#30 tag 24jam
Harry Stine, Sukses Berharta Rp160,09 T dari Bisnis Benih Kedelai
Harry Stine berhasil menjadi triliuner berharta Rp160,09 triliun berkat bisnis benih kedelai dan jagung yang dikembangkannya. [722] url asal
#harry-stine #taipan #taipan-cnnindonesia #taipan-cnn-indonesia #forbes
(CNN Indonesia - Ekonomi) 27/10/24 08:35
v/17058873/
Siapa bilang menjadi petani tidak bisa menjadikan hidup seseorang menjadi kaya raya dan bahkan bisa menjadi triliuner.
Lihat saja kasus yang terjadi pada Harry Stine. Meskipun bekerja di sektor pertanian, ia berhasil menjadi seorang yang kaya raya.
Forbes mencatat nilai kekayaannya per Sabtu (26/10) kemarin tembus US$10,2 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp15.695 per dolar AS, kekayaan Harry Stine tembus Rp160,09 triliun.
Jumlah harta itu membuatnya menjadi orang terkaya nomor 244 di dunia pada saat ini.
Lalu siapa Harry Stine dan bagaimana sepak terjangnya sehingga dia bisa menjadi petani kaya raya saat ini?
Mengutip berbagai sumber, Harry Stine merupakan pengusaha sektor pertanian Amerika Serikat yang lahir pada 26 Oktober 1941, di Adel, Iowa, AS dari keluarga petani.
Latar belakang itulah yang kemudian membawanya ke dunia pertanian. Sejak 5 tahun, ia sudah diajarkan bercocok tanam oleh orang tuanya dan mengendarai traktor untuk mengambil tumpukan jerami di sawah.
Ia sangat menikmati kegiatan itu. Kenikmatan itulah yang kemudian pada saat dewasa mendorongnya kuliah di jurusan agronomi Iowa State University.
Di kampus inilah kemampuan bertani Harry Stine kian terasah. Pasalnya di kampus ini, minatnya untuk memajukan sektor pertanian makin besar. Terutama setelah ia kepincut pada bidang genetika tanaman dan teknik pertanian.
Setelah menerima gelar sarjana, Stine kembali ke kampungnya untuk membantu orang tuanya bertani .
Pada akhir 960an, Stine kemudian bergabung dengan empat petani di tempatnya membentuk Improved Variety Research (IVR), perusahaan penelitian dan pengembangan kedelai swasta pertama di negara ini.
Penelitian dilakukan di peternakan Stine dekat Adel. Namun, IVR tak berumur lama karena beberapa waktu kemudian dibubarkan.
Namun, pembubaran tak menghentikan Stine. Ia kemudian mendirikan perusahaan pembenihan Stine. Latar belakangnya saat itu satu; ketertarikannya pada pemuliaan kedelai setelah menemukan beberapa tanaman kedelai yang tidak biasa di lahan pertanian.
Harry menyadari ada peluang keuntungan besar dari pemuliaan kedelai itu. Lewat perusahaan itu, ia mengembangkan tanaman kedelai baru yang memiliki hasil lebih tinggi.
Ia mulai melakukan pemuliaan dan pemeriksaan hasil tanaman kedelai. Padahal, kegiatan ini sebelumnya hanya dilakukan oleh universitas. Dari situ, ia mulai memahami manfaat program pemuliaan konvensional terhadap industri kedelai.
Setelah berhasil melakukan pengembangan, Stine memulai penjualan benih eceran yang ia kembangkan pada 1979 di bawah labelnya sendiri, Stine Soybean Seeds.
Upaya itu berbuah manis. Penjualan benih kedelai yang dilakukan Stine meledak.
Hanya dalam waktu lima tahun, Stine Seed Company mencapai penjualan lebih dari setengah juta unit benih. Organisasi pemasaran kedelai Stine Seed Company meluas dari Ohio hingga Colorado, utara hingga Minnesota dan selatan hingga Missouri.
Keberhasilan itu tak lantas membuat Stine berbangga diri. Dia malah terus memperluas penelitian kedelai ke lokasi di sebelah timur Mississippi untuk menghasilkan bibit yang unggul.
Tak hanya di sektor kedelai, ia melanjutkan petualangannya ke pengembangan bibit jagung. Bersama dengan rekannya Bill Eby mendirikan Eden Enterprises yang berfungsi sebagai perusahaan pembibitan jagung.
Upaya tersebut juga membuahkan hasil gemilang. Lagi-lagi kegemilangan itu belum menghentikan langkah Stine.
Setelah kesuksesan berhasil diraih, pada 1986-1989, Stine melanjutkan petualangan bisnisnya dengan mengakuisisi sembilan perusahaan benih regional, memperluas wilayah pemasaran perusahaan dari Nebraska ke Ohio, Dakotas hingga ke Missouri.
Kesuksesan demi kesuksesan itu membuat bisnisnya berhasil masuk dalam empat perusahaan benih kedelai terbesar di AS. Stine Seed Company semakin berkembang hingga memiliki 1.700 dealer yang tersebar di 15 negara bagian AS yang memasarkan lebih dari 1 juta unit benih kedelai.
Di tengah perkembangan pesat itu, Stine Seed Company mendapat tambahan energi baru yang menunjang bisnis mereka. Mereka menjadi perusahaan pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang menerima paten atas varietas kedelai.
Paten diberikan pada dua jenis kedelai: Stine 1570, paten #5304728 dan Stine 2550, paten #5304729.
Setelah mendapatkan paten itu, Stine Seed Company mengadakan perjanjian non-eksklusif dengan Monsanto Agricultural Products dan Asgrow Seed Company.
Perjanjian ini dirancang untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan genetika kedelai dan teknologi pengembangan produk.
Perkembangan inilah yang kemudian membuat harta kekayaan Harry Stine melesat.
Sebagai pengusaha dan petani sukses, Stine ternyata cukup baik hati. Termasuk kepada karyawan-karyawannya.
Beberapa tahun yang lalu, Stine diketahui memberi setiap karyawan bonus US$1.000 untuk setiap tahun mereka bekerja di perusahaan.
Pada Natal, dia juga memberi setiap karyawan kenaikan upah US$1 per jam bagi pekerja yang berada pada skala gaji paling bawah.
"Saya hanya tahu sebagai sebuah perusahaan, lebih baik bagi kami untuk membuat karyawan kami merasa baik," katanya seperti dikutip dari Forbes.
Ia mengatakan berbuat baik kepada karyawan karena percaya bisnis yang baik dimulai dari situ.
Yusuff Ali, dari 'Durian Runtuh' Perang Teluk Kini Berharta Rp116 T
Yusuff Ali menjadi orang terkaya India ke-27 dengan berharta Rp116 triliun. Insipirasi bisnis yang membuatnya kaya dari Nabi Muhammad dan Mahatma Gandhi. [769] url asal
#taipan #taipan-cnnindonesia #yusuff-ali #abu-dhabi
(CNN Indonesia - Ekonomi) 06/10/24 09:38
v/16050167/
Siapa bilang jadi pengusaha jujur, tulus, ikhlas susah sukses. Contohnya, Yusuff Ali.
Berbekal bisnis dengan jujur, tulus, ikhlas, tidak pernah mencuri dan berbohong, kini ia malah menjelma menjadi pengusaha kaya raya.
Tak tanggung-tanggung, berdasarkan catatan Forbes, total kekayaan Yusuff Ali mencapai US$7,4 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp15.682 per dolar AS, kekayaannya tembus Rp116,04 triliun.
Jumlah harta itu membuatnya jadi orang terkaya nomor 411 di dunia. Sementara itu di India, kekayaan itu membuatnya jadi orang tertajir nomor 27 di negeri Bollywood tersebut.
Mengutip berbagai sumber, Yusuff Ali merupakan pengusaha asal India. Pria bernama lengkap Yusuff Ali Musaliam Veettil Abdul Kader ini lahir pada 15 November 1955 di Nattika, negara bagian Thrissur, Kerala India dari sebuah keluarga Muslim.
Tidak banyak informasi yang bisa digali soal masa kecil Ali. Yang terlacak hanya cerita soal cita-cita Ali yang saat muda berkeinginan menjadi seorang pengacara.
Namun, latar belakang keluarganya yang hidup sebagai pebisnis mengubah itu semua. Sejak muda, ia malah terlibat aktif berbisnis bersama orang tuanya.
Saat berusia 15-16 tahun, ia bergabung dengan ayahnya di Ahmedabad di Gujarat menjalankan bisnis toko kelontong.
Sambil bersekolah ia selalu membantu ayahnya. Termasuk saat ia mengejar gelar diploma di bidang Manajemen dan Administrasi Bisnis.
Setelah menyelesaikan studinya, Ali terlacak meninggalkan India pada 1973, bermigrasi ke Abu Dhabi demi mewujudkan mimpinya menjadi pengusaha sukses.
Awal tahun 1970-an memang menjadi era di mana banyak orang dari India, khususnya bagian selatan India, merantau ke Timur Tengah untuk mencari penghidupan dan peluang karier yang lebih baik.
Di negara baru inilah, Ali mulai menapaki jalan suksesnya. Jalan sukses itu ia mulai dengan bekerja di sebuah perusahaan distribusi produk makanan beku dan lainnya yang dikelola M.K Abdullah, paman dari pihak ayahnya.
Pekerjaan itu memberikan ladang ilmu yang luar biasa untuk bekal bisnisnya kelak. Karena pekerjaan itu, ia sering berpergian ke beberapa negara seperti Hong Kong, Australia dan Singapura. Dari hasil plesir itu, ia banyak belajar soal karakter konsumen, ciri mereka dan cara menembusnya.
Tak hanya itu, ia juga belajar banyak mengenai pasar, rantai pasok dalam peredaran barang kebutuhan pokok. Cukup menimba ilmu di perusahaan pamannya, Ali kemudian membangun kerajaan bisnis sendiri.
Usianya masih hijau saat itu karena baru 34 tahun. Namun, itu tak menghalangi keberaniannya.
Ia membuka supermarket pertamanya bernama Lulu Hypermarket di Abu Dhabi dengan keyakinan itu semua akan menjadi masa depannya.
Hypermarket ini menawarkan berbagai macam produk, mulai dari bahan makanan hingga barang elektronik, dengan harga yang kompetitif dan standar baru bagi ritel di wilayah tersebut.
Pembukaan dilatarbelakangi oleh visi besarnya yang ingin melampaui bisnis grosir tradisional. Pembukaan juga dilakukannya dengan melihat kesenjangan di pasar gerai ritel berkualitas yang dapat melayani populasi ekspatriat yang terus bertambah di UEA.
Saat itu, gerai ritel berkualitas yang melayani ekspatriat di UEA memang belum banyak. Ia mencoba hadir dengan menawarkan sesuatu baru bagi masyarakat UEA; produk penjualan beragam mulai dari bahan makanan hingga barang elektronik.
Tak hanya itu, produk juga ia jual dengan harga yang kompetitif.
Langkah bisnis ini menjadi titik balik dalam bisnisnya. Momentum Perang Teluk tak menghalangi niatnya dalam meluncurkan Lulu Hypermart.
Ia tetap berinvestasi dan membuka usahanya di Abu Dhabi meski saat itu, imbas perang, perekonomian UEA berada dalam kesulitan serius.
Ia memulai Luly Hypermart dengan sejumlah strategi. Selain menyediakan variasi produk, dan harga murah, ia juga beriklan besar berisi kata-kata menarik. 'Saya percaya pada negara ini'.
Iklan menarik perhatian raja UEA saat itu, Zayed bin Sultan Al Nahyan. Raja segera meneleponnya dan menanyakan mengapa dia berinvestasi di negaranya ketika orang lain pergi.
Ali menjawab bahwa selama Zayed bin Sultan Al Nahyan menjadi penguasa, UEA tidak akan mengalami kerugian.
Raja pun senang. Itulah awal mula hubungan istimewa Ali dengan keluarga kerajaan.
Banyak dukungan yang diberikan keluarga kerajaan bagi Ali untuk mengembangkan bisnis ini.
"Saya selalu merasa berenang melawan arus lebih bermanfaat. Orang-orang meninggalkan kawasan Teluk ketika saya memulai ekspansi saya. Itu berisiko, tapi membuahkan hasil," katanya seperti dikutip dari economictimes.indiatimes.
Setelah Perang Teluk berakhir, bisnisnya berkembang pesat.
Tidak hanya di UEA bisnisnya menggurita ke luar Timur Tengah hingga mencakup Asia, Afrika, Eropa. Total, sudah ada lebih dari 200 hipermarket, supermarket dan pusat perbelanjaan yang berdiri dari perkembangan pesat itu.
Ali mengatakan kesuksesan besar yang didapatnya itu tak lepas dari motivasi yang ia dapat dari dua tokoh penting dalam hidupnya. Pertama, Nabi Muhammad.
Ia mengatakan mendapat insipirasi berbisnis dari Muhammad. Inspirasi itu terkait kejujuran dan keikhlasan dalam menjalankan usaha.
Insipirasi itu mendorongnya selalu berusaha jujur dan tulus dalam menjalankan bisnis. Selain Nabi Muhammad, inspirasi juga ia dapat dari Mahatma Gandhi.
Insipirasi terkait pernyataan Gandhi bahwa pelanggan adalah raja. Inspirasi itu membuatnya selalu berupaya untuk memenuhi selera pelanggan supaya mereka puas.