Swasembada pangan dan Program makan bergizi gratis Prabowo bisa jadi sentimen yang mampu menyulut kinerja saham serta peningkatan kinerja bisnis emiten unggas. [663] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto yang baru dilantik telah menyampaikan keinginannya untuk swasembada pangan. Akankah saham unggas seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) terkerek sentimen positif ambisi Prabowo tersebut?
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan investor masih mencoba mencermati program swasembada pangan yang digencarkan Prabowo. "Implementasinya seperti apa, ini yang akan menjadi katalis positif bagi emiten unggas sebagai produsen pangan," ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (22/10/2024).
Selain swasembada pangan, Prabowo memang memiliki program lain terkait pangan, yakni makan bergizi gratis, di mana anggarannya sudah disiapkan. Pemerintah sendiri resmi merancang anggaran untuk program makan bergizi gratis pada 2025 sebesar Rp71 triliun atau 0,29% terhadap produk domestik bruto (PDB), sesuai Rancangan Undang-undang (RUU) tentang APBN 2025.
Menurutnya, program makan bergizi gratis tersebut mampu menyulut kinerja saham serta potensi peningkatan kinerja bisnis emiten unggas.
Ditambah sentimen positif lainnya seperti penurunan suku bunga acuan yang mampu memacu pemulihan ekonomi, menurutnya saham unggas seperti JPFA dan CPIN memiliki prospek baik. "Kinerja bottom line juga tumbuh baik, ditopang kinerja penjualan yang naik," jelasnya.
Ia merekomendasikanaccumulative buy untuk JPFA dengan target harga terdekat Rp1.640 per lembar. Lalu, CPIN direkomendasikan add dengan target harga Rp5.200 per lembar.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo juga mengatakan pergerakan harga saham emiten unggas ke depan tersengat oleh program pemerintahan baru, di antaranya program makan bergizi gratis. Program tersebut menurutnya memberikan dampak positif terhadap emiten unggas.
"Program makan bergizi semakin dekat dilaksanakan dan ini menjadi sentimen kenaikan harga saham poultry. Saat ini memang yang menjadi peluang adalah adanya program makan bergizi gratis karena bisa menjadi peningkatan konsumsi pada unggas," ujar Azis kepada Bisnis pada pekan lalu (15/10/2024).
Meski begitu, terdapat pula tantangan yang mesti dihadapi emiten unggas seperti JPFA dan CPIN. "Mengingat masuknya musim hujan, bisa menimbulkan adanya kenaikan harga jagung yang mana ini bisa menyebabkan kenaikan cost perusahaan," tutur Azis.
Adapun, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk salah satu emiten unggas JPFA dengan target harga di level Rp1.680 per lembar.
Meski begitu, dalam dua hari terakhir setelah bergulirnya pemerintahan baru, harga saham JPFA dan CPIN jeblok. Berdasarkan data RTI Business, harga saham JPFA turun 1,87% ke level Rp1.575 per lembar pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (22/10/2024). Harga saham JPFA juga turun 2,17% dalam sepekan terakhir.
Kemudian, harga saham CPIN turun turun 1,19% ke level Rp4.990 pada perdagangan hari ini. Meskipun, harga saham CPIN tetap naik 0,4% dalam sepekan terakhir.
JPFA
Swasembada Pangan
Sebagaimana diketahui, pemerintahan baru memang tengah bergeliat mendorong swasembada pangan yang harus diwujudkan dalam 5 tahun masa kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto.
“Kita harus mampu memproduksi kebutuhan pangan seluruh Rakyat Indonesia, saya sudah mempelajari bersama pakar-pakar yang membantu saya. Saya yakin paling lambat 4-5 tahun kita akan swasembada pangan,” kata Prabowo di Kompleks Parlemen RI saat pelantikannya pada akhir pekan lalu (20/10/2024).
Bahkan, Prabowo optimistis dapat membawa Indonesia menjadi pusat lumbung pangan dunia. Swasembada pangan harus diwujudkan untuk melindungi ketahanan pangan RI baik di tengah kondisi krisis yang siap mengadang kapanpun.
“Indonesia harus segera swasembada pangan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tak boleh tergantung pada sumber makanan dari luar. Dalam krisis, dalam keadaan genting, tak ada yang akan mengizinkan barang-barang mereka untuk kita beli. Karena itu, tak ada jalan lain dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kita harus mencapai ketahanan pangan,” tegasnya.
Pada pemerintahan baru ini pun terdapat kementerian koordinator baru khusus pangan, yakni Kementerian Koordinator Pangan yang secara resmi dipimpin oleh Zulkifli Hasan.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten unggas PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) berencana membagikan dividen interim tunai tahun buku 2024 senilai Rp813,93 miliar pada akhir bulan ini. Bagaimana prospek sahamnya seiring dengan tebaran dividen interim tersebut?
Berdasarkan keterbukaan informasi, Manajemen Japfa menjelaskan dividen interim itu mengacu pada keputusan direksi perseroan yang disetujui oleh dewan komisaris pada 9 Oktober 2024.
“Perseroan akan membagikan dividen interim tunai tahun buku 2024 dengan jumlah Rp813.936.893.070 atau Rp70 per saham,” tulis manajemen Japfa dalam keterbukaan informasi, dikutip Sabtu (12/10/2024).
Dividen interim tunai itu bersumber dari laba bersih JPFA pada periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2024. Pada semester I/2024, laba bersih JPFA meroket 1.704% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1,47 triliun.
Dengan demikian, rasio pembagian dividen interim JPFA setara dengan sekitar 55% dari laba bersih periode enam bulan pertama 2024.
Japfa menjadwalkan cum dividen interim di pasar reguler dan negosiasi pada 21 Oktober 2024 dan di pasar tunai pada 23 Oktober 2024. Selanjutnya, ex dividen interim JPFA dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2024 untuk pasar reguler dan negosiasi, serta 24 Oktober 2024 di pasar tunai.
JPFA akan melaksanakan pencatatan (recording date) pemegang saham yang berhak menerima dividen interim pada 23 Oktober 2024. Adapun, pembayaran dividen interim akan berlangung pada 29 Oktober 2024.
Seiring dengan tebaran dividen interim, harga saham JPFA sedang dalam tren penguatan. Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (11/10/2024), harga saham JPFA memang turun 1% ke level Rp1.490 per lembar. Namun, harga saham JPFA masih menguat 3,11% dalam sepekan perdagangan.
Harga saham JPFA pun masih di zona hijau, atau menguat 26,27% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan pada momen tebaran dividen, saham emiten biasanya akan terkonsolidasi. Sementara, menurutnya penguatan saham di JPFA didorong oleh sentimen positif dari kebijakan pemerintah, makan bergizi gratis.
"Inflow akan masuk. Pasar menunggu realisasi program stimulus dari pemerintah yaitu makan bergizi gratis," ujarnya kepada Bisnis pada pada beberapa waktu lalu.
Menurutnya, program tersebut akan mampu mendongkrak konsumsi domestik. "Ini dalam rangka stock domestic consumption melalui government spending," tuturnya.
Tim Riset Samuel Sekuritas juga menilai emiten unggas sepert JPFA masih prospektif karena mendapatkan sentimen positif dari kebijakan pemerintah terkait makan bergizi gratis.
Namun, memasuki paruh kedua 2024, harga ayam hidup dan penguasaan bibit ayam atau day old chicken (DOC) mengalami penurunan. Kemudian, untuk bahan baku, harga jagung domestik naik, terutama karena curah hujan sedang di luar Jawa, yang dapat memengaruhi hasil panen.
"Ke depannya, kami mengantisipasi kenaikan lebih lanjut pada harga bahan baku, didorong oleh musim hujan dan potensi efek La Nina," tulis Tim Riset Samuel Sekuritas pada bulan lalu (25/9/2024).
La Nina memang bisa berdampak pada penurunan produksi jagung yang signifikan sehingga harga bahan baku bagi emiten unggas ini naik.
Samuel Sekuritas sendiri merekomendasikanbuy untuk JPFA dengan target harga Rp1.910.
Berdasarkan data Bloomberg, konsensus analis menunjukan bahwa sebanyak 14 sekuritas menyematkan rekomendasi beli untuk JPFA. Satu sekuritas merekomendasikan hold dan satu sekuritas merekomendasikan sell. Target harga saham JPFA berada di level Rp1.916,67 dalam 12 bulan ke depan.
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA – Program makan bergizi gratis yang diusung presiden terpilih Prabowo Subianto ditaksir menelan biaya jumbo per harinya. Di tengah rencana tersebut, bagaimana prospek emiten unggas ke depan?
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengungkapkan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan menelan anggaran Rp1,2 triliun per hari atau Rp400 triliun per tahun, dengan target penerima manfaat 82,9 juta jiwa.
“Kalau ini jalan, MBG spending [belanja] harian Rp1,2 triliun. Ini uang yang tidak sedikit," ujar Dadan dalam acara BNI Investor Daily Summit di Jakarta, Selasa (8/10/2024).
Secara terperinci, dia menuturkan bahwa 75% dari Rp1,2 triliun atau sekitar Rp800 miliar akan digunakan untuk intervensi makan gratis anak-anak sekolah. Adapun 85% dari Rp800 miliar bakal digunakan untuk membeli bahan baku makanan.
Sementara itu, dalam kesempatan sebelumnya, Senior Equity Analyst Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi memandang bahwa program tersebut mencakup dua hal utama, yakni makan bergizi gratis dan ketahanan pangan.
Terkait konteks ketahanan pangan, Yosua menyatakan bahwa industri unggas atau poultry perlu mendapatkan perhatian penuh karena merupakan salah satu sumber protein termurah di dunia, tak terkecuali Indonesia.
“Industri ini seharusnya menjadi fokus perhatian pemerintah, baik dari hulu hingga hilir, mulai dari bahan baku pakan seperti jagung dan kedelai, yang perlu diawasi ketat dan diberikan stimulus oleh pemerintah,” ujarnya dalam diskusi daring beberapa waktu lalu.
Menurutnya, dengan adanya stimulus dari pemerintah, industri unggas akan berkembang dan secara simultan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Di samping itu, kata Yosua, jika program makan bergizi gratis dijalankan sepenuhnya maka kemungkinan besar menu utama yang disajikan adalah ayam dan telur karena keduanya merupakan sumber protein dengan harga terjangkau.
“Karena keduanya merupakan sumber protein yang terjangkau dan sehat, ini tentunya akan mendukung perkembangan industri unggas di masa mendatang,” ucapnya.
Sebagai gambaran, baik CPIN maupun JPFA masing-masing membukukan pendapatan sebesar Rp61,61 triliun dan Rp51,17 triliun sepanjang tahun lalu.
Tidak hanya dari segi pendapatan, kapitalisasi pasar kedua emiten tersebut juga cukup mumpuni. Pada penutupan perdagangan Rabu (9/10/2024), kapitalisasi pasar CPIN tercatat sebesar Rp79,53 triliun dan JPFA mencapai Rp17,12 triliun.
Namun, sepanjang tahun berjalan (year to date/Ytd), kinerja saham keduanya memperlihatkan hasil berbeda. Saham JPFA tercatat meningkat 23,73% YtD, sedangkan saham CPIN membukukan koreksi sebesar 3,48% YtD.
___________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.