Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung Agus Purwadi menilai mobil LCGC (Low Cost Green Car) tidak lagi menyandang predikat mobil harga terjangkau. [519] url asal
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi menilai mobil LCGC (Low Cost Green Car) tidak lagi menyandang predikat mobil harga terjangkau. Ini dikarenakan mobil LCGC sudah 'naik kelas' dengan kapasitas mesin yang lebih besar dan harga yang lebih mahal.
"Mobil LCGC itu sekarang sudah naik kelasnya. Sudah nggak 'low cost' lagi. Iya kan," kata Agus kepada wartawan di arena GIIAS 2024, ICE-BSD City, Tangerang, belum lama ini. "Mobil LCGC itu sudah naik (kapasitas mesinnya), kebanyakan mesinnya di atas 1.000 cc, seperti 1.200 cc. Harganya juga sudah naik," tegas Agus.
Tarik garis ke belakang, program mobil LCGC atau KBH2 (Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau) pertama diluncurkan 2013 lalu. Program ini melahirkan sejumlah mobil murah, yang harganya di bawah Rp 100 juta.
Dalam catatan detikcom, ada empat model LCGC yang meluncur tahun 2013, yaitu Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Suzuki Karimun Wagon R, dan Honda Brio Satya. Kala itu, Agya dijual mulai Rp 99,9 juta, Ayla Rp 76 jutaan, Karimun Wagon R Rp 77 jutaan, dan Brio Satya Rp 106 juta. Setahun setelahnya, Datsun turut ikut program LCGC ini.
Di awal kemunculannya, model-model LCGC tersebut dijual sebagai city car dengan kapasitas 5 penumpang. Selanjutnya tiga tahun berselang, hadir mobil LCGC model MPV 7 penumpang atau lebih tepatnya 5+2, dengan wujud mobil kembar Daihatsu Sigra dan Toyota Calya yang saat itu masing-masing dibanderol mulai Rp 106 juta dan Rp 129 juta.
Jika pada mulanya mobil-mobil LCGC menggunakan mesin 1.000 cc, perlahan-lahan mobil LCGC beralih ke kapasitas mesin yang lebih besar, yakni 1.200 cc. Pada 2023, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla mulai menggunakan opsi mesin 1.200 cc yang lebih bertenaga.
Tak hanya kapasitas mesin yang naik dan desain eksterior yang makin ciamik, mobil-mobil LCGC zaman sekarang juga sudah mendapatkan fitur-fitur yang lebih modern. Maka tak heran jika harga mobil-mobil LCGC saat ini sudah semakin mahal.
Saat ini Toyota Agya dipasarkan mulai harga Rp 170 jutaan, sementara Toyota Calya dijual mulai Rp 167 jutaan. Kemudian Daihatsu Ayla dijual mulai Rp 136 juta dan Daihatsu Sigra mulai Rp 139 juta. Contoh lainnya, Honda Brio Satya kini dipasarkan paling murah mulai harga Rp 167,9 juta.
Penjualan mobil di Indonesia mengalami stagnasi karena hanya mampu menjual kira-kira satu juta unit mobil setiap tahunnya. Oleh sebab itu, industri otomotif bersama para pemangku kepentingan di Tanah Air agar melakukan terobosan baru, yakni menjual mobil mini bermesin kompak yang harganya murah seperti Kei Car di Jepang.
Mengutip data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil di Indonesia mengalami jebakan satu juta unit dalam 10 tahun terakhir. Sampai tahun 2023, penjualan mobil di Indonesia berkutat di level satu juta unit. Penjualan mobil tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan angka penjualan 1.229.811 unit.
Tingginya penjualan mobil saat itu selaras dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2013 tumbuh sebesar 5,78%. Belum lagi, saat itu lahir program mobil Low Cost Green Car (LCGC) yang berhasil mendongkrak penjualan mobil di Indonesia mencapai angka satu juta unit per tahunnya. Bertahun-tahun LCGC selalu masuk dalam jajaran mobil terlaris.
Mobil LCGC Toyota Calya Foto: Dok. Toyota Astra Motor
Namun belakangan, pasar otomotif Indonesia selalu berkutat di angka penjualan satu juta unit. Ini terjadi lantaran harga mobil semakin mahal, namun pendapatan per kapita Indonesia hanya naik tipis. Maka itu, diperlukan mobil yang harganya terjangkau agar penjualan mobil bisa terdongkrak lagi.
"Mobil LCGC itu sekarang sudah naik kelasnya. Sudah nggak 'low cost' lagi. Iya kan? Maka saya usul, kalau bisa kayak di Jepang, begitu pasar stagnan, dia kasih Kei Car yang punya mesin maksimum 660 cc terus dimensinya kompak. Dengan begitu, orang punya opsi buat city car. Kalau sekarang kan city car pakai mobil yang gede-gede kayak MPV. Bensinnya boros, penumpangnya cuma dua, itu yang nggak benar," kata pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi di Tangerang belum lama ini.
Kei Car Honda N-Box Foto: Muhammad Hafizh Gemilang/detikOto
Agus menjelaskan, mobil jenis Kei Car punya banyak keunggulan. Antara lain mobilnya kompak, ringan, dan pastinya irit karena mesinnya yang mungil. Tipe mobil seperti ini yang dibutuhkan di kota-kota besar.
"Segmennya (Kei Car) tinggal di-create aja, karena mesinnya ada, semua ada, ya tinggal buat aja," terang Agus.
"Masalahnya (kalau MPV itu) nggak efisien. Bayangkan saja, mobil yang harusnya 7 penumpang, rata-rata diisi 2 orang. Bangku belakang penuh kalau mudik doang, kalau buat harian kosong," jelas Agus.
Pengamat menilai, jika rencana pemberian insentif mobil hybrid tersebut bisa terealisasi, maka akan memperkuat industri otomotif dalam negeri. [572] url asal
Pemerintah sedang menggodok rencana untuk memberikan insentif kepada mobil hybrid. Pengamat menilai, jika rencana tersebut bisa terealisasi, maka akan memperkuat industri otomotif dalam negeri.
Sebagai informasi, saat ini harga mobil hybrid yang dijual di Indonesia kurang kompetitif jika dibandingkan dengan harga mobil hybrid yang dijual di negara jiran, Thailand.
"Di Thailand, mobil full hybrid itu (pajaknya) 11%, di Indonesia full hybrid itu 33%. Jadi cukup besar (perbedaannya). Kemudian kalau mobil PHEV (plug-in hybrid) di sana, pajaknya 11%, di kita (Indonesia) 30%. Tapi kalau di BEV (full electric), itu udah sama pajaknya, 1%," kata akademisi Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, kepada wartawan di arena GIIAS 2024, ICE-BSD City, Tangerang, belum lama ini.
Agus menjelaskan, jika pemerintah memiliki target mengurangi emisi, maka semua opsi teknologi yang tersedia di pasaran harus dipakai. "Jadi kalau targetnya mengurangi ketergantungan BBM dan mengurangi emisi, semua opsi teknologi yang ada itu dikasih insentif, tapi di-value berdasarkan perannya. Jadi nggak sama (insentifnya), hybrid nggak sama dengan BEV, plug-in hybrid juga nggak sama dengan BEV," tambah Agus.
Menurut Agus, pemerintah harus mendorong mobil hybrid yang sudah diproduksi lokal agar harganya kompetitif di pasaran. "Kalau yang (produk) hybrid-nya impor, ya itu harus dibedakan. Jadi (insentif itu) nggak sembarangan juga. Jadi harus dilihat tujuannya, untuk menguatkan industri lokal kan," jelasnya lagi.
"Maka itu industri otomotif itu di mana-mana adalah industri yang strategis. Kenapa? Karena dia (industri) high-tech. Kemudian juga supplychain-nya banyak dan dia jadi tolok ukur industrialisasi manufaktur yang tinggi. Makanya kayak di Amerika Serikat, walaupun (perusahaan otomotif itu) collapse itu disuntik, Jepang sama, China sama, Thailand juga sama. Nah Indonesia yang sudah ada harusnya juga jangan ditinggalkan. Kan buktinya sudah bisa ekspor (mobil) ke-90 negara, artinya kompetitif. Tinggal masalah harga, itu berarti harga dasar ditambah insentif perpajakan yang berlaku, nah itu lah yang bisa di-adjust," ungkap Agus.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, dalam pemberitaan detikOto pada 25 Mei 2024 memastikan, pemerintah tengah menggodok aturan terkait insentif mobil hybrid. Airlangga menjelaskan, insentif tersebut berupa pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP).
Saat ini, PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) dan BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) mobil hybrid sama seperti mobil bermesin pembakaran internal, yakni 12,5% serta 1,75%, sehingga totalnya mencapai 14,25%. Selain itu, juga masih dikenakan tarif PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah) antara 6%-12%.
Sementara mobil listrik berbasis baterai diganjar PPnBM, PKB, dan BBNKB 0%. Selain itu, kendaraan tersebut mendapatkan diskon pajak pertambahan nilai (PPN) 10% kini menjadi 1% dari yang semula 11%.