Bisnis.com, JAKARTA – Emiten perunggasan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) diproyeksi mengantongi kenaikan laba sesudah penurunan per kuartal III/2024. Menghadapi pergantian tahun, CPIN juga diprediksi mengalami perbaikan margin pada 2025.
Saham CPIN ditutup menguat 1,43% ke level Rp4.960 per saham hingga Senin (4/11/2024). Dalam sepekan terakhir, banderol tersebut meleah 2,83%, dan secara year to date (YtD) koreksi tercatat sebesar 0,90%.
Swasembada pangan dan Program makan bergizi gratis Prabowo bisa jadi sentimen yang mampu menyulut kinerja saham serta peningkatan kinerja bisnis emiten unggas. [663] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto yang baru dilantik telah menyampaikan keinginannya untuk swasembada pangan. Akankah saham unggas seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) terkerek sentimen positif ambisi Prabowo tersebut?
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan investor masih mencoba mencermati program swasembada pangan yang digencarkan Prabowo. "Implementasinya seperti apa, ini yang akan menjadi katalis positif bagi emiten unggas sebagai produsen pangan," ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (22/10/2024).
Selain swasembada pangan, Prabowo memang memiliki program lain terkait pangan, yakni makan bergizi gratis, di mana anggarannya sudah disiapkan. Pemerintah sendiri resmi merancang anggaran untuk program makan bergizi gratis pada 2025 sebesar Rp71 triliun atau 0,29% terhadap produk domestik bruto (PDB), sesuai Rancangan Undang-undang (RUU) tentang APBN 2025.
Menurutnya, program makan bergizi gratis tersebut mampu menyulut kinerja saham serta potensi peningkatan kinerja bisnis emiten unggas.
Ditambah sentimen positif lainnya seperti penurunan suku bunga acuan yang mampu memacu pemulihan ekonomi, menurutnya saham unggas seperti JPFA dan CPIN memiliki prospek baik. "Kinerja bottom line juga tumbuh baik, ditopang kinerja penjualan yang naik," jelasnya.
Ia merekomendasikanaccumulative buy untuk JPFA dengan target harga terdekat Rp1.640 per lembar. Lalu, CPIN direkomendasikan add dengan target harga Rp5.200 per lembar.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo juga mengatakan pergerakan harga saham emiten unggas ke depan tersengat oleh program pemerintahan baru, di antaranya program makan bergizi gratis. Program tersebut menurutnya memberikan dampak positif terhadap emiten unggas.
"Program makan bergizi semakin dekat dilaksanakan dan ini menjadi sentimen kenaikan harga saham poultry. Saat ini memang yang menjadi peluang adalah adanya program makan bergizi gratis karena bisa menjadi peningkatan konsumsi pada unggas," ujar Azis kepada Bisnis pada pekan lalu (15/10/2024).
Meski begitu, terdapat pula tantangan yang mesti dihadapi emiten unggas seperti JPFA dan CPIN. "Mengingat masuknya musim hujan, bisa menimbulkan adanya kenaikan harga jagung yang mana ini bisa menyebabkan kenaikan cost perusahaan," tutur Azis.
Adapun, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk salah satu emiten unggas JPFA dengan target harga di level Rp1.680 per lembar.
Meski begitu, dalam dua hari terakhir setelah bergulirnya pemerintahan baru, harga saham JPFA dan CPIN jeblok. Berdasarkan data RTI Business, harga saham JPFA turun 1,87% ke level Rp1.575 per lembar pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (22/10/2024). Harga saham JPFA juga turun 2,17% dalam sepekan terakhir.
Kemudian, harga saham CPIN turun turun 1,19% ke level Rp4.990 pada perdagangan hari ini. Meskipun, harga saham CPIN tetap naik 0,4% dalam sepekan terakhir.
JPFA
Swasembada Pangan
Sebagaimana diketahui, pemerintahan baru memang tengah bergeliat mendorong swasembada pangan yang harus diwujudkan dalam 5 tahun masa kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto.
“Kita harus mampu memproduksi kebutuhan pangan seluruh Rakyat Indonesia, saya sudah mempelajari bersama pakar-pakar yang membantu saya. Saya yakin paling lambat 4-5 tahun kita akan swasembada pangan,” kata Prabowo di Kompleks Parlemen RI saat pelantikannya pada akhir pekan lalu (20/10/2024).
Bahkan, Prabowo optimistis dapat membawa Indonesia menjadi pusat lumbung pangan dunia. Swasembada pangan harus diwujudkan untuk melindungi ketahanan pangan RI baik di tengah kondisi krisis yang siap mengadang kapanpun.
“Indonesia harus segera swasembada pangan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tak boleh tergantung pada sumber makanan dari luar. Dalam krisis, dalam keadaan genting, tak ada yang akan mengizinkan barang-barang mereka untuk kita beli. Karena itu, tak ada jalan lain dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kita harus mencapai ketahanan pangan,” tegasnya.
Pada pemerintahan baru ini pun terdapat kementerian koordinator baru khusus pangan, yakni Kementerian Koordinator Pangan yang secara resmi dipimpin oleh Zulkifli Hasan.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA – Sederet emiten seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) terlempar dari indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) Global Equity Indonesia untuk kelompok kapitalisasi jumbo atau large cap.
Sebagaimana diketahui, FTSE Russell telah merombak penghuni Indeks FTSE Global Equity Indonesia dalam semi-annual review September 2024. Dari kelompok large cap, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) milik Prajogo Pangestu masuk.
Masuknya BRIS dan BREN kemudian menggeser saham-saham yang sebelumnya menempati kelompok kapitalisasi jumbo di indeks FTSE, yakni GOTO, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP) hingga PT United Tractors Tbk. (UNTR). Deretan emiten itu pun kemudian turun kasta ke kategori mid cap.
Kapitalisasi pasar saham GOTO dan CPIN masing-masing Rp63,67 triliun serta Rp82,4 triliun.
Adapun, kapitalisasi pasar KLBF, HMSP, dan UNTR masing-masing mencapai Rp80,63 triliun, Rp87,82 triliun, dan Rp100,43 triliun.
Kapitalisasi deretan saham itu kalah dibandingkan dengan kapitalisasi pasar BREN yang menyentuh Rp1.264,26 triliun serta BRIS Rp124,55 triliun.
Seiring dengan turun kastanya GOTO, saham emiten teknologi ini mencatatkan penurunan harga saham 1,85% dalam sepekan perdagangan dan ditutup di level Rp53 per lembar pada akhir pekan ini, Jumat (23/8/2024).
Analis NH Korindo Richard Jonathan Halim menilai saham GOTO memang memiliki tantangan berupa fluktuasi pasar, persaingan yang sangat ketat, dan regulasi dalam negeri yang kontraproduktif serta kesalahan eksekusi strategi dalam integrasi antar ekosistem.
Meski begitu, NH Korindo merekomendasikan maintain buy untuk GOTO dengan menyesuaikan target harga di level Rp77. Menurut Richard, GOTO telah mencatatkan hasil yang solid pada kuartal II/2024, dengan menurunkan rugi bersih menjadi Rp1,83 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,29 triliun.
"Nilai transaksi bruto [gross transaction value/GTV] Grup pada kuartal II/2024 juga tumbuh 20% yoy [year on year] mencapai Rp121,58 triliun," tulis Richard dalam risetnya pada beberapa waktu lalu.
Selain GOTO, CPIN mencatatkan penurunan harga saham 2,43% dalam sepekan perdagangan ke level Rp5.025.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan sebenarnya CPIN sebagai emiten perunggasan mendapatkan dorongan dari program makan bergizi gratis.
"Program makan bergizi gratis akan mendorong domestic consumption. Mendorong perekonomian agar stabil," kata Nafan kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.
Ia merekomendasikan accumulative buy untuk CPIN dengan target harga di level Rp5.300.
Sementara, KLBF, HMSP, dan UNTR masing-masing mencatatkan kinerja moncer sahamnya pada perdagangan sepekan terakhir. Harga saham KLBF naik 4,24% dalam sepekan ke level Rp.1720.
HMSP mencatatkan peningkatan harga saham 13,53% dalam sepekan ke level Rp755. Lalu, harga saham UNTR naik 7,38% dalam sepekan perdagangan ke level Rp26.925.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.