#30 tag 24jam
Berkat Pemberdayaan BRI, Produk Bambu UMKM Ini Mendunia
Adang Muhidin, seorang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari Bandung, mengoptimalkan potensi bambu menjadi produk kerajinan dan makanan yang terkenal hingga ke mancanegara. [489] url asal
#bank-bri #bbri #pegiat-umkm #produk-lokal #bambu #alat-musik #biola #info-tempo
(Bisnis Tempo) 08/09/24 10:39
v/14931027/
INFO BISNIS - Adang Muhidin, seorang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari Bandung, membuktikan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja. Berawal dari ide sederhana di malam hari, Adang kini berhasil mengoptimalkan potensi bambu menjadi beragam produk kerajinan dan makanan yang terkenal hingga ke mancanegara.
Adang mendapatkan inspirasinya saat berada di masjid pada 30 April 2011 lalu. Pandangannya tertuju pada bilah-bilah bambu yang ada di sekitar tempat ibadah itu. Keesokan harinya, ia melihat tayangan orkestra di televisi dan terpikir untuk membuat alat musik biola dari bambu. Meskipun tak memiliki latar belakang sebagai pemain musik, Adang yakin untuk mengubah inspirasi tersebut menjadi kenyataan.
Adang memulai usahanya dengan modal pribadi dan melakukan berbagai penelitian serta percobaan tentang bambu. "Saya pernah berjalan kaki ke Kota Bandung untuk belajar lebih dalam tentang bambu," ujarnya. Pada tahun 2013, Adang berhasil menciptakan biola bambu pertamanya, diikuti dengan pembuatan gitar dan bas bambu. Karyanya mulai dikenal luas, hingga ia diundang ke berbagai festival musik, termasuk di Jakarta.
Di salah satu festival tersebut, Adang berhasil menjual biola bambu pertamanya kepada pembeli dari Jepang seharga Rp3,5 juta, sementara gitarnya terjual dengan harga Rp4 juta. Kini, usaha kerajinan bambu yang dirintisnya bersama rekan, Virage Awie, telah memberikan lapangan kerja bagi ratusan orang, termasuk para ibu tunggal dan penyandang disabilitas.
Tidak hanya itu, produk-produk bambu dari Virage Awie telah menembus pasar internasional dengan 90 persen pembeli berasal dari luar negeri, seperti Jepang, India, Rumania, Jerman, Inggris, Singapura, dan Malaysia. Produk unggulan mereka, alat musik dari bambu, kini dijual dengan harga mencapai Rp25 juta untuk gitar dan hingga Rp50 juta untuk drum bambu.
Perjalanan sukses Adang dan Virage Awie semakin berkembang berkat pemberdayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Melalui program Klasterku Hidupku, BRI membina Virage Awie sebagai salah satu klaster usaha. "Dengan bantuan BRI, kami mendapat hak kekayaan intelektual (HAKI) untuk alat musik kami," kata Adang.
BRI juga memberikan dukungan melalui pendanaan usaha lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta penyediaan alat produksi yang meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk. Kerajinan bambu Virage Awie terus berkembang, mencakup berbagai jenis produk seperti jam tangan, alat makan, wadah minum, speaker bambu, dan produk konstruksi. Bahkan, Virage Awie kini berfungsi sebagai akademi pemberdayaan masyarakat yang melatih berbagai kelompok usaha, termasuk kelompok wanita kreatif dan usaha kerajinan difabel.
Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari, mengungkapkan bahwa pemberdayaan klaster usaha menjadi fokus utama BRI dalam membantu pengembangan UMKM. "Hingga akhir Juli 2024, BRI telah memiliki 31.488 klaster usaha yang tergabung dalam program Klasterku Hidupku," kata Supari.
Program Klasterku Hidupku juga menyediakan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi para pelaku usaha. Hingga saat ini, sebanyak 2.184 pelatihan telah diselenggarakan. "Strategi pemberdayaan ini menempatkan keberlanjutan di depan pembiayaan, dengan kerangka pemberdayaan mulai dari fase dasar, integrasi, hingga interkoneksi," tambah Supari.
Dengan berbagai dukungan tersebut, Adang berharap usahanya bisa terus tumbuh dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat, "Semoga dengan Virage Awie ini kami bisa membantu lebih banyak orang dan memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka," tutupnya.(*)
8 Instrumen Musik Tertua di Dunia
Kehadiran musik di dunia tidak hanya menjadi penenang bagi banyak orang, tetapi juga melahirkan berbagai macam bentuk seni. [985] url asal
#jenis-musik #alat-musik #jenis-alat-musik #8-instrumen-musik-tertua-di-dunia #instrumen-musik-tertua #musik-tertua
(Bisnis.Com) 06/07/24 15:47
v/9866917/
Bisnis.com, JAKARTA - Musik saat ini menjadi salah satu aspek penting di dalam kehidupan yang hampir dimiliki oleh semua orang. Perpaduan berbagai bunyi menjadi satu aliran adalah keindahan tersendiri yang dapat dirasakan ketika mendengar musik.
Kehadiran musik di dunia tidak hanya menjadi penenang bagi banyak orang, tetapi juga melahirkan berbagai macam bentuk seni yang dapat berkembang dari zaman ke zaman. Instrumen adalah salah satunya. Instrumen musik tertua di dunia yang saat ini masih dikenang dan dipajang adalah bukti nyata bahwa musik tak lekang oleh waktu.
Dilansir dari laman oldest.org, Sabtu (6/7/2024) contoh alat musik yang muncul lebih dari 40.000 tahun yang lalu menunjukkan bahwa manusia modern awal yang pertama kali menetap di Eropa sudah memiliki tradisi musik – diyakini bahwa mereka menciptakan alat musik setelah mereka menetap di Eropa.
1. Terompet Tutankhamun asal Mesir (usia sekitar 3340 tahun)
Sepasang terompet dari makam Firaun Tutankhamun diyakini sebagai terompet tertua yang masih bisa dimainkan di dunia. Terompet ini adalah satu-satunya terompet yang masih ada sejak zaman Mesir kuno dan berusia lebih dari 3.000 tahun.
Terompet ini ditemukan pada tahun 1922 oleh arkeolog Howard Carter saat penggalian makam Tutankhamun. Kedua terompet tersebut menampilkan ukiran halus gambar dewa Ra-Horakhty, Ptah, dan Amun.
Pada tahun 1939, terompet ini dimainkan di hadapan penonton langsung dan disiarkan ke dunia melalui radio BBC. Sejak penemuannya, terdapat klaim dari masyarakat bahwa terompet ini memiliki kekuatan untuk memicu sebuah peperangan. Hal itu didukung oleh fakta bahwa Perang Dunia II di Eropa dimulai lima bulan setelah pertunjukkan terompet tersebut disiarkan.
2. Seruling Jiahu asal Tiongkok (usia sekitar 7.000 - 9.000 tahun)
Seruling tulang yang ditemukan di lokasi arkeologi Jiahu merupakan instrumen musik tertua yang diketahui dari Tiongkok. Tiga puluh tiga seruling dalam berbagai kondisi ditemukan di lokasi tersebut – sekitar 20 seruling utuh dan sisanya mengalami kerusakan atau terfragmentasi.
Namun hanya 6 seruling yang masih lengkap dan dianggap sebagai instrumen musik multi-nada tertua yang pernah ditemukan. Suling bervariasi dalam ukuran dan memiliki 5 sampai 8 lubang.
3. Lithophones asal India dan Cina (usia sekitar 4.000 - 10.000 tahun)
Nama "Lithophone" digunakan untuk semua alat musik yang terbuat dari batu yang menghasilkan nada musik saat dipukul. Jenis alat musik kuno ini telah ditemukan di seluruh dunia, dengan usia tertuanya yang diketahui berasal dari Vietnam.
Lithophone dari Vietnam disebut juga ‘Dan Da’ dan terdiri dari 11 lempengan batu besar, yang diposisikan secara vertikal berdekatan satu sama lain. Salah satu contoh Lithophone yang paling terkenal adalah ‘Musical Stones of Skiddaw’ yang terletak di negara Inggris.
4. Bullroarer asal Ukraina dan Perancis (usia sekitar 20.000 tahun)
Alat musik Bullroarer merupakan alat musik ritual yang digunakan oleh banyak budaya kuno dan modern di seluruh dunia. Secara historis, alat musik ini digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh.
Alat musik Bullroarer tertua ditemukan di Ukraina, yang berasal dari periode Paleolitik (sekitar 18.000 SM). Selain Bullroarer tertua dari Ukraina, para arkeolog telah menemukan Bullroarer kuno di bagian lain Eropa, Asia, Afrika, anak benua India, Australia, dan Amerika.
Meskipun digunakan oleh beberapa budaya, suku Aborigin Australia adalah suku pengguna Bullroarer yang paling dikenal. Suku Aborigin menggunakan alat musik ini dalam upacara inisiasi, pemakaman untuk mengusir roh jahat, dan melawan pertanda buruk.
5. Seruling Isturitz asal Perancis (usia sekitar 20.000 - 35.000)
Seruling Isturitz ditemukan di lokasi arkeologi Isturitz negara Perancis. Fragmen yang didapatkan dari 20 lebih seruling terpisah ditemukan di lokasi tersebut. Seruling ini dibuat oleh berbagai budaya yang hidup di daerah tersebut, termasuk Aurignacian, Gravettian, dan Magdalenian.
Meskipun sebagian besar seruling berbentuk potongan, dua seruling paling lengkap diciptakan oleh kebudayaan Gravettian yang berusia antara 22.000 hingga 28.000 tahun.
Seruling ini dibuat dengan baik dan menunjukkan tanda-tanda pemakaian yang jelas, terutama di sekitar lubang jari. Area di sekitar lubang jari tampak mengkilap, yang diartikan sebagai termakannya usia akibat pemakaian.
6. Seruling Hohle Fels asal Jerman (usia sekitar 35.000 - 40.000)
Seruling dari Gua Hohle Fels ditemukan pada musim gugur tahun 2008 di negara Jerman. Dari semua seruling tulang kuno yang ditemukan, seruling dari Hohle Fels adalah yang paling lengkap dan sangat mirip dengan seruling modern.
Alat musik ini memiliki panjang sekitar 8,5 inci dan memiliki tempat meniup alat yang masih utuh. Para arkeolog mengatakan bahwa seruling ini dan seruling lainnya yang ditemukan di wilayah tersebut “menunjukkan adanya tradisi musik yang mapan pada saat manusia modern menjajah Eropa.”
7. Seruling Divje Babe asal Slovenia (usia 43.100 tahun)
Sebelum ditemukannya seruling tulang yang lebih tua, seruling Divje Babe dianggap sebagai alat musik tertua yang pernah ditemukan di dunia. Selama bertahun-tahun, seruling tersebut telah menimbulkan berbagai pendapat tentang siapa yang membuat suling tersebut dan apakah suling tersebut benar-benar merupakan benda buatan manusia.
Beberapa arkeolog meyakini seruling Divje Babe dibuat oleh manusia Neanderthal, sementara yang lain berpendapat bahwa seruling tersebut dibuat oleh manusia Cro-Magnon.
Pada tahun 2015, sebuah studi baru menyatakan bahwa seruling tersebut sebenarnya hanyalah tulang hasil kunyahan hewan hyena. Hal ini didukung oleh fakta bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Neanderthal memiliki pengetahuan untuk membuat alat musik. Meskipun adanya temuan baru tersebut, seruling Divje Babe saat ini dipajang di Museum Nasional Slovenia sebagai seruling Neanderthal.
8. Seruling Geisenklösterle asal Jerman (usia 42.000 - 43.000)
Tiga seruling yang ditemukan di lokasi arkeologi Gua Geisenklösterle merupakan instrumen tertua di dunia. Dua seruling terbuat dari tulang angsa bisu dan seruling lainnya terbuat dari gading mamut.
Para peneliti telah melakukan penanggalan radiokarbon pada seruling tersebut dan memperkirakan bahwa usianya antara 42.000 hingga 43.000 tahun.Seruling tersebut dikaitkan dengan Aurignacian, budaya arkeologi yang dikaitkan dengan manusia modern paling awal di Eropa.
Beberapa peneliti percaya bahwa seruling ini, dan alat musik tua lainnya, membantu kelompok besar manusia purba mengembangkan dan memelihara ikatan yang kuat. Mereka percaya bahwa ikatan ini membantu spesies kita memperluas wilayah lebih jauh daripada Neanderthal yang ternilai lebih konservatif, yang punah di sebagian besar wilayah Eropa sekitar 30.000 tahun yang lalu. (Yoga Al Kemal)