hingga akhir tahun 2024, tergantung dari dinamika geopolitik dan data ekonomi global. Sementara harga batubara di kisaran US$ 140 - US$ 160 per ton.
Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memprediksi outlook harga minyak akan bergerak di rentang US$ 71 - US$ 77 per barel. Sukarno menilai harga batubara berpeluang kembali mendaki dengan potensi bertahan di atas level US$ 150 per ton.
Dengan outlook harga tersebut, Sukarno melihat kinerja emiten dan laju saham di sektor energi berpotensi kembali menguat. Adapun, selain efek fluktuasi harga komoditas, pelemahan saham sektor energi pada pekan lalu turut disebabkan aksi profit taking usai kenaikan yang cukup signifikan.
Emil mengamini, pelaku pasar perlu mewaspadai risiko profit taking dan koreksi harga yang lebih besar, jika ada indikasi pelemahan harga dan permintaan, atau perubahan regulasi di sektor energi. Tapi menjelang musim rilis kinerja periode kuartal III-2024, Emil menaksir emiten energi akan membukukan hasil yang cenderung positif.
Heru sepakat, investor bisa mulai mencermati sektor energi menjelang musim rilis laporan keuangan kuartal III-2024. "Kami menilai kinerja emiten sektor energi relatif terjaga bahkan meningkat seiring dengan volatilitas harga komoditas dunia yang terjadi akhir-akhir ini," terang Heru.
Heru memprediksi permintaan terhadap batubara maupun minyak mentah akan meningkat menjelang akhir tahun 2024. Kondisi harga dan pasar komoditas energi belakangan ini juga berpotensi mendongkrak performa emiten energi pada periode semester II-2024.
Heru menyarankan strategi yang bervariasi untuk saham-saham energi. Dia merekomendasikan trading buy saham PT Indika Energy Tbk (INDY). Kemudian buy on support saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Selanjutnya, wait and see pada saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA). Sedangkan Emil menjagokan saham PTBA, PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dengan target harga masing-masing di level Rp 4.100, Rp 1.465 dan Rp 200.
Sukarno menyodorkan saham ADRO, ITMG, HRUM, BUMI dan PTBA untuk emiten batubara. Sementara pada saham migas, Sukarno menyarankan MEDC, ELSA, AKRA dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebagai pilihan jangka pendek.
Skema Pungut Salur Batubara Bakal Menguntungkan Emiten Tambang
sejumlah emiten tambang batubara bakal mendapat berkah dari rencana skema pungut salur batubara [560] url asal
#produsen-batubara #domestic-market-obligation-dmo #dmo-batubara #emiten-batubara #mitra-instansi-pengelola-mip #mitra-instansi-pengelola #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Industri) 14/10/24 19:49
v/16461181/
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Skema pungut salur batubara alias Mitra Instansi Pengelola (MIP) bakal menguntungkan bagi emiten produsen batubara, terutama yang sebagian besar batubara dijual di dalam negeri dengan harga domestic market obligation (DMO).
Beberapa emiten seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) diproyeksikan cetak cuan besar.
Berdasarkan perhitungan Verdhana Sekuritas Indonesia, laba bersih PTBA bakal mencapai US$ 500 juta pada 2025, naik 65% dari proyeksi sebelumnya US$ 305 juta.
Sejalan, laba INDY diproyeksi naik 43% menjadi US$ 172 juta dari US$ 120 juta di tahun depan.
Maklum, kedua produsen emas hitam ini, mayoritas memasok batubara ke pasar domestik sehingga bakal diuntungkan jika MIP diterapkan.
Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra menegaskan Bukit Asam mendukung penuh setiap kebijakan Pemerintah yang bertujuan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan batu bara di dalam negeri.
"Kami berharap agar aturan terkait skema Mitra Instansi Pengelola (MIP) dapat segera disahkan dan memberikan dampak positif bagi kinerja keuangan PTBA," kata Niko kepada KONTAN, Senin (14/10).
Sementara itu, Head of Coorporate Communication PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Ferbiati Nadira menungkapkan bahwa ADRO sebagai perusahaan yang menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), selalu taat dan siap mengikuti peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang ditetapkan, di mana saat ini kami masih menunggu keputusan pemerintah terkait MIP.
"Para pelaku industri mengharapkan diterapkannya harga yang kompetitif demi konservasi cadangan batubara dan ketahanan energi nasional," kata Nadira kepada KONTAN, Senin (14/10).
Senada, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava menyatakan secara keseluruhan penerapan MIP tampak positif bagi, khususnya bagi BUMI yang juga menerapkan DMO.
BUMI optimistis untuk mengalokasikan batubara 70% untuk ekspor dan 30% untuk domestik, termasuk DMO.
Menurut catatan Kontan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target kewajiban pasokan batubara untuk dalam negeri atau DMO pada 2024 lebih besar dibandingkan tahun lalu. Kebutuhan DMO untuk tahun 2024 sebesar 220 juta ton.
Adapun hitung-hitungan Kontan.co.id, jika dibandingkan dengan realisasi DMO di 2023 sebesar 213 juta ton, terjadi kenaikan kewajiban pasokan ke dalam negeri sebesar 7 juta ton atau 3,2% year on year (YoY). Adapun realisasi DMO di 2023 tercatat melampaui prognosa Kementerian ESDM yakni 120% dari targetnya 177 juta ton.
Adapun, kabar terakhir dari Kementerian ESDM menargetkan implementasi Mitra Instansi Pengelola (MIP) Batubara pada tahun ini. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ing Tri Winarno mengatakan, saat ini proses untuk rencana implementasi MIP Batubara masih berjalan.
"Sedikit lagi, satu Kementerian/Lembaga yang belum paraf," kata Tri Winarno di Kementerian ESDM, Jumat (20/9).
Tri Winarno menjelaskan, saat ini hampir sudah tidak ada kendala dalam rencana implementasi MIP Batubara ini. Pihaknya pun mengharapkan regulasi ini bisa segera dijalankan.
"Mudah-mudahan tahun ini," jelas Tri.
Rencana pemerintah dalam menerapkan skema MIP Batubara telah berlangsung untuk waktu yang lama. Skema ini pertama kali diusulkan pada awal 2022 silam untuk mengamankan pasokan batubara domestik. Dua tahun berselang, implementasinya tak kunjung terealisasi.
Berdasarkan draft Peraturan Presiden Republik Indonesia tentang Pemungutan dan Penyaluran Dana Kompensasi Batubara yang diperoleh KONTAN, sejumlah ketentuan terkait mekanisme pungut salut batubara telah disiapkan.
Rekomendasi Saham Emiten Batubara di Tengah Harga yang Kembali Membara
para analis memberikan rekomendasi saham untuk emiten batubara [825] url asal
#produsen-batubara #harga-batubara #rekomendasi-saham #emiten-batubara #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan) 07/10/24 21:24
v/16121625/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga komoditas batubara yang kembali membara menghangatkan prospek kinerja dan laju saham emiten yang bergelut di bisnis komoditas ini. Merujuk Trading Economics, harga batubara melonjak 4,91% dalam sehari dan secara mingguan mengakumulasi kenaikan 7,16% ke level US$ 149,60 per ton.
Lonjakan tersebut tampak menjadi sentimen positif, yang mendongkrak harga mayoritas saham emiten batubara di Bursa Efek Indonesia pada awal pekan ini. Sejumlah emiten pun optimistis momentum kenaikan harga batubara bisa mengerek performa bisnisnya di sisa tahun 2024.
Head of Corporate Communications PT Indika Energy Tbk (INDY) Ricky Fernando menilai harga batubara saat ini masih berada di level yang tinggi, usai berfluktuasi dari posisi puncaknya pada tahun 2022 lalu.
Harga batubara di sisa tahun ini akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama kebijakan energi global, situasi geopolitik dunia, cuaca ekstrem, dan permintaan dari negara-negara seperti China dan India.
Ricky bilang, kenaikan harga batubara bakal memberikan dorongan positif terhadap kinerja bisnis INDY, terutama dari sisi pendapatan.
"Kami akan terus fokus pada efisiensi operasional dan optimalisasi produktivitas untuk mencapai target," kata Ricky kepada Kontan.co.id, Senin (7/10).
Director & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava mengatakan, katalis pendorong harga batubara berasal dari ketegangan geopolitik dan peningkatan permintaan yang terjadi secara musiman. Dengan dinamika global yang terjadi, Dileep menaksir pada kuartal IV-2024 harga batubara dapat stabil di sekitar level saat ini.
Kondisi tersebut berpotensi menumbuhkan kinerja BUMI. "Kenaikan harga batubara hanyalah salah satu faktor. Tetapi harga minyak, regulasi pemerintah dan dinamika pasar juga akan memainkan peran kunci," ungkap Dileep.
BUMI pun bakal mengelola bauran produk dan mengendalikan biaya, sembari mengejar capaian target produksi batubara.
"Tentu saja memperkuat posisi pasar untuk memanfaatkan harga tinggi sebagaimana mestinya," imbuh Dileep.
Sementara itu, Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira menegaskan Adaro tetap menjalankan kegiatan operasional sesuai rencana di tambang-tambang miliknya. ADRO fokus untuk mempertahankan marjin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan.
Adapun, sebagian pelanggan ADRO telah memiliki kontrak jangka panjang. "Kami tetap fokus pada segala sesuatu yang dapat kami kontrol, seperti kontrol operasional untuk memastikan pencapaian target perusahaan dan efisiensi biaya," kata Nadira.
Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty Hafiya menyoroti tiga katalis utama yang mengerek harga batubara. Pertama, efek dari stimulus ekonomi di China sebagai konsumen utama batubara dunia.
Kedua, tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama pada komoditas minyak dan gas. Hal ini mendorong pasar untuk melirik batubara sebagai aset yang lebih aman.
Ketiga, pola musiman, di mana permintaan terhadap batubara biasanya meningkat menjelang musim dingin di akhir tahun. Dengan dorongan dari ketiga faktor ini, Arinda menaksir harga batubara berpotensi lanjut menanjak ke sekitar level US$ 160 per ton hingga tutup tahun 2024.
Dengan estimasi tersebut, kinerja batubara berpotensi naik, sejalan dengan peningkatan pendapatan dan margin keuntungan. Hanya saja, Arinda menyarankan agar pelaku pasar juga mencermati faktor domestik yang bisa memengaruhi prospek emiten batubara.
Terutama datang dari kebijakan pemerintah terkait dengan royalti dan pembentukan Mitra Instansi Pengelola (MIP). Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menambahkan, faktor cuaca khususnya fenomena La Nina juga akan menjadi katalis penting bagi prospek emiten batubara.
La Nia berpotensi menahan tingkat produksi, ketika permintaan berpeluang naik terdorong oleh stimulus ekonomi China dan musim dingin. Dus, secara umum katalis positif cenderung mengiringi emiten batubara. Yaki menaksir indeks Newcastle batubara akan bergerak di rentang US$ 152 - US$ 157 per ton.
Sementara itu, Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani mengingatkan kenaikan harga batubara di indeks Newcastle seringkali tidak sejalan dengan harga acuan Indonesian Coal Index (ICI). Dengan begitu, pelaku pasar perlu mewaspadai sentimen kenaikan harga batubara saat ini bisa jadi hanya berimbas jangka pendek bagi penguatan harga saham emiten.
Gani menyarankan agar selektif memilih saham batubara, dengan melirik emiten yang punya katalisnya sendiri. Seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), BUMI dan INDY yang berpotensi diuntungkan dengan adanya MIP. Kemudian ADRO yang masih diliputi sentimen spin-off anak usahanya.
Sedangkan Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer memprediksi harga batubara berpotensi lanjut menguat dan bertahan di atas level US$ 150 per ton. Dia menyarankan hold saham batubara sambil memperhatikan sinyal teknikal.
Miftahul menyodorkan saham ADRO, BUMI, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM).
Arinda menyematkan rekomendasi buy untuk saham PTBA, ADRO dan ITMG, dengan target harga masing-masing di Rp 3.500, Rp 4.000 dan Rp 27.100. Sementara Yaki merekomendasikan buy ITMG serta hold pada saham ADRO dan PTBA.
Secara teknikal, Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo menjagokan ADRO (support Rp 3.380 - resistance Rp 4.050), ITMG (support Rp 24.400 - resistance Rp 27.350), PTBA (support Rp 2.650 - resistance Rp 3.200) dan BUMI (support Rp 132 - resistance di Rp 150 per saham).
Emiten Batubara Cari Pasar & Sumber Cuan Baru, Cek Rekomendasi Sahamnya
para analis memberikan rekomendasi saham untuk emiten batubara [939] url asal
#produsen-batubara #penjualan-batubara #rekomendasi-saham #emiten-batubara #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 28/08/24 11:56
v/14787879/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten batubara di masa depan diselimuti sejumlah tantangan. Merujuk Reuters (21/8), China dikabarkan memangkas jumlah izin pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru hingga hampir 80%.
China merupakan pembangun PLTU terbesar di dunia, sehingga langkah ini bisa menekan permintaan batubara dalam jangka panjang. Senior Vice President Project Management Office PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Setiadi Wicaksono menyoroti pembatasan penggunaan batubara di negara maju.
Namun situasi ini tak lantas membuat prospek batubara langsung redup. Setiadi meyakini outlook permintaan batubara masih menarik, setidaknya dalam jangka menengah lima tahun ke depan.
Kondisi ini akan merangsang perusahaan batubara untuk menyasar pasar ekspor yang lebih beragam. Setiadi mengatakan, PTBA sudah mencium peluang dari negara berkembang di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan.
"Beberapa potensi ada di negara seperti India, Bangladesh, Pakistan yang menjadi pasar menarik, karena dari sisi demand masih cukup tinggi," terang Setiadi dalam paparan publik, Selasa (27/8).
PTBA juga telah membuka pasar ekspor baru pada kuartal II-2024 ke negara Bangladesh (240.000 ton), Filipina (120.000 ton) dan Jepang (20.000 ton). Meski getol memperluas pasar ekspor, tapi penjualan batubara PTBA masih dominan ke pasar dalam negeri dengan porsi 58% pada semester I-2024.
Sementara itu, Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) Febriati Nadira optimistis prospek batubara masih kokoh. Penopangnya adalah aktivitas pembangunan yang masih ramai di negara Asia.
Namun untuk menjaga keberlanjutan usaha, ADRO mengurangi ketergantungan terhadap batubara termal dengan menggenjot diversifikasi pendapatan.
"Adaro berupaya mengembangkan dan mendiversifikasi bisnis untuk meningkatkan kontribusi dari bidang non-batubara termal dengan berperan aktif dalam proyek mineral dan energi terbarukan," kata Nadira.
Produsen batubara terbesar di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), punya strategi serupa. Direktur & Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava mengatakan pihaknya juga melakukan diversifikasi pasar dan ingin mempercepat aliran pendapatan dari segmen non-batubara.
"Kami percaya adopsi strategi dengan lanskap pasar yang terus berkembang akan meningkatkan ketahanan dan memastikan kinerja berkelanjutan," ujar Dileep.
Secara bersamaan, BUMI akan terus memantau dampak dan perkembangan regulasi yang berpotensi memengaruhi prospek pasar batubara. Terutama dari negara dengan tingkat produksi dan permintaan besar seperti China, India, Australia dan Indonesia.
Dileep mengamati peningkatan produksi batubara dalam negeri di India dan China untuk memenuhi permintaan dari kenaikan kapasitas. Permintaan juga datang dari proyek hilirisasi batubara yang didukung oleh pemerintah melalui insentif. Hilirisasi berjalan secara pararel menambah kapasitas pembangkit energi terbarukan.
Sementara itu, tingkat produksi batubara di Indonesia terus melonjak, dan ditargetkan mencapai lebih dari 900 juta ton pada tahun ini. Dengan jumlah sebesar itu, maka batubara Indonesia pun masih tergantung dengan pasar ekspor.
Dileep mengingatkan, tingkat produksi akan turut memengaruhi pergerakan harga batubara. "Karena surplus saat ini dan stok yang nyaman di China dan India, permintaan berkurang. Ketidakseimbangan permintaan-pasokan dapat memengaruhi pasar," ujar Dileep.
Analis RHB Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengamati transisi dunia untuk beralih ke energi terbarukan masih perlu waktu. Dus, Wafi memprediksi batubara masih punya ruang setidaknya hingga 10 tahun ke depan.
Toh, posisi harga batubara yang saat ini berkisar di level US$ 140 per ton masih berada terbilang tinggi dan menguntungkan. Adapun, trading economics mencatat harga batubara pada Selasa (27/8) naik 0,34% ke posisi US$ 145,70 per ton.
Analyst Stocknow.id Dinda Resty Angira turut melihat rencana China untuk mengurangi pembangunan PLTU baru tidak akan langsung berdampak signifikan. Sebab, PLTU yang sudah beroperasi masih membutuhkan batubara dalam jumlah besar.
PLTU yang sedang dalam tahap pembangunan pun akan memerlukan pasokan batubara, sehingga permintaan akan cenderung stabil dalam beberapa tahun ke depan. Namun secara jangka panjang, pengetatan regulasi di sejumlah negara memang perlu menjadi perhatian para emiten batubara untuk menggenjot diversifikasi.
"Perlu mencari pasar baru atau mengembangkan strategi bisnis yang lebih berkelanjutan. Peningkatan efisiensi operasional, beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan, atau bahkan berinvestasi dalam teknologi baru yang dapat membantu mereka beradaptasi dengan perubahan lanskap energi global," terang Dinda.
Di sisi lain, Dinda mengingatkan potensi koreksi harga batubara masih terbuka, seiring ketidakpastian global yang masih membayangi. Tapi bagi investor jangka pendek, volatilitas harga ini dapat menjadi peluang untuk trading.
Saran dia, selektif memilih saham batubara yang secara valuasi masih menarik, serta fokus pada diversifikasi pendapatan dan pengembangan pasar. Dinda menyematkan rekomendasi buy ADRO dengan target harga di Rp 3.650 - Rp 3.770 dan PTBA untuk target Rp 2.910.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas sepakat, tetap perlu mencermati potensi koreksi harga batubara yang akan memengaruhi harga jual rata-rata alias Average Selling Price (ASP). Sukarno melihat tren harga batubara masih cenderung bergerak sideways setelah sempat menyentuh area resistance US$ 147 per ton.
Sukarno menyarankan untuk memilih saham yang pergerakan harganya masih belum naik terlalu tinggi. Sukarno merekomendasikan trading buy atau hold saham ADRO, PTBA, PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Sementara itu, Wafi menyoroti produksi emiten batubara yang sempat terganjal oleh tertundanya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Dus, pada semester II -2024 ini kinerja produksi emiten batubara berpotensi membaik.
Sebagai rekomendasi, Wafi juga menyarankan strategi trading jangka pendek untuk saham emiten terkait batubara. Wafi menjagokan saham ADRO dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo menilai saham BUMI, ADRO, dan PTBA layak dikoleksi. Untuk saham BUMI cermati support di level harga Rp 76 dan resistance Rp 100, support - resistance ADRO ada di Rp 3.150 - Rp 3.700, dan support PTBA ada di Rp 2.620 dan resistance di Rp 2.880.