
Jakarta: Pengamat
pendidikan, Totok Amin, menyebut perkara joki
skripsi sudah ada sejak lama. Kini, kembali marak karena terbuka di dunia maya dan akhirnya viral.
Totok menilai kasus perjokian ini bukan tanda lunturnya budaya akademik. Tapi, memang persoalan personal seseorang melakukan kecurangan.
"Persoalan joki skripsi ini tidak ada hubungannya dengan budaya akademik yang luntur. Saya melihatnya sebagai sikap pelakunya yang tidak menjalankan etika akademik. Sikap seperti ini ada di setiap masyarakat," kata Totok kepada
Medcom.id, Jumat, 26 Juli 2024.
Yang menjadi masalah, kata dia, adalah besar atau kecilnya kasus tersebut. Masyarakat yang menghormati etika tentu kasusnya tidak akan besar.
"Kalau di masyarakat yang maju dan menghormati etika, maka pelaku (joki maupun yang membayar joki) itu jumlahnya kecil sekali atau
exceptional," tutur dia.
Sebaliknya, kalau jumlahnya besar, bahkan mendominasi hal itu dapat bisa disebut
norm alias dianggap normal. Totok menyebut bila dianggap normal artinya sudah di titik bahaya.
"Nah, ini yang bahaya, karena sikap yang tidak menghargai etika, kejujuran, kerja keras, bangga dengan karya sendiri, maka masyarakat tersebut akan mengalami kemunduran, bahkan lambat laun menuju kehancuran," ujar dia.
Sebelumnya, warganet di X (dulu Twitter) tengah ramai membahas soal joki. Hal ini bermula dari keresahan akun X @abigailimuriaa terkait pengguna dan penyedia jasa joki skripsi.
Diksusi di antara warganet terbelah. Masih ada warganet yang menormalisasi joki dan menganggap hal itu tak masalah.
Belakangan ada warganet mengungkap jasa joki yang sampai berbentuk
startup. Bahkan, pengikutnya di Instagram sampai 300 ribu dan banyak dipromosikan oleh selebgram atau
influencer.
(REN)