Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Okki Rushartomo Budiprabowo menilai, penggunaan credit scoring dapat berimplikasi positif terhadap kualitas KUR yang disalurkan perbankan.
"Kami menyambut baik rencana penerapan credit scoring yang diharapkan dapat meningkatkan akurasi dan mengakselerasi penyaluran KUR," ujar dia kepada Kompas.com, dikutip Senin (28/10/2024).
Lebih lanjut Okki bilang, BNI sendiri sebenaranya telah memanfaatkan sistem scoring yang secara rutin dikalibrasi untuk memastikan analisis kredit dalam menyalurkan kredit ke segmen UMKM, khususnya lewat KUR.
Sistem tersebut diharapkan lebih efektif dalam menilai risiko dan kelayakan debitur melalui pemanfaatan model statistik disertai data pendukung lain yang relevan.
"Dengan implementasi scoring system ini, proses pengambilan keputusan kredit menjadi lebih efisien tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang kuat," tutur Okki.
"Penggunaan scoring system BNI yang dikalibrasi secara berkala diharapkan dapat menjaga kualitas kredit yang disalurkan," sambungnya.
Adapun untuk menjaga rasio NPL tetap terkendali, bank pelat merah itu akan tetap mengkombinasikan penggunaan skema credit scoring dengan monitoring yang ketat serta evaluasi berkala terhadap portofolio kredit.
"Pendampingan yang berkelanjutan bagi debitur KUR juga akan terus dilakukan guna memastikan bahwa mereka mampu mengelola kewajiban pembayaran kredit secara tepat waktu," ucapnya.
Sebagai informasi, sampai dengan 30 September 2024, BNI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 10,2 triliun kepada lebih dari 45.000 debitur.
Sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop UKM, Yulius mengatakan, pihaknya telah melaksanakan pilot project dengan menggunakan data debitur KUR dari berbagai bank umum untuk melihat efektivitas skema credit scoring ini.
Yulius menyebut, uji coba ini akan membutuhkan waktu 6 bulan untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta melibatkan 72.000 nasabah dari tiga bank.
Selain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang menjadi bank terbesar penyalur KUR, diperkirakan ada dua bank pelat merah lainnya yang melaksanakan proses tahap uji coba ini, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
"Kami sudah lakukan (pilot project) menggunakan data debitur yang mengakses kredit produktif dari bank secara umum yang bersumber dari lembaga informasi biro kredit. Di mana hasilnya, terjadi penambahan 5 persen debitur yang disetujui dengan menggunakan Innovative Credit Scoring," ungkap Yulius, dilansir dari Kontan.
Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Okki Rushartomo Budiprabowo menilai, penggunaan credit scoring dapat berimplikasi positif terhadap kualitas KUR yang disalurkan perbankan.
"Kami menyambut baik rencana penerapan credit scoring yang diharapkan dapat meningkatkan akurasi dan mengakselerasi penyaluran KUR," ujar dia kepada Kompas.com, dikutip Senin (28/10/2024).
Lebih lanjut Okki bilang, BNI sendiri sebenaranya telah memanfaatkan sistem scoring yang secara rutin dikalibrasi untuk memastikan analisis kredit dalam menyalurkan kredit ke segmen UMKM, khususnya lewat KUR.
Sistem tersebut diharapkan lebih efektif dalam menilai risiko dan kelayakan debitur melalui pemanfaatan model statistik disertai data pendukung lain yang relevan.
"Dengan implementasi scoring system ini, proses pengambilan keputusan kredit menjadi lebih efisien tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang kuat," tutur Okki.
"Penggunaan scoring system BNI yang dikalibrasi secara berkala diharapkan dapat menjaga kualitas kredit yang disalurkan," sambungnya.
Adapun untuk menjaga rasio NPL tetap terkendali, bank pelat merah itu akan tetap mengkombinasikan penggunaan skema credit scoring dengan monitoring yang ketat serta evaluasi berkala terhadap portofolio kredit.
"Pendampingan yang berkelanjutan bagi debitur KUR juga akan terus dilakukan guna memastikan bahwa mereka mampu mengelola kewajiban pembayaran kredit secara tepat waktu," ucapnya.
Sebagai informasi, sampai dengan 30 September 2024, BNI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 10,2 triliun kepada lebih dari 45.000 debitur.
Sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop UKM, Yulius mengatakan, pihaknya telah melaksanakan pilot project dengan menggunakan data debitur KUR dari berbagai bank umum untuk melihat efektivitas skema credit scoring ini.
Yulius menyebut, uji coba ini akan membutuhkan waktu 6 bulan untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta melibatkan 72.000 nasabah dari tiga bank.
Selain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang menjadi bank terbesar penyalur KUR, diperkirakan ada dua bank pelat merah lainnya yang melaksanakan proses tahap uji coba ini, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
"Kami sudah lakukan (pilot project) menggunakan data debitur yang mengakses kredit produktif dari bank secara umum yang bersumber dari lembaga informasi biro kredit. Di mana hasilnya, terjadi penambahan 5 persen debitur yang disetujui dengan menggunakan Innovative Credit Scoring," ungkap Yulius, dilansir dari Kontan.
Sebagian masyarakat kerap penasaran jika punya pinjaman online apakah bisa pinjam di Bank BRI? Anda tentu perlu memahami ketentuannya sebelum ajukan pinjaman. [332] url asal
IDXChannel – Sebagian masyarakat kerap penasaran jika punya pinjaman online apakah bisa pinjam di Bank BRI? Anda tentu perlu memahami ketentuannya sebelum mengajukan pinjaman.
Pasalnya, ketika mengajukan pinjaman ke bank, salah satu hal yang kerap menjadi perhatian adalah riwayat kredit atau pinjaman yang pernah diambil, termasuk pinjaman online.
Riwayat kredit ini tercatat pada Sistem Layanan Informasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK), dahulu BI Checking. Dalam sistem ini, data pinjaman kita, termasuk bank dan perusahaan pembiayaan seperti pinjaman online akan tercatat.
Tak heran, jika banyak orang pun kerap bertanya-tanya, jika punya pinjaman online apakah bisa pinjaman di Bank BRI? Agar tidak bingung, berikut ini IDXChannel mengupas lebih lanjut mengenai ketentuannya.
Punya Pinjaman Online Apakah Bisa Pinjam di Bank BRI?
Pada dasarnya, tidak ada ketentuan khusus mengenai nasabah dengan pinjaman online yang tidak bisa mengajukan pinjaman di Bank BRI. Nasabah yang mempunyai pinjaman di platform pinjaman online tetap bisa mengajukan pinjaman di Bank BRI asal sesuai dengan syarat dari masing-masing jenis pinjaman.
Meski begitu, nasabah yang bisa mengajukan pinjaman di Bank BRI tentunya harus memiliki riwayat kredit yang baik. Dalam hal ini, nasabah perlu memiliki skor kredit yang baik di SLIK OJK. dan tidak terlambat atau gagal dalam pembayaran. Sebab, hal ini akan menjadi salah satu pertimbangan apakah pengajuan pinjaman Anda disetujui atau tidak.
Setiap bank termasuk Bank BRI akan melihat riwayat kredit calon nasabahnya saat memproses permohonan pinjaman. Bank juga bisa menolak pengajuan kredit Anda jika riwayat kredit Anda buruk dan Anda dianggap berisiko. Termasuk jika Anda memiliki catatan kredit yang buruk terhadap pinjaman online Anda sebelumnya. Apalagi, jika calon debitur sudah masuk blacklist BI Checking, maka bank tidak akan menerima pengajuan pinjaman.
Meski demikian, calon debitur yang sudah melunasi seluruh cicilan mereka, termasuk bunga dan denda, maka Bank BRI bisa menerima pengajuan kredit Anda. Jadi, secara tidak langsung pinjaman online memang memengaruhi pinjaman di Bank BRI dan lembaga keuangan lainnya.
Itulah penjelasan mengenai apakah punya pinjaman online bisa pinjam di Bank BRI atau tidak. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda.
Generasi milenial dan Gen Z perlu bijak mengelola keuangan. Temukan tips efektif untuk anggaran, menabung, dan pentingnya skor kredit. [1,054] url asal
Bijak dalam mengelola keuangan merupakan hal yang perlu dilakukan oleh setiap orang, termasuk generasi milenial dan gen Z. Sebab hal itu mampu mendorong terciptanya pondasi finansial yang kuat untuk masa depan.
Untuk membantu generasi muda, Shopee pun berbagi tips mengatur keuangan Berikut ini beberapa cara mengatur keuangan secara efektif yang bisa diterapkan:
1. Mengalokasikan Budget untuk Pengeluaran Bulanan
Supaya kamu bisa lebih mudah mengontrol pengeluaran, pastikan untuk mengalokasikan budget tersendiri dari hasil pendapatan agar bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebagai contoh, untuk belanja kebutuhan pokok dan bahan makanan, biaya transportasi, dan kebutuhan lainnya. Dengan cara ini, kamu pun bisa memastikan bahwa biaya yang dikeluarkan tidak melebihi anggaran pengeluaran yang kamu tentukan.
Selain itu, mulailah untuk menjadwalkan pembayaran pada tanggal yang sama setiap bulannya untuk berbagai kebutuhan yang bersifat rutin, seperti tagihan air, biaya internet dan listrik, tagihan pulsa, dan sebagainya.
Jadi, kamu bisa mengontrol pengeluaranmu untuk memenuhi kebutuhan yang prioritas terlebih dahulu. Kamu juga bisa mulai untuk mencatat setiap pengeluaran dalam setiap bulan. Tujuannya agar kamu bisa mengidentifikasi alokasi budget itu paling banyak digunakan untuk keperluan atau area apa saja.
2. Menyisihkan Uang untuk Menabung dan Berinvestasi
Menabung dan berinvestasi adalah salah satu cara mengelola keuangan yang bisa kamu aplikasikan untuk kebutuhan jangka panjang. Pastikan untuk menyisihkan sebagian uang dari penghasilanmu untuk ditabung atau dijadikan modal investasi agar masa depan finansialmu menjadi lebih baik dan stabil.
3. Menyiapkan Dana Darurat
Mungkin masih banyak anak muda yang belum paham betapa pentingnya dana darurat. Padahal, dana darurat bisa menjaga keamanan finansial. Oleh karena itu, pastikan untuk menyisihkan sebagian gajimu sebagai dana darurat yang mampu menutupi biaya hidup selama tiga sampai enam bulan.
Jadi, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membutuhkan banyak pengeluaran, kamu sudah memiliki cadangan dana yang bisa digunakan.
4. Belanja dengan Bijak
Selain itu, agar kamu bisa mencapai tujuan finansial dengan mudah, mulailah untuk lebih bijak dalam berbelanja. Pastikan untuk membeli barang hanya yang sesuai dengan kemampuan.
Tentukan apa saja yang merupakan kebutuhan atau hanya sekedar keinginan saja. Luangkanlah waktu untuk menghitung dan menetapkan anggaran belanja setiap bulannya.
Melalui cara ini, kamu bisa menghindari keinginan belanja impulsif. Sehingga kamu tidak akan lagi menghabiskan banyak uang untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Uang tersebut bisa kamu simpan untuk hal lain yang lebih berguna dan prioritas. Selain itu saat berbelanja, mulailah sering-sering mencari promo dan penawaran terbaik karena akan lebih menguntungkan, misalnya promo diskon, cashback belanja, buy 1 get 1, dan lainnya.
5. Mengantisipasi Keperluan Mendesak
Pastinya kamu pernah dihadapkan dengan kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi, namun kamu tidak ingin mengganggu budget pengeluaran bulanan. Nah, salah satu solusi tepat yang bisa dilakukan yakni dengan memanfaatkan paylater.
Metode pembayaran beli sekarang bayar nanti ini bisa membantu kamu dalam memenuhi kebutuhan mendadak yang tak terduga, sekaligus menjaga kesehatan finansial. Dengan menggunakan paylater, kamu bisa mencicil pembayaran setiap bulannya sesuai dengan kebutuhanmu.
Jadi, kamu tidak perlu khawatir jika tabungan atau gajimu langsung habis terpakai. Tapi, pastikan untuk selalu memperhatikan limit maksimal cicilan paylater agar tidak melebihi pendapatan ya!
Selain itu, jangan lupa juga untuk membayar tagihan tepat waktu dan bijak dalam memilih penyedia layananpaylater sehingga kamu pun bisa memiliki skor kredit yang baik. Lantas, apa sebenarnya manfaat dari skor kredit yang baik dalam pengelolaan finansial? Simak informasi berikut yuk.
Manfaat Skor Kredit yang Baik dalam Mengelola Keuangan
Seperti yang sudah disebutkan di atas, salah satu cara mengelola keuangan adalah mengantisipasi adanya kebutuhan mendesak dan memanfaatkan paylater alias metode pembayaran Beli Sekarang Bayar Nanti. Namun perlu diingat, menggunakan paylater harus dibarengi dengan tanggung jawab dan komitmen untuk selalu membayar tepat waktu, agar bisa memelihara skor kredit tetap baik.
Lalu apa itu skor kredit? Skor kredit adalah angka numerik yang mencerminkan seberapa baik kamu mengelola kredit dan utang. Semakin tinggi skor kredit, semakin baik pula persepsi lembaga keuangan terhadap kredibilitas kamu sebagai peminjam.
Skor kredit yang baik sangat penting dan berdampak pada kemampuan kamu para anak muda untuk mendapatkan pinjaman di masa mendatang, tidak hanya dengan bank, tetapi di seluruh platform pemberi pinjaman. Jika memiliki skor kredit yang baik, kamu akan lebih leluasa mengelola rencana keuangan jangka panjang.
Misalnya saja membeli rumah, membeli mobil, mendapatkan pinjaman dengan bunga lebih rendah, mendapat tawaran kartu kredit yang lebih menguntungkan, hingga memanfaatkan kredit untuk modal usaha, semua itu bisa lebih mudah kamu lakukan jika memiliki skor kredit yang baik.
Dengan kata lain, menjaga riwayat kredit atau skor kredit yang baik bagi anak muda, bukan hanya tentang mengelola keuangan di masa kini, tetapi juga tentang membuka peluang finansial kamu di masa depan.
Nah, penyedia layanan paylater yang bisa membantu kamu mengelola keuangan serta menjaga riwayat kredit atau skor kredit yang baik adalah SPayLater. Salah satu keunggulan utama SPayLater untuk mengelola keuangan adalah kemudahan dalam mengelola cicilan, karena SPayLater memiliki struktur pembayaran yang jelas dan memberikan pengguna fleksibilitas dalam memilih tenor cicilan.
SPayLater juga akan memberikan notifikasi pengingat terkait waktu jatuh tempo pembayaran yang bisa membantu kamu menghindari keterlambatan pembayaran. Tidak hanya itu, SPayLater juga menawarkan berbagai promo mulai dari potongan harga hingga kesempatan memenangkan hadiah menarik.
Khusus di periode 17 September hingga 17 November 2024, kamu bisa menikmati cicilan 0% hingga 6 bulan di SPayLater. Selain itu, keuntungan bertransaksi dengan SPayLater adalah bebas biaya penanganan.
Jadi gimana, sudah paham kan cara mengelola keuangan dan pentingnya memiliki skor kredit yang baik? Kamu bisa memanfaatkan metode pembayaran paylater sebagai salah satu cara mengelola keuangan, tentu dengan tanggung jawab untuk selalu membayar tepat waktu.
Yuk, kelola keuangan kamu dengan bijak demi meraih kestabilan finansial yang diimpikan!
IDXChannel – Apakah pinjaman online memengaruhi pinjaman di bank BRI? Banyak orang masih bingung mengenai hal ini.
Seperti diketahui, riwayat kredit kita ketika melakukan pinjaman, baik online maupun konvensional akan terekam dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK).
Dalam SLIK OJK, data kredit dan informasi terkait riwayat pinjaman seseorang atau badan usaha dari berbagai lembaga keuangan, termasuk bank dan perusahaan pembiayaan seperti pinjaman online akan tercatat. Hal inilah yang nantinya menjadi dasar bagi peminjam jika ingin mengajukan pinjaman di lembaga keuangan lain, termasuk bank.
Lantas, apakah pinjaman online memengaruhi pinjaman di Bank BRI? Untuk mengetahui jawabannya, Anda bisa menyimak ulasan lengkap IDXChannel sebagai berikut.
Apakah Pinjaman Online Memengaruhi Pinjaman di Bank BRI?
Pada dasarnya, pinjaman online tidak secara langsung memengaruhi pinjaman di Bank BRI. Nasabah yang masih memiliki pinjaman di platform pinjaman online, bisa mendapatkan pinjaman di Bank BRI asalkan jenis pinjaman yang diambil hanya jenis konsumtif saja.
Meski demikian, nasabah yang akan mengajukan pinjaman di Bank BRI harus memiliki riwayat kredit yang baik. Jika nasabah mengambil pinjaman online dari lembaga yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan tidak terlambat atau gagal dalam pembayaran dan memiliki riwayat kredit yang baik, maka hal ini akan membantu Anda untuk memperoleh pinjaman.
Pasalnya, setiap bank termasuk Bank BRI akan melihat riwayat kredit ini saat memproses permohonan pinjaman. Bank juga bisa menolak pengajuan kredit Anda jika riwayat kredit Anda buruk dan Anda dianggap berisiko.
Dalam hal ini, bank tentunya tidak akan memberikan kredit pada calon debitur yang memiliki riwayat kredit buruk atau kredit macet. Apalagi, jika calon debitur sudah masuk blacklist BI Checking, maka bank tidak akan menerima pengajuan pinjaman.
Meski demikian, jika calon debitur sudah melunasi seluruh cicilan mereka, termasuk bunga dan denda, maka Bank BRI bisa menerima pengajuan kredit Anda. Jadi, secara tidak langsung pinjaman online memang memengaruhi pinjaman di Bank BRI dan lembaga keuangan lainnya.
Pengajuan kredit debitur dengan skor kredit kolektibilitas 2 dapat disetujui ataupun ditolak, tergantung pada kebijakan masing-masing bank. [321] url asal
IDXChannel—Apakah KOL 2 masih bisa mendapatkan kredit baru? Pengajuan kredit debitur dengan skor kredit kolektibilitas 2 dapat disetujui ataupun ditolak, tergantung pada kebijakan masing-masing bank.
Saat calon debitur mengajukan kredit baru, bank akan mempertimbangkan banyak hal, salah satunya adalah skor kreditnya. Skor kredit menunjukkan tingkat kesehatan kredit yang dimiliki debitur.
Skor kredit atau kolektibilitas kredit terbagi dalam lima kategori. Melansir Sikapi Uangmu OJK (2/10), berikut ini adalah daftar kolektibilitas kredit:
Kolektibilitas 1 (kol 1): Lancar, debitur tidak memiliki tunggakan dan membayar angsurannya dengan baik
Kolektibilitas 2 (kol 2): Dalam Perhatian Khusus (DPK), ada tunggakan selama 1-2 bulan yang disebabkan oleh keterlambatan pembayaran
Kolektibilitas 3 (kol 3): Tidak Lancar, ada tunggakan dalam 3-4 bulan, pendekatan atau penagihan yang dilakukan ke nasabah tidak membuahkan hasil
Kolektibilitas 4 (kol 4): Diragukan, kredit tidak lancar yang sudah jatuh tempo tapi tidak juga dilunasi lebih dari 5-6 bulan
Kolektibilitas 5 (kol 5): Macet, kredit tidak lancar yang tertunggak lebih dari enam bulan, telah diupayakan untuk diaktifkan kembali tetapi tidak membuahkan hasil
Menurut Sikapi Uangmu OJK, perbankan lebih menyukai debitur dengan skor kolektibilitas 1 atau lancar. Preferensi ini menyangkut histori pembayaran kredit yang terbukti lancar dan tidak bermasalah.
Sehingga bank dapat mempercayai nasabah untuk membayar angsurannya tepat waktu, sesuai ketentuan. Sementara jika debitur memiliki kolektibilitas 2 atau masih memiliki tunggakan selama 1-2 bulan, ada peluang pengajuannya ditolak ataupun diterima.
Jika bank bersedia mempertimbangkan untuk menerima pengajuan kreditnya, mungkin bank akan meminta debitur untuk menyelesaikan tunggakan kreditnya terlebih dahulu, baru bank bersedia menyalurkan kredit baru.
Sementara jika ditolak, mungkin bank memiliki kebijakan untuk lebih memprioritaskan prinsip kehati-hatian demi mengendalikan risiko tunggakan baru. Baik ditolak ataupun diterima, keputusan sepenuhnya berkaitan dengan kebijakan bank terkait.
Agar pengajuan kredit diterima, calon debitur dianjurkan untuk memiliki skor kredit yang baik, yakni kolektibilitas 1. Jika masih ada tunggakan, sebaiknya dilunasi terlebih dahulu sebelum mengajukan kredit baru.
Itulah penjelasan singkat tentang apakah KOL 2 masih bisa dapat kredit baru.
Asosiasi Pengelola Informasi Kredit (APIIK) menyebut biro kredit berperan penting dalam menciptakan sistem keuangan yang lebih inklusif dan efisien. [620] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengelola Informasi Kredit (APIIK) menilai Indonesia masih memiliki tantangan inefisiensi pemanfaatan data keuangan, serta perlunya peningkatan evaluasi kelayakan kredit, dalam rangka menjaga pertumbuhan bisnis sektor keuangan di masa depan.
Ketua Umum APIIK Yohanes Arts Abimanyu menyampaikan buktinya berdasarkan rasio produk domestik bruto (PDB) terhadap utang rumah tangga di Indonesia masih berada di angka yang rendah, yaitu 16%.
Perbandingan ini jauh di bawah negara-negara seperti India dan Filipina, yang mencapai rata-rata 30%. Padahal, tingkat adopsi layanan keuangan di Indonesia telah mencapai angka yang cukup tinggi, yaitu sekitar 85% dari populasi.
Data dari World Bank pada 2021 pun menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk unbanked atau individu yang cukup umur, tetapi tidak memiliki rekening bank terbesar ke-4 di dunia, yaitu sebanyak 97,74 juta orang dewasa. Jumlah ini setara dengan 48% populasi dewasa di dalam negeri.
Fenomena itu pula yang mendorong tiga Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (LPIP) berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia, PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK), PT Kredit Biro Indonesia Jaya (CBI), dan PT PEFINDO Biro Kredit (idScore) menggagas APIIK pada tahun ini.
"Kami berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran publik dan pemangku kepentingan tentang peran penting biro kredit dalam menciptakan sistem keuangan yang lebih inklusif dan efisien," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (3/9/2024).
Sebagai langkah awal, APIIK melakukan studi besama EY Parthenon mengenai Ekosistem Pelaporan Kredit Indonesia dalam rangka memberikan pandangan yang komprehensif kepada regulator dan pemangku kepentingan terkait kondisi infrastruktur kredit nasional.
Studi ini berupaya memahami kinerja dan dinamika sektor pelaporan kredit di Indonesia, memahami industri pelaporan kredit global khususnya interaksi antara Public Credit Registry (PCR) dan Private Credit Bureau (PCB), serta mengidentifikasi berbagai kesenjangan dan peluang yang berpotensi meningkatkan kapabilitas penilaian kredit.
Hasil dari studi tersebut merekomendasikan agar Indonesia mempertahankan pendekatan sistem ganda (dual system approach) untuk infrastruktur pelaporan kreditnya, di mana PCR dan PCB memiliki peran yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Saat ini, PCR di Indonesia direpresentasikan oleh SLIK OJK, yang fungsinya adalah sebagai basis data terpusat untuk data dari lembaga jasa keuangan (LJK).
Sementara PCB atau Biro Kredit Swasta mengumpulkan data beragam dari non-lembaga jasa keuangan (Non-LJK) untuk menghasilkan laporan terperinci dan skor kredit yang menilai kelayakan kredit dan pola penggunaan kredit.
Kombinasi keduanya diharapkan bisa mencapai tujuan nasional yakni meningkatkan inklusi keuangan pada kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses perbankan (unbanked).
Selain itu, semakin memastikan penilaian risiko yang kuat, menjaga privasi data yang aman, dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem pelaporan kredit secara keseluruhan.
Partner EY-Parthenon Anugrah Pratama menjelaskan bahwa adopsi pendekatan sistem ganda akan mengatasi inefisiensi yang ada saat ini dan meningkatkan pemanfaatan data kredit secara signifikan.
"Ke depannya, pendekatan ini dapat meningkatkan inklusivitas keuangan dan memungkinkan penilaian kelayakan kredit yang lebih akurat, memperluas akses keuangan bagi UMKM, mendukung manajemen risiko kredit, dan menghasilkan produk keuangan yang lebih baik untuk pasar Indonesia," jelasnya.
Ketua Dewan Pengawas APIIK Rizana Noor menambahkan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam sektor kredit.
"Perbaikan berkelanjutan dalam infrastruktur dan model akses berbagi data sangat penting untuk menyediakan akses data yang adil dan dapat diandalkan untuk PCB, serta untuk mengembangkan platform berbagi data yang aman dan mendorong inovasi," ungkap Rizana.
Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah memastikan bahwa semua pihak yang terlibat memiliki akses yang setara dan transparan terhadap data kredit. Hal ini penting untuk menciptakan sistem yang lebih inklusif dan efisien, yang pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam rangka menyambut transformasi sistem pelaporan kredit di Indonesia, APIIK berkomitmen untuk berkolaborasi dengan LJK, Non-LJK, penyedia data lain, dan regulator untuk mendukung adopsi sistem ganda ini.
"APIIK yakin bahwa inovasi ini akan mendorong pergeseran dari inklusi keuangan ke pendalaman keuangan, yang memungkinkan lembaga keuangan untuk menawarkan layanan dan produk yang lebih luas kepada masyarakat," tutupnya.