Konsistensi Kinerja Ekspor untuk Sokong Perekonomian Nasional
Pemerintah kini fokus memperkuat kinerja ekspor. Konsistensi kinerja ekspor ini membantu menyokong perekonomian nasional dan menjaga rupiah. - Halaman all
(InvestorID) 13/08/24 15:34 14364071
JAKARTA, investor.id – Pemerintah kini fokus memperkuat kinerja ekspor. Konsistensi kinerja ekspor ini akan membantu menyokong perekonomian nasional, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Khususnya untuk ekspor yang terkait dengan barang yang telah biasa diperdagangkan di pasar luar negeri atau telah biasa diekspor dan diimpor yang disebut sebagai tradable goods.
“Ekspor adalah jawabannya untuk menghasilkan mata uang dan ekspor dalam bentuk tradable goods,” tutur Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa dalam acara Investor Daily Roundtable di Hotel Mulia pada Selasa (13/8/2024).
Sektor tradable terdiri dari sektor primer seperti pertanian, kehutanan, perikanan, pertambangan dan penggalian, serta industri pengolahan atau manufaktur.
Sebaliknya, sektor non-tradable menghasilkan keluaran produk yang tidak dapat diperdagangkan di luar negeri seperti properti, transportasi, pergudangan, informasi, komunikasi, dan lain-lain.
Menurut Suharso, selama ini porsi ekspor tradable goods Indonesia masih di bawah 50% sehingga jumlah ekspor non-tradable goods lebih mendominasi. Kondisi tersebut mengganggu kelangsungan neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia.
“Tradable goods hanya di bawah 50% dari total peredaran barang. Non-tradable goods mendominasi, akibatnya secara ekonomi konfigurasi dari produk kita kompleksitasnya rendah,” ungkapnya.
Jika pemerintah memiliki produk impor dalam jumlah besar, maka dikhawatirkan dapat mendorong kebutuhan akan dolar Amerika Serikat(AS) yang lebih besar. Kondisi tersebut bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah dan menyebabkan kerentanan pertumbuhan ekonomi. Non-tradable goods juga berkaitan langsung dengan kebutuhan dolar AS.
“Dengan kebutuhan mata uang dolar, maka kalau current account terpukul kita tidak bisa menghasilkan dolar lebih baik. Kemudian BI harus mengumpulkan dolar untuk cadangan devisa. Oleh karena itu, penting untuk bisa keluar dari tekanan tersebut,” jelas Suharso Monoarfa.
Upaya menghasilkan produk barang yang termasuk dalam tradable goods dilakukan melalui kebijakan hilirisasi. Selama ini ekspor Indonesia masih terbatas pada produk-produk komoditas yang diolah lebih lanjut.
Dengan adanya hilirisasi, kata dia, maka akan ada pengolahan lebih lanjut dari produk ekspor sehingga memberikan nilai tambah lebih optimal.
“Hilirisasi adalah kata lain membuat produk unggulan kita menjadi barang kompleks yang didalamnya terkandung fungsi lain dengan nilai tambah baru,” ucapnya.
Lebih lanjut Suharso mengungkapkan, saat ini ekspor masih terbatas pada pengolahan dengan nilai tambah yang belum optimal. Dalam hal ini diperlukan pengelolaan komoditas dari tingkat menengah ke level yang lebih tinggi.
“Struktur ini harus diperbaiki karena hulu in the middle penting kita olah, karena di situlah tempat terbentuknya nilai tambah yang besar. Di hulu kita punya CPO (Crude Palm Oil) di hilir kita banyak industri kecil tetapi di tengah kosong. Sedangkan produk di bawahnya kita harus impor. Begitu kita impor, maka nilai CPO tidak terkait langsung,” tutur Suharso.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #ekspor-indonesia #suharso-manoarfa #menteri-ppn-bappenas #menteri-ppn #bappenas #kinerja-ekspor #perekonomian-nasional #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/national/370012/konsistensi-kinerja-ekspor-untuk-sokong-perekonomian-nasional