#30 tag 24jam
Tingkatkan Kompetensi Jurnalis di Indonesia, Dewan Pers Apresiasi BRI Fellowship Journalism 2025
Wakil Ketua Dewan Pers Muhamad Agung Dharmajaya menyambut baik program yang berkelanjutan ini untuk meningkatkan kompetensi jurnalis di Indonesia. Dewan Pers mengapresiasi... | Halaman Lengkap [302] url asal
#bri #bri-fellowship-journalism-2025
(SINDOnews Ekbis) 06/11/24 19:45
v/17603331/
JAKARTA - Dewan Pers mengapresiasi program BRI Fellowship Journalism 2025. Wakil Ketua Dewan Pers Muhamad Agung Dharmajaya menyambut baik program yang berkelanjutan ini untuk meningkatkan kompetensi jurnalis di Indonesia."Harapannya ini menambah keilmuan rekan-rekan jurnalis. Semakin profesional dalam membuat karya jurnalistik. Memberikan informasi yang berkualitas, benar, dan baik," kata Agung, Senin (4/11/2024).
Dia mengatakan, jenjang pendidikan yang lebih baik akan berdampak pada karier para jurnalis. Memberikan peluang untuk berkompetisi, meningkatkan kompetensi dan berprestasi. Ujungnya, iklim media di Indonesia semakin sehat terkait pemberitaan.
"Apa yang dilakukan BRI dalam kurun 5 tahun ini menjadi langkah konkret kepedulian. Harapannya teman-teman BUMN yang lain ke depan juga punya kepedulian yang sama," tutur Agung.
BRI Fellowship Journalism merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli. Program ini bertujuan memberikan kesempatan kepada para jurnalis untuk meraih beasiswa pendidikan S2.
Pada kesempatan terpisah Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi mengungkapkan bahwa BRI Fellowship Journalism adalah program komprehensif yang melibatkan jurnalis dengan berbagai tahapan kegiatan seperti training, pembelajaran singkat tentang dunia jasa keuangan dan selanjutnya berkesempatan mendapatkan beasiswa dari BRI Peduli untuk melanjutkan studi di jenjang Starta 2 (S2).
?Kami berharap program ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dapat membantu para jurnalis meraih pendidikan yang lebih tinggi, sehingga bisa meningkatkan kualitas jurnalisme di Indonesia," ujar Hendy.
Program ini telah dilaksanakan 5 kali, dan BRI Fellowship Journalism 2025 merupakan pelaksanaan yang ke-6.
Hendy mengatakan bahwa dalam program ini BRI bekerja sama dengan Dewan Pers. Beasiswa S2 dari BRI ini ditujukan untuk jurnalis yang masih aktif di media yang sudah diverifikasi Dewan Pers dan memiliki Sertifikat Kompetensi sebagai Wartawan Muda.
Pembukaan pendaftaran BRI Fellowship Journalism ini berlangsung hingga 30 November 2024. Adapun informasi dan syarat pendaftaran program BRI Fellowship Journalism ini dapat diakses melalui website resmi BRI https://bri.co.id/fellowshipjournalism
Kisah Lasmi, Usaha Jamu Gendong hingga Raup Omzet Puluhan Juta
Lasmi memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, tepatnya pada tahun 2015 dan 2022 Lasmi mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta dan Rp 100 juta. [625] url asal
#bri #kur-bri #bank-bri #jamu #bri-fellowship #bri-fellowship
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049215/
Jakarta - Bersama empat orang jamu gendong lainnya, Lasmi berlenggak lenggok menghibur tamu undangan di panggung Graha Insan Pendidikan Berprestasi Kompleks Kemendikbud dalam acara Penyerahan Sertifikat Inskripsi Warisan Budaya Dunia, Kamis (25/4/2024). Ketua Laskar Jamu Gendong itu juga turut menyuguhkan jamu kepada tamu undangan.
Lasmi kecil merupakan anak dari penjual jamu di pasar daerah Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada usia 12 tahun ia digembleng ibunda untuk meneruskan selempang dan bakul jamu yang telah turun temurun, Lasmi merupakan generasi ketiga yang meneruskan resep jamu tradisional.
"Dulu awal mula saya umur 12 tahun ikutin ibu saya yang juga penjual jamu gendong, saya sudah generasi ke 3 dan yang ke 4 saat ini anak saya. Dulu hanya ikut ibu jualan di pasar dari situ saya jualan, belajar naikin turunin (bakul jamu gendong) kalo orang nggak biasa gendong kan susah ya nurunin naikin gitu," cerita Lasmi saat berbincang dengan detikcom usai mengikuti acara di Kemendikbud, Kamis (25/4/2024).
Usai mendapatkan bekal ilmu yang cukup, Lasmi merantau ke Surabaya bersama sang suami pada tahun 1982. Namun usai mencoba peruntungan di sana Lasmi kurang beruntung, ia lantas diajak sang kakak untuk mencoba mengadu nasib di Jakarta pada tahun 1988.
Berada di ibu kota Lasmi membawa semangat juang yang tinggi, bahkan meski banjir sekalipun Lasmi tetap berjualan jamu gendongnya dan dibawa keliling ke Kawasan Tegal Parang, Mampang hingga Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Namun lambat laun langganan Lasmi mulai banyak, dengan stok yang kian banyak ia berkeliling dengan cara bersepeda.
Kini Lasmi patut berbangga atas jerih payah yang ia lakukan sebab selain menjadi ketua Laskar Jamu Gendong Lasmi kini dapat bekerja di lingkungan Kementerian Kesehatan, sehari-harinya Lasmi dipercaya meracik jamu untuk para karyawan. Selain itu orderan dari luar kantor juga sangat banyak salah satunya menyiapkan 7.000 botol jamu untuk pemecahan rekor MURI di Bogor dan berbagai orderan jamu lainnya. Omzet Lasmi yang dulu Rp 100 ribu sehari kini mencapai Rp 20 juta dalam satu bulan.
"Dulu waktu merintis paling Rp 100 ribu sudah paling banyak itu awal mulanya, sekarang omzet per bulannya bisa sampai Rp 10 - 15 jutaan. Karena kita bukan hanya 1 tempat aja memang semua itu bulanan jadi di tempat yang lain bisa Rp 10 juta di sini Rp 5 juta jadi ya keseluruhannya bisa sampai Rp 20 juta," tegas Lasmi.
Lasmi memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, tepatnya pada tahun 2015 dan 2022. Lasmi mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta dan Rp 100 juta yang diambilnya di BRI Unit Pasar Minggu. Dana segar tersebut dimanfaatkan ketika ada orderan jamu dalam jumlah besar dan dibelikan bahan - bahan jamu. Kini keberhasilan dalam usaha jamu membuatnya memiliki rumah pribadi.
Tak mau sukses sendirian, Lasmi berupaya merangkul pegiat jamu gendong lainnya, ia mengajak para mbok-mbok jamu gendong untuk mengikuti seminar usaha dengan target untuk meningkatkan penjualan rekan seperjuangannya, namun hal itu tak mudah sebab para penjual jamu gendong lebih memilih berjualan ketimbang belajar.
"Saya door to door ngajak mereka itu susah, dari pada diajak nambah ilmu atau latihan kadang-kadang gini 'ah saya mending jualan saya dapat duit, kalo ikut pelatihan kan nggak dapat duit' padahal, kalo ikut pelatihan menambah ilmu dan justru bisa menambah pendapatan," lanjut Lasmi.
Namun upayanya tersebut lama-lama membuahkan hasil, kini Laskar Jamu Gendong yang diketuai oleh Lasmi beranggotakan 700 anggota aktif yang menjajakan jamu gendong se Indonesia. Terbaru Lasmi mewakili para pegiat jamu gendong Indonesia untuk menerima sertifikat salinan penetapan Budaya Sehat Jamu sebagai warisan budaya tak benda dunia UNESCO.
Dalam sambutan acara tersebut Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan penghargaan tersebut menjadi upaya melestarikan dan memajukan kebudayaan sekaligus membagikannya kepada dunia.
"Setelah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO, selain bangga kita juga punya tugas untuk terus melestarikan warisan ini sebagai kontribusi Indonesia untuk peradaban dunia," Jelas Hilmar Farid.
(hns/hns)
Kisah Eks Karyawan BUMN Banting Setir Jualan Mi Ayam, Kini Punya 2 Cabang
Kisah mantan karyawan BUMN banting setir jualan mi ayam, transaksi pakai QRIS [775] url asal
#bri #qris-bri #bank-bri #bri-fellowship #mi-ayam
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049212/
Jakarta - Tingginya permintaan di bidang IT membuat program studi jurusan sistem informasi ramai diminati mahasiswa, lulusannya bisa bekerja di berbagai bidang seperti insinyur perangkat lunak, pengembangan web, administrator jaringan, analisis sistem, analisis data dan sebagainya. Perusahaan besar pun membutuhkan para lulusan terbaik di bidang ini.
Namun jalan berbeda justru dipilih oleh Ricky Alfiansyah (31) yang sempat bekerja di bidang IT di salah satu Bank BUMN, ia justru lebih memilih untuk membuka usaha Mie Ayam Wonogokil.
Sebelum membuka usaha mi ayam, Ricky sempat bekerja selama 4 sampai 5 tahun di bagian IT. Menyambut kelahiran buah hati pertamanya Ricky berfikir untuk membuka usaha yang pertama yaitu angkringan di Gang Jangkrik, Jagakarsa namun saat pandemi melanda usahanya sempat vakum dan adanya usaha cafe di sekitar membuat usaha angkringannya kurang bersaing.
"Pas banget baru lahir juga anak, mumpung belum ada beban yang terlalu besar mending dimulai dari sekarang soalnya kalo kerja kantoran menurut saya ngga tau sampe mana, sampe kapan dan segitu-segitu aja ibaratnya banyak pengeluarannya. Akhirnya beraniin aja yang penting konsepnya jelas semuanya sudah matang perencanaannya beraniiin aja," cerita Ricky di Warung Mi Ayam Wonogokil, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (28/4/2024).
Tidak kapok di bidang usaha, mulanya Ricky ikut membantu usaha rekannya yang lebih dulu membuka mi ayam di Cipedak, Jagakarsa, sempat ikut bantu-bantu akhirnya Ricky dapat mengambil alih usaha tersebut saat rekannya pindah ke Kawasan Kampung Melayu. Mendapat peluang itu Ricky langsung membuat branding mi ayam sendiri yaitu Mie Ayam Wonogokil.
Mi ayam dengan tekstur kenyal dengan mudah diterima oleh lidah masyarakat sekitar, kios yang mulanya kecil kini dikembangkan dan lebih luas membuat para penikmat mi ayam bisa makan di tempat dengan leluasa. Tak hanya disitu, Ricky juga telah membuka cabang baru Mie Ayam Wonogokil di depan gedung Sucofindo, Pancoran, Jaksel disana ia berjualan pada hari senin sampai jumat mengikuti jam kerja karyawan kantoran.
Kini Mie Ayam Wonogokil yang pertama di Cipedak dipegang oleh ibundanya yaitu Sumini (53), berangkat dari dapur rumah tangga Sumini dengan cepat beradaptasi untuk melayani pelanggan setia Mie Ayam Wonogokil bahkan dalam satu hari Sumini menyiapkan 40 hingga 100 porsi.
Sebelum sibuk dengan mi ayam Sumini juga ikut membantu menyiapkan jajanan angkringan di usaha Ricky sebelumnya, menurutnya usaha angkringan jauh lebih capek dan berisiko karena bahan makanan yang tidak tahan lama. Sumini menyebut pada usaha angkringan dirinya harus seharian di dapur untuk menyiapkan sate dan makanan lainnya sementara mi ayam sudah disuplai oleh pabrik langganannya.
"Angkringan repotnya bikin sate jadi seharian siang di dapur malam masih dagang, kalo yang bahan awet masih bisa dipake tapi kalau yang bacem, tahu, tempe kalo sudah ngga bagus ya ngga berani jual takut dikomplain. Mi ayam lebih enak risikonya ga berat karena ada suplier," tutur Sumini saat jeda melayani pesanan mi ayam.
Tak sendiri Sumini kerap dibantu anak bungsunya untuk melayani pesanan mi ayam sehari-hari, omzet penjualan yang mencapai Rp 1 juta setengah sehari ia kumpulkan untuk kebutuhan harian dan tabungan umroh yang menjadi cita-citanya.
"Hasil jualan ditabung, biar sedikit ibu rumah tangga kan ada aja acaranya jadi kehandle sendiri, pengin banyak cita-citanya pasti ada keinginan umroh dulu sebelum bapak meninggal pengin banget umroh mudah-mudahan ada rejekinya," lanjut Sumini.
Mi Ayam Wonogokil juga telah dilengkapi dengan pembayaran digital atau QRIS, hal itu turut memudahkan Sumini dalam urusan kembalian hingga menyisihkan uang untuk ditabung. Selain itu pembayaran QRIS juga menghindarinya dari uang palsu yang pernah didapatnya.
Bukan hanya di Cipedak, Mi Ayam Wonogokil cabang Sucofindo juga menyediakan pembayaran QRIS, diketahui cabang Sucofindo lebih banyak pelanggan yang merupakan karyawan yang banyak memilih pembayaran QRIS.
"Jelas ngebantu banget mereka (karyawan) udah jarang yang bawa uang cash jadi QRIS ngebantu banget, karena menghindari uang palsu, uang sobek kan kalo bayar uang ditumpuk ditengahnya uang sobek atau palsu ngga ketahuan. Mempercepat juga sih ngga perlu ngitung-ngitung uang dulu," terang Ricky.
Tak perlu waktu lama salah satu pembeli yang merupakan ojek online yaitu Lucky (22) membayar dengan menggunakan QRIS menurutnya pembayaran dengan QRIS lebih praktis.
"Lebih praktis, lebih aman dan lebih simpel. Lumayan sering pakai QRIS buat beli makanan beli barang-barang di supermarket, megang cash buat jaga-jaga cuma kalo bisa QRIS pake QRIS aja," tegas Lucky.
Uang yang masuk melalui QRIS dikelola masing-masing baik oleh Ricky ataupun Sumini, Ricky yang juga menggunakan BRIMO mengaku kini tak perlu repot dalam urusan pembayaran guna mencukupi stok dagangan, biasanya Ricky selalu mengandalkan BRImo untuk membayar pesanan stok mi ayam.
"Saya juga belanja kebanyakan online jadi ngga sempet belanja sendiri, jadi bayarnya bisa transfer pake BRImo gampang banget jadi mau isi ulang atau apa aja bisa disitu tuh, semenjak saya pake BRI langsung saya download juga BRImo udah lumayan lama juga," tutup Ricky.
(hns/hns)
Tips Dagang Ala Ayam Bakar Madu Hijrah, Ada 'Sedekah Langit'
Masyarakat kini semakin modern hal itu membuat Ayam Bakar Madu Hijrah turut mengikuti trend dengan menyiapkan scan QRIS BRI, [550] url asal
#bri #bri-fellowship #qris-bri #ayam-bakar-madu
(detikFinance - SolusiUKM) 28/04/24 14:00
v/11049217/
Jakarta - Ayam bakar menjadi menu yang dapat dengan mudah diterima oleh kebanyakan lidah masyarakat Indonesia, bermula dari dapur rumahan kecil Ayam Bakar Madu Hijrah kini sukses membuat Anty menjadi Mitra Mentor Bimbel GrabMerchant Jabodetabek simak tips and triknya.
Ditemui detikcom di kios Ayam Bakar Madu Hijrah di jalan Sirsak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (24/4/2024) Owner Ayam Hijrah, Anty blak blakan tentang kiat-kiat usaha ayam bakar.
1. Berani Mencoba
Keberanian Erfianty dalam membuka usaha dimulai dengan 3 ekor ayam yang dipotong 12 bagian, sebelumnya resep masakannya dites food kepada anak dan para tetangga. Tanpa malu Anty menanyakan kekurangan apa dari resep buatannya lalu apakah laik jual atau tidak.
2. Membuka Penjualan Online.
Hari pertama Anty membuka penjualan melalui aplikasi menu ayam bakarnya langsung diorder hingga tiga kali oleh satu pelanggan yang sama, hal itu memberikan sinyal untuk Anty meningkatkan stok ayam. Berjalannya waktu orderan terus meningkat hingga 150 order dalam satu aplikasi, saat itu Anty membuka toko online hingga 4 aplikasi.
3. Membuka Kios dan Branding
Sadar akan orderan yang terus meningkat, Anty memberanikan diri membuka kios serta mengukuhkan nama brand Ayam Hijrah miliknya sebagai hak atas kekayaan intelektual (HaKI) selain itu brandnya tersebut juga bersertifikat Halal.
4. Memanfaatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat)
Membuka kios tentu memerlukan modal yang tak sedikit, saat itu Anty ditawari pinjaman KUR oleh BRI Unit Jagakarsa. Beruntung pada saat pandemi program KUR tanpa adanya bunga alias 0 persen. KUR senilai Rp 35 juta digunakannya untuk membuka kios dan menambah peralatan.
5. Menambah Karyawan
Seiring kesibukan dapur yang terus ngebul membuat Anty kewalahan, ia lantas membuka lapangan kerja untuk membantunya dalam urusan membakar ayam hingga meladeni orderan online. Saat itu Anty dibantu 5 karyawan.
6. Ikut Pelatihan dan Grup UMKM
Dunia enterpreneur yang baru digelutinya tak membuat Anty cepat puas, ia turut ikut dalam pelatihan - pelatihan yang dilakukan oleh Kementerian, dinas - dinas terkait dan juga BUMN ilmu tersebut yang membuatnya berkenalan dengan para pelaku UMKM lainnya yang dijadikannya teman berdiskusi dalam menghadapi penjualan yang naik ataupun turun.
7. Mengembangkan Menu Bisnis
Omzet penjualan yang sudah bagus tak cukup baginya, Anty juga tidak menghabiskan omzet untuk hura-hura, sebaliknya ia justru melihat peluang lain seperti mengembangkan menu yang tengah hits seperti ayam geprek, sambal kemasan hingga nasi box.
8. Rutin Ikut Bazar
Bazar jadi salah satu ladang omzet tambahan, Anty juga tak bosan-bosannya mengikuti berbagai bazar. Selain mendulang omzet tambahan bazar juga diikuti untuk branding nama Ayam Bakar Madu Hijrahnya.
9. Sedekah Langit
Niat berbagi namun sekaligus meningkatkan penjualan ayam dilakukan Anty dengan nama Sedekah Langit, ia rutin menggalang sumbangan dari rekan-rekannya untuk saling berbagi ke panti asuhan setiap jumatnya. Anty membuat paket senilai Rp 50 ribu untuk dua porsi, dari situ ia mampu mengumpulkan muzakki atau donatur hingga 100 porsi lebih. Selain mendapatkan pendapatan kegiatan itu juga mendulang pahala.
10. Pembayaran Digital
Masyarakat kini semakin modern hal itu membuat Ayam Bakar Madu Hijrah turut mengikuti trend dengan menyiapkan scan QRIS BRI, Anty mengungkapkan bahwa saat ini mayoritas pembayaran sudah digital salah satunya dengan QRIS.
Diketahui QRIS dapat dicetak oleh Bank BRI caranya cukup mudah seperti memiliki rekening, menyiapkan identitas diri, menyiapkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau akta pendirian usaha, mengisi formulir, pilih antara opsi EDC+QRIS dinamis atau statis, mengisi kolom yang sudah disediakan, menunggu verifikasi nantinya jika BRI akan datang ke lokasi usaha untuk memasang QRIS.
(hns/hns)
Kisah Pemilik Ayam Bakar Madu Hijrah, dari Posisi Top Manajemen Jadi Pengusaha
Pandemi COVID-19 mengubah kehidupan Erfianty (43) yang sebelumnya bekerja dan berposisi di top manajemen sebuah perusahaan finance kini menjadi entrepreneur [641] url asal
#bri #kur-bri #qris-bri #bri-fellowship #ayam-bakar-madu
(detikFinance - SolusiUKM) 28/04/24 14:00
v/11049216/
Jakarta - Pandemi COVID-19 mengubah kehidupan Erfianty (43) yang sebelumnya bekerja dan berposisi di top manajemen sebuah perusahaan finance kini menjadi entrepreneur sukses di bidang kuliner yaitu ayam bakar madu hijrah.
Bermula dari tidur yang tidak nyaman setiap malamnya karena bayang-bayang pekerjaan, membuat Erfianty memutuskan untuk hijrah menjadi pengusaha ayam bakar. Usahanya sempat membuatnya kaget karena seolah langsung mendapatkan "durian runtuh" terutama orderan dari penjualan online yang meningkat pesat, dalam satu hari Anty sapaan akrabnya pernah mendapatkan omzet hingga Rp 18 juta.
"Mulanya itu dari teras kecil hanya tiga ekor ayam, 1 ekor dipotong 4 jadi 12 potong, start up nya karena di rumah penjualannya online gofood dan grabfood. Pada saat itu pertama saya on aplikasi langsung masuk orderan jadi saya diluar ekspektasi dan sangat bersemangat," Cerita Anty saat ditemui di kios Ayam Bakar Madu Hijrah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (24/4/2024).
Pandemi COVID-19 seakan mengunci warga dalam beraktivitas membuat usaha Anty kian melesat, orderan demi orderan dari aplikasi onlinenya memaksa Anty untuk terus berada di dapur kecilnya, dalam satu hari Anty harus melayani 150 orderan dari masing-masing aplikasi. Hal itu tak membuat Anty berpuas diri, ia justru mencari lapak kecil untuk memudahkan warga mengenal produknya.
"Penjualan online saya cukup direspon jadi saya punya jalan untuk menyewa lapak bulanan, pada saat itu saya ditawarkan BRI ada fasilitas KUR kebetulan saya dapatnya yang tanpa bunga jadi 0 persen, alhamdulillah lancar akhirnya saya bisa sewa kios kecil tahunan modalnya dari KUR BRI," lanjut Anty
Dana segar senilai Rp 35 juta dari KUR BRI dimanfaatkan Anty untuk menyewa kios kecil, dari kios itulah usaha Anty kian dikenal oleh masyarakat Jagakarsa bahkan lahan parkir untuk ojek online yang mengambil pesanan ayam bakar harus luber kemana-mana, namun seiring berjalannya waktu pada tahun 2022-2023 usaha ayam bakar madu hijrah mulai lesu.
Bagaikan permainan roller coaster yang tengah dalam posisi turunan curam tentu membuat Anty sedikit kaget, pasca pandemi masyarakat mulai beraktivitas secara normal penjualan ayam bakar madu hijrah merosot hingga 70 persen. Sempat recovery dan mencari solusi Anty turut bergabung dengan berbagai komunitas UMKM hingga binaan dari Kementerian, berbagai dinas, hingga BUMN.
Akhirnya Anty memutuskan untuk membuka lapak yang lebih besar untuk pengunjung yang mau dine in, lagi-lagi Anty terbantu dengan KUR BRI. Pada tahun 2023 Anty mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta, uang tersebut langsung digunakan untuk sewa kios dua lantai tahunan dan sejumlah meja serta peralatan lainnya.
"Tahun 2023 kemarin saya dapat KUR BRI Rp 50 juta untuk pindah kios, bukan hanya untuk sewa tapi juga untuk peremajaan alat, dari lapak kecil saya butuh bangku juga, alhamdulillah dari situ penjualan mulai normal saya pun terus mengembangkan menu hingga nasi box," tutur Anty.
Kini rata-rata omzet harian ayam bakar madu hijrah mulai dari Rp 1,8 juta hingga Rp 6 juta, penjualan ayam dine in turut membantu, omzet tersebut tak langsung dibuat hura-hura. Anty terus mengembangkan menu hingga kini terdapat 14 menu selain ayam bakar, ada juga sambal kemasan dan nasi box yang dapat dipesan secara langsung maupun online.
Atas perjuangannya dalam bidang enterpreneur Anty mendapatkan sejumlah penghargaan, salah satunya piagam kategori Merchant Idaman dari Grabfood, Anty juga didapuk menjadi Mitra Mentor Bimbel GrabMerchant Jabodetabek yang akan berlangsung pada Mei 2024 selama enam bulan.
Tak lupa atas usaha ayam bakar madu hijrahnya ini turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar Jagakarsa, salah satunya Hawa Cahyani (19) siswi SMK yang tengah menunggu ijazah kini turut membantu Anty, ilmu dari jurusan akuntansi dari SMK memudahkannya beradaptasi untuk urusan pembukuan dan aplikasi.
"Saya kelas 12 sekarang sudah tinggal nunggu ijazah, sambil mengisi waktu luang jadi saya bekerja sambil menabung untuk kuliah nanti" Jelas Hawa.
Bekerja mulai pukul 10 pagi hingga 9 malam membuatnya cepat beradaptasi dalam urusan memanggang ayam maupun ikan, ia juga nampak cekatan dalam menerima orderan. Kini Hawa tengah menabung untuk bersiap kuliah pada tahun depan.
(hns/hns)