REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Turki mendapatkan pukulan menjelang laga perempat final Euro 2024 melawan Belanda di Olympiastadion, Berlin, Ahad (7/7/2024) pukul 02.00 dini hari WIB. Bek andalan mereka, Merih Demiral, mendapatkan skorsing dua pertandingan, sehari sebelum kick-off.
Demiral didakwa bersalah menggunakan gestur yang terasosiasi dengan kelompok ekstremis sayap kanan Turki Grey Wolves sata merayakan gol ke gawang Austria pada babak 16 besar. Ia mengatupkan jempolnya dengan jari tengah dan manis, membentuk simbol serigala.
UEFA menghukum Demiral karena bek tengah ini dinilia menyalahi aturan mendasar untuk tidak memanfaatkan arena olahraga sebagai tempat manifesto politik. Masyarakat sepak bola dan para pemimpin Turki, termasuk Presiden Recep Tayyip Erdogan, menyayangkan keputusan UEFA itu.
Sebab, meskipun gestur ini identik dengan Grey Wolves, sayap pemuda ultra-nasionalis dari Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Turki yang dituding kerap berbuat kekerasan dengan motif politik, simbol serigala sudah lama menjadi bagian sejarah dan budaya Turki.
Lepas dari hiruk pikuk politik tersebut, yang paling pusing adalah pelatih Vincenzo Montella. Sebab, ia harus mengatur ulang formasi timnya saat menghadapi Oranje kepercayaan dirinya tengah naik setelah menyikat Rumania 3-0 dalam babak 16 besar.
Turki agak pincang tanpa Demirel. Apalagi Montella juga tanpa Orkun Kokcu dan Ismail Yuksek karena terkena larangan bermain akibat akumulasi kartu.
Sebaliknya, Ronald Koeman tak memiliki hambatan untuk menjalani laga yang bisa mengantarkan Belanda ke semifinal Piala Eropa keenam kalinya, yang terakhir kali mereka capai 20 tahun lalu dalam Euro 2004.
Walaupun laga ini bukan pertandingan klasik, pertemuan dua tim yang berselisih peringkat FIFA sangat jauh ini tetap menjanjikan pertarungan terbuka. Sebab, Montella maupun Koeman adalah dua penganut sepak bola menyerang.
Turki yang berperingkat 42 atau terendah di antara delapan tim yang masuk perempat final Euro 2024, sudah 14 kali bertemu dengan Belanda yang berperingkat 7.
Turki menang empat kali, tapi kalah enam kali, sedangkan sisanya berakhir seri. Kabar baik bagi Turki, semua pertemuan itu tak pernah terjadi dalam Piala Eropa dan Piala Dunia.
Gakpo vs Guller...
Belanda harus siap dengan kejutan yang dihadirkan Turki, apalagi mereka memiliki tim muda nan enerjik yang bisa merusak segala rencana dan ekspektasi Oranje.
Kembalinya Calhanoglu
Hasil meyakinkan kala menaklukkan Rumania membuat Ronald Koeman berat sekali mengubah sebelas pemain pertamanya.
Sebaliknya, dia akan menurunkan susunan starter sama dengan saat mengalahkan Rumania itu, termasuk Bart Verbruggen sebagai penjaga gawang dan Virgil van Dijk yang tetap di jantung pertahanan Oranje.
Tapi Koeman tak bisa menurunkan Steven Bergwijn yang cedera sewaktu melawan Rumania.
Jeremie Frimpong atau Donyell Malen berkesempatan sama dalam mengisi posisi Bergwijn, untuk memimpin serangan dari sayap kanan bersama bek kanan Denzel Dumfries.
Gakpo dan ujung tombak Memphis Depay mustahil dipinggirkan oleh Koeman. Sebaliknya, mereka akan dilengkapi kembali oleh kehadiran Xavi Simons dan Malen sebagai kuartet serang dalam formasi 4-2-3-1.
Tijjani Reijnders dan Jerdy Schouten menjadi jembatan antara lini belakang dan lini serang, yang akan bertarung dengan dua gelandang tengah Turki untuk mendominasi lapangan tengah.
Walau agak mandul, Depay berkesempatan menyamai total 50 gol yang dibuat Robin van Persie untuk timnas Belanda, apalagi jika Belanda lanjut ke dua babak terakhir Euro edisi Jerman ini.
Sementara itu, Montella dipaksa berpikir keras untuk menentukan bentuk permainan timnya karena tak bisa menurunkan tiga pemain kunci; Demiral, Orkun Kokcu dan Ismail Yuksek.
Untungnya, dia bisa diperkuat kembali kapten yang sangat berpengaruh bagi tim, Hakan Calhanoglu, setelah tak lagi menjalani hukuman larangan bermain akibat akumulasi kartu.
Untuk pengisi bolong pertahanan yang ditinggalkan Demiral, Montella bisa mengajak Samet Akaydin menjadi starter yang melindungi kiper Mert Gunok, yang menjadi jaminan paten untuk mentahnya serangan Belanda.
Sementara itu, walau rawan mendapatkan kartu kuning kedua, duo remaja 19 tahun, Kenan Yildiz dan Arda Guler, menjadi pilihan utama Montella di sepertiga akhir lapangan, sebagai pengapit Calhanoglu untuk membentuk trio pelapis Berat Yilmaz di ujung tombak serangan. Okay Yokoslu dan Salih Ozcan menjadi poros ganda untuk pola bermain 4-2-3-1 yang dirangkul Turki.
Pemenang laga ini menghadapi Inggris atau Swiss dalam semifinal Kamis dini hari 11 Juli mendatang di Signal Iduna Park, Dortmund.