KOMPAS.com - Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-D.I. Yogyakarta telah memfungsionalkan Flyover Madukoro di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Pembangunan flyover ini dikarenakan adanya kemacetan pada jalan arteri yang menghubungkan Pantura Barat dan Pantura Timur.
Selain itu, juga menjadi akses utama jalan arteri menuju Bandara Udara Ahmad Yani dan Pelabuhan Tanjung Mas.
Pejabat Pembuat Komitem (PPK) 1.6 Provinsi Jawa Tengah BBPJN Jawa Tengah-D.I. Yogyakarta, Novi Krisniawati mengatakan, Flyover Madukoro memiliki panjang 1.500 meter, terdiri dari 220 meter jembatan, 485 meter oprit, dan 795 meter jalan pengarah.
Pelaksanaan pengerjaan flyover tersebut berjalan dua tahun anggaran. Dimulai pada April 2023 hingga rampung dan telah beroperasi pada Mei 2024.
"Untuk pembiayaan kita menggunakan anggaran pinjaman luar negeri (dana loan) dari World Bank, dan nilainya kurang lebih Rp 199 miliar," jelas Novi dikutip dari laman Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR, Kamis (8/8/2024).
Flyover Madukoro memiliki banyak ornamenbeautifikasi kearifan lokal yang menempel di sekitar infrastruktur tersebut.
Tujuannya menambah keindahan infrastruktur dimana masing-masing ornamen memiliki makna tersendiri sesuai dengan adat dan budaya Kota Semarang.
Dok. Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Bentuk beautifikasi Flyover Madukoro di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Salah satu bentuk beautifikasi Flyover Madukoro yakni ornamen Warak Ngendhog yang merupakan salah satu ikon Kota Semarang.
"Warak Ngendhog ini menunjukan terdiri dari tiga kebudayaan, yang pertama budaya Tioghoa ditandai dikepalanya seperti barongsai," imbuhnya.
Kemudian terdapat ukiran Srikandi yang belajar memanah bersama Arjuna, serta ornamen gelombang pada sisi flyover yang menggambarkan masyarakat Semarang memiliki toleransi yang tinggi.
Dok. Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Bentuk beautifikasi Flyover Madukoro di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Lalu pada sisi timbunan terdapat ukiran wayang pandawa lima, dan pada sisi pagarnya terdapat ornamen burung Kepodang berwarna keemasan yang ada di Jawa Tengah yang menandakan bahwa masyarakat Kota Semarang memiliki keindahan dan keselarasan.
"Kemudian di badannya seperti buroq yaitu hewan yang ada di Arab, dan di empat kakinya menggambarkan masyarakat jawa yang digambarkan dengan kaki kambing," pungkas Novi.