"Kami menegaskan bahwa RAHIM tidak terlibat sama sekali dalam kunjungan 5 kader NU ke Israel, termasuk melakukan pertemuan dengan Presiden Israel, Isaac Herzog," demikian isi pernyataan klarifikasi RAHIM, seperti dikutip pada Senin (22/7/2024).
"Hal ini diperkuat oleh fakta-fakta yang muncul bahwa kunjungan 5 kader NU ke Israel atas inisiatif pribadi," sambung isi pernyataan itu.
RAHIM menyatakan telah vakum atau tidak beraktivitas sejak November 2023, yang diakhiri dengan doa bersama lintas iman pada 5 Novemper 2023.
Mereka menyampaikan, keterlibatan salah satu pengurus RAHIM yaitu Zainul Ma’arif, dalam pertemuan dengan Isaac, berdasarkan inisiatif pribadi.
Menurut RAHIM, dari fakta yang dihimpun mengungkap keberangkatan 5 kader NU ke Israel difasilitasi oleh seorang warga asing alumni Universitas Harvard dan didanai oleh lembaga I-Trek (Israel Trek).
"Kami pada dasarnya menyayangkan pemberitaan media yang seolah-olah pertemuan dengan Presiden Israel hanya diikuti 5 kader NU dan dikaitkan dengan RAHIM, padahal dalam foto yang beredar terdapat 8 orang WNI yang melakukan pertemuan dengan Presiden Israel," lanjut isi pernyataan itu.
Bantah melobi buat Israel
RAHIM menyatakan mereka bukan organisasi agitasi maupun konspirasi yang bertujuan buat menggalang dukungan buat Israel.
"RAHIM merupakan organisasi lintas iman, kajian dan diskusi perdamaian antar umat beragama, tidak terkecuali Yahudi," demikian isi pernyataan itu.
Mereka menyatakan, organisasi itu dibangun secara swadaya dengan modal terbatas yang dihimpun dari pengurus RAHIM.
Sejak RAHIM terbentuk, menurut pernyataan itu, mereka belum banyak melakukan kegiatan secara langsung, melainkan hanya melakukan diskusi atau dialog secara daring.
"Kami tidak pernah mendapatkan dukungan dana dari pihak manapun, termasuk yang dituduhkan dari Israel," lanjut isi pernyataan itu.
Biaya saat menggelar diskusi dan dialog ditanggung, kata mereka, diperoleh pengurus secara sukarela dan gotong royong.
"Kami lebih banyak memanfaatkan relasi dan jaringan pertemanan untuk melakukan diskusi atau dialog secara daring," sambung isi pernyataan itu.
Bukan bagian NU
RAHIM menyatakan mereka bukan bagian dari Nahdlatul Ulama (NU), seperti tercantum dalam berbagai pemberitaan.
Mereka menyatakan sebagai entitas independen seperti NGO (non government organization/lembaga non-pemerintah) yang bergerak pada isu lintas agama.
"Dalam setiap kegiatan, siaran pers, maupun administrasi, RAHIM menggunakan logo sendiri sebagaimana yang telah tersebar di media," demikian isi pernyataan itu.
"Secara kelembagaan RAHIM tidak memiliki hubungan apapun dengan Organisasi NU, khususnya PWNU DKI Jakarta yang membawahi LBM NU DKI Jakarta," sambung isi pernyataan klarifikasi itu.
RAHIM menyatakan hanya berkegiatan yang sebagian besar via daring sejak April 2022 sampai dengan November 2023.
Akan tetapi, mereka mengakui keliru karena meski RAHIM sudah tidak menggelar kegiatan, tetapi laman Facebook dan situs internetnya masih aktif.
"Sehingga ketika diseret-seret dan dikait-kaitkan dengan persoalan 5 Nahdliyin itu mengingatkan kami untuk menghapus Facebook dan website-nya," lanjut isi pernyataan itu.
JAKARTA, KOMPAS.com - Pertemuan dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Zainul Maarif dengan Presiden Israel Isaac Herzog bersama empat aktivis Nahdliyin berbuntut panjang.
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta telah mengambil keputusan dengan memberhentikan keanggotaan Zainul Maarif.
Selain sanksi pemberhentian, Zainul Maarif juga dinyatakan melanggar etik oleh Mahkamah Etik Pegawai Unusia. Sanksi ini membuat Zainul Maarif memutuskan mengundurkan diri dari Unusia.
Imbas pertemuan tersebut juga membuat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi sorotan publik. Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sampai-sampai harus menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas tindakan kadernya tersebut.
Diberhentikan PWNU Jakarta
PWNU DKI Jakarta langsung mengambil langkah tegas dengan memberhentikan empat pengurusnya yang ikut ataupun terlibat dalam kunjungan ke Israel. Keempatnya yakni Zainul Maarif, Mukti Ali, Roland Gunawan, dan Sapri Saleh.
Ketua PWNU DKI Jakarta Samsul Ma'arif menjelaskan, pemberhentian itu berdasarkan hasil rapat internal yang dilakukan jajaran pengurus PWNU DKI Jakarta.
"Iya benar. Mereka sudah tidak lagi bagian daripada kepengurusan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU DKI Jakarta," ujar Ketua PWNU DKI Jakarta Samsul Ma'arif saat dikonfirmasi, Jumat (19/7/2024).
Adapun Mukti Ali, Roland Gunawan, dan Sapri Saleh dianggap terlibat dalam organisasi Pusat Studi Warisan Ibrahim untuk Perdamaian (RAHIM).
Menurut Samsul, organisasi RAHIM memiliki keterkaitan dan juga menjalin komunikasi dengan Israel. Hal itu lah yang membuat pertemuan dengan Presiden Israel terlaksana.
"Ya ada keterkaitan lah, ada keterkaitan komunikasi dengan pemberangkatan. Ada komunikasi dengan pihak Israel," jelasnya.
Meski begitu, Samsul menegaskan bahwa keempat orang yang diberhentikan itu tetap akan menjadi bagian dari warga Nahdliyin.
"Tetapi sudah tidak lagi bagian daripada kepengurusan LBM PWNU DKI Jakarta," tegasnya.
Mundur dari Unusia
Setelah diberhentikan dari PWNU DKI Jakarta, Zainul Maarif juga memutuskan mengundurkan diri dari Unusia.
Langkah ini diambilnya setelah Mahkamah Etik Pegawai Unusia menyatakan Zainul Maarif terbukti melanggar etik pada 17 Juli 2024.
"Pernyataan mundur ini disampaikan secara tertulis oleh yang bersangkutan pada tanggal 19 Juli 2024," ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat Unusia Dwi Putri dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/7/2024).
Dwi menyampaikan, dari sidang Mahkamah Etik Unusia, dapat disimpulkan aktivitas Zainul Maarif ke Israel merupakan undangan pribadi.
Undangan itu tak terkait dengan Unusia tetapi Zainul Maarif menggunakan atribut Unusia tanpa meminta dan mendapat persetujuan pimpinan Unusia.
"Kedua, tindakan dan perbuatan yang bersangkutan ke Israel tidak mewakili sikap Unusia dan justru bertolak-belakang," ucap Dwi.
Dwi juga menyebutkan, tindakan Zainul berdampak negatif terhadap Unusia sebagai institusi pendidikan tempatnya mengajar.
Kesimpulan ketiga, tindakan Zainul dinilai tidak memiliki kepekaan dan sensibilitas terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel terhadap Palestina.
"Tindakan tersebut juga dapat dimaknai melegitimasi perbuatan rezim zionis terhadap warga Palestina yang bertentangan dengan sikap resmi Jam'iyah Nahdlatul Ulama yang mendukung perjuangan warga Palestina," ujar Dwi.
Permintaan maaf
Sementara, Zainul Maarif melayangkan permintaan maaf atas tindakannya tersebut. Ia menyebutnya sebagai pelajaran besar karena "tindakan dan niat baik ternyata memberi efek buruk".
Menurut dia, kunjungannya ke Israel merupakan bagian dari kegiatan dialog lintas iman sekaligus untuk penelitian lapangan, termasuk tentang kehidupan orang Islam di Israel.
"Bagaimana kehidupan Muslim di sana? Kalau kehidupan Muslim di Gaza kita sudah tahu," kata dia kepada wartawan di kantor PWNU Jakarta, Kamis (18/7/2023).
Diketahui, selain Zainul Maarif, tiga aktivis NU lainnya yang turut bertemu Isaac Herzog adalah Munawir Aziz sebagai Sekretaris Umum Persatuan Pencak Silat yang juga Sekum Pagar Nusa.
Kemudian Nurul Barul Ulum dan Izza Anafisa Dania, anggota dari Pimpinan Pusat Fatayat NU dan Syukron Makmun, Ketua Pengurus Wilayah NU Banten.
Permintaan maaf juga disampaikan oleh Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
"Pertama, sepatutnya saya mohon maaf kepada masyarakat luas, seluruhnya. Bahwa ada beberapa orang dari kalangan Nahdlatul Ulama yang tempo hari pergi ke Israel melakukan engagement di sana," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (16/7/2024).
Dia menjelaskan, PBNU memaklumi kemarahan dan kekecewaan masyarakat luas terhadap sikap lima kader NU tersebut.
Gus Yahya menilai, tindakan kelima orang NU yang melakukan hubungan dengan Israel tidak patut, karena kondisi Palestina yang sekarang terus diserang militer Israel.
"Kami sangat memaklumi dan merasakan hal yang sama bahwa hal ini sesuatu yang tidak patut dalam konteks suasana yang ada saat ini," ujarnya.