CSIRT Penting untuk Mitigasi Ancaman Siber Nasional
Total 131 Computer Security Incident Response Team atau Tim Tanggap Insiden Siber diluncurkan. - Halaman all
(InvestorID) 27/07/24 14:00 12299393
JAKARTA, investor.id - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia terus mengejar target peluncuran total 131 Computer Security Incident Response Team (CSIRT) atau Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) di lingkungan pemerintahan dan lembaga terkait di Tanah Air. Hal ini dilakukan guna memperkuat mitigasi, ketahanan, dan keamanan ruang siber nasional.
Terkini, sebanyak 18 CSIRT telah diluncurkan di di KPPU, BNPP, BP2MI, Kota Pontianak, Kota Medan, Kota Mataram, Kota Kupang, Kota Samarinda, Kota Probolinggo, Kota Bengkulu, Kota Cimahi, Kabupaten Brebes, Kabupaten Bintan, Kabupaten Lebak, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Universitas Bina Bangsa Getsempana (UBBG).
Kepala BSSN Hinsa Siburian mengatakan, pembentukan CSIRT bertujuan untuk mewujudkan ketahanan dan keamanan siber nasional, khususnya pada sektor pemerintahan yang andal dan profesional.
“Misinya untuk mengoordinasikan dan mengolaborasikan layanan keamanan, tanggap insiden siber, serta membangun kapasitas sumber daya keamanan siber pada sektor pemerintahan,” ungkap Hinsa, dalam pernyataannya di Jakarta, dikutip Jumat (26/7/2024).
Menurut dia, CSIRT dibentuk untuk menangani insiden siber, yakni web defacement, distributed denial of service dan denial of service, malware, phishing, ransomware,data breach, pencurian data, dan insiden siber lain yang mengakibatkan gangguan pada keberlangsungan layanan sistem elektronik nasional.
Melalui koordinasi dan kolaborasi, Gov-CSIRT Indonesia pun akan memberikan berbagai layanan. Beberapa di antaranya peringatan insiden keamanan siber, tanggap insiden siber, forensik digital, dan pemberitahuan imbauan keamanan.
Selain itu, ada konsultasi penanganan insiden siber serta pembangunan kesadaran dan kepedulian terhadap keamanan siber. Lalu, layanan peningkatan kapabilitas dan kompetensi. Kemudian, layanan asistensi pembentukan dan pendaftaran untuk CSIRT pemerintah.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan dan Pembangunan Manusia BSSN Sulistyo menambahkan, tujuan launching CSIRT untuk meningkatkan kesadaran keamanan informasi.
“Tujuannya untuk peningkatan kesadaran keamanan informasi dalam penanggulangan insiden bagi setiap sektor secara masif dan terstruktur dalam suatu pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber,” ucap Sulistyo.
Tujuan lainnya untuk meningkatkan kolaborasi dan sinergitas TTIS antarsektor guna memperluas wawasan penanggulangan insiden. Selanjutnya, peluang kerja sama keamanan informasi serta memberikan persepsi sama dalam pembentukan dan pembinaan penanganan insiden bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun pembangunan manusia.
Amanat Perpres
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengungkapkan, CSIRT/TTIS punya vital dalam menghadapi tantangan serangan dan keamanan siber nasional. Pembentukannya juga menjadi amanat yang diatur dalam peraturan presiden (perpres).
Presiden Jokowi pun telah menerbitkan Perpres Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024 yang mengamanatkan pembentukan 131 CSIRT sebagai salah satu proyek prioritas strategis.
Pembentukan CSIRT juga diatur dalam Perpres Nomor 82 Tahun 2022 tentang Pelindungan Infrastruktur Informasi Vital (IIV), pasal 4, salah satunya administrasi pemerintahan. Dalam pasal 12 disebutkan, penyelenggara IIV dengan membentuk TTIS (CSIRT) organisasi.
Fungsi juga CSIRT memberikan layanan reaktif (koordinasi insiden, triase insiden, resolusi insiden), layanan proaktif (mempublikasikan informasi kerawanan, keamanan dan, tren teknologi serta melakukan audit keamanan informasi), serta layanan peningkatan keamanan melalui bimbingan teknis, workshop, dan cyber drill test.
Menurut Budi Arie, pembentukan CSIRT makin penting karena masih besarnya ancaman keamanan siber. Di tingkat global, terdapat setidaknya 2.200 serangan siber setiap hari. Serangan tersebut pun diproyeksikan menimbulkan kerugian sekitar US$ 9,5 triliun per hari pada 2024. Nilainya diperkirakan meningkat pada 2025 menjadi US$ 10,5 triliun per hari.
“Negara kita, Indonesia, berada pada peringkat ke-10 sebagai target serangan siber secara global. Pemeringkatan ini dilakukan oleh Kaspersky secara real-time,” kata Budi Arie.
Implementasi keamanan siber pun disebut dapat mengantisipasi serangan siber dengan memberikan perlindungan dari ancaman pencurian dan kebocoran data serta meningkatkan kepercayaan stakeholder. Hal ini pun akan mendorong investasi serta membantu pengguna dalam menyusun sistem pertahanan siber yang lebih baik.
Editor: Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #csirt #siber #ancaman #mitigasi #bssn #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/business/368288/csirt-penting-untuk-mitigasi-ancaman-siber-nasional