#30 tag 24jam
40 Ribu Syuhada di Gaza, Angka Memalukan Bagi Kemanusiaan
Dunia punya 10 bulan menghentikan serangan Israel ke Gaza, namun tak dilakukan. [1,149] url asal
#genosida-di-gaza #genosida-israel-di-gaza #korban-gaza-40-syahid #40-ribu-syuhada #kejahatan-israel
(Republika - News) 16/08/24 09:54
v/14479729/
Oleh: Fitriyan Zamzami
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Hanya dalam waktu sepuluh bulan, agresi militer Israel telah menewaskan 40 ribu jiwa di Jalur Gaza, kebanyakan anak-anak dan perempuan. PBB menghitung setiap harinya selama genosida brutal belakangan, rerata 130 warga Gaza syahid setiap harinya. Bagaimana angka yang memalukan bagi umat manusia itu tercapai?
Angka-angka yang terus bertambah menimbulkan keputusasaan warga Gaza di tengah negara-negara dunia yang tak berbuat banyak sementaraw arga Gaza terus dibantai. “Kami hanyalah angka-angka yang dikantongi dalam kantong plastik putih. Aku ingin tahu berapa nomorku? Berapa nomorku untuk jumlah korban jiwa? Tanggal berapa peti matiku akan dibawa? Dan berapakah nomorku di antara keluargaku nantinya?” tulis Abeer Z Barakat, seorang pengungsi dari Kota Gaza dikutip Republika, Jumat (16/8/2024).
“Kami berusaha sekuat tenaga untuk mengatakan kepada dunia bahwa kami bukanlah angka. Masing-masing kami punya cerita dan kehidupan, tapi tampaknya kami telah berusaha keras untuk membuktikan sesuatu yang terus-menerus diabaikan dunia. Ini martabat kami, hidup atau mati,” ia melanjutkan. “Jadi bagi saya, saya ingin menghentikan perjuangan ini, menyerah pada kenyataan ini. Saya menantikan nomor saya sekarang!”
Pada 7 Oktober 2023, para pejuang Palestina melakukan serangan besar-besaran ke wilayah Israel. Selain terkait puluhan tahun blokade mematikan terhadap Jalur Gaza; penerobosan terus menerus Masjid al-Aqsa, pembunuhan-pembunuhan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, perluasan pemukiman Ilegal Yahudi, serta kondisi ribuan tahanan di penjara-penjara Israel jadi alasannya.
Ribuan dari Gaza, termasuk warga sipil merangsek pos-pos militer, kibbutzim, serta satu pesta besar di Israel. Tujuannya, menculik sebanyak-banyaknya anggota militer Israel untuk dijadikan sandera dan daya tawar pembebasan tahanan.
Militer Israel yang terkejut dengan serangan itu gelagapan menanggapi sementara saling tembak mulai makan korban. Investigasi Haaretz menyimpulkan, IDF akhirnya menerapkan Protokol Hannibal, yang membunuh banyak warga Israel sendiri untuk mencegah mereka dibawa ke Gaza.
Akibat kekacauan tersebut, sekitar 1.100 warga Israel tewas, hampir setengahnya militer dan anggota kepolisian serta pengamanan sukarela. Sekitar 250 sandera dibawa ke Gaza, termasuk warga sipil. Pada hari yang sama, IDF langsung membombardir Gaza.
The Times of Israel mengutip seorang perwakilan para sandera yang mengungkapkan bahwa pada mulanya, sudah ada tawaran dari Hamas untuk membebaskan semua sandera warga sipil yang terbawa ke Gaza. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak tawaran itu dan memilih melakukan serangan besar-besaran.
Media-media Israel dan Barat, juga Pemerintah Amerika Serikat memanas-manasi dengan menyampaikan bahwa ada pembunuhan bayi-bayi secara kejam serta pemerkosaan massal dalam serangan 7 Oktober. Namun belakangan terbukti melalui investigasi independen, semuanya bohong belaka.
Amerika Serikat dan negara-negara sekutu Israel di Eropa kemudian memberikan lampu hijau serangan ke Gaza dengan dalih Israel berhak membela diri. Dengan kondisi Gaza yang merupakan wilayah terkepung dengan populasi padat, serangan kala itu dipastikan akan merenggut nyawa warga sipil, namun dukungan pada Israel tetap diberikan. Israel juga memutus akses bantuan makanan, obat-obatan, air bersih, dan listrik ke Gaza.
Pada 17 Oktober, di tengah serangan Israel, Rumah Sakit Baptis Al-Ahli terkena bom, menyebabkan sekitar 300 orang syahid. Ini salah satu dampak paling fatal agresi Israel ke Gaza saat itu. Israel menuding ledakan akibat roket kelompok Jihad Islam Palestina yang gagal sampai ke Israel, namun banyak investigasi menyimpulkan bahwa ledakan akibat rudal yang datang dari arah Israel.
Serangan itu memicu rapat Dewan Keamanan (DK) PBB melakukan rapat darurat pada 19 Oktober. Namun, Amerika Serikat memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan jeda kemanusiaan dalam konflik antara Israel dan militan Hamas Palestina untuk memungkinkan akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Dua belas anggota memberikan suara mendukung rancangan teks tersebut pada hari Rabu, sementara Rusia dan Inggris abstain.
Pada 27 Oktober, Israel memulai serangan darat dengan pengerahan ribuan kendaraan tempur ke Gaza yang disertai sekitar 100 ribu pasukan. Rumah Sakit Al-Quds, Rumah Sakit Al-Shifa, dan Rumah Sakit Indonesia jadi sasaran serangan darat tersebut. Jumlah syuhada di Gaza sudah mencapai ribuan orang.
Pada 22 November, Israel dan Hamas mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara, dengan memberikan jeda selama empat hari, untuk memungkinkan pembebasan 50 sandera yang ditahan di Gaza. Kesepakatan itu juga mengatur pembebasan sekitar 150 perempuan dan anak-anak Palestina yang ditahan oleh Israel. Gencatan senjata berakhir pada 1 Desember. Gencatan berakhir selepas Israel dilaporkan menembaki petani di Gaza.
Pada 10 Desember, DK PBB menggelar rapat perdana untuk mencapai resolusi gencatan senjata. Saat itu, sudah lebih dari 15 ribu warga Gaza syahid dengan rerata 250 kematian per hari. AS, sekutu terbesar Israel, memveto proposal DK PBB untuk menghentikan serangan Israel kala itu.
Wakil duta besar AS untuk PBB mengatakan penghentian segera agresi hanya akan “menanam benih bagi perang berikutnya”, dan menuduh Hamas menolak menerima solusi dua negara. Faktanya, Hamas telah menerima solusi dua negara selama hampir 20 tahun. Pada tahun 2017, piagam barunya secara resmi menyatakan hal itu.
Untuk ketiga kalinya, AS memveto resolusi DK PBB yang menyerukan gencatan senjata di Gaza pada 20 Februari 2024. Kala itu, korban jiwa di Gaza sudah hampir mencapai 30 ribu jiwa. Duta Besar Amerika untuk PBB mengatakan veto tersebut dilakukan karena kekhawatiran bahwa resolusi tersebut akan membahayakan perundingan antara Amerika, Mesir, Israel dan Qatar. Netanyahu menyambut baik veto AS.
Pada 26 Maret, AS akhirnya memilih abstain dna tak memveto proposal gencatan senjata DK PBB, yang disetujui oleh 14 dari 15 anggota DK PBB. Namun, AS kemudian mengatakan resolusi tersebut “tidak mengikat”, meremehkan aturan sistem PBB dan menunjukkan komitmen AS untuk terus mendukung perang Israel di Gaza. Saat itu, korban jiwa di Gaza mencapai 32 ribu jiwa.
Pada 7 Mei, Hamas menyatakan menerima gencatan senjata yang diusulkan oleh Qatar dan Mesir yang mengikuti kerangka tiga fase. Perjanjian tersebut menetapkan bahwa semua tawanan Israel – warga sipil dan militer – akan dibebaskan dengan imbalan tahanan Palestina dalam jumlah yang tidak ditentukan.
Resolusi tersebut menyerukan Israel untuk meningkatkan bantuan, secara bertahap menarik diri dari Gaza dan mengizinkan rekonstruksi serta mencabut pengepungan yang diberlakukan terhadap wilayah tersebut sejak tahun 2007. Namun, Israel tidak akan menyetujui persyaratan tersebut karena tidak menginginkan gencatan senjata yang langgeng.
Dua hari kemudian, Israel mengabaikan seruan gencatan senjata dan melancarkan serangan terhadap Rafah, kota paling selatan Gaza, tempat 1,4 juta pengungsi Palestina mencari perlindungan. Jumlah korban jiwa di Gaza kala itu mencapai 38 ribu jiwa.
Pada Juli, Kepala Biro Hamas Ismail Haniyeh dibunuh di Teheran saat menghadiri pelantikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Para pejabat Iran dan AS yakin Israel bertanggung jawab. Israel tidak secara resmi membenarkan atau menyangkal hal tersebut.
Kekhawatiran meningkat bahwa negosiasi gencatan senjata akan terhenti setelah pembunuhan tersebut, salah satunya karena Haniyeh adalah juru bicara utama Hamas.
Hingga 15 Agustus, saat korban jiwa di Gaza akhirnya mencapai lebih dari 40 ribu jiwa, Netanyahu masih dituduh menghalangi kesepakatan. Dia dilaporkan memperkuat posisi tim perundingan, bersikeras bahwa pasukan Israel harus tetap mengendalikan perbatasan selatan Gaza, sebuah ketentuan yang tidak disertakan sebelumnya.
Dia juga mengatakan pos pemeriksaan keamanan akan didirikan untuk mencari warga Palestina yang ingin kembali ke rumah mereka di Gaza utara, ketentuan yang dikhawatirkan oleh tim perunding akan menggagalkan gencatan senjata saat putaran baru perundingan sedang berlangsung.
Pagi Ini, Seorang Pemuda Palestina Syahid di Ramallah Usai Diserang Tentara Israel
Penggerebekan dimulai ketika pasukan Israel menyerbu lingkungan al-Tira di Ramallah. [356] url asal
#syuhada #pemuda-palestina-syahid #pemuda-palestina-di-ramallah-syahid #syuhada-di-ramallah #pemuda-palestina-dibunuh-israel #israel-bunuh-pemuda-palestina #tentara-israel-bunuh-pemuda-palestina #pengg
(Republika - Khazanah) 13/08/24 14:10
v/14356923/
REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH —Seorang pemuda Palestina, Moataz Sarsour, gugur sebagai syuhada pada Selasa (13/8/2024) pagi setelah menderita luka-luka akibat serangan pasukan Israel di kota Ramallah dan Al-Bireh saat fajar.
Sumber media lokal melaporkan bahwa Sarsour, yang berasal dari kamp pengungsi al-Amari, terluka parah akibat tembakan Israel di dada. Dia diangkut ke Kompleks Medis Palestina, di mana dokter kemudian menyatakan dia meninggal, tulis Al-Mayadeen.
Penggerebekan dimulai ketika pasukan Israel menyerbu lingkungan al-Tira di Ramallah. Zionis menggerebek sebuah apartemen milik Dr. Aysar Barghouti, seorang tahanan yang ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel.
Bersamaan dengan itu, penggerebekan lain terjadi di lingkungan Umm al-Sharayet di al-Bireh. Penggerebekan tersebut menargetkan apartemen Dr. Khaled al-Kharouf, dan seorang tahanan lainnya. Kedua apartemen tersebut kemudian dihancurkan oleh pasukan Israel.
Serangan tersebut memicu konfrontasi kekerasan di lingkungan al-Tira dan Umm al-Sharayet, di mana tentara Israel menembakkan peluru tajam dan gas air mata. Empat pemuda terluka akibat tembakan, termasuk Sarsour, sementara seorang pemuda lainnya tertabrak kendaraan militer.
Sumber lapangan di Tepi Barat yang diduduki juga melaporkan bahwa pasukan Israel mengepung sebuah rumah di kamp pengungsi Askar di sebelah timur Nablus di mana pejuang perlawanan dilaporkan terlibat bentrokan dengan tentara.
Dengan syahidnya Sarsour, jumlah warga Palestina yang terbunuh di Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023 meningkat menjadi 624 orang. Di antara korbannya terdapat 145 anak-anak dan 9 perempuan.
Insiden terbaru tersebut adalah bagian dari eskalasi kekerasan yang lebih luas di Tepi Barat, yang mengalami peningkatan konfrontasi sejak dimulainya agresi Israel di Jalur Gaza. Kota-kota besar dan kecil di Tepi Barat telah menjadi sasaran serangan setiap hari oleh pemukim dan pasukan pendudukan, yang seringkali mengakibatkan penangkapan secara luas, serta kematian dan cedera.
Tentara pendudukan Israel, kata juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, membunuh 16 warga Palestina antara 30 Juli dan 5 Agustus, termasuk dua anak-anak, dan melukai 56 lainnya di Tepi Barat yang diduduki.
Juru bicara Farhan Haq menekankan warga Palestina terus dibunuh dan diusir oleh pasukan pendudukan Israel di Tepi Barat. Dia mengungkapkan, pada periode yang sama, “Israel” juga melancarkan lebih dari 20 serangan terhadap warga Palestina, yang mengakibatkan cedera dan kerusakan properti.
Israel Bom Masjid Al-Tabi'in, Seratus Jamaah Sholat Subuh Jadi Syuhada
Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk kejahatan keji tersebut. [738] url asal
#genosida-israel-di-jalur-gaza #israel-bom-masjid-di-gaza #jamaah-sholat-subuh-dibom-israel #israel-bom-jamaah-sholat-subuh #100-jamaah-syahid #seratus-jamaah-sholat-subuh-jadi-syuhada #israel-mengebom
(Republika - Khazanah) 10/08/24 14:21
v/14064750/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebiadaban Israel di jalur Gaza belum juga berhenti. Militer zionis menargetkan Masjid Al-Tabi'een terletak di tengah Kota Gaza, di lingkungan Al-Daraj, di Jalan Al-Sahaba, Gaza, berdasarkan keterangan tertulis dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza kepada Republika, Sabtu (10/8/2024).
Menurut sumber Republika di Kementerian Kesehatan Palestina, masjid tersebut berada di dalam lingkungan sekolah Al-Tabi'een. Selain berfungsi sebagai masjid, warga Gaza juga kerap melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam bangunan tersebut. "Lokasi masjid itu dekat rumah saya. Kami beberapa kali sholat disana. Masjid itu tidak terafiliasi dengan kegiatan politik apapun. Agaknya mereka ingin menghancurkan kami semua,"ujar sumber tersebut yang merupakan pejabat di Kementerian Kesehatan Palestina. "Hasbunallah wani'mal wakil,"ucap dia.
Penjajah teroris Israel menargetkan lokasi yang dijadikan masjid tersebut saat sholat Subuh. Mereka menewaskan lebih dari 100 jamaah dan melukai sejumlah besar lainnya. Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk kejahatan keji terhadap warga sipil ini dan menyerukan kepada seluruh masyarakat internasional untuk menghentikan pembantaian terhadap warga sipil.
Kementerian Kesehatan juga mendesak agar Israel segera mengizinkan masuknya rumah sakit lapangan dengan obat-obatan dan peralatan medis ke Jalur Gaza utara yang terkena dampak secepat mungkin.
Mereka menuntut Komite Palang Merah Internasional untuk melakukan tugasnya, memecah kebisuannya, dan mengutuk pembantaian ini secara langsung di udara. "Kebisuan telah menjadi awal dari pembunuhan terhadap lebih banyak lagi warga sipil tak berdosa,"ujar Kementerian Kesehatan.
Ini bukan pertamakalinya Israel menyerang tempat ibadah dan sekolah. Pada 13 Juli lalu, pasukan penjajahan Israel menyasar puluhan jamaah shalat dzuhur di sebuah mushalla di Jalur Gaza. Belasan syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangan pada Sabtu siang tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, pada tengah hari pesawat-pesawat tempur penjajah menargetkan mushalla di dekat Masjid Putih di kamp pengungsi al-Shati di sebelah barat Kota Gaza. Serangan itu mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 17 warga sipil dan melukai banyak orang lainnya, termasuk anak-anak dan wanita.
Serangan Israel tersebut menyasar orang-orang yang sedang berkumpul untuk shalat dzuhur di mushalla tersebut. Rekaman video kamp pengungsi Shati setelah serangan Israel menunjukkan mayat di dalam gedung dan bekas darah.
“Warga di lingkungan tersebut memutuskan untuk melaksanakan shalat berjamaah di mushalla, kami menghindari shalat berjamaah pada Magrib dan Isya di masjid agar tidak menjadi sasaran. Kami terkejut hari ini bahwa sebuah rudal Israel menargetkan tempat itu. Semuanya keluar berkeping-keping, tidak kurang dari 20 korban.”
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan bahwa tentara Israel telah mengintensifkan serangannya dengan membom sekolah-sekolah yang digunakan sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi Palestina di Kota Gaza. Dalam 10 hari terakhir, sebanyak sembilan sekolah berisi pengungsi telah dibombardir Israel.
Pada Kamis, dua serangan terhadap tempat penampungan sekolah di Kota Gaza menewaskan sedikitnya 15 warga Palestina dan melukai sekitar 30 lainnya. Dalam sebuah laporan, kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa serangan selama delapan hari terakhir telah menewaskan 79 warga Palestina dan melukai 143 lainnya, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Ini belum termasuk serangan di Masjid Al-Tabi'een hari ini.
Laporan tersebut mengatakan bahwa jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, karena “kehilangan orang lain di bawah reruntuhan yang tidak dapat diselamatkan karena kurangnya peralatan yang memadai untuk kru penyelamat”.
Juliette Touma, juru bicara Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk pengungsi Palestina, mengatakan kepada surat kabar AS the Washington Post bahwa Israel telah menyerang 70 persen sekolah-sekolah badan tersebut sejak pecahnya perang Gaza, yang sebagian besar digunakan sebagai tempat penampungan. mengungsi warga Palestina pada saat mereka diserang.
Komentarnya kepada surat kabar tersebut muncul setelah Israel menyerang dua sekolah lagi di Jalur Gaza utara kemarin, menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai sekitar 30 lainnya. Touma mengatakan bahwa tentara Israel segera mengeluarkan pernyataan setelah serangan tersebut, mengklaim bahwa bangunan tersebut digunakan oleh pejuang Hamas dan menyerang mereka adalah hal yang dibenarkan.
“Ini adalah klaim yang sangat serius,” katanya. “Kami tidak punya cara untuk mengkonfirmasi atau menyangkal klaim ini, kami juga tidak punya kemampuan untuk menyelidikinya. Apa yang kami tahu adalah bahwa setiap kali sekolah atau gedung ini diserang, ada warga sipil, perempuan dan anak-anak yang terkena serangan.”
Pusat Satelit PBB (UNOSAT) memperkirakan 63 persen dari seluruh bangunan di Gaza telah rusak atau hancur selama perang. Temuannya, berdasarkan analisis citra satelit, mengklasifikasikan 156.409 bangunan sebagai hancur, rusak berat, rusak sedang, atau mungkin rusak.
Daerah yang paling terkena dampaknya dalam beberapa bulan terakhir adalah Rafah dan Gaza utara, kata UNOSAT, dengan 2.300 bangunan baru dinilai rusak di Gaza utara dan sekitar 15.030 di Rafah.
Israel Bom Masjid Al-Tabi'een di Tengah Gaza, Seratus Jamaah Subuh Jadi Syuhada
Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk kejahatan keji tersebut. [738] url asal
#genosida-israel-di-jalur-gaza #israel-bom-masjid-di-gaza #jamaah-sholat-subuh-dibom-israel #israel-bom-jamaah-sholat-subuh #100-jamaah-syahid #seratus-jamaah-sholat-subuh-jadi-syuhada #israel-mengebom
(Republika - Khazanah) 10/08/24 14:21
v/14047907/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebiadaban Israel di jalur Gaza belum juga berhenti. Militer zionis menargetkan Masjid Al-Tabi'een terletak di tengah Kota Gaza, di lingkungan Al-Daraj, di Jalan Al-Sahaba, Gaza, berdasarkan keterangan tertulis dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza kepada Republika, Sabtu (10/8/2024).
Menurut sumber Republika di Kementerian Kesehatan Palestina, masjid tersebut berada di dalam lingkungan sekolah Al-Tabi'een. Selain berfungsi sebagai masjid, warga Gaza juga kerap melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam bangunan tersebut. "Lokasi masjid itu dekat rumah saya. Kami beberapa kali sholat disana. Masjid itu tidak terafiliasi dengan kegiatan politik apapun. Agaknya mereka ingin menghancurkan kami semua,"ujar sumber tersebut yang merupakan pejabat di Kementerian Kesehatan Palestina. "Hasbunallah wani'mal wakil,"ucap dia.
Penjajah teroris Israel menargetkan lokasi yang dijadikan masjid tersebut saat sholat Subuh. Mereka menewaskan lebih dari 100 jamaah dan melukai sejumlah besar lainnya. Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk kejahatan keji terhadap warga sipil ini dan menyerukan kepada seluruh masyarakat internasional untuk menghentikan pembantaian terhadap warga sipil.
Kementerian Kesehatan juga mendesak agar Israel segera mengizinkan masuknya rumah sakit lapangan dengan obat-obatan dan peralatan medis ke Jalur Gaza utara yang terkena dampak secepat mungkin.
Mereka menuntut Komite Palang Merah Internasional untuk melakukan tugasnya, memecah kebisuannya, dan mengutuk pembantaian ini secara langsung di udara. "Kebisuan telah menjadi awal dari pembunuhan terhadap lebih banyak lagi warga sipil tak berdosa,"ujar Kementerian Kesehatan.
Ini bukan pertamakalinya Israel menyerang tempat ibadah dan sekolah. Pada 13 Juli lalu, pasukan penjajahan Israel menyasar puluhan jamaah shalat dzuhur di sebuah mushalla di Jalur Gaza. Belasan syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangan pada Sabtu siang tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, pada tengah hari pesawat-pesawat tempur penjajah menargetkan mushalla di dekat Masjid Putih di kamp pengungsi al-Shati di sebelah barat Kota Gaza. Serangan itu mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 17 warga sipil dan melukai banyak orang lainnya, termasuk anak-anak dan wanita.
Serangan Israel tersebut menyasar orang-orang yang sedang berkumpul untuk shalat dzuhur di mushalla tersebut. Rekaman video kamp pengungsi Shati setelah serangan Israel menunjukkan mayat di dalam gedung dan bekas darah.
“Warga di lingkungan tersebut memutuskan untuk melaksanakan shalat berjamaah di mushalla, kami menghindari shalat berjamaah pada Magrib dan Isya di masjid agar tidak menjadi sasaran. Kami terkejut hari ini bahwa sebuah rudal Israel menargetkan tempat itu. Semuanya keluar berkeping-keping, tidak kurang dari 20 korban.”
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan bahwa tentara Israel telah mengintensifkan serangannya dengan membom sekolah-sekolah yang digunakan sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi Palestina di Kota Gaza. Dalam 10 hari terakhir, sebanyak sembilan sekolah berisi pengungsi telah dibombardir Israel.
Pada Kamis, dua serangan terhadap tempat penampungan sekolah di Kota Gaza menewaskan sedikitnya 15 warga Palestina dan melukai sekitar 30 lainnya. Dalam sebuah laporan, kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa serangan selama delapan hari terakhir telah menewaskan 79 warga Palestina dan melukai 143 lainnya, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Ini belum termasuk serangan di Masjid Al-Tabi'een hari ini.
Laporan tersebut mengatakan bahwa jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, karena “kehilangan orang lain di bawah reruntuhan yang tidak dapat diselamatkan karena kurangnya peralatan yang memadai untuk kru penyelamat”.
Juliette Touma, juru bicara Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk pengungsi Palestina, mengatakan kepada surat kabar AS the Washington Post bahwa Israel telah menyerang 70 persen sekolah-sekolah badan tersebut sejak pecahnya perang Gaza, yang sebagian besar digunakan sebagai tempat penampungan. mengungsi warga Palestina pada saat mereka diserang.
Komentarnya kepada surat kabar tersebut muncul setelah Israel menyerang dua sekolah lagi di Jalur Gaza utara kemarin, menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai sekitar 30 lainnya. Touma mengatakan bahwa tentara Israel segera mengeluarkan pernyataan setelah serangan tersebut, mengklaim bahwa bangunan tersebut digunakan oleh pejuang Hamas dan menyerang mereka adalah hal yang dibenarkan.
“Ini adalah klaim yang sangat serius,” katanya. “Kami tidak punya cara untuk mengkonfirmasi atau menyangkal klaim ini, kami juga tidak punya kemampuan untuk menyelidikinya. Apa yang kami tahu adalah bahwa setiap kali sekolah atau gedung ini diserang, ada warga sipil, perempuan dan anak-anak yang terkena serangan.”
Pusat Satelit PBB (UNOSAT) memperkirakan 63 persen dari seluruh bangunan di Gaza telah rusak atau hancur selama perang. Temuannya, berdasarkan analisis citra satelit, mengklasifikasikan 156.409 bangunan sebagai hancur, rusak berat, rusak sedang, atau mungkin rusak.
Daerah yang paling terkena dampaknya dalam beberapa bulan terakhir adalah Rafah dan Gaza utara, kata UNOSAT, dengan 2.300 bangunan baru dinilai rusak di Gaza utara dan sekitar 15.030 di Rafah.
Salam untuk Para Syuhada Gaza, Kalimat Istri Ismail Haniyeh di Depan Peti Sang Suami
Ismail Haniyeh terbunuh saat berada di Teheran Iran [622] url asal
#ismail-haniyeh-syuhada #ismail-haniyeh-gugur #iran-balas-kematian-ismail-haniyeh #kematian-ismail-haniyeh #ismail-haniyeh #pembunuhan-ismail-haniyeh-israel #pemakaman-ismail-haniyeh #iran #israel #qat
(Republika - Khazanah) 04/08/24 22:42
v/13292785/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Istri Ismail Haniyeh, Umm Al-Abed, mengucapkan salam perpisahan kepada sang suami yang sudah berada di peti mati.
Video yang beredar di media sosial tersebut menunjukkan Ummu al-Abed, setengah memeluk peti dan mengucapkan sejumlah kalimat lirih antara lain agar menyampaikan salamnya kepada syuhada Gaza. Berikut ini penggalan dari kalimat perpisahan Umm al-Abed:
“Suamiku, Engkau penopangku di dunia dan akhirat. Cintaku. Sampaikan salamku untuk para syuhada Gaza, baik yang muda atau yang tua. Sampaikan salamku untuk pemimpin, Syekh Ahmad Yasin, tiap syuhada Gaza. Cintaku. Semoga Allah mengasihimu.”
Qatar menyelenggarakan upacara pemakaman pada Jumat (2/8/2024) untuk pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh. Pemimpin Hamas itu, sebelumnya dibunuh dengan serangan udara yang dituduhkan kepada Israel, dengan demikian Israel telah memperdalam kekhawatiran akan eskalasi regional.
Haniyeh Kepala Biro Politik Hamas itu telah tinggal di Doha bersama dengan anggota kantor politik Hamas lainnya.
Haniyeh dimakamkan di sebuah pemakaman di Lusail, sebelah utara ibu kota Qatar, setelah sholat jenazah di Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, masjid terbesar di emirat yang kaya gas tersebut.
Dikutip dari laman The Sun, Jumat (2/8/2024), Hamas mengatakan para pemimpin Arab dan Islam serta perwakilan dari faksi Palestina lainnya dan anggota masyarakat akan menghadiri acara tersebut.
Upacara pemakaman umum untuk Haniyeh diadakan di Teheran pada Kamis dengan banyak pelayat yang memberikan penghormatan terakhir.
Baca juga: NU Tegal Respons Buku Sejarah Sebut Kakek Habib Luthfi Pekalongan Pendiri NU
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei memimpin doa untuk Haniyeh setelah sebelumnya mengancam hukuman keras atas pembunuhannya.
Turki dan Pakistan mengumumkan hari berkabung pada Jumat untuk menghormati Haniyeh, sementara Hamas telah menyerukan "hari kemarahan yang membara" bertepatan dengan pemakaman.
Kelompok Palestina itu mendorong "pawai kemarahan yang menggelegar dari setiap masjid" setelah sholat Jumat untuk memprotes pembunuhan Haniyeh serta perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Pada Rabu pagi...
Pada hari Rabu pagi, Hamas mengumumkan pembunuhan kepala biro politik Ismail Haniyeh di kediamannya di ibukota Iran, Teheran, di mana ia sedang melakukan kunjungan untuk berpartisipasi dalam upacara pelantikan Presiden Iran yang baru, Masoud Bazeshkian.
Hamas mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kepala gerakan tersebut telah menjadi martir oleh serangan Zionis yang berbahaya, dan menggambarkan pembunuhannya sebagai tindakan teroris penuh dan pelanggaran terhadap kedaulatan Iran.
Dalam rincian pembunuhan tersebut, Kantor Berita Iran melaporkan bahwa Haniyeh dibunuh sekitar pukul 2 pagi pada hari Rabu (31/7/2024), di mana ia tinggal di markas khusus Garda Revolusi Iran di utara Teheran, dan mengkonfirmasi kesyahidannya bersama salah satu pengawalnya.
Kantor Berita Fars Iran mengkonfirmasi bahwa Ismail Haniyeh, kepala biro politik Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), dibunuh oleh sebuah rudal yang menghantam kediamannya, menghancurkan sebagian atap dan jendelanya.
Laporan tersebut menambahkan bahwa investigasi telah mengkonfirmasi bahwa Israel merencanakan dan melaksanakan pembunuhan Ismail Haniyeh.
The New York Times melaporkan bahwa para pejabat Amerika Serikat secara diam-diam telah mengakui bahwa Israel membunuh Haniyeh di ibukota Iran, Teheran, pada hari Rabu.
Komentar para pejabat Amerika Serikat ini muncul meskipun Israel belum mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut dan menolak berkomentar secara terbuka mengenai insiden tersebut.
Sementara itu, juru bicara militer Israel, Daniel Hagari, pada hari Kamis mengklaim bahwa militernya tidak melancarkan serangan udara ke Iran atau negara lain di Timur Tengah pada hari Rabu.
"Kami tidak menyerang Iran dari udara," katanya dalam sebuah konferensi pers untuk menanggapi pertanyaan tentang pembunuhan Haniyeh.
Baca juga: Lantas Benarkah Kakek Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan Termasuk Pendiri NU?
"Kami membunuh (pemimpin senior Hizbullah) Fouad Shukr di Lebanon, tetapi tidak ada serangan udara Israel lainnya di seluruh Timur Tengah setelah itu."
Secara paralel, New York Times dan situs web Amerika Axios menerbitkan laporan lain, yang mengonfirmasi tanggung jawab Israel atas pembunuhan Haniyeh, tetapi mengklaim bahwa pembunuhan itu dilakukan dengan alat peledak yang ditanam oleh agen-agen Mossad di kamarnya, yang diledakkan dari jarak jauh.
Kapankah Iran akan Serang Israel Balas Kematian Haniyeh? Ini Prediksi Media Barat
Iran berjanji akan lakukan serangan membalas kematian Ismail Haniyeh [672] url asal
#ismail-haniyeh-syuhada #ismail-haniyeh-gugur #pemimpin-hamas-ismail-haniyeh #ismail-haniyeh-dibunuh-di-iran #ismail-haniyeh-jadi-martir #ismail-haniyeh #iran-serang-israel #kapan-iran-balas-serang-isr
(Republika - News) 04/08/24 22:03
v/13285044/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Para pemimpin Hizbullah Iran dan Lebanon telah bersumpah untuk membalas dendam terhadap Israel menyusul pembunuhan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran dan pembunuhan komandan Hizbullah Fouad Shukr dalam sebuah serangan di pinggiran selatan Beirut.
Lantas kapankah serangan balasan itu akan terjadi? Sejumlah prediksi pun muncul. Mengutip Axios, Sumber-sumber Amerika Serikat dan Israel memperkirakan Iran akan melakukan serangan terhadap Israel mulai Senin (4/8/2024) besok, bertepatan dengan kunjungan komandan militer Amerika Serikat ke wilayah tersebut untuk menggalang koalisi pertahanan Israel, demikian menurut Axios.
Axios melaporkan bahwa tiga pejabat Amerika Serikat dan Israel mengatakan bahwa mereka memperkirakan Iran akan segera menyerang Israel, mungkin paling cepat besok, Senin.
Dia mencatat bahwa pemerintah Amerika Serikat memperkirakan respons Iran akan serupa dengan serangan yang dilakukan oleh Teheran yang menargetkan Israel dengan rudal dan pawai pada tanggal 13 April, tetapi mungkin akan lebih besar cakupannya dan dapat mencakup operasi dari Hizbullah di Lebanon.
Para pejabat Amerika Serikat dan Israel tidak mengetahui apakah Iran dan Hizbullah akan meluncurkan serangan terkoordinasi atau beroperasi secara terpisah, kata situs web tersebut.
Mereka menambahkan bahwa mereka yakin Iran dan Hizbullah masih bekerja untuk menyelesaikan rencana militer mereka dan menyetujuinya di tingkat politik.
Di New York, juru bicara Perwakilan Tetap Iran untuk PBB memperkirakan bahwa Hizbullah akan mengubah "batas-batas serangannya" terhadap Israel.
Hizbullah sejauh ini mematuhi batas-batas tertentu dalam operasi militernya dan memprioritaskan situs-situs militer, tetapi mungkin akan memilih target yang lebih luas dan lebih dalam, dan serangannya mungkin tidak terbatas pada target dan sarana militer saja, kata juru bicara itu kepada CBS.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austin sebelumnya telah mengumumkan pergerakan kapal induk Abraham Lincoln ke Mediterania timur dan pengerahan skuadron jet tempur F-22, bergabung dengan USS Roosevelt di Samudera Hindia dekat Laut Arab dan sejumlah kapal perusak yang dikerahkan di lepas pantai Israel.
Axios mengutip seorang pejabat Amerika Serikat yang mengatakan bahwa pengumuman Washington untuk meningkatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut dengan harapan bahwa hal itu akan membantu menghalangi Iran dan Hizbullah dan mempengaruhi rencana militer mereka.
Sehubungan dengan meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut, Jenderal Michael Corella, kepala pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah, telah memulai kunjungan ke beberapa negara Teluk selain Yordania dan Israel.
Axios melaporkan bahwa kunjungan Corella telah diprogram sebelum perkembangan terakhir, tetapi ia akan mencoba untuk menggunakannya untuk memobilisasi koalisi internasional dan regional yang sama yang membela Israel terhadap serangan Iran pada 13 April lalu.
Situs web tersebut mencatat bahwa Yordania akan menjadi perhentian utama dalam perjalanan Corella, mengingat peran yang dimainkan Amman selama serangan 13 April dengan mencegat pesawat tak berawak Iran yang memasuki wilayahnya menuju Israel dan mengizinkan pesawat Amerika Serikat dan Israel menggunakan wilayah udaranya untuk menghadang serangan Iran. Menurut Axios, Washington berharap sikap yang sama dari Yordania akan terulang jika Israel diserang lagi
Sementara itu, Qatar menyelenggarakan upacara pemakaman pada Jumat (2/8/2024) untuk pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh. Pemimpin Hamas, sebelumnya dibunuh dengan serangan udara yang dituduhkan kepada Israel, dengan demikian Israel telah memperdalam kekhawatiran akan eskalasi regional.
Haniyeh kepala politik kelompok bersenjata Palestina, telah tinggal di Doha bersama dengan anggota kantor politik Hamas lainnya.
Haniyeh akan dimakamkan di sebuah pemakaman di Lusail, sebelah utara ibu kota Qatar, setelah sholat jenazah di Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, masjid terbesar di emirat yang kaya gas tersebut.
Dikutip dari laman The Sun, Jumat (2/8/2024), Hamas mengatakan para pemimpin Arab dan Islam serta perwakilan dari faksi Palestina lainnya dan anggota masyarakat akan menghadiri acara tersebut.
Upacara pemakaman umum untuk Haniyeh diadakan di Teheran pada Kamis dengan banyak pelayat yang memberikan penghormatan terakhir.
Baca juga: NU Tegal Respons Buku Sejarah Sebut Kakek Habib Luthfi Pekalongan Pendiri NU
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei memimpin doa untuk Haniyeh setelah sebelumnya mengancam hukuman keras atas pembunuhannya.
Turki dan Pakistan mengumumkan hari berkabung pada Jumat untuk menghormati Haniyeh, sementara Hamas telah menyerukan "hari kemarahan yang membara" bertepatan dengan pemakaman.
Kelompok Palestina itu mendorong "pawai kemarahan yang menggelegar dari setiap masjid" setelah sholat Jumat untuk memprotes pembunuhan Haniyeh serta perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Disangka Syahid, Ternyata Jadi Penghuni Neraka
Walau mengikuti Perang Uhud di kubu Muslimin, lelaki ini mati bukan lantaran syahid. [462] url asal
#kisah-nabi #kisah-rasulullah #mati-syahid #syahid #syuhada #perang-uhud
(Republika - Khazanah) 01/08/24 10:29
v/12855410/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dakwah Nabi Muhammad SAW selama di Madinah tidak sepi dari rongrongan kaum musyrikin Quraisy. Perang Uhud merupakan salah satu bukti nyata provokasi orang-orang kafir itu yang tidak ridha akan syiar Islam.
Dalam pertempuran ini, pasukan Muslimin berjumlah sekitar tujuh ratus orang. Rasulullah SAW memimpin langsung mereka. Sementara itu, kaum musyrikin yang bertolak dari Makkah mencapai tiga ribu orang.
"Kalah" jumlah tak berarti surutnya semangat jihad. Bahkan, tekad para sahabat Nabi SAW semakin kuat untuk melawan musuh-musuh Allah. Mati syahid menjadi sebuah kerinduan; melindungi Rasul SAW menjadi sebuah dorongan hati yang kuat.
Salah seorang yang berangkat ke medan pertempuran dari Madinah ialah Qotzman. Ia ikut dalam kubu Muslimin.
Akhir tragis
Pasukan Muslimin hampir saja berhasil merebut kemenangan. Namun, sekelompok yang ditugaskan untuk berjaga-jaga di atas bukit melalaikan tugasnya. Alhasil, sejumlah prajurit musyrikin yang dipimpin Khalid bin Walid (waktu itu belum menjadi Muslim) berhasil menyerang balik Rasulullah SAW dan para sahabat beliau.
Barisan Muslimin pun panik dan porak poranda. Bahkan, Nabi SAW mengalami luka-luka pada wajah beliau. Tak sedikit sahabat yang gugur.
Ketika pertempuran Uhud benar-benar usai, Muslimin menderita kekalahan. Sementara, kaum musyrikin kembali ke Makkah dengan rasa puas karena dendam sejak Perang Badar telah terlampiaskan.
"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman.", kata salah seorang sahabat. Sebab, Qotzman ditemukan telah ikut gugur dengan luka-luka yang banyak di sekujur tubuhnya.
Mendengar perkataan itu, Nabi Muhammad SAW menjawab, "Sungguh, dia itu adalah golongan penduduk neraka."
Para sahabat menjadi heran. Bagaimana mungkin seseorang yang telah berjuang dengan begitu gagah berani di medan pertempuran justru akhirnya dimasukkan Allah SWT dalam neraka?
Rasulullah SAW lalu menjelaskan, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Qotzman mengambil pedangnya, kemudian mata pedang itu dihadapkan ke dadanya. Ia benamkan pedang itu ke dalam dadanya."
Qotzman ternyata mati bukan karena dibunuh musuh, melainkan bunuh diri. Menurut Nabi SAW, warga Madinah itu bunuh diri karena tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya.
Nabi SAW juga mengungkapkan, sebenarnya sejak awal niat yang muncul dalam hati Qotzman sudah keliru. Sebab, lanjut beliau shalallahu 'alaihi wasallam, Qotzman sebelum berangkat telah berkata, "Demi Allah aku berperang bukan karena agama, tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan Madinah agar tidak dihancurkan kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku."
Maka dari itu, Rasulullah SAW mengingatkan para sahabatnya agar berhati-hati dalam memberikan penilaian. Belum tentu perbuatan yang tampak di mata orang-orang seperti amalan mulia benar-benar tulus. Bisa jadi justru sebenarnya tidak baik.
"Sesungguhnya seseorang tampak benar-benar beramal dengan amalan penghuni surga menurut pandangan manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan sungguh seseorang tampak beramal dengan amalan penghuni neraka menurut manusia, padahal dia termasuk penghuni surga," sabda beliau.