#30 tag 24jam
Harry Stine, Sukses Berharta Rp160,09 T dari Bisnis Benih Kedelai
Harry Stine berhasil menjadi triliuner berharta Rp160,09 triliun berkat bisnis benih kedelai dan jagung yang dikembangkannya. [722] url asal
#harry-stine #taipan #taipan-cnnindonesia #taipan-cnn-indonesia #forbes
(CNN Indonesia - Ekonomi) 27/10/24 08:35
v/17058873/
Siapa bilang menjadi petani tidak bisa menjadikan hidup seseorang menjadi kaya raya dan bahkan bisa menjadi triliuner.
Lihat saja kasus yang terjadi pada Harry Stine. Meskipun bekerja di sektor pertanian, ia berhasil menjadi seorang yang kaya raya.
Forbes mencatat nilai kekayaannya per Sabtu (26/10) kemarin tembus US$10,2 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp15.695 per dolar AS, kekayaan Harry Stine tembus Rp160,09 triliun.
Jumlah harta itu membuatnya menjadi orang terkaya nomor 244 di dunia pada saat ini.
Lalu siapa Harry Stine dan bagaimana sepak terjangnya sehingga dia bisa menjadi petani kaya raya saat ini?
Mengutip berbagai sumber, Harry Stine merupakan pengusaha sektor pertanian Amerika Serikat yang lahir pada 26 Oktober 1941, di Adel, Iowa, AS dari keluarga petani.
Latar belakang itulah yang kemudian membawanya ke dunia pertanian. Sejak 5 tahun, ia sudah diajarkan bercocok tanam oleh orang tuanya dan mengendarai traktor untuk mengambil tumpukan jerami di sawah.
Ia sangat menikmati kegiatan itu. Kenikmatan itulah yang kemudian pada saat dewasa mendorongnya kuliah di jurusan agronomi Iowa State University.
Di kampus inilah kemampuan bertani Harry Stine kian terasah. Pasalnya di kampus ini, minatnya untuk memajukan sektor pertanian makin besar. Terutama setelah ia kepincut pada bidang genetika tanaman dan teknik pertanian.
Setelah menerima gelar sarjana, Stine kembali ke kampungnya untuk membantu orang tuanya bertani .
Pada akhir 960an, Stine kemudian bergabung dengan empat petani di tempatnya membentuk Improved Variety Research (IVR), perusahaan penelitian dan pengembangan kedelai swasta pertama di negara ini.
Penelitian dilakukan di peternakan Stine dekat Adel. Namun, IVR tak berumur lama karena beberapa waktu kemudian dibubarkan.
Namun, pembubaran tak menghentikan Stine. Ia kemudian mendirikan perusahaan pembenihan Stine. Latar belakangnya saat itu satu; ketertarikannya pada pemuliaan kedelai setelah menemukan beberapa tanaman kedelai yang tidak biasa di lahan pertanian.
Harry menyadari ada peluang keuntungan besar dari pemuliaan kedelai itu. Lewat perusahaan itu, ia mengembangkan tanaman kedelai baru yang memiliki hasil lebih tinggi.
Ia mulai melakukan pemuliaan dan pemeriksaan hasil tanaman kedelai. Padahal, kegiatan ini sebelumnya hanya dilakukan oleh universitas. Dari situ, ia mulai memahami manfaat program pemuliaan konvensional terhadap industri kedelai.
Setelah berhasil melakukan pengembangan, Stine memulai penjualan benih eceran yang ia kembangkan pada 1979 di bawah labelnya sendiri, Stine Soybean Seeds.
Upaya itu berbuah manis. Penjualan benih kedelai yang dilakukan Stine meledak.
Hanya dalam waktu lima tahun, Stine Seed Company mencapai penjualan lebih dari setengah juta unit benih. Organisasi pemasaran kedelai Stine Seed Company meluas dari Ohio hingga Colorado, utara hingga Minnesota dan selatan hingga Missouri.
Keberhasilan itu tak lantas membuat Stine berbangga diri. Dia malah terus memperluas penelitian kedelai ke lokasi di sebelah timur Mississippi untuk menghasilkan bibit yang unggul.
Tak hanya di sektor kedelai, ia melanjutkan petualangannya ke pengembangan bibit jagung. Bersama dengan rekannya Bill Eby mendirikan Eden Enterprises yang berfungsi sebagai perusahaan pembibitan jagung.
Upaya tersebut juga membuahkan hasil gemilang. Lagi-lagi kegemilangan itu belum menghentikan langkah Stine.
Setelah kesuksesan berhasil diraih, pada 1986-1989, Stine melanjutkan petualangan bisnisnya dengan mengakuisisi sembilan perusahaan benih regional, memperluas wilayah pemasaran perusahaan dari Nebraska ke Ohio, Dakotas hingga ke Missouri.
Kesuksesan demi kesuksesan itu membuat bisnisnya berhasil masuk dalam empat perusahaan benih kedelai terbesar di AS. Stine Seed Company semakin berkembang hingga memiliki 1.700 dealer yang tersebar di 15 negara bagian AS yang memasarkan lebih dari 1 juta unit benih kedelai.
Di tengah perkembangan pesat itu, Stine Seed Company mendapat tambahan energi baru yang menunjang bisnis mereka. Mereka menjadi perusahaan pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang menerima paten atas varietas kedelai.
Paten diberikan pada dua jenis kedelai: Stine 1570, paten #5304728 dan Stine 2550, paten #5304729.
Setelah mendapatkan paten itu, Stine Seed Company mengadakan perjanjian non-eksklusif dengan Monsanto Agricultural Products dan Asgrow Seed Company.
Perjanjian ini dirancang untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan genetika kedelai dan teknologi pengembangan produk.
Perkembangan inilah yang kemudian membuat harta kekayaan Harry Stine melesat.
Sebagai pengusaha dan petani sukses, Stine ternyata cukup baik hati. Termasuk kepada karyawan-karyawannya.
Beberapa tahun yang lalu, Stine diketahui memberi setiap karyawan bonus US$1.000 untuk setiap tahun mereka bekerja di perusahaan.
Pada Natal, dia juga memberi setiap karyawan kenaikan upah US$1 per jam bagi pekerja yang berada pada skala gaji paling bawah.
"Saya hanya tahu sebagai sebuah perusahaan, lebih baik bagi kami untuk membuat karyawan kami merasa baik," katanya seperti dikutip dari Forbes.
Ia mengatakan berbuat baik kepada karyawan karena percaya bisnis yang baik dimulai dari situ.
Mitchell Morgan, Eks Pegawai Toko Jadi Raja Properti Berharta Rp85 T
Mitchell Morgan merupakan pendiri dan CEO Morgan Properties, perusahaan properti terbesar AS. Hartanya ditaksir Rp85 triliun. [536] url asal
#taipan #taipan-cnn-indonesia #mitchell-morgan #morgan-properties #orang-terkaya
(CNN Indonesia - Ekonomi) 20/10/24 13:27
v/16744376/
Jika Indonesia punya pendiri Lippo Group Mochtar Riady sebagai raja real estate Tanah Air, maka Amerika Serikat (AS) punya Mitchell Morgan.
Morgan merupakan pendiri dan CEO Morgan Properties, salah satu perusahaan apartemen terbesar AS. Perusahaan real estate ini memiliki lebih dari 350 yang tersebar di 19 negara bagian.
Forbes menaksir Morgan memiliki kekayaan bersih sebesar US$5,5 miliar atau setara Rp85 triliun (asumsi kurs Rp15.470 per dolar AS).
Meski sekarang ia pemilik kerajaan bisnis bernilai miliaran dolar AS, siapa sangka dulunya Morgan adalah pegawai di toko sepatu.
Mitchell Morgan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia lahir dari keluarga kelas menengah di Philadelphia.
Ayahnya pernah bertugas di Perang Dunia II. Usai perang berakhir, sang ayah menjadi sopir taksi untuk mencari nafkah, sebelum akhirnya membuka toko sepatu.
Bisnis ayahnya pernah dua kali bangkrut. Morgan menceritakan ayahnya ada tipikal pebisnis yang hebat dan visioner. Hanya saja, ia punya kekurangan soal mengatur anggaran.
Karena kejeliannya melihat pentingnya mengatur anggaran berdasarkan pengalaman ayahnya, ia memutuskan belajar akuntansi di Tample University pada 1972.
Untuk membiayai studinya, Morgan bekerja penuh waktu di toko sepatu milik ayahnya.
"Saya kuliah dari pukul 8.30 pagi hingga 12.30 siang, lalu saya langsung pergi ke toko sepatu," kenang Morgan.
Ia lulus kuliah di tengah resesi. Morgan sempat menjadi sales asuransi meski sebentar. Setelah itu, ia akhirnya bekerja sebagai akuntan dengan gaji US$1,65 per jam.
Bayaran ini sebetulnya jauh lebih rendah dibanding bayaran menjaga toko sepatu. Namun, Morgan muda tahu apa yang ia inginkan dalam hidup, dan itu bukan berbisnis sepatu.
"Saya tidak ingin menjual sepatu. (Dulu) saya melakukannya karena saya perlu menghidupi diri sendiri, seperti mahasiswa Temple pada umumnya, Anda bekerja dan bersekolah. Anda tidak punya pilihan, Anda harus melakukan keduanya," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan pihak Temple University.
Morgan juga memperoleh gelar sarjana hukum di kampus yang sama pada 1980. Ia bahkan lulus ujian advokat, tetapi Morgan tak pernah bekerja sebagai pengacara. Pilihan menekuni bidang hukum untuk memperkuat kredibilitas dan keahliannya di dunia akuntansi.
Ia menemukan jalan ke bisnis properti kala bekerja sebagai kepala keuangan di Laventhol & Horwath, sebuah developer dan pengelola apartemen. Saat itulah ia juga menyadari tak ingin cuma jadi karyawan orang lain.
Pada 1985, ia memutuskan untuk mendirikan perusahaannya sendiri, Morgan Properties. Kini, Morgan Properties berkembang jadi pemilik apartemen ketiga terbesar di AS.
Morgan Properties mempekerjakan 1.200 orang, memiliki lebih dari 160 kompleks apartemen di 12 negara bagian, dari New York hingga Tennessee. Tak cuma itu, Morgan Properties adalah tuan tanah terbesar di Pennsylvania, Maryland, dan New Jersey.
Morgan membeli gedung apartemen tua, yang biasanya dibangun antara 1960-1990, lalu menyulapnya agar punya nilai tambah.
Morgan dan keluarganya juga dikenal sebagai dermawan. Awal 2024, mereka menyumbang US$50 juta atau Rp773 miliar kepada Rumah Sakit Anak Philadelphia untuk membangun gedung penelitian baru.
Donasinya sebagian besar menyasar wilayah Philadelphia. Sumbangan Morgan mengalir ke Rumah Sakit Anak Philadelphia, Universitas Pennsylvania, Museum Seni Philadelphia, serta mendukung berbagai lembaga lain termasuk Orkestra Philadelphia dan Museum Nasional Sejarah Yahudi Amerika di Independence Mall.
Morgan menyumbang jutaan dolar AS untuk mantan kampusnya, Temple. Ia pernah menyatakan dari semua tujuan donasi, Temple adalah yang paling dekat di hati.
"Prioritas saya dalam hidup adalah keluarga saya, kemudian bisnis saya, dan sekarang Temple," kata Morgan.
Wang Ning, Taipan di Balik 'Pop Mart' yang Sukses Bawa Labubu Mendunia
Wang Ning adalah konglomerat muda China yang sukses membesarkan perusahaan mainan, Pop Mart. Total kekayaannya mencapai Rp63,35 triliun. [557] url asal
#wang-ning #pop-mart #labubu #taipan #konglomerat #taipan-cnn-indonesia #orang-terkaya #china
(CNN Indonesia - Ekonomi) 22/09/24 09:40
v/15381047/
Wang Ning adalah konglomerat muda China yang sukses membesarkan perusahaan mainan di kotak misterius, Pop Mart. Toko itu menjadi populer beberapa waktu terakhir setelah demam boneka kelinci Labubu melanda Indonesia.
Berdasarkan catatan Forbes, total kekayaan Wang mencapai US$4,2 miliar atau sekitar Rp63,35 triliun per Jumat (20/9). Pundi-pundi hartanya itu membuatnya masuk ke jajaran orang terkaya di dunia dan menduduki peringkat-817.
Wang lahir di Provinsi Henan, China pada 1987. Informasi mengenai orang tua maupun masa kecilnya masih menjadi misteri.
Dilansir SCMP, pada 2009, Wang meraih gelar sarjana periklanan dari Universitas Zhengzhou, China. Lepas lulus, ia bekerja di perusahaan media digital Sina, anak usaha Weibo.
Namun, ia hanya betah setahun. Pasalnya, Wang ingin memiliki perusahaan sendiri dengan melahirkan Pop Mart pada 2010.
Keputusan menjadi pengusaha diambil setelah Wang melakukan perjalanan ke Hong Kong. Dalam perjalanan itu, ia terinspirasi saat meliat jaringan ritel Hong Kong yang menjual berbagai macam produk yang sedang tren dan memutuskan untuk membawa konsep yang sama ke China.
Gerai pertama Pop Mart berada di area 'Silicon Valley' China, Zhongguancun, Beijing. Awalnya, Wang menghadapi banyak masalah mulai dari manajemen inventori hingga layanan pelanggan. Maklum, kala itu Wang masih mencari-cari produk yang cocok dengan menjual berbagai macam barang.
Angin segar untuk bisnisnya mulai berhembus pada 2014. Saat mendaftar di Sekolah Manajemen Guanghua Universitas Peking, Wang bertemu dengan sekelompok teman sekelas yang berpikiran sama dengannya. Ia pun mengajak mereka untuk bergabung ke manajemen perusahaannya.
Pada tahun yang sama, Wang mulai mengurangi lini produk yang dijual Pop Mart. Ia memilih untuk fokus pada mainan karakter yang dijual pada kotak misteri (blind box) seperti yang dilakukan mesin penjual kapsul gashapon di Jepang.
Wang lantas berpikir untuk menggandeng sejumlah seniman guna mengembangkan karakter boneka yang ada di dalam kotak misteri tersebut. Keputusan itu tepat.
Salah satu yang paling terkenal adalah seniman Hong Kong, Kenny Wong, yang menciptakan karakter wanita berwajah bulat dan bermata besar bernama Molly. Hingga kini, karakter itu dicintai oleh jutaan generasi muda China.
Berdasarkan catatan SCMP, kolaborasi keduanya pada 2016 membuat penjualan Pop Mart melesat dari US$22 juta pada 2017 menjadi US$73 juta pada 2018. Pada penjualan Hari Lajang 2019, Pop Mart sukses meraup penjualan US$22 juta dalam sehari.
Selain itu, ada pula karakter Labubu ciptaan Kasing Lung. Monster mirip kelinci lucu ini diciptakan Lung pada 2015. Pop Mart dan Lung menandatangani perjanjian lisensi ekslusif Labubu pada 2019.
Popularitas Labubu meroket setelah Lisa, anggota girlband Korea Selatan Blackpink, menggunakannya sebagai gantungan kunci. Bahkan, orang rela antre dari pagi demi mendapatkan edisi terbatas mainan monster kelinci itu saat pembukaan gerai pertama Pop Mart di Indonesia akhir pekan lalu.
Saat pandemi covid-19 melanda, Pop Mart sukses melaluinya. Wang mengarahkan perusahaan untuk mengalihkan penjualan dari gerai fisik ke e-commerce, termasuk melalui platform milik perusahaan Paqu dan situs belanja Tmall.
Wang juga sukses membawa Pop Mart melantai di bursa saham pada 2020. Sebelum IPO, pendapatan perusahaan sudah menembus US$256,8 juta dan bekerja sama dengan Walt Disney dan Universal Studios.
Pop Mart telah menjadi raksasa mainan di China dengan menguasai pangsa pasar lebih dari 10 persen.
Perusahaan milik taipan berusia 37 tahun ini sudah menggandeng puluhan seniman untuk menciptakan beragam produk karakter eksklusif termasuk Dimoo, Pucky, hingga Skull Panda.
Saat ini, lebih dari 450 gerai dan ribuan mesin penjual mainan otomatis (robo-shop) Pop Mart tersebar di 30 negara.
Wu Yajun, Mantan Wartawan yang Menjelma Jadi Ratu Properti Rp84 T
Wu Yajun, anak dari keluarga biasa yang pernah jadi buruh pabrik bergaji US$16 per bulan kini menjelma jadi ratu properti China berharta Rp84,7 triliun. [670] url asal
#taipan #taipan-cnn-indonesia #wu-yajun #properti #forbes
(CNN Indonesia - Ekonomi) 25/08/24 08:30
v/14688946/
Perjalanan hidup tidak pun seorang bisa mengetahuinya. Begitu juga mungkin yang terjadi pada Wu Yajun.
Pernah menjadi buruh pabrik di masa mudanya, kini Wu Yajun menjelma menjadi perempuan kaya raya bergelimang harta.
Mengutip Forbes, total kekayaannya kini mencapai US$5,5 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp15.401 per dolar AS, total kekayaan Wu Yajun itu tembus Rp84,7 triliun.
Jumlah harta itu membuatnya menjadi wanita terkaya nomor 61 di China saat ini. Sementara itu untuk level dunia, ia menempati peringkat orang terkaya nomor 572.
Lalu siapa sebenarnya dia sehingga bisa menjelma dari seorang buruh pabrik menjadi wanita sekaya raya seperti itu?
Mengutip berbagai sumber, Wu Yajun merupakan pengusaha dari China. Ia lahir di Chongqing, China pada 1964 silam.
Meskipun ia sekarang merupakan pengusaha sukses, sejatinya Wu Yajun bukan berasal dari keluarga pengusaha.
Orang tuanya berdasarkan informasi yang disampaikan sejumlah orang yang dekat dengannya adalah penjahit. Tidak banyak informasi yang bisa digali soal masa kecil dan latar belakang pendidikan Wu Yajun.
Yang terlacak adalah dia pernah menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Teknik Navigasi Northwestern Polytechnical University, China. Ia lulus pada 1984 lalu.
Usai menyelesaikan studinya di perguruan tinggi, ia bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasilan hanya US$16 per bulan. Namun, pekerjaan itu hanya ia lakoni selama 4 tahun.
Pada 1988, ia banting setir menjadi seorang wartawan. Pekerjaan inilah yang kemudian membalik roda kehidupannya.
Selama setengah dekade berikutnya, dia bekerja sebagai reporter dan editor di sebuah media properti yang dikendalikan langsung oleh Biro Konstruksi Chongqiang.
Pekerjaan inilah yang kemudian memberikan andil besar kepada kehidupan Wu Yajin dan masa depannya sekarang ini. Di pekerjaan ini, ia mulai berkenalan dengan para pelaku usaha properti China dan juga pembuat kebijakan di sektor ini.
Semua ini memungkinkan Wu untuk mengumpulkan jaringan kontak industri yang hebat yang membantu meluncurkan karir cemerlang dalam pengembangan properti.
Jaringan dan ilmu itulah yang kemudian memantapkan langkahnya untuk membuka bisnis di sektor properti. Dengan bermodal awal 10 juta yuan, ia percaya diri mendirikan perusahaan bernama Chongqing Zhongjianke Real Estate Co Ltd pada 1995.
Namun entah dengan pertimbangan apa, nama itu kemudian berubah menjadi Longfor Properties. Booming sektor properti yang sedang terjadi di China saat itu membuat usahanya berkibar.
Meskipun dia tidak memiliki pengalaman dan ilmu pengembangan bisnis properti, pada saat itu, pembangunan proyek perumahan yang dilakukannya dianggap sukses besar di Chongqing.
Itu tak hanya terjadi karena kualitas konstruksi semata, tapi pemandangan, perlengkapan, dan manajemen properti bagus yang dihasilkan oleh perusahaannya.
Tak hanya di kota kelahirannya, bisnis properti Wu Yajun bahkan semakin berkembang ke sejumlah kota besar di China seperti Chengdu , Beijing , Shanghai , Changzhou , dan Dalian.
Longfor diketahui telah menciptakan produk-produk residensial dan serba guna seperti Yunhe Song, Royal Lake, Guangnian, Platinum Island, dan lainnya. Sejak 1998, Longfor telah mengembangkan lebih dari 1.200 proyek yang mencakup total luasan properti terbangun lebih dari 230 juta meter persegi.
Longfor telah berhasil menjual lebih dari 950 ribu unit properti. Hingga 2005, penjualan perusahaannya sudah mencapai nilai 2,12 miliar. Kinerja itu membuat perusahaan didirikan Wu Yajun secara konsisten masuk dalam peringkat 10 besar pengembang di China berdasarkan kekuatan komprehensif selama 13 tahun berturut-turut.
Meskipun proyek Longfor diterima dengan baik oleh pelanggan dan perusahaan memiliki arus kas baik, Wu tidak mau mengembangkan bisnisnya dengan tergesa-gesa dan serampangan.
Ia merasa sadar dengan risiko yang dihadapinya. Sebaliknya, dia mengerjakan berbagai proyek untuk mendapatkan pengalaman.
Strateginya berhasil. Hanya dalam waktu 15 tahun Wu berhasil mengubah Longfor dari sebuah perusahaan kecil menjadi nama besar di industri ini. Keberhasilan itu membuat kekayaannya terus melesat hingga menjadi kaya raya seperti sekarang ini.
Meski kaya raya, kehidupan Wu sejatinya cukup tertutup. Ketertutupan itu yang membuatnya selalu menerapkan prinsip 'tiga tidak'; tidak mau tampil di TV, tidak ada wawancara dan tidak ada tanda tangan.
Ketika ditanya mengapa dia tidak menonjolkan diri, Wu hanya tersenyum dan berkata: "Tidak ada yang perlu saya bicarakan. Saya hanya orang yang fokus pada bisnis saya sendiri," katanya seperti dikutip dari china.org.cn.
Dengan prinsip itulah, ia kini berhasil membuktikan bahwa perempuan bisa berhasil di sektor yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki.
Lucio Tan, eks Tukang Pel Pabrik Rokok Menjelma Jadi Taipan Rp42,05 T
Lucio Tan, seorang tukang pel dari Filipina berhasil menjelma menjadi seorang taipan berharta Rp42,5 triliun dari bisnis rokok, bir, peternakan babi. [693] url asal
#taipan-cnn-indonesia #taipan #lucio-tan
(CNN Indonesia - Ekonomi) 04/08/24 09:13
v/13219863/
Perputaran roda hidup tidak seorang pun bisa tahu. Begitu juga mungkin yang terjadi pada Lucio Tan.
Pernah hidup sengsara di masa belianya, kini ia justru menjelma menjadi hartawan. Mengutip Forbes, total harta kekayaan Lucio Tan kini tembus US$2,6 miliar.
Jika dirupiahkan dengan kurs Rp16.175 per dolar AS, kekayaan itu tembus Rp42,05 triliun.
Lalu siapa sebenarnya Lucio Tan dan bagaimana dia bisa menjelma menjadi seorang hartawan?
Mengutip berbagai sumber, merupakan pengusaha sukses dari Filipina. Ia lahir di Fukien, China pada 17 Juli 1934 lalu.
Meskipun sukses, masa lalu Lucio Tan cukup berliku. Maklum, ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Karena kondisi kehidupannya tersebut, ia harus prihatin.
Saat kecil misalnya, ia harus sekolah tanpa alas kaki alias sepatu. Tak hanya itu, demi menyambung hidup, dia harus bersekolah sambil bekerja sebagai buruh di pelabuhan.
Meskipun demikian, kondisi itu tak mematahkan semangatnya. Dia tetap bersekolah dan bersekolah. Ia bahkan berhasil meraih gelar sarjana teknik kimia di sebuah kampus ternama di Manila.
Memang gelar itu ia raih dengan kisah berliku. Pasalnya, sembari kuliah, ia harus bekerja membanting tulang menjadi petugas kebersihan dan pengepel lantai di sebuah pabrik tembakau.
Tapi, siapa sangka kerja kerasnya sebagai tukang pel di pabrik itu kemudian membawanya ke puncak kesuksesan. Cerita kesuksesan itu dimulai setelah ia dipromosikan atau dinaikkan jabatannya dari petugas kebersihan pabrik menjadi menjadi juru masak tembakau.
Di situ, ia menjadi pengatur bauran produk tembakau. Di situlah ia kemudian belajar banyak mengenai produk tembakau. Sukses belajar, ia kemudian banting setir menjadi pedagang tembakau di Ilocos.
Ini adalah cikal bakal kerajaan tembakau miliknya. Melalui kerajaan ini, pada 1966, ia mendirikan Fortune Tobacco Corp.
Kerajaan bisnis Tan ini sukses besar. Hanya dalam waktu kurang dari 15 tahun, perusahaan menjadi produsen rokok terbesar di Filipina.
Banyak yang menduga, kesuksesan ini tak lepas dari kedekatan Tan dengan Ferdinand Marcos, mendiang penguasa diktaktor Filipina kala itu. Berkat campur tangan Marcos, perusahaannya mendapatkan berbagai fasilitas 'mewah' dari negara, salah satunya keringanan pajak.
Tak hanya itu, berkat Marcos, Tan juga berhasil mendapatkan 'hak' monopoli untuk mendominasi industri tembakau di Filipina.
Karpet merah itu sendiri diduga diberikan Marcos ke Tan tidak secara gratis. Karpet ia berikan terkait sumbangan dana kampanye yang diberikan Tan kepadanya.
Mengutip Los Angeles Times, Tan menggelontorkan dana hingga US$11 juta untuk kegiatan kampanye Marcos. Berkat sumbangan itu, Tan tak hanya mendapatkan keringanan pajak dan hak monopoli industri tembakau di Filipina dari Marcos.
Sumbangan itu juga diduga memuluskan jalan bisnis Tan. Bisnisnya membesar. Pada 1977 misalnya, ia memperlebar sayap bisnisnya ke sektor perbankan dengan mengakuisisi General Bank and Trust Co. dari pemerintah Filipina hanya dengan harga 500 ribu peso.
Bank tersebut kemudian berganti nama menjadi Allied Bank. Setelah sukses di sektor perbankan, sekitar lima tahun kemudian, Tan melanjutkan petualangan bisnisnya ke industri pembuatan bir dengan mendirikan Asia Brewery, Inc.
Asia Brewery menjadi satu-satunya tempat pembuatan bir yang diizinkan bersaing dengan San Miguel Corp.
Tan terus melaju dan mengembangkan gurita bisnisnya ke banyak sektor. Ia masuk ke bisnis penerbangan dengan menguasai maskapai Philippine Airlines dan menjadi ketua serta CEO perusahaan itu pada 1995.
Ia juga mengakuisisi Tanduay Holdings, Philippine National Bank, Eton Properties, dan University of the East. Pada 2012, ia kemudian mengkonsolidasikan bisnis utamanya di bawah satu konglomerasi bernama LT Group, Inc.
Namun, tuduhan keterkaitan dan karpet merah dari Marcos itu dibantah oleh Tan dalam sebuah wawancara dengan Los Angeles Times.
"Aset kehidupan yang sebenarnya tidak terlihat adalah aset nyata yang berasal dari ide dan pengetahuan," katanya.
Terlepas dari banyaknya kekayaan dan kontroversi, Tan dikenal cukup dermawan. Ia tidak pernah lupa untuk memberikan kontribusinya kepada masyarakat.
Pada awal 1986 misalnya, Tan dan saudara-saudaranya mendirikan yayasan bernama Tan Yan Kee Foundation, Inc. (TYKFI).
Nama itu diberikan untuk menghormati ayah mereka Tan Yan Kee.
Perusahaan di bawah LT Group dan perusahaan lain yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh keluarga Tan juga melaksanakan berbagai macam kegiatan sosial lain di bawah yayasan tersebut.
"Saya bersyukur bahwa dengan upaya kecil ini, kami membantu mempersempit kesenjangan antara kurangnya pengetahuan dan pendidikan yang baik; antara kurangnya perawatan medis hingga akses terhadap peralatan dan layanan kesehatan yang lebih baik; antara dunia yang membusuk dan lingkungan yang lebih sehat, kita dapat mewariskannya kepada generasi berikutnya," kata Tan.
Eric Li, Anak Petani Sukses Jadi Bos Otomotif China Berharta Rp202 T
Li Shufu adalah salah satu orang terkaya di China. Pundi-pundi hartanya Rp202,66 triliun berasal dari produsen otomotif dan teknologi Geely Holding Group. [777] url asal
#eric-li #konglomerat #taipan #taipan-cnn-indonesia #orang-terkaya #china #li-shufu
(CNN Indonesia - Ekonomi) 21/07/24 07:55
v/11520934/
Li Shufu (Eric Li) tak pernah membayangkan bisa menjadi salah satu orang terkaya di China. Lewat Geely Holding Group, ia sukses membangun kerajaan otomotif dan teknologi yang diperhitungkan di mata dunia.
Per Sabtu (20/7), Forbes menempatkan Li pada peringkat ke-157 orang terkaya di dunia. Total kekayaannya ditaksir mencapai US$12,5 miliar atau sekitar Rp202,66 triliun (asumsi kurs Rp16.213 per dolar AS).
Kesuksesan Li itu tak dibangun dalam semalam. Berikut kisahnya.
Dilansir dari berbagai sumber, Li lahir di Distrik Lu Qiao, Taizhou, Zhejiang, China, pada 25 Juni 1963. Anak ketiga dari empat bersaudara ini dibesarkan oleh keluarga petani sederhana di sebuah desa nelayan yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Ketertarikan Li dengan dunia otomotif sudah terlihat sejak kecil. Saat bermain di pantai, ia kerap membuat mobil-mobilan dari pasir.
"Kami tidak mampu membeli mainan. Saya tak pernah membayangkan bisa membuat mobil sungguhan," ujar Li dalam salah satu wawancaranya dengan Forbes Asia pada 2014 lalu.
Usai lulus SMA, Li memutar otak untuk bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Beruntung, Li jeli melihat peluang.
Dilansir Reuters, saat Li datang ke salah satu studi foto di desanya untuk mengambil foto kelulusan, ia melihat antrean panjang.
Ia pun berpikir, alih-alih pelanggan yang datang ke studio foto, mengapa tidak fotografernya saja? Akhirnya, ia pun meminjam uang dari ayahnya sebesar 120 yuan, nominal yang tidak kecil karena setara dengan lima kali rata-rata pendapatan warga di provinsinya kala itu.
Uang itu ia gunakan untuk membeli sebuah kamera. Lalu, ia menawarkan jasa fotografer dari rumah ke rumah dengan mengayuh sepeda seharga 0,48 yuan per foto.
Usaha kecil-kecilannya itu ternyata cukup menguntungkan. Kemudian, ia kembali melihat peluang dari eksperimen ekstraksi logam yang berasal dari perkakas dan peralatan.
Ia pun mengambil kesempatan itu dan mendirikan usaha komponen kulkas di usia 23 tahun. Perusahaan itu ia daftarkan dengan nama Geely.
Di tangan Li, Geely berkembang pesat seiring tumbuhnya Distrik Li Qiao dari desa nelayan menjadi kota kecil. Terlebih, China saat itu tengah melakukan reformasi ekonomi di bawah Deng Xiooping yang mendorong semangat kewirausahaan.
Lima tahun berjalan, Li terus berupaya mengembangkan perusahaannya.
Pada awal 1990-an, Li melihat sepeda motor rusak yang dibawa ke pabriknya. Ia pun berpikir Geely bisa mendiversifikasi bisnisnya dari pembuat komponen atau suku cadang ke pabrik sepeda motor.
Setelah sukses menjadi pabrik sepeda motor, Li tak puas. Ia ingin Geely bisa memproduksi mobil.
Berdasarkan keterangan penulis biografi Li kepada Reuters, awalnya Li membongkar model-model yang ada untuk melihat cara kerjanya. Setelah itu, ia membangun pabrik mobil dan membuat beberapa prototipe.
Model mobil pertama Geely, Haoqing, lahir pada 1997. Namun, mobil itu masih memiliki banyak kelemahan. Saat uji coba kebocoran, arus deras mengalir ke dalam kabin karena tidak kedap air.
Namun, Li tak menyerah. Ia terus melakukan berbagai perbaikan. Pada 1999, ia membujuk seorang pejabat Partai Komunis yang sedang naik daun untuk memberinya izin resmi untuk memproduksi mobil di China.
Li meyakinkan sang politisi bahwa ia mampu memproduksi mobil karena prosesnya tidak rumit karena hanya "dua sofa dengan empat roda". Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut, kendati pada tahun berikutnya, Haoqing mulai dipamerkan ke pasar.
Di bawah kepemimpinan Li, Geely akhirnya sukses melebarkan sayap sebagai produsen mobil.
Nama Geely Holding Group kian melesat di kancah global usai mengakuisisi sejumlah pabrikan otomotif kelas dunia sejak 2010. Beberapa merek ternama yang sahamnya dimiliki Geely di antaranya Volvo, Lynk & Co, dan Proton. Geely juga memiliki saham di beberapa perusahaan mobil mewah Inggris seperti Aston Martin dan Lotus.
Seiring transisi energi, perusahaan juga berinovasi dengan memproduksi kendaraan listrik.
Mengutip situs resmi perusahaan, Geely kini berfokus pada transformasi listrik dan cerdas dalam industri otomotif dengan menciptakan ekosistem teknologi, dan berinvestasi dalam teknologi mutakhir termasuk energi baru, mobilitas bersama, internet kendaraan, penggerak cerdas, dan cip kendaraan.
Selain sukses sebagai pebisnis, Li juga dikenal sebagai seorang dermawan yang memiliki perhatian pada dunia pendidikan.
Pada 1999, Li mendirikan Beijing Geely College yang sekarang disebut Universitas Geely, universitas swasta terbesar di China. Kemudian, pada 2005, ia juga mendirikan Universitas Sanya. Hingga saat ini, lembaga pendidikan nirlaba yang didirikan telah mendidik lebih dari 180 ribu siswa.
Li juga mendirikan "Li Shufu Charity Foundation" yang didedikasikan untuk amal dan mempromosikan keharmonisan dan kemajuan sosial. Pada 2016, ia meluncurkan proyek pengentasan kemiskinan yang ditargetkan oleh Geely "Timely Rain" yang telah membantu 10 provinsi dan 20 daerah mengembangkan dan mengentaskan lebih dari 30 ribu rumah tangga dari kemiskinan.
Di dunia politik, Li merupakan anggota Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China ke-14. Ia sebelumnya terpilih menjadi perwakilan di Kongres Rakyat Nasional ke-13 serta anggota Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok ke-10, ke-11, dan ke-12. Sebelumnya, Li juga menjabat Wakil Ketua Federasi Industri dan Perdagangan Seluruh Tiongkok.
William Belo, Bos Depo Bangunan-Penangkaran Buaya Berharta Rp16 T
William Belo memiliki kekayaan Rp16 triliun dan menjadi orang terkaya nomor 15 di Filipina berkat bisnis depo bangunan dan penangkaran buaya. [515] url asal
#taipan #taipan-cnn-indonesia #william-belo #bisnis #bahan-bangunan #kaya-raya
(CNN Indonesia - Ekonomi) 14/07/24 10:20
v/10732199/
Jangan pernah meremehkan bisnis walaupun itu kelihatan sepele seperti bahan bangunan. Karena siapa tahu bisnis itu bisa membawa seseorang menjadi kaya raya.
Begitu juga dengan William Bello. Ia berhasil memiliki kaya raya berkat bisnis itu.
Mengutip data Forbes, jumlah harta Belo tembus US$1 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp16.114 per dolar AS, harta itu tembus Rp16,1 triliun.
Harta itu membuatnya menjadi orang terkaya nomor 15 di Filipina dan 2.692 di dunia.
Lalu siapa sebenarnya William Belo?
Mengutip berbagai sumber, William Bello merupakan pengusaha tajir dari Filipina. Ia lahir Amoy, sebuah kota utama di bagian tenggara pantai pesisir China.
Tidak banyak informasi yang terlacak tentang orang tuanya atau latar belakang keluarganya di masa mudanya.
Yang sedikit terlacak adalah; ayahnya seorang pengusaha yang memiliki beberapa persen saham di sebuah toko perlengkapan konstruksi di Duvisoria, Manila. Meskipun lahir di China, Belo dibesarkan di Filipina.
Ia menghabiskan waktunya hingga dewasa di Filipna. Ia makan bangku kuliah dari Universitas Santo Tomas (UST).
Saat menjadi mahasiswa ini, ia bekerja malam di perusahaan pemasok bahan konstruksi milik ayahnya. Masa berat menjadi mahasiswa sambil bekerja itu ia lampaui pada 1968 setelah berhasil lulus dengan gelar Bachelor of Science di bidang teknik elektronika dan komunikasi.
Nah, setelah lulus itulah, Belo membuka usaha. Dengan dukungan ayahnya yang menjual saham keluarga ia mengejar impiannya menjadi pengusaha.
Pada 1977, Belo dan beberapa sepupunya mendirikan Wilcon Builders Store, sebuah toko perkakas sederhana di Kota Quezon.
Dengan ruangan 60 meter atau tidak lebih besar dari apartemen satu kamar tidur, selama beberapa dekade ia merintis usahanya.
Ia menjual berbagai produk bangunan mulai dari ubin merek lokal, perlengkapan perpipaan, peralatan perangkat keras.
Kemunculan kantong-kantong pemukiman di kawasan Kota Quezon yang menjamur kala itu membuat bisnis Belo bersinar terang. Pelan namun pasti, bisnis produk bangunannya membesar.
Belo melihat peluang lain untuk membesarkan usaha bangunannya. Pada periode tersebut, pilihan bahan finishing bangunan di pasar sangat terbatas. Sebagian besar juga baru diproduksi secara lokal.
Padahal saat itu, masyarakat setempat sudah mulai melirik ubin impor, keramik dan perlengkapan saniter Italia. Melihat peluang ini, mencari alternatif produk bangunan lain.
Dia sering kali pergi ke berbagai pameran dagang untuk melihat produk keramik unggulan. Ia kemudian mengimpor ubin keramik, perlengkapan saniter Italia, dan lini produk impor lainnya untuk melengkapi produk lokal yang sudah ada di tokonya.
Kejelian itu berbuah manis. Bisnisnya makin berkembang dan berkibar. Bahkan pada 2017, ia berhasil membawa Wilcon melantai di Bursa Efek Filipina.
Wilcon berkembang pesat di tengah booming konstruksi yang melanda Filipina di bawah dorongan infrastruktur "Bangun, Bangun, Bangun" di masa pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte.
Berkat upaya dan kepiawaian Belo itu, toko yang tadinya hanya berluas 60 meter persegi, berhasil berkembang menjadi jaringan ritel depo bangunan dengan 36 cabang nasional dengan luas penjualan hampir 250 ribu meter persegi.
Kegigihan itu tak hanya mendatangkan pundi kekayaan baginya, tapi juga menghidupi banyak orang. Mengutip business.inquirer.net, sampai 2017 kemarin perusahaan sudah memperkerjakan lebih dari 4.500 karyawan yang direkrut langsung dan lebih dari 2.000 promotor dari mitra bisnisnya.
Namun, upaya itu tak lantas membuat Belo berpuas diri. ia terus mencari produk baru dan inovatif untuk kebutuhan pasar Filipina.
Miriam Adelson, Ratu Judi Dunia Berharta Rp466 T yang Jadi Bohir Trump
Miriam Adelson adalah pebisnis kasino berharta Rp466 triliun. Bisnisnya tak cuma di AS, tapi merambah ke Singapura dan Makau, surga judi dunia. [570] url asal
#miriam-adelson #taipan #taipan-cnn-indonesia #orang-terkaya #judi #bisnis-judi #kasino
(CNN Indonesia - Ekonomi) 07/07/24 08:00
v/9948820/
Meskipun tajir melintir, Donald Trump tetap saja membutuhkan donatur untuk membiayai kampanyenya dalam Pemilu Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS). Di antara bohir-bohir Trump, ada nama Miriam Adelson.
Miriam merupakan megadonor Partai Republik. Di Pilpres kali ini, Adelson dikabarkan bakal mengucurkan dana yang lebih besar dibanding donasi untuk Trump saat Pilpres 2020.
Pada Pilpres 2020 yang mempertemukan Trump melawan Biden, Miriam dan suaminya menyumbang US$90 juta. Ini setara 85 persen dari total dana yang dikumpulkan organisasi pendukung Trump.
Hubungannya dengan Trump sudah berlangsung bertahun-tahun. Miriam dan suaminya, Sheldon, duduk di mimbar pada pelantikan Trump pada 2017. Lagi-lagi pasangan ini menjadi pendana paling besar bagi kampanye Trump.
Terbayang kan betapa kayanya Miriam?
Terang saja duitnya banyak, Miriam merupakan 'ratu judi AS'. Ia menguasai bisnis kasino tak cuma di AS, tapi merambah ke Singapura dan Makau, surga judi dunia.
Berdasarkan hitungan Forbes, Miriam dan keluarganya ditaksir memiliki kekayaan US$28,7 miliar atau Rp466 triliun (asumsi kurs Rp16.250 per dolar AS).
Miriam adalah janda dari Sheldon Adelson, pendiri dan ketua grup kasino, Las Vegas Sands.
Ia lahir dengan nama asli Miriam Farbstein pada 1945 di Tel Aviv, Israel. Orang tuanya adalah pengungsi Polandia yang melarikan diri dari pembantaian Nazi. Banyak kerabatnya, termasuk kakek dan neneknya, tewas dalam Holocaust.
Miriam belajar mikrobiologi dan genetika di Hebrew University of Jerusalem. Ia lalu melanjutkan pendidikan dengan mengambil kedokteran di Sackler Medical School, Tel Aviv.
Ia sempat menjadi peneliti di militer Israel sehingga akhirnya tertarik mempelajari masalah ketergantungan obat.
Pada 1986, Kementerian Kesehatan Israel mengirimnya ke New York, AS, untuk belajar di Universitas Rockefeller di bawah bimbingan peneliti terkemuka dalam pengobatan kecanduan obat.
Dua tahun setelah hijrah ke AS, ia dijodohkan oleh temannya dengan seorang pengusaha Boston berdarah Yahudi, Sheldon Gary Adelson. Keduanya pun menikah di Yerusalem pada 1991.
Sheldon dikenal sebagai pengusaha, investor, dan donatur politik AS. Ia adalah pendiri, ketua dan pejabat eksekutif tertinggi Las Vegas Sands Corporation.
Pada 2007, Las Vegas Sands meluncurkan Venetian Macau di Makau, salah satu bangunan terbesar di dunia. Ini adalah hotel bintang 5 dengan 39 lantai dan 3.000 kamar.
Tiga tahun kemudian, Keluarga Adelson merilis kasino Marina Bay Sands di Singapura.
Sheldon juga berbisnis media massa. Ia pemilik surat kabar harian Israel bernama Israel Hayom, surat kabar mingguan Israel Makor Rishon, dan surat kabar harian Amerika Las Vegas Review-Journal.
Pada 2020, Sheldon menjadi orang terkaya ke-28 sejagat raya versi Forbes. Ia juga masuk jajaran crazy rich berpengaruh di AS.
Di dunia politik, Sheldon dan Miriam dikenal sebagai bohir kakap bagi Partai Republik dan Trump. Pasangan ini juga pendukung utama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Miriam dan suami masyur sebagai Zionis.
Pada Januari 2021, Sheldon wafat pada usia 87 tahun. Setelah kematian Sheldon, Miriam terjun langsung melanjutkan bisnis judi itu.
Kini, Miriam pemegang saham utama Las Vegas Sands, operator kasino terbesar dunia. Bisnis yang berbasis di Las Vegas ini mengendalikan jaringan kasino di AS dan Asia.
Miriam juga pemegang saham mayoritas di Dallas Mavericks, tim basket asal Dallas, Texas. Pada akhir 2023, keluarga Adelson mengakuisisi Dallas Mavericks senilai US$3,5 miliar. Adapun Mavericks bernilai $4,03 miliar pada waktu itu berdasarkan taksiran konsultan.
Karena punya minat besar terhadap masalah kecanduan obat, Miriam mendirikan dua klinik, di AS dan Israel, yang didedikasikan untuk memerangi penyalahgunaan narkoba.
Pada 2018, Trump yang kala itu presiden AS, menganugerahi Miriam penghargaan Presidential Medal of Freedom untuk kegiatan filantropi dan penelitian ilmiahnya dalam rehabilitasi kecanduan narkoba.