REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengumpulkan potongan-potongan tubuh para syuhada usai pembantaian zionis Israel di Masjid Al-Tabiin yang berada di dalam kompleks sekolah dengan nama yang sama di Gaza City. Untuk sementara, pihak kementerian mendapatkan sekitar 1050 kilogram potongan tubuh yang dipisahkan dalam 15 kantong dari syuhada yang terpisah.
“Ada 1050 kilogram potongan tubuh dari pembantaian di Masjid Al-Tabiin. Kami menaruhnya dalam 15 kantong,”ujar pejabat di Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza lewat keterangan tertulis kepada Republika di Jakarta, Ahad (11/8/2024).
Serangan udara zionis menargetkan Masjid Al-Tabiin terletak di tengah Kota Gaza, di lingkungan Al-Daraj, di Jalan Al-Sahaba, Gaza, berdasarkan keterangan tertulis dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza kepada Republika, Sabtu (10/8/2024).
Menurut sumberRepublikadi Kementerian Kesehatan Palestina, masjid tersebut berada di dalam lingkungan sekolah Al-Tabi'een. Selain berfungsi sebagai masjid, warga Gaza juga kerap melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam bangunan tersebut. "Lokasi masjid itu dekat rumah saya. Kami beberapa kali sholat disana. Masjid itu tidak terafiliasi dengan kegiatan politik apapun. Agaknya mereka ingin menghancurkan kami semua,"ujar sumber tersebut yang merupakan pejabat di Kementerian Kesehatan Palestina. "Hasbunallah wani'mal wakil,"ucap dia.
Penjajah teroris Israel menargetkan lokasi yang dijadikan masjid tersebut saat sholat Subuh. Mereka menewaskan lebih dari 100 jamaah dan melukai sejumlah besar lainnya. Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk kejahatan keji terhadap warga sipil ini dan menyerukan kepada seluruh masyarakat internasional untuk menghentikan pembantaian terhadap warga sipil.
Kementerian Kesehatan juga mendesak agar Israel segera mengizinkan masuknya rumah sakit lapangan dengan obat-obatan dan peralatan medis ke Jalur Gaza utara yang terkena dampak secepat mungkin.
Mereka menuntut Komite Palang Merah Internasional untuk melakukan tugasnya, memecah kebisuannya, dan mengutuk pembantaian ini secara langsung di udara. "Kebisuan telah menjadi awal dari pembunuhan terhadap lebih banyak lagi warga sipil tak berdosa,"ujar Kementerian Kesehatan.
Bukan pertama kali serang masjid..
Ini bukan pertamakalinya Israel menyerang tempat ibadah dan sekolah. Pada 13 Juli lalu, pasukan penjajahan Israel menyasar puluhan jamaah shalat dzuhur di sebuah mushalla di Jalur Gaza. Belasan syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangan pada Sabtu siang tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, pada tengah hari pesawat-pesawat tempur penjajah menargetkan mushalla di dekat Masjid Putih di kamp pengungsi al-Shati di sebelah barat Kota Gaza. Serangan itu mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 17 warga sipil dan melukai banyak orang lainnya, termasuk anak-anak dan wanita.
Serangan Israel tersebut menyasar orang-orang yang sedang berkumpul untuk shalat dzuhur di mushalla tersebut. Rekaman video kamp pengungsi Shati setelah serangan Israel menunjukkan mayat di dalam gedung dan bekas darah.
“Warga di lingkungan tersebut memutuskan untuk melaksanakan shalat berjamaah di mushalla, kami menghindari shalat berjamaah pada Magrib dan Isya di masjid agar tidak menjadi sasaran. Kami terkejut hari ini bahwa sebuah rudal Israel menargetkan tempat itu. Semuanya keluar berkeping-keping, tidak kurang dari 20 korban.”
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengumpulkan potongan-potongan tubuh para syuhada usai pembantaian zionis Israel di Masjid Al-Tabiin yang berada di dalam kompleks sekolah dengan nama yang sama di Gaza City. Untuk sementara, pihak kementerian mendapatkan sekitar 1050 kilogram potongan tubuh yang dipisahkan dalam 15 kantong dari syuhada yang terpisah.
“Ada 1050 kilogram potongan tubuh dari pembantaian di Masjid Al-Tabiin. Kami menaruhnya dalam 15 kantong,”ujar pejabat di Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza lewat keterangan tertulis kepada Republika di Jakarta, Ahad (11/8/2024).
Serangan udara zionis menargetkan Masjid Al-Tabiin terletak di tengah Kota Gaza, di lingkungan Al-Daraj, di Jalan Al-Sahaba, Gaza, berdasarkan keterangan tertulis dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza kepada Republika, Sabtu (10/8/2024).
Menurut sumberRepublikadi Kementerian Kesehatan Palestina, masjid tersebut berada di dalam lingkungan sekolah Al-Tabi'een. Selain berfungsi sebagai masjid, warga Gaza juga kerap melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam bangunan tersebut. "Lokasi masjid itu dekat rumah saya. Kami beberapa kali sholat disana. Masjid itu tidak terafiliasi dengan kegiatan politik apapun. Agaknya mereka ingin menghancurkan kami semua,"ujar sumber tersebut yang merupakan pejabat di Kementerian Kesehatan Palestina. "Hasbunallah wani'mal wakil,"ucap dia.
Penjajah teroris Israel menargetkan lokasi yang dijadikan masjid tersebut saat sholat Subuh. Mereka menewaskan lebih dari 100 jamaah dan melukai sejumlah besar lainnya. Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk kejahatan keji terhadap warga sipil ini dan menyerukan kepada seluruh masyarakat internasional untuk menghentikan pembantaian terhadap warga sipil.
Kementerian Kesehatan juga mendesak agar Israel segera mengizinkan masuknya rumah sakit lapangan dengan obat-obatan dan peralatan medis ke Jalur Gaza utara yang terkena dampak secepat mungkin.
Mereka menuntut Komite Palang Merah Internasional untuk melakukan tugasnya, memecah kebisuannya, dan mengutuk pembantaian ini secara langsung di udara. "Kebisuan telah menjadi awal dari pembunuhan terhadap lebih banyak lagi warga sipil tak berdosa,"ujar Kementerian Kesehatan.
Bukan pertama kali serang masjid..
Ini bukan pertamakalinya Israel menyerang tempat ibadah dan sekolah. Pada 13 Juli lalu, pasukan penjajahan Israel menyasar puluhan jamaah shalat dzuhur di sebuah mushalla di Jalur Gaza. Belasan syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangan pada Sabtu siang tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, pada tengah hari pesawat-pesawat tempur penjajah menargetkan mushalla di dekat Masjid Putih di kamp pengungsi al-Shati di sebelah barat Kota Gaza. Serangan itu mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 17 warga sipil dan melukai banyak orang lainnya, termasuk anak-anak dan wanita.
Serangan Israel tersebut menyasar orang-orang yang sedang berkumpul untuk shalat dzuhur di mushalla tersebut. Rekaman video kamp pengungsi Shati setelah serangan Israel menunjukkan mayat di dalam gedung dan bekas darah.
“Warga di lingkungan tersebut memutuskan untuk melaksanakan shalat berjamaah di mushalla, kami menghindari shalat berjamaah pada Magrib dan Isya di masjid agar tidak menjadi sasaran. Kami terkejut hari ini bahwa sebuah rudal Israel menargetkan tempat itu. Semuanya keluar berkeping-keping, tidak kurang dari 20 korban.”
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Pihak Kepresidenan Palestina menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) turut bertanggung jawab atas serangan Israel di sebuah sekolah di kawasan Daraj, Kota Gaza, yang menewaskan lebih dari 100 orang pada Sabtu (10/8/2024). Menurut laporan, serangan udara Israel terhadap sekolah Al Tabi’in yang menampung ribuan pengungsi tersebut terjadi pada Sabtu “pada waktu shalat Subuh”.
“Kami menganggap pemerintah AS bertanggung jawab atas pembantaian ini karena dukungan finansial, militer, dan politik mereka kepada Israel,” kata Kepresidenan Palestina dalam pernyataannya yang dipantau di media sosial pada Sabtu (10/8/2024).
Palestina memandang serangan tersebut sebagai bagian dari tindakan sistematis Israel untuk “memusnahkan” rakyat Palestina dengan pembantaian dan pembunuhan setiap hari. Apalagi, serangan tersebut terjadi sehari setelah AS menyuntikkan dana tambahan sebesar 3,5 miliar dolar AS (sekitar Rp55,8 triliun) kepada militer Israel.
“Bantuan tersebut dikucurkan pada saat yang sama dengan serangan parah ini, yang membuktikan keterlibatan AS dalam genosida yang sedang berlangsung,” tulis pernyataan itu.
Untuk itu, Palestina kembali mendesak AS untuk menekan Israel agar menghentikan agresinya, berhenti membunuh warga Palestina yang tidak bersalah, dan mematuhi hukum dan norma internasional.
“AS harus segera mengakhiri dukungan tanpa syaratnya kepada Israel, yang menyebabkan tewasnya ribuan orang tak bersalah, termasuk anak-anak, wanita, dan lansia,” kata pernyataan itu.
Israel mengakui serangan ke sekolah di Gaza tersebut, seraya berdalih bahwa gedung itu menjadi “markas militer” kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Selain menewaskan seratusan warga Palestina yang mengungsi di sekolah itu, serangan Israel tersebut melukai ratusan pengungsi lainnya.
Sejak 7 Oktober 2023, serangan habis-habisan Israel di Jalur Gaza telah membunuh hampir 40.000 warga Palestina. Agresi Israel juga menghancurkan 70 persen tempat tinggal dan infrastruktur lain serta menimbulkan bencana kelaparan yang mengancam jiwa warga yang masih bertahan di wilayah kantong Palestina itu.
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Pihak Kepresidenan Palestina menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) turut bertanggung jawab atas serangan Israel di sebuah sekolah di kawasan Daraj, Kota Gaza, yang menewaskan lebih dari 100 orang pada Sabtu (10/. Menurut laporan, serangan udara Israel terhadap sekolah Al Tabi’in yang menampung ribuan pengungsi tersebut terjadi pada Sabtu “pada waktu shalat Subuh”.
“Kami menganggap pemerintah AS bertanggung jawab atas pembantaian ini karena dukungan finansial, militer, dan politik mereka kepada Israel,” kata Kepresidenan Palestina dalam pernyataannya yang dipantau di media sosial pada Sabtu (10/8/2024).
Palestina memandang serangan tersebut sebagai bagian dari tindakan sistematis Israel untuk “memusnahkan” rakyat Palestina dengan pembantaian dan pembunuhan setiap hari. Apalagi, serangan tersebut terjadi sehari setelah AS menyuntikkan dana tambahan sebesar 3,5 miliar dolar AS (sekitar Rp55,8 triliun) kepada militer Israel.
“Bantuan tersebut dikucurkan pada saat yang sama dengan serangan parah ini, yang membuktikan keterlibatan AS dalam genosida yang sedang berlangsung,” tulis pernyataan itu.
Untuk itu, Palestina kembali mendesak AS untuk menekan Israel agar menghentikan agresinya, berhenti membunuh warga Palestina yang tidak bersalah, dan mematuhi hukum dan norma internasional.
“AS harus segera mengakhiri dukungan tanpa syaratnya kepada Israel, yang menyebabkan tewasnya ribuan orang tak bersalah, termasuk anak-anak, wanita, dan lansia,” kata pernyataan itu.
Israel mengakui serangan ke sekolah di Gaza tersebut, seraya berdalih bahwa gedung itu menjadi “markas militer” kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Selain menewaskan seratusan warga Palestina yang mengungsi di sekolah itu, serangan Israel tersebut melukai ratusan pengungsi lainnya.
Sejak 7 Oktober 2023, serangan habis-habisan Israel di Jalur Gaza telah membunuh hampir 40.000 warga Palestina. Agresi Israel juga menghancurkan 70 persen tempat tinggal dan infrastruktur lain serta menimbulkan bencana kelaparan yang mengancam jiwa warga yang masih bertahan di wilayah kantong Palestina itu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebiadaban Israel di jalur Gaza belum juga berhenti. Militer zionis menargetkan Masjid Al-Tabi'een terletak di tengah Kota Gaza, di lingkungan Al-Daraj, di Jalan Al-Sahaba, Gaza, berdasarkan keterangan tertulis dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza kepada Republika, Sabtu (10/8/2024).
Menurut sumber Republika di Kementerian Kesehatan Palestina, masjid tersebut berada di dalam lingkungan sekolah Al-Tabi'een. Selain berfungsi sebagai masjid, warga Gaza juga kerap melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam bangunan tersebut. "Lokasi masjid itu dekat rumah saya. Kami beberapa kali sholat disana. Masjid itu tidak terafiliasi dengan kegiatan politik apapun. Agaknya mereka ingin menghancurkan kami semua,"ujar sumber tersebut yang merupakan pejabat di Kementerian Kesehatan Palestina. "Hasbunallah wani'mal wakil,"ucap dia.
Penjajah teroris Israel menargetkan lokasi yang dijadikan masjid tersebut saat sholat Subuh. Mereka menewaskan lebih dari 100 jamaah dan melukai sejumlah besar lainnya. Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk kejahatan keji terhadap warga sipil ini dan menyerukan kepada seluruh masyarakat internasional untuk menghentikan pembantaian terhadap warga sipil.
Kementerian Kesehatan juga mendesak agar Israel segera mengizinkan masuknya rumah sakit lapangan dengan obat-obatan dan peralatan medis ke Jalur Gaza utara yang terkena dampak secepat mungkin.
Mereka menuntut Komite Palang Merah Internasional untuk melakukan tugasnya, memecah kebisuannya, dan mengutuk pembantaian ini secara langsung di udara. "Kebisuan telah menjadi awal dari pembunuhan terhadap lebih banyak lagi warga sipil tak berdosa,"ujar Kementerian Kesehatan.
Ini bukan pertamakalinya Israel menyerang tempat ibadah dan sekolah. Pada 13 Juli lalu, pasukan penjajahan Israel menyasar puluhan jamaah shalat dzuhur di sebuah mushalla di Jalur Gaza. Belasan syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangan pada Sabtu siang tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, pada tengah hari pesawat-pesawat tempur penjajah menargetkan mushalla di dekat Masjid Putih di kamp pengungsi al-Shati di sebelah barat Kota Gaza. Serangan itu mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 17 warga sipil dan melukai banyak orang lainnya, termasuk anak-anak dan wanita.
Serangan Israel tersebut menyasar orang-orang yang sedang berkumpul untuk shalat dzuhur di mushalla tersebut. Rekaman video kamp pengungsi Shati setelah serangan Israel menunjukkan mayat di dalam gedung dan bekas darah.
“Warga di lingkungan tersebut memutuskan untuk melaksanakan shalat berjamaah di mushalla, kami menghindari shalat berjamaah pada Magrib dan Isya di masjid agar tidak menjadi sasaran. Kami terkejut hari ini bahwa sebuah rudal Israel menargetkan tempat itu. Semuanya keluar berkeping-keping, tidak kurang dari 20 korban.”
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan bahwa tentara Israel telah mengintensifkan serangannya dengan membom sekolah-sekolah yang digunakan sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi Palestina di Kota Gaza. Dalam 10 hari terakhir, sebanyak sembilan sekolah berisi pengungsi telah dibombardir Israel.
Pada Kamis, dua serangan terhadap tempat penampungan sekolah di Kota Gaza menewaskan sedikitnya 15 warga Palestina dan melukai sekitar 30 lainnya. Dalam sebuah laporan, kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa serangan selama delapan hari terakhir telah menewaskan 79 warga Palestina dan melukai 143 lainnya, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Ini belum termasuk serangan di Masjid Al-Tabi'een hari ini.
Laporan tersebut mengatakan bahwa jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, karena “kehilangan orang lain di bawah reruntuhan yang tidak dapat diselamatkan karena kurangnya peralatan yang memadai untuk kru penyelamat”.
Juliette Touma, juru bicara Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk pengungsi Palestina, mengatakan kepada surat kabar AS the Washington Post bahwa Israel telah menyerang 70 persen sekolah-sekolah badan tersebut sejak pecahnya perang Gaza, yang sebagian besar digunakan sebagai tempat penampungan. mengungsi warga Palestina pada saat mereka diserang.
Komentarnya kepada surat kabar tersebut muncul setelah Israel menyerang dua sekolah lagi di Jalur Gaza utara kemarin, menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai sekitar 30 lainnya. Touma mengatakan bahwa tentara Israel segera mengeluarkan pernyataan setelah serangan tersebut, mengklaim bahwa bangunan tersebut digunakan oleh pejuang Hamas dan menyerang mereka adalah hal yang dibenarkan.
“Ini adalah klaim yang sangat serius,” katanya. “Kami tidak punya cara untuk mengkonfirmasi atau menyangkal klaim ini, kami juga tidak punya kemampuan untuk menyelidikinya. Apa yang kami tahu adalah bahwa setiap kali sekolah atau gedung ini diserang, ada warga sipil, perempuan dan anak-anak yang terkena serangan.”
Pusat Satelit PBB (UNOSAT) memperkirakan 63 persen dari seluruh bangunan di Gaza telah rusak atau hancur selama perang. Temuannya, berdasarkan analisis citra satelit, mengklasifikasikan 156.409 bangunan sebagai hancur, rusak berat, rusak sedang, atau mungkin rusak.
Daerah yang paling terkena dampaknya dalam beberapa bulan terakhir adalah Rafah dan Gaza utara, kata UNOSAT, dengan 2.300 bangunan baru dinilai rusak di Gaza utara dan sekitar 15.030 di Rafah.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebiadaban Israel di jalur Gaza belum juga berhenti. Militer zionis menargetkan Masjid Al-Tabi'een terletak di tengah Kota Gaza, di lingkungan Al-Daraj, di Jalan Al-Sahaba, Gaza, berdasarkan keterangan tertulis dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza kepada Republika, Sabtu (10/8/2024).
Menurut sumber Republika di Kementerian Kesehatan Palestina, masjid tersebut berada di dalam lingkungan sekolah Al-Tabi'een. Selain berfungsi sebagai masjid, warga Gaza juga kerap melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam bangunan tersebut. "Lokasi masjid itu dekat rumah saya. Kami beberapa kali sholat disana. Masjid itu tidak terafiliasi dengan kegiatan politik apapun. Agaknya mereka ingin menghancurkan kami semua,"ujar sumber tersebut yang merupakan pejabat di Kementerian Kesehatan Palestina. "Hasbunallah wani'mal wakil,"ucap dia.
Penjajah teroris Israel menargetkan lokasi yang dijadikan masjid tersebut saat sholat Subuh. Mereka menewaskan lebih dari 100 jamaah dan melukai sejumlah besar lainnya. Kementerian Kesehatan Palestina mengutuk kejahatan keji terhadap warga sipil ini dan menyerukan kepada seluruh masyarakat internasional untuk menghentikan pembantaian terhadap warga sipil.
Kementerian Kesehatan juga mendesak agar Israel segera mengizinkan masuknya rumah sakit lapangan dengan obat-obatan dan peralatan medis ke Jalur Gaza utara yang terkena dampak secepat mungkin.
Mereka menuntut Komite Palang Merah Internasional untuk melakukan tugasnya, memecah kebisuannya, dan mengutuk pembantaian ini secara langsung di udara. "Kebisuan telah menjadi awal dari pembunuhan terhadap lebih banyak lagi warga sipil tak berdosa,"ujar Kementerian Kesehatan.
Ini bukan pertamakalinya Israel menyerang tempat ibadah dan sekolah. Pada 13 Juli lalu, pasukan penjajahan Israel menyasar puluhan jamaah shalat dzuhur di sebuah mushalla di Jalur Gaza. Belasan syahid dan puluhan lainnya terluka dalam serangan pada Sabtu siang tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, pada tengah hari pesawat-pesawat tempur penjajah menargetkan mushalla di dekat Masjid Putih di kamp pengungsi al-Shati di sebelah barat Kota Gaza. Serangan itu mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 17 warga sipil dan melukai banyak orang lainnya, termasuk anak-anak dan wanita.
Serangan Israel tersebut menyasar orang-orang yang sedang berkumpul untuk shalat dzuhur di mushalla tersebut. Rekaman video kamp pengungsi Shati setelah serangan Israel menunjukkan mayat di dalam gedung dan bekas darah.
“Warga di lingkungan tersebut memutuskan untuk melaksanakan shalat berjamaah di mushalla, kami menghindari shalat berjamaah pada Magrib dan Isya di masjid agar tidak menjadi sasaran. Kami terkejut hari ini bahwa sebuah rudal Israel menargetkan tempat itu. Semuanya keluar berkeping-keping, tidak kurang dari 20 korban.”
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan bahwa tentara Israel telah mengintensifkan serangannya dengan membom sekolah-sekolah yang digunakan sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi Palestina di Kota Gaza. Dalam 10 hari terakhir, sebanyak sembilan sekolah berisi pengungsi telah dibombardir Israel.
Pada Kamis, dua serangan terhadap tempat penampungan sekolah di Kota Gaza menewaskan sedikitnya 15 warga Palestina dan melukai sekitar 30 lainnya. Dalam sebuah laporan, kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa serangan selama delapan hari terakhir telah menewaskan 79 warga Palestina dan melukai 143 lainnya, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Ini belum termasuk serangan di Masjid Al-Tabi'een hari ini.
Laporan tersebut mengatakan bahwa jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, karena “kehilangan orang lain di bawah reruntuhan yang tidak dapat diselamatkan karena kurangnya peralatan yang memadai untuk kru penyelamat”.
Juliette Touma, juru bicara Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk pengungsi Palestina, mengatakan kepada surat kabar AS the Washington Post bahwa Israel telah menyerang 70 persen sekolah-sekolah badan tersebut sejak pecahnya perang Gaza, yang sebagian besar digunakan sebagai tempat penampungan. mengungsi warga Palestina pada saat mereka diserang.
Komentarnya kepada surat kabar tersebut muncul setelah Israel menyerang dua sekolah lagi di Jalur Gaza utara kemarin, menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai sekitar 30 lainnya. Touma mengatakan bahwa tentara Israel segera mengeluarkan pernyataan setelah serangan tersebut, mengklaim bahwa bangunan tersebut digunakan oleh pejuang Hamas dan menyerang mereka adalah hal yang dibenarkan.
“Ini adalah klaim yang sangat serius,” katanya. “Kami tidak punya cara untuk mengkonfirmasi atau menyangkal klaim ini, kami juga tidak punya kemampuan untuk menyelidikinya. Apa yang kami tahu adalah bahwa setiap kali sekolah atau gedung ini diserang, ada warga sipil, perempuan dan anak-anak yang terkena serangan.”
Pusat Satelit PBB (UNOSAT) memperkirakan 63 persen dari seluruh bangunan di Gaza telah rusak atau hancur selama perang. Temuannya, berdasarkan analisis citra satelit, mengklasifikasikan 156.409 bangunan sebagai hancur, rusak berat, rusak sedang, atau mungkin rusak.
Daerah yang paling terkena dampaknya dalam beberapa bulan terakhir adalah Rafah dan Gaza utara, kata UNOSAT, dengan 2.300 bangunan baru dinilai rusak di Gaza utara dan sekitar 15.030 di Rafah.